cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsms@unisba.ac.id
Phone
+6282321980947
Journal Mail Official
bcsms@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Medical Science
ISSN : -     EISSN : 28282205     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsms.v2i2
Core Subject : Humanities, Health,
Bandung Conference Series: Medical Science (BCSMS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Kedokteran dengan ruang lingkup Age, ASI, BPJS Kesehatan, CGT, Dokter layanan primer, Fungsi diastolic, Gender, Hepatitis A dan B, Interval Anak Balita, ISPA, JKN, Nyeri leher, Origin, Paritas, Pasien, Denyut Nadi, Imunisasi, Perawat, Phlebitis, PHBS, pneumonia Abortus Spontan, Pola Menstruasi, rumah sakit Pendidikan, Sektor Informal Pengetahuan, Shift kerja malam, sindrom koroner akut, Status Gizi Mahasiswa kedokteran, status sosio ekonomi, Tekanan Darah, Tingkat Stres, Troponin T , Type of occupation, ventrikel kiri, dan Wanita Premenopause. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 499 Documents
Clozapine Efektif pada Pasien Skizofrenia yang Resisten terhadap Pengobatan Natasha Syifa Rachman; Siti Annisa Devi Trusda; Dede Setiapriagung
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 1 No. 1 (2021): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v1i1.67

Abstract

Abstract. Schizophrenia is a neuropsychiatric disorder with a high morbidity rate. One of the therapies to treat schizophrenic patients is to use antipsychotics such as typical and atypical drugs. Typical antipsychotics are the first line of treatment for schizophrenia but recently resistance is often developed, so that therapy is switched to atypical antipsychotics. Clozapine is the most commonly used atypical antipsychotic. The aim of this study was to determine the effectiveness of clozapine in schizophrenic patients who were resistant to other antipsychotics. The method used in this study is a scoping review, with research articles from international journals that meet the inclusion and exclusion criteria. This article was then selected using the PRISMA diagram by considering Population (schizophrenic patients), Intervention (giving clozapine), Comparison (placebo or other antipsychotic), Outcome (reduction in psychotic symptoms), Study (RCT, clinical trial, case report, and meta analysis). The results of this study indicate that clozapine is one of the most effective atypical antipsychotics compared to other antipsychotic drugs to treat patients suffering from schizophrenia, especially for schizophrenic patients who are resistant to other antipsychotic treatments. Abstrak. Skizofrenia merupakan gangguan neuropsikiatik dengan angka morbiditas yang masih tinggi. Salah satu terapi untuk menangani pasien skizofrenia adalah dengan menggunakan antipsikotik berupa tipikal dan atipikal. Antipsikotik tipikal menjadi lini pertama pengobatan skizofrenia. Dewasa ini berkembang penelitian bahwa sering terjadi resistensi terhadap antipsikotik tipikal, sehingga terapi beralih ke antipsikotik atipikal. Clozapine merupakan antipsikotik atipikal yang paling sering digunakan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektifitas clozapine terhadap pasien skizofrenia yang resisten terhadap antipsikotik lain. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah scoping review, dengan bahan penelitian artikel dari jurnal internasional yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Artikel ini kemudian diseleksi menggunakan diagram prisma dengan mempertimbangkan Population (pasien skizofrenia), Intervention (pemberian clozapine), Comparison (plasebo atau antipsikotik lain), Outcome (penurunan gejala psikotik), Study (RCT, clinical trial, case report, dan meta analysis). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa clozapine merupakan salah satu antipsikotik atipikal yang paling efektif dibandingkan dengan obat antipsikotik lainnya untuk mengobati pasien yang menderita skizofrenia, khususnya untuk pasien skizofrenia yang resisten terhadap pengobatan antipsikotik lain.
Hubungan Oral Hygiene dengan Kejadian Gingivitis Pada Ibu hamil TM II di Kota Bandung Fina Tri Hasanah; Ecih Winengsih; Dewi Nurlaela Sari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v5i2.20977

