cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsms@unisba.ac.id
Phone
+6282321980947
Journal Mail Official
bcsms@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Medical Science
ISSN : -     EISSN : 28282205     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsms.v2i2
Core Subject : Humanities, Health,
Bandung Conference Series: Medical Science (BCSMS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Kedokteran dengan ruang lingkup Age, ASI, BPJS Kesehatan, CGT, Dokter layanan primer, Fungsi diastolic, Gender, Hepatitis A dan B, Interval Anak Balita, ISPA, JKN, Nyeri leher, Origin, Paritas, Pasien, Denyut Nadi, Imunisasi, Perawat, Phlebitis, PHBS, pneumonia Abortus Spontan, Pola Menstruasi, rumah sakit Pendidikan, Sektor Informal Pengetahuan, Shift kerja malam, sindrom koroner akut, Status Gizi Mahasiswa kedokteran, status sosio ekonomi, Tekanan Darah, Tingkat Stres, Troponin T , Type of occupation, ventrikel kiri, dan Wanita Premenopause. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 494 Documents
Hubungan Derajat Stres dengan Kejadian Sindrom Dispepsia Fungsional pada Mahasiswa FK UNISBA ingrid nurimani ansari; Siti Annisa Devi Trusda; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6092

Abstract

Abstract. A biological reaction due to internal and external stimuli as well as changes in the body's homeostasis is referred to as stress. One of the digestive disorders related to stress is dyspepsia. This study aims to analyze relationship stress to the occurrence of functional dyspepsia syndrome in UNISBA medical faculty students grades 1 and 3. This study involved 100 subjects who were selected by simple random selection. The Medical Student Stress Questionnaire (MSSQ) was used to collect stress data and Rome IV criteria for dyspepsia data. Data were analyzed using computerized univariate and bivariate methods using chi-square. The results showed that majority experienced mild stress (84%) only a small proportion experienced moderate stress (16%). Majority experienced functional dyspepsia than those who did not (52%), and there was a significant relationship between the level of distress and the occurrence of functional dyspepsia syndrome, with a P-value of 0.045 (<0.05). In conclusion, the level of stress in first and third students can trigger dyspepsia syndrome. Keywords: Syndrome Dyspepsia, Stress, Students Abstrak. Stres merupakan suatu stimulus instrinsik dan ekstrinsik yang dapat membangkitkan respon biologis dan dapat menyebabkan perubahan homeostasis sehingga terjadi gangguan ke beberapa organ tubuh. Dispepsia merupakan salah satu gangguan saluran pencernaan terkait dengan stres. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan stres dengan kejadian sindrom dispepsia antara mahasiswa FK Unisba tingkat 1 dan 3 tahun akademik 2021/2022. Subjek pada penelitian ini berjumlah 100 orang yang dipilih dengan simple random sampling. Data diambil melalui kuesioner stres Medical Student Stress Questionnaire (MSSQ) dan Kriteria Roma IV untuk dispepsia. Pengolahan data penelitian dilakukan secara komputerisasi meliputi analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan, sebagian besar subjek penelitian mengalami stres ringan (84%). Jumlah mahasiswa yang mengalami dispepsia fungsional lebih banyak dibanding yang tidak dispepsia, yaitu sebesar 52%. Terdapat hubungan yang bermakna antara derajat stres dengan kejadian sindrom dispepsia fungsional dengan P-value 0,045 (<0,05). Simpulan, derajat stres pada mahasiswa tingkat 1 dan 3 dapat memicu terjadinya sindrom dispepsia. Kata kunci : Mahasiswa, Sindrom Dispepsia, Stres
Studi Literatur: Peranan rtPA terhadap Kemajuan Motorik Ekstremitas pada Pasien Stroke Iskemik Akut Dhianty Ramadhani; Mirasari Putri; Nuri Amalia
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6423

