Bandung Conference Series: Economics Studies
Bandung Conference Series Economic Studies (BCSES) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Ilmu Ekonomi dan Bisnis dengan ruang lingkup Amanah, Antisipasi Bencana, Bank Umum Syariah, Belanja Daerah, Pengangguran, BMT, BOPO, BPRS, CAR, Data Envelopment Analysis. Demand, Efisiensi, Ekspektasi Inflasi, Era Digital UMKM, Etika bisnis islam, Faktor Penarik dan Migrasi Internasional, Faktor Pendorong, fathanah, FDR, Frontier Stokastik, Fungsi Produksi, Good Coorporate Governance (GCG), Hearing, Inflasi, IPM Maqashid syariah, istiqamah, Jumlah Uang Beredar, Kecukupan Modal, Konfeksi, Kualitas Aset, Lembaga Pengelola Zakat, Likuiditas. Mudharabah, NOM, NPF, Output Nasional, Nilai Tukar Jumlah, Penduduk Miskin, PAD, PDRB, Pegawai, Mudharabah, Pendayagunaan Zakat, Pengelola, Perspektif Masyarakat Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi, Profitabilitas, Program Edukasi, Rentabilitas, RGEC, ROA, shiddiq, tabligh, Upah Minimum, Upah Strategi Pengembangan Usaha, Usaha Mikro, Zakat. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles
316 Documents
Pengaruh Ketimpangan Pendapatan, Pengangguran, dan Pendidikan terhadap Kriminalitas di 6 Provinsi
Sukma Ajeng Wijayanti;
Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies 241 - 248
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24426
Abstract. This study examines the effect of income inequality, open unemployment, and education on the number of crimes in the six Indonesian provinces with the highest crime rates DKI Jakarta, North Sumatra, East Java, Central Java, South Sulawesi, and West Java during 2020-2024. These provinces contributed more than half of Indonesia’s total recorded crimes in 2024. Using a quantitative, verificative approach, the study employs secondary panel data (30 observations) from the Indonesian Central Bureau of Statistics (BPS), analyzed with panel data regression. Income inequality is proxied by the Gini Ratio, education by the mean years of schooling, and crime by the number of criminal offenses recorded by regional police. Model selection tests (Chow and Hausman) indicate that the Fixed Effect Model (FEM) best fits the data. The results show that income inequality and education have a significant positive effect on crime, while open unemployment has no significant effect. Jointly, the three variables explain about 83.75 percent of the variation in crime. These findings suggest that reducing crime requires not only expanding employment but also addressing income inequality and aligning educational outcomes with economic opportunity. Abstrak. Penelitian ini menganalisis pengaruh ketimpangan pendapatan, tingkat pengangguran terbuka, dan pendidikan terhadap jumlah kriminalitas di enam provinsi dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat selama periode 2020-2024. Keenam provinsi ini menyumbang lebih dari separuh total tindak pidana nasional pada tahun 2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan verifikatif. Data yang digunakan adalah data sekunder berbentuk data panel (30 observasi) yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), diolah menggunakan analisis regresi data panel. Ketimpangan pendapatan diproksikan dengan Indeks Gini, pendidikan diproksikan dengan rata-rata lama sekolah, sedangkan kriminalitas diukur dari jumlah tindak pidana menurut kepolisian daerah. Hasil uji pemilihan model (Uji Chow dan Uji Hausman) menunjukkan bahwa Fixed Effect Model (FEM) merupakan model yang paling sesuai. Hasil estimasi menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan dan pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kriminalitas, sedangkan tingkat pengangguran terbuka tidak berpengaruh signifikan. Secara simultan, ketiga variabel mampu menjelaskan sekitar 83,75 persen variasi kriminalitas. Temuan ini menunjukkan bahwa penurunan kriminalitas memerlukan tidak hanya perluasan kesempatan kerja, tetapi juga pemerataan pendapatan dan penyesuaian hasil pendidikan dengan peluang ekonomi yang tersedia.