Abstract

Abstract. Gingivitis is an inflammation of the gum tissues that commonly occurs in pregnant women, especially during the second trimester, due to hormonal changes affecting the immune response to plaque. The prevalence of gingivitis among pregnant women in Indonesia reaches 74%, with 80% of cases attributed to poor oral hygiene. Lack of awareness in maintaining oral hygiene among pregnant women increases the risk of gingivitis, which can lead to complications such as preterm birth, low birth weight (LBW), and abortion. This study aims to determine the relationship between oral hygiene and the incidence of gingivitis in second-trimester pregnant women at Klinik Pratama Hikmah, Bandung City, in 2025. This research used a quantitative correlational design with secondary data from medical records. The population and sample consisted of 35 second-trimester pregnant women diagnosed with gingivitis, selected through total sampling. Data were collected using observation sheets based on the Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S) and Gingival Index (GI), then analyzed using the Chi-Square test. The results showed that most respondents had poor oral hygiene (88.6%) and experienced moderate (62.9%) to severe (25.7%) gingivitis. Statistical analysis revealed a significant relationship between oral hygiene and gingivitis incidence with a p-value = 0.000 (p < 0.05). Abstrak. Gingivitis merupakan peradangan pada jaringan gusi yang sering terjadi pada ibu hamil, khususnya trimester II, akibat perubahan hormonal yang mempengaruhi respon imun terhadap plak. Prevalensi gingivitis pada ibu hamil di Indonesia mencapai 74%, dengan 80% kasus disebabkan oleh buruknya kebersihan mulut (oral hygiene). Rendahnya kesadaran ibu hamil dalam menjaga kebersihan gigi memperparah risiko gingivitis yang dapat berdampak serius seperti kelahiran premature, berat badan lahir rendah (BBLR), dan abortus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara oral hygiene dengan kejadian gingivitis pada ibu hamil trimester II di Klinik Pratama Hikmah Kota Bandung tahun 2025. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan data sekunder dari rekam medis. Populasi dan sampel berjumlah 35 ibu hamil trimester II yang mengalami gingivitis, diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui observasi menggunakan instrumen Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S) dan Gingival Index (GI), dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki oral hygiene buruk (88,6%) dan mengalami gingivitis sedang (62,9%) hingga berat (25,7%). Uji statistik menunjukkan p = 0,000 (p < 0,05), artinya terdapat hubungan signifikan antara oral hygiene dengan kejadian gingivitis pada ibu hamil.
Analisis Kesiapan Penggunaan RME dalam Pelayanan Anestesi di RS Jawa Barat Widianto, Asriadi Prihandika; Wahyudi, Fikri Mourly; Noprianty, Richa
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v5i2.21355

Abstract

Abstract. The implementation of Electronic Medical Records (EMR) is mandatory for hospitals based on Ministry of Health Regulation No. 24 of 2022 on Medical Records. However, its application in the Central Surgical Installation (CSI) of Hospital X in West Java still faces challenges. This study aims to evaluate the readiness for completing anesthesia records within the EMR system in this unit. A descriptive qualitative case study design was conducted using the HOT-Fit evaluation model (Human, Organization, Technology, and Net Benefit). Data were collected through in-depth interviews with six informants from various professional backgrounds, including nurse anesthetist, medical record staff, hospital management, and IT personnel. Data analysis was conducted using NVivo 12, and ethical approval was obtained (070/11/EthicalClearance/RSX/III/2025). Triangulation was performed by involving IT staff as the system vendor. The study identified six key findings: user transformation, organizational readiness, technological readiness, technology sustainability, clinical and operational benefits, and administrative and managerial benefits. Results indicate that readiness for electronic anesthesia record completion considered low, particularly regarding human resources, organizational support, and technology. The EMR system is not yet fully integrated, with barriers in training, infrastructure, and inter-unit coordination. Strengthening the system, enhancing training, and conducting regular evaluations are essential for more effective implementation.. Abstrak. Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan kewajiban rumah sakit berdasarkan Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis, namun penerapannya di Instalasi Bedah Sentral (IBS) Rumah Sakit X di Jawa Barat masih menghadapi tantangan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesiapan pengisian kartu anestesi dalam sistem RME di unit tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, mengadopsi model evaluasi HOT-Fit (Human, Organization, Technology, dan Net Benefit). Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap enam informan dari berbagai latar belakang profesi (penata anestesi, staf rekam medis, manajemen, dan IT). Analisis data menggunakan aplikasi NVivo 12 dan telah memperoleh izin etik (070/11/EthicalClearance/RSX/III/2025). Triangulasi data dilakukan dengan melibatkan staf IT sebagai vendor sistem IT. Penelitian ini menemukan enam temuan utama, yaitu transformasi pengguna, kesiapan organisasi, kesiapan teknologi, keberlanjutan teknologi, manfaat klinis dan operasional, serta manfaat administratif dan manajerial. Hasil penelitian menunjukkan kesiapan pengisian kartu anestesi elektronik masih rendah, terutama dalam aspek sumber daya manusia, organisasi, dan teknologi. Sistem RME belum sepenuhnya terintegrasi dan masih menghadapi kendala dalam pelatihan, infrastruktur, serta koordinasi lintas unit. Meski demikian, terdapat potensi manfaat signifikan, secara klinis dan administratif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sistem, peningkatan pelatihan, dan evaluasi rutin untuk mendukung implementasi yang lebih efektif.
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kesehatan Mental Pada Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama Di Kota Bandung Tahun 2025 Meta Aryani; Suherdin; Diah Adni Fauziah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v5i2.21537

