cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsps@unisba.ac.id
Phone
+6285211144661
Journal Mail Official
bcsps@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp: +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Psychology Science
ISSN : -     EISSN : 28282191     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsps.v2i3
Bandung Conference Series: Psychology Science (BCSPS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Psikologi dengan ruang lingkup sbb: Broken Home, Budaya Organisasi, Celebrity Worship, Delinkuensi, Dewasa Awal, Disiplin Kerja, Dukungan Sosial, Health belief, Interaksi Parasosial, Kemandirian Anak Usia Dini, Kematangan Karir, Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Obesitas, Parasocial Relationship, Peak Performance, Pendidikan Karakter, Penyesuaian diri, Penyesuaian pernikahan, Pola Asuh, Prestasi Belajar, Psychological Well-Being, Religiusitas, Remaja Akhir, Self Esteem, Self regulation, Ta’aruf. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 49 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science" : 49 Documents clear
Pengaruh Self Compassion terhadap Kecemasan Masa Depan pada Mahasiswa Tingkat Akhir Lischa Nabila Wilianaza; Suhana
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7313

Abstract

Abstract. These hopes, goals and guesses about what will happen in the future often affect human mental health, coupled with the pandemic yesterday brought a period of uncertainty for everyone. This uncertainty associated with the future and the possibility of unintended or negative outcomes is commonly referred to as future anxiety. Future anxiety is certainly not a good thing for the human mentality because it involves understanding the goodness of oneself when experiencing failures and mistakes, without criticizing and judging oneself harshly this is commonly called self-compassion is very important. Based on this phenomenon, the problems in this study are formulated as follows: (1) what is the level of self compassion possessed by final year students? (2) What is the level of future anxiety experienced by final year students? (3) How much influence self-compassion has on future anxiety in final year students?. The respondents of this study were 340 final year students at Bandung Islamic University with causality and quota sampling methods. The results obtained using a simple linear regression test showed simultaneously and significantly the negative influence of self-compassion on future anxiety in final year students. With the value of the linear regression coefficient of the self-compassion variable is –.584, this shows that if the self-compassion variable increases, the future anxiety variable will decrease. The value of the coefficient of determination of .499 means that the self-compassion variable can affect future anxiety by 49.9%, meaning that the influence is at a fairly moderate level. Therefore, it is hoped that final year students can increase self-compassion in order to deal with future anxiety. Abstrak. Harapan, tujuan dan dugaan mengenai yang akan terjadi di masa depan ini seringkali mempengaruhi kesehatan mental manusia, ditambah dengan adanya pandemi kemarin membawa masa ketidakpastian bagi semua orang. Ketidakpastian yang terkait dengan masa depan dan kemungkinan hasil yang tidak diinginkan atau negatif ini biasa disebut dengan kecemasan masa depan. Kecemasan masa depan tentu bukan lah hal yang baik bagi mental manusia untuk itu melibatkan pemahaman akan kebaikan pada diri sendiri saat mengalami kegagalan dan kesalahan, tanpa mengkritik dan menghakimi diri secara keras ini biasa di sebut dengan self compassion sangatlah penting. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) bagaimana tingkat self compassion yang dimiliki mahasiswa tingkat akhir? (2) Bagaimana tingkat kecemasan masa depan yang dialami oleh mahasiswa tingkat akhir? (3) Seberapa besar pengaruh self compassion terhadap kecemasan masa depan pada mahasiswa tingkat akhir?. Responden penelitian ini 340 mahasiswa tingkat akhir di Universitas Islam Bandung dengan metode kausalitas dan quota sampling. Hasil penelitian diperoleh menggunakan uji regresi linear sederhana menunjukkan secara simultan dan signifikan pengaruh negatif self compassion terhadap kecemasan masa depan pada mahasiswa tingkat akhir. Dengan nilai koefisien regresi linear dari variabel self compassion adalah .584 ini memperlihatkan bahwa apabila variabel self compassion mengalami kenaikan maka variabel kecemasan masa depan akan mengalami penurunan. Nilai koefisien determinasi .499 artinya variabel self compassion dapat mempengaruhi kecemasan masa depan sebesar 49.9% artinya pengaruh berada pada tingkat yang cukup moderat. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa tingkat akhir dapat meningkatkan self compassion agar dapat menangani kecemasan masa depan.
Pengaruh Work Life Balance terhadap Turnover Intention pada Karyawan Milenial Perusahaan Startup Digital Kota Bandung Annisa Nurkarimah; Sita Rositawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7314

