cover
Contact Name
Yasir Sidiq
Contact Email
lppi@ums.ac.id
Phone
+6282134901660
Journal Mail Official
lppi@ums.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta 57162, Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Academic Physiotherapy Conference Proceeding
ISSN : -     EISSN : 28097475     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Academic Physiotherapy Conferences are a series of activities that include international seminars and call papers. This activity aims to improve literacy and scientific publications of physiotherapy which specifically discuss cases related to problems of function and movement of the human body
Articles 63 Documents
Search results for , issue "2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding" : 63 Documents clear
Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien Pneumothorax Dextra Et Causa Tuberculosis dengan Pemasangan Water Seal Drainage di RS Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga: Case Report Rosyad, Hanif Ar; Wijianto, W; Hartoto, Joko Sri
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Pneumothoraks adalah keadaan di mana terdapat ruang di dalam kantong pleura. Kondisi ini bisa menyebabkan masalah pada pernapasan, pasokan oksigen, atau kedua-duanya. Gejala yang dialami dengan kesulitan untuk bernapas, kulit yang berubah menjadi kebiruan, pernapasan yang cepat, keterbatasan dalam bergerak, serta nyeri di dada yang berasal dari paru-paru akibat adanya udara di ruang pleura. Pneumotoraks terjadi akibat infeksi tuberculosis (TB) pada paru-paru dan pleura serta berdampak pada sekitar 1,5% dari semua pasien. Teknik Pursed Lip Breathing dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah pembersihan saluran pernapasan yang tidak efektif pada pasien pneumotoraks. Latihan Ekspansi Toraks, baik yang dilakukan secara aktif maupun pasif, dapat membantu memperbaiki kondisi dinding dada, dan pijatan lembut dapat digunakan untuk merelaksasi otot-otot pernapasan yang tegang.Case Presentation: Pasien berusia 34 tahun dengan keluhan batuk, sesak, dan saat menarik napas terasa dada sebelah kanan terasa berat dan tidak full mengembang saat menarik napas. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, heart rate 84x/menit, respiratory rate 24x/menit, mMRC dengan skor 2. Ekspansi thoraks pada axilla 1,5 cm, ICS 4 didapati 1,5 cm, processus xipoid 2 cm.Management and Outcome: Setelah pemberian intervensi Pursed Lip Breathing, Thoracic Expansion Exercise dan Gentle Massage selama 3 hari dan dilakukan evaluasi, didapati penurunan derajak sesak dari 5 menjadi 3, peningkatan kemampuan fungsional dengan mMRC dari 2 menjadi 1, dan peningkatan ekspansi sangkar thoraks pada ICS 2, ICS 4 dan prosesus xiphoideus.Discussion: Rehabilitasi paru-paru memiliki manfaat yang signifikan dalam mengurangi gejala sesak napas, serta meningkatkan kekuatan dan stamina otot. PLB dan TEE sering dilakukan dalam program rehabilitasi paru-paru dan selama aktivitas kehidupan sehari-hari karena mengurangi laju pernapasan saat istirahat, meningkatkan saturasi oksigen dan volume tidal. Begitu juga dengan Gentle Massage efektif pada peningkatan aliran darah dan suhu kulit, serta pengaktifan sistem limfatik.Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk pasien yang mengalami Pneumothoraks menunjukkan hasil yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, meningkatkan ekspansi dada, dan memperbaiki kemampuan fungsional paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Management Fisioterapi pada Kasus Lymphedema et Causa Ca Mamae di Poli Rehab Medik RSUP Prof. Dr. I. G. N. G Ngoerah Bali: Studi Kasus Hanum, Ery Nafisah; Wahyuni, W; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Limfedema pada kanker payudara merupakan kondisi ketika terganggunya sistem limfatik sehingga menimbulkan akumulasi cairan yang kaya dengan protein di ruang interstisial yang menyebabkan terjadinya pembengkakan. Kejadian ini akan merasakan nyeri, keterbatasan gerak, distorsi bentuk anggota tubuh, dan penurunan kemampuan fungsional pada ekstremitas atas pasien. Fisioterapis memiliki tujuan untuk menurunkan rasa nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, menurunkan bengkak, meningkatkan kekuatan otot, dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien