cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 216 Documents
Construction of the Wali Pitu’s Sacredness and Islamic Veneration in Balinese Hindu Civilization Amin Tohari
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 7, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.272 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v7i2.4722

Abstract

This article explains the Wali Pitu (the seven saints) as a new form of veneration dynamics in Indonesia, which was built by the sacredness of Bali as the heart of Hindu culture in Indonesia. This phenomenon is unique and interesting, because the seven tombs of Muslim saints are venerated by Hindus of the region. This study uses a qualitative approach with the case-study method, extracting data as documentation from the notes of Toyyib Zaen Arifin during the expedition to search the seven graves, and interviews with members of the Manaqib al-Jamali, guidance, organizers and religious tourism congregations, as well as several caretakers of the tombs. This article describes the sacred construction of the discovery of the seven sainthoods tombs and their cults and their dynamics as a new form of the veneration of saints in Indonesia, one that differs from the other forms of veneration in Java which has been deeply rooted for a long time, such as the Wali Songo (the nine saints). Artikel ini berupaya menjelaskan Wali Pitu (tujuh wali) sebagai bentuk baru dinamika venerasi di Indonesia yang dibangun oleh sakralitas Bali sebagai jantung peradaban Hindu. Fenomena ini sangat unik dan menarik dimana kedua korpus yang diteliti sangat kontradiktif namun menjadi sebuah realitas nyata, dimana tujuh makam wali Muslim ditemukan di Bali sebagai jantung peradaban Hindu. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penggalian data berupa dokumentasi dari hasil catatan Toyyib Zaen Arifin selama ekspedisi pencarian tujuh makam wali, dan wawancara kepada anggota manaqib al-Jamali, pembimbing, penyelenggara dan jama’ah wisata religi, serta beberapa juru kunci makam Wali Pitu. Artikel ini menjelaskan konstruksi sakralitas atas penemuan tujuh makam wali dan pengkultusannya serta dinamikanya sebagai wujud baru venerasi orang suci di Indonesia yang berbeda dengan venerasi sebelumnya di Jawa yang sudah mengakar kuat sejak lama (Wali Songo).
BANK GELAP DI KOTA BUKITTINGGI (RESISTENSI EKONOMI MASYARAKAT PERKOTAAN DALAM MENGHADAPI PEMODAL ETNIK LAIN) Helfi - Helfi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1151.604 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.2

Abstract

The difficulties in getting the allowance from the public bank have some customers try to find the alternative way in having loan which is usually called as “Bank Gelap” or “ Bank 47”. “Bank 47” which is originally come from Batak has a simple process and does not need any prerequirements. The illegal financial activity is administered in almost all area in West Sumatera and Riau. When the local economy began in the grip of other ethnics, especially those in the heart of Bukittinggi, that the ownership shifted slowly disturbed the local community. The logical consequence of the local economy mastery will bring ripples that could cause conflict, the struggle for economic resources, and larger and wider tensions. They provide range of credits from hundreds of thousand rupiah till five thousands rupiah with 20 % of bank interest. The success implications of the capital trading from Batak is transformed as lands, business place, housing and etc. Kesulitan dalam mendapatkan tunjangan dari bank umum menyebabkan beberapa pelanggan mencoba untuk menemukan cara alternatif dalam pinjaman kredit yang biasanya disebut sebagai “Bank Gelap”. “Bank 47” memiliki proses yang sederhana dan tidak memerlukan prerequirements. Pemilik “Bank 47” awalnya berasal dari suku Batak. Aktivitas keuangan ilegal diberikan di hampir semua daerah di Sumatera Barat dan Riau. Ketika ekonomi lokal mulai dirasa berada dalam cengkraman etnik imigran lain khususnya yang berada di jantung-jantung kota Bukittinggi yang secara perlahan beralihnya kepemilikan tempat perdagangan sudah merisaukan komunitas lokal. Konsekwensi logis dari penguasaan ekonomi lokal akan memunculkan riak-riak yang dapat menyulut konflik, perebutan sumber ekonomi dan ketegangan yang lebih besar dan luas. Tradisi ekonomi mereka menyediakan berbagai kredit dari ratusan ribu rupiah hingga lima ribu rupiah dengan 20% dari bunga bank. Implikasi dari keberhasilan dalam perdagangan modal dari suku Batak ditransformasikan sebagai tanah, tempat usaha, perumahan dan sebagainya.
BISNIS ORANG SUNDA: STUDI TEOLOGI DALAM ETIKA BISNIS ORANG SUNDA Didin Komarudin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.743 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.342

