Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin
Jurnal Ushuluddin berisi hasil penelitian keushuluddinan (ilmu dasar Islam). Fokus utama Jurnal Ushuluddin meliputi: Kajian Alquran dan Tafsir: meliputi kajian ulum Alquran dan tafsir. Hadis: meliputi kajian sanad, matan, dan syarah hadits. Akidah: meliputi kajian aliran, aliran, pemahaman, dan keyakinan yang berkembang di tengah masyarakat Islam. Pemikiran Islam: termasuk studi tentang pemikiran para pemimpin dalam Islam. Tasawuf mencakup studi tentang tasawuf dalam Islam, tarekat, dan suluk.
Articles
23 Documents
PAKU BUMI DALAM AL-QUR’AN DAN SAINS: (Study Tematik Tafsir Mafatih Al-Ghaib)
Irda Zulfa Rohmati
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 1 No. 1 (2022): Januari
Publisher : Fakultas ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (432.005 KB)
|
DOI: 10.52431/ushuly.v1i1.565
Menyelami kandungan Al-Qur’an Sebagai Huda (petunjuk), seharusnya Al-Qur’an tidak hanya dijadikan sebagai bacaan ritual saja, tetapi ia harus di pahami, dinikmati, dan diamalkan. Dalam hal ini Al-Qur’an juga berbicara tentang gunung sebagai salah satu Fenomena alam yang mana manusia mampu melihat dengan mata kepalanya sendiri dan memahami seluruh filosofis ciptaan-Nya. Maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana Allah mendeskripsikan gunung dalam Al-Qur’an dan dalam perspektif ilmu sainsnya dan mengulas peran gunung sebagai stabilisator bumi, yang mana keberadaan gunung sangatlah penting untuk penyeimbang bumi supaya tidak berguncang, sehingga manusia dan makhluk lainnya dapat hidup tenang diatasnya. Data dikumpulkan dalam uraian deskriptif dan semantik lalu dianalisis dengan deduksi/induksi dan mengkolaborasikan kedalam metode tematik dengan pengumpulan ayat-ayat tentang gunung dan ayat-ayat yang berkaitan dengan corak penafsiran ilmi yang berkenaan tentang fungsi gunung sebagai stabilisator bumi perspektif Fakhruddin Al-Razi dalam gagasan ide penafsiranya pada kitab Tafsir Mafatih al-Gaib. Kajian ini bertujuan agar umat Islam lebih memerhatikan alam semesta, yang dimana Allah pun telah menyuruh manusia untuk memerhatikan ayat-ayatnya mengenai alam semesta agar kita dapat melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya yang Besar.
AMAR MA’RÛF NAHÎ MUNKAR PERSEKTIF TAFSÎR IBNU KATSÎR DAN TAFSÎR AL-MUNÎR
Luthva Varidah
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 1 No. 2 (2022): Juli
Publisher : Fakultas ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (418.685 KB)
|
DOI: 10.52431/ushuly.v1i2.567
Amar ma’rûf nahî munkar memegang fungsi penting agama sebagai kontrol sosial. Dengan amar ma’rûf nahî munkar akan menjadi tegaknya pilar-pilar akhlaq yang mulia dan agung. Rumusan masalah dalam penelitian ini: (1) Bagaimana amar ma’rûf nahî munkar menurut Ibnu Katsîr? (2) Bagaimana amar ma’rûf nahî munkar menurut Wahbah Zuhaili? (3) Bagaimana komparasi penafsiran Ibnu Katsîr dan Wahbah Zuhaili tentang amar ma’rûf nahî munkar ? Jenis penelitian menggunakan metode kepustakaan dengan metode deskiptif analitis. Teknik pengumpulan data: Mengindentifikasi ayat, lalu menelusuri pendapat-pendapat ulama terkait amar ma’rûf nahî munkar, kemudian mencari penafsiran, kemudian menarik kesimpulan. Menggunakan pendekatan tafsir komparatif. Amar ma’rûf nahî munkar menurut Ibnu Katsîr adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. amar ma’rûf nahî munkar menurut Wahbah Zuhaili adalah menyeru diri sendiri dan orang lain untuk melaksanakan amalan-amalan yang dinilai baik oleh syara', akhlaq, akal dan maslahat umum. Amar ma’rûf nahî munkar merupakan kewajiban yang harus kita laksanakan. Karena dalam amar ma’rûf nahî munkar terdapat cita-cita mulia, yaitu terwujudnya persatuan dan juga kemaslahatan umat.
