cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 225 Documents
Comparative Study of Religious Understandings of Persatuan Umat Islam (PUI) and Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Review of Similarities and Differences in Building Ukhuwah Islamiyah) Tatang Hidayat; Udin Supriadi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 5, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.877 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v5i2.2092

Abstract

The phenomenon of the diversity of religious understandings of Islamic mass organizations in Indonesia promotes a variety of attitudes in the midst of society.  The purpose of this study was to analyze the results of a comparative study of religious understanding of Persatuan Umat Islam (PUI) and Al-Irsyad al-Islamiyyah reviewing the similarities and differences in building ukhuwah Islamiyah. This study employed a qualitative approach and a descriptive method.  In relation to the data collection techniques, this study employed several techniques such as interviews, observation, and documentation study. Furthermore, the collected data were analyzed using a descriptive analysis.  Based on the results of the study, it is obvious that the historical background of the establishment of PUI and Al-Irsyad was definitely different with each other. PUI was established as a result of blending the two different Islamic organizations. On the other hand, al-Irsyad was established as the continuation of the former organization called Jamiatul Khair. With respect to the faith understandings, both PUI and al-Irsyad adopted the same understanding, Aqidah ahlus Sunnah wal Jama'ah.  In the realm of worship practices, PUI adopted the understanding of the Shafi'i schools of thought, while Al-Irsyad al-Islamiyyah referred directly to the Qur'an and the Sunnah through the understanding of their scholars. In addition, in understanding Tasawwuf, PUI provided flexibility to each individual in regard to the tarekat involvement, while Al-Irsyad al-Islamiyyah in principle did not adopt the concept of Tasawwuf.  Al-Salam, Ishlah al-Samaniyah, santri asromo, santri lucu and intisab were considered as a series of unique concepts adopted by PUI.  On the other hand, the initial basic principle of the Al-Irsyad Al-Islamiyyah movement was to realize equality in the lives of fellow Muslims based on the understandings as postulated within the Quran and the Sunnah, and to remove the innovation practices (bid'ah) in terms of the faith as stated in the mabadi of Al-Irsyad.  In terms of the charitable efforts, these two organizations put more concern primarily on the realms of religion, education, economy, and social. Therefore, as the implication of this issue, the society will behave wisely in regard to the differences in Islamic understandings of Islamic mass organizations in the midst of society.Fenomena beragamnya paham keagamaan organisasi massa Islam yang ada di Indonesia menimbulkan beragam sikap di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hasil studi komparasi pemahaman keagamaan Persatuan Umat Islam dan Al-Irsyad al-Islamiyyah tinjauan persamaan dan perbedaan dalam membangun ukhuwah Islamiyah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Teknik pengambilan data dengan wawancara, observasi dan studi dokumentasi.  Data-data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis melalui analisis deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perbedaan sejarah berdirinya PUI dan Al-Irsyad. PUI terlahir dari gabungan 2 ormas Islam yang berbeda, adapun Al-Irsyad terlahir dari ormas Jamiatul Khair. Dalam pemahaman ‘aqidah, PUI dan Al-Irsyad sama-sama menganut paham ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dalam pengamalan ibadah, PUI mengadopsi pemahaman madzhab Syafi’i rahimahullah, adapun Al-Irsyad al-Islamiyyah merujuk langsung kepada al-Qur’an dan Sunnah melalui pemahaman ulama mereka. Dalam pemahaman Tasawuf, PUI memberikan keleluasaan kepada pribadi masing-masing untuk mengikuti tarekat manapun, adapun Al-Irsyad al-Islamiyyah secara pemahaman tidak mengadopsi konsep tasawuf. PUI memiliki prinsip khas yakni konsep al-Salam, Ishlah al-Samaniyah, santri asromo, santri lucu dan intisab. Adapun prinsip pokok awal gerakan Al-Irsyad al-Islamiyyah yakni mewujudkan kesetaraan dalam kehidupan sesama muslim berdasar pemahaman yang bersumber dari al-Quran dan sunnah, menumpas praktik bid’ah dalam hal akidah sebagaimana yang tercantum dalam mabadi Al-Irsyad al-Islamiyyah.  Dari segi amal usaha kedua ormas ini memiliki kesamaan dalam bidang keagamaan, pendidikan, ekonomi, dan sosial. Implikasinya dalam menyikapi perbedaan paham keagamaan ormas Islam di tengah-tengah masyarakat akan semakin bijaksana.
The Significance of Tabayyun Practice as Conflict Resolution in Indonesian Society David Eko Setiawan
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 7, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.819 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v7i2.4654