Abstract

Abstract. The millennial generation is dominating the world of work today with distinctive characteristics, one of which is identical to frequently changing workplaces. This is in line with the high turnover intention data in Indonesia, especially for millennial generation employees. If this continues, it can have a negative impact both financially and non-financially for the company. One of the reasons why millennial generation employees often change workplaces is because they experience a loss of balance between work and personal life aspects. The purpose of this research is to see how much influence work life balance has on turnover intention among millennial generation employees in digital startup companies in Bandung City. This research method applies a non-experimental quantitative approach, involving 114 respondents and using simple regression analysis tests and descriptive analysis. The measuring instrument applied to the work life balance variable adapted by Gunawan (2019), which refers to Fisher's (2009) measuring instrument. On the turnover intention variable, using a measuring instrument adapted by Farisan & Mubarak (2021), which refers to the Mobley (1978) measuring instrument. The results of simple regression analysis show that work life balance is significantly correlated with turnover intention. The correlation between work life balance and turnover intention has a negative regression coefficient value (WLB = -0.026), which shows that the higher the work life balance, the lower the turnover intention. In addition, the coefficient of determination shows that 25.9% of the turnover intention variable is influenced by the work life balance variable. Abstrak. Generasi milenial sedang mendominasi dunia kerja saat ini dengan karakteristik khas salah satunya adalah identik dengan seringnya berpindah-pindah tempat kerja. Hal tersebut selaras dengan data turnover intention yang tinggi di Indonesia, terutama pada karyawan generasi milenial. Jika hal tersebut berlangsung secara terus menerus, dapat berdampak buruk baik secara finansial maupun non finansial bagi perusahaan. Salah satu alasan mengapa karyawan genersi milenial sering berpindah-pindah tempat kerja adalah karena mengalami kehilangan keseimbangan antara aspek pekerjaan dan aspek kehidupan pribadi. Tujuan dari riset ini ialah guna melihat seberapa besar pengaruh work life balance terhadap turnover intention pada karyawan generasi milenial di perusahaan startup digital Kota Bandung. Metode riset ini menerapkan pendekatan kuantitatif non-eksperimental, dengan melibatkan 114 responden dan menggunakan uji analisis regresi sederhana dan analisis deskriptif. Alat ukur yang diterapkan pada variabel work life balance yang diadaptasi oleh Gunawan (2019), yang merujuk pada alat ukur Fisher (2009). Pada variabel turnover intention, menggunakan alat ukur yang diadaptasi oleh Farisan & Mubarak (2021), yang merujuk pada alat ukur Mobley (1978). Hasil analisis regresi sederhana menujukkan bahwa work life balance berkorelasi signifikan terhadap turnover intention. Korelasi antara work life balance dengan turnover intention memiliki nilai koefisien regresi bertanda negatif (WLB= -0.026), yang memperlihatkan semakin tinggi work life balance maka semakin rendah turnover intention. Selain itu, hasil koefisien determinasi menunjukkan bahwa 25,9% variabel turnover intention dipengaruhi oleh variabel work life balance.
Pengaruh Work Family Conflict terhadap Psychological Well-Being pada Karyawati KODIKLATAD Anggitha Intan Pertiwi; Yuli Aslamawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7319