dengan pemberian modalitas dan intervensi lain.Case Presentation: Seorang pasien perempuan berusia 46 tahun mengeluhkan nyeri pada leher hingga jari-jari tangan sisi kiri ketika ditekan, keterbatasan gerak pada leher dan bahu sisi kiri, serta bengkak pada lengan sisi kiri. Pasien mempunyai riwayat 5 tahun lalu muncul benjolan pada payudara kiri dan ketiak, ketika menjalani kemoterapi pasien mulai merasakan bengkak pada lengan kiri yang kian membesar setiap harinya. Dilakukan pemeriksaan nyeri menggunakan NRS, kekuatan otot menggunakan MMT, lingkup gerak sendi menggunakan goniometer, oedema menggunakan midline, dan kemampuan fungsional menggunakan SPADI.Management and Outcome: Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan observasional. Pasien mendapatkan intervensi berupa modalitas TENS, manual lymphatic drainage vodder (MLDV), stretching, dan mobilisasi sendi. Pasien mendapatkan terapi sebanyak 5 kali pertemuan dengan fisioterapis dan dilakukan evaluasi pada setiap pertemuannya. Hasil menunjukkan penurunan nyeri NRS. Rata-rata lingkup gerak cervical dan shoulder sinistra meningkat. Oedema lingkar lengan menurun. Kemampuan fungsional meningkat, skor SPADI dari 33,8% menjadi 28,4%. Namun, kekuatan otot regio cervical dan shoulder sinistra tidak menunjukkan peningkatan.Discussion: Kombinasi terapi TENS, MLDV, stretching, dan ROM terbukti efektif untuk menurunkan gejala lymphedema dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hasil ini sejalan dengan teori bahwa intervensi fisioterapi multimodal dapat memperbaiki fungsi sistem limfatik, mengurangi nyeri akibat peradangan kronis, dan meningkatkan mobilitas pasien pasca kanker payudaraConclusion: Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi fisioterapi menggunakan modalitas TENS, stretching exercis, mobilisasi sendi, dan Manual Lymphatic Drainage Vodder (MLDV) selama 5 kali pertemuan efektif menurunkan nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, mengurangi oedema, dan meningkatkan fungsi pada kasus lymphedema et causa CA Mamae.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Chronic Low Back Pain pada Lansia: A Case Report Wulan, Ayundya Putri Antoko; Santoso, Totok Budi; Pradana, Nurwidya
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic Low Back Pain (CLBP) pada lansia sering menyebabkan penurunan fungsi dan kualitas hidup. Pendekatan fisioterapi multimodal diperlukan untuk mengatasi nyeri peningkatan kekuatan otot trunk dan peningkatan aktivitas fungsional.Case Presentation: Seorang pasien Tn.S berusia 65 tahun dengan komorbid hipertensi dan mitral stenosis mengeluhkan nyeri kronik pada regio lumbal yang menjalar ke paha kanan, disertai rasa kaku dan sensasi tidak nyaman (kemeng) saat berdiri atau berjalan. Pasien memiliki riwayat jatuh yang cukup lama, namun tidak segera mendapat penanganan. Dalam aktivitas sehari-hari, pasien bekerja sebagai penjaga warung yang sering mengangkat beban berat dan duduk dalam waktu yang lama. Keluhan pegal telah dirasakan selama bertahun-tahun namun diabaikan, hingga setahun terakhir terjadi penurunan kekuatan otot yang menyebabkan perubahan postur menjadi membungkuk (kifosis). Pada pemeriksaan spesifik ditemukan bahwa SLR test negatif, patrick test positif, fair test positif, piriformis test positif, slump test negatif. Saat ini, pasien masih mengeluhkan nyeri punggung bawah yang menjalar ke tungkai kiri. Pasien disarankan untuk menjalani program fisioterapi untuk mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot trunk, dan meningkatkan aktivitas fungsional.Management and Outcome: Subjek diberikan kombinasi intervensi fisioterapi berupa Microwave Diathermy (MWD), Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), dan Core Stability Exercise (CSE) seperti hamstring stretch, piriformis stretch, iliopsoas stretch, tensor fasciae latae stretch, erector spine stretch diberikan 2x dalam seminggu selebihnya dilakukan dirumah. Setelah diberikan latihan didapatkan hasil penurunan nyeri gerak dan nyeri tekan serta peningkatan kekuatan otot dan peningkatan aktivitas fungsional sehari-hariConclusion: Pemberian kombinasi intervensi MWD, TENS, dan CSE efektif dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kekuatan otot flexor trunk, dan meningkatkan fungsi pada lansia dengan CLBP.