Abstract

This article seeks to explain the significance of Tabayyun's practice as conflict resolution in Indonesian society. Indonesia is a multicultural country with considerable potential for conflict. To prevent that, it is necessary to be aware in the community to be open to each other and try to find clarity on a problem/information so as not to cause prolonged conflict. In Islamic Theology, the practice is called Tabbayun. The research problem in this study is the extent to which the significance of Tabayyun's practice can be a conflict resolution in Indonesian society? This research uses a qualitative approach using library methods and is also supported by data from interviews with Muslim figures who have practiced tabayyun in resolving conflicts in society. The results of this study show that tabayyun practice has a very big meaning in solving social conflicts in Indonesian society because it can improve the quality of information conveyed and received, clarify the root causes in a conflict, prevent disasters due to unclear root problems in conflict, and foster social ethics based on religious values in Islamic theology.Artikel ini berupaya menjelaskan pentingnya praktik Tabayyun sebagai penyelesaian konflik di masyarakat Indonesia. Masalah penelitian dalam penelitian ini adalah sejauh mana signifikansi praktik Tabayyun dapat menjadi penyelesaian konflik di masyarakat Indonesia?. Indonesia adalah negara multikultural dengan potensi konflik yang cukup besar. Untuk mencegah hal itu, perlu diwaspadai di masyarakat untuk saling terbuka dan berusaha mencari kejelasan sebuah permasalahan/informasi agar tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Dalam Teologi Islam, praktik ini disebut Tabbayun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode kepustakaan dan juga didukung dengan data hasil wawancara dengan tokoh-tokoh muslim yang telah mengamalkan tabayyun dalam menyelesaikan konflik di masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik Tabayyun memiliki arti yang sangat besar dalam penyelesaian konflik sosial di masyarakat Indonesia karena dapat meningkatkan kualitas informasi yang disampaikan dan diterima, memperjelas akar permasalahan dalam sebuah konflik, mencegah bencana karena ketidakjelasan akar permasalahan dalam konflik, dan menumbuhkan etika sosial berdasarkan nilai-nilai agama dalam teologi Islam.
BANGLADESHI MUSLIM CONSTRUCTION WORKERS IN SINGAPORE: A STUDY IN THE PROCESS OF MIGRATION AND EMPLOYMENT Sanghita Datta
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.914 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.47

