cover
Contact Name
Eko Apriliyanto
Contact Email
jurnalpolibara@gmail.com
Phone
+6281327997397
Journal Mail Official
jurnalpolibara@gmail.com
Editorial Address
Redaksi Jurnal Ilmiah Media Agrosains Jl. Raya Kenteng - Madukara KM. 02, Madukara, Kab. Banjarnegara Jawa Tengah 53482
Location
Kab. banjarnegara,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Media Agrosains
ISSN : :2407169     EISSN : 29626315     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Ilmiah Media Agrosains merupakan publikasi tulisan asli yang berkaitan dengan bidang pertanian secara luas.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2020): Edisi Desember" : 6 Documents clear
EKSPLORASI JAMUR ANTAGONIS TERHADAP PENYEBAB BUSUK PELEPAH PADI (Sarocladium oryzae) Resti Fajarfika; Aldi Rafsanjani; Dadi Nurdiana
Jurnal Ilmiah Media Agrosains Vol 6 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sheath rot of rice caused by Sarocladium oryzae is a serious problem and may cause rice yield loss, therefore need the control that inhibit growth or development of the pathogen. Application of biological control agents available antagonist fungus like has been researched and developed effective to inhibit of pathogen disease, plant growth enhancement, and positive impact to the environment. The purpose of the study was to determine the exploration of plant various from the three sub-district, Garut and to characterize the ability of the isolates to inhibit S. oryzae in vitro. Exploration was conducted to take soil sample of Imperata cylindrica, Bambusa tuldoides, Mimosa invisa from three sub-district in Garut, especially Bayongbong, Karangpawitan, and Wanaraja. Then the isolation of antagonist fungus, and antagonism test used dual culture method with a completely randomized design. After that, identification was conducted on base identification key. The result of the study showed that the nine potential isolates were found, were the seven isolates included into the species of Trichoderma sp. and two isolates of Gliocladium sp. The result of antagonism test showed that antagonism fungus was effectively suppressed micelial growth of S. oryzae with the suppression percentage more than 50%, namely isolate of KA1 (100%), BB0 (91,67%), KA2 (88,89%), KP3 (86,67%), BA2 (82,14%), WB1 (69,44%), KP2 (67,22%), KB2 (65%), and KP1 (60,48%). Kata kunci: Pelepah Padi, Gliocladium, Trichoderma, Isolasi, Busuk Abstrak Penyakit busuk pelepah padi yang disebabkan Sarocladium oryzae dapat menimbulkan masalah yang serius dan menyebabkan kehilangan hasil, sehingga perlu adanya pengendalian yang dapat menekan pertumbuhan dan perkembangan patogen tersebut. Akhir-akhir ini agen pengendali hayati seperti jamur antagonis banyak diteliti dan dikembangkan sebagai salah satu solusi yang efektif mengendalikan patogen tanaman, dapat memacu pertumbuhan tanaman dan aman bagi lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi jamur antagonis pada beberapa tanaman di tiga kecamatan, Kabupaten Garut dan menguji kemampuan isolat tersebut dalam menghambat S. oryzae d secara in vitro. Eksplorasi dilaksanakan dengan pengambilan sampel tanah rizosfer dari tanaman alang-alang, bambu dan putri malu yang berasal dari daerah pertanaman sehat di tiga kecamatan yaitu Bayongbong, Karangpawitan, dan Wanaraja di kabupaten Garut. Selanjutnya diisolasi jamur antagonis dan uji antagonisme dengan metode dual culture menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Setelah itu, diidentifikasi berdasarkan buku kunci identifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh 9 isolat jamur antagonis yang potensial, dimana 7 isolat adalah Trichoderma sp. dan dua isolat adalah Gliocladium sp. Hasil uji antagonisme menunjukkan bahwa isolat jamur antagonis efektif menekan pertumbuhan S. oryzae dengan penekanan diatas 60%, yaitu isolat KA1 (100%), BB0 (91,67%), KA2 (88,89%), KP3 (86,67%), BA2 (82,14%), WB1 (69,44%), KP2 (67,22%), KB2 (65%), dan KP1 (60,48%).
