cover
Contact Name
Hasni Syahida
Contact Email
hsyahida@ulm.ac.id
Phone
+6287815460096
Journal Mail Official
homeostasis@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Homeostasis: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Dokter
ISSN : -     EISSN : 27224333     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Homeostasis adalah jurnal yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian yang memiliki fokus dan ruang lingkup di bidang kedokteran dan kesehatan. Tulisan-tulisan yang dimuat bisa dalam bentuk Original Research, Literature Review, ataupun Laporan Kasus. Homeostasis terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember di setiap tahunnya.
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2023)" : 32 Documents clear
UJI DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN Xylocarpus granatum TERHADAP Staphylococcus aureus ATCC 25923 DAN Streptococcus pyogenes ATCC 12344 Raymona Dewi Ginarti; Agung Biworo; Lia Yulia Budiarti
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.10003

Abstract

Xylocarpus granatum (X. granatum) merupakan jenis dari tanaman mangrove yang banyak ditemukan di kawasan hutan mangrove Pulau Burung Kalimantan Selatan. Daun X. granatum diketahui mengandung metabolit sekunder berperan sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah menguji daya antibakteri ekstrak etanol daun (ED) X. granatum terhadap Staphylococcus aureus (S. aureus) ATCC 25923 dan Streptococcus pyogenes (S. pyogenes) ATCC 12344. Rancangan penelitian eksperimental ini menggunakan posttest-only with control group design dengan uji daya hambat menggunakan metode difusi kertas cakram. Kelompok perlakuan uji yaitu ED X. granatum 25%, 50%, 75%, dan 100% serta kontrol kloramfenikol dan DMSO 1%. Diameter zona hambat dari perlakuan ED terhadap S. aureus (9,20 mm–16,36 mm) dan terhadap S. pyogenes (8,13 mm–15,69 mm) zona hambat termasuk kategori sedang sampai kuat. Rerata zona hambat ED pada S. aureus lebih besar daripada S. pyogenes yang berbeda bermakna menurut uji one-way ANOVA, uji post-hoc Duncan dan uji T independent. Aktivitas antibakteri pada ekstrak masih dibawah kontrol positif. Kesimpulannya, ekstrak etanol daun X. granatum memiliki daya antibakteri terhadap S. aureus dan S. pyogenes, dengan daya hambat sedang sampai kuat.
HUBUNGAN VO2 MAKS DAN WAKTU REAKSI PADA REMAJA Muhammad Hasbi; Siti Kaidah; Dona Masrisa; Asnawati Asnawati; Didik Dwi Sanyoto
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9994

Abstract

VO2 Maks adalah jumlah maksimal oksigen yang dapat digunakan pada saat melakukan kegiatan berat. VO2 Maks dipengaruhi oleh banyak faktor seperti jasmani, fitur fisiologis individu, dan jenis kelamin. VO2 Maks digunakan untuk mengetahui tingkat kebugaran fisik. Kebugaran fisik mempengaruhi efisiensi pengangkutan oksigen dan nutrisi sehingga meningkatkan kemampuan kognitif. Kemampuan kognitif diketahui berhubungan terhadap waktu reaksi. Waktu reaksi adalah jumlah waktu yang dibutuhkan seseorang untuk bereaksi terhadap stimulus. Waktu reaksi dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, penggunaan tangan dominan, latihan, kelelahan, puasa, siklus pernafasan, dan olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan VO2 Maks dan waktu reaksi pada remaja. Penelitian menggunakan populasi SMAN 1 Banjarbaru dan subjek berjumlah 30 orang yang dipilih dengan metode simple random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian dimulai dengan pengukuran waktu reaksi menggunakan computer-based visual reaction time test lalu dilanjutkan dengan tes Cooper lari 12 menit untuk menilai VO2 Maks. Hasil dari pengukuran waktu reaksi adalah 381,23±62,07 ms dan hasil dari pengukuran VO2 Maks adalah 31,08±5,37 ml/kg/menit. Hasil analisis data menggunakan uji korelasi Pearson adalah terdapat korelasi negatif kuat antara VO2 Maks dan waktu reaksi (r = -0,634). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif antara VO2 Maks dan waktu reaksi pada remaja.
HUBUNGAN KEBIASAAN, DURASI MEROKOK DAN JENIS ROKOK DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KATARAK DI POLIKLINIK MATA RSUD ULIN BANJARMASIN Annisa Kumala Dewi; Muhammad Ali Faisal; Asnawati Asnawati
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9977

