Historiography
Historiography: Journal of Indonesian History and Education publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of Indonesian history, historical learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1, No 2 (2021)"
:
12 Documents
clear
PERAN MOHAMMAD TOHA PADA PERISTIWA BANDOENG LAOETAN API TAHUN 1945-1946
Mohammad Luthfi Herlambang;
Kurniawati Kurniawati;
Sri Martini
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (734.811 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p156-170
In the early days of independence, most cities in Indonesia still did not fully experience independence due to the colonialist's desire to regain control of their power in Indonesia. After the proclamation of independence was read out, the colonialists still wanted to control the remaining territories of their colonies. In various confIicts, one of them is in the city of Bandung, nameIy Bandung Iautan Api. This was initiated when the allied troops arrived in the city of Bandung to form a defense base in the city of Bandung. In this study, the figure to be discussed is Mohammad Toha, he joined the BBRI (Barisan Banteng RepubIik Indonesia) in 1945 by following several battle missions in the city of Bandung from 1945 to 1946. In his resistance, Toha succeeded in completing his mission of detonating a Dutch gunpowder warehouse. in DayeuhkoIot in 1946 which led to the end of the Bandung Lautan Api incident.Pada masa awaI kemerdekaan, sebagian besar kota-kota di Indonesia masih beIum sepenuhnya merasakan kemerdekaan dikarenakan keinginan penjajah untuk kembaIi merebut kekuasaannya di Indonesia. SeteIah dibacakannya prokIamasi kemerdekaan justru membuat para penjajah tetap menginginkan menguasai wiIayah sisa jajahannya. Diberbagai konfIik yang terjadi saIah satunya di kota Bandung yaitu Bandung Iautan Api. HaI ini diawaIi ketika kedatangan tentara sekutu ke kota Bandung untuk membentuk basis pertahanan di kota Bandung. DaIam peneIitian ini tokoh yang akan dibahas yaitu Mohammad Toha, dia bergabung dengan BBRI (Barisan Banteng RepubIik Indonesia) tahun 1945 dengan mengikuti sejumIah misi pertempurannya di kota Bandung dengan kurun waktu 1945 hingga 1946. DaIam perIawanannya Toha berhasiI menyeIesaikan misinya daIam peIedakan gudang mesiu miIik BeIanda di DayeuhkoIot tahun 1946 yang menyebabkan berakhirnya peristiwa Bandung Lautan Api.
DARI RITUAL MENUJU FESTIVAL: BANJIR DAWET DESA BANJARDOWO, KABUPATEN JOMBANG 1970-2019
Ananta Dharma Kusuma
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (792.073 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p222-230
Festival is a form of human joy that is expressed in the form of an exhibition. The festivals that are held can be of micro or macro types depending on the context of the celebration itself. Various examples of micro-scale festivals have been held, including in the village of Banjardowo Jombang, East Java. The festival held in the village is culinary delicacy with the name dawet flood. This study uses historical methods using sources in the form of articles, books, bold news, documentary videos and interviews. This study shows that the dawet flood underwent a transformation from what was originally a ritual shift to a festival in the form of village alms. The name of this festival has even come out in the ears of the people outside the village and a lot of outsiders have flocked to Banjardowo Village just to take part in the festival.Festival merupakan salah satu bentuk kegembiraan manusia yang dituangkan dalam bentuk perayaan. Festival yang diselenggarakan bisa berjenis mikro maupun makro tergantung konteks perayaan itu sendiri. Berbagai macam contoh festival skala mikro banyak terselenggara tak terkecuali di Di Desa Banjardowo Jombang, Jawa Timur. Festival yang diselenggarakan di desa tersebut bercorakkan kuliner dengan nama banjir dawet. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan menggunakan sumber-sumber berupa artikel, buku, berita daring, video dokumenter dan juga hasil wawancara. Studi ini menunjukkan bahwa banjir dawet mengalami sebuah tranformasi dari yang pada awalnya bersifat ritual bergeser menjadi sebuah festival berbentuk sedekah desa. Nama festival ini bahkan sampai keluar di telinga masyarakat luar desa dan banyak sekali masyarakat luar yang berbondong-bondong datang ke Desa Banjardowo hanya untuk mengikuti festival.