Abstract

Singapore  has a long history  of receiving  labor  migrants  from all across South Asia and it has systematically  developed  a whole  range of strategies  to deal with  the shortage  of labourers  in the country.  Recent research has shown that to fulfill these shortages, large numbers of labourers are hired from Bangladesh Muslim. These labourers are temporary migrants and work in various construction sites in the country. Using field  research  (unstructured   interviews   and purposive  sampling)  as the  chief  method,  with  supporting  secondary data  from  library  research  newspaper  archives  and internet,   this  research focuses on Bangladesh's  migrant  workers  in Singapore specifically working  in the construction   sites. It will  look at what goes into the decision making or the choice of a certain  foreign   country  over  the  other  and the  role  of the  family  in the  decision  making  process.  Understanding   the process of socialization  among these  migrants  and how they  try to  bridge the gaps between  their  home  and the foreign work  place by creating a home away from  home, will  also be highlighted.   Singapura memiliki sejarah panjang menerima tenaga kerja migran dari seluruh Asia Selatan dan telah sistematis mengembangkan berbagai macam strategi untuk menghadapi kekurangan buruh di negara ini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa untuk memenuhi kekurangan tersebut, sejumlah besar buruh dipekerjakan dari Bangladesh Muslim. Para buruh ini merupakan migran sementara dan mereka bekerja di berbagai konstruksi di negara ini. Dengan menggunakan penelitian lapangan (wawancara terstruktur dan purposive sampling) sebagai metode utama, dengan didukung oleh data sekunder dari perpustakaan, arsip, koran, penelitian, dan internet, penelitian ini berfokus pada pekerja migran Bangladesh di Singapura secara khusus bekerja di lokasi konstruksi. Penelitian ini akan melihat apa yang terjadi dalam pengambilan keputusan atau pilihan dari negara asing tertentu atas yang lain dan peran keluarga dalam proses pengambilan keputusan. Memahami proses sosialisasi di antara para migran dan bagaimana mereka mencoba untuk menjembatani kesenjangan antara keluarga dan tempat kerja asing dengan menciptakan suasana seperti dirumah sendiri meskipun mereka jauh dari rumah juga akan disorot.
LAPAS, NARAPIDANA DAN EKONOMI: TINJAUAN PEMBINAAN EKONOMI PRODUKTIF DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KOTA METRO LAMPUNG Diana Ambarwati
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.133 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.398

Abstract

According to Law No. 12/1995 on penitentiary in article 1, paragraph 2, it is stated that the real community is an activity to carry out guidance of prisoners based on the system, institutional and guidance method which is the final part of the criminal justice system. Based on the mandate of Law No.12 of 1995 above, this research is focused on coaching conducted by Lapas (prison) at Metro Bandar Lampung. This is a qualitative research which uses interview and observation as the instrumentation. Based on the result of the research, there are two reasons of having coaching in Lapas (prison) of Metro; First is a form of government concern in order to minimize the occurrence of repeated crimes by providing the inmates with skills that will be able to help them by the time they are free from the punishment. Second, the economic value: that this activity can generate income or income, hence, the inmates can fulfill the daily needs that are not paid by the state. From their works’ result the inmates will receive a wage between 15 - 35% of the total profit. Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan pada pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa pemasyarakatan sesungguhnya adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana. Berdasarkan amanat UU No.12 Tahun 1995 di atas, maka penelitian ini difokuskan pasa pembinaan yang dilakukan pada Lapas Kota Metro Bandar Lampung. Dengan menggunakan penelitian kualitatif dalam bentuk wawancara dan observasi, diperoleh hasil bahwa terdapat dua alasan pembinaan kerja yang dilakukan Lapas Kota Metro; Pertama merupakan bentuk kepedulian pemerintah dalam hal ini Lapas Kota Metro dalam rangka meminimalisir terjadinya kejahatan berulang yakni dengan membekali para narapidana dengan skill yang nantinya akan mampu membantu mereka setelah keluar dari Lapas. Kedua, bernilai ekonomi, artinya kegiatan ini dapat menimbulkan income atau pendapatan, sehinggaa narapidana dapat memenuhi kebutuhan keseharian yang tidak dibiayai oleh Negara. Dari hsil kerjanya narapidana akan meneriman upah yang besarannya antara 15 – 35 % dari total keuntungan.
FATHERING STYLES OF MUSLIM FAMILIES PERCEIVED FROM PERSONALITY TYPES IN NORTH SUMATERA Nurhayani Nurhayani
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 5, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.371 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v5i1.960

