Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara menyajikan informasi mutakhir hasil kajian literatur dan penelitian bidang ilmu filologi dan pernaskahan Nusantara, yang mencakup: Kajian kodokologis, Teori-teori filologi, Edisi teks naskah kuno dan analisisnya, Kajian historis kepengarangan naskah kuno dan karyanya, Kajian multidisiplin berbasis naskah nusantara. Objek yang dijadikan kajian secara khusus bersumber pada naskah-naskah kuno Nusantara baik yang tersimpan di wilayah Nusantara maupun di luar wilayah Nusantara. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara membuka kesempatan seluas-luasnya bagi peneliti naskah kuno Nusantara dari seluruh wilayah di dunia untuk turut berpartisipasi dalam penulisan artikel ilmiah yang sesuai dengan focus dan scope jurnal.
Articles
153 Documents
Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Belanda Dalam Karya Sastra Aceh Hikayat Teungku Di Meukek: Tinjauan Poskolonial
Istiqamatunnisak Istiqamatunnisak
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 3, No 2 (2012): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1104.194 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v3i2.414
Hikayat Teungku di Meukek adalah sebuah teks sastra Aceh yang menukilkan berbagai peristiwa sejarah dan penuh dengan pesan sosial dan politik. Wacana yang diungkapkan cukup relevan kepada para pembaca kolonial yang berpegang kepada perspektif orientalisme, dan juga pada pembaca pribumi kini yang berpegang pada perspektif poskolonialisme. Tulisan ini menjelaskan tentang pengaruh kolonial dalam hikayat tersebut. Naskah Hikayat Teungku di Meukek ini merupakan salah satu naskah lama yang isinya menggambarkan perlawanan rakyat yang digerakkan oleh seorang pemimpin agama terhadap Uleebalang di daerah Meulaboh yang didukung oleh Belanda. Hikayat ini ditulis untuk mengabadikan persengkataan antara kedua belah pihak tersebut, dan untuk melihat bagaimana perlawanan masyarakat terhadap pihak kolonial. Dari karya sastra tersebut bisa kita lihat adanya pengaruh kekuasaan dalam hikayat ini pada masyarakat Aceh dulu. Dalam tulisan ini dapat dilihat adanya pendekatan poskolonial dalam pengkajian sastra, karena kritik poskolonial menganalisis karya-karya yang diproduksi oleh masyarakat dan budaya sebagai respon terhadap dominasi kolonial dari masa kolonialisme sampai sekarang.
INVENTARISASI DAN TERJEMAHAN TEKS SAKARATUL MAUT KARYA SYEKH IMAM TABRI (KAJIAN SEJARAH KEPUSTAKAAN ISLAM)
Ahmad Wahyu Sudrajad
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 9, No 2 (2018): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (587.311 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v9i2.242
Kepustakaan Jawa mengalami kebangkitan pada abad ke 18-19. Kebangkitan ini juga mengawali terbentuknya pusat intelektual Jawa di Kerajaan Surakarta. Dalam perkembangannya, Surakarta mampu menelurkan tiga pujangga besar keraton, mulai Yasadipura I sampai Rangga Warsita. Kebangkitan kepustakaan tersebut juga dialami oleh para ulama. Hal ini dikarenakan pada waktu itu genre atau kepustakaan yang sedang ramai dibuat adalah tentang piwulang. Genre itu dibuat karena pada waktu itu kerajaan Surakarta sedang mengalami pergeseran norma akibat kolonialisme Belanda. Tidak heran kepustakaan piwulang ini dibuat untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat Surakarta. Salah satunya adalah ulama Surakarta yang bernama Syekh Imam Tabri bin Muhammad Khassan Besari (pendiri pesantren Tinitar Tegalsari). Keluarga Besari ini mempunyai peranan penting dalam kepustakaan Jawa Islam di Surakarta. Salah satunya adalah dituliskannya teks Sakaratul Maut karya Syekh Imam Tabri di kisaran tahun 1850-an. Naskah ini belum terinventarisasi dan belum diterjemahkan. Oleh karena itu, di sini peneliti akan menuliskan inventarisasi dan juga terjemahan teks tersebut supaya mudah untuk dibaca masyarakat sekarang. Selain itu, peneliti juga akan mendeskripsikan isi dari teks tersebut.