Transformasi Sektor Unggulan Daerah dan Implikasinya terhadap Potensi Pengembangan Ekonomi Biru di Kabupaten Belitung
Fida Syahidah;
Asnita Frida B. R. Sebayang
Bandung Conference Series: Economics Studies 249 - 258
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24458
Abstract. Belitung Regency has significant maritime potential, providing opportunities to develop the blue economy through the optimization of its leading economic sectors. This study aims to identify basic sectors, analyze leading sectors, and examine the implications of regional leading sector transformation for the potential development of the blue economy in Belitung Regency. The study employed a mixed methods approach by combining quantitative analysis using Location Quotient (LQ), Esteban–Marquillas Shift Share, and Klassen Typology based on Gross Regional Domestic Product (GRDP) data of Belitung Regency and the Bangka Belitung Islands Province for 2020 and 2025. These analyses were complemented by a Systematic Literature Review (SLR) to strengthen the interpretation of the findings within the blue economy framework. The results indicate that 11 basic sectors remained consistent throughout the study period. The Shift Share analysis identified the Agriculture, Forestry, and Fisheries sector as the only sector with both competitive advantage and specialization. The Klassen Typology analysis revealed a transformation in the regional economic structure, characterized by an increasing number of advanced and rapidly growing sectors. The SLR findings further confirm that the Agriculture, Forestry, and Fisheries; Transportation and Warehousing; and Accommodation and Food Service Activities sectors have strong potential to support blue economy development, while the Manufacturing sector requires further strengthening through downstream processing to increase marine-based value added Abstrak. Kabupaten Belitung memiliki potensi maritim yang besar sehingga berpeluang mengembangkan ekonomi biru melalui optimalisasi sektor-sektor unggulan daerah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sektor basis, menganalisis sektor unggulan, serta mengkaji implikasi transformasi sektor unggulan terhadap potensi pengembangan ekonomi biru di Kabupaten Belitung. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan analisis kuantitatif melalui Location Quotient (LQ), Shift Share modifikasi Esteban–Marquillas, dan Tipologi Klassen berdasarkan data PDRB Kabupaten Belitung dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2020 dan 2025. Analisis tersebut dipadukan dengan Systematic Literature Review (SLR) untuk memperkuat interpretasi hasil terhadap konsep ekonomi biru. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 sektor basis yang konsisten selama periode penelitian. Analisis Shift Share menunjukkan sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan merupakan sektor yang memiliki keunggulan kompetitif dan terspesialisasi. Tipologi Klassen mengindikasikan adanya transformasi struktur ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya jumlah sektor maju dan tumbuh cepat. Hasil SLR memperkuat bahwa sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Transportasi dan Pergudangan, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum berpotensi mendukung pengembangan ekonomi biru, sedangkan sektor Industri Pengolahan masih memerlukan penguatan melalui hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi berbasis kelautan.