Abstract

Abstract. The purpose of this study was to determine the effect of work family conflict on psychological well-being in KODIKLATAD employees. Work family conflict is a conflict between roles, namely the pressure exerted by one role on another, both at work and in the family, which causes an imbalance. Psychological well-being Psychological well-being is an achievement of the potential possessed by individuals, where an individual is able to accept himself from both positive and negative sides, establish good relationships with other individuals, control the environment according to his psychological needs, have goals in life , and develop the potential contained within him. This research is a research with a quantitative approach using a questionnaire method. The sampling technique used is purposive sampling. Data collection used two measurement tools, namely the work-family conflict scale (WFCS) from Carlson, Kacmar and Williams (2000) which consisted of 18 items with a reliability of r = 0.950 and the Psychological Well-Being Scale (PWBS) which consisted of 86 items with reliability of 0.912. This research involved 78 KODIKLATAD employees. The method used is simple linear regression analysis using the Pearson correlation analysis technique assisted by SPSS software. The results of data analysis prove that there is a significant influence between work family conflict on psychological well-being tcount, namely 14,143 > ttable, namely 3,825. The results of psychological well-being are affected by work family conflict of 0.560. or 56%. From the results of the regression analysis, the equation is Y = 20.698 + 1.153X. This equation proves that there is a positive influence between work family conflict (X) on psychological well-being. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh work family conflict terhadap psychological well-being pada karyawati KODIKLATAD. Work family conflict adalah konflik antar peran yaitu tekanan yang diberikan oleh satu peran dengan peran lainnya baik dalam pekerjaan maupun dalam keluarga yang menimbulkan ketidakseimbangan. Psychological well-being Psychological well-being adalah suatu pencapain dari potensi yang dimiliki oleh individu, dimana seorang individu mampu menerima dirinya baik dari sisi positif maupun negatif, menjalin relasi yang baik dengan individu lain, mengontrol lingkungan sesuai dengan kebutuhan psikologisnya, memiliki tujuan dalam hidup, dan mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kuantitatif yang memakai metode kuesioner. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Pengumpulan data memakai dua alat ukur yaitu work-family conflict scale (WFCS) dari Carlson, Kacmar dan Williams (2000) yang terdiri dari 18 item dengan reliabilitas sebesar r = 0.950 dan Psychological Well-Being Scale (PWBS) yang terdiri 86 item dengan reliabilitas sebesar 0,912. Penelitian ini melibatkan 78 karyawati Kodiklat AD. Metode yang digunakan yaitu analisis regresi linier sederhana menggunakan teknik analisis pearson correlation yang dibantu software SPSS. Hasil analisis data membuktikan adanya pengaruh signifikan antara work family conflict terhadap psychological well-being thitung yaitu 14.143 > ttabel yaitu 3.825. Hasil dari psychological well-being dipengaruhi oleh work family conflict sebesar 0,560. atau 56%. Dari hasil analisis regresi didapatkan persamaan yaitu Y=20,698+1.153X. Persamaan tersebut membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif antara work family conflict (X) terhadap psychological well-being.
Studi Kontribusi Workplace Spirituality terhadap Employee Well-Being pada Dosen Generasi Millennial Elfani Fernanda; Ali Mubarak
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7325

Abstract

Abstract. According to Ashmos and Duchon (2000), workplace spirituality refers to the understanding of individuals as spiritual beings who need care in the workplace, have purpose and meaning for their work, and have a sense of connection with others and/or the community at work. Employee well-being is a feeling of health and well-being that employees have, as well as satisfaction with the values that exist in their workplace (Page & Vella-Brodrick, 2009). This study aims to determine how workplace spirituality contributes to employee well-being. The method used in the research is quantitative causality method with multiple regression data analysis. The measuring instrument used is the Workplace Spirituality Scale suggested by Ashmos & Duchon (2000) which has been adapted into the Indonesian version by Mubarak et al (2022), while employee well-being uses the Employee Well-Being Scale (EWBS) measuring instrument developed by Zheng et al (2015) which has been adapted into the Indonesian version by Rahmi et al (2021). The results showed that 58.2% of lecturers had high workplace spirituality and 53% of lecturers had high employee well-being. Simultaneously, workplace spirituality contributed 35.4% to employee well-being. Partially, the dimension of workplace spirituality that has a significant effect is only the sense of community dimension. Abstrak. Menurut Ashmos dan Duchon (2000), workplace spirituality mengacu pada pemahaman individu sebagai makhluk spiritual yang membutuhkan perawatan di tempat kerja, memiliki tujuan dan makna untuk pekerjaannya, dan memiliki perasaan terhubung dengan orang lain dan atau komunitas di tempat kerja. Employee well-being adalah perasaan sehat dan sejahtera yang dimiliki karyawan, serta kepuasan terhadap nilai-nilai yang ada di tempat kerja mereka (Page & Vella-Brodrick, 2009). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontribusi workplace spirituality terhadap employee well-being. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuantitatif kausalitas dengan analisis data regresi berganda. Alat ukur yang digunakan adalah Workplace Spirituality Scale yang disarankan oleh Ashmos & Duchon (2000) yang telah diadaptasi ke dalam versi Bahasa Indonesia oleh Mubarak et al (2022), sedangkan employee well-being mnggunakan alat ukur Employee Well-Being Scale (EWBS) yang dikembangkan oleh Zheng et al (2015) yang telah diadaptasi ke dalam versi Bahasa Indonesia oleh Rahmi et al (2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58.2% dosen memiliki workplace spirituality yang tinggi dan 53% dosen memiliki employee well-being yang tinggi. Secara simultan, workplace spirituality memberikan kontribusi sebesar 35.4% terhadap employee well-being. Secara parsial, dimensi workplace spirituality yang berpengaruh signifikan hanya dimensi sense of community saja.
Pengaruh Keadilan Organisasi terhadap Komitmen Organisasi pada Perawat Rumah Sakit X Putri Rahmawati; Agus Budiman
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7330

