cover
Contact Name
Aldi Aditya
Contact Email
iswara@unsoed.ac.id
Phone
+6281804884272
Journal Mail Official
iswara@unsoed.ac.id
Editorial Address
Jl. DR. Soeparno, Karangwangkal, Purwokerto Utara, Banyumas, Jawa Tengah 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia
ISSN : 27467104     EISSN : 29618045     DOI : https://doi.org/10.20884/1.iswara
Jurnal Iswara: Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia which is published twice a year (every June and December), is a double blind peer-reviewed publication consists of research-based and review articles, fresh ideas about Indonesian language, literature, cultural studies, which have never been published before. The journal covers all aspect relating to humanities, including: 1. Macro-linguistics; 2. Micro-linguistics; 3. Translation studies; 4. Post-colonial literature; 5. Modern literature; 6. Popular teen literature; 7. Cultural Studies; 8. Modern culture; 9. Popular culture; 10. Folk culture; 11. Ethnic Studies.
Articles 47 Documents
Analisis Kajian Sastra Feminisme dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari Meilani, Nadhira Nur Kristalitha
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 1 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.iswara.2021.1.1.12251

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan unsur-unsur feminisme yang terdapat pada novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teori feminisme radikal. Teori feminisme radikal berpusat pada aspek biologis yang dimana para anggota dari feminisme radikal ini berpendapat bahwa ketidakadilan gender disebabkan dari perbuatan biologis antara pria dan wanita. Simpulan yang didapatkan adalah: 1) Tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu Srintil yang menjadi ronggeng dimana ia harus melayani laki-laki yang ingin “memakainya”. Srintil tidak boleh menolak tawaran tersebut jadi Srintil tidak mempunyai hak untuk menolak dan ia harus mau “melayani” agar mendapatkan uang atau perhiasan. 2) Setelah Srintil sah menjadi seorang ronggeng, ia beberapa kali mendapatkan perlakuan yang kurang baik dan mendapatkan pelecehan seksual. 3) Untuk menjadi ronggeng ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, salah satunya adalah bukak-klambu dan itu harus Srintil lakukan. Ia harus merelakan bagian terpenting yang ada pada dirinya. 4) Srintil masih sangat kecil, usianya masih belasan tahun yang dimana ia seharusnya menikmati masa kecil dengan bermain bersama teman-temannya. Namun ia tidak bisa menikmati hal tersebut, bisa dibilang Srintil terpaksa menjadi dewasa sebelum waktunya, karena ia harus melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan di umur belasan tahun.
Register Petani Padi di Desa Penusupan Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang (Kajian Sosiolinguistik) Sobiroh, Asyifa
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 1 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah tuturan yang di dalamnya mengandung register yang digunakan oleh petani padi di Desa Penusupan, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode cakap. Metode simak dilakukan dengan teknik dasar sadap dan teknik lanjutan yaitu teknik simak libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Metode cakap dilakukan dengan teknik dasar pancing. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan referensial. Metode ini diwujudkan dengan teknik pilah unsur penentu dan teknik lanjutan berupa teknik hubung banding menyamakan. Hasil analisis data disajikan dengan menggunakan metode penyajian informal. Hasil penelitian ini diperoleh dengan cara mendata register petani padi di Desa Penusupan, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang. Adapun 58 istilah yang ditemukan berdasarkan bentuk register, yaitu register berupa kata tunggal, kata berimbuhan, kata majemuk, singkatan, dan bentuk ulang. Register yang diperoleh dari tuturan anggota petani padi di Desa Penusupan, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang memiliki fungsi bahasa berdasarkan konteks
Gaya Bahasa Perulangan dalam Lirik Lagu Album Super Surprise Karya Band Tipe-X Putra, Oki Syah
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 1 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana menganalisis gaya bahasa kiasan repetisi pada lirik lagu dalam album Super Surprise. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk gaya bahasa kiasan repetisi yang terdapat pada lirik lagu dalam album Super Surprise. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan fokus pada gaya bahasa perulangan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian, yaitu membaca lirik lagu dan memahami lirik lagu, mencatat kata-kata, dan mengklasifikasikan gaya bahasa repetisi pada lirik lagu album Super Surprise karya Band Tipe-X.
Eksistensi Perempuan dalam Novel Hujan Karya Tere Liye: Kajian Feminisme Eksistensialis Simone de Beauvoir Arthamurti, Fishanida Leygina
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 1 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di lingkungan masyarakat maupun dalam karya sastra, perempuan masih sering mengalami diskriminasi dan pembatasan tertentu. Hak-hak perempuan untuk ikut andil dalam suatu hal kerap kali terhalangi oleh gender. Namun, dalam novel “Hujan” karya Tere Liye kita dapat melihat bagaimana perempuan menentukan jalan hidupnya, menentukan apa yang ia lakukan tanpa adanya paksaan.
Postfeminisme Luce Irigaray dalam Novel 1 Kos 3 Cinta 7 Keberuntungan Karya Astrid Tito Latifah, Intan Amalia
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 1 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membangun budaya yang menghargai perbedaan perempuan dan laki-laki adalah gagasan yang diusung dalam post-feminisme Luce Irigaray. Mendeskripsikan post-feminisme Luce Irigaray yang terkandung dalam novel 1 Kos 3 Cinta 7 Keberuntungan karya Astrid Tito inilah tujuan penelitian disusun. Menggunakan metode deskriptif Kualitatif. Hasil penelitian ini berupa kutipan dan penjabaran mengenai post-feminisme Luce Irigaray kaitannya dengan metode mimesis, transformasi bahasa, dan etika perbedaan seksual yang terkandung dalam objek.
Tinjauan Etnolinguistik: Makna Kultural Jenis Makanan dalam Tradisi Ruwahan di Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo Muzakki, Ilyas; Prastiwi, Yuliana Tri Prastiwi Tri
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 4 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.iswara.2024.4.2.12104