Faktor Penentu Preferensi Masyarakat Kota Bandung terhadap Tabungan Haji BSI
Ibnu Sahiba;
Ima Amaliah
Bandung Conference Series: Economics Studies 259 - 268
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24459
Abstract. This study aims to analyze the factors determining the preferences of Bandung City residents regarding the Bank Syariah Indonesia (BSI) Hajj Savings product specifically cultural, social, personal, and psychological factors and to identify the most dominant factor based on demographic characteristics. A quantitative method with a descriptive approach was employed, surveying 100 Muslim respondents of productive age in Bandung City, selected via stratified random sampling across 30 districts. Data were collected using a four-point Likert scale questionnaire and analyzed through descriptive statistics and pivot tables categorized by demographics. Instrument testing confirmed the validity of all statement items (calculated r-values of 0.552-0.811 exceeded the critical r-value of 0.196) and their reliability (Cronbach’s Alpha of 0.950). The results indicate that cultural, social, personal, and psychological factors all fall into the "high" category. Psychological factors emerged as the most dominant, with a score of 1,719 (mean 3.44), followed by cultural (1,708), personal (1,661), and social (1,648) factors. The dominance of psychological factors is driven by the motivation to perform the Hajj pilgrimage, trust in BSI as Indonesia's largest Sharia bank, and a positive attitude toward Sharia banking principles. The study recommends that BSI strengthen product education, enhance customer trust, and develop marketing strategies rooted in cultural values and religious communities that align with the local population's characteristics. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menentukan preferensi masyarakat Kota Bandung dalam memilih Tabungan Haji Bank Syariah Indonesia (BSI), meliputi faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis, serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan berdasarkan karakteristik demografis. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif terhadap 100 responden masyarakat Muslim usia produktif di Kota Bandung yang dipilih menggunakan stratified random sampling pada 30 kecamatan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert empat poin dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta tabel pivot berdasarkan karakteristik demografis. Hasil uji instrumen menunjukkan seluruh item pernyataan valid dengan nilai r hitung 0,552-0,811 lebih besar dari r tabel 0,196 serta reliabel dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,950. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis seluruhnya berada pada kategori tinggi. Faktor psikologis menjadi faktor paling dominan dengan skor 1.719 (rata-rata 3,44), diikuti faktor budaya (1.708), pribadi (1.661), dan sosial (1.648). Dominasi faktor psikologis dipengaruhi oleh motivasi menunaikan ibadah haji, kepercayaan terhadap BSI sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, serta sikap positif terhadap prinsip perbankan syariah. Penelitian ini merekomendasikan agar BSI memperkuat edukasi produk, meningkatkan kepercayaan nasabah, serta mengembangkan strategi pemasaran berbasis nilai budaya dan komunitas keagamaan sesuai karakteristik masyarakat.
Faktor-Faktor Yang Menentukan Minat Mahasiswa di Kota Bandung terhadap Penggunaan Kartu Tanda Mahasiswa Terintegrasi E-Money
Alliya Az-Zahra Lukman;
Ima Amaliah
Bandung Conference Series: Economics Studies 269 - 278
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24464
Abstract. The digitalization of the financial sector has driven a shift in transactions from cash toward electronic money (e-money) as a non-cash payment instrument, which has now begun to be applied to Student ID Cards (KTM) at a number of universities. This study aims to identify the factors that determine student interest in Bandung City toward the use of a KTM integrated with e-money, to determine the most dominant factor, and to examine the role of respondent characteristics. This study uses a quantitative descriptive method, with primary data collected through an online Likert-scale questionnaire distributed to 100 active students from 10 universities in Bandung City, determined using the Slovin formula with a purposive sampling technique. All 22 instrument items were declared valid, with a Cronbach's Alpha value > 0.70. The descriptive analysis results show that all research variables fall into the "Very Good" category, with perceived usefulness obtaining the highest score (361), followed by perceived ease of use (351.8) and trust (335.6), making perceived usefulness the most dominant factor. Interest in using the e-money-integrated KTM is also classified as high, with a score of 357. Based on respondent characteristics, response patterns vary by gender, age, duration of use, and frequency of use, although overall all groups show a positive tendency toward interest in the e-money-integrated KTM. Abstrak. Digitalisasi sektor keuangan mendorong pergeseran transaksi dari uang tunai menuju uang elektronik (e-money) sebagai instrumen pembayaran non-tunai, yang kini mulai diterapkan pula pada Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) di sejumlah perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan minat mahasiswa di Kota Bandung terhadap penggunaan KTM terintegrasi e-money, mengetahui faktor yang paling dominan, serta menganalisis peran karakteristik responden. Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif, dengan data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring berskala Likert kepada 100 mahasiswa aktif dari 10 perguruan tinggi di Kota Bandung, yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik purposive sampling. Seluruh 22 item instrumen dinyatakan valid, dengan cronbach alpha > 0,70. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa seluruh variabel penelitian berada pada kategori “Sangat Baik”, dengan persepsi manfaat memperoleh skor tertinggi (361), diikuti persepsi kemudahan (351,8) dan kepercayaan (335,6), sehingga persepsi manfaat merupakan faktor paling dominan. Minat menggunakan KTM e-money juga tergolong tinggi dengan skor 357. Berdasarkan karakteristik responden, pola penilaian bervariasi menurut jenis kelamin, usia, lama penggunaan, dan frekuensi penggunaan, namun secara umum seluruh kelompok menunjukkan kecenderungan minat yang positif terhadap KTM terintegrasi e-money.