Abstract

Abstract. Organizational goals can be hindered due to high job leave rates in employees (Rohaeti & Novita, 2021). If the intention to leave work is high, then the organizational commitment is low (Azzizah & Izzati, 2018). In 2022, there will be an increase in the number of employees leaving their jobs by 20% to reach 4.2 million (Farrugia, 2022). This has happened to nurses, where the rate of leaving work in a private hospital in Surabaya, namely in 2020 is 14.6% and in 2021 it is 51% (Muhadi et al., 2022). If the individual feels more and more justice, the commitment will be high and the desire to reject will decrease (Lee dan Wei, 2017). This study aims to see how much influence organizational justice has on organizational commitment for change in 94 nurses in RS X. The research method used is quantitative with a causality research design. The organizational justice measuring instrument used in this study is the Organizational Justice Survey (OJS) from Colquitt (2001) which was adapted by Riyanthi & Syarifah (2017). The tool for measuring organizational commitment uses the Organizational Commitment Questionnare (OCQ) by Mowday et al. (1979) which was adapted by Ingarianti (2017). The data analysis technique used is multiple linear regression analysis. The results of the study found that organizational justice had a positive and significant effect on organizational commitment in nurses at RS.X by 69.2%, with the dimension of procedural justice that has the greatest influence in bringing about organizational commitment, namely 88.46%. Abstrak. Tujuan organisasi dapat terhalang karena tingkat keluar dari pekerjaan yang tinggi pada karyawan (Rohaeti & Novita, 2021). Apabila intensi keluar dari pekerjaan tinggi, maka komitmen organisasinya rendah (Azzizah & Izzati, 2018). Pada tahun 2022, terjadi peningkatan jumlah karyawan yang keluar dari pekerjaannya 20% mencapai 4.2 juta (Farrugia, 2022). Hal ini terjadi pada perawat, dimana angka keluar kerja di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya, yaitu pada 2020 sebesar 14.6% dan pada 2021 sebesar 51% (Muhadi et al., 2022). Jika individu semakin merasakan keadilan maka komitmennya akan tinggi dan menurunkan keinginan untuk melakukan penolakan (Lee dan Wei, 2017). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis data empiris mengenai pengaruh keadilan organisasi terhadap komitmen organisasi pada 94 perawat di RS X. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan desain penelitan kausalitas. Alat ukur keadilan organisasi menggunakan Organizational Justice Survey (OJS) dari Colquitt (2001) yang telah diadaptasi oleh Riyanthi & Syarifah (2017). Alat ukur komitmen organisasi menggunakan Organizational Commitment Questionnare (OCQ) dari Mowday et al. (1979) yang telah diadaptasi oleh Ingarianti (2017). Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian mendapatkan bahwa keadilan organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi pada perawat di RS X sebesar 69.2%, dengan dimensi keadilan prosedural yang memiliki pengaruh paling besar dalam memunculkan komitmen organisasi yaitu sebesar 88.46%.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Readiness for Change pada Guru Fadillah Putri Amalia Rizky; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7341