Abstract

Bandung is known as a religious ethics proven by the appearance of its vitality in the reflection of its formal activity. It can be seen from the dynamics and rapid of the religious activity, such as formalistic of praying, the festive of Ramadan, numerous of majelis ta'lim or the number of Muslims who perform the pilgrimage in every year, both in quality and quantity. It certainly affects the busininess activities as modern management-oriented to professional interpreneneurship act. This research gives evidence that Sundanise business ethics influences the guiding frame of every business policy. Morever, the theological factor plays an important role in encouraging a man to be successful in business. CV. Batu Gunung Padakasih (BGP) which is located in Cikancung-Bandung, Tapin District, has represented many significant findings concerning relation between ethics and social business theology in the policy that may be regarded as causal relation in business success. Bandung dikenal sebagai suku atau etnik religius terbukti dari penampakan wujud vitalitasnya dalam refleksi aktivitas formalnya. Hal itu dapat dilihat dari perjalanan dinamika keagamaan yang intensitasnya cukup kental seperti aktivitas ibadah yang semarak seperti formalistik shalat, meriahnya Ramadhan, banyak majelis ta’lim atau banyaknya kaum Muslimin yang melaksanakan ibadah haji dalam setiap tahun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini tentu mempengaruhi kegiatan bisnisnya yang dimana merupakan manajemen modern berorientasi profesional kewirausahaan tindakan. Penelitian ini memberikan bukti bahwa etika bisnis yang diterapkan oleh Suku Sunda mempengaruhi pada pedoman kerangka setiap kebijakan bisnis. Terlebih lagi, faktor teologis memainkan peran penting dalam mendorong manusia untuk menjadi sukses dalam bisnis. Ada CV. Batu Gunung Padakasih (BGP) yang terletak di Cikancung-Bandung, Kabupaten Tapin, telah mewakili banyak temuan yang signifikan mengenai hubungan antara etika dan teologi bisnis sosial dalam kebijakan yang dapat dianggap sebagai hubungan kausal dalam keberhasilan bisnis.
PARADIGMA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM Addiarrahman Addiarrahman
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.92 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i2.532

Abstract

This article aims to elaborate the paradigm of regional development planning in the perspective of Islamic economics. The need for new perspectives in formulating development planning is quite significant considering the weaknesses and failures of the conventional paradigm which has been the background. The worldview proposed through this paper integrates Islamic values (al-Quran and al-Sunnah) as meta-framework and archetypal models; development goals as contained in the 1945 Constitution and other regulations; local wisdom in each region. Artikel ini bertujuan mengelaborasi paradigma perencanaan pembangunan daerah dalam perspektif ekonomi Islam. Kebutuhan terhadap perspektif baru dalam merumuskan perencanaan pembangunan cukup penting mengingat kelemahan dan kegagalan paradigma konvensional yang selama ini melatarinya. Paradigma yang diusul melalui tulisan ini mengintegrasikan: nilai-nilai Islam (al-Quran dan al-Sunnah) sebagai metaframework dan archetypal model; tujuan pembangunan sebagaimana termuat dalam UUD 1945 dan peraturan lainnya; kearifan lokal yang terdapat di masing-masing daerah. 
Articulation of Indigenous Traditions in Tourism: A Case Study of Kenduri Sko in Kerinci, Jambi Mufdil Tuhri; Deki Syaputra ZE
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.737 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3251

