cover
Contact Name
Erna Meiliana
Contact Email
ernameiliana@trisakti.ac.id
Phone
+6287840093703
Journal Mail Official
jurnal_dimensi@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Jl.Kyai Tapa No.1 Grogol Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 25275666     EISSN : 25497782     DOI : https://doi.org/10.25105/dim
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain diterbitkan oleh Fakultas seni Rupa dan Desain. Jurnal ini terbit 2 (dua) kali dalam setahun, yaitu Februari dan September. Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain merupakan jurnal bidang seni dan desain yang terbilang aktif sejak pertama kali diterbitkan dari tahun 2003 sampai sekarang. Menjadi salah satu jurnal seni dan desain yang banyak diminati oleh para penulis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia
Articles 385 Documents
KELAHIRAN GAYA UBUD DAN GAYA BATUAN DALAM SENI LUKIS BALI PADA MASA KOLONIAL BELANDA M. Agus Burhan
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.59 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.937

Abstract

Abstract This research reveal the changing of Balinese traditional painting in 1930's era. The consequence of their interaction with European painters and the influence of tourism, Balinese painting that have been bound to their traditions show the significant changing. Form and function is not any longer sacred and bound to the puppetries mythology ot their mythology, but they shift into profane function and express daily life world. The expert in that era called this a modern balinese painting or new design Balinese painting. Balinese painting developed became a genuinese expresion with many personal style and group style of painters. This development certainly could not be separate form social stucture and the society that support it. AbstrakPenelitian ini mengungkapkan tentang perubahan seni lukis Bali tradisional pada tahun 1930-an. Akibat interaksi dengan pelukis-pelukis Eropa dan pengaruh pariwisata, seni lukis Bali yang berabad-abad terikat denga tardisi, pada masa itu menunjukkan perubahan sangat signifikan. Bentuk dan fungsinya tidak lagi bersifat sakral dan terikat mitologi wayang atau mitologi lainnya, tetapi telah beralih pada fungsi profan dan mengungkapkan dunia kehidupan sehai-hari. Para ahli pada masa iti menyebutnya sebagai seni Bali modern atau seni lukis Bali corak bru. Seni lukis Bali itu memang telah berkembang menjadi ungkapan jati dengan berbagai gaya pribadi pelukis maupun dalam gaya kelompok. Perkembangan yang demiian tentu tidak lepas dari struktur sosial dan masyarakat yang menyangganya pula.
MENELUSURI MASYARAKAT KOTA DAN KAUM URBAN Julius Andi Nugroho
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 1 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1279.72 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i1.938

Abstract

Abstract Jakarta is considered by many people, especially the urban as a paradise in search of sustenance, so that urban from the various provinces are many came to Jakarta to seek their fortune in Jakarta. Some urbanities who came to Jakarta bring asset and these are some that did not carry at all, so he does not have a palce to live. Many of the urban use land of another person or riverside to be their home in Jakarta. Riverside areas in Jakrta now is full of wlild settlement that should not be established for residential. Is it true that 100% the cause of flooding in Jakarta because of the existing settlements on the edge of the river and also the waste discharged into river AbstrakKota Jakrta di anggap oleh banyak orang khusunya kaum urban sebagai surganya dalam mencari rejeki, sehingga kaum urban dari berbagai propinsi banyak yang datang ke Jkarta untuk mencari keberuntungan di Jakarta. Kaum urban yang datang ke Jakrta ada yang membawa modal dan ada juga yang tidak mebawa sama sekali, sehingga ia tidak mempunya tempat tinggal. Banyak kaum urban yang menggunakan tanah orang lainataupun pinggiran sunagi untuk dijadikan rumah tinggalnya di Jakarta. Daerah pinggiran sungai di Jkarta sekarang ini penuh dengan pemukiman liar yang seharusnya tidak boleh dijadikan sebagai pemukiman . Apakah benar 100% penyebab banjir di Jakarta karena pemukiman liar yang ada di pingiran sungai dan juga sampah-sampah yang dibuang ke sungai?
UKIYO-E SENI POPULAR ( POP ARTIS) ZAMAN EDO Asidigisianti Surya Patria
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 9 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.189 KB) | DOI: 10.25105/dim.v9i2.940

