cover
Contact Name
Erna Meiliana
Contact Email
ernameiliana@trisakti.ac.id
Phone
+6287840093703
Journal Mail Official
jurnal_dimensi@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Jl.Kyai Tapa No.1 Grogol Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 25275666     EISSN : 25497782     DOI : https://doi.org/10.25105/dim
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain diterbitkan oleh Fakultas seni Rupa dan Desain. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu Februari dan September. Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal bidang seni dan desain yang terbilang aktif sejak pertama kali diterbitkan dari tahun 2003 sampai sekarang. Menjadi salah satu jurnal seni dan desain yang banyak diminati oleh para penulis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 16 No. 2 (2020)" : 7 Documents clear
PENERAPAN ORNAMEN KHAS BETAWI DALAM INTERIOR MASJID RAYA KH. HASYIM ASYARI JAKARTA BARAT Ayesya Ainun Nabila; Ayu Safira Septiana; Githa Nabila; Resky Annisa Damayanti
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.907 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7052

Abstract

Abstract The Mosque is the buildings of worship for Muslims who can accommodate the worshipers. In the Mosque’s interior design is identical to the use of typical Middle Eastern ornaments such as calligraphy, but over time the Mosques in Indonesia have begun to apply the special ornaments of the area where the Mosque is located, for example the Great Mosque KH Hasyim Asyari which applying Betawi ornaments to the exterior and interior. Betawi ornaments themselves are identical applied to Betawi traditional houses, for example Gigi Balang ornaments that are applied to the house’s lisplang, and also Tapak Dara ornaments that are applied to railing porch railings. Nowadays the application of Betawi ornaments is not only in traditional houses but also in public buildings such as Mosques. The purpose of this research is to discuss the application of Betawi ornaments and the meanings contained in the ornaments. The results of this study are the application of Betawi special ornaments on the interior of the Great Mosque K.H Hasyim Asyari where it is placed on the walls, railings, and pillars of the Mosque. The typical Betawi ornaments that are applied are the Gigi Balang ornament, Tapak Dara, and also the shape of the Betawi traditional house roof which is designed in such a way that it becomes an ornament applied to the Mosque’s pulpit walls. It can be concluded that the application of Betawi special ornaments can not only be applied to traditional houses but also exist in other buildings with modifications in such a way but do not leave the meaning contained in the ornaments. AbstrakMasjid merupakan bangunan tempat beribadah bagi umat islam yang dapat menampung jamaah. Pada desain interior Masjid identik dengan penggunaan ornamen khas Timur Tengah seperti misalnya kaligrafi, namun seiring berjalannya waktu Masjid-Masjid yang berada di Indonesia sudah mulai menerapkan ornamen-ornamen khas daerah tempat Masjid itu berada, sebagai contoh Masjid Raya K.H Hasyim Asyari yang menerapkan ornamen Betawi pada eksterior dan interiornya. Ornamen khas Betawi sendiri identik diterapkan pada rumah adat Betawi misalnya ornamen Gigi Balang yang diterapkan pada lisplang rumah, dan juga ornamen Tapak Dara yang diterapkan pada railing pagar teras rumah. Kini penerapan ornamen Betawi tidak hanya pada rumah adat tetapi juga pada bangunan-bangunan umum seperti pada Masjid. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas mengenai penerapan ornamen khas Betawi dan juga makna yang terkandung dalam ornamen tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah adanya penerapan ornamen khas Betawi pada interior Masjid Raya K.H Hasyim Asyari di mana peletakannya berada pada dinding, railing, dan pilar Masjid. Ornamen khas Betawi yang diterapkan yaitu ornamen Gigi Balang, Tapak Dara, dan juga bentuk atap rumah adat Betawi yang di desain sedemikian rupa sehingga menjadi ornamen yang diterapkan pada bagian dinding mimbar masjid. Dapat disimpulkan bahwa penerapan ornamen khas Betawi tidak hanya dapat diterapkan pada rumah adat tetapi juga eksis diterapkan di bangunan lain dengan modifikasi sedemikian rupa namun tidak meninggalkan makna yang terkandung di dalam ornamen tersebut
KAJIAN DESAIN INTERIOR PADA BANGUNAN CAGAR BUDAYA Studi Kasus: Bioskop Metropole XXI Jakarta Ade Ariani Sari Fajarwati; Yunida Sofiana; Silvia Meliana; Octaviana Sylvia Carolin
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.367 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7053

