cover
Contact Name
Erna Meiliana
Contact Email
ernameiliana@trisakti.ac.id
Phone
+6287840093703
Journal Mail Official
jurnal_dimensi@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Jl.Kyai Tapa No.1 Grogol Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 25275666     EISSN : 25497782     DOI : https://doi.org/10.25105/dim
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain diterbitkan oleh Fakultas seni Rupa dan Desain. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu Februari dan September. Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal bidang seni dan desain yang terbilang aktif sejak pertama kali diterbitkan dari tahun 2003 sampai sekarang. Menjadi salah satu jurnal seni dan desain yang banyak diminati oleh para penulis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol. 18 No. 1 (2021)" : 18 Documents clear
PERUBAHAN FUNGSI RUANG DALAM PADA KERATON KACIREBONAN Yudita Royandi; Erwin Ardianto Halim; Lisa Levina Jonatan
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.519 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.8814

Abstract

Keraton merupakan tempat tinggal bagi raja dan keluarganya pada bangunan diposisi sentral. Menurut Agustina (2013;2014) Keraton dalam pandangan kosmologis merupakan pusat kekuatan gaib yang berpengaruh pada seluruh kehidupan masyarakat.begitu pula dengan susunan keruangan keraton di Jawa mengadaptasi kepada susunan Gunung Mahameru, yaitu ada daerah puncak dengan anak gunungnya. Puncak Gunung adalah bangunan inti yang melambangkan gunung Mahameru. Hirarki ruang ditunjukkan dengan penaikkan lantai dimana ruang yang paling sakral adalah bangunan induk yang merupakan bangunan yang berada di level tertinggi. Pada Keraton Kacirebonan bangunan dengan level tertinggi adalah Bangunan Induk terdapat bangsal Prabayaksa tempat diselenggarakannya acara sakral. Sedangkan bangunan lainnya berada pada level yang lebih rendah. Hasil Observasi awal memperlihatkan adanya pergeseran fungsi ruang dalam pada Keraton Kacirebonan dari fungsi awalnya, beberapa ruang beralih fungsi menjadi area komersil bahkan beberapa ruang tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan fungsi ruang apa saja dalam Keraton Kacirebonan yang berubah dari wujud tradisionalnya. Harapannya adalah agar fungsi dan nilai tradisi Keraton sebelumnya sebagai simbol budaya dapat dipertahakan serta dilestarikan.
ADAPTASI TANPA ISI: PENGARUH DESAIN “UNTITLED - I SHOP THEREFORE I AM” KARYA BARBARA KRUGER TERHADAP DESAIN LOGO BRAND SUPREME Elizabeth Gunawan; Helena Calista; Alfiansyah Zulkarnain
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.469 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.10599