Abstract

Abstract. Mental health was a dynamic condition that reflected an individual’s ability to manage stress, realize their potential, work productively, and establish healthy social relationships. Among adolescents, mental health problems such as stress, anxiety, and depression had become serious issues that affected psychosocial functioning, academic achievement, and overall quality of life. In Indonesia, approximately 6.1% of the population aged ≥15 years experienced emotional mental disorders, with a depression prevalence of 6.2% among adolescents aged 15–24 years. The majority of suicide cases among adolescents stemmed from untreated depression and anxiety. This study aimed to determine the factors associated with mental health among junior high school students in Bandung City in 2025. This research was an analytical observational study using a crosssectional approach. The sampling technique used simple random sampling with a total sample of 71 students. The instrument used was a questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using the Chi-Square test (P-value < 0.05). The results showed that parenting style (P-value = 0.040) and social interaction (P-value = 0.024) had a significant relationship with mental health. Meanwhile, gender (P-value = 0.405) did not have a significant relationship. It was concluded that there was a relationship between parenting style and social interaction with mental health, but there was no relationship between gender and the mental health of students. Abstrak. Kesehatan mental merupakan kondisi dinamis yang mencerminkan kemampuan individu dalam mengelola stres, menyadari potensi diri, bekerja secara produktif, serta menjalin hubungan sosial yang sehat. Pada kelompok remaja, gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi menjadi persoalan serius yang berdampak pada penurunan fungsi psikososial, prestasi akademik, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Di Indonesia, sekitar 6,1% penduduk usia ≥15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dengan prevalensi depresi pada remaja usia 15–24 tahun sebesar 6,2%. Mayoritas kasus bunuh diri pada remaja berakar dari kondisi depresi dan kecemasan yang tidak tertangani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kesehatan mental pada peserta didik Sekolah Menengah Pertama di Kota Bandung tahun 2025. Penelitian ini merupakan observasi analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 71 peserta didik. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square (P-value < 0.05). Hasil uji menunjukkan bahwa pola asuh orang tua (P-value = 0.040) dan interaksi sosial (P-value = 0.024) memiliki hubungan signifikan dengan kesehatan mental. Sementara itu, jenis kelamin (P-value = 0.405) tidak memiliki hubungan signifikan. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dan interaksi sosial dengan kesehatan mental, namun tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kesehatan mental peserta didik.
Hubungan Postur Kerja dengan Keluhan Muskuloskeletal pada Pekerja Toko UD.X Syanindita Salma Khairunnisa; Siska Nia Irasanti; Purnomo
Bandung Conference Series: Medical Science 1537-1544
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22099