Abstract

Fathering styles are highly influenced by the cultural background from which the father are raised. These styles will be observed by children and eventually become an imitated model for children in shaping their attitude and behaviour as well as their ethnic identity representing their cultural values. The objectives of this research are to know the difference of fathering styles between fathers in Minangkabau families and Batak families perceived from their personality types. The subjects of this research were 90 fathers in Medan, North Sumatera which consist of 45 fathers of Minangkabau ethnicity and 45 fathers of Batak ethnicity. The data of the study were collected by using two scales, which are personality types scale and fathering style scale. Analysis of Variance (ANOVA) was applied to analyze the data. The result of the analysis shows that personality types and ethnicity interact each other in affecting fathering styles (F: 5.872; p = 0.004 < 0.05), so there is a difference of fathering styles between Minangkabau fathers and Batak fathers perceived from introvert and extrovert personality types. A final contribution of this study is the effort to save young generation who live fatherless and support well function families through fathers’ role in transmitting good cultural values of fathers’ ethnicity, so it is suggested that fathers’ involvement should be existed in raising children’s development any condition even divorce can not be avoided. The paternal figure should always be present in children’s lives both my father’s direct involvement and by the involvement of other paternal figures. The good paternal figure will help children to avoid the social problems they face in life Pola pengasuhan ayah tidak terlepas dari latar belakang budaya yang mempengaruhi kepribadian ayah sejak kecil. Pola pengasuhan ayah akan diamati  oleh anak dan menjadi model figur yang ditiru anak dalam berperilaku dan menjadi ciri identitas etnik yang mewakili kepribadian sukunya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan memahami perbedaan pola pengasuhan ayah ditinjau dari tipe kepribadian pada keluarga  Batak Muslim dan keluarga Minang. Subjek penelitian adalah 90 orang ayah di Kota Medan, Sumatera Utara yang terdiri 45 orang ayah suku Minang dan 45 orang ayah suku Batak. Pengambilan data menggunakan dua skala, yaitu skala  tipe kepribadian dan skala pola asuh ayah.  Analisis Varians dua arah (Two Ways ANOVA) digunakan sebagai metode untuk mengalisis data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tipe kepribadian dengan suku saling berinteraksi dalam mempengaruhi pola pengasuhan ayah. Kontribusi penelitian ini adalah untuk menyelamatkan generasi muda yang hidup tanpa ayah dan mendukung keutuhan fungsi keluarga melalui peran ayah dalam mentransmisi nilai budaya yang baik dari sukunya, maka disarankan agar keterlibatan ayah hendaknya diupayakan dalam kondisi apapunBerdasarkan hasil penelitian di atas, disarankan agar keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak harus ada dalam kondisi apapun, bahkan saat perceraian tak dapat dihindarkan. Figur ayah tidak boleh hilang dalam kehidupan anak baik itu dengan menghadirkan keterlibatan ayah secara langsung maupun dengan menghadirkan  figur lain  yang dapat melakukan peran ayah. Figur ayah yang baik akan membantu anak terhindar dari masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupannya
Enhancing Waqf Forest Sustainability Through Agroforestry: Case Study from Bogor Waqf Forest, Bogor, Indonesia Miftahul Jannah; Khalifah Muhamad Ali; Brigita Laura Fatria; Azila Ahmad Sarkawi; Jamilah Othman
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 7, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.38 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v7i1.4454