Abstract

This study examines the practice of Kenduri Sko, one of the local traditions of the Kerinci people that has been rarely practiced. Since 2017, the government of Sungai Penuh City took over the management of the practice turning it into an annual tourist attraction called as the Festival of Kenduri Sko. This paper argues that the articulation of this indigenous tradition, and its combination with religion and tourism has stimulated the attempt to preserve indigenous practices through a strategic relationship between government officials and local actors. To show how this the case, we discuss the theory of indigenous religions and the theory of articulation. We use qualitative methods and conducted field studies on the Kerinci People who live in Sungai Penuh City. The article concludes that this kind of articulation has succeeded in placing indigenous peoples as the main actors of the initiative, where the government plays a supporting role in preserving the traditions. This article also recommends a synergistic relationship between the local government and the community to maintain the tradition through various events such as festivals, art performances, and other such projects. Penelitian ini mengkaji praktek Kenduri Sko sebagai salah satu tradisi lokal masyarakat Kerinci yang sudah jarang dilakukan. Sejak tahun 2017, Pemerintah Kota Sungai Penuh mengambil alih praktik tersebut sebagai ikon pariwisata yang disebut dengan Festival Kenduri Sko yang diadakan setiap tahun. Artikel ini berpendapat bahwa artikulasi adat istiadat, agama, dan pariwisata telah mendorong upaya pelestarian praktik adat melalui hubungan strategis antara pejabat pemerintah dan aktor lokal. Untuk membangun argumen ini, artikel ini mengelaborasi teori agama leluhur dan teori artikulasi. Artikel ini menggunakan metode kualitatif serta melakukan studi lapangan terhadap Masyarakat Kerinci yang berdomisili di Kota Sungai Penuh. Artikel ini menyimpulkan bahwa artikulasi semacam itu telah berhasil menempatkan masyarakat adat sebagai aktor utama dimana peran pemerintah sebagai aktor pendukung dalam pelestarian tradisi. Artikel ini juga merekomendasikan adanya hubungan yang sinergis antara pemerintah lokal dan masyarakat untuk mempertahankan tradisi luluhur melalui berbagai macam acara seperti festival, pergelaran seni dan semacamnya
DI ANTARA UGATAMEE DAN INJIL: TRANSFORMASI TEOLOGI-TEOLOGI PRIBUMI DI TANAH PAPUA I Ngurah Suryawan
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.137 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i1.182

Abstract

This article discusses the oral tradition in the form of indigenous theologies that are believed by many communities in Papua about their God as a life savior. Historically, The indigenous theology has an important role in the formation of knowledge about religion, customs, and culture that become orientation of their lives. Indigenous theologies in Papua is experiencing a transformation as the presence of religion. Tensions between indigenous theology and values of the gospel of Christianity particularly give serious impact on the religious orientation of the overall culture of the society. This article explore some teachings of indigenous theology, including the Ugatamee, Hai and Koreri along with their oral traditions and transformations that happened. Artikel ini mendiskusikan tradisi lisan berupa teologi-teologi pribumi yang diyakini oleh berbagai komunitas di tanah Papua tentang Tuhan mereka sebagai penyelamat kehidupan. Teologi pribumi tersebut dalam sejarahnya berperan penting dalam pembentukan pengetahuan tentang religi, adat, dan budaya yang menjadi orientasi kehidupan mereka. Teologi-teologi pribumi yang ada di tanah Papua mengalamai transformasi saat hadirnya agama. Ketegangan antara teologi pribumi dan nilai-nilai injil dalam agama Kristen khususnya berdampak serius terhadap orientasi religi sekaligus budaya masyarakat. Artikel ini mendalami beberapa ajaran teologi pribumi, diantaranya adalah Ugatamee, Hai dan Koreri beserta tradisi-tradisi lisannya dan transformasi-transformasi yang dialaminya.
POLA JARINGAN GURU MURID SYEIKH HAJI ALI IMRAN HASAN PONDOK PESANTREN NURUL YAQIN RINGAN – RINGAN DARI 1970-2010 Akmaluddin Mulis; Daniel Caniago
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2568.849 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i1.705

