cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 216 Documents
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL MELALUI UNGKAPAN BIJAK MINANGKABAU Darul - Ilmi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1987.949 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i1.7

Abstract

Local wisdom in Minangkabau culture with the philosophy of “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah” is the life guidance of Minangkabau people which is still used in social society, social ethics and even in education. The local wisdom of Minangkabau culture especially through several worthy words has value of character building which has been developing in natinal education system. UU no.20 in 2003 which discusses about national education system has regulated that the function of national education is to develop national culture based on local culture. If the local culture is promoted, so the national culture will be enriched with various local cultures but still can be in one vision. That is the meaning of Bhineka Tunggal Ika. This educational philosophy gives colours to the character building in order to reach good character of young generation. This study found the values and characters from Minangkabau proverb such as: faith and god-fearing, dicipline, tolerance, responsible, humble, and not arrogant, indipendence, hard-work, communicative, trust worthy, friendly, national spirit, creative, democtratic, and also care to the environment. Kearifan lokal dalam adat Minangkabau dengan filosofisnya “Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” merupakan pedoman hidup orang Minangkabau yang saat ini masih dipegangi dalam setiap pergaulan sosial, etika pergaulan bahkan pendidikan.Kearifan lokal adat Minangkabau terutama melalui beberapa ungkapan bijaknya memiliki nilai-nilai acuan pendidikan karakter yang tengah dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional telah mengatur bahwa fungsi pendidikan nasional itu adalah mengembangkan budaya nasional berdasarkan budaya lokal. Jika budaya lokal ini terangkat maka kebudayaan nasional akan semakin kaya dengan keberagaman namun tetap satu itulah yang diberikan makna dengan Bhinneka tuggal Ika. Filosofis pendidikan ini memberikan warna terhadap pendidikan karakter, agar perwujudan karakter anak bangsa ini dapat dicapai. Penelitian ini menemukan nilai-nilai dan karakter-karakter dari ungkapan-ungkapan bijak adat Minangkabau antara lain: Iman dan takwa, disiplin, toleransi, tanggung jawab rendah hati dan tidak sombong, mandiri, kerja keras, komunikatif, amanah, bersahabat, semangat kebangsaan, kreatif, demokratis serta peduli lingkungan.
TRANSFORMASI PENDIDIKAN ISLAM DI JAMBI: DARI MADRASAH KE PESANTREN Ali Muzakir
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.893 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.212

Abstract

Traditional Islamic education model does not only teach Islam but also provides practical knowledge for modern life. The desire is a great opportunity, because Islamic education in Indonesia has diverse backgrounds, systems, and nomenclature, such as madrassas, boarding schools, rangkang, meunasah, and surau. The model of madrasah education and pesantren seems to be the most viable pedestal. Particularly the pesantren system, rooted in Javanese tradition, is the most widely influenced model of Islamic education in Indonesia. This paper discusses the struggle of madrasah and pesantren in Jambi, with a social-historical approach. The focus of research on some of the most established madrassas in Jambi, which became the forerunner of other madrasah development in Jambi Province. The initial characteristics of Islamic education institutions in Jambi are madrasah. In practice, Madrasahs in Jambi have developed a model of traditional Islamic education, characterized by the study of yellow books, the figures of the master teachers (kyai), students, and boarding schools. The characteristics are similar to the pesantren in Java; minus mosque. In the development, there is a sense of imbalance in responding to changes in the national education system, especially those projected by the Ministry of Religious Affairs. Model pendidikan Islam tradisional tidak hanya mengajarkan Islam tetapi juga membekali ilmu praktis untuk kehidupan modern. Keinginan tersebut menjadi peluang besar, karena pendidikan Islam di Indonesia memiliki latar belakang sejarah, sistem, dan nomenklatur yang beragam, seperti madrasah, pondok pesantren, rangkang, meunasah, dan surau. Model pendidikan madrasah dan pesantren tampaknya menjadi tumpuan yang paling viable. Terutama sistem pesantren, yang berakar pada tradisi Jawa, adalah paling luas mempengaruhi model pendidikan Islam di Indonesia. Tulisan ini membahas pergulatan madrasah dan pesantren di Kota Jambi, dengan pendekatan sejarah-sosial. Fokus penelitian pada beberapa madrasah yang didirikan di Kota Jambi, yang menjadi cikal-bakal pengembangan madrasah lainnya di Provinsi Jambi. Karakteristik awal lembaga pendidikan Islam di Jambi adalah madrasah. Dalam praktiknya, madrasah-madrasah di Jambi mengembangkan model pendidikan Islam tradisional, yang bercirikan kajian kitab kuning, figur tuan guru (kyai), murid, dan pondok. Karakteristik tersebut mirip dengan pesantren di Jawa, tetapi minus masjid. Dalam perkembangannya, terjadi kegamangan dalam merespon perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan nasional, khususnya yang diproyeksikan oleh Kementerian Agama.
KONTRIBUSI SASTRA ARAB TERHADAP PERKEMBANGAN PERADABAN BARAT Bobbi Aidi Rahman
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.218 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i2.703