Abstract

Katarak adalah keruhnya lensa yang terjadi karena hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-duanya. Merokok merupakan salah satu faktor risiko dimana katarak dapat terjadi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan, durasi merokok dan jenis rokok dengan kejadian penyakit katarak di poliklinik mata RSUD Ulin Banjarmasin. Desain observasi analitik dengan pendekatan cross sectional digunakan sebagai rancangam pada riset ini. Menggunakan teknik purposive sampling, didapatkan 69 orang perokok dan 11 tidak merokok yang memenuhi kriteria inklusi. Sebanyak 53,75% orang memiliki kebiasaan merokok, 73,8% memiliki durasi merokok di atas 20 tahun dan 70,3% menggunakan jenis rokok berfilter. Uji statistik menggunakan uji fisher exact dengan tingkat kepercayaan 95%, didapatkan hasil untuk hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian katarak p = 0,000, OR = 1,26 dengan rentang nilai 1,999 – 7.943 interval kepercayaan (CI) 95%. Untuk hubungan durasi merokok dengan kejadian katarak didapatkan p = 0,001 OR=2,46. Sedangkan untuk hubungan jenis rokok dengan kejadian katarak didapatkan hasil p = 0,210 OR = 0,372. Disimpulkan dari hasil riset adanya hubungan bermakna antara kebiasaan merokok dan durasi merokok dengan kejadian katarak tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis rokok dengan kejadian katarak.
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN PERILAKU MAKAN DAN STATUS GIZI Vory Vory; Yanti Fitria; Triawanti Triawanti; Syaiful Fadhilah; Nelly Al Audhah
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.10014

Abstract

Kecemasan adalah keadaan emosional yang tidak menyenangkan yang sering disertai dengan keluhan fisik. Mahasiswa kedokteran mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa lainnya dikarenakan jadwal perkuliahan yang lebih padat. Mahasiswa yang mengalami stressor terkait dengan akademik dapat mempengaruhi perilaku makan, dapat berupa peningkatan nafsu makan maupun penurunan nafsu makan. Bila hal ini terjadi dalam waktu yang lama akan menyebabkan perubahan status gizi. Perubahan status gizi dapat menyebabkan masalah gizi yaitu underweight, overweight, dan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecemasan dengan perilaku makan dan status gizi mahasiswa klinik. Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan data menggunakan data primer berupa wawancara dan pengisian kuesioner. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa klinik stase mayor di RSUD Ulin Banjarmasin. Jumlah sampel adalah 157 subjek penelitian dengan teknik total sampling. Hasil uji chi-square tidak menunjukkan hubungan antara kecemasan dan perilaku makan p-value 0,407 (>0,05) dan menunjukkan hubungan antara kecemasan dan status gizi p-value 0,000 (<0,05). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan tidak terdapat hubungan antara kecemasan dengan perilaku makan namun terdapat hubungan antara kecemasan dan status gizi mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Program Profesi pada stase mayor di RSUD Ulin Banjarmasin.
HUBUNGAN DIABETES MELITUS DENGAN KATARAK PADA PASIEN DI POLIKLINIK MATA RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE 2021 Norsela Norsela; Muhammad Ali Faisal; Asnawati Asnawati
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9999

Abstract

Katarak yakni suatu kelainan mata yang menyebabakan kebutaan serta gangguan penglihatan serta kekeruhan pada lensa mata yang disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya yakni diabetes melitus. Kataraks dihubungkan dengan diabetes mellitus. Penelitian ini bertujuan guna mengkaji korelasi diabetes melitus melalui penyakit katarak pada pasien di Poliklinik Mata RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain observasional analitik dengan metode cross sectional. Teknik pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling, didapatkan subjek penelitian 68 orang katarak dan 14 orang tidak katarak yang memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan sebanyak 55,88% pasien katarak yang memiliki riwayat diabetes melitus dan 71,42% pasien katarak tanpa riwayat diabetes melitus. Uji statistik menggunakan uji chi–square dengan tingkat kepercayaan 95%, untuk hubungan diabetes melitus dengan penyakit katarak didapatkan nilai p=0,282. Dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini yakni tidak terdapat hubungan yang signifikan antara diabetes melitus dengan penyakit katarak.
GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIVIRUS PADA PASIEN RAWAT INAP NON-ICU COVID-19 DI RSUD ULIN BANJARMASIN Kamila Rosyida; Rahmiati Rahmiati; Hendra Wana Nur&#039;amin; Ira Nurrasyidah; Alfi Yasmina
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9982