Abstract

AbstractOne of the conceptual artists of postmodernism, Barbara Kruger, is known for her work that combines visual images with text to convey criticism of social issues directly to society. One of the most famous works that she has is "Untitled - I Shop Therefore I am (1987)" which is a form of criticism of the issue of consumerism. In 1994, Supreme arrived, which had a logo in the exact same style as Kruger. Ironically, the brand actually had ideas that ran counter to the original purpose of Kruger's work. Therefore, this paper aims to deepen the knowledge of how to properly adapt a reference work in a new work based on analytical methods; especially to explore a work that has a considerable influence on society. The analysis method used in this paper is qualitative analysis through literature sources. There are three steps of analysis used in this paper. First, a study of postmodernism design style is done as the theoritical viewpoint. Then, qualitative investigations of form, content, and context were conducted on “I Shop Therefore I Am” artwork and Supreme brand logo design. Lastly, a comparison of creative process between both design was done to formulate results. The analysis result shows that there were critical views of how the Supreme logo designer adapt Barbara Kruger’s design. The conclusion reveals directions for graphic designers in doing design references. Keywords: Post-Modernism, Barbara Kruger, Consumerism, Supreme Brand AbstrakSalah satu seniman konseptual pada zaman postmodernisme, Barbara Kruger, dikenal dengan karyanya yang menggabungkan gambar visual dengan teks untuk menyampaikan kritik terhadap isu sosial secara langsung pada masyarakat. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah “Untitled - I Shop Therefore I am (1987)” yang merupakan sebuah bentuk kritik terhadap isu konsumerisme. Pada tahun 1994, hadirlah muncul brand fesyen Supreme yang memiliki logo dengan style yang identik dengan gaya Kruger. Ironisnya, merek tersebut justru memiliki gagasan yang betentangan dengan tujuan awal dari karya Kruger. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang bagaimana cara yang benar saat mengadaptasi karya referensi dalam sebuah karya desain. Metodologi analisa yang digunakan adalah dengan menggunakan analisa kualitatif berdasarkan sumber literatur. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembahasan akan dilakukan dengan beberapa tahapan. Pertama, dilakukan kajian gaya desain post-modernisme sebagai sudut pandang konteks sejarah yang diambil. Lalu dilakukan investigasi form, konten, dan konteks atas karya “I Shop Therefore I Am” serta logo brand Supreme. Terakhir, dilakukan perbandingan antara kedua pendekatan proses kreatif. Hasil kajian menunjukkan adanya pandangan kritis terhadap bagaimana desainer logo Supreme mengadaptasi desain karya Kruger. Kesimpulan kajian menghasilkan arahan-arahan bagi desainer grafis dalam proses referensi karya desain. Kata Kunci: Post-Modernisme, Barbara Kruger, Konsumerisme, Brand Supreme
BANGUNAN KOLONIAL RUMAH TINGGAL DI KOTA BOGOR DALAM FOTOGRAFI ARSITEKTUR DAN INTERIOR Aldhila Putra Wedaswara
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2954.51 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.10600

Abstract

AbstractThe colonial building is a legacy of the Dutch government in Indonesia before independence period. The city of Bogor has a Dutch colonial heritage building that still stands tall. Not only displays beauty in terms of architecture, but in architectural photography also pays attention to the principles of photography itself. The purpose of the author's photographic creation is to contribute to people who want to know about the Dutch colonial heritage buildings, especially on Jl. Cikuray no. 19 and Jl. Siliwangi no. 39 cities of Bogor in architectural and interior photography. The colonial residence in Kota Bogor is more concerned with function than aesthetics. The method used is a literature review before determining the location of the shoot and conducting a field review. The shooting technique used is a combination of architectural and interior photography techniques with mixed lighting theory. The work process will produce photos that show architectural and interior photography of colonial buildings, especially in the city of BogorKeywords : Architechture and Interior Photography, Bogor City, Mix Lighting, Dutch Colonial BuildingsAbstrakBangunan kolonial merupakan bangunan peninggalan pemerintahan Belanda yang ada di Indonesia sebelum masa kemerdekaan tiba. Kota Bogor memiliki bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri tegak. Tidak hanya menampilkan keindahan dari segi arsitektur saja, tetapi dalam fotografi arsitektur juga memperhatikan kaidah-kaidah fotografi itu sendiri. Tujuan penciptaan karya fotografi penulis berkontribusi untuk masyarakat yang ingin mengetahui tentang bangunan peninggalan kolonial Belanda khususnya di Jl. Cikuray no. 19 dan Jl. Siliwangi no. 39 kota Bogor dalam fotografi arsitektur dan interior. Rumah tinggal kolonial di kotabogor lebih mementingkan fungsinya daripada estetika Metode yang digunakan adalah bedah literatur sebelum menentukan lokasi pemotretan dan melakukan tinjauan lapangan. Teknik pemotretan yang digunakan merupakan gabungan dari teknik fotografi arsitektur dan interior dengan teori pencahayaan mix lighting. Proses berkarya akan menghasilkan foto yang menunjukan tentang fotografi arsitektur dan interior dari bangunan kolonial khususnya di kota Bogorkata kunci : Fotografi Arsitektur dan Interior, Kota Bogor, Mix Lighting, Bangunan Kolonial Belanda.
TINJAUAN SEMIOTIK PRODUK PADA GEROBAK MAKANAN KETOPRAK KHAS DI JAKARTA Awang Eka Novia Rizali; Elda Franzia Jasjfi; Ribka Emmanauli
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.145 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.10601