Abstract

Abstract. Musculoskeletal Disorders (MSDs) are conditions affecting the musculoskeletal system that may arise from prolonged static loads and repetitive activities. This study aimed to describe work posture, musculoskeletal complaints, and to analyze the relationship between the two among workers at UD. X. An analytic quantitative study with a cross-sectional design was conducted. The study sample consisted of 58 workers who met the inclusion criteria and were selected using a total sampling technique. Work posture was assessed using the BRIEF Survey, while musculoskeletal complaints were measured using the validated Medical History Checklist: Symptoms Survey for Work-Related Musculoskeletal Disorders (WMSDs). Data were analyzed using univariate and bivariate analysis with the Fisher–Freeman–Halton Exact Test. The results showed that most respondents had a moderate-risk work posture (44.8%) and mild musculoskeletal complaints (grade 1) (58.6%). Statistical analysis indicated no significant association between work posture and musculoskeletal complaints (p = 0.893). The absence of a significant relationship may be attributed to variations in work activities, frequent changes in working positions, and the predominance of mild complaints influenced by non-postural factors. Abstrak. Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan gangguan pada sistem otot dan rangka yang dapat timbul akibat beban statis dan aktivitas berulang dalam jangka waktu lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran postur kerja, keluhan muskuloskeletal, serta hubungan antara keduanya pada pekerja Toko Bangunan UD. X. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian adalah seluruh pekerja yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 58 responden dengan teknik total sampling. Penilaian postur kerja dilakukan menggunakan BRIEF Survey, sedangkan keluhan muskuloskeletal diukur menggunakan Medical History Checklist: Symptoms Survey for Work-Related Musculoskeletal Disorders (WMSDs). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher–Freeman–Halton Exact Test. Hasil menunjukkan sebagian besar responden memiliki postur kerja dengan risiko sedang (44,8%) dan keluhan muskuloskeletal derajat 1 (58,6%). Uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara postur kerja dan keluhan muskuloskeletal (p = 0,893). Tidak signifikannya hubungan diduga dipengaruhi oleh variasi aktivitas kerja, perubahan posisi, serta faktor non-postural lainnya.
Hubungan Status Gizi dengan Kelelahan Kerja pada Pekerja Tambang UD. X Dinda Elvira Maulina; Susan Fitriyana; Sandy Faizal
Bandung Conference Series: Medical Science 1545-1552
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22218

Abstract

Abstract. Work fatigue is a major issue in occupational safety and health in the mining sector, which involves high physical activity and heavy workloads. Nutritional status as an internal factor is presumed to influence work fatigue. This study aimed to determine the relationship between nutritional status and work fatigue among sand mining workers at UD. X. The research used a cross sectional design with total sampling of 48 workers who met in the inclusion criteria. Nutritional status was measured using Body Mass Indeks (BMI), while work fatigue was assessed through the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) questionnaire. All respondents were male (100%), and most were in the 26-45 year age group (62,5%). The highest propotion of work tenure was in the 5-10 year category (45,83%), and job divisions were dominated by field workers (41,67%). The most common nutritional status category was normal (39,58%), followed by obesity 1 (14,58%). Mild fatigue was the most prevalent fatigue level, experienced by 41 workers (85,4%). The Fisher-Freeman-Halton Exact Test showed p = 0,196 (p > 0,05), indicating no significant relationship between nutritional status and work fatigue. These findings suggest that fatigue is more influenced by factors such as job characteristics, work exposure duration, and work tenure, highlighting the need for workplace strategies that address these contributing aspects. Abstrak. Kelelahan kerja merupakan masalah pentin dalam keselamatan dan kesehatan kerja, terutama pada sektor pertambangan yang menuntut aktivitas fisik tinggi dan paparan beban kerja berat. Status gizi sebagai salah satu faktor internal disuga berperan dalam memengaruhi tingkat kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan tingkat kelelahan kerja pada pekerja tambang pasir UD. X. penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan total sampling terhadap 48 pekerja yang memenuhi kriteria inklusi. Status gizi diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), sedangkan tingkat kelelahan kerja dinilai melalui kuesioner Industrial Fatuguq Research Committee (IFRC). Selutruh responden berjenis kelamin laki-laki (100%) dan sebagian besar berada pada kelompok usia 26-45 tahun (62,5%). Masa kerja terbanyak pada kategori 5-10 tahun (45.83%), sedangkan divisi pekerjaan didominasi oleh pekerja lapangan (41,67). Status gizi terbanyak adalah kategoru normal (39,58%), diikuti obesitas 1 (14,58%). Tingkat kelelahan yang paling dominan adalah kelelahan ringan dengan 41 pekerja (85,4%). Hasil uji Fisher-Freeman-Halton Exact Test menunjukan p = 0,196 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi dengan tingkat kelelahan kerja. Temuan ini mengindikasi bahwa kelelahan lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti karakteristik pekerjaan, durasi paparan kerja, dan masa kerja.
Hubungan Konsumsi Tablet Fe dengan Siklus dan Durasi Menstruasi pada Siswi SMA Negeri 1 Garut Fadilatunnisa Kamila; Noormartany; Ismawati
Bandung Conference Series: Medical Science 1553-1562
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22393