Abstract

AbstractThe root of Ukiyo-e can be traced back when urbanization became trend in Japan in 16 century leading the developing of merchans and actors started to write stories and novels, then combinedwith picture painting, called ehon. Ehon is picture book with full illustration  and story. Ukiyo-e also used as Kabuki show poster. The source of inspiration was real life and urban culture in that time. In the beginning Ukiyo-e was only art expression but then became industry which related with literature. In the end Ukiyo-e shifted into literature visualization. Abtrrak Akar seni Ukiyo-e dapat dilacak ketika urbanisasi melanda pada abad 16 yang menuntun perkembangan kelas pedagang dan pelakon yang memulai menulis cerita-cerita atau novel-novel serta lukisan gambar digabungkan dengna ehon, yaitu buku bergambar dengan cerita dan ilustrasi. Juga digunakan sebagai poster pertunjukan Kabuki. Sumber inspirasi gambar Ukiyo-e merupakan benar-benar kenyataan kehidupan dan budaya urban masyarakat Jepang pada masa itu. Pada awalnya Seni Ukyo-e merupakan ekspresi seni rupa belaka kemudian berkembang menjadi industri yang juga mengandung seni sastra. Seni Ukiyo-e bergeser menjadi visualisasi seni sastra
HUBUNGAN ANTARA DISPLAY DENGAN KEPUTUSAN MEMBELI PADA TOKO MAINAN ANAK-ANAK YANG BERLOKASI DI MAL-MAL , DI JAKARTA BARAT Florence Melani Jofatma
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 9 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1583.586 KB) | DOI: 10.25105/dim.v9i2.941

Abstract

AbstrctThe important role of display is " attractiveness" that is influenced by six design elements, which are line, form, size, texture , colour, and lighting. Thi sresearch study about the relationship on Buying Desicion on Toy Stores by taking sampling at malls in West Jakarta. The Benefits of research are to improve and broaden the potential of display as a promotion media, open new employment sources and make it more simple for the consumer in deciding their choice of products their wish to buy and as an entertaiment media as well. From the results of research, although there is no direct relationship between display and buying decision, there are display's element design containing potential elements to attact buyer interest , which are line, size, texture and lighting AbstrakPeranan penting dari display adalah " daya tarik" yang dipengaruhi oleh enam  elemen desain yaitu garis, bentuk, ukuran, tekstur, warna, dan pencahayaan. Penelitian ini merupakan studi berdasarkan pada hubungan anatara Display dengan Keputusan Membeli yang mengambil sampel pada toko mainan anak-anak di mall-mall di Jakarta Barat. Manfaat penelitian adalah untuk meningkatkan dan memperluas potensial elemen desain dari display sebagai media promosi, membuka sumber lapangan kerja baru serta memudahkan konsumen dalam memutuskan pilihan produk untuk dibeli serta sebagai sarana yang menghibur. dari hasil penelitian ini meskipun tidak ada hubungan secara langsug antara display dengan keputusan membeli, tetapi elemen desain pada display yang bermuatan potensial untuk menarik minat pembeli adalah garis, ukuran , tekstur dan pencahayaan.
KONSEP SIMBOLIK PADA LUKISAN WAYANG GAYA KAMASAN DIKAITKAN DENGAN KONTEKS ARSITEKTUR BALI Sangayu Ketut Laksemi Nilotama
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 9 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1858.629 KB) | DOI: 10.25105/dim.v9i2.942

Abstract

Abstract The inspiration to utilise the wayang painting as a decorative element in public buildings have caught the attention of designers, however their and the society's understanding of the symbolic meanings of classical art as one of the local genius inheritance needs also to be socialised and increased. The placement of wayang painting in the Kamasan style on traditional Balinese houses is based on the placement concept that contains sacred and symbolic values. This research has used descriptive qualitatitave method, with observation, interview and literature studies being the main research technuque employed to gather data and information neede. In the scholarly workof design and architecture, it is important to bring give live, symboligive live, symbolic and meaningful artifacts with conditioning the placement of wayang paintins is a placement concept in the Utama/Main section and in the Madya /middle section of the building. The wayang painting that is laden with moral meanings is a sacred guidance for a king ( Klungkung) to role Abstrak Insiprasi pemakaina lukisan wayang sebagai elemendekoratif pada bangunan publik telah mendapat perhatian para desainer , tetapi pemahaman para desainer dan masyarakat tentang makna simbolik dari seni rupa klasik sebagai salah satu warisan adi luhung tersebut juga perlu ditingkatkan dan disosialisasikan. Tata letak lukisan wayang gaya (style) Kamasan pada bangunan tradisional Bali, berlandaskan pada konsep tata letak yang mengandung nilai sakral berlandaskan pada konsep tata letak yang mengandung nilai sakral dan simbolik. Penelitian ini mempergunakan metode kualitatif deskriftif, dengan teknik penelitian utama yang digunakandalam mengumpulkan informasi dan data yang diperlukan , seperti pengamatan, observasi , dokumentasi, wawancara dan kepustakaan.Dalam keilmuan desain dan arsitektur penting menghadirkan artefak yang hidup, simbolik dan bermakna dengan mengkondisikan peletakannya secara kontekstual. Temuan penelitian ini bahwa tata letak lukisan wayang adalah konsep tata letak pada bagian Utama/ Atas dan bagian Madya /Tengah bangunan berkaitan antara cerita, figur dengan fungsi dan bentuk bangunannya. Lukisan Wayang yang sarat akan makna moral merupakan pedoman luhur bagi seorang raja ( Klungkung) bagaimana seharusnya bertindak. 
PEMAKNAAN BATIK DALAM BAHASA BUDAYA, BAHASA SENI RUPA DAN BAHASA INDUSTRI DALAM PERKEMBANGAN BATIK MASA KINI Sri Puji Astuti
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 9 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.583 KB) | DOI: 10.25105/dim.v9i2.948