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna kultural jenis makanan dalam tradisi Ruwahan di Desa Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Tradisi Ruwahan merupakan bagian penting dari sejarah dan budaya Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai ungkapan terima kasih kepada pencipta dan alam. Ritual ini melibatkan penghormatan kepada leluhur dan pembagian doa dalam acara yang diadakan pada bulan Ruwah atau Syaban dalam kalender Jawa. Pelaksanaan Ruwahan bervariasi tergantung pada kepercayaan agama yang dianut masyarakat setempat, dengan versi Islam dan Hindu-Jawa yang berbeda dalam pendekatan dan makna simbolisnya. Atas dasar tersebut peneliti mengkaji lebih lanjut makna kultural tradisi Ruwahan di Desa Kemiri, Kabupaten Purworejo, terutama dalam konteks jenis makanan dalam tradisi Ruwahan. Hal ini sangat penting karena tradisi ini masih dipertahankan oleh masyarakat sebagai bagian dari warisan nenek moyang mereka. Selain itu, peneliti ingin mendokumentasikan warisan budaya ini karena belum ada penelitian yang secara khusus membahas makna budaya dari tradisi Ruwahan di Desa Kemiri Kabupaten Purworejo dengan menggunakan pendekatan etnolinguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnolinguistik dengan metode penelitian yang melibatkan wawancara bebas, studi pustaka, dan sumber lisan untuk memperoleh data-data yang diperlukan. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang berharga bagi pemahaman kita tentang keberagaman budaya dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Ruwahan serta makanan yang terkait dengannya. Penelitian ini mengungkapkan makna kultural dalam jenis makanan tradisi Ruwahan, seperti apem, ketan, dan kolak. Ketiga makanan tersebut tidak hanya merupakan sajian khas dalam tradisi Ruwahan, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Apem, berasal dari bahasa Arab yang berarti permintaan maaf, menjadi simbol permohonan maaf kepada diri sendiri dan keluarga yang telah meninggal. Ketan, dengan tingkat kelengketannya yang tinggi, melambangkan kedekatan antar manusia dan kesadaran akan kesalahan individu. Sedangkan kolak, dengan makna penciptaan yang terkandung dalam katanya, mengingatkan akan hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa dan harapan yang sama untuk para leluhur.
Pertahanan Budaya pada Upacara Sadranan di Dukuh Karang Duwur Banjarsari Wetan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas: Kajian Etnolinguistik Marhamah, Siti; Ramadhani, Davina
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 4 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.iswara.2024.4.2.12125