Abstract

Abstract. This literature study was conducted to collect sufficient data regarding the role of rtPA in limb motor progress in acute ischemic stroke patients. The method used is a literature study that contains several previous studies to determine the role of rtPA on limb motor progress in acute ischemic stroke patients. The results of this study indicate the role of rtPA in the motor development of the extremities in acute ischemic stroke patients by breaking down thrombus into fibrin degradation products in the blood vessels that supply the motor area. Thus it can be concluded that rtPA has an essential role in the motor progress of the extremities by breaking down thrombus, which blocks blood flow supplying motor areas in the brain in someone who has had an acute ischemic stroke. Abstrak. Studi literatur ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang memadai mengenai peranan rtPA terhadap kemajuan motorik ekstremitas pada pasien stroke iskemik akut. Metode yang digunakan adalah dengan melalui studi literatur yang mengumpulkan beberapa penelitian terdahulu untuk mengetahui peranan rtPA terhadap kemajuan motorik ekstremitas pada pasien stroke iskemit akut. Hasil dari studi ini menunjukan adanya peran rtPA terhadap kemajuan motorik ekstremitas pada pasien stroke iskemik akut dengan cara memecah trombus menjadi produk degradasi fibrin pada pembuluh darah yang menyuplai area motorik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rtPA memiliki peranan penting terhadap kemajuan motorik ekstremitas dengan cara memecah trombus yang menyumbat aliran darah yang menyuplai area motorik di otak pada seseorang yang mengalami stroke iskemik akut.
Karakteristik Klinis dan Histopatologi Pasien Benign Prostatic Hyperplasia di Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. M. Salamun Kota Bandung Tahun 2020-2021 Hauradarry Aurella Permadi; Meike Rachmawati; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6662

Abstract

Abstract. Globally there were 11.26 million cases of Benign Prostatic Hyperplasia in 2019. BPH mostly affects men over 60 years old in Indonesia. BPH is the second most common disease found in urology clinics in Indonesia. The quality of life of BPH patients is disrupted due to persistent irritative and obstructive symptoms. Histopathological picture of hyperplasia of prostate gland cells. The purpose of this study was to assess the clinical and histopathological features of BPH patients at RSAU dr. M. Bandung City. The sampling technique for this study used total sampling using 36 medical records of BPH patients at RSAU dr. M. Salamun Bandung City. This research uses descriptive method. The results of the study from 36 total samples, the clinical picture of 13 people (36.1%) patients experienced intermittent, 20 patients (55.6%) experienced weak flow, 30 people experienced hesitancy, 13 people (36.1%) experienced dysuria , 12 people (33.3%) had BAK that was not light and a further 13 people (36.1%) had nocturia. Histopathology showed that 19 patients (52.8%) had prostatic acini dilatation, 17 patients (47.2%) had prostatic acini hyperplasia, 16 patients (44.4%) had acini lumen containing corpora amylase, 21 patients ( 58.3%) had hyperplastic acini epithelial cells, then 32 people (88.9%) had nuclei within normal limits. The conclusion of this study is to get the most clinical picture of Benign Prostatic Hyperplasia is experiencing a weak bladder flow and hesitancy. The histopathological picture shows that most of the prostatic acini are dilated, the acini epithelial cells are hyperplastic, the nuclei are within normal limits. Abstrak. Secara global terdapat 11.26 juta kasus Benign Prostatic Hyperplasia di tahun 2019. BPH banyak diderita laki-laki lebih dari 60 tahun di Indonesia. BPH termasuk penyakit kedua terbanyak yang ditemukan dalam klinik urologi di Indonesia. Kualitas hidup pasien BPH terganggu akibat gejala iritatif dan obstruktif yang timbul secara terus menerus. Gambaran histopatologi berupa hiperplasia sel-sel kelenjar prostat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai gambaran klinis dan gambaran histopatologi pasien BPH di RSAU dr. M. Kota Bandung.Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling dengan menggunakan 36 data rekam medis pasien BPH di RSAU dr. M. Salamun Kota Bandung. Penelitian ini mengguanakan metode deskriptif . Hasil penelitian dari 36 total sampel, gambaran klinis sebanyak 13 orang (36,1%) pasien mengalami intermittency, 20 pasien (55,6%) mengalami aliran yang lemah, 30 orang mengalami hesistency, 13 orang (36,1%) mengalami disuria, 12 orang (33,3%) mengalami BAK yang tidak lampias dan kemudian 13 orang (36,1%) mengalami nokturia. Gambaran histopatologi menunjukan sebanyak 19 orang (52,8%) pasien mengalami dilatasi acini prostat, 17 pasien (47,2%) mengalami hiperplasia acini prostat, 16 orang (44,4%) terjadi lumen acini yang mengandung corpora amilase, 21 orang (58,3%) terjadi sel-sel epitel acini yang hiperplastis, kemudian 32 orang (88,9%) terjadi inti dalam batas normal. Kesimpulan penelitian ini didapatkan gambaran klinis terbanyak Benign Prostatic Hyperplasia adalah mengalami aliran kemih yang lemah dan hesistency. Gambaran histopatologi menunjukan sebagian besar terjadi dilatasi acini prostat, sel-sel epitel acini yang hyperplastis, inti dalam batas normal. Kata kunci: Benign prostatic hyperplasia, BPH, karakteristik BPH
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Mengenai Pencegahan Penularan Tuberkulosis Paru pada Masyarakat Kelurahan Banjar Salshabilla Rahma Putri; Ieva Baniasih Akbar; Dony Septriana
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6678