AMANAH DALAM AL-QUR’AN KAJIAN TEMATIK DALAM TAFSIR AL-AZHAR
Yana Mulyana;
M. Sholihin
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 1 No. 2 (2022): Juli
Publisher : Fakultas ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (522.976 KB)
|
DOI: 10.52431/ushuly.v1i2.573
Tuhan menciptakan dan menghidupkan kembali manusia di dunia ini, tentunya hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allah memberikan segala fasilitas yang lengkap untuk menunjang kewajiban manusia. Di sisi lain, Allah juga memberikan amanat yang harus dijalankan oleh hamba-hamba-Nya. Amanah itu banyak variannya, ada amanah yang datangnya dari Tuhan, ada amanah yang datang dari sesama manusia dan masih banyak lagi amanah lainnya. Tentunya apapun bentuk amanah dari siapapun amanah yang dibebankan, kita harus siap untuk selalu menjaganya. Buya Hamka merupakan salah satu tokoh pada masanya yang berhasil memunculkan tafsir yang disebut Tafsir Al-Azar. Tafsir ini menjelaskan latar belakang kehidupan penafsir secara lugas. Hal tersebut memanifestasikan karakter masyarakat dan sosial budaya yang terjadi pada saat itu. Selama 20 tahun, tulisan-tulisannya mampu merekam kehidupan dan sejarah sosial politik masyarakat tergigit dan menunjukkan aspirasinya untuk mengangkat pentingnya dakwah di nusantara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan menggunakan sumber data dalam rangka penyempurnaan kajian ilmiah. Dalam menggunakan analisis data, deskripsi analitis dapat digunakan.
AURAT DALAM AL-QURAN: Analisis Tafsir Al-Adabi Al-Ijtima’i Al-Ahzab (33): 59
Hikma Fiya
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 1 No. 2 (2022): Juli
Publisher : Fakultas ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (558.16 KB)
|
DOI: 10.52431/ushuly.v1i2.584
Abstrak Dalam penelitian ini dijelaskan maksud daripada penafsiran Qs Al-Ahzab: 59 yang mana didalamnya terkandung perintah menutup aurat dan batasan-batasan aurat perempuan, penelitian ini mengambil corak penafsiran Al-Ad?bi Al-Ijt?ma’i yaitu corak penilitian yang berikblat pada kemasyarakatan. oleh karenanya muncul pendapat-pendapat yang dirasa lebih relevan untuk diangkat karena ulama’ menafsirkan sesuai dengan keadaan masyarakat pada masanya dan keadaan geografisnya. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research) atau telaah pustaka sumber datanya terdapat sumber data primer dan sumber data sekunder. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analisis. Dengan menganalisis berbagai sumber baik primer maupun sekunder menghasilkan kesimpulan: 1) seluruh ulama’ menyatakan wajibnya menutup aurat perempuan. 2) adapun batasan-batasan Aurat pada dasarnya terjadi ikhtilaf antar para Ulama’ dalam setiap generasi akan tetapi tidak perbedaan yang segnifikan perbedaan tersebut dipengaruhi oleh budaya dan kondisi geografis.
KONSEP ALQUR’AN TENTANG ARTI FEMINIM DALAM PERSAKSIAN
Setio Budi;
Muchlisin Muchlisin
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 1 No. 2 (2022): Juli
Publisher : Fakultas ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (520.605 KB)
|
DOI: 10.52431/ushuly.v1i2.1039
Abstrak: Penelitian ini akan mendeskripsikan konsep feminisme dalam masalah kesaksian dalam Al-Qur'an 2:1, kaum feminis menentang kesaksian 2:1 dalam Al-Qur'an sebagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep feminisme dari permasalahan saksi 2:1 sekaligus kritik terhadap feminisme, dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep saksi dua lawan satu dalam al-Qur'an merupakan konsep qot'i dan tidak dapat diubah. Hal ini didasarkan pada agama yang diturunkan, yaitu Al-Qur'an. Sementara konsep feminisme yang dikandung di Barat sendiri merupakan produk budaya, pendapat saksi 2:1 feminisme sangat diskriminatif, karena sejak awal penciptaan manusia, Al-Qur'an sangat memuliakan perempuan.