Abstract

Kebudayaan yang di miliki Indonesia sangat beragam salah satunya adalah kebudayaan yang ada di masyarakat Jawa yaitu Upacara Sadranan sebagai ritus yang masih banyak dilestarikan Penelitian ini bertujuan mengetahui siapa peserta dan penggerak kegiatan,bagaimana prosesi, uborampe dan nilai yang terkandung dalam upacara Sadranan di Dukuh Karang Duwur Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Sumbang. Upacara Sadranan Sadranan di Dukuh Karang Duwur Desa Banjarsari Wetan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas merupakan Upacara keagamaan yang dilaksanakan secara turun-temurun dari nenek moyang pada minggu ketiga atau keempat bulan Sya`ban dalam kalender hijriah. Upacara Sadranan juga menunjukkan keharmonisan masyarakat dengan alam semesta serta mengajarkan kepada generasi muda betapa berharganya upacara Sadranan bagi masyarakat. Mengembangkan program edukasi dan pemasaran yang lebih komprehensif akan membantu masyarakat lebih memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Sadranan. Upacara ini memberikan dampak dan nilai-nilai yang posistif bagi masyarakat Dukuh Karang Duwur dan sekitarnya. Upacara ini menjadi daya tarik peneliti karena di era yang serba maju, antusias Masyarakat masih sangat besar untuk mempertahankan dan melestarikan budaya yang diturunkan dari nenek moyang melalui bahasa yang terkandung dalam setiap prosesi dan uborampe serta nilai yang terkandung didalamnya.
Analisi Nilai-Nilai Estetika dan Teori Estetika Aristoteles yang Terkandung dalam Novel “Hujan” Karya Tere Liye Khoirunisa, Dzulidianty Wahida; Zahra, Shafa Anissa
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 4 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.iswara.2024.4.2.12412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai estetika dalam novel “Hujan” karya Tere Liye. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini mendeskripsikan secara sistematis, menyeluruh, rinci, faktual dan akurat mengenai fakta dan hubungan fenomena yang diteliti, yaitu bentuk dan fungsi nilai estetika dalam novel. Data dikumpulkan melalui observasi kalimat-kalimat yang mengandung nilai estetika, kemudian dicatat dan dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel “Hujan” mengandung berbagai nilai estetika yang ditampilkan melalui deskripsi alam, penggambaran emosi, simbolisme, penggunaan bahasa yang indah, nilai filosofis, romantisme, daya imajinasi, refleksi diri, keindahan. perubahan, dan kesedihan yang indah. Novel ini juga mencerminkan estetika klasik sesuai dengan teori Aristoteles, termasuk konsep mimesis dan katarsis. Melalui gaya penulisan, simbolisme, dan temanya, Tere Liye berhasil menciptakan karya sastra yang tidak hanya menghibur, namun juga memberikan nilai estetika yang mendalam dan inspiratif bagi pembacanya. Novel ini menghadirkan keindahan dalam setiap elemen narasi, mulai dari bahasa hingga penokohan, serta menggunakan hujan sebagai simbol utama untuk menggambarkan berbagai aspek kehidupan dan emosi manusia.
Literasi Budaya Belis dalam Pernikahan Masyarakat Flores Desa Kusu Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur rachmad, teguh hidayatul; dwi sasongko, yohanes probo
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 4 No 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.iswara.2024.4.2.13458