Abstract

AbstractMeans of food selling in the form of carts are commonly found in Jakarta urban area. One of them is Jakarta’s typical food cart of ketoprak’s food cart. The increase of this Jakarta’s typical food industries made several kinds of ketoprak’s food carts in unique characteristic. The object of this research is ketoprak’s food cart in Jakarta urban area, especially in housing area of Sector 1-9 Bintaro Jaya. The ketoprak’s food cart has a unique characteristic of form and meaning and certain function related to their user in Jakarta, which is interesting to explore and becoming the problem of this research. This research aims to understand the meanings of sign and for of ketoprak’s food cart as a representation of urban community behaviors, and to understand the relation between ketoprak’s food cart form to the user’s activity when selling and making ketoprak. The method in this research is qualitative descriptive, with product design semiotic approach which are analysis of semantic, syntactic, hyletic and pragmatic dimension of ketoprak’s food cart. The data collecting methods are observation and interview to user (seller). The result of this research is ketoprak’s food cart description and models classification and relation of meaning and form in semantic, syntactic, hyletic, pragmatic dimension, and also operational ergonomics and mobility of the users. Key word: food cart, ketoprak, product semiotics, meaning, form   AbstrakSarana berjualan dalam bentuk gerobak masih banyak ditemui di wilayah perkotaan Jakarta. Salah satunya adalah gerobak makanan khas Jakarta yaitu ketoprak. Perkembangan industri kecil makanan khas Jakarta ini membuat terdapat beberapa macam bentuk gerobak makanan ketoprak yang memiliki karakteristik yang khas. Objek penelitian ini adalah gerobak makanan ketoprak yang terdapat di wilayah kota Jakarta, khususnya di kawasan wilayah perumahan Bintaro Jaya sektor 1-9. Gerobak makanan ketoprak memiliki kekhasan bentuk dengan makna dan fungsi tertentu yang berhubungan dengan kondisi penggunanya di Jakarta, yang menarik untuk dikaji lebih lanjut dan menjadi masalah dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna tanda, bentuk gerobak makanan ketoprak sebagai representasi perilaku masyarakat urban dan juga untuk memahami relasi antara bentuk produk gerobak makanan ketoprak dengan aktivitas pengguna saat menjajakan dan mengolah makanan ketoprak. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan semiotika desain produk yaitu analisis dimensi semantik, sintaktik, hiletik dan pragmatik dari objek produk gerobak makanan ketoprak. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi dan pengumpulan data faktual dari objek penelitian dalam lingkup ruang penelitian, melalui wawancara terhadap pengguna (pedagang). Hasil penelitian ini adalah deskripsi bentuk gerobak ketoprak berdasarkan kelompok-kelompok modelnya, dan relasi perbedaan makna dan bentuk gerobrak makanan dalam dimensi semantik, sintaktik, hiletik, pragmatik, serta fungsi dan kegunaan, ergonomi operasional dan mobilitas sarana oleh pedagang yang menggunakannya. Kata Kunci: gerobak makanan, ketoprak, semiotika produk, makna, bentuk
KAJIAN KARAKTERISASI JENIS HURUF AVENIR DAN KAITANNYA DENGAN TINGKAT KETERBACAAN Untung Adha Saryanto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.233 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.10603