Abstract

Peradaban Islam telah memberikan peran yang besar terhadap dunia, mengeluarkan dunia dari kegelapan dan kebodohan, penyimpangan dan kebinasaan akhlak, lalu memberikan nilai yang menguasai dunia sebelum Islam dengan berbagai macam ikatan. Peradaban Islam berlandaskan pada al-Qur‘an dan Hadits dua dasar fundamental penegak peradaban Islam tanpa membedakan bentuk, jenis, dan agama. Pengaruh Islam terhadap Eropa, khususnya dalam aspek ilmu pengetahuan telah berlangsung sejak abad ke-12. Pada abad ke-14 gerakan kebangkitan muncul kembali (renaissance). Pengaruh kebudayaan Islam terutama meluasnya di Eropa melalui masyarakat Spanyol (711-1492 M) dan Sicilia (825-1091M), dan juga melalui Perang Salib. Dengan demikian, kehadiran Islam di Spanyol tersebut memberikan bahan bandingan bagi orang-orang Eropa. Pengaruh Islam terhadap Eropa dapat dilihat dari aspek kontribusi sastra Arab terhadap Eropa, baik itu berupa bahasa maupun karya sastra. Pertama, dibidang bahasa, masih terdapat beberapa kota besar yang diberi nama Arab, seperti Jabal Tarik (Spanyol: Gibraltar), Madinah Salim (Spanyol: Medinacelli) Kedua, dibidang sastra, baik puisi maupun prosa, dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa Arab ke bahasa Spanyol, Urdu, Parsi dan sebagainya.
Strengthening Islamic Environmental Awareness through Exploring Poetry as a Learning Resource in Social Studies Mutiani Mutiani; Rusma Noortyani; Tetep Tetep; Jumriani Jumriani; Triani Widyanti
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.059 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3387