Kesejarahan Teks pada Naskah Syair Kupu-Kupu
Delima Novitasari;
Asep Yudha Wirajaya
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 12, No 1 (2021): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1234.737 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v12i1.1114
Manuscript Syair Kupu-Kupu (hereinafter referred to as SKK) is one of the manuscripts that fall into the category of symbolic poetry. This manuscript stored at Staatsbibliothek zu Berlin with the Schoemann V 40 manuscript code. SKK has three version of texts. This manuscript does not have a colophon containing information about the manuscript. SKK manuscripts is included in the category of symbolic poetry because the contents of the SKK text are assumed to represent past events written using animal and plant symbols as character names. This characteristic of symbolic poetry described by GL Koster in his dissertation research. The research on the SKK manuscrips was carried out to determine the history of the emergence of symbolic poetry through the information contained in the text. The theories used in this research are codicology and textology theories. Codicological theory is used to describe the text. Textological theory is used to analyze the history of the SKK text and the reasons for the emergence of symbolic verses. The result of the research on the SKK manuscript was that the SKK manuscript was written at the request of a manuscript collector from Germany named Carl Schoemann while in the Dutch East Indies. In addition, the emergence of symbolic poetry in the Malay region is due to the concept in the Malay community to hide things that are considered taboo to be told. This is in accordance with the agreement of the first Malay king with his people in Malay History.
Naskah Purwaning Jagat (Kisah Raja-Raja Di Tatar Sunda): Analisis Isi dan Fungsi
Salma Widuri
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 7, No 1 (2016): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (359.07 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v7i1.282
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan fungsi naskah Purwaning Jagat bagi masyarakat masa kini melalui kajian analisis isi. Purwaning Jagat adalah sebuah naskah yang berbahasa Jawa dan beraksara Pegon. Di dalamnya terkandung kisah-kisah serta silsilah tentang raja-raja di Tatar Sunda. Naskah ini merupakan naskah gulung dengan panjang 6,3m. Dalam rangka pengungkapan isi, maka dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan kajian filologi. Langkah yang pertama dilakukan yaitu mentransliterasikan teks dalam naskah tersebut kemudian dianalisis kesalahan tulisnya sehingga menghasilkan suntingan teks yang bersih dari kesalahan tulis. Langkah berikutnya yaitu dilakukan penerjemahan terhadap suntingan teks ke dalam bahasa Indonesia. Setelah dihasilkan terjemahan barulah kajian sastra diterapkan guna mengungkap isi atau membunyikan apa yang tersimpan di dalam naskah dengan mempertimbangkan sudut pandang jalinan intertekstualitas. Dalam hal pengungkapan makna digunakan pendekatan hermeneutika yang merupakan metode atau cara untuk menafsirkan simbol berupa teks untuk dicari arti dan maknanya. Selanjutnya, kajian fungsi. Kajian fungsi yang akan diungkap di sini yaitu fungsi naskah berdasarkan benda dan fungsi naskah berdasarkan isi bagi masyarakat di masa kini.
Pengertian dan Skenario Perempuan dalam Beberapa Teks Tradisional Melayu
Nooriah Mohamed
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 6, No 1 (2015): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (544.578 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v6i1.315
Dalam tradisi masyarakat Melayu, kelompok wanita lebih dikenal sebagai perempuan berdasarkan jantina, kedudukan dan peran yang dimainkan. Justru itu terdapat label seperti gadis sunti,gadis pingitan, anak dara tua, isteri, balu, janda dan nenek. Sejak dilahirkan sudah dikenal sebagai orang dapur sebagai cerminan bahwa perempuan tidak lepas dari tanggung jawab yang berperanan penting sebagai ibu dalam rumah tangga. Sejajar dengan ini, perempuan dalam konotasi Melayu lebih dikaitkan dengan ejaan perempuan dalam tulisan Jawi (Arab) yaitu pa, ra, mim, pa, wau dan nun. Semua aksara ini membawa makna yang signifikan tentang bagaimana seorang perempuan harus menampilkan diri sebagai perempuan Melayu muslim seperti yang terungkap dalam Syair Siti Sianah dan Syair Seligi Tajam Bertimbal. Beberapa contoh tokoh turut dipaparkan seperti tokoh Tun Fatimah (isteri Sultan Mahmud yang meninggal di Kampar setelah Melaka jatuh ke tangan Portugis) seperti yang terdapat dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah. Sifat negatif perempuan Melayu turut ditampilkan juga seperti yang terdapat dalam Hikayat Abdullah.