Abstract

Abstract. Knowledge can directly affect individuals, while attitudes can arise with the knowledge of individuals about the prevention of tuberculosis transmission. Tuberculosis (TB) is the 13th leading cause of death in the world and is a deadly infectious disease after COVID-19. TB disease is transmitted through the air, and is influenced by several risk factors that play a role in this transmission, namely knowledge, attitudes and behavior. The aim of the study was to determine the relationship between the level of public knowledge and attitudes regarding efforts to prevent TB disease in RT.04 RW.05 Banjar Village, Banjar City, West Java Province. This research was carried out using an observational quantitative analytic method with a cross-sectional design. The research subjects were 101 respondents who were taken through a simple random sampling technique that was adjusted to the study's inclusion criteria. Univariate and bivariate analysis using the Spearman rank correlation coefficient test. The results showed that of the 22 respondents with insufficient knowledge about preventing pulmonary TB, the majority had a negative attitude about preventing pulmonary TB, namely 20 people (90.9%). Of the 49 respondents with sufficient knowledge about preventing pulmonary TB, the majority had a positive attitude about preventing pulmonary TB, namely 47 people (95.9%). Of the 30 respondents with good knowledge of pulmonary tuberculosis prevention, the majority had a positive attitude about pulmonary tuberculosis prevention, namely 28 people (93.3%). The results of the analysis using the Spearman Rank Correlation Coefficient test obtained a significance value of 0.00 which is smaller than the error rate (α) = 0.05 and the coefficient correlation value obtained was 0.629 so that it can be concluded that this study shows that there is a moderate relationship between knowledge and attitudes community about tuberculosis prevention efforts. in RT. 04 RW. 05, Banjar Village. Abstrak. Pengetahuan dapat langsung mempengaruhi individu, sedangkan sikap dapat timbul dengan adanya pengetahuan dari individu tentang pencegahan penularan tuberkulosis. Tuberkulosis (TBC) menjadi penyakit penyebab kematian yang berada diurutan ke-13 dunia dan merupakan penyakit menular mematikan setelah COVID-19. Penyakit TBC menular melalui udara, dan dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang berperan dalam penularan ini, yaitu pengetahuan, sikap, dan perilaku. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan masyarakat dan sikap terkait upaya pencegahan penyakit TBC di RT.04 RW.05 Kelurahan Banjar Kota Banjar Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kuantitatif analitik observasional dengan design cross-sectional. Subjek penelitian sebanyak 101 responden yang diambil melalui teknik simple random sampling yang disesuaikan dengan kriteria inklusi penelitian. Analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji spearman rank correlation coefficient. Hasil penelitian menunjukkan dari 22 responden dengan pengetahuan tentang pencegahan TBC paru yang kurang, sebagian besar memiliki sikap negatif tentang pencegahan TBC Paru yaitu 20 orang (90,9%). Dari 49 responden dengan pengetahuan tentang pencegahan TBC paru yang cukup, sebagian besar memiliki sikap positif tentang pencegahan TBC paru yaitu 47 orang (95,9%). Dari 30 responden dengan pengetahuan tentang pencegahan TBC Paru yang baik, sebagian besar memiliki sikap positif tentang pencegahan TBC paru yaitu 28 orang (93,3%). Hasil analisis menggunakan uji Spearman Rank Correlation Coefficient diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,00 yang lebih kecil dari tingkat kesalahan (α) = 0,05 serta nilai coefficient correlation diperoleh sebesar 0,629 sehingga dapat kesimpulan bahwa penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang sedang antara pengetahuan dan sikap masyarakat mengenai upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. di RT. 04 RW. 05, Kelurahan Banjar.
Daya Hambat Ekstrak Air Kopi Robusta (Coffea Canephora) Dibandingkan Ekstrak Air Kopi Instan dengan Gula terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus (ATCC© 25923™) Saphiera Damayanti; Hendro Sudjono Yuwono; Listya Hanum Siswanti
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6682

