cover
Contact Name
Luqman Qurata Aini
Contact Email
luqman.fp@ub.ac.id
Phone
+6281252663348
Journal Mail Official
jurnalhpt@ub.ac.id
Editorial Address
Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23384336     EISSN : 25806459     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.jurnalhpt
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan (Jurnal HPT) memuat naskah artikel yang berkaitan dengan hama dan penyakit tumbuhan, termasuk karakterisasi, deteksi, identifikasi, fisiologi, biokimia, ekologi, epidemiologi, biologi molekuler hama dan patogen tumbuhan, serta pengendaliannya secara kimia dan biologi. Artikel dapat berupa hasil penelitian mutakhir atau temuan terbaru mengenai hama dan penyakit tumbuhan. Naskah artikel yang diterima adalah naskah yang belum pernah dimuat atau tidak sedang dalam proses publikasi pada berkala ilmiah nasional maupun internasional lainnya.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 3 (2016)" : 6 Documents clear
UJI VIRULENSI Steinernema sp. TERHADAP Spodoptera exigua Hubner (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) DI LABORATORIUM Arum Yuli Kristanti; Toto Himawan; Hagus Tarno
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 4 No. 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui virulensi nematoda entomopatogen Steinenerma sp. (meliputi: mortalitas serta LC50 dan LT50) terhadap ulat  Spodoptera exigua di laboratorium. Penelitian dilaksanakan pada 20 Januari sampai 5 Juni 2015 di Sub Laboratorium Nematologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Percobaan disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat perlakuan yaitu konsentrasi juvenil infektif dan menggunakan lima kelompok berdasarkan waktu aplikasi. Parameter yang diamati adalah jumlah larva S. exigua yang mati, waktu dan perubahan tampilan pada larva S. exigua. Pengamatan dilakukan setiap 24 jam. Larva S. exigua diberi aplikasi nematoda dengan konsentrasi 100, 200, 400, dan 800 JI/ml dan diamati setiap 24 jam. Kemudian dihitung persentase mortalitas larva S.exigua.  Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa, nematoda Steinernema sp. dengan kepadatan populasi tertinggi yaitu 800 JI/ml mampu menyebabkan kematian yang paling tinggi dibandingkan dengan konsentrasi nematoda yang lain.  LT50 dari masing-masing perlakuan didapatkan konsentrasi yang paling efektif yaitu pada perlakuan 400 JI/ml yang mampu membunuh larva mencapai 50% dalam waktu 74,24 jam. Sedangkan LC50 konsentrasi JI Steinernema dalam kepadatan 261,02 JI/ml sudah mampu membunuh larva S. exigua mencapai 50%.
ISOLASI JAMUR PATOGEN SERANGGA FILOPLAN CABAI MERAH KERITING (Capsicum annuum Linnaeus) DAN UJI VIRULENSI TERHADAP Spodoptera litura Fabricius (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) Devy Kumalasari; Aminudin Afandhi; Fery Abdul Choliq
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 4 No. 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mempelajari jenis jamur patogen serangga yang diperoleh dari filoplan cabai merah keriting yang ditanam pada ketinggian tempat 1198 dan 635 mdpl di Malang Raya. Jamur patogen serangga diperoleh dengan meletakkan daun cabai merah keriting di dalam cawan Petri berisi media Sabauraud Dextrose Agar Yeast (SDAY). Jenis jamur patogen serangga yang diperoleh dari filoplan cabai merah keriting yang ditanam pada ketinggian 635 dan 1198 mdpl memiliki perbedaan. Jamur patogen serangga yang diperoleh dari ketinggian 635 mdpl sebanyak 4 jenis sedangkan pada ketinggian 1198 mdpl sebanyak 6 jenis. Jenis jamur yang diperoleh dari ketinggian 635 mdpl yaitu Aspergillus sp., Fusarium sp., Trichoderma sp., Curvularia sp. Jenis jamur yang diperoleh dari ketinggian 1198 mdpl yaitu Lecanicillium sp., Nigrospora sp., Aspergillus sp., Fusarium sp., Trichoderma sp., Penicillium sp. Isolat jamur yang diperoleh diuji viabilitas dan dihitung kerapatan konidia untuk proses seleksi dalam uji virulensi terhadap Spodoptera litura. Delapan isolat jamur terpilih memiliki perbedaan virulensi terhadap S. litura. Virulensi jamur tertinggi yaitu Lecanicillium sp. dengan mortalitas S. litura 55% dan terendah Fusarium sp. dengan mortalitas 7 %. Metode isolasi filoplan cabai merah keriting dari dua ketinggian tempat berpeluang untuk mendapatkan isolat jamur pengendali S. litura.