Abstract

AbstractIn the modern era, the development of batik is so advanced, due to achieve in value that had been sacred value to the profan value. Of batik , is just not only for cloths . For clothing, the development batik no longer just a clasic batik. On behalf on consumer demand. There are many emerging varied of patterns and new colors. In each has it on interest and its market share. Now days, the clothes of batik has penetrated the wolrd of batik industry which include the world of interior, products and architecture.Batik , in its early development, has only cultural languange. The next era is growing. The more invisible different between the hight art batik and batik with more valuable in skill/ craft that makes batik coverege in languangue arts.Progress toward must be make batik as industry languange. There is a differ meaning of batik as paart of the industrial design that are involve in the production process technologyThis paper is a discource for a more in - that reserach in the future. The method use is discourse analisys. In the case is priority of a criticall observation and appropriate literature.Shift meaning of batik in industry does not mean ignore the meaning batik in languange culture and languange arts. The three complement interpret the developmnet of batik is happening each other.Both , batik makers and batik lovers be understood batik into free meaning correctly. A through understanding of batik will be a basic of viewing the development of batik in the future. In order of of avoid ambiguity, confusion or even perception as the owner of batik which in  the ancestral heritage. AbstrakDi era modern ini, perkembangan batik sudah sedemikian maju, akibat pergerseran nilai yang tadinya bernilai sakral menjadi profan. Nilai profan batik juga tidak lagi hanya mencakup sebagai sandang. Sebagai sandang, perkembangan yang terjadi , batik tidak lagi hanya berupa batik klasik/pakem. Atas nama permintaan konsumen maka banyak bermunculan motif dan warna baru yang variatif. Masing-masing memiliki kepentingan dan pangsa pasarnya sendiri. Perkembangan yanga ada sekarang, kiprah batik sudah merambah dunia industri yang mencakup dunia interior, produk dan arsitektur. Menurut perkembangan batik yang ada. di awal perkembangannya batik hanya memiliki bahasa budaya . Selanjutnya jaman semakin berkembang, semakin terlihat perbedaan antara batik yang bernilai seni tinggi dengan batik yang bernilai kriya (craft) sehingga batik tercakup dalam bahasa seni rupa. Perkembangan menuju industri yang lebih luas menjadikan batik harus berbahasa industri, di mana terdapat pemaknaan yang lebih dalam tentang batik sebagai bagian dari industri desain yang sudah melibatkan teknologi dalam pembuatan produksinya.Tulisan ini merupakaj sebuah wacana untuk menuju penelitian yang lebih dalam di masa depan. Metode yang dgunakan adalah discouse analissis ( analisis wacana), dalam hal ini mengutamakan pengamatan kritis dan kepustakaan yang memadai.Pergeseran makna batik dlaam bahasa induiustri bukan berarti menafikan makna batik dalam bahasa budaya dan bahasa rupa ketiga nya saling melengkapi untuk memaknai perkembangan batik yang terjadi sekarang ini. Terhadap kondisi ini , baik pelaku, pecinta dan penikmat batik seharusnya bisa memahaminya dengan benar. Pemahaman yang benar akan menjadi dasar dalam melihat perkembangan batik di masa depan agar tidak terjadi kerancuan , kebingungan  atau kesalahan persepsi yang berakitan fatal sebagai pemilik batik yang merupan warisan nenek moyang  
PENGARUH WUJUD KEBUDAYAAN SUKU DI INDONESIA TERHADAP LAY OUT DALAM RUMAH TINGGAL: STUDI KASUS PENERAPAN WUJUD BUDAYA SUKU MENTAWAI DI RUMAH ADAT UMA Andriani P; Nurhasanah Nurhasanah
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 9 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1603.779 KB) | DOI: 10.25105/dim.v9i2.949