Abstract

This article aims to describe how an anthropocentric perspective can lead to an ethical solution to resolving the ecological crisis. The ecological crisis should be seen as a misrepresentation of the role of human beings in exceeding the limits of environmental exploitation as mandated in Islam. Therefore, education should be used in offering solutions and innovations in the various scholarly disciplines, such as social studies. One innovation is the use of poetry as a learning resource for social studies. Poetry exploration is devoted to utilizing the value of local poetry. A qualitative approach is used to describe a value-based social studies learning concept. This study focuses on the poem of Huma Yang Perih, which describes agricultural conditions in South Kalimantan that have begun to be abandoned by farmers. Even though the poem was published in 1978, this condition has persisted to this day. Through Huma Yang Perih, it is hoped that we can reflect on the importance of human continuity at all times, so that humanity no longer underestimate the changing lifestyles rural people and their migration to cities. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pandangan antroposentrisme sebagai cara etis untuk menuntaskan krisis ekologi. Krisis ekologi, patut dipandang sebagai bentuk kesalahan peran manusia dalam melampaui batas eskploitasi lingkungan sebagaimana diamanatkan dalam Islam. Oleh karena itu, diperlukan ruang edukasi sebagai satu solusi dan inovasi di bidang pembelajaran, seperti IPS. Satu inovasi yang dimaksudkan adalah pemanfaatan puisi sebagai sumber belajar IPS. Eksplorasi puisi dikhususkan dengan pemanfaatan nilai dari puisi lokal. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan makna yang relevan dengan konsep pembelajaran IPS berbasis nilai. Hasil penelitian menjelaskan puisi Huma Yang Perih yang menggambarkan kondisi pertanian di Kalimantan Selatan yang sudah mulai ditinggalkan petani. Meski puisi tersebut terbit tahun 1978, kondisi tersebut tetap bertahan hingga saat ini. Melalui Huma Yang Perih, diharapkan kita bisa merefleksikan betapa pentingnya kesinambungan manusia setiap saat. Sehingga masyarakat tidak lagi menganggap remeh untuk mengubah gaya hidup pedesaan dan bermigrasi ke perkotaan
ISLAMIC FUNDAMENTALIST AND NATIONALISM (STUDY AT DARUL MA’RIFAT ISLAMIC BOARDING SCHOOL, KEDIRI - EAST JAVA) Reza Fahmi Haji Abdurrachim
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.515 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i1.113

Abstract

The Islamic Boarding School is always connected to the institution which produces the rebellions behavior and building radicalism in many Muslim countries, i.e Pakistan, Afghanistan, and Indonesia. The radicalism of Islam is always called Islamic Fundamentalist. The purposes of the research are (1) to describe the Islamic values which has been taught at Islamic Boarding School (especially at Darul Ma’rifat Islamic Boarding School at Kediri, East Java), (2) to describe the nationalism which has been taught at Darul Ma’rifat Islamic Boarding School at Kediri, East Java), (3) to describe the relation between Islamic Values which has been taught with nationalism of the students (santri) at Darul Ma’rifat Islamic Boarding School at Kediri, East Java. The research was based on quantitative studies. There were twelve thousand two hundred twenty seven pupils at Darul Ma’rifat Islamic Boarding School Kediri, East Java; however, only a few pupils has been involved in the research; three hundred and two pupils as a respondent. The data had been collected by observation, psychological scale, and documentation. The research found that there were correlation between Islamic values and Nationalism. So, although the pupils had been taught with the Islamic Values, the stick on the nationalism Islamic belief is very important to build peace and harmony for Indonesia. Then, they never thought that Islamic Values should be implemented without tolerance and respect to another religious belief. Penelitian ini didasari beberapa permasalahan; banyaknya kritik dan stigma sosial yang diberikan terhadap pesantren. Sebagai misalan, pesanteren selalunya dipersalahkan sebagai produsen terorist, mengajarkan ide Islam fundamentalis dan juga tak pernah membangunkan pemikiran nasionalisme kepada para pelajar (santri). Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian di Pondok Pesantern Moderen Darul Ma’rifat, Kediri Jawa Timur. Populasi dalam penelitian adalah seluruh santri di Ponpes tersebut. Sungguhpun demikian hanya 302 orang santri yang terlibat dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan skala psikologi. Data dianalisa dengan model pendekatan statistik: korelasi pearson. Hasil : (1) Rata-rata sebaran dari pemikiran tentang fundamentalis para santri tergolong rendah. (2) Rata-rata sebaran dari pemikiran tentang nasionalisme yang dimiliki oleh para santri tergolong tinggi. (3) Ada hubungan antara pemikiran fundamentalis dan nasionalis di kalangan para santri. Tetapi pemikiran tentang fundamentalisme Islam hanya dipersepsikan bagaimana menjadi muslim yang baik dan berpegamng teguh pada nilai-nilai Islam. Kemudian para santri berfikir bahwa nasionalisme adalah sangat penting dalam masyarakat kita yang beragam suku bangsa dan membangun perdamaian –harmoni.
Causes of School Dropouts among Congolese Muslim Refugees in Katwe, Kampala, Uganda Mwisha Chinyabuuma; Amika A Wardana; Muhammad Abbas
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.963 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3233