Abstract

The high rate of forest conversion in Indonesia required further actions to overcome. One of the solutions is through waqf (endowment) forest, a forest developed on waqf land. According to Islamic law, a waqf forest cannot be sold, granted, inherited, or changed unreasonably. Previous researches generally focused more on the potential and prospect of cash waqf or land waqf for forest protection. On the other hand, a study to enhancing waqf forest sustainability still needs to be developed, especially in Indonesia. This paper aims to observe the practice of agroforestry to enhance the sustainability of waqf forest, with the case study location in the Bogor Waqf Forest, Cibunian Village, Pamijahan District, Bogor Regency, Indonesia. The present study was conducted from March 2019 until June 2021, using a literature study, observation, and in-depth interview method then analyzed descriptively. Agroforestry practices are chosen in the case study location, such as agrosilvicultural, agrosilvopastoral, and agrosilvofishery. Based on the Sustainable Forest Management (SFM) goals, agroforestry practices in waqf forests are estimated to extend forest resources, increase biodiversity, forest health, forest production, and protection functions, and contribute to social and economic development benefits. Tingginya alihfungsi lahan hutan di Indonesia memerlukan usaha lebih untuk mengatasinya. Salah satu solusinya adalah melalui program hutan wakaf, yaitu hutan yang dibangun di atas tanah wakaf. Berdasarkan hukum Islam, hutan wakaf tidak boleh dijual, diberikan, diwariskan, dan diubah fungsi lahannya tanpa alasan yang dibenarkan. Penelitian-penelitian sebelumnya lebih berfokus pada potensi dan prospek dari wakaf uang atau wakaf tanah untuk melindungi hutan. Studi mengenai upaya pelestarian hutan wakaf masih perlu untuk dilakukan, terutama di Indonesia. Studi ini dilakukan pada bulan Maret tahun 2019 hingga Juni tahun 2021, berlokasi di Hutan Wakaf Bogor, Desa Cibunian, Pamijahan, Kabupaten Bogor, Indonesia, menggunakan metode studi literatur, observasi lapang, dan wawancara pakar yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Beberapa praktik agroforestri dipilih untuk diaplikasikan pada lokasi studi, seperti agrosilvikultura, agrosilvopastoral, dan agrosilvofishery. Berdasarkan tujuan pengelolaan hutan lestari (SFM), praktik agroforestri pada hutan wakaf diestimasikan tidak hanya meningkatkan sumber daya hutan, biodiversitas, kesehatan, produksi, dan perlindungan hutan, tetapi juga memiliki manfaat sosial dan ekonomi.
PLURALISME DI TENGAH MASYARAKAT SANTRI MINANG SEBUAH PENGENALAN PLURALITAS LOKAL DI SUMATERA BARAT Wanda Fitri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1790.886 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i1.12

Abstract

The diversity of religious life in West Sumatra and Padang generally, is not different from the other regions in Indonesia which runs with a commitment to freedom of religion. Religious tolerance shown by the local community over the other religions, in the limits for other religions does not disturb and interfere with their religion. Although majority of the Minang community with Islam as their religion but there should not be a case of oppression or exclusion of other religions. This principle is upheld and into the control of social behavior in social life. Understanding of the local community in the city of Padang on the concept of religious pluralism was different from the concept of MUI and liberal groups. People understand not in the frame of theoretical pluralism, but rather the practical significance and applicable. Principally, Islam in Minangkabau is known as egalitarian society. It is an open advice to anyone through local value (dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung) and then expressed through a model of tolerance that is packaged in a cultural figure or more precisely the formula of social relationships naturally. Keragaman hidup beragama di Sumatera Barat dan Kota Padang umumnya tidak berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang berjalan dengan sebuah komitmen akan kebebasan beragama. Toleransi beragama yang diperlihatkan oleh masyarakat lokal lebih kepada agama lain dalam batasan selama agama-agama lain tidak menganggu dan mencampuri agama mereka. Meski masyarakat Minang adalah kelompok mayoritas dengan Islam sebagai agama mereka namun tidak boleh ada kasus penindasan atau pengucilan terhadap agama lain. Prinsip ini dipegang erat dan menjadi kontrol terhadap perilaku sosial dalam hidup bermasyarakat. Pemahaman masyarakat lokal di Kota Padang tentang konsep pluralisme agama ternyata berbeda dari konsep MUI maupun kelompok liberal. Masyarakat memahami pluralisme tidak dalam bingkai teoritis tetapi lebih kepada makna praktis dan aplikatif. Pada Prinsipnya, Islam di Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang egaliter. Untuk konteks anjuran terbuka kepada siapapun melalui nilai lokal (dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung) kemudian diekspresikan melalui model toleransi yang dikemas dalam sosok kultural atau lebih tepatnya formula hubungan -hubungan sosial secara natural.
PERANAN ORGANISASI BUKAN KERAJAAN (NGO) DALAM KONFLIK KEMANUSIAAN DI PALESTIN Noor Atika Shafinaz Binti Nazri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.841 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.213