Analisis Kinerja Pemungutan Pajak Makanan dan Minuman di Kabupaten Purwakarta Tahun 2020 - 2024
Fathur Rahman Abdul Adzis;
Atih Rohaeti Dariah
Bandung Conference Series: Economics Studies 279 - 286
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24503
Abstract. Food and Beverage Tax is one of the sources of Local Own-Source Revenue (LOR) that contributes to regional development financing and public services. Although its realization in Purwakarta Regency exceeded annual targets during 2020–2024, the slowing revenue growth indicates that tax potential has not been fully optimized. This study aims to analyze the performance of Food and Beverage Tax collection and identify factors affecting its optimization. The study uses a descriptive quantitative approach with secondary data from BAPENDA and BPS of Purwakarta Regency, along with questionnaires distributed to 45 taxpayers. Data were analyzed using effectiveness, tax ratio, tax effort, and descriptive analysis. The results show that tax collection performance was highly effective, but the 2024 tax effort value of 54.20% indicates that the potential has not been fully utilized. Key challenges include incomplete taxpayer registration, limited monitoring, and inaccurate turnover reporting. Strengthening supervision, expanding the tax base, and optimizing digital technology are needed to improve Food and Beverage Tax revenue. Abstrak. Pajak Makanan dan Minuman merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berperan dalam mendukung pembiayaan pembangunan daerah dan pelayanan publik. Meskipun realisasi penerimaan Pajak Makanan dan Minuman di Kabupaten Purwakarta selalu melampaui target selama periode 2020–2024, pertumbuhan penerimaan menunjukkan tren perlambatan yang mengindikasikan potensi pajak belum sepenuhnya optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja pemungutan Pajak Makanan dan Minuman serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi optimalisasi penerimaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari BAPENDA dan BPS Kabupaten Purwakarta serta data primer melalui kuesioner kepada 45 wajib pajak. Analisis dilakukan menggunakan efektivitas pemungutan pajak, tax ratio, tax effort, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pemungutan pajak tergolong sangat efektif, namun nilai tax effort tahun 2024 sebesar 54,20% menunjukkan bahwa potensi pajak belum sepenuhnya tergali. Kendala utama meliputi belum optimalnya pendataan wajib pajak, pengawasan transaksi usaha, dan pelaporan omzet. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pengawasan, perluasan basis pajak, dan optimalisasi teknologi digital untuk meningkatkan penerimaan Pajak Makanan dan Minuman di Kabupaten Purwakarta..