Abstract

Abstract. Organizational change is something that cannot be avoided to achieve success in the competitive world of work, continuity and existence of the organization. An important factor in the success of an organization to make changes is individual readiness to change (readiness for change). Readiness for change is the extent to which individuals cognitively and emotionally have the desire to accept, embrace and adapt a change plan. Employee readiness to face change will have a positive orientation towards the organization when it has perceived organizational support. This study aims to see how much influence perceived organizational support has on readiness for change in 90 public high school teachers in Cianjur District. The measuring tool used is the Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) which refers to the theory of Eisenberger et al. (1986) and the readiness for organizational change scale which refers to the theory of Holt et al., (2007). The sampling technique used is saturated sampling. The method used is causality quantitative method with simple linear regression analysis technique. The results of this study indicate that perceived organizational support has a significant effect on readiness for change by 77.1% Abstrak. Perubahan organisasi merupakan hal yang tidak dapat dihindari untuk mencapai keberhasilan dalam persaingan dunia kerja, kelangsungan serta eksistensi organisasi. Faktor penting dalam keberhasilan organisasi untuk melakukan perubahan yaitu kesiapan individu untuk berubah (readiness for change). Readiness for change adalah sejauh mana individu secara kognitif dan emosional memiliki keinginan untuk menerima, merangkul dan mengadaptasi rencana perubahan. Kesiapan karyawan menghadapi perubahan akan memiliki orientasi positif terhadap organisasi ketika memiliki perceived organizational support. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh perceived organizational support terhadap readiness for change pada 90 guru SMA Negeri di Kecamatan Cianjur. Alat ukur yang digunakan yaitu Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) yang mengacu pada teori Eisenberger et al. (1986) dan readiness for organizational change scale yang mengacu pada teori Holt et al., (2007). Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif kausalitas dengan teknik analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perceived organizational support berpengaruh signifikan terhadap readiness for change sebesar 77.1%.
Studi Kontribusi Career Exploration terhadap Work Readiness pada Fresh Graduate di Kota Bandung Adelia Noviyanti; Dinda Dwarawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7353

Abstract

Abstract. The purpose of this study was to determine how much career exploration contributes to work readiness in fresh graduates in Bandung City. According to Caballero and Walker (2010) work readiness is the extent to which graduates have the skills and qualities that make them ready for success in the workplace. According to Stumpf et al., (1983) career exploration is behavior aimed at obtaining information about work or organizations. The subjects of this study were 197 fresh graduates in Bandung City. The hypothesis of this study is that career exploration contributes significantly to work readiness in fresh graduates in Bandung City. The method used is quantitative, causality design with simple regression analysis. The measuring instrument used is the Career exploration Survey (CES) developed by Stumpf et al. (1983) and adapted into Indonesian by Preston and Salim (2019). The work readiness measuring instrument uses the work readiness scale (WRS) developed by Caballero and Walker (2010) and has been adapted and modified into Indonesian by Wijayanti (2019). The results showed 63% of fresh graduates had high career exploration and 60% had a high level of work readiness. The results of regression analysis show an R Square value of 0.564, so it can be said that career exploration contributes 56.4% to work readiness in fresh graduates in Bandung City. Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kontribusi career exploration terhadap work readiness pada fresh graduate di Kota Bandung. Menurut Caballero dan Walker (2010) work readiness merupakan sejauh mana lulusan memiliki keterampilan dan kualitas yang membuat siap untuk sukses di tempat kerja. Menurut Stumpf et al., (1983) career exploration adalah perilaku yang ditujukan untuk memperoleh informasi mengenai pekerjaan atau organisasi. Subjek penelitian ini yaitu 197 fresh graduate di Kota Bandung. Hipotesis penelitian ini yaitu career exploration berkontribusi secara signifikan terhadap work readiness pada fresh graduate di Kota Bandung. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif, desain kausalitas dengan analisis regresi sederhana. Alat ukur yang digunakan yaitu Career exploration Survey (CES) yang dikembangkan oleh Stumpf et al. (1983) dan diadaptasi kedalam bahasa indonesia oleh Preston dan Salim (2019). Alat ukur work readiness menggunakan work readiness scale (WRS) yang dikembangkan oleh Caballero dan Walker (2010) dan telah diadaptasi dan dimodifikasi kedalam bahasa Indonesia oleh Wijayanti (2019). Hasil penelitian menunjukkan 63% fresh graduate memiliki career exploration yang tinggi dan 60% memiliki tingkat work readiness yang tinggi. Hasil analisis regresi menunjukkan nilai R Square 0,564, sehingga dapat dikatakan Career exploration memberikan kontribusi sebanyak 56.4% terhadap work readiness pada fresh graduate di Kota Bandung.
Pengaruh Neurotisme terhadap Fear of Missing Out pada Remaja Akhir Pengguna Media Sosial di Universitas Islam Bandung Marelda Patricia Arlie Wibowo; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7354