Abstract

Dalam sejarah pendidikan Pondok Pesantren, nama Syekh Ali Imran termasuk sebagai salah seorang tokoh yang mempelopori berkembangnya pendidikan Pondok Pesantren di Sumatera Barat yang berawal dari sebuah Surau tempat beibadahnya orang muslim. Syekh Ali Imran lahir pada hari rabu tanggal 30 Juni 1926 dalam kondisi Indonesia belum merdeka, sumbangsinya terhadap sejarah pendidikan Islam terutama pendidikan pondok pesatren di Sumatera Barat sangat banyak, terutama di pondok pesantren yang beliau dirikan yaitu Pondok Pesantren Nurul Yaqin ringan-ringan yang terletak di Ringan-ringan Pakandangan, padang pariaman Sumatera Barat. Sejarah perlu mencatat bagaimana corak, pola, dan jaringan guru murid Syekh Ali Imran di Pondok Pesantren Nurul Yaqin sehingga mampu berkembnag dan bertahan sampai saat ini dan hal ini merupakan salah satu bukti kontribusinya terhadap sejarah  pendidkian Islam di Sumatera Barat dan Indonesia terutama di pondok pesantren.
Preventing and Countering Violent Extremism: Lessons from Selected Muslim Countries Mohd Mizan Aslam
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.977 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3152

Abstract

This paper explains the efforts of three Muslim countries, namely Yemen, Saudi Arabia and Malaysia in preventing and fighting against violence from jihadist extremism groups. De-radicalization program is understood as a process of changing the attitudes of former prisoners of terrorism to reject radicalism as a religious or political ideology that destroys national stability, and affects political and economic stability and even threatens human life. By using a qualitative approach, it was found that many countries have taken a significant approaches in dealing with the threat of terrorism through de-radicalization programs, especially in Yemen, Saudi Arabia and Malaysia. Most de-radicalisation programs are based on education and recovery. Education has the character of correcting misconceptions of politics and religion in militant activities, while the recovery strategy is more about continuous monitoring after liberation. The deradicalisation module aims at assisting these contries in militant recovery activities and also support their personal development. This paper explains the theoretical methods used in the de-radicalization programs in these three Islamic countries in the rehabilitation program. These countries use a set of tools that considers relevant factors such as holistic personality, self-reflection, social skills, criminal behavior, spirituality, security, and psychology.Tulisan ini menjelaskan bagaimana upaya pencegahan dan perlawanan terhadap kekerasan kelompok ekrimisme Jihadis berdasarkan pengalaman 3 negara Muslim yaitu Yemen, Saudi Arabia dan Malaysia.   Program deradikalisasi dipahami sebagai proses mengubah perilaku tahanan terrorisme untuk menolak radikalisme sebagai ideologi agama atau politik yang merusak stabilitas nasional, dan berpengaruh terhadap kestabilan politik dan ekonomi dan bahkan ancaman kepada kehidupan manusia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa banyak negara telah mengambil pendekatan yang signifikan dalam menghadapi ancaman terrorisme melalui program deradikalisasi terutama di Yemen, Saudi Arabia dan Malaysia. Kebanyakkan program deradikalisasi berasaskan pendidikan dan pemulihan. Pendidikan bersifat memperbaiki salah faham konsep berpolitik dan beragama dalam aktiviti militan, manakala strategi pemulihan lebih kepada pemantauan secara berterusan selepas pembebasan. Modul deradikalisasi bertujuan membantu kerajaan dalam kegiatan pemulihan militan dan juga membantu pembinaan personaliti mereka. Tulisan ini juga menjelaskan teoritikal metod yang digunakan dalam program deradikalisasi di tiga buah negara Islam ini dalam program rehabilitasi dengan menggunakan pendekatan personaliti holistik, pembinaan kendiri, skil-sosial, penjenayahan, kerohanian, toleransi, keselamatan dan psikologi.
Social Movement of The Committee for The Enforcement of Islamic Sharia (KPSI) in Strengthening Islamic Values in West Sumatera Husnul Qolbi; Aidinil Zetra; Asrinaldi Asrinaldi; Mhd. Fajri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 8, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.42 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v8i1.5389