MEMAHAMI BAHASA AL-QUR`AN BERBASIS GRAMATIKAL: Kajian Isti’arah Surah Yusuf dalam Tafsir al-Kaysy?f dan Tafsir Bahr al-Muhith
Isyroqotun Nashoiha
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 2 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52431/ushuly.v2i1.1236
Salah satu seni pengungkapan makna sebagai suatu gambaran imajinatif tinggi adalah dengan menggunakan maj?z isti’?rah. Teori ini juga digunakan untuk membedakan antara apa yang tersirat dan yang tersurat dalam ayat-ayat Al-Qur`an. Namun tidak semua mufassir setuju dalam penggunaanya. Mereka yang setuju beralasan bahwa konsep majaz itu hanyalah perluasan makna dari sekedar makna haq?q? menjadi juga makna maj?z?. Sedangkan yang menolak beralasan bahwa majaz adalah sebuah bentuk kebohongan (al-kadzab) dan pemaksaan atas makna Al-Qur`an. Penelitian ini mengkomparasikan penggunaan maj?z isti’?rah dalam al-Kasysyâf karya az-Zamakhsy?r? (w. 537/1143) dan Bahr al-Muhîth karya Ab? Hayy?n al-Andal?s? (w.745/1344) dengan ilmu bay?n sebagai perangkat utama analisa. Disimpulkan bahwa pengungkapan isti’?rah berdasarkan tharfay at-tasyb?h dalam surah Yusuf mencakup isti’ârah tashr?hiyyah, dan isti’ârah makniyyah. Sedangkan jika berdasarkan bentuk kalimatnya dalam surah Yusuf mencakup isti’ârah ashliyyah dan isti’ârah thaba’iyyah. Kandungan maj?z isti’?rah menimbulkan adanya implikasi terhadap kemukjizatan Al-Qur`an dalam segi makna, karena setiap huruf yang tersusun dalam Al-Qur`an menimbulkan pemaknaan yang berbeda-beda sesuai dengan yang dikehendaki mufassir nya. Disinilah letak kemukjizatan Al-Qur`an yang terangkum dalam tolok ukur perspektif bahasa. Adapun kandungan maj?z isti’?rah meliputi: Mub?laghah (memberikan kesan sangat, hiperbolik), Izhh?r al-Khafiy (menampakkan yang masih samar), Idh?hu adz-zh?hir laisa bi jally (menjelaskan yang tampak tetapi belum begitu jelas), dan Ja’lu ma laysa bi mar’iyyin mar’iyyan (menjadikan yang tidak terlihat menjadi terlihat atau arti sebenarnya, personifikasi).
YAHUDI DALAM AL-QUR’AN : (Studi Analisis QS. Al-Baqarah ayat 62 Dan 120 dalam Tafsir Al-Mizan)
Muhamad Hilal Ramadhan
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 2 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52431/ushuly.v2i1.569
Artikel ini berbicara mengenai agama Yahudi, serta bagaimana sejarah dan teks ayat-ayat al-Qur’an tentangnya yang diambil dari penafsiran Thabathaba’i. Tentu dalam membahas agama ini diperlukan adanya kerangka setting sosio-historis secara mendalam. Thabathaba’i dalam Tafsir al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an memberikan sebuah alternatif dalam membahas agama-agama secara universalistik-positivistik. Siapakah sebenarnya Yahudi dalam al Qur’an itu? Apakah mereka akan selalu tidak senang dengan perbuatan Muslim dari dulu hingga sekarang? Apakah mereka akan masuk surga atau neraka menurut klaim dari agama Ahl Ibrahim? Kajian ini dianggap penting sebab menyangkut dasar falsafah hidup kaum Muslim dalam menentukan sikapnya terhadap umat Yahudi. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah deskriptif-analitik dengan pemahaman historisitas dan pemahaman teks dengan 3 tahap, yaitu deduktif, induktif kemudian analisis. Penulis menganalisis pemikiran Thabathaba’i dengan pemahaman sejarah Yahudi, berikut dengan ayat-ayat al-Qur’an tentangnya. Dari telaah yang telah dilakukan, penulis berkesimpulan bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai Yahudi dapat dikatakan berada pada tataran historis, kultural dan sosiologis. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa agama Yahudi dan Islam apabila melihat dari konteks historis-genealogi Ibrahim itu sangat dekat. Jadi munculnya kebencian, saling mengklaim agama paling benar, kekerasan dan lain sebagainya itu adalah sikap yang salah dalam melestarikan ajaran Ibrahim yang hanif.