Abstract

AbstractMentawai tribe is one of tribe s occupying the terittory of Indonesia precisely in the Mentawai Islands is located approximately 100 km to the west coast of sumatra Island, is comprised of 40 islands, large and small. The extent of thi km2. Kepulauan 6700 including the duistrict of Padang Pariaman ( West Sumatra ) . The rate of po[ulation growth is very slow because death rate continues grow.</p><p>Their lives are dirrectly nature, that do not have a permanent place to live and work. Their favorite came into the jungle and collect fruits to change to the merchant. Make the boat is their favorite. also make weapons for hunting and fishing. Farming is a job that is very limited.Mentawai tribe have confidence animism, believing that the spirit of man, animals and plants, this tribe believes if all living things have a spirit. Mentawai tribe and Lia do a lot Punen which basically aims to strengthen the relationship among the ancestors and continue teaching. Each activity Punen and Lia made an application form Kaltag Tibal culture and influence directly to lay out secsra custom homes, because events and Lia diselengagarakan Punen custom homes in the area both inside and outside. AbstrakSuku Mentawai meryupkan salah satu suku yang menempati wilayah Indonesia tepatnay di Kepulauan Mentawai terletak sekitar 100 km di sebelah Barat pantai pulau Sumateras, terdiri dari 40 pulau , besar dan kecil . Luasnya 6700 km2 . Kepulauan ini termasuk wilayah Kapubaten Padang Pariaman ( Propinsi Sumatera Barat ) . Laju pertambahan penduduk sangat lambat karena angka kematian terus bertambah.Hidup mereka langsung dari alam, sehingga tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan tetap. Kesukaan mereka merotan ke rimba dan mengumpulkan buah-buahan untuk dibarterkan  kepada pedagang. Membuat perahu merupakan kegemaran mereka. Jugamembuat persenjataan untuk berburu dan memancing . Bertani merupakan suatu pekerjaan yang sangat terbatas.Suku Mentawai memiliki kepercayaan Animisme, yaitu percaya kepada roh manusia, hewan dan tumbuhan, suku ini menyakini jika semua makhluk hidup memiliki roh. Suku Mentawai melakukan banyak Punen dan Lia yang pada dasrnya bertujuan untuk mempererat hubungan diantaranya dan meneruskan ajaran nenek moyang . Setiap kegiatan Punen dan lia yang dilakukan merupakan aplikasi wujud kebudyaan suku Mentawai dan berpengaruh secara langsung kepada lay out rumah adat , karena acara Punen dan Lia diselengarakan di area rumah adat, baik di dalam maupun di luar
IMPLEMENTASI MANAJEMEN DESAIN PADA DESAIN ARSITEKTUR DAN DESAIN INTERIOR Setiadi G S
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 9 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.011 KB) | DOI: 10.25105/dim.v9i2.950

Abstract

AbtractThe progress of big cities in Indonesia is developing very rapidly. Therefore facilities run by goverment and private institution complete to beautify public facilities with excellent architectural and iterior designs.On the other hand, competition among architectural and interior design as well as construction service are very competitive in this globalization era. consequently, the demand of professional designers are badly meeded by both goverment and private institution. Thus a project of architecture  or interior desing always need a good plan to meet various cases which may arise sistematically.Design is an answer for all things connected to careful planing to produce the ultimate design complying with the clients " expectation"Management design is defined as arranging things while design is defined a cretaing things. Abstrak Perkembangan kemajuan di kota-kota besar di Indonesia cukup melaju dengan cepat oleh karena itu fasilitas penyediaan sarana dan prasarana yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta berlomba-lomba untuk mem[ercantik fasilitas bangunan tersebut dengan desain-desain bangunan arsitektur dan desain interior yang lebih baik. Di sisi lain pada era globalisasi ini dunia usaha jasa konstruksi dan desain arsitektur dan desain interior mendapat persaingan yang cukup signifikan. Oleh karena itu kebutuhan akan tenaga terampil ( profesional) semakin banyak dibutuhkan oleh instansi pemerintah maupun swasta. Karena itu sebuah proyek desain arsitektur ataupun deain interior selalu membutuhkan suatu perencanaan sebagai bentuk upaya untuk menangani segala macam permasalahan yang timbul denga cara sistematis dan praktis
PENGARUH TAS HERMES TERHADAP GAYA HIDUP SOSIALITA DI INDONESIA Guida P Arezzi
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 9 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1580.67 KB) | DOI: 10.25105/dim.v9i2.951