Syair Fi Kaifiyat Al-Hajj : Perjalanan Haji Sebagai Bentuk Migrasi Muslim Minangkabau
Rizqi Handayani
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 4, No 1 (2013): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2609.52 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v4i1.400
Perjalanan haji merupakan perjalanan spiritual bagi umat muslim pada umumnya, akan tetapi pada masyarakat Minangkabau perjalanan haji ini menemukan dimensinya yang lain yaitu sebagai sebuah bentuk migrasi atau merantau. Dalam konteks ini, perjalanan haji bukan lagi semata-mata bertujuan untuk beribadah, akan tetapi juga untuk kepentingan ekonomi dan mencari ilmu. Syair Fi Kaifiyat al-Hajj merupakan salah satu naskah yang menggambarkan perjalanan haji seorang muslim Minangkabau yang ditemukan di surau Calau. Naskah ini memberikan gambaran tentang prosesi ritual haji, interaksi sosial dan ekonomi, adat istiadat, ciri-ciri fisik dan karakteristik dari setiap suku bangsa yang menghadiri ibadah Haji di Mekah sebelum abad ke-20.
IKHTIAR LITERASI SANG PUJANGGA WANITA ADISARA DALAM SERAT WIRA ISWARA
Arif Setyawan
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 9, No 1 (2018): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (765.385 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v9i1.232
Serat Wira Iswara--selanjutnya disingkat SWI--merupakan karya adiluhung yang ditulis Paku Buwana IX --selanjutnya disingkat P.B. IX-- dan Pujangga Wanita Adisara --selanjutnya disingkat PWA. Keadiluhungan SWI tak lepas dari kandungan berbagai ajaran wulang yang terdapat di dalamnya. Naskah ini ditulis sekitar akhir abad ke-19 M berbentuk tembang macapat yang terdiri atas 48 pupuh dan 647 pada. Permasalahan yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah (1) penulisan SWI dalam ikhtiar literasi PWA; (2)ragam pupuh dan kesesuaian wataknya dalam SWI; (3) ikhtiar literasi PWA dalam bayang kekuasaan; dan (4) pola ikhtiar literasi PWA. Penelitian ini mengunakan metode analisis isi atau content analisys. Simpulan penelitian ini antara lain (1) SWI ditulis oleh satu orang, yakni PWA dan terkandung dua buah pikir dalam SWI, yakni buah pikir P.B. IX dan PWA; (2) terdapat kesesuaian ragam pupuh dengan perwatakannya dalam SWI; (3)ikhtiar literasi PWA dalam bayang-bayang kekuasaan sang raja; dan(4) ikhtiar literasi P.B. IX dilakukan pada tahun 1870 M dan 1883 M, sedangkan ikhtiar literasi PWA dilakukan pada tahun 1888 M dan 1894 M; danterpolanya ikhtiar literasi PWA menandakan “kebebasan” yang diberikan oleh sang raja kepadanya.
Koneksi Pusat dan Pinggiran: Perbandingan Teks Primbon Palinḍon Kraton Yogyakarta dan Palilinḍon Merapi-Merbabu
Ghis Nggar Dwiadmojo
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 11, No 1 (2020): JUNI
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (925.407 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v11i1.773
The aims of this research are (1) to inventory and classify the corpus of the Javanese palilinḍon text and (2) to compare the palilinḍon text of Merapi Merbabu with the Primbon Palinḍon Kraton Yogyakarta text. The primary data of this study are the text of Palilinḍon, 29 L 328 (copied at Merapi Merbabu) and the text of Sĕrat Primbon Palintangan Palinḍon Pakĕdutan Add 12311 (copied at Yogyakarta Palace). The secondary data of this study are a cataloges containing information about manuscripts stored in libraries and museums in Indonesia and abroad. This research method is modern philology. There are 13 texts containing Javanese texts about palilinḍon. The 13 texts can be classified into two groups, the first copied at Merapi Merbabu and the second copied outside the Merapi Merbabu environment. Each group was taken one, namely Palilinḍon 29 L 328 which was copied at Merapi Merbabu and Primbon Palintangan Palinḍon Pakĕdutan Add 12311 which was copied in Yogyakarta Palace to be compared. Broadly speaking, the contents of the two texts are the same, namely containing information about events that followed the earthquake that occurred on the 12th month of Java. This proves the two texts are very strong connected. In the limited context of the Palilinḍon text, the connection of both of texts indicates the connection of both of scriptorium. Even though there are differences in word choices in the both of texts. In the text Palilinḍon 29 L 328 it is stated that if an earthquake occurs in a particular month, disaster will happen to the nagara while in the Primbon Palinḍon text Add 12311 it is stated that if an earthquake occurs in a particular month, the disaster will strike the desa. Nagara refers to the center, while the desa refers to the periphery. Nagara is the central representation, the residence of nobles and officials, if the negara is damaged the palace is also damaged. In the court's view this should not happen, then in Primbon Palinḍon Add 12311 the word 'nagara' was removed and the word ‘desa' was added as an object of disaster sufferers.