Abstract

Abstract. Blood loss during menstruation increases the need for iron, so iron tablet supplementation is given as an effort to prevent anemia. However, there is still a perception that iron tablet consumption can affect the menstrual cycle and duration. This study aims to analyze the relationship between iron tablet consumption and menstrual cycle and duration in female students of SMA Negeri 1 Garut. This study is an observational analytical study with a cross-sectional design. A sample of 244 female students was selected using Simple Random Sampling. The independent variable was iron tablet consumption, while the dependent variables included menstrual cycle and duration, with controlled variables being nutritional status, stress level, physical activity, sleep patterns, and age of menarche. Data were collected through questionnaires and analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results showed that most respondents consumed iron tablets and had regular menstrual cycles and normal menstrual duration. There was no significant relationship between iron tablet consumption and menstrual cycle (p = 0.989) or menstrual duration (p = 0.372). This study concluded that iron tablet consumption was not significantly related to menstrual cycle and duration in female students of SMA Negeri 1 Garut. Abstrak. Kehilangan darah selama menstruasi meningkatkan kebutuhan zat besi, sehingga suplementasi tablet Fe diberikan sebagai upaya pencegahan anemia. Namun, masih terdapat persepsi bahwa konsumsi tablet Fe dapat memengaruhi siklus dan durasi menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsumsi tablet Fe dengan siklus dan durasi menstruasi pada siswi SMA Negeri 1 Garut. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 244 siswi yang dipilih menggunakan Simple Random Sampling. Variabel bebas adalah konsumsi tablet Fe, sedangkan variabel terikat meliputi siklus dan durasi menstruasi, dengan variabel terkontrol status gizi, tingkat stres, aktivitas fisik, pola tidur, dan usia menarche. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengonsumsi tablet Fe serta memiliki siklus menstruasi teratur dan durasi menstruasi normal. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi tablet Fe dengan siklus menstruasi (p = 0,989) maupun durasi menstruasi (p = 0,372). Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsumsi tablet Fe tidak berhubungan secara signifikan dengan siklus dan durasi menstruasi pada siswi SMA Negeri 1 Garut.
Perbandingan Puasa Intermiten Kering dan Air terhadap Inflamasi Hepar Mencit Dzakira Zalfaa Titis; Annisa Rahmah Furqaani; Sara Puspita
Bandung Conference Series: Medical Science 1563-1570
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22404