Abstract

This study describes the social movement of the West Sumatra Islamic Shari'a Enforcement Committee (KPSI) in the strengthening of Islamic values in West Sumatra for the 2014-2019. This period follow after the activities carried out by the West Sumatra KPSI after the rejection of the Lippo Superblock construction in 2013. This uses qualitative research with descriptive analysis with interview and documentation data collection methods. This research uses Islamic social movement theory and arrived at some important findings from this research. First, the mobilization of KPSI in strengthening Islamic values is not based on feelings of disappointment or dissatisfaction but as a form of concern towards the decadence of society. Second, political opportunities led KPSI West Sumatra to conduct da'wah (Islamic propogation). Third, the framing in which KPSI West Sumatra enganged in discourse became the target of mobilization in social movements based on the Qur'an and Sunnah. Fourth, the West Sumatran KPSI alliance or network has many alliances or networks to strengthen its movement.Penelitian ini mendeskripsikan gerakan sosial Komite Penegakan Syari'at Islam (KPSI) Sumbar dalam penguatan nilai-nilai Islam di Sumbar Tahun 2014-2019. Periode ini mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh KPSI Sumbar pasca penolakan pembangunan Superblok Lippo pada tahun 2013. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif dengan metode pengumpulan data wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori gerakan sosial Islam dan sampai pada beberapa temuan penting dari penelitian ini. Pertama, mobilisasi KPSI dalam penguatan nilai-nilai Islam tidak didasarkan pada perasaan kecewa atau tidak puas tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap dekadensi masyarakat. Kedua, peluang politik mengantarkan KPSI Sumbar melakukan dakwah. Ketiga, framing di mana KPSI Sumbar berwacana menjadi sasaran mobilisasi dalam gerakan-gerakan sosial yang berbasis Al-Qur'an dan As-Sunnah. Keempat, aliansi atau jaringan KPSI Sumbar memiliki banyak aliansi atau jaringan untuk memperkuat gerakannya.
PERNIKAHAN LINTAS AGAMA DI KECAMATAN AEK NATAS KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA PROVINSI SUMATERA UTARA Siti Robiah
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.7 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.189

Abstract

The background of writer to undertake this work is the incompatibility of wedding implementation which took place in the District Aek Natas Labuhan Batu Utara regency. Implementation of their marriage were affected their marriage, because the purposes of marriage did not match the qualifying criteria of marriage and they tend to choose partners who has different beliefs with them. According to that, the writer wanted to know about the cross religion marriage that occurred in the district of Aek Natas. The form of the research is a field research using qualitative data, that a study based on the meaning contained in each of symptoms or existing events to collect data and analyze it on the fields. The source of data in this study are the perpetrators of marriage across religion, society, and community leaders concerned on research were called the key informants to assist authors in data gathering. In data gathering, the method that author used is observation and interview. From the research it can be concluded that the factors causing the interfaith marriage is due to a sense of love and affection, economic factors, promiscuity and the lack of religious education from parents to children, and the resulting the negative impact on the family such as a gap of the relationship, especially with parents, to feel isolated by their communities, the unrecorded marriage by the government, and according to the law of religion, the marriage is haram. The positive effect is the existence of religious tolerance in their households and increasing knowledge about different religious. Fenomena pernikahan yang terjadi di Kecamatan Aek Natas Kabupaten Labuhan Batu Utara yang mengakibatkan pengaruh yang berdampak pada pernikahan mereka, karena pernikahan yang mereka laksanakan tidak sesuai dengan kriteria syarat pernikahan dan mereka cenderung memilih pasangan yang berbeda keyakinan dengan mereka. Berdasarkan hal tersebut penulis ingin mengetahui tentang pernikahan lintas agama yang terjadi di Kecamatan Aek Natas. Dari penelitian yang penulis lakukan dapat diambil kesimpulan bahwa faktor penyebab pernikahan lintas agama adalah dikarenakan rasa cinta dan kasih sayang, faktor ekonomi, pergaulan bebas dan kurangnya pendidikan agama dari orang tua terhadap anak, dan mengakibatkan dampak dari pernikahan tersebut adalah dampak negatifnya yaitu terhadap keluarga terjadi kesenjangan dalam berhubungan dengan keluarga terutama orangtua, terhadap masyarakat merasa terisolasi dengan mereka, terhadap negara pernikahannya tidak diakui, dan terhadap agama hukum pernikahannya adalah haram. Dampak positifnya adalah adanya sikap toleransi dalam beragama dalam rumah tangga mereka dan bertambahnya ilmu tentang agama yang berlainan dengannya.

Page 3 of 22 | Total Record : 216