Abstract

AbstractHeritage building is recorder history in the past for better life in the future and need conservation. The Metropole XXI cinema as a landmark building in the Cikini area, Jakarta, has been listed as A class heritage building since 1993. It was established as public entertainment space and the oldest cinema in Indonesia since it was built in 1949. The Metropole XXI architecture has the Art Deco style, as a sign of transition to the end of the Dutch colonial era. As a heritage building, it is suspected that interior design in this site is harmony with its architectural style. Research is needed to review the interior design styles found in cultural heritage buildings. This study uses qualitative method, by collecting field observation data, literature review and visual data. The data obtained were then analyzed to prove the engagement between interior design and architectural styles of cultural heritage buildings with a case study at the Metropole XXI Jakarta cinema. AbstrakBangunan cagar budaya adalah situs yang mencatat sejarah manusia di masa lalu untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan dan membutuhkan konservasi. Bioskop Metropole XXI sebagai bangunan tengara di daerah Cikini, Jakarta, telah terdaftar sebagai gedung warisan kelas A sejak tahun 1993. Bioskop ini didirikan sebagai ruang hiburan publik dan bioskop tertua di Jakarta sejak dibangun pada tahun 1949. Arsitektur Metropole XXI memiliki gaya Art Deco, sebagai tanda transisi ke akhir era kolonial Belanda. Sebagai bangunan peninggalan, diduga desain interior di situs ini selaras dengan gaya arsitekturnya. Penelitian diperlukan untuk meninjau gaya desain interior yang ditemukan di bangunan cagar budaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan mengumpulkan data observasi lapangan, tinjauan pustaka dan data visual. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk membuktikan keterlibatan antara desain interior dan gaya arsitektur bangunan cagar budaya dengan studi kasus di bioskop Metropole XXI Jakarta.
ANALISA MAKNA PADA ESTETIKA KAIN TENUN GOTIA DI DESA ADAT TENGANAN PAGERINGSINGAN I Wayan Dedy Prayatna
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.015 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7054

Abstract

Abstrak  Weaving is a society tradition to meet the needs of ceremonies and as a creative insdustry. Gotia cloth is a scared cloth, which is used in every ceremony in the Tradisional Village of Tenganan. Gotia fabric has a special aesthetic, namely squer and rectangular motifs arising from the merging of black lines white horizontal and vertical directions with a 2.1.2.1 structure with a withebase that make its uniqueness. The uniquenessof the colors and motifs of the gotia woven cloth contains the values and philosophicial significance for the Tenganan Pageringsingan Traditional village Traditional village of Tenganan pageringsingan. The problem under this study is how the meaning contained in the aesthetic code of gotya woven pabric. This study uses a descriptions that explain the subject of research in the from of written words from the speakers and obseserved and bevavior. Data collection techniquis by interview, observation and documentation. The resulth showed that, the black and white colors in gotia cloth had connotations coantaining spiritual values which could be represented as natural balance or “Rwa Bhineda”. In Addition, the color of the concept of rwa Bhineda in Gotia woven cloth is also found in the semitric lines that intersect with eahe ch other to help the + motif called the Tapak Dara by the people in Tenganan Adat Village. Tampak Dara has the connotation of interpreting the balance in which everyting good in home yard always centered in the middle. Tampak Dara in a symbol of the union of two defferent things in life or rwa Bhineda.AbstrakMenenun merupakan tradisi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan upacara dan sebagai industri kreatif. Kain Gotia merupakan kain sakral, yang digunakan setiap upacara di desa adat Tenganan.  Kain Gotia memiliki estetika khusus, yaitu motif persegi empat dan persegi panjang yang timbul akibat penggabungan antara garis berwarna hitam dengan arah horizontal dan vertikal dengan struktur 2.1.2.1 dengan di dasari warna putih yang menjadikan keunikannya tersendiri. Keunikan pada warna dan motif pada kain tenu gotia mengandung nilai-nilai dan makna filosofi bagi masyarakat desa adat Tenganan Pageringsingan. Penelitian ini bertujuan menganalisa makna yang Terkandung dalam kain tenun gotya di desa adat tenganan pageringsingan. Adapun masalah yang diteliti adalah Bagaimana Makna yang terkadung dalam kode estetika kain tenun gotya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui uraian-uraian yang menjelaskan subjek penelitian baik berupa kata-kata ungkapan tertulis dari narasumber dan perilaku yang diamati. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Warna hitam dan putih dalam kain gotia memiliki konotasi mengandung nilai sepiritual yang dapat di representasikan sebagai keseimbangan alam atau rwa bineda. Selaim warna konsep Rwa Bhineda dalam kain tenun Gotia juga terdapat pada garis semitris yzng bersilingan membantuk motif ( + ) yang di sebut dengan Tampak Dara oleh masyarakat di Desa Adat Tenganan. Tampak Dara memiliki konotasi memaknai keseimbangan dimana segala sesuatu baik pekarangan rumah selalu selalu berpusat di tengah. Tampak Dara merupakan symbol penyatuan dua litas kehidupan atau Rwa Bhineda.
ESTETIKA PADA JAKET UPCYCLE LIMBAH VISUAL SPANDUK KARYA HARITS ALFADRI DEWANTO Ayu Krisna Gayatri Sari Dewi; I Wayan Swandi; I Wayan Mudra
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.012 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7055