Hubungan Penerimaan Teknologi dan Efektivitas Pelayanan Publik Aplikasi Sadayana Kota Bandung
Hafizhan Firasyan;
Asnita Frida B.R. Sebayang
Bandung Conference Series: Economics Studies 287 - 294
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24518
Abstract. The Sadayana application is part of the Bandung city government's strategy to encourage digital transformation and develop digital public services integrated with various other public services. Although various services are available in one application, the level of public use is still very low. The purpose of this study is to analyze how Perceived Usefulness and Perceived Ease of Use influence Technology Acceptance, and how Technology Acceptance influences Public Service Effectiveness in the use of the Sadayana application. This study uses a quantitative approach with descriptive and confirmatory methods. Primary data were collected by distributing questionnaires to 112 respondents aged 29–44 years who use the Sadayana application. SPSS was used to analyze the data through validity tests, reliability tests, classical assumption tests, simple and multiple linear regression analyses, t-tests, F-tests, and coefficients of determination (R²). The results of the study confirm that Perceived Usefulness and Perceived Ease of Use have a positive influence on Technology Acceptance, and Technology Acceptance has a positive influence on Public Service Effectiveness. This study also reveals a gap between users' positive perceptions of the application and its low level of utilization. The conclusion of this study is that increasing ease of use, system quality, and user engagement are important factors in strengthening the acceptance of technology as a foundation for optimizing the effectiveness of digital-based public services using the Sadayana application. Abstrak. Aplikasi Sadayana merupakan strategi pemerintah kota Bandung dalam mendorong transformasi digital untuk mengembangkan layanan publik digital yang terintegrasi dengan berbagai layanan publik. Meskipun berbagai layanan tersedia dalam satu aplikasi, tingkat pemanfaatan oleh masyarakat sangat rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana pengaruh Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use terhadap Penerimaan Tekonologi, dan pengaruh Penerimaan Teknologi terhadap Efektivitas Pelayanan Publik dalam penggunaan aplikasi Sadayana. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan verifikatif. Penyebaran kuesioner kepada 112 responden berusia 29-44 tahun pengguna aplikasi Sadayana digunakan untuk memperoleh data primer. SPSS digunakan untuk menganalisis data melalui uji validitas, uji reabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda dan sederhana, uji t, uji F, serta koefisien determinasi (R2). Dari hasil penelitian menegaskan bahwa Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use berpengaruh positif terhadap Penerimaan Tekonologi serta Penerimaan Teknologi berpengaruh positif pada Efektivitas Pelayanan Publik. Adanya kesengjangan persepsi positif pengguna pada aplikasi dengan tingkat pemanfaatan yang masih rendah diungkapkan juga dalam penelitian ini. Kesimpulan dari penelitian ialah peningkatan kemudahan pengguna, kualitas sistem, serta keterlibatan pengguna adalah faktor vital dalam memperkuat penerimaan tekonolgi sebagai dasar optimalisasi efektivitas pelayanan publik berbasis digital menggunakan aplikasi Sadayana.
Korelasi Elastisitas Kesempatan Kerja dengan Produktivitas Tenaga Kerja di Kota Bandung
Alfira Putri Marcheliana;
Atih Rohaeti Dariah
Bandung Conference Series: Economics Studies 295 - 302
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24533
Abstract. This study was motivated by the lack of knowledge regarding the ability of each economic sector in Bandung City to create employment opportunities in response to output growth, even though the economic and labor market structures in the city appear relatively balanced. The relationship between employment elasticity and labor productivity within each economic sector has also not been extensively studied. This research uses a quantitative method with descriptive and correlational approaches. The data used are secondary data in the form of Gross Regional Domestic Product (GRDP) at constant prices and the number of workers by economic sector in Bandung City for the 2019–2024 period, obtained from the Central Statistics Agency (BPS). The analysis was conducted by calculating employment elasticity and labor productivity, followed by a Spearman correlation test using IBM SPSS Statistics. The results show that the primary sector tends to be elastic, the secondary sector tends to be elastic although not consistently every year, while the tertiary sector tends to be inelastic. The Spearman correlation test yielded a coefficient of -0.137 with a significance value of 0.587, indicating that employment elasticity has a very weak and statistically insignificant negative relationship with labor productivity in Bandung City during the study period. Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum diketahuinya kemampuan masing-masing klasifikasi lapangan usaha di Kota Bandung dalam menciptakan kesempatan kerja sebagai respons terhadap pertumbuhan output, meskipun struktur perekonomian dan struktur ketenagakerjaan di Kota Bandung menunjukkan kondisi yang relatif seimbang. Selain itu, hubungan antara elastisitas kesempatan kerja dengan produktivitas tenaga kerja pada masing-masing klasifikasi lapangan usaha juga belum banyak dikaji. Model penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan korelasional. Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan dan jumlah tenaga kerja menurut lapangan usaha di Kota Bandung periode 2019–2024 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Analisis dilakukan melalui perhitungan elastisitas kesempatan kerja, produktivitas tenaga kerja, serta uji korelasi Spearman menggunakan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sektor primer cenderung memiliki elastisitas yang elastis, sektor sekunder cenderung elastis meskipun tidak konsisten setiap tahun, sedangkan sektor tersier cenderung inelastis. Hasil uji korelasi Spearman menghasilkan koefisien korelasi sebesar -0,137 dengan nilai signifikansi 0,587, sehingga menunjukkan bahwa elastisitas kesempatan kerja memiliki hubungan negatif yang sangat lemah dan tidak signifikan dengan produktivitas tenaga kerja di Kota Bandung selama periode penelitian.