Abstract

AbstractThe Study of Avenir Typeface Characterization and Its Relation to the Legibility Level. This study focuses on the characterization of the Avenir typeface designed by Adrian Frutiger, a Swiss type designer. Characterization of a typeface is important and closely related to its level of legibility. In this study, the author uses a qualitative research methodology with data collection methods through literature studies from references (books, articles, journals or internet pages) to obtain relevant data related to Avenir and visual communication design and supporting theories. Observations were also made based on literature reviews and surveillance of many design works (graphics), internet pages and sites related to Avenir. The study of data in this study used pre-iconographic and iconographic studies. This study was written to be read and understood well, especially by academics as well as design and art practitioners.Keywords: type, design, characteristics, legibility AbstrakKajian Karakterisasi Jenis Huruf Avenir dan Kaitannya dengan Tingkat Keterbacaan. Kajian ini menitikberatkan fokus permasalahan pada karakterisasi jenis huruf Avenir yang dirancang oleh Adrian Frutiger, seorang type designer berkebangsaan Swis. Karakterisasi suatu jenis huruf penting dan berkaitan erat dengan tingkat keterbacaannya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui studi pustaka dari referensi (buku, artikel, jurnal atau laman internet) untuk mendapat data yang relevan yang berhubungan dengan Avenir dan desain komunikasi visual dan teori-teori yang mendukung. Observasi juga dilakukan berdasarkan tinjauan pustaka dan pengamatan terhadap banyak karya desain (grafis), laman internet dan situs yang berkaitan dengan Avenir. Kajian data dalam penelitian ini menggunakan kajian pra-ikonografi dan ikonografi. Kajian ini ditulis untuk dapat dibaca dan dimengerti dengan baik, terutama oleh para akademisi serta praktisi desain dan seni.Kata kunci: huruf, desain, karakteristik, keterbacaan
PERANCANGAN STORAGE STOOL DENGAN MATERIAL OLAHAN TONGKOL JAGUNG Azizah Azizah; Andy Masri
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.322 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.10604

Abstract

AbstractProcessed corncob in form of bar is a relatively new and unique material. Not only that it has a unique texture, visual properties, and a standardized module, the usage of corncob as an alternative material also transform a seemingly almost worthless object into a product that offer good value. However, those offered value alone is not enough to make it automatically accepted in the market. Therefore, a proper product design is essential to achieve not only such a unique product, but also feasible to produce with a competitive pricing compared to its more conventional rivals. This research aim to proof the appropriateness of processed corncob plank as a storage stool’s main material compared to conventional natural material like laminated bamboo and wood plank. The result of this project is a storage stool that is designed to be easy to produce and is able to take the advantage of corncob uniqueness in term of surface texture. The resulted product is expected to be a profitable commodity for the industry. The reasearch was held in Craftindo Kreasi, located in Bandung, who engaged in crafting field using corncob as their main material (Keyword: corncob, storage stool, craft, product design)AbstrakMaterial tongkol jagung merupakan material yang relatif unik dan baru. Selain tekstur dan unsur visualnya yang unik serta modul yang terstandarisasi, penggunaan tongkol jagung sebagai material produk juga mengangkat nilai dari sebuah barang yang nyaris tidak berharga menjadi sebuah produk yang memiliki nilai jual. Akan tetapi nilai-nilai tersebut tidak membuat produk bermaterial tongkol jagung otomatis diterima oleh pasar. Oleh karena itu, diperlukan sebuah desain produk yang tepat agar produk yang dihasilkan tidak hanya unik, namun juga fungsional, relevan serta dapat diproduksi secara industri sehingga dapat memiliki harga dan nilai yang dapat bersaing dengan produk yang menggunakan material konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan kelayakan papan dari tongkol jagung sebagai material utama pembuatan storage stool dibandingkan dengan papan dari material bambu dan kayu. Adapun produk yang dihasilkan dalam diskusi penelitian ini adalah storage stool yang didesain untuk kemudahan produksi serta mengekspos keunikan tekstur tongkol jagung. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat menghasilkan varian produk baru untuk bisa digunakan oleh industri sebagai komoditas yang profitable. Penelitian dilaksanakan di Craftindo Kreasi, Bandung, yang bergerak di bidang craft berbahan baku bonggol jagung. (Kata kunci: tongkol jagung, storage stool, craft, desain produk)  
KAJIAN KONTEN LOKAL PADA RESTORAN KHAS BETAWI DI JAKARTA STUDI KASUS KAFE BETAWI SETIABUDI ONE Nazilah Nazilah
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.931 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.10605