Abstract

Abstract. Staphylococcus aureus is a facultative anaerobic gram-positive bacteria, and has a polysaccharide capsule. Robusta coffee water extract (Coffea canephora) has greater bacteriostatic activity because it contains highly active compounds such as Caffeine and Trigonelin. The antibacterial activity is an alternative treatment for choosing instant coffee with sugar to kill or inhibit antibiotic-resistant bacteria. This study aimed to determine the antibacterial power of Robusta coffee water extract (Coffea canephora) and instant coffee water extract with sugar. This study used experimental research using IBM SPSS 25 software. The method used was Kirby Bauer's disc diffusion with 7 samples, namely Robusta coffee (Coffea canephora) water extract in three concentrations, namely 50%, 75%, and 100%, instant coffee extract with sugar in three concentrations, namely 50%, 75%, and 100% as treatment, and Gentamicin as a positive control. The results showed that the aqueous extract of Robusta coffee (Coffea canephora) had an average zone of inhibition at a concentration of 100% (16.43 mm), a concentration of 75% (15.87 mm), and a concentration of 50% (14.54 mm). At the same time, no zone of inhibition was found in the water extract of instant coffee with sugar at concentrations of 50%, 75%, and 100% for S. aureus. In conclusion, the inhibition power of Robusta coffee water extract is more potent than instant coffee water extract with sugar against Staphylococcus aureus bacteria. Abstrak. Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif fakultatif anaerob, dan memiliki kapsul polisakarida. Ekstrak air kopi Robusta (Coffea canephora) memiliki aktivitas bakteriostatik karena memiliki kandungan senyawa aktif yang tinggi seperti Kafein dan Trigonelin. Aktivitas antibakteri menjadi alternatif pengobatan untuk memilih kopi instan dengan gula untuk membunuh atau menghambat bakteri yang resisten antibiotik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui antibakteri ekstrak air kopi Robusta (Coffea canephora) dan ekstrak air kopi instan dengan gula terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan studi eksperimental dengan perangkat lunak IBM SPSS 25. Metode yang digunakan dengan disc diffusion Kirby Bauer dengan 7 sampel, yakni ekstrak air kopi Robusta (Coffea canephora) dalam tiga konsentrasi yaitu 50%, 75%, dan 100%, ekstrak kopi instan dengan gula dalam tiga konsentrasi yaitu 50%, 75%, dan 100% sebagai perlakuan, dan antibiotik Gentamisin sebagai kontrol positif. Hasil penelitian didapatkan ekstrak air kopi Robusta (Coffea canephora) memiliki rata-rata zona inhibisi yaitu pada konsentrasi 100%, (16,43 mm), konsentrasi 75% (15,87 mm) dan konsentrasi 50% (14,54 mm). Sedangkan tidak ditemukan zona inhibisi pada ekstrak air kopi instan dengan gula pada konsentrasi 50%, 75% dan 100% terhadap S. aureus. Kesimpulannya, bahwa daya hambat ekstrak air kopi Robusta lebih kuat dibandingkan dengan ekstrak air kopi instan dengan gula terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Literature Review: Hubungan antara Metode Game-Based Learning dengan Kejadian Kecemasan pada Pelajar Fathya Puspita Wijaya; Titik Respati; Nurul Romadhona
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6694