Strategi Mitigasi Risiko Aset Obsolescence pada PT PLN (Persero) UPT Bandung
Muhammad Dzaki Aliifa;
Hantoro Ksaid Notolegowo
Bandung Conference Series: Economics Studies 303 - 310
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24556
Abstract. Fixed assets are a key resource supporting the operations of electric power companies. As assets age, the risk of obsolescence may rise, leading to higher maintenance costs, reduced operational efficiency, and threats to a company's financial sustainability. At PT PLN (Persero) UPT Bandung, this is evidenced by a rising net asset value accompanied by increasing maintenance expenses over several periods. This study aims to identify the financial risks arising from asset obsolescence and to formulate mitigation strategies that preserve the company's financial sustainability. A descriptive qualitative method was used, combining secondary data (net asset value, maintenance expenses, and trade payables from financial statements) with primary data obtained through purposive-sampling interviews. Analysis was carried out through risk identification and the formulation of mitigation strategies using SWOT analysis. The results show that rising maintenance expenses alongside aging assets indicate an obsolescence risk. Recommended mitigation strategies include asset renewal, maintenance optimization, integration of asset and financial data management, and the use of technology to improve operational efficiency and safeguard the company's financial sustainability. Abstrak. Aset tetap merupakan sumber daya utama dalam mendukung operasional perusahaan ketenagalistrikan. Seiring bertambahnya umur ekonomis aset, risiko asset obsolescence dapat meningkat dan berdampak pada kenaikan biaya pemeliharaan, penurunan efisiensi operasional, serta keberlanjutan keuangan perusahaan. Pada PT PLN (Persero) UPT Bandung, kondisi tersebut ditunjukkan oleh peningkatan nilai neto aset yang diikuti dengan kenaikan beban pemeliharaan pada beberapa periode. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko keuangan akibat asset obsolescence serta merumuskan strategi mitigasi untuk menjaga keberlanjutan keuangan perusahaan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan data sekunder berupa laporan keuangan (nilai neto aset, beban pemeliharaan, dan hutang usaha) serta data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan teknik purposive sampling. Analisis dilakukan melalui identifikasi risiko dan penyusunan strategi mitigasi menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan beban pemeliharaan seiring bertambahnya usia aset mengindikasikan risiko obsolescence. Strategi mitigasi yang direkomendasikan meliputi peremajaan aset, optimalisasi pemeliharaan, integrasi pengelolaan data aset dan keuangan, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga keberlanjutan keuangan perusahaan.