Abstract

Abstract Jakarta is one of cities that continuously growing in number, proportion and density of its population. The increasing will also has result in number of consumption (especially food) of Jakarta’s Resident. Along with the development, a growing number of human needs must be met. Nowdays, human faced a lot more options to fulfilled their need, entertainmentis one of it. Restaurant is a perfect place for those who want to relax, sipping a cup of tea or coffee accompanied by relaxing music. Today, the development of restaurant in Indonesia, especially in Jakarta is growing rapidly. There are many Betawi restaurant using foreign design, furniture dan material without considering about locality. In fact, Indonesia has excellent quality of local content, in particular Betaw, even exceed the imported goods quality. Also, Betawi is rich in culture and arts. During this time, people tend to assume that local stuff is not impressive, old-fashione or out-of-date compared imported goods. Therefore, as an effort an applying local content on public facilities especially Betawi restaurant, its required an interior designer’s intuition in order to create a restaurant which using local content that can be applied in the organization of space, the application of color, decoration, and furniture. So that, the visitors who came to enjoy dish can experience not only good food but also good atmosphere of the restaurant, as well as gaining experience and knowledge about Betawi culture. Keyword: local content, restaurant, lifestyle. AbstrakJakarta adalah salah satu kota yang terus mengalami peningkatan dari segi jumlah, proporsi, dan  kepadatan  penduduknya. Peningkatan  jumlah, proporsi, dan pertumbuhan penduduk di DKI Jakarta tersebut  akan  mengakibatkan  peningkatan  jumlah  konsumsi  (terutama untuk makanan)  penduduk DKI Jakarta. Dengan meningkatnya  jumlah  konsumsi  makanan, dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mendirikan  usaha  penyedia makanan, salah satunya dalam bentuk restoran. Seiring dengan perkembangan yang semakin maju maka, kebutuhan manusia semakin banyak yang harus dipenuhi. Dulu, didalam memenuhi kebutuhannya, manusia selalu memprioritaskan pada kebutuhan-kebutuhan pokok saja. Tetapi dengan seiring berjalannya waktu, manusia dalam memenuhi kebutuhannya tidak hanya dihadapkan kepada satu  pilihan saja, salah  satunya adalah kebutuhan akan hiburan. Restoran  merupakan salah satu tempat yang tepat bagi mereka yang ingin bersantai, sambil menghirup secangkir teh ataupun kopi, ditemani alunan musik yang santai. Dewasa ini perkembangan restoran di Indonesia khususnya di Jakarta cukup berkembang dengan pesat. Seiring perkembangan desain yang ada, masih banyak restoran khas Betawi di Jakarta yang menggunakan desain, furniture, dan material dari luar negeri (impor) tanpa memikirkan kelokalan. Padahal konten lokal yang ada di Indonesia sekarang ini khususnya Betawi, memiliki kualitas yang sangat baik bahkan ada yang melebihi kualitas impor dan juga Betawi memiliki kekayaan ragam hias dan budaya yang menarik. Selama ini, masyarakat juga cenderung menganggap sesuatu yang lokal terkesan tidak keren, terbelakang atau ketinggalan jaman dibandingkan dengan sesuatu dari luar. Maka dari itu dalam upaya mengaja konten lokal pada fasilitas publik khususnya Restoran khas Betawi perlu adanya intuisi seorang desainer interior. Agar tercipta sebuah restoran yang memiliki spesialisasi dengan menggunakan lokal konten yang dapat diterapkan di dalam organisasi ruang, pengaplikasian warna, ragam hias, dan furnitur. Agar pengunjung yang datang menikmati makanan khas Betawi dapat merasakan dua manfaat yaitu makanan yang enak dan suasana Restoran yang baik, serta mendapatkan pengalaman serta pengetahuan mengenai budaya Betawi.Kata Kunci: Lokal konten Betawi, Restoran, gaya hidup
ILUSTRASI PADA MERCHANDISE SEBAGAI MEDIA UNTUK MEMBANGUN CULTURAL AWARENESS ANAK SEKOLAH DASAR DI KABUPATEN SIDOARJO Naulia Syahnina; Asidigisianti Surya Patria
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.292 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.10606