Abstract

Abstract. Cases of anxiety disorder in the student environment are still quite high and often not resolved properly. In order to manage it properly, in dealing with the high number of cases of anxiety disorders in students through the application of game-based learning methods. Game-based learning is a learning method specifically designed to help the learning process using game applications. The literature review method is carried out based on issues, methogologies, similarities and further research proposals. Of the four studies used, three of them used quasi experimental studies and one used randomized controlled trial studies. The population is students. The results obtained are based on the four studies that the use of game-based learning methods can reduce the incidence of anxiety in the students. Abstrak. Kasus gangguan kecemasan di lingkungan pelajar masih cukup tinggi dan seringkali tidak terselesaikan dengan baik. Dibutuhkan manajemen yang tepat dalam menangani tingginya kasus gangguan kecemasan pada pelajar melalui penerapan metode pembelajaran berbasis permainan. Game-based learning adalah suatu metode pembelajaran yang dirancang khusus untuk membantu proses pembelajaran menggunakan aplikasi permainan. Metode literature review dilakukan berdasarkan issue, metodologi, persamaan dan proposal penelitian lanjutan. Dari empat penelitian yang digunakan, tiga diantaranya menggunakan studi quasi experimental dan satu menggunakan studi randomized controlled trial. Populasinya adalah para pelajar. Hasil yang didapat berdasar atas empat penelitian tersebut bahwa penggunaan metode game-based learning dapat mengurangi kejadian kecemasan pada pelajar.
Hubungan Penyakit Ginjal Kronik dengan Derajat Klinis Covid-19 di Ruang Rawat Inap RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2021 Tasya Sherina; Yuke Andriane; Sadiah Achmad
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6710

Abstract

Abstract. Chronic kidney disease can increase the risk of death due to COVID-19 infection. It is caused by changes in the immune system, including persistent systemic inflammation and immunosuppression. Apart from respiratory cells, SARS-Cov-2 also attacks other organs, including the kidney where there are proximal renal tubular epithelial cells, glomerular mesangial cells, and podocytes that express ACE2 receptors on their surface which are the targets of COVID-19. This study uses an observational analytic design through a cross-sectional approach. The sampling technique used simple random sampling which met the inclusion and exclusion criteria, with a total sample of 60 taken from secondary data in the form of inpatient medical records. Bivariate analysis was carried out to analyze the relationship between chronic kidney disease and the clinical degree of COVID-19 using the chi-square test. Univariate data analysis showed that the number of Covid-19 sufferers who experienced chronic kidney disease was 30 people (50.0%), Covid-19 sufferers who did not experience chronic kidney disease were 30 people (50.0%) and the clinical degree of Covid-19 was without symptoms and mild symptoms none (0%), moderate symptoms 37 people (61.7%), severe symptoms 9 people (15.0%) and critical symptoms 14 people (23.3%). The results of bivariate data analysis obtained 0.596 (p> 0.05) so that it can be concluded that there is no relationship between chronic kidney disease and the degree of clinical symptoms in Covid-19 patients at Al Ihsan Hospital in Bandung. Abstrak. Penyakit ginjal kronik dapat meningkatkan risiko kematian karena infeksi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh perubahan sistem kekebalan, termasuk inflamasi sistemik persisten dan terjadi imunosupresi. Selain sel pernapasan, SARS-Cov-2 juga menyerang organ lain, termasuk ginjal yang dimana terdapat sel epitel tubulus ginjal proksimal, sel mesangial glomerulus, dan podosit yang mengekspresikan reseptor ACE2 pada permukaannya yang menjadi target COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional melalui pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan jumlah sampel 60 yang di ambil dari data sekunder berupa rekam medis pasien rawat inap. Analisis bivariat di lakukan untuk menganalisis hubungan penyakit ginjal kronik dengan derajat klinis COVID-19 menggunakan uji chi-square. Analisis data univariat menunjukan jumlah penderita Covid-19 yang mengalami penyakit ginjal kronik sebanyak 30 orang (50.0%), penderita Covid-19 yang tidak mengalami penyakit ginjal kronik sebanyak 30 orang (50.0%) dan derajat klinis Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan tidak ada (0%), gejala sedang 37 orang (61.7%), gejala berat 9 orang (15.0%) dan gejala kritis 14 orang (23.3%). Hasil analisis data bivariat diperoleh 0.596 (p>0,05) sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara penyakit ginjal kronik dengan derajat gejala klinis pada pasien covid-19 di RSUD Al Ihsan Bandung.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Obesitas pada Usia Remaja di SMAN 1 Maos Regina Putri Sutrisna; M Nurhalim Shahib; Ratna Damailia
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6712