Efisiensi Kinerja Pembiayaan dan Operasional Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Wilayah Bandung Raya: Pendekatan DEA
Firdhan Muhammad Firdausy;
Ima Amaliah
Bandung Conference Series: Economics Studies 311 - 318
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24752
Abstract. Islamic Rural Banks (BPRS) play a strategic role in supporting sharia financial inclusion, particularly for micro, small, and medium enterprises in the Greater Bandung area. Yet the sustainability and competitiveness of BPRS depend heavily on how efficiently they manage their resources. This study analyzes the technical efficiency of six BPRS in the Greater Bandung area during 2021–2025 using Data Envelopment Analysis (DEA) with an input orientation, a pooled cross-sectional approach, and both Constant returns to scale (CRS) and Variable Returns to Scale (VRS) assumptions, forming 30 Decision Making Units (DMU). The input variables used are Third-Party Funds (DPK) and Operational Cost, while the Output variables are Total Financing Disbursed and Operational Income. The results show that technical efficiency (CRS) varies considerably among the six BPRS. By the end of the observation period, BPRS Baiturridha Pusaka and BPRS Daarul Hayat had reached a perfect efficiency score of 1.000, while BPRS Amanah Rabbaniah, BPRS AlMasoem, BPRS Al Ihsan, and BPRS Harta Insan Karimah Parahyangan remained inefficient. Efficiency decomposition indicates that inefficiency sources are bank-specific, arising either from pure technical inefficiency or from suboptimal scale of operation. The main source of inefficiency is identified as Operational Cost growth outpacing Total Financing growth in several BPRS. This study recommends that inefficient BPRS prioritize operational cost control and more productive financing expansion in line with the improvement targets identified. Abstrak. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) memiliki peran penting dalam mendukung inklusi keuangan syariah, khususnya bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di wilayah Bandung Raya. Keberlangsungan dan daya saing BPRS sangat bergantung pada tingkat efisiensi dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat efisiensi teknis enam BPRS di wilayah Bandung Raya selama periode 2021–2025 menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) dengan orientasi input, pendekatan pooled cross-sectional, dan asumsi Constant Return to Scale (CRS) serta Variable Return to Scale (VRS), sehingga membentuk 30 Decision Making Unit (DMU). Variabel input yang digunakan adalah Dana Pihak Ketiga dan Biaya Operasional, sedangkan variabel Output yang digunakan adalah Total Pembiayaan yang diberikan dan Pendapatan Operasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efisiensi teknis (CRS) keenam BPRS bervariasi cukup signifikan. Pada akhir periode pengamatan, BPRS Baiturridha Pusaka dan BPRS Daarul Hayat telah mencapai efisiensi optimal dengan skor sempurna 1,000, sedangkan BPRS Amanah Rabbaniah, BPRS AlMasoem, BPRS Al Ihsan, dan BPRS Harta Insan Karimah Parahyangan masih berada dalam kondisi belum efisien. Dekomposisi efisiensi menunjukkan bahwa sumber inefisiensi bersifat spesifik pada masing-masing BPRS, baik akibat efisiensi teknis murni maupun akibat skala usaha yang belum optimal. Sumber inefisiensi utama teridentifikasi berasal dari laju pertumbuhan Biaya Operasional yang melampaui laju pertumbuhan Total Pembiayaan pada sejumlah BPRS. Penelitian ini merekomendasikan agar BPRS yang belum efisien memprioritaskan pengendalian biaya operasional dan optimalisasi penyaluran pembiayaan sesuai dengan target perbaikan yang telah diidentifikasi.
Pengaruh Financial Capital dan Human Capital terhadap Kinerja UMKM
Andyta Naufal Utomo;
Dewi Rahmi
Bandung Conference Series: Economics Studies 319 - 326
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v6i2.24780
Abstract. Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a strategic role in Indonesia’s economic development through their contribution to gross domestic product and employment. However, limited access to financial capital and inadequate human capital remain major challenges affecting business performance. This study aims to examine the influence of financial capital and human capital on MSME business performance in Cibeunying Kaler District, Bandung City. A quantitative approach with descriptive and verification methods was employed. Primary data were collected through questionnaires distributed to 80 MSME owners selected using purposive sampling. Data were analyzed using multiple linear regression with IBM SPSS Statistics. The results indicate that financial capital has a positive and significant effect on business performance. Human capital also has a positive and significant effect and is the dominant factor influencing MSME performance. Simultaneously, both variables significantly improve business performance. These findings highlight the importance of improving access to financial resources and strengthening entrepreneurs’ competencies to enhance MSME competitiveness and business sustainability. Abstrak. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja. Namun, keterbatasan akses permodalan dan rendahnya kualitas sumber daya manusia masih menjadi kendala yang memengaruhi kinerja usaha. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh financial capital dan human capital terhadap kinerja usaha UMKM di Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan verifikatif. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 80 pelaku UMKM yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa financial capital dan human capital berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usaha, dengan human capital sebagai variabel yang paling dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan akses permodalan dan penguatan kompetensi pelaku usaha penting untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan UMKM.