REVOLUSI FISIK DI JAKARTA TAHUN 1945- 1950 : KOTA JAKARTA MENJADI KOTA DIPLOMASI MENURUT SUDUT PANDANG TEORI DIPLOMASI PREVENTIF
Fauzi Rinaldie
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (700.641 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p171-177
The spread of the Proclamation of Independence of Indonesia was not the end of the Indonesian struggle. At that time, the Japanese had not yet left their feet, and while the Allies were coming to take their prisoners and repatriate the Japanese soldiers. The Allies responded to the neutral attitude of the Indonesians by bringing the Dutch and NICA (Netherlands Indies Civil Administration) to regain control of their colonies. There were armed tensions in several Indonesian cities, including Jakarta. This was exacerbated by the existence of the Allies who strengthened their position in Jakarta so that Prime Minister Syahrir on November 19, 1945, determined that TKR and various armies of the struggle of the Indonesian people to leave Jakarta. The reason was that at that time Indonesia was still not strong enough to defend itself from Allied attacks and at the same time get support from international countries. The author uses the theory of international relations, namely preventive diplomacy. The author uses literature review as a research method.Tersebarnya berita tentang Proklamasi Kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan bagi bangsa Indonesia. Pada saat itu, Jepang belum angkat kaki dan sementara Sekutu akan datang untuk mengambil para tawanannya dan memulangkan prajurit Jepang. Sikap terbuka orang Indonesia yang netral pada Sekutu dibalas oleh Sekutu dengan membonceng Belanda dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) untuk kembali menguasai wilayah jajahannya. Terjadi ketegangan bersenjata di beberapa kota Indonesia, termasuk Jakarta. Hal ini diperparah dengan keberadaan Sekutu yang memperkuat kedudukannya di Jakarta sehingga Perdana Menteri Syahrir pada 19 November 1945 menetapkan bahwa TKR beserta berbagai laskar perjuangan rakyat Indonesia untuk keluar dari Jakarta. Alasannya, adalah saat itu Indonesia dirasa masih belum cukup kuat untuk mempertahankan diri dari serangan Sekutu sekaligus mendapatkan dukungan dari negara-negara internasional. Penulis menggunakan teori dari hubungan internasional yaitu diplomasi preventif. Penulis menggunakan kajian pustaka sebagai metode penelitian.
MESSIANISME DALAM GERAKAN SOSIAL-KEAGAMAAN DI INDONESIA
Arif Subekti
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (714.145 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p193-203
This article aims to explore inter-connection between messianism and socio-religio movement in Indonesian history. Politics of the past, struggling to gain education, and religion culture shape today’s history, regarding the big man born by those power where has had history driven by. In the name of expression of peripheral area amongst severe pristine and well-known religion: i.e. Hindhu, Buddha, Islam, Protestant and Catholic; the believe of savior coming to save the world were the heart of messianism. The idea of messianism coloured the Indonesian history, until recent era.Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan kelit-kelindan antara gerakan sosial-keagamaan, dengan gagasan messianisme. Dinamika politik di masa lalu, perjuangan untuk mengakses pendidikan, serta tafsir agama sedikit banyak membentuk sejarah masa kini, dengan menempatkan tokoh-tokoh besar sebagai pusat arah sejarah bergerak. Atas nama ekspresi keagamaan di wilayah pinggiran, di antara pusat-pusat agama besar dunia; Hindu, Buddha, Islam, Protestan, dan Katolik; keyakinan akan datangnya juru selamat (messiah) yang akan menyelamatkan dunia dari kehancuran adalah inti dari gagasan messianisme. Gagasan ini mewarnai sejarah Indonesia, bahkan hingga masa kontemprer.