Abstract

Humanitarian aid has become one of the human rights agenda in international world. In this case, there are various international organizations including non-governmental organizations (NGOs) involved. For Malaysia, the NGO is well regarded as one of the NGOs most active in providing humanitarian aid to Palestine. The organization has been using the platform of non-governmental organizations in providing humanitarian assistance to the Palestinian people. This study focuses Viva Palestina Malaysia, which is one of Malaysia NGOs active in Palestine. It will review the activities of the police and Viva Palestina Malaysia contribution towards the Palestinians. The study will indicate the role of non-governmental organizations in the fight for the truth, raise awareness of issues, provide assistance and conduct humanitarian activities in Palestine Bantuan kemanusiaan telah menjadi salah satu agenda hak asasi manusia dalam dunia antarabangsa. Terdapat pelbagai organisasi antarabangsa termasuk Organisasi Bukan Kerajaan (NGO) yang terlibat dalam hal ini. Bagi Malaysia, NGO itu dengan baik dianggap sebagai antara kumpulan organisasi bukan kerajaan yang paling aktif dalam menyediakan bantuan kemanusiaan ke Palestin. Organisasi ini telah menggunakan platform bukan kerajaan dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestin. Kajian ini memfokuskan Viva Palestina Malaysia yang merupakan salah satu NGO dari Malaysia bergiat aktif di Palestin. Ia akan mengkaji aktiviti, polisi dan sumbangan Viva Palestina Malaysia terhadap Palestin. Kajian akan menunjukkan peranan organisasi bukan kerajaan dalam memperjuangkan kebenaran, meningkatkan isu kesedaran, menyediakan bantuan dan menjalankan aktiviti kemanusiaan di Palestin
ISLAMIZATION, PIETY, FUNDAMENTALISM: RELIGIOUS MOVEMENT IN CAMPUS Lukis Alam
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.715 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i2.785