MAKNA LALAI SHOLAT TAFSIR SURAT AL-MA’UN AYAT 4-5: ANALISIS TAFSIR AL MISBAH KARYA M. QURAISH SHIHAB DAN TAFSIR FI DZILAL QUR’AN KARYA SAYYID QUTHUB)
Aizzah Muhtarom
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 2 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52431/ushuly.v2i1.532
Sholat dalam islam menempati kedudukan yang sangat tinggi sehingga tidak dapat di tandingi oleh ibadah yang lainnya. Disamping itu sholat merupakan perintah yang di utamakan, merupakan kewajiban yang harus di tunaikan, dan sangat di utamakan. Namun pada kenyataannya tidak sedikit umat islam yang telah melaksanakan sholat masih berlaku “amoral” kejahatan, seperti kebanyakan para koruptor di Indonesia yang berasal dari umat islam. penafsiran terhadap surat Al ma’un ayat 4-5 tentang makna lalai “sahun” dapat diartikan sangat luas. Untuk lebih mempersempit penjelasan penulis melakukan studi perbandingan tafsir antara Quraish Syihab dan sayyid Quthub yang berbeda tentang makna lalai dalam sholat. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library research) dengan menggunakan metode penyajian secara komparasi (perbandingan). Dengan tujuan tersebut data primer yang digunakan berasal dari dua mufassir dan data sekunder berasal dari buku-buku lain yang releven dengan penelitian ini, sementara analisa menggunakan contect analisa. Penjelasan skripsi ini mengacu pada penelitian surat Al-Ma’un ayat 4-5 studi analisis tafsir al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab dan tafsir Fi Dzilal Qur’ab karya Sayyid Quthub.Dengan mengkomparasikan penafsiran kedua mufassir tersebut. Penafsiran yang di teliti menjelaskan seseorang yang melaksanakan sholat akan tetapi mereka tidak benar-benar melakukannya
MENELISIK MAKNA HIJRAH DALAM AL-QUR’AN: Studi Komparatif Atas Penafsiran Ibnu Katsir dan Quraish Shihab
Hasbullah Hasbullah;
Sofuan Jauhari
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 2 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52431/ushuly.v2i1.571
The trend of hijrah being a new choice in the life of a Muslim today hijrah is connoted with repentance, which tends to be synonymous with significant changes to the way of dressing that was not closed aurat, dressed tight, now changed to cover aurat, dress more Syar'i with a long veil and loosely dressed, some even wear veils. This research uses qualitative methods with this type of library reaserch and uses data collection techniques with the collection of records, books, books and others referring to the research of Maryam verse 46, al-Mu'minun verse 67, al-Furqon verse 30, al-Muzzammil verse 10, and al-Muddatsir verse 5 by consolidating the interpretation of Ibn Katsir Muhammad Quraish Shihab.
NEGERI SABA’ DALAM KEPEMIMPINAN RATU BILQIS
Nila Jazilatul Hikmah;
Salim Ashar
Ushuly: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 2 No. 1 (2023): Januari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Lembaga Penerbitan Jurnal Ilmiah Institut Agama Islam Bani Fattah Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52431/ushuly.v2i1.1580
This reseach is an analysis of the exemplary leadership of Queen Bilqis who succeeded in forming the country of Saba’ as a country with good character and systems in all fields. This success, of course, cannot be separated from his leadership. This study uses a library research base with the approach to the letter saba’ verse 15. The findings in this study regarding the history of Queen Bilqis’a leadership and exemplary as a figure who is a role model for the country of Saba’ which has characteristics and wisdom, democracy, innovation and promotes the interests in a democratic manner. Keyword: Saba’ Country, Queen Bilqis. Abstrak: Penelitian ini merupakan analisis tentang keteladanan kepemimpinan Ratu Bilqis yang berhasil membentuk Negeri Saba’ sebagai negeri yang berkarakter dan bersistem baik di segala bidang. Keberhasilan itu tentunya tidak lepas dari kepemimpinannya. Penelitian ini menggunakan basis library research dengan pendekatan surat saba’ ayat 15. Temuan dalam penelitian ini mengenai sejarah tentang kepemimpinan dan keteladanan Ratu Bilqis sebagai sosok yang menjadi suri tauladan bagi Negeri Saba’ yang memiliki karakteristik dan kebijaksanaan, demokrasi, inovasi serta mengedepankan kepentingan rakyat secara demokratis. Kata Kunci : Negeri Saba’, Ratu Bilqis.