ANALISIS KARAKTER NASIONALISME DAN TOLERANSI PADA BUKU TEKS SEJARAH KELAS XI: MEMBANGUN JATI DIRI INDONESIA
Yohanes Purwanto
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (677.138 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p115-123
History learning aims to create a young generation who is educated and has a wise and wise attitude. Achieve this goal can be realized through education in schools. Textbooks become a reference in learning a subject, including history. The history textbook contains material relating to the past to its implementation in the present. History textbooks refer to the existing national education system and curriculum in Indonesia. One of the important aspects in history textbooks is the inculcation of character values that build a nation to be strong in unity, namely nationalism, and tolerance. The author aims to analyze the value content of nationalism and tolerance characters in the history textbook of class XI chapter on building Indonesian identity. The results of the research that have been analyzed indicate the inculcation of nationalism and tolerance values and in history textbooks in the material of early movement organizations and also the youth oath.Pembelajaran sejarah bertujuan untuk menciptakan generasi muda yang terdidik dan memiliki sikap yang arif dan bijaksana. Untuk mewujudkan tujuan tersebut dapat diwujudkan melalui pendidikan di sekolah. Buku teks menjadi acuan dalam pembelajaran suatu mata pelajaran termasuk sejarah. Dalam buku teks sejarah memuat materi yang berkaitan dengan masa lalu hingga implementasinya pada masa kini. Buku teks sejarah mengacu pada kurikulum dan sistem pendidikan nasional yang ada di Indonesia. Salah satu aspek penting dalam buku teks sejarah adalah adanya penanaman nilai-nilai karakter yang membangun bangsa menjadi kuat dalam persatuan yaitu nasionalisme dan toleransi. Tujuan penulis adalah untuk menganalisis muatan nilai karakter nasionalisme dan toleransi pada buku teks sejarah kelas XI bab membangun jati diri keindonesiaan. Hasil penelitian yang telah dianalisis menunjukkan adanya penanaman nilai nasionalisme dan toleransi dan pada buku teks sejarah dalam materi organisasi pergerakan awal dan juga sumpah pemuda.
TIGA FASE SEJARAH BERDASARKAN PEMIKIRAN IBNU KHALDUN DALAM SEJARAH INDONESIA
Bethari Widiya Hardanti
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (712.818 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p178-192
Ibn Khaldun is a philosopher with the title of the father of sociology as well as the foundation stone of history. During his life, Ibn Khaldun has produced many works. One of his world-famous works his Muqaddimah. In the Muqaddimah book, Ibn Khaldun talks a lot about historical philosophy. In addition, in the book, Muqaddimah Ibn Khaldun also describes the three phases of history, of which the three phases include the primitive phase, the village civilization phase, and the splendor phase. In Indonesia, the three phases correspond to the historical period. In Indonesian history, the primitive phase corresponds to the conditions of society during the Pleistocene and Post-Pleistocene periods, while the phase of village civilization is under the conditions of the community during the cultivation and negotiation period, as well as the splendor phase under the conditions of the community during the Hindu-Buddhist kingdom and the Islamic Sultanate. In every phase, Indonesian society has undergone many changes and developments. Both in the economic and socio-cultural fields.Ibnu Khaldun merupakan seorang filsuf dengan gelar sebagai bapak sosiologis sekaligus sebagai peletak dasar ilmu sejarah. Selama hidupnya Ibnu Khaldun telah banyak menelurkan hasil karya. Salah satu karyanya yang terkenal di dunia yaitu Muqaddimah. Didalam kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun banyak membicarakan mengenai filsafat sejarah. Selain itu didalam kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun juga memaparkan mengenai tiga fase sejarah, yang mana tiga fase tersebut meliputi fase primitif, fase peradaban desa dan fase kemegahan. Di Indonesia tiga fase terssebut sesuai dengan periode sejarahnya. Dalam sejarah Indonesia fase primitif sesuai dengan kondisi masyarakat pada masa Plestosen dan Pasca Plestosen, sedangkan fase peradaban desa sesuai dengan kondisi masyarakat pada masa bercocok tanam dan masa perundagian, serta fase kemegahan sesuai dengan kondisi masyarakat masa kerajaan Hindu-Budha dan Kesultanan Islam. Dalam setiap fase masyarakat Indonesia banyak sekali mengalami perubahan dan perkembangan. Baik dalam bidang ekonomi maupun sosial budaya.