Abstract

AbstractAesthetics is something related to beauty and all aspects of what is called beauty. Aesthetics is an important factor in works of art that can be accepted in society. The visual waste jacket consisting of banners by Harits Alfadri Dewanto can be seen through the design elements of the upcycle jacket. Upcycle is the concept of reusing goods that have been released into new products with a higher value than before. The latest fashion concept in its development is not only as a sustainable lifestyle but it can also be a solution for improving the prevention of waste that occurs. The research method is descriptive analytic. This study attempts to describe the aesthetics through design elements and analyze the aesthetics of the visual waste jacket banner by Harits Alfadri Dewanto through the aesthetic principle theory. The results revealed a design element in the upcycle jacket, the visual waste of the banner providing comfort to the user with the size of the jacket that supports it and the comfort of the eye that sees with the appearance of the jacket using a harmonious primary color combination AbstrakEstetika merupakan sesuatu yang berkaitan dengan keindahan dan semua aspek dari apa yang disebut keindahan. Estetika merupakan faktor yang penting dalam sebuah karya seni mampu diterima di masyarakat. Pada jaket limbah visual berupa spanduk karya Harits Alfadri Dewanto dapat estetika dilihat melalui elemen desain pada jaket upcycle. Upcycle merupakan konsep penggunaan kembali barang yang telah dibuang menjadi produk baru dengan nilai yang lebih tinggi dari pada sebelumnya. Konsep upcycle fashion dalam perkembangannya tidak hanya sebagai sebuah gaya hidup berpakaian namun dapat juga menjadi solusi atas kesenjangan penanggulangan limbah visual yang terjadi.metode penelitian adalah deskriptif analitik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan estetika melalui elemen desain dan menganalisis estetika pada jaket limbah visual spanduk karya Harits Alfadri Dewanto melalui teori prinsip estetika. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa elemen desain pada jaket upcycle limbah visual spanduk mampu memenuhi kenyamanan pada pengguna dengan ukuran jaket yang longgar dan dan kenyamanan pada mata yang melihat dengan tampilan jaket menerapkan kombinasi warna primer yang harmonis.
STUDI TATA RUANG RUMAH ADAT “SIWALUH JABU” DESA LINGGA Erwin Ardianto Halim
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.35 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7057

Abstract

AbstractKaro traditional house is an authentic historical-cultural heritage and still stands tall. The existence of the Karo traditional house does not only function as an ordinary place to live, but has a meaning which is a medium of cultural expression of the people seen in the architecture and interior of this traditional karo house. This research is a study of spatial planning and its functions at this time. The results of the study know the spatial patterns in the traditional house of Siwaluh Jabu and find out what I am experiencing changes in the traditional house layout of Siwaluh Jabu. This has become very important in this research for the development of cultural history in the world of interior design education. AbstrakRumah adat Karo merupakan warisan sejarah-budaya yang otentik serta masih berdiri tegak. Keberadaan rumah adat Karo tidak saja berfungsi sebagai tempat tinggal biasa, namun memiliki makna yang merupakan media ekspresi kebudayaan masyarakatnya terlihat pada bentuk arsitektur dan interior rumah adat karo ini. Penelitian ini merupakan studi tata ruang dan fungsinya pada saat ini. Hasil penelitian mengetahui pola tata ruang pada rumah adat Siwaluh Jabu dan mengetahui apa saya yang menggalami perubahan pada tata ruang rumah adat Siwaluh Jabu. Hal tersebut menjadi sangat penting dalam penelitian ini untuk pengembangan ilmu sejarah budaya dalam dunia pendidikan desain interior.
KAJIAN TRANSFORMASI SEMANTIK DALAM PORTFOLIO DESAIN PRODUK KEWIRAUSAHAAN SOSIAL Devanny Gumulya; Isabela Elena
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1334.313 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7058