Abstract

Abstract. Obesity is defined as the presence of abnormal and excessive adiposity resulting from an imbalance between energy intake and energy expenditure over time. The prevalence of obesity in children and adolescents can increase because of the factors that support it. Several factors that may contribute to the prevalence of obesity in children and adolescents are related to environmental factors, especially diet and attitudes related to eating patterns, as well as the balance between energy expenditure and future energy consumption during exercise. Several other things can affect the onset of obesity, such as sleep deprivation habits, genetic or hereditary factors, physical activity can even be caused by disease or drugs. The purpose of this study was to determine the relationship between physical activity and the incidence of obesity in adolescents. This study used quantitative observational analytic methods with a cross sectional study design. The sampling technique used is simple random sampling method. This study was attended by 171 students who met the inclusion criteria and did not include the exclusion criteria. Data collection was carried out by filling out a questionnaire in which there were 5 closed questions and measuring height and weight directly and then calculating BMI. Conclusion: based on the results of the questionnaire and BMI for 171 respondents, it was found that 76 people (44.4%) had light activity and 24 people (14.01%) were obese with light physical activity. Suggestion: it is hoped that adolescents will be more active in physical activity in order to prevent obesity. Abstrak. Obesitas didefinisikan sebagai adanya adipositas abnormal dan berlebihan akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi dari waktu ke waktu. Prevalensi obesitas pada anak dan remaja dapat meningkat karena faktor-faktor yang mendukungnya. Beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap prevalensi obesitas pada anak dan remaja terkait dengan faktor lingkungan, terutama pola makan dan sikap terkait pola makan, serta keseimbangan antara pengeluaran energi dan konsumsi energi di masa mendatang selama berolahraga. Beberapa hal lain yang dapat mempengaruhi timbulnya obesitas, seperti kebiasaan kurang tidur, faktor genetik atau keturunan, aktitas fisik bahkan dapat disebabkan oleh penyakit atau obat-obatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada usia remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional study. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah metode purposive sampling. Penelitian ini diikuti oleh 171 siswa/siswi yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk kriteria eksklusi. Pengambilan data dilakukan melalui pengisian kuesioner yang didalamnya terdapat 5 pertanyaan tertutup dan melakukan pengukuran tinggi badan serta berat badan secara langsung kemudian dihitung menggunakan IMT. Simpulan: berdasarkan hasil kuesioner dan IMT pada 171 responden didapatkan sebanyak 76 orang (44,4%) beraktivitas ringan dan 24 orang (14,01%) mengalami obesitas dengan aktivitas fisik ringan. Saran: diharapkan remaja lebih aktif melakukan aktivitas fisik supaya dapat mencegah obesitas.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Chronic Kidney Disease (CKD) dengan Kualitas Hidup Pasien CKD yang Menjalani Hemodialisis di Rumah Sakit Umum Pakuwon Sumedang Periode Juli – Desember 2022 Claudia Kusnadiana; Mudjtahid Djojosugito; Budiman
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6725