PENGARUH BOKASHI SERBUK GERGAJI KAYU DAN PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN SAWI HIJAU DI TANAH ENTISOL Khavid Faozi; Ilham Ramadhan; Rosi Widarawati
Jurnal Ilmiah Media Agrosains Vol 6 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of sawdust waste as a source of organic material in crop farming on Entisol is important to study because wood waste is more difficult to decompose than organic material from seasonal crop waste. This study aims to determine the effect of bokashi made from wood sawdust and the interval of fertilization through leaves on the growth of green mustard. The research was conducted at the Plastic House and the Laboratory of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture UNSOED Purwokerto from November 2019 to February 2020. The factorial pot experiment (3x3) was arranged in a Complete Randomized Block Design with three replications. The first factor was the rates of bokashi which included control (without bokashi), the rates of bokashi was 20 t.ha-1 and 40 t.ha-1. The second factor was the frequency of foliar fertilizer spraying which consisted of control (without leaf fertilization), spraying of foliar fertilizer at intervals of 3 days and 6 days. Then growth of the green mustard shoots showed stunted when given wood sawdust waste bokashi, and it was further inhibited when the dose was increased. Application of foliar fertilizer every 6 days is only effective in increasing the growth of plant roots. There is an interaction effect between the treatment of bokashi from wood sawdust waste and the interval of fertilizing through the leaves on the green mustard leaf color level. Kata kunci: Bokashi, Limbah Serbuk Gergaji, Pertumbuhan, Sawi Hijau Abstrak Pemanfaatan limbah serbuk gergaji sebagai sumber bahan organik pada budi daya tanaman di Entisol penting diteliti karena limbah kayu lebih sulit terurai dibandingkan bahan organik dari limbah tanaman semusim. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh bokashi yang dibuat dari bahan serbuk gerjadi kayu dan interval pemupukan melalui daun terhadap pertumbuhan sawi hijau. Penelitian dilaksanakan di Rumah Plastik dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian UNSOED Purwokerto mulai bulan November 2019 sampai dengan Februari 2020. Perlakuan faktorial (3x3) disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah dosis bokashi meliputi kontrol (tanpa bokashi), dosis bokashi 20 t.ha-1 dan 40 t.ha-1. Faktor kedua yaitu frekuensi penyemprotan pupuk daun yang terdiri dari kontrol (tanpa dipupuk daun), penyemprotan pupuk daun interval waktu 3 hari dan 6 hari. Pertumbuhan bagian tajuk tanaman sawi hijau menunjukkan terhambat bila diberi bokashi limbah serbuk gergaji kayu, dan semakin terhambat lagi bila dosisnya ditingkatkan. Pemberian pupuk daun setiap 6 hari sekali hanya efektif meningkatkan pertumbuhan perakaran tanaman. Terdapat pengaruh interaksi antara perlakuan bokashi dari limbah serbuk gergaji kayu dan interval pemupukan melalui daun pada tingkat kehijauan warna daun sawi hijau.
INTENSITAS PENYIRAMAN POC SAMPAH PASAR PADA STEK KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) Retno Muningsih; Yoga Priandana
Jurnal Ilmiah Media Agrosains Vol 6 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organic waste can be used as compost, liquid organic fertilizer (POC) and other kinds of animal feed. Market waste as a source of organic fertilizer has not been utilized optimally. Making POC from market waste can utilize vegetable and fruit waste in the hope that there are nutrients present in rotten fruit (such as elements N, P and K and some micro elements that can still be beneficial for plants). Non factorial randomized Complete block design (RCBD) with 5 treatments of watering intensity: S0 (without watering), S1 (watering once a week), S2 (watering every 2 weeks), S3 (watering every 3 weeks), and S4 (watering every 4 weeks). The variables observed were the number of leaves, leaf color, shoot stem diameter, shoot length and the number of shoots. The data obtained were analyzed using the F test, if there was a if there were differences between treatments followed by the Duncan Multiple Range Test (DMRT) with a level of 5%. The results showed that the intensity of watering using POC market waste was not able to increase the growth in the number of leaves, leaf color, shoot stem diameter, shoot length and the number of Robusta coffee cuttings. Kata kunci: Kopi, Pupuk Organik Cair (POC), Robusta, Stek Abstrak Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai kompos, pupuk organik cair (POC) dan macam pakan ternak. Sampah pasar sebagai salah satu sumber pupuk organik belum bayak dimanfaatkan secara maksimal. Pembuatan POC dari sampah pasar dapat memanfaatkan sampah sayur dan buah dengan harapan masih terdapat unsur hara yang )terdapat dalam buah yang busuk (seperti unsur N, P dan K serta beberapa unsur mikro yang masih bisa menguntungkan bagi tanaman). Penelitian menggunakan Rancangan Acak kelompok Lengkap (RAKL) non faktorial dengan 5 perlakuan intensitas penyiraman yaitu: S0 (tanpa penyiraman), S1 (penyiraman 1 minggu sekali), S2 (penyiraman 2 minggu sekali), S3 (penyiraman 3 minggu sekali), dan S4 (penyiraman 4 minggu sekali). Variabel yang diamati adalah jumlah daun, warna daun, diameter batang tunas, panjang tunas dan jumlah tunas. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji F, apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan intensitas penyiraman menggunakan POC sampah pasar belum mampu meningkatkan pertumbuhan jumlah daun, warna daun, diameter batang tunas, panjang tunas dan jumlah tunas stek kopi Robusta.