Abstract

Schools dropout is being a noticeable problem in Eastern Africa.  The school dropout fundamentally affected the future of children because it usually leads them to early marriage, drug use, hard work labor, and prostitution as the school dropout is being a serious issue in mostly Eastern Africa. This study is aimed at investigating factors contributing to the school dropout among Congolese Muslim refugee in Katwe, a village in Kampala.  Both qualitative and quantitative approach was used in this study in order to find out how language barriers and early marriages causes dropouts among Congolese Muslim refugees in Katwe; to examine how hidden costs at school causes dropouts among Congolese Muslim refugees in Katwe; and to determine the relationship between the causes of school dropout and the actual school dropout. The results of the current research show that 30% of respondents agree that language barriers are one of the most prevalent factors causes of school dropout in Katwe. The instable school fees and earlier marriage also were found as the contributed cause of school dropout. Alternative hypothesis that stated “there is a relationship between causes of school dropout and actual dropout among Congolese Muslim refugees in Katwe, Kampala, Uganda was adopted.Saat ini, putus sekolah merupakan salah satu permasalahan pelajar di wilayah Afrika Timur. Umumnya, pelajar yang putus sekolah adalah mereka yang miskin dan/atau yatim piatu serta tidak memiliki wali. Putus sekolah secara fundamental mempengaruhi masa depan anak karena situasi ini cenderung mendorong anak ke pernikahan dini, penggunaan obat-obatan terlarang, pekerjaan kasar, dan prostitusi. Berangkat dari fakta bahwa banyak pengungsi perkotaan Kongo yang putus sekolah, kami menyelidiki penyebab kondisi itu. Khususnya di Katwe, sebuah desa di Kampala, hambatan bahasa dan absennya biaya sekolah yang tetap di sekolah-sekolah terdekat diasumsikan sebagai penyebab utama kondisi putus sekolah para siswa pengungsi perkotaan Kongo di Katwe. Penelitian ini bertujuan untuk; mengetahui bagaimana hambatan bahasa dan pernikahan dini menyebabkan putus sekolah di antara pengungsi perkotaan Kongo di Katwe; untuk menjelaskan bagaimana biaya tersembunyi di sekolah menyebabkan putus sekolah di antara pengungsi perkotaan Kongo di Katwe; dan untuk menentukan hubungan antara penyebab putus sekolah di Katwe dengan putus sekolah yang sebenarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan sebesar 30% responden setuju bahwa hambatan bahasa adalah penyebab utama putus sekolah bagi pengungsi perkotaan Kongo di desa Katwe. Sebagai alternatif, penelitian ini mengadopsi hipotesis yang menyatakan bahwa “ada hubungan antara penyebab putus sekolah dan putus sekolah yang sebenarnya di antara pengungsi perkotaan Kongo di Katwe, Kampala, Uganda.
The Digital Public Sphere and Muslim Piety in Aceh: Rethinking Habermas’ Conception of Communicative Action Sufri Eka Bhakti; Saifuddin Dhuhri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 8, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.719 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v8i1.5462