Abstract

Marriage in the belis tradition in East Nusa Tenggara (NTT), has moral and cultural values that are broad and deep enough to be learned together. In the belis tradition, when a marriage couple is about to have a traditional wedding. Both prospective brides and grooms must have a good understanding of what they are doing when they carry out the belis tradition in the marriage. The study of belis culture does require a good understanding in its application, especially when it clashes with culture. The belis tradition can be seen as a way of making prospective couples who are getting married think twice before deciding to use the tradition. Not only is there a certain amount of material or nominal amount that must be prepared, the existence of certain objects or items that can and should be considered as dowry requires each couple to provide these materials and objects properly. Not to mention the existence of other agreements and offers, which of course can be understood. Marriage in the NTT tradition, with the culture of belis, is a phase for each young couple to prepare themselves to enter a new life in their life journey. The belis tradition is a pattern of life in the NTT community that can be used as one of the characteristics inherent in the traditions of our society. with cultural wealth that is certainly inherent and stored in it as a whole.
Tradisi Ngupati (Selamatan Empat Bulan) Ibu Hamil di Wilayah Desa Klinting Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas Putri, Echa Oktaviana Dharma
Jurnal Iswara : Jurnal Kajian Bahasa, Budaya, dan Sastra Indonesia Vol 5 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.iswara.2025.5.1.12122

Abstract

ABSTRAK Agama merupakan tatanan yang mengatur kepribadatan suatu kepercayaan setiap individu. Setiap agama memiliki cara pandang serta kepribadatan yang berbeda-beda antara agama yang satu dengan agama yang lainnya. Negara Indonesia terdiri dari berbagai adat dan budaya, sehingga dapat dikatakan sebagai negara multikultural. Pulau Jawa merupakan suku yang ada di Indonesia yang masih melekat dengan adat istiadat budaya setempat. Masyarakat Jawa memiliki adat istiadat yang masih dilestarikan hingga dijlankan turun temurun oleh masyarakat. Kehidupan masyarakat Jawa sangat erat dengan upacara ritual. Setiap upacara riual Jawa memiliki tatanan dan sarana yang berbeda. Keberagaman kebudayaan menimbulkan setiap wilayah memiliki adat istiadat yang berbeda walaupun di tempat yang sama. Percampuran kebudayaan dengan kebudayaan lain menimbulkan akulturasi kebudayaan. Proses akulturasi tidak hanya terjadi antar budaya tetapi budaya dan agama juga mengalami akulturasi. Berikut contoh akulturasi budaya dan agama di Desa Klinting yaitu tradisi ngupati (selamatan empat bulan) ibu hamil. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana rangkaian prosesi empat bulan (ngupati) kehamilan di Desa Klinting dan mengetahui makna simbolis mantra-mantra yang dibacakan dan makna makanan yang dihidangkan dalam prosesi upacara ngupati. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian bahwa fenomena tradisi ngupati di Desa Klinting merupakan fenomena akulturasi budaya dan agama setempat, tradisi ngupati didasarkan dengan konsep ajaran yang dikembangkan. Tradisi ngupati berasal dari kata kupat yang berarti makanan yang terbuat dari beras dan daun kelapa (janur) sebagai pembungkus. Tradisi ngupati dilaksanakan pada usia kehamilan yang berkisar empat bulan, yang bertujuan untuk memohon agar bayi yang ada di dalam kandungan tersebut sesuai dengan harapan orang tua, Sehingga perlu diadakan selamatan empat bulanan (Tradisi Ngupati). Awal mula dari acara selamatan berasal dari ajaran nenek moyang pada zaman dahulu yang mayoritas masih menganut agama Hindu dan Budha. Sarana yang digunakan upacara selamatan disimbolkan dengan nasi tumpeng dan dilengkapi aneka lauk-pauk. Kata Kunci : Agama dan budaya, akulturasi, tradisi ngupati