Abstract

COVID-19 menunjukkan penyebaran secara cepat dengan kondisi rawat inap yang beragam. Terapi antivirus menjadi salah satu terapi utama COVID-19. Sampai sekarang pengobatan antivirus untuk COVID-19 masih menggunakan obat yang telah ada sebelumnya dengan persetujuaan dalam keadaan mendesak. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan antivirus pada pasien COVID-19 di ruang rawat inap non-ICU di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional yang menggunakan subjek pasien rawat inap non-ICU COVID-19 berusia >18 tahun berdasarkan catatan pusat data elektronik dan rekam medis yang lengkap pada periode 2020 - 2021. Pada penelitian ini didapatkan 146 subyek dengan antivirus yang digunakan antara lain lopinavir/ritonavir (32,7%), favipiravir (30,8%), remdesivir (19,9%) dan oseltamivir (16,7%). Berdasarkan rentang usia pasien non-ICU COVID-19 paling banyak pada usia 46-65 tahun (47,4%) dengan penggunakan antivirus favipiravir (32,4%) dan lopinavir/ritonavir (32,4%). Berdasarkan jenis kelamin, penggunaan antivirus terbanyak pada lopinavir/ritonavir (36,5%) pada laki-laki serta favipiravir (35,2%) pada perempuan. Berdasarkan komorbid yang paling banyak dimiliki penderita COVID-19 di ruang non-ICU adalah hipertensi (38,64%), dengan penggunaan antivirus remdesivir (26,47%). Berdasarkan durasi rawat inap tersingkat dengan luaran klinis sembuh, penggunaan antivirus terbanyak adalah favipiravir (28,08%) dengan rata-rata 13 hari rawat inap. 
LITERATURE REVIEW: POLA KEPEKAAN Salmonella typhi TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK Novatalia Batosamma; Noor Muthmainah; Rahmiati Rahmiati; Dewi Indah Noviana Pratiwi; Lisda Hayatie
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.10023

Abstract

Demam tifoid merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia terutama di negara berkembang. Angka kesakitan demam tifoid tertinggi terdapat pada golongan anak terutama anak usia sekolah. Pasien sering kali mengobati diri sendiri dengan antibiotik, antibiotik pilihan utama untuk demam tifoid di Indonesia adalah kloramfenikol tetapi pada beberapa tempat dilaporkan resistensi terhadap golongan kloramfenikol. Penulisan yang dilakukan dengan menganalisis literatur terkait yang didapatkan berdasarkan dari hasil pencarian pada database jurnal kedokteran, yaitu PubMed – MEDLINE dan Google Scholar. Artikel yang disertakan dengan menggunakan Bahasa Inggris dan dipublikasikan pada tahun 2012- 2019. Sebanyak 8 artikel disertakan berdasarkan pada literature review ini. Artikel yang dimuat dalam literature review ini menunjukkan adanya isolatt resisten pada Uji kepekaan antibiotik Salmonella thypi pada terapi utama yang diberikan. Pada beberapa kasus mengalami resisten terhadap ceftriaxone, cefuroxime, amoxicillin, ampicillin, ciprofloxacin, augmentin,fluoroquinolones, azitromisin, dan nalidixic asam. Beberapa obat yang disebutkan sensitif terhadap S. Typhi ada Cefixime, ceftriaxone, kloramfenikol, ofloksasin, sefepim, kuinolon, dan sefalosporin generasi ketiga. 
PENGETAHUAN TENTANG PROGRAM PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIBIOTIK PADA MAHASISWA KEDOKTERAN PROGRAM SARJANA DI FK ULM BANJARMASIN Rifkie Irianto Kusuma; Noor Muthmainah; Rahmiati Rahmiati; Agung Biworo; Hendra Wana Nur&#039;amin
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.10004