Abstract

This study offers insights into the transformation of social media platforms as an alternative to the digital public sphere for Muslim society in Aceh. The communicative action theory by Habermas is used as approach to respond to this challenge. Descriptive quantitative analyses were used to expose religious discourse about Islam amongst young Muslims in Aceh. The results show that WhatsApp has proven to be the most popular among social media platforms. WhatsApp has functioned as a new public sphere for Muslim society in Aceh and has evolved into an essential part of mediated Islamic discourse in the digital era. In this regard, WhatsApp has created a universal public sphere, available to Muslim society as dialogic communication in Aceh. This research concludes that the Muslims in Aceh are not merely users of WhatsApp. They can also be digital preachers who can build individual narratives as a part of the religious struggle to increase their piety.Kajian ini dilakukan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana transformasi platform media sosial sebagai alternatif ruang publik digital pada masyarakat Muslim di Aceh. Teori tindakan komunikatif Habermas digunakan sebagai pendekatan untuk menjawab tantangan ini. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengekspos diskursus keagamaan Islam di kalangan generasi muda Muslim di Aceh melalui lanskap media sosial baru yang lebih kontemporer. Hasilnya menunjukkan bahwa WhatsApp telah terbukti menjadi media yang paling populer di antara banyak platform media sosial. WhatsApp telah memberikan manfaat sebagai alternatif ruang publik baru bagi masyarakat Muslim di Aceh dan telah berkembang menjadi bagian penting dalam perkembangan diskursus keislaman di era digital. Dalam hal ini, WhatsApp telah menciptakan ruang publik yang universal, tersedia bagi Muslim sebagai satu bentuk komunikasi dialogis di Aceh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa umat Islam di Aceh bukan hanya pengguna WhatsApp saja. Namun, mereka juga menjadi penceramah digital yang dapat membangun narasi individu yang dipilih sebagai bagian dari perjuangan dakwah untuk meningkatkan ketakwaannya
SOME NOTES ON RELIGIOUS RADICALIZATION AND TERRORISM IN INDONESIA Donny Syofyan
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.896 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.111

Abstract

Terrorism should not be a security issue in any part of the world anymore. It truly goes out of mainstream, namely intellectual and cultural dimensions. The dimensions are non security issues, critical education, religious depersonalization, the needs for ambassadors, reconciling liberal and fundamental Muslims and cyber religion. These dimensions constitute major aspects to be viewed when it comes to fathoming religious radicalization and terrorism across the country. Various terrorist attacks have taken place across Indonesia in the past few years. Different approaches ranging from security to cultural modes have been applied. Yet, expected outcome, which is peace, remains far from public hope. Rather than spending physical and financial resources, intellectual approach is seriously pressing. This article attempts to look into the very nature of religious radicalization leading to terrorist acts across the country Terorisme semestinya tidak lagi menjadi masalah keamanan di belahan dunia manapun. Hal tersebut berada dalam sudut pandang di luar mainstrem, yaitu dimensi intelektual dan budaya. Dimensi-dimensi tersebut di antaranya; masalah non keamanan, pendidikan kritis, depersonalisasi agama, kebutuhan akan duta besar, mendamaikan umat Islam yang liberal dan fundamental dan fenomena agama maya. Dimensi-dimensi ini merupakan aspek pembuktian utama yang harus dilihat ketika ingin memahamani radikalisasi agama dan terorisme di seluruh negeri. Berbagai serangan teroris telah terjadi di seluruh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pendekatan yang berbeda mulai dari keamanan hingga budaya telah diterapkan, namun hasil yang diharapkan, yaitu perdamaian, masih jauh dari harapan masyarakat. Daripada menghabiskan sumber daya fisik dan keuangan, akan lebih baik menekankan pendekatan intelektual secara serius. Artikel ini mencoba untuk melihat dimensi intelektual dan kebudayaan dalam mencari solusi dari dampak negatif radikalisasi agama bertolak dari pengalaman catatan-catatan tentang terorisme dan radikalisme agama di Indonesia.
KONVENSYEN PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI TERHADAP WANITA (CEDAW) : SATU TINJAUAN AWAL Nursholeha Muh Salleh; Dara Maulina Binti Jalaluddin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.244 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i1.504