Keberagaman Surat Emas dalam Politik dan Dagang: Diplomasi Raja-Raja di Indonesia
Mu'jizah Mu'jizah
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 8, No 1 (2017): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (372.937 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v8i1.266
Indonesia sebagai sebuah bangsa sudah dirintis sejak abad ke-14 M dimulai dari Sumpah Palapanya Gadjah Mada sampai perlawanan berbagai kerajaan--pusat kekuasaan. Untuk merealisasikan wujud bangsa Indonesia raja-raja pada masa lalu, di samping menggunakan kekuatan fisik juga strategi lain, di antaranya dalam hubungan diplomasi dengan pemerintah kolonial, khususnya Belanda. Diplomasi tersebut diketahui dari strategi politik dan dagang yang terekam dalam manuskrip yang dikenal dengan surat emas (golden letter). Surat ini sangat indah dan menarik serta mencermin pemikiran, intelektualitas, dan martabat bangsa Indonesia pada masa lalu. Surat yang cantik ini dikirim oleh banyak raja di Indonesia, seperti Banten, Madura, Bima, Pontianak, dan Banjarmasin. Sampai saat ini manuskrip tersebut disimpan dengan rapi di beberapa negara. Dalam makalah ini dibahas keberagaman surat emas yang digunakan oleh raja-raja di Indonesia pada masa lalu dalam politik dan dagang sebagai sarana diplomasi. Metode yang digunakan berupa kajian deskriptif analitis. Dari hasil kajian diketahui bahwa gerakan "kebangsaan" pada dasarnya telah dilakukan sejak lama oleh raja-raja di Indonesia melalui diplomasi dan negosiasi, terutama dalam politik dan dagang seperti yang tercermin dalam surat emas yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Diplomasi tersebut dilakukan melalui komunikasi verbal melalui bahasa dan komunikasi nonverbal melalui simbol motif dalam hiasan pada surat.
Legitimasi Kekuasaan dalam Karya Sastra Babad: Mimikri, Hibriditas, dan Ambivalensi dalam Babad Pakualaman
Yudhi Irawan
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 6, No 2 (2015): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (454.636 KB)
|
DOI: 10.37014/jumantara.v6i2.306
Babad Pakualaman menceritakan sejarah pergolakan kekuasaan di Yogyakarta sekitar tahun 1800-an. Pemerintah Kolonial Inggris menobatkan Pangeran Natakusuma menjadi pangeran mardiko di Yogyakarta dengan gelar Gusti Pangeran Adipati Pakualaman I. Konflik kepentingan menyertai pengangkatan tersebut. Tulisan ini mengungkap latar belakang penulisan dan mengungkap bagaimana Babad Pakualaman melegitimasi kekuasaan tokoh dan/atau pemerintah Kolonial. Penelusuran legitimasi kekuasaan akan mempertimbangkan hasil pembacaan secara kritis terhadap teks yang memiliki efek melegitimasi kekuasaan tokoh dan/atau pemerintah Kolonial. Pembacaan terhadap jejak-jejak kekuasaan fokus kepada kupasan terhadap tokoh-tokoh dalam teks Babad Pakualaman, dan peristiwa yang menyertainya. Kupasan terhadap tokoh-tokoh dan peristiwa yang menyertainya akan menggunakan “kaca mata” postkolonial.