Abstract

Abstract.Sidoarjo has culture in the form of traditions, arts and cultural heritage that are still preserved. Indonesian children are increasingly distant from their local culture and are more interested in cultures that come from outside so that it can cause children to forget and even become unknown to their local culture. Cultural awareness or cultural awareness is the ability to recognize and understand the influence of culture on people's values and behavior. Local culture needs to be instilled in students because it has good values and minimizes the negative influence of outside culture. Through the design of merchandise with illustrations of Sidoarjo culture, it is hoped that it can increase the cultural awareness of elementary school children in the Sidoarjo area. The stages of the design process include data collection, data analysis, design concepts, design visualization, final design, and trial work using SWOT data analysis techniques. There are 5 kinds of culture that are illustrated, namely the Nyadran Tradition, the Bandeng Lelang Tradition, Banjar Kemuning Dance, Jaran Kepang Dance, and Candi Pari with explanatory texts which are then applied to 4 kinds of merchandise, namely t-shirts, pencil cases, drinking bottles, and key chains. Through testing the work on elementary school children in the Sidoarjo area, the children's response to merchandise is curiosity about culture while the benefits obtained include, they can find out the main elements of each culture displayed by merchandise.. Key word: culture, Sidoarjo, cultural awareness, children, merchandise  AbstrakSidoarjo memiliki kebudayaan dalam bentuk tradisi, kesenian maupun cagar budaya yang masih dilestarikan. Anak-anak Indonesia semakin jauh dari kebudayaan daerahnya dan lebih tertarik pada budaya yang berasal dari luar sehingga dapat menyebabkan anak lupa bahkan buta terhadap budaya daerahnya. Cultural awareness atau kesadaran budaya merupakan kemampuan untuk mengenali dan memahami pengaruh budaya pada nilai-nilai dan perilaku masyarakat. Kebudayaan lokal perlu ditanamkan pada peserta didik karena memiliki nilai-nilai yang baik serta meminimalisir pengaruh negatif  budaya luar. Melalui perancangan merchandise dengan ilustrasi kebudayaan Sidoarjo ini diharapkan mampu meningkatkan cultural awareness anak-anak SD di daerah Sidoarjo. Tahapan proses perancangan ini meliputi pengumpulan data, analisis data, konsep desain, visualisasi desain, final desain, dan uji coba karya dengan teknik analisis data SWOT. Terdapat 5 macam kebudayaan yang diilustrasikan, yakni Tradisi Nyadran, Tradisi Lelang Bandeng, Tari Banjar Kemuning, Tari Jaran Kepang, dan Candi Pari dengan dilengkapi teks penjelas yang kemudian diaplikasikan pada 4 macam barang merchandise yakni kaos, tempat pensil, botol minum, dan gantungan kunci. Melalui uji coba karya pada anak-anak SD di daerah Sidoarjo, respon anak-anak terhadap merchandise yakni rasa penasaran terhadap budaya sedangkan manfaat yang diperoleh diantaranya, mereka dapat mengetahui unsur pokok dari tiap-tiap kebudayaan yang ditampilkan merchandise. Kata Kunci Budaya, Sidoarjo, Cultural awareness, Anak, Merchandise. 
PERANCANGAN FILM DOKUMENTER KECIMPRING SEBAGAI KOMODITAS UTAMA MASYARAKAT LEMBANG JAWA BARAT Muhammad Akbar Dwisatrio; Yayah Rukiah; Khikmah Susanti
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2529.054 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.10609