Abstract

Penulisan ini membincangkan tentang gagasan wanita dalam CEDAW berdasarkan analisis fiqh. Beberapa unsur feminisma telah mendominasi dalam draft CEDAW sehingga terdapat beberapa dari pasal-pasal CEDAW yang bertentangan dengan syariat Islam. Feminisma adalah satu agenda Barat yang bertujuan untuk mengakhiri penindasan yang dialami oleh wanita, iaitu persamaan dan kebebasan status serta peran diantara lelaki dan perempuan di segala hal kehidupan. Walaupun kefahaman ini berkembang di Barat, ia telah mempengaruhi cara berfikir umat Islam melalui serangan-serangan pemikiran yang menuntut kebebasan mutlak. Metodologi kajian menggunakan analisis kepustakaan dengan berpandukan sumber daripada perpustakaan dan capaian maya. Hasil kajian menunjukkan bahawa wujudnya pengaruh feminisma kepada para intelektual muslimah. Kajian ini juga mendapati bahawa dalam mengaplikasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam pasal-pasal CEDAW tersebut harus dimaknai dalam konteks budaya, agama dan negara masing-masing kerana tidak dapat dimaknai secara mutlak tanpa batasan
New Concept of Ignorance: An Islamic Epistemological Approach to The Story of Moses as Relevant Reference for Contemporary Ulama D.I. Ansusa Putra
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 5, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.526 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v5i2.2339

Abstract

The understanding of knowledge in the Islamic literature is more focus on the conception of knowledge itself, such as the epistemology of ma'rifah al-Ghazali, the epistemology of Islamic science Syed Nuqaib al-Attas, and the epistemology of the Qur’an Fazlur Rahman. This article is different from the previous concept that looks at knowledge from its antonym, Ignorance (Jahiliyyah). Ignorance is the important topic of socio-religious in the Qur’an which creates new understanding in Islamic epistemological construction. This article argues that in the Qur’an antonimical perspective, Ignorance is the antonym of the word "Islam". Here, Islam has not only seen as a religious institution. Islam is the knowledge itself which full of goodness and good perspective. While Ignorance is the absence of knowledge which at the same time as a source of everything contrary to Islam as knowledge. This statement would affect the epistemological construction of science as a whole and creates a new concept in seeing Islam and everything related to it. This article analyzes the verses of the Moses story in the Qur’an through what author call the antonymy interpretation method. It mean, interpreting the Qur’an about the knowledge through the antonym of the knowledge itself, that is nescience, ignorance and idiocy. The results of this study do not emplace the ulama as guardians of religious authority as understood today, but the ulama are groups of people who have capabilities in the structuring of Islam as knowledge.Pemahaman pengetahuan dalam khazanah Islam lebih menitikberatkan pada konsepsi pengetahuan itu sendiri, seperti epistemologi ma’rifah al-Ghazali, epistemologi keilmuan Islam Syed Nuqaib al-Attas, dan epistemologi al-Qur’an Fazlur Rahman. Berbeda dari sebelumnya, artikel ini melihat pengetahuan dari antonimnya yaitu Ignorance (Jahiliyyah). Ignorance merupakan topic sosio-religi penting dalam the al-Qur’an yang melahirkan pemahaman baru dalam bangunan epistemologi Islam. Artikel ini berargumen bahwa dalam perspektif antonimimitas al-Qur’an, Ignorance adalah antonym dari kata Islam. Di sini, Islam tidak hanya dipandang sebagai institusi agama. Islam adalah pengetahuan itu sendiri yang penuh kebaikan dan cara pandang yang baik. Sebaliknya, Ignorance merupakan ketiadaan pengetahuan yang di saat yang sama merupakan sumber dari segala perilaku yang bertentangan dengan Islam pengetahuan. Pernyataan ini akan mempengaruhi bangunan epistemologi ilmu secara keseluruhan dan melahirkan konsep baru dalam melihat Islam dan segala yang berhubungan dengannya. Artikel ini menganalisis ayat-ayat kisah Musa melalui sebuah metode penafsiran lawan kata atau yang penulis sebut sebagai metode penafsiran antonimi. Artinya, menafsirkan al-Qur’an mengenai pengetahuan melalui lawan kata dari pengetahuan itu, yaitu ketidaktahuan, ignoran dan kebodohan. Hasil penelitian ini tidak menempatkan ulama sebagai penjaga otoritas agama sebagaimana yang dipahami saat ini, tetapi ulama adalah kelompok masyarakat yang punya kapabilitas dalam strukturalisasi Islam sebagai pengetahuan. 

Page 2 of 22 | Total Record : 216