Abstract

AbstractThe market is increasingly more competitive; a brand must have a strong product design identity. Famous brands such as Nike, Apple and Swatch are brands that are good at managing their portfolio strategy for a long time. These brands can form an absolute imagination in the consumer’s mind by orchestrating coherent design characters across their product portfolio. Therefore, a brand must consistently use its design elements without making it dull. Consistent but the novelty element remains essential in every product line. Social enterprise to carry out the societal mission should be able to keep up with other products on the market. Therefore, social enterprise ability to manage their product portfolio strategy is essential. Semantic transformation is the process of changing from language realm into the entity that can be physically seen through design features. It is the process of creating design feature to represent meaning. Three social enterprises: Borneo Chic, Noesa and Du’anyam were selected for semantic transformation analysis across its product portfolio, starting from the brand value into design feature from the product portfolio line. The results suggest that the meanings carried by social enterprises are locality, environmentally friendly and mission to build community capacity. These meanings are transformed into design features such as natural colour combinations, woven and weaving elements as a representation of the product made by local craftsmen and one of a kind not factory-made or mass-produced, use local material and environmentally friendly. The social enterprise is expected to innovate traditional features into something modern that fit to a modern lifestyle. Imperfections in social enterprise’s products are also anticipated because it shows that products are made by humans. AbstrakPersaingan pasar yang semakin ketat membuat sebuah brand harus memiliki identitas desain produk yang kuat. Brand-brand ternama seperti Nike, Apple dan Swatch adalah brand yang pandai mengatur strategi portofolionya sehingga dalam kurun waktu yang lama, brand-brand tersebut bisa membentuk imajinasi yang absolut akan karakter desain dari portofolio produknya. Oleh karena itu, sang brand harus secara konsisten menggunakan elemen-elemen desainnya tanpa membuatnya menjadi membosankan. Konsisten tapi unsur kebaruan tetap penting dalam setiap lini produk. Kewirausahaan sosial untuk menjalankan misi sosialnya, harus mampu bersaing dengan produk-produk lain yang ada di pasar. Oleh karena itu strategi portofolio dari kewirausahaan sosial menjadi sangat penting. Transformasi semantik adalah proses perubahan dari ranah bahasa menjadi wujud entitas yang dapat dlihat secara fisik melalui fitur-fitur desain yang diciptakan untuk merepresentasikan sebuah makna. Tiga kewirausahaan sosial berbasis desain produk: Borneo Chic, Noesa dan Dua’anyam dipilih untuk dianalisa transformasi semantiknya, bermula dari ranah bahasa brand value menjadi karakter desain dari lini portofolio produk. Hasil penelitian adalah makna-makna yang diusung kewirusahaan sosial adalah lokalitas, ramah lingkungan dan misi pembangungan kapasitas komunitas. Makna ini ditranslasikan dalam fitur-fitur desain seperti kombinasi warna natural, elemen anyaman dan tenun sebagai representasi produk yang dibuat oleh perajin lokal dan bukan buatan pabrik atau produksi massa. Material yang digunakan lokal dan ramah lingkungan. Wirausaha sosial diharapkan untuk menginovasi fitur tradisional menjadi sesuatu yang tidak biasa. Ketidaksempurnaan pada produk kewirausahaan juga diantisipasi karena menunjukan bahwa produk dibuat oleh manusia.
KENYAMANAN INAP AT CAPSULE HOSTEL SEBAGAI DESAIN COMPACT Ahmad Muzzayin Dina Wari; Setiamurti Rahardjo; Dea Aulia Widyaevan
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.38 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7059

Abstract

AbstractThe increasing number of millennial travelers has affected the growth of backpacker accommodations in Bandung, especially those which are built in a form of capsules. Located at the city center of Bandung, “Inap at Capsule Hostel” has many facilities, all of which are installed inside the capsules and make the design compact. Although all of those facilities are dimensionally accommodated, the anthropometric comfort of the capsule is still questionable since there are spaces required for body movements. With combining the qualitative method through experiencing the capsule’s interior directly and the quantitative method through analyzing reviews from booking websites with the instrument word cloud text analysis, it is found that the compact design of Inap at Capsule Hostel still represents the anthropometric comfort regardless its limited dimension. Nevertheless, rearrangement of some lighting facilities and materials inside the capsules is suggested to improve the quality of the spatial comfort. AbstrakMeningkatnya wisatawan milenial menjadi salah satu faktor pendorong berkembangnya penginapan backpacker berbentuk kapsul di kota Bandung. Inap at Capsule Hostel yang terletak di pusat kota Bandung memiliki lima belas fasilitas yang semuanya terletak di dalam unit kapsulnya dan membuat desainnya padat. Meskipun seluruh fasilitas tersebut dapat tertampung secara dimensi, tapi hal ini belum tentu sejalan dengan kenyamanan kapsul ini saat digunakan karena tubuh manusia memiliki aktivitas gerak yang membutuhkan ruang tambahan. Dengan memadukan metode kualitatif melalui pengalaman ruang secara langsung dan metode kuantitatif melalui olahan data review dari situs pemesanan akomodasi dengan word cloud text analysis, ternyata ditemukan bahwa unit yang padat pada Inap at Capsule Hostel masih nyaman digunakan meski secara dimensi terhitung sempit bagi ruang gerak manusia. Meskipun demikian, disarankan adanya penataan ulang beberapa fasilitas pencahayaan serta penggunaan material untuk meningkatkan kualitas kenyamanan ruangnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 7