Abstract

Abstract The design of a documentary film kecimpring as the main commodity of the people of Lembang, West Java, as well as an effort to be able to provide understanding to the wider community and also to tourists who often visit the West Java area. The research method used is a descriptive qualitative analysis approach, because this study aims to obtain an authentic understanding in other words to understand the phenomenon of what is experienced by research subjects in a special natural context. This descriptive qualitative method is used to produce descriptive data in the form of words and writings on the medium of the kecimpring documentary film. The data obtained is the result of a search for literature studies in the form of books, journals, observations, and interviews with competent sources in their fields. With the data collected, it shows that kecimpring is one of the traditional snacks typical of West Java that must be preserved and preserved, and this kecimpring documentary is an effective medium for an introduction to history, how to make kecimpring, and how to preserve traditional snacks. typical of West Java.Keywords: Kecimpring, main commodity, traditional food, West Java Abstrak Perancangan film dokumenter Kecimpring sebagai komoditas utama masyarakat Lembang Jawa Barat, serta sebagai upaya untuk dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat luas dan juga para turis yang sering kali berkunjung ke daerah Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan analisis kualitatif deskriptif, karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman otentik dengan kata lain memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian pada konteks khusus yang alamiah. Metode kualitatif deskriptif ini digunakan untuk menghasilkan data secara deskriptif dalam bentuk kata-kata maupun tulisan mengenai media film dokumenter     kecimpring. Data yang didapat adalah hasil dari pencarian studi literatur berupa      buku, jurnal, observasi, dan wawancara dengan narasumber yang berkompeten dibidangnya. Dengan data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa kecimpring       adalah salah satu makanan ringan tradisional khas Jawa Barat yang wajib dijaga      dan dilestarikan keberadaannya dan film dokumenter kecimpring ini merupakan salah satu media yang efektif untuk pengenalan mengenai sejarah, bagaimana cara pembuatan kecimpring, dan cara untuk melestarikan makanan ringan tradisional khas Jawa Barat.Kata kunci: Kecimpring, komoditas utama, makanan tradisional, Jawa Barat 
PERUBAHAN FUNGSI RUANG DALAM PADA KERATON KACIREBONAN Royandi, Yudita; Halim, Erwin Ardianto; Jonatan, Lisa Levina
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021): Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/dim.v18i1.8814

Abstract

Keraton merupakan tempat tinggal bagi raja dan keluarganya pada bangunan diposisi sentral. Menurut Agustina (2013;2014) Keraton dalam pandangan kosmologis merupakan pusat kekuatan gaib yang berpengaruh pada seluruh kehidupan masyarakat.begitu pula dengan susunan keruangan keraton di Jawa mengadaptasi kepada susunan Gunung Mahameru, yaitu ada daerah puncak dengan anak gunungnya. Puncak Gunung adalah bangunan inti yang melambangkan gunung Mahameru. Hirarki ruang ditunjukkan dengan penaikkan lantai dimana ruang yang paling sakral adalah bangunan induk yang merupakan bangunan yang berada di level tertinggi. Pada Keraton Kacirebonan bangunan dengan level tertinggi adalah Bangunan Induk terdapat bangsal Prabayaksa tempat diselenggarakannya acara sakral. Sedangkan bangunan lainnya berada pada level yang lebih rendah. Hasil Observasi awal memperlihatkan adanya pergeseran fungsi ruang dalam pada Keraton Kacirebonan dari fungsi awalnya, beberapa ruang beralih fungsi menjadi area komersil bahkan beberapa ruang tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan fungsi ruang apa saja dalam Keraton Kacirebonan yang berubah dari wujud tradisionalnya. Harapannya adalah agar fungsi dan nilai tradisi Keraton sebelumnya sebagai simbol budaya dapat dipertahakan serta dilestarikan.

Page 1 of 2 | Total Record : 18