Management Fisioterapi pada Kasus Tennis Elbow di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Apriyanto, Gusti Dwi; Wijianto, W; Setiawan, Galih Adhi Isak
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Degenerasi tendon yang paling sering terjadi pada siku adalah tennis elbow. Kelainan ini menyebabkan nyeri pada sisi lateral siku. Nyeri ini terutama terjadi pada epicondylus lateralis dan otot ekstensor pergelangan tangan. Kelainan ini terutama terjadi pada pemain tenis lapangan atau pada orang-orang yang sering menggunakan lengan bawah dalam posisi pronasi, seperti ibu rumah tangga, tukang, pemahat, montir, dan orang lain yang sering menggunakan pergelangan tangan dalam posisi ekstensi jari.Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan metode studi kasus bertujuan untuk mengetahui manajemen fisioterapi pada kasus tennis elbow. Penelitian di lakukan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada seorang laki-laki berinisial Tn. NK berusia 31 tahun, merupakan seorang content creator dan beralamatkan Gunung Kidul, Yogyakarta, Jawa Tengah. Pasien masuk ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dengan keluhan nyeri pada area siku pada saat di gerakan.Management and Outcome: Pasien diberikan ultrasound, Tens dan myofascial release selama 4 minggu 4x pertemuan dengan dosis dosis 3 kali dalam 2 minggu setiap sesinya 10-15 menit. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan Range Of Motion (ROM), Manual Muscle Testing, Numeric Rating Scale dan kemampuan fungsional.Conclusion: Setelah diberikan intervensi berupa TENS, ultrasound dan myofascial release sebanyak 4x pertemuan didapatkan hasil perubahan yang cukup signifikan.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Gangguan Aktifitas Fungsional Akibat Kelemahan Otot dan Penurunan Sensibilitas pada Ekstremitas Bawah et Causa Spinal Cord Injury setelah Tindakan Meningioma dan Posterior Stabilization Fusion VTH 6-11 (on Treatment) Saputra, Hendi; Supriadi, Arin; Sukatwo, S; Komalasari, Dwi Rosella
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Spinal cord injury (SCI) adalah cedera pada medula spinalis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk hilangnya fungsi motorik dan sensorik, serta gangguan pada organ di sekitar area cedera. SCI yang terjadi setelah berbagai tindakan medis memiliki risiko menurunnya aktivitas fungsional. Tujuan laporan kasus ini untuk mengetahui pengaruh fisioterapi multimodal terhadap nyeri dan aktivitas fungsional pada pasien pasca tindakan meningioma dan posterior stabilization fusion pada VTH 6-11 akibat spinal cord injury.Case Presentation: Penelitian ini mengidentifikasi pasien berjenis kelamin perempuan berusia 22 tahun dengan diagnosa medis spinal cord injury non traumatik akibat tumor, pasien sudah dilakukan tindakan meningioma dan juga posterior stabilization fusion pada vertebra thoracal 6 sampai 11. Neurological level of injury pasien berada pada T12Management and Outcome: Pasien menjalani intervensi fisioterapi multimodal sebanyak tiga kali, meliputi electrical stimulation, PNF joint approximation, mobilisasi pasif, penguatan tungkai bawah, serta penataan posisi. Penilaian nyeri dilakukan menggunakan Numerical Pain Rating Scale (NPRS), evaluasi tingkat neurologis dengan ASIA Scale, serta penilaian aktivitas fungsional dengan Barthel Index. Terdapat penurunan dari derajat nyeri dengan NPRS, dimana nyeri tekan area ankle 5/10 ke 4/10 dan nyeri gerak pasif dari 5/10 ke 4/10. Terdapat peningkatan motor scoring dengan ASIA Scale. Tidak ada perubahan nilai aktivitas fungsional dari sebelum dan sesudah 3 kali terapi.Discussion: Pasien dengan SCI incomplete, seperti pada kasus dengan level T12 ini, umumnya memiliki prognosis fungsional yang lebih baik dibandingkan dengan SCI complete, meskipun hasil akhir sangat bergantung pada penanganan dini yang tepat. Imobilisasi yang berkepanjangan meningkatkan risiko komplikasi seperti atrofi otot, kontraktur sendi, luka tekan, dan penurunan propriosepsi, sehingga mobilisasi dini, penataan posisi yang baik, serta latihan penguatan otot menjadi sangat penting. Kombinasi intervensi seperti electrical stimulation dengan fisioterapi standar dapat membantu mempertahankan kekuatan otot dan mendukung pemulihan neuromuskular. Namun, perbaikan fungsi yang bermakna umumnya memerlukan rehabilitasi intensif jangka panjang, sekitar 3–6 bulan, sehingga pendekatan multidisipliner yang tepat waktu sangat penting untuk memaksimalkan pemulihan dan mencegah komplikasi jangka panjang.Conclusion: Setelah menjalani tiga sesi fisioterapi multimodal, pasien menunjukkan perbaikan fungsi motorik dan penurunan tingkat nyeri. Namun, belum didapatkan peningkatan pada aktivitas fungsional.