Abstract

Abstract. Fear of Missing Out (FoMO) is the fear that someone feels that other people are enjoying more exciting activities or without their presence, the feeling arises because of other people's activity updates on social media. Individuals who tend to experience Fear of Missing Out (FoMO) more often are individuals who have the personality trait of neuroticism. The purpose of this study is to determine the effect of neuroticism on Fear of Missing Out (FoMO) in late adolescents who use social media. The approach used in this study is a non-experimental causality research design. The subjects used in this study were 403 late adolescents at the Islamic University of Bandung. The scale to measure the level of neuroticism used is the Big Five Personality Inventory and the fear of missing out scale. Quota sampling was used as a sample collection method in this study. The data analysis technique used was Simple Linear Regression Test. The results of regression testing show that neuroticism has a significant influence on Fear of Missing Out (FoMO). The coefficient of determination obtained in this study is .197 which indicates that the influence or ability of the Neuroticism variable in explaining the Fear of Missing Out (FoMO) variable is 19.7%. Abstrak. Fear of Missing Out (FoMO) adalah ketakutan yang dirasakan seseorang bahwa orang lain tengah menikmati kegiatan yang lebih seru atau tanpa kehadirannya, perasaan itu timbul karena pembaruan aktivitas orang lain di media sosial. Individu yang cenderung lebih sering mengalami Fear of Missing Out (FoMO) adalah individu yang memiliki trait kepribadian neurotisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh neurotisme terhadap Fear of Missing Out (FoMO) pada remaja akhir pengguna media sosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian kausalitas non-eksperimental. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 403 remaja akhir di Universitas Islam Bandung. Skala untuk mengukur tingkat neurotisme yang digunakan yaitu Big Five Personality Inventory dan skala fear of missing out. Quota sampling digunakan sebagai metode pengumpulan sampel dalam penelitian ini. Teknik analisa data yang digunakan adalah Uji Regresi Linier Sederhana. Hasil pengujian regresi menunjukkan bahwa neurotisme memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Fear of Missing Out (FoMO). Nilai koefisien determinasi yang diperoleh dalam penelitian ini sebesar .197 yang menunjukkan bahwa pengaruh atau kemampuan variabel Neurotisme dalam menjelaskan variabel Fear of Missing Out (FoMO) sebesar 19.7%.
The Effect of Fear of Missing Out on Problematic Internet Use in Students at Bandung Islamic University Aura Nurul Qolbi; Muhammad Ilmi Hatta
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7358

Abstract

Abstract. The internet makes it easy for many of its users because it can present all information easily and quickly. However, one of the negative impacts is that there are students who are still not wise enough to use the internet. Risky, excessive, or impulsive use of the internet that causes adverse life consequences, especially physical, emotional, social, or functional impairments is the definition of Problematic Internet Use. The purpose of this research is to find out how much influence Fear of Missing Out has on Problematic Internet Use among Bandung Islamic University students. A quantitative approach was chosen as the approach to this study by using non-experimental causality as the approach in this study. With the number of subjects used as many as 403 students of Bandung Islamic University. The scales used in this study include Fear of Missing Out and Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2). In this study the data analysis technique used is the Simple Linear Regression Test. Obtained from the results of regression testing that fear of missing out has a significant influence on problematic internet use. Then obtained the coefficient of determination of .122. This means that the FOMO variable can explain or can influence the PIU variable by 12.2%. Abstrak. Internet memberikan kemudahan bagi banyak penggunanya karena dapat menyajikan segala informasi secara mudah dan cepat. Namun salah satu dampak negatifnya adalah terdapat mahasiswa yang masih kurang bijak dalam memanfaatkan internet ini. Penggunaan internet yang berisiko, berlebihan, atau impulsif yang menyebabkan konsekuensi kehidupan yang merugikan, khususnya gangguan fisik, emosional, sosial, atau fungsional merupakan definisi dari Problematic Internet Use. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui seberapa besar pengaruh Fear of Missing Out terhadap Problematic Internet Use pada mahasiswa Universitas Islam Bandung. Pendekatan kuantitatif dipilih sebagai pendekatan penelitian ini dengan menggunakan kausalitas non-eksperimental sebagai pendekatan dalam penelitian ini. Dengan jumlah subjek yang digunakan sebanyak 403 orang mahasiswa Universitas Islam Bandung. Skala yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya yaitu Fear of Missing Out dan Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2). Dalam penelitian ini teknik analisa data yang digunakan adalah Uji Regresi Linear Sederhana. Diperoleh dari hasil pengujian regresi bahwa fear of missing out memiliki pengaruh yang signifikan terhadap problematic internet use. Kemudian diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar .122. Hal ini berarti variabel FOMO dapat menjelaskan atau dapat memberikan pengaruh terhadap variabel PIU sebesar 12.2%.
Pengaruh Flexible Working Arrangement terhadap Work Engagement pada Karyawan Milenial Perusahaan Startup Digital di Kota Bandung Reskina Winialda; Yuli Aslamawati
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v3i2.7362

Abstract

Abstract. This study aims to empirically examine the effect of flexible working arrangement on millennial employees work engagement in digital startup companies in Bandung City. This research used a quantitative approach with a cross-sectional survey design. This study used non-probability sampling, specifically convenience/ accidental sampling, with a sample size of 120 employees. Measurment scale using the Flexible Working Arrangement Scale from Farida and Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) from Wilmar Schaufeli. The data analysis technique to test the research hypothesis used a multiple regression technique test. The results of this research shows that 76% millennial employees in digital startup companies in Bandung City have a high level of flexible working arrangement and 96% have a high level of work engagement. Simultaneously, flexible working arrangements have an 8.5% influence on work engagement. However, only one dimension of flexible working arrangements, that is flexible location, significantly affects work engagement. The other dimension, flexible time, does not have a significant impact on work engagement. The implication of this research is the importance of implementing flexible working arrangements, particularly in the dimension of flexible location, to enhance millennial employees work engagement in digital startup companies. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh flexible working arrangement terhadap work engagement karyawan milenial perusahaan startup digital di Kota Bandung. Pendekatan yang digunakan ialah kuantitatif dengan desain cross-sectional survey. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan non-probability sampling yaitu convenience/ accidental sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 120 orang. Alat ukur yang digunakan adalah skala Flexible Working Arrangement dari Farida dan Utrecht Work Engagement Scale-17 (UWES-17) dari Wilmar Schaufeli, analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76% karyawan milenial perusahaan startup digital di Kota Bandung memiliki flexible working arrangement yang tinggi dan 96% karyawan milenial perusahaan startup digital di Kota Bandung memiliki work engagement yang tinggi. Secara simultan, flexible working arrangement berpengaruh terhadap work engagement sebesar 8.5%. Sedangkan secara parsial hanya satu dimensi flexible working arrangement yaitu flexible location berpengaruh secara signifikan terhadap work engagement. Sementara dimensi lainnya yaitu flexible time tidak berpengaruh secara signifikan terhadap work engagement. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya penerapan flexible working arrangement terutama pada dimensi flexible location dalam meningkatkan work engagement karyawan milenial perusahaan startup digital.