Abstract

Resistensi antibiotik adalah kemampuan suatu bakteri dalam memperlambat kerja dari antibiotik. Hal ini merupakan masalah yang krusial, oleh karena itu Kementerian Kesehatan menetapkan kebijakan Program Pengendalian Resistensi Antibiotik di rumah sakit. Dibuatnya kebijakan tersebut bertujuan untuk menciptakan kesadaran, pemahaman dan komitmen bersama tentang adanya masalah resistensi antibiotik yang ditindaklanjuti dengan gerakan terpadu nasional antara rumah sakit, profesi kesehatan, masyarakat, perusahaan farmasi, dan pemerintah daerah di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang program pengendalian resistensi antibiotik pada mahasiswa PSKPS di FK ULM Banjarmasin. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian observasional survei menggunakan kuesioner. Pengetahuan tentang program pengendalian resistensi antibiotik pada mahasiswa PSKPS di FK ULM Banjarmasin dikategorikan tingkat pengetahuan baik. Hasil penelitian ini didapatkan rerata 75,5% mahasiswa memiliki pengetahuan sangat baik, 19% mahasiswa memiliki pengetahuan baik, dan 5,5% mahasiswa memiliki pengetahuan cukup. 
DAMPAK LOGAM BERAT KOBALT DAN MERKURI TERHADAP PROTEIN PADA KEJADIAN DIABETES MELITUS: KAJIAN IN SILICO Nabila Rahman; Eko Suhartono; Fujiati Fujiati; Mashuri Mashuri; Bambang Setiawan
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9995

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit kompleks dengan keadaan dimana kadar glukosa plasma di atas normal. Penyakit ini dimanifestasikan pada jalur seluler yang berbeda-beda yaitu sekresi insulin, resistensi insulin, dan penyerapan karbohidrat. Kobalt dan merkuri merupakan logam yang berpotensi memiliki peran dalam kejadian diabetes melitus. Disebutkan bahwa logam berat meningkatkan gangguan dari pembentukan sel di pulau-pulau. Langerhans yang pada akhirnya terjadi resistensi insulin. Namun, untuk mekanismenya masih belum diketahui. Terdapat beberapa molekul protein yang keberadaannya berpengaruh besar pada kejadian diabetes melitus antara lain adenosine monophosphate protein kinase (AMPK), glutamine fructose-6-phosphate amidotransferase (GFAT), protein tyrosine phosphatases (PTP) dan tyrosine kinase insulin receptor. Afinitas pengikatan ion logam berat dengan AMPK terjadi pada sisi alosterik Cystein B sintase (CBS) menjadi domain tempat terikatnya residu asam amino hasil interaksi. Enzim GFAT dengan ion logam berat terjadi pada binding site dari GFAT terletak pada domain N-terminal. Interaksi antara PTP dengan ion logam pada active site yang terletak di dekat domain N-terminal yang berikatan yang menunjukkan sistein sebagai anion thiolate dan akan terinaktivasi apabila mengalami oksidasi. Tyrosine kinase insulin receptor dengan ion logam berat terjadi pada active site yang terletak di dekat domain C-terminal yang berikatan yang menunjukkan tyrosine yang bergerak menuju lingkaran aktivasi IRK. 
HUBUNGAN USIA DAN JENIS KELAMIN DENGAN KEJANG DEMAM SIMPLEK DAN KOMPLEK Barra Gusma Fadillah; Nurul Hidayah; Huldani Huldani
Homeostasis Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ht.v6i2.9978

Abstract

Kejang demam merupakan penyakit bangkitan kejang yang terjadi pada anak dengan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38°C. Kejang demam diklasifikasikan  menjadi 2 jenis kejang, kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks, yang diduga berhubungan dengan usia dan jenis kelamin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengaetahui hubungan usia dan jenis kelamin dengan kejang demam simpleks dan kompleks pada anak di RSUD Ulin Banjarmasin. Pada anak dengan umur 1-2 tahun sering mengalami kejang demam, yang dimana berkaitan dengan tingkat kematangan otak anak. Pada anak laki-laki sering mengalami kejang demam, dibandingkan anak perempuan hal ini berkaitan dengan proses neurogenesis.  Penelitian dilakukan dengan Cross Sectional Study dengan jumlah 60 sampel. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, yang diambil dari rekam medik di RSUD Ulin Banjarmasin. Analisis data menggunakan chi-square (R2). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pasien berusia < 2 tahun (56.7%), jenis kelamin laki-laki (65%), Hasil analisis data adalah tidak terdapat kebermaknaan secara stastik (p=0,297) antara usia dengan kejang demam simpleks dan kompleks dan tidak terdapat kebermaknaan (p=0.787) antara jenis kelamin dengan kejang demam simpleks dan kejang demam kompleks

Page 1 of 4 | Total Record : 32