STUDI IDENTIFIKASI DAN CARA INOKULASI PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA TANAMAN Sansevieria trifasciata Moch. Yani Firmansyah; Ika Rochdjatun Sastrahidayat; Syamsuddin Djauhari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 4 No. 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antraknosa merupakan jenis penyakit tular udara yang dapat menyerang berbagai komoditas tumbuhan seperti buah-buahan, pepohonan, tanaman semak, rerumputan, dan tanaman hias. Patogen penyebab antraknosa adalah Colletotrichum sp.. Sansevieria trifasciata adalah jenis tanaman yang mampu tumbuh diberbagai kondisi lingkungan. Estetika S. trifasciata dapat ditinjau dari keindahan daun dan coraknya. Penurunan kualitas S. trifasciata dapat disebabkan karena kerusakan daun oleh patogen tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi dan perkembangan penyakit antraknosa dengan beberapa cara inokulasi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penyebab penyakit antraknosa pada S. trifasciata adalah Colletotrichum sansevieriae. Terdapat perbedaan persentase perkecambahan dan pembentukan apresoria C. sansevieriae pada permukaan daun lima varietas Sansevieria. Rerata perkecambahan tertinggi pada S. trifasciata var Golden hahnii sebesar 52,73%. Namun persentase pembentukan apresoria tertinggi pada S.trifasciata var Hahnii sebesar 10,16%. Perbedaan cara inkulasi mempengaruhi masa inkubasi, perkembangan penyakit, dan persentase tingkat kejadian penyakit. Cara inokulasi tusuk semprot lebih efektif dalam menimbulkan penyakit daripada yang lainnya. dengan masa inkubasi selama 2,3 hsi dan tingkat kejadian penyakit sebesar 62,4%.
KETAHANAN EMPAT VARIETAS TOMAT (Lycopersicum esculentum MILL.) TERHADAP INFEKSI Tobacco Mosaic Virus (TMV) Nevi Linda Purnamasari; Tutung Hadiastono; Fery Abdul Choliq
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 4 No. 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman dan ketahanan empat varietas tomat yang diinfeksi Tobacco Mosaic Virus (TMV). Percobaan ini dilaksanakan di Rumah Kawat dan Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya pada bulan Oktober 2014 hingga Januari 2015. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan varietas tomat, yaitu: Permata, Juliet, Andhini dan Murni, setiap perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan varietas Juliet merupakan varietas yang tahan terhadap infeksi TMV dengan skor rata-rata 4,42, varietas Murni merupakan varietas yang agak tahan terhadap infeksi TMV dengan skor rata-rata 4,01, sedangkan Andhini merupakan varietas rentan dengan skor rata-rata 3,76 dan varietas Permata merupakan varietas sangat rentan terhadap infeksi TMV dengan skor rata-rata 3,36. Infeksi virus dapat mengakibatkan penurunan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah, dan bobot kering tanaman sebesar masing-masing 23,82%, 19,42%, 41,55%, dan 48,71%.
PERKEMBANGAN HAMA Cryptolestes ferrugineus PADA BEBERAPA TINGKATAN SUHU RUANG Ni Putu Eka Pratiwi; Ludji Pantja Astuti; Silvi Ikawati
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 4 No. 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian perkembangan Cryptolestes ferrugineus pada beras varietas IR-64 dengan tingkatan suhu ruang 20°C, 25°C, 30°C, 35°C, dan 40°C dilakukan di Laboratorium Hama, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa C. ferrugineus tidak dapat berkembang pada suhu ruang 40°C. Perkembangan C. ferrugineus lebih baik pada suhu ruang 30°C daripada suhu ruang 35°C, 20°C, 25°C, dan 40°C dengan menunjukkan periode perkembangan pada suhu ruang 30°C adalah 26,75 hari, lebih singkat daripada suhu ruang 35°C (32 hari), 20°C (40,50 hari), dan 25°C (42,50 hari).
APLIKASI TEH KOMPOS UNTUK MENEKAN PENYAKIT PUSTUL BAKTERI PADA TANAMAN KEDELAI Restu Rizkyta Kusuma; Siti Mahfudhoh; Luqman Qurata Aini
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 4 No. 3 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan mikroba pada teh kompos aerobik (ACT) dan anaerobik (NCT) serta pengaruhnya dalam mengendalikan penyakit pustul bakteri X. axonopodis pv. glycines pada tanaman kedelai. Penelitian dilakukan di Laboratorium Sentral Ilmu Hayati (LSIH) dan rumah kaca Universitas Brawijaya pada Januari sampai Mei 2015. Metode penelitian yang digunakan yaitu perhitungan populasi mikroba, pengujian sifat anti bakteri teh kompos secara in vitro, dan pengaruh teh kompos terhadap intensitas penyakit pustul. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi mikroba di dalam teh kompos ACT baik bakteri atau jamur lebih tinggi daripada teh kompos NCT. Teh kompos ACT mempunyai jumlah populasi bakteri tertinggi yaitu 8,11 x 106 cfu/ml pada fermentasi 96 jam dan populasi jamur tertinggi 4,98 x 104 cfu/ml pada fermentasi 24 jam, sedangkan teh kompos NCT jumlah populasi bakteri tertinggi 7,92 x 106 cfu/ml pada fermentasi 144 jam dan populasi jamur tertinggi 4,70 x 104 cfu/ml pada fermentasi 24 jam. Jumlah populasi mikroba teh kompos dapat dipengaruhi oleh pH dan konduktivitas listrik. Hasil pengujian sifat anti bakteri secara in vitro dalam cawan menunjukkan bahwa luas zona hambat yang terbentuk paling baik pada fermentasi teh 48 jam dengan diameter 1,88 cm untuk teh kompos ACT dan NCT pada fermentasi 72 jam dengan diameter 1,06 cm. Aplikasi teh kompos pada tanaman kedelai dapat menekan serangan penyakit pustul bakteri sebesar 16,44%, berbeda nyata dengan kontrol yang serangannya mencapai 36,19%.

Page 1 of 1 | Total Record : 6