Abstract

Abstract. Chronic Kidney Disease (CKD) is an impaired kidney function over time, usually reaching three months or more. Characterized by decreased glomerular filtration to <60 milliliters/minute/1.73m3. This study aims to determine the relationship between knowledge about CKD and the quality of life of CKD patients undergoing hemodialysis at Pakuwon Sumedang General Hospital. This research was conducted with a cross sectional research design by using level of knowledge and quality of life questionnaire. The subjects in this study were 40 CKD patients at Pakuwon Sumedang General Hospital in 2022 selected by total sampling. The results showed that the level of good knowledge was 80.0%, the level of sufficient knowledge was 15.0%, the level of poor knowledge was 5.0%. Based on the analysis of the data by testing the results using the fisher-exact test, it was found that the significance value was p = 0.002 (α<0.05). This means that in this study there is a significant relationship between the level of patient knowledge about chronic kidney disease (CKD) and the quality of life of patients undergoing hemodialysis at Pakuwon Sumedang General Hospital. The results showed that the most patients' quality of life was in the good quality of life category. Support for improving quality of life is needed to reduce stress levels in patients with CKD undergoing hemodialysis. Abstrak. Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penurunan fungsi ginjal sepanjang waktu biasanya mencapai tiga bulan bahkan lebih. Ditandai dengan menurunnya filtrasi dari glomerulus hingga <60 mililiter/menit/1.73m3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang CKD dengan kualitas hidup pasien CKD yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Umum Pakuwon Sumedang. Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan kuisioner mengenai tingkat pengetahuan dan kualitas hidup. Subjek dalam penelitian ini merupakan pasien CKD sebanyak 40 orang di Rumah Sakit Umum Pakuwon Sumedang tahun 2022 dipilih dengan total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan baik sebesar 80,0%, tingkat pengetahuan cukup sebesar 15,0%, tingkat pengetahuan kurang sebesar 5,0%. Berdasarkan analisis data dengan uji hasil menggunakan fisher-exact test didapatkan nilai signifikansi nilai p = 0,002 (α< 0,05). Hal tersebut diartikan bahwa pada penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan pasien tentang chronic kidney disease (CKD) dengan kualitas hidup pasien yang menjalani menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Umum Pakuwon Sumedang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup pasien terbanyak pada kategori kualitas hidup baik. Dukungan terhadap peningkatan kualitas hidup sangat diperlukan untuk menurunkan tingkat stress pada penderita CKD.
Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru dengan Komorbid Diabetes Mellitus di RSUD Al Ihsan Bandung Tahun 2020 Rini Nur Islami Dinan; Julia Hartati; Heni Muflihah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6795

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by infection with the bacterium Mycobacterium tuberculosis. In TB patients with Diabetes Mellitus (DM), chronic hyperglycemia impairs immunity and causes prolonged treatment. The aim of this study was to analyze the relationship between DM comorbidities and the success of pulmonary TB treatment. This cross-sectional study used secondary data from the TB information system (SITB) and medical records. The subjects of this study were pulmonary TB patients undergoing treatment at Al Ihsan Hospital during 2020. The inclusion criteria included a minimum age of 19 years, pulmonary TB, and completion of treatment. Research data included TB DM status and treatment outcomes. The end result of complete treatment includes cured and complete. Total TB patients were 1319 people with adult pulmonary TB as many as 634 people who met the inclusion criteria. Most of the pulmonary TB patients were male, 360 people (56.78%) and adults (20-59 years) 455 people (71.77%). Pulmonary TB patients with comorbid DM were 12 people (1.89%) and 622 people without DM (98.11%). There are 10 out of 12 TB DM patients who have incomplete treatment outcomes. There is no relationship between DM comorbidities and the success of pulmonary TB treatment with a P value of 2.517 (P value > 0.05). The conclusion of this study is that there is no relationship between DM comorbidities and treatment success rates. Abstrak. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada penderita TB dengan Diabetes Melitus (DM), hiperglikemia kronis merusak imunitas dan menyebabkan lamanya pengobatan.Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan komorbid DM dengan keberhasilan pengobatan TB Paru. Penelitian cross sectional ini menggunakan data sekunder sistem informasi TB (SITB) dan rekam medik. Subjek penelitian ini adalah pasien TB paru yang menjalani pengobatan di RSUD Al Ihsan selama tahun 2020. Kriteria inklusi meliputi usia minimal 19 tahun, TB paru, dan menyelesaikan pengobaan. Data penelitian meliputi status TB DM and hasil akhir pengobatan. Hasil akhir pengobatn lengkap meliputi sembuh dan lengkap. Total pasien TB sebanyak 1319 orang dengan TB paru dewasa sebanyak 634 orang yg memenuhi krikteria inklusi. Sebagian besar pasien TB paru memiliki jenis kelamin laki-laki 360 orang (56.78%) dan usia dewasa (20-59 tahun) 455 orang (71.77%). Pasien TB paru dengan komorbid DM 12 orang (1.89%) dan tidak DM 622 orang (98.11%). Terdapat 10 dari 12 orang pasien TB DM memiliki hasil akhir pengobatan tidak lengkap. Tidak terdapat hubungan antara komorbid DM dengan keberhasilan pengobatan TB paru dengan P value 2.517 (P value > 0.05). Simpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan komorbid DM dengan angka keberhasilan pengobatan.