MEMBANDINGKAN FUNGSI ALAT SERPIH PADA PENEMUANNYA DI INDONESIA BAGIAN BARAT DAN BAGIAN TIMUR TAHUN 1930-1980
Faniesa Ardianti Mahdiyar
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (785.675 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p231-238
Indonesia became part of the site of the spread of prehistoric culture, one of which was the distribution of tools that facilitated prehistoric human life. Shale tool is one of the simple tools of prehistoric human culture that in its distribution, shale tools became the dominant element and often became the main element. The purpose of this study to examine the characteristics of the discovery of shale tools in Western and Eastern Indonesia and compare the functions of the discovery of shale tools in Western and Eastern Indonesia. The research uses a methodological approach to history that includes four stages ranging from the heuristic stage, the criticism stage, the interpretation stage, and historiography. Through this study, it can be understood the comparison of the discovery of shale tools ranging from the characteristic aspects to aspects of prehistoric cultural functions in Indonesia, especially in Western and Eastern IndonesiaIndonesia menjadi bagian dari tapak tilas persebaran kebudayaan prasejarah, salah satunya persebaran perkakas-perkakas yang mempermudah kehidupan manusia prasejarah. Alat serpih merupakan salah satu perkakas sederhana hasil kebudayaan manusia prasejarah yang dalam persebarannya, alat serpih menjadi unsur dominan dan seringkali menjadi unsur pokok. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji mengenai karakteristik penemuan alat serpih di Indonesia bagian barat dan bagian timur serta membandingan fungsi dari penemuan alat serpih di Indonesia bagian barat dan timur. Penelitian menggunakan metodelogi pendekatan sejarah yang meliputi empat tahap mulai dari tahap heuristik, tahap kritik, tahap interpretasi, dan historiografi. Melalui kajian ini, dapat dipahami perbandingan penemuan alat serpih mulai dari aspek karakteristik sampai aspek fungsi kebudayaan prasejarah di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian barat dan bagian timur.
PAGELARAN WAYANG KULIT: PEMANFAATAN DALANG SEBAGAI PROPAGANDA POLITIK 1986-1990
Melinda Agil Pangesti;
R Wisnubroto;
Nur'aeni Martha
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (860.278 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p124-145
The shadow puppet is a cultural heritage of Indonesia that has emerged decades ago, which has also been recognized by the world. The puppet is a means of entertainment, as well as a place to express ideas. After the tragedy of the September 30th Movement, the New Order government issued a strategy for the continuation of social and political authority. This research examines wayang performance, namely the role of the puppeteer (dalang) in conveying development propaganda in Indonesia, especially in Banyumas, Central Java in 1986-1990. Wayang kulit performances during the New Order era through modified stories with developmental nuances.Tradisi wayang kulit merupakan warisan budaya Indonesia yang kemunculannya sejak puluhan tahun lalu, yang mana sudah diakui pula oleh dunia. Wayang sebagai sarana hiburan, juga sebagai tempat menuangkan gagasan. Pasca tragedi Gerakan 30 September, pemerintah Orde Baru mengeluarkan strategi dalam keberlangsungan otoritas sosial dan politik. Dalam penelitian ini mengkaji pementasan wayang, yaitu peran dalang dalam menyampaikan propaganda pembangunan di Indonesia, khususnya di Banyumas, Jawa Tengah pada tahun 1986-1990. Pertunjukan wayang kulit pada era Orde Baru menggunakan lakon yang telah dimodifikasi bernuansa pembangunan.
TERPINGGIRKAN DI TANAH KELAHIRAN: POTRET KELOMPOK INDO DI HINDIA BELANDA ABAD KE-19-20
Siti Faizatun Nisa’;
Aji Kusuma Dwi Yoga;
Ronal Ridhoi
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (783.517 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p204-212
The Indo group is a group of mixed-blood natives (in this case Indonesia) and Europeans. During the 17th and 18th centuries they became an elite group of aristocrats because most of them came from the descendants of European officials. However, since the second decade of the 19th century, the Indo group began to come under attack because it was judged that their culture (called Indic culture) was irrelevant to European ethics. This paper uses the historical method by doing a careful reading of sources in the form of books, articles, online news, and other supporting literature. This paper shows that the Indo group in the Dutch East Indies in the 19th to 20th centuries experienced a long dynamic as a marginalized mixed-blood group. Not only marginalized in terms of human rights, but also marginalized in Indonesian historiography.Kelompok Indo adalah golongan keturunan berdarah campuran pribumi (dalam hal ini Indonesia) dan Eropa. Selama abad ke-17 dan 18 mereka menjadi kelompok elit bangsawan karena kebanyakan berasal dari keturunan pejabat Eropa. Namun, sejak dekade kedua abad