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Stroke Intracerebral Hemorage di RS Syaiful Anwar Malang Jawa Timur: Case Report Raihani, Ferrarista Nadja; Wijianto, W; Belinda, Melur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Stroke atau biasa dikenal sebagai cerebrovascular accident merupakan suatu penyakit pada sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan defisit neurologis akibat dari adanya permasalahan suplai darah di otak baik berupa sumbatan/iskemik maupun pecahnya pembuluh darah/hemoragik. Menurut WHO stroke menduduki peringkat ke tiga penyebab kecacatan di dunia dengan presentase 42%. Gangguan disabilitas pada stroke dapat berupa penurunan kekuatan otot, gangguan kognitif, gangguan motorik, gangguan sensorik, gangguan komunikasi, gangguan menelan, gangguan keseimbangan dan mobilitas. Tujuan artikel ini untuk memberikan gambaran rehabilitasi fisioterapi pada pasien pasca stroke.Case Presentation: Tn. DM usia 42 tahun dengan diagnosa cerebro vascullar accident intracerebral hemorage sejak bulan Oktober 2024. Pasien mengalami gejala kelemahan separuh badan sisi kanan yang diikuti dengan adanya gangguan sensasi.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan berupa PNF, MRP, Gait training, Strengthening exercise dan NMES. Evaluasi dilakukan dengan mengukur kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), Range of Motion (ROM) dengan Gonio Isom, dan kemampuan fungsional menggunakan Index Barthel.Discussion: Hasil intervesi fisioterapi yang diberikan sudah menunjukan adanya perbaikan meskipun masih belum signifikan. Hal ini menjadi bukti positif adanya manfaat dari intervensi yang telah diberikan dan sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu pada kasus serupa.Conclusion: Intervensi fisioterapi yang diberikan memberikan efek positif terhadap kondisi pasien meskipun belum signifikan. Intervensi fisioterapi yang dilakukan secara rutin dan diikuti dengan evaluasi yang terstruktur akan mendorong tercapainya hasil yang optimal.
Strengthening dan Balance Training pada Kasus Hemiparase Sinistra et Causa Stroke Hemoragik: Case Report Hanifah, Zahrani Bakhita; Komalasari, Dwi Rosella; Viola, Christine
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Stroke hemoragik sering menyebabkan hemiparase, yaitu kelemahan pada satu sisi tubuh, yang berdampak pada penurunan kekuatan otot, keseimbangan, serta aktivitas fungsional pasien. Intervensi fisioterapi yang tepat diperlukan untuk mendukung proses pemulihan. Tujuan studi kasus ini untuk mengevaluasi efek intervensi fisioterapi berupa strengthening exercise dan balance training pada pasien hemiparase pasca stroke hemoragik.Case Presentation: Seorang pria usia 60 tahun dengan hemiparase sinistra akibat stroke hemoragik, mengalami kelemahan pada ekstremitas kiri dan kesulitan berjalan. Pemeriksaan awal menunjukkan penurunan kekuatan otot, gangguan keseimbangan (Berg Balance Scale = 24), dan ketergantungan sedang dalam aktivitas harian (Barthel Index = 70).Managmenet and outcome: Pasien menjalani fisioterapi sebanyak empat sesi dalam dua minggu yang mencakup stimulasi listrik, latihan penguatan (active-resisted, sit-to-stand, static cycle), dan latihan keseimbangan (sitting/standing balance, jalan di tempat, tandem walking). Setelah intervensi, terjadi peningkatan kekuatan otot, skor Berg Balance Scale meningkat menjadi 31, dan Barthel Index menjadi 85.Discussion: Hasil menunjukkan bahwa kombinasi strengthening exercise dan balance training efektif dalam memperbaiki kekuatan otot, stabilitas postural, serta kemandirian fungsional. Intervensi ini mendukung pemulihan motorik dan mengurangi risiko jatuh pada pasien stroke dengan hemiparase.Conclusion: Pendekatan fisioterapi terstruktur yang menggabungkan strengthening exercise dan balance training terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan fungsional pasien hemiparase pasca stroke hemoragik. Terapi ini dapat menjadi bagian penting dari program rehabilitasi pasien stroke.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Joint Instability et Causa Rupture Posterior Cruciate Ligament: Studi Kasus Triasari, Ana; Komalasari, Dwi Rosella; Kingkinarti, K