Abstract

Religion is based on the perspective of attitudes and attention to the doctrines that apply in everyday life. On its journey, diversity is often a symbol and goal of achieving certain interests. However, sometimes he often raises conflicts within the structure of society. Power and religion sometimes cannot be united, which results in friction between the authorities and their people. In this regard, the existence of this study wants to highlight the dynamics of intellectual diversity in public space. They want to fight for religious rights that have been ruled out by the government. So that with the metamorphosed Tarbiyah movement being campus preaching, they have directed a non-confrontational movement that fights Islam in the public space by taking mosque settings as the foundation of religious idealism in the modern era. The rise of campus preaching in various universities throughout Indonesia originated from the concerns of Islamic activists on the impartiality of the authorities in a system based on religious guidance. Especially in the era of the 70s when the New Order replaced the Old Order, many actions were contrary to Islamic norms. The further development of the preaching of this campus is growing rapidly, as a result there is a new Islamic model conducted by students who try to instill an ethical system to the community. This study uses a qualitative method that combines literature sources with a phenomenological approach that refers to field data. Therefore the final result of this study presents the religious aspirations of young intellectuals in their relations with the political interests of the ruler who display modern piety attitudes that process into contemporary Islamic models in the public sphere. Keberagamaan didasarkan pada perspektif sikap dan atensi atas doktrin yang berlaku di dalam kehidupan sehari-hari. Pada perjalanannya, keberagamaan seringkali menjadi simbol dan tujuan mencapai kepentingan tertentu. Namun, adakalanya ia kerap memunculkan pertentangan di dalam struktur masyarakat. Kekuasaan dan agama terkadang tidak bisa disatukan, yang berakibat pada gesekan antara penguasa dengan rakyatnya. Berkaitan dengan hal tersebut, adanya penelitian ini ingin menyoroti dinamika keberagamaan kaum intelektual di ruang publik. Mereka ingin memperjuangkan keberagamaan yang selama ini dikesampingkan penguasa. Sehingga dengan gerakan Tarbiyah yang bermetamorfosa menjadi dakwah kampus, mereka telah mengarahkan pada suatu gerakan non-konfrontatif yang memperjuangkan Islam di ruang publik dengan mengambil setting masjid sebagai landasan idealisme keberagamaan di era modern. Maraknya dakwah kampus di berbagai universitas di seluruh Indonesia berawal dari keprihatinan para aktivis Islam terhadap keberpihakan penguasa pada liberalisasi nilai dan moral. Terlebih di era 70-an saat Orde Baru menggantikan Orde Lama, banyak sekali tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma Islam. Perkembangan selanjutnya, dakwah kampus ini berkembang dengan pesat, akibatnya terjadi model keislaman baru yang dilakukan oleh mahasiswa yang mencoba menanamkan sistem etika kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang memadukan sumber-sumber pustaka dengan pendekatan fenomenologis yang mengacu dari data lapangan. Oleh karena itu, hasil akhir penelitian ini menyuguhkan aspirasi keberagamaan kaum intelektual muda dalam persinggungannya dengan kepentingan politik penguasa yang menampilkan sikap-sikap kesalehan modern yang berproses menjadi model Islamisasi kontemporer di ruang publik.
Glocal Radicalism: The Phenomenon of Local Islamic Radicalism in the Structure of Global Radicalism Nani Widiawati
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.991 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3423

Abstract

This article aims to reveal the dynamic factors of glocal radicalism, the tendency of superiority in the global structure, and the strategies to address the problem of glocal radicalism. Tracing the local and global context in analyzing the phenomenon of radicalism in Islam is important because both are the main variables so that this phenomenon can be comprehensively understood. This writing is qualitative research focuses on analyzing written sources about the facts of radicalism in global and local structures using analysis-interpretive methods and digital data analysis techniques. In this way, it is found that the dynamic factors of local radicalism are indirectly part of the structure of global radicalism, born of or as an implication of the systematic propaganda of that structure, namely structural violence in the dynamics and dialectics of global forces that influence social, political, and economical processes of Islamic countries. There is a tendency for superior that is reflected in the Islamophobia phenomenon and global political reflection. In this case, the moral-based multiculturalism educational approach and the virtual approach have a strategic role to address this problem Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan faktor dinamis radikalisme glokal, kecenderungan superioritas dalam struktur global, serta strategi untuk menyikapi problem radikalisme glokal. Penelusuran konteks lokal dan global dalam menganalisis fakta radikalisme dalam Islam menjadi penting sebab keduanya merupakan variabel utama sehingga fakta tersebut dapat dipahami secara komprehensif. Tulisan merupakan penelitian kualitatif yang memokuskan pada telaah sumber tertulis tentang fakta radikalisme dalam struktur global dan lokal dengan metode analisis-interpretatif dan teknik analisis data digital. Dengan cara demikian, ditemukan bahwa faktor dinamis radikalisme lokal secara tidak langsung menjadi bagian dari struktur radikalisme global, lahir dari atau sebagai implikasi dari propaganda sistematis dari struktur tersebut, yaitu kekerasan struktural dalam dinamika dan dialektika kekuatan-kekuatan global yang memengaruhi proses sosial, politik, dan ekonomi negara-negara Islam. Terdapat kecenderungan superiorisme yang tercermin dalam fenomena islamofobia dan refleksi politik global. Dalam hal ini, pendekatan pendidikan multikulturalisme berbasis moral serta pendekatan virtual memiliki peran strategis untuk menyikapi problem ini.

Page 4 of 23 | Total Record : 225