Abstract

Abstract Needs are natural. or even instinctual , as well basic aspects of human lives, such as the need to eat or drink. On the other hand, whises are "needs" shaped by the environment surrounding a human. There is phenomenon that occurs within Indoensia's community, especially within Jakarta. It is the seemingly increasing obsession of Indoensian women towards handbags of Hermes brand. Many of those women would sacrifice their primary needs to obtain these handbags. According to Fitria yUsuf, the writer of " Hermes temptation" , there are people who would prefer having Hermea handbags to cars, saying that they could use taxi to travel around. The function of this handbags has slowly shiffted from being item storage for women to symbol of social status. The discussion in this journal will focus on how the design of an item can alter an item;s value, using women's handbag of Hermes brand as adn example. AbstrakKebutuhan merupakan hal alamiah , bahkan dapat dikatakan sebagai hal naluriah, serta menjadi aspek paling mendasar dari berlangsungnya hidup dan kehidupan manusia, seperti kebutuhan untuk makan dan minum. Sedangkan keinginan merupakan 'kebutuhan buatan' yang dibentuk oleh lingkungan yang berara disekitarnya.Fenomena yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia, khusunya Jakarta, adalah semakin banyak wanita-wanita Indoensia yang terobsesi dengan tas-tas bermerek Hermes. Banyak yang dari merekla yang rela untuk mengorbankan kebutuhan-kebutuhan pokoknya demi memiliki tas-tas ini. Menurut Fitri Yusup, penulis buku "Hermes Temptation" banyak orang yang rela untuk tidak memiliki mobil dan menggunakan taksi untuk bepergian demi memiliki sebuah tas Hermes. Fungsi tas ini yang awalnya merupakan tempat menyimpan barang kebutuhan , terutama bagi wanita telah bergeser fungsinya menjadi sebuah simbol status sosial. Pembahasan ini lebih menitik beratkan pada bagaimana desain mampu membuat suatu benda memiliki nilai lebih dari yang dihasilkan oleh fungsi aslinya.Dalam hal ini, pembahasan akan difokuskan pada tas-tas yang dipakai oleh wanita buatan Hermes
KAIDAH SEMIOTIKA PADA FURNITURE POSTMODERNISME Firman Hawari
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 9 No. 1 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.443 KB) | DOI: 10.25105/dim.v9i1.952

Abstract

Abstract Designing postmodernism product more produces form that purpused to local elements, sfecific, individual, associative , and aesthetic and avoid mass -produce orientation, rational and stiff. It was also in designing furniture. After design processing based on culture reality, cretaing postmodernism furniture are also followed by semiotic meaning. Without ignoring function, the aim of designing process is dominated by form exploring. Development of postmodernism furniture is caused by development of society perspective that purpused to plurality in many fields. material invention are followed by inventing in manufacturing technology, structure, applying texture and color are also become supporting element of birth of postmodernism furniture. That mindset causes some furniture more reach from than function.Postmodernism furniture negless costumer and commercial aspects. So, those design are subjective, irrational, emotional, and expressive. It visualizes uniquely, unnusual, and starnge AbstrakKegiatan perancangan produk yang mengandung nilai-nilai postmodernisme sangat menghindari bentuk-bentuk yang mengarah ke mass -produce orientation, rasional, dan kaku tetapi lebih memilih mengajukan unsur lokal, spesifik, individual, dan asosiatif serta estetika sebagai pertimbangan utama. Begitu juga dalam perancangan furniture-nya. Furniture postmodernism diciptakan dengan bahasa ungkapan semiotika setelah melalui suatu proses perancangan yanng didasari oleh realita budaya pada jamannya. Dominasi eksplorasi bentuk ( Tanpa mengesampingkan fungsi) merupakan tujuan dari proses perancangannya. Berkembangnya furniture postmodernisme disebabkan oleh semakin berkembangnya pola pemikiran masyarakat yang semakin mengarah ke pluralistik dalam berbagai bidang. Perkembangan material, teknologi manufacturing , struktur dan aplikasi tekstur serta warna juga menjadi faktor pendukung laiinya furniture postmodernisme. Dasar pemikiran tersebut menyebabkan beberapa jenis furniture lebih mengutamakan nilai bentuk dibandingkan nilai fungsinya.Furniture post modernisme tidak memperhatikan aspek konsumen serta jauh dari pertimbangan komersial. Hasil yang didaptkan lebih bersifat subyektif, irrasional. emosional, dan ekspresif , serta terkadang bentuk akhir yang dihasilkan secara visual, tidak lazim , dan aneh

Page 6 of 39 | Total Record : 385