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Posterior Cruciate Ligament (PCL) merupakan salah satu ligamen penting dalam menjaga stabilitas lutut. Rupture PCL dapat menyebabkan ketidakstabilan sendi, nyeri, keterbatasan gerak, dan kelemahan otot, yang memerlukan intervensi fisioterapi.Purpose: Melaporkan intervensi fisioterapi pada pasien dengan joint instability akibat rupture PCL dan mengevaluasi efektivitas terapi yang diberikan.Case Presentation: Pasien laki-laki usia 57 tahun dengan keluhan nyeri dan keterbatasan gerak lutut kiri setelah bekerja dalam posisi jongkok lama.Methods Outcome: Intervensi fisioterapi dilakukan dua kali seminggu, terdiri dari Ultrasound, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), stretching, dan latihan penguatan otot (strengthening). Evaluasi dilakukan melalui pengukuran skala nyeri (NRS), kekuatan otot (MMT), lingkup gerak sendi (ROM), lingkar segmen, dan Barthel Index. Terdapat penurunan nyeri gerak dari NRS 5 menjadi 2. ROM lutut meningkat, menunjukkan perbaikan mobilitas serta pengurangan bengkak. Namun, peningkatan kekuatan otot dan kemampuan fungsional belum meningkat secara signifikan.Conclusion: Intervensi fisioterapi dengan kombinasi modalitas dan latihan terapeutik dapat membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan ROM serta mengurangi edema pada pasien dengan joint instability akibat rupture PCL. Namun, diperlukan waktu lebih lama untuk perbaikan kekuatan otot dan fungsi secara keseluruhan.
Interval Walking Training for Functional Optimization and Health in The Elderly: A Narrative Review Ishad, Muhammad Raihan; Rahman, Farid
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: The global rise in the older adult population presents challenges in maintaining their functional capacity and health. Aging is associated with declines in physical function, cardiovascular fitness, and metabolism, affecting quality of life. Interval Walking Training offers an adaptive, affordable, and safe exercise option to address these issues.Aim of the Study: This review aims to identify the benefits of Interval Walking Training in optimizing physical function and health in older adults and evaluate protocol variations and their effects.Methods: This narrative review includes seven studies published in the last ten years (2015–2025) and evaluates the effects of Interval Walking Training on various aspects of elderly health. Literature sources were obtained from PubMed, Cochrane, and Google Scholar using the keywords "Interval Walking Training," "Elderly," "Health," and "Functional Mobility."Results: Interval Walking Training consistently shows improvements in VO2max, walking speed, flexibility, and blood pressure and blood glucose control. Several studies also report improvements in quality of life. Although the effects on cognitive function are inconsistent, Interval Walking Training is considered safe, flexible, and reasonably compliant.Conclusion: IWT is a promising exercise alternative for older adults in the community and clinical settings. In the future, long-term studies with more homogeneous designs are still needed to strengthen the evidence and develop optimal protocols.
Efek Pemberian ROM Exercise pada Contracture Axilla Dextra post Burn pada Anak Usia 8 Tahun Arianeputri, Gemma Nurulfatiha; Dewangga, Mahendra Wahyu; Hamidah, Nilam Nur
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Cedera luka bakar menjadi penyebab utama kecacatan dari tahun ke tahun. Kontraktur akibat luka bakar menjadi salah satu komplikasi umum terjadi yang menyebabkan keterbatasan gerak dan memengaruhi area fleksibilatas seperti sendi.Case Presentation: Seorang pasien anak perempuan usia 8 tahun dengan kontraktur axilla post burn. Pasien mengeluhkan kekakuan dan keterbatasn ROM pada gerak shoulder dextra akibat kontraktur pada axilla.Management and Outcome: Pasien diberikan program latihan berupa latihan ROM aktif-pasif, mobilisasi glenohumeral joint, massage axilla, gentle stretching dan strengthening exercise dan finger walking exercise. Evaluasi nyeri, dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), kekuatan otot menggunakan Manual Muscle Testing (MMT), lingkup gerak sendi (ROM) menggunakan Goniometer, skala gatal menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan kemampuan fungsional menggunakan Shoulder Pain and Disability Index (SPADI). Terdapat penurunan nyeri dan rasa gatal pada T1-T4. Pada ROM dan aktivitas fungsional SPADI dijumpai peningkatan pada T1-T4.Discusion: Pendekatan fisioterapi yang intensif seperti stretching exercise dapat meningkatkan ROM dan mencegah kekakuan lebih lanjut. Selain itu, pemberian latihan secara signifikan dapat meningkatkan kualitas hidup pada anak-anak dengan cedera post burn.Kesimpulan: Hasil dari pemberian exercise selama 4 minggu didapati hasil peningkatan ROM dan aktivitas fungsional pada pasien.