Abstract

Abstract. Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) is a metabolic disorder associated with high-fat diet consumption and characterized by hepatic inflammatory processes that contribute to disease progression. Intermittent fasting has been proposed as a non-pharmacological strategy to modulate metabolic and inflammatory responses; however, comparative evidence between dry and water intermittent fasting on hepatic inflammation remains limited. This study aimed to compare the effects of dry intermittent fasting and water intermittent fasting on hepatic inflammation scores in mice fed a high-fat diet. This quantitative experimental study employed a post-test only controlled group design using 28 paraffin-embedded liver tissue blocks from male Swiss Webster mice. Intermittent fasting was conducted for 30 days with a daily fasting duration of 14 hours. Hepatic inflammation was assessed histopathologically using hematoxylin–eosin staining based on the number of inflammatory foci per field of view. Data analysis was performed using the Chi-square test and subsequently Fisher’s Exact Test due to unmet assumptions, followed by Spearman correlation analysis. The results showed no statistically significant difference in hepatic inflammation scores between the dry intermittent fasting and water intermittent fasting groups (Fisher’s Exact Test, p = 1.00). Spearman correlation analysis also demonstrated no significant association between the type of intermittent fasting and hepatic inflammation score (r = 0.001; p > 0.05). Abstrak. Non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) merupakan gangguan metabolik yang berkaitan dengan konsumsi pakan tinggi lemak dan ditandai oleh proses inflamasi hepar yang berperan dalam progresivitas penyakit. Puasa intermiten dikenal sebagai pendekatan nonfarmakologis yang berpotensi memodulasi respon metabolik dan inflamasi, namun perbandingan efek puasa intermiten kering dan air terhadap inflamasi hepar masih terbatas. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek puasa intermiten kering dan puasa intermiten air terhadap skor inflamasi hepar pada mencit yang diberi pakan tinggi lemak. Penelitian ini merupakan studi eksperimental kuantitatif dengan desain post-test only controlled group menggunakan 28 blok parafin jaringan hepar mencit jantan galur Swiss Webster. Puasa intermiten dilakukan selama 30 hari dengan durasi puasa 14 jam per hari. Inflamasi hepar dinilai secara histopatologis menggunakan pewarnaan hematoksilin–eosin berdasarkan jumlah fokus inflamasi per lapang pandang. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dan dilanjutkan dengan Fisher’s Exact Test, serta analisis korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada skor inflamasi hepar antara kelompok puasa intermiten kering dan air (Fisher’s Exact Test, p = 1,00). Analisis Spearman juga menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis puasa intermiten dan skor inflamasi hepar (r = 0,001; p > 0,05).
Lama Menjalani Hemodialisis dengan Kualitas Hidup Pasien Hemodialisis Raden Nadhifa Khansa Aziza Putribenardi; Rio Dananjaya; Herry Garna
Bandung Conference Series: Medical Science 1571-1578
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22644

Abstract

Abstract. Chronic kidney disease (CKD) is a progressive and irreversible condition that, in its end stage, requires renal replacement therapy, one of which is hemodialysis, which may affect patients’ quality of life. Inconsistent findings from previous studies regarding the relationship between duration of hemodialysis and quality of life indicate the need for further investigation in specific healthcare settings. This study aimed to analyze the quality of life, duration of hemodialysis, and the relationship between duration of hemodialysis and quality of life among CKD patients at Al-Islam Hospital Bandung in 2025. This descriptive analytic study employed a cross-sectional design and was conducted in September 2025. A total of 75 CKD patients undergoing hemodialysis were recruited using consecutive sampling. Duration of hemodialysis was classified into 1–12 months, 12–24 months, and more than 24 months. Quality of life was assessed using the Kidney Disease Quality of Life-36 (KDQOL-36) questionnaire. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of 0.05. The results showed that most respondents had undergone hemodialysis for more than 24 months. Quality of life scores varied across dimensions, with most dimensions categorized as moderate to low. Statistical analysis revealed no significant relationship between duration of hemodialysis and quality of life (p > 0.05). In conclusion, duration of hemodialysis is not a single determining factor of quality of life among CKD patients. Abstrak. Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penyakit progresif dan ireversibel yang pada stadium akhir memerlukan terapi pengganti ginjal, salah satunya hemodialisis yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup pasien. Perbedaan hasil penelitian sebelumnya terkait hubungan lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup menunjukkan diperlukan kajian pada konteks pelayanan kesehatan tertentu. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran kualitas hidup, lama menjalani hemodialisis, serta hubungan antara lama menjalani hemodialisis dan kualitas hidup pada pasien PGK di RS Al-Islam Bandung tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional) yang dilaksanakan selama bulan September 2025. Subjek penelitian berjumlah 75 pasien PGK yang menjalani hemodialisis dan dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Lama menjalani hemodialisis diklasifikasikan menjadi 1–12 bulan, 12–24 bulan, dan lebih dari 24 bulan. Kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner Kidney Disease Quality of Life-36 (KDQOL-36). Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah menjalani hemodialisis lebih dari 24 bulan. Skor kualitas hidup bervariasi antardimensi dengan sebagian besar dimensi berada pada kategori sedang hingga rendah. Hasil uji statistik tidak terdapat hubungan bermakna antara lama menjalani hemodialisis dan kualitas hidup pasien (p >0,05). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa lama menjalani hemodialisis bukan merupakan faktor tunggal yang menentukan kualitas hidup pasien PGK.