PENAMBAHAN BAHAN PERENDAM TERHADAP KANDUNGAN VITAMIN C SERBUK CABAI Dwi Ari Cahyani; Arum Asriyanti Suhastyo
Jurnal Ilmiah Media Agrosains Vol 6 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Processing of chili powder is an alternative to overcome the abundance of chilies at harvest time. This is because of natural characteristics red chilies which are easily rotten and have short storage period. The process of making chili powder requires a drying process which can affect the vitamin C content in chilies. The research intend, to determine the effect of the soaking agent on the content of vitamin C and moisture content in chili powder. This study applies an experimental research method. The experimental design used was a Randomized Block Design (RBD) with 3 replications. Analysis of vitamin C content was carried out by using the iodometric titration method. Determination of water content of chili powder using the thermogravimetric method. The results of analysis, were used in further tests to determine whether there were significant differences between various treatments using the DMRT (Duncan Multiple Range Test). The results showed that the difference in the soaking ingredients used did not show any significant differences in the content of vitamin C and water content in the chili powder. The treatment of the soaking material variables and the length of soaking time did not affect the vitamin C content and moisture content of the resulting chili powder. Soaking ingredients and soaking time have not been able to maintain the vitamin C content and reduce the water content in the chili powder. Kata Kunci: cabai, kadar air, vitamin C Abstrak Pengolahan serbuk cabai merupakan salah satu alternatif mengatasi melimpahnya cabai pada saat panen raya. Hal ini merupakan karakteristik alami cabai merah yang mudah busuk dan memiliki umur simpan yang rendah. Proses pembuatan serbuk cabai membutuhkan proses pengeringan yang dapat mempengaruhi kandungan vitamin C yang ada dalam cabai. Penelitian ini bertujuan, untuk mengetahui pengaruh bahan perendam terhadap kandungan vitamin C dan kadar air yang terdapat dalam serbuk cabai. Penelitian ini menerapkan metode penelitian eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Analisis kandungan vitamin C dilakukan dengan metode titrasi iodometri. Penentuan kadar air serbuk cabai menggunakan metode termogravimetri. Hasil analisis, selanjutnya digunakan uji lanjutan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang nyata antar berbagai perlakuan dengan menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan bahan perendam yang digunakan tidak menunjukan adanya beda nyata terhadap kandungan vitamin C dan kadar air yang ada pada serbuk cabai. Perlakuan variabel bahan perendam dan lama waktu perendaman yang dilakukan tidak memberikan pengaruh terhadap kandungan vitamin C dan kadar air pada serbuk cabai yang dihasilkan. Bahan perendam dan lama perendaman belum mampu mempertahankan kandungan vitamin C dan menurunkan kadar air yang ada dalam serbuk cabai.
APLIKASI MOL DAUN KELOR DAN REBUNG BAMBU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) Arum Asriyanti Suhastyo; Bondan Hary Setiawan
Jurnal Ilmiah Media Agrosains Vol 6 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pakcoy plant cultivation can be carried out organically or inorganically, but to get high quality pakcoy plants, of course organic cultivation must be done immediately, considering the more residues generated from the use of inorganic fertilizers and inorganic pesticides One of the efforts made in cultivation without using materials -Chemicals that will damage the environment are the use of local microorganisms (Mol). Natural ingredients that contain growth stimulants and local microorganisms, including moringa leaves and bamboo shoots. This study aims to determine the effect of giving some moringa and bamboo shoots to the growth and yield of pakcoy plants. The research design used was factorial randomized block design, with two factors being tested, namely the administration of moles and the dose of fertilization. The first factor P1 = mol of moringa leaves, P2 = mol of bamboo shoots. The second factor is the fertilizer dose D1 = 60 ml / l, D2 = 70 ml / l, D3 = 80 ml / l. Each treatment was repeated 3 times to obtain 18 experimental plots. Data were analyzed using the F test, if significantly different, then continued with the Duncan Test (DMRT) level of 5%. The conclusion of this study showed that the application of moringa leaves and bamboo shoots on the growth and yield of pakcoy was not able to increase plant height, number of leaves and plant fresh weight. The mole dose of moringa leaves 70 ml / l is the optimum mole dose to give the highest average plant growth yield of 8,62 cm and the best yield of pakcoy weighing 3.45 g. and a dosage of Mol bamboo shoots 70 ml / l gave the best results for the growth of the number of leaves an average of 7,98 pieces. Kata kunci: rebung, dosis, kelor, organik Abstrak Budi daya tanaman pakcoy bisa dilakukan secara organik maupun anorganik, namun untuk mendapatkan hasil tanaman pakcoy yang bermutu tinggi tentunya budidaya secara organik harus segera dilakukan, mengingat semakin banyak residu yang dihasilkan dari penggunaan pupuk anorganik dan pestisida anorganik. Salah satu upaya yang dilakukan dalam budidaya tanpa menggunakan bahan-bahan kimia yang akan merusak lingkungan adalah dengan penggunaan mikroorganisme lokal (Mol). Bahan alami yang mengandung zat perangsang pertumbuhan serta mikroorganisme lokal, diantaranya adalah daun kelor dan rebung bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa konsentrasi Mol daun kelor dan rebung terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok faktorial, dengan dua faktor yang dicobakan yaitu pemberian Mol dan dosis pemupukan. Faktor pertama P1 = Mol daun kelor, P2 = Mol rebung Faktor kedua dosis pemupukan D1= 60 ml/l, D2= 70 ml/l, D3= 80 ml/l. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga didapatkan 18 plot percobaan. Data dianalisis menggunakan Uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Duncan (DMRT) taraf 5%. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan Aplikasi Mol daun kelor dan rebung bambu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy belum mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot segar tanaman. Dosis Mol daun kelor 70 ml/l merupakan dosis Mol yang optimum untuk memberikan hasil pertumbuhan rata-rata tanaman tertinggi 8,62 cm dan hasil pakcoy terbaik seberat 3,45 g. dan dosis Mol rebung bambu 70 ml/l memberikan hasil terbaik untuk pertumbuhan jumlah daun rata-rata sebanyak 7,98 helai.
FUNGSI PENYULUH PERTANIAN DALAM PENGEMBANGAN PERTANIAN DI KECAMATAN BUMIAYU KABUPATEN BREBES M. Teguh Faris Zulhak; Ivan Akmal Nur; Wahyu Febriyono
Jurnal Ilmiah Media Agrosains Vol 6 No 2 (2020): Edisi Desember
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UP2M) Politeknik Banjarnegara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Community counseling is a strategic activity in order to increase the productivity of the agricultural development. The goal of the counseling is to increase the knowledge and skills to encourage farmers to be better. The purpose this research to know the role of agricultural counselor in agricultural development at Bumiayu district, what the counselor do in the community, the obstacle faced by the counselor in the agricultural counseling at Bumiayu sub-district, and the response from the farmer about the agricultural counseling in Bumiayu district. The method used in this research was mix method with direct observation or field research. From this research found that there are seven role of agricultural counselor. The obstacle faced by the counselor in the field are the low knowledge and skills of available human resources, limited agriculture information resources, hesitancy of the farmers to adopt new technique in agriculture, the mindset of the farmer that are get use to farming without counseling, and low budget. Meanwhile, the counseling get a good respond because the farmers feel helped by this kind activity and they can get to accessed seeds, machinery, and government administration aids. Kata kunci : fungsi, penyuluhan, pertanian, pengembangan Abstrak Penyuluhan merupakan kegiatan yang strategis dalam upaya mencapai tujuan pembangunan pertanian yang menjadikan petani lebih produktif. Sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang memacu petani untuk menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran penyuluh pertanian dalam pengembangan pertanian di Kecamatan Bumiayu. Kendala yang dihadapi penyuluh di lapangan dalam kegiatan penyuluhan pertanian di Kecamatan Bumiayu dan respon yang diterima petani terhadap adanya penyuluhan pertanian di Kecamatan Bumiayu. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes menggunakan metode gabungan atau mix. Teknik yang digunakan adalah metode observasi langsung atau penelitian lapangan (field research). Hasil penelitian ini diketahui ada tujuh peran dalam kegiatan penyuluh Kecamatan Bumiayu yaitu peran sebagi motivator, edukator, monitoring, fasilitator, konsultan, komunikator, dan evaluator. Kendala yang dihadapi penyuluh Kecamatan Bumiayu diantaranya sumber daya manusia di Bumiayu masih rendah, terbatasnya sumber informasi untuk pertanian, petani yang masih ragu melakukan teknik adopsi dan inovasi, pemikiran petani tanpa adanya penyuluhan mereka sudah terbiasa melakukan kegiatan pertanian, dan anggaran kegiatan yang terbatas. Penyuluhan direspon dengan baik karena petani merasa terbantu dengan kehadiran penyuluh. Seperti pengadaan bantuan benih, alat mesin pertanian ataupun berkaitan dengan surat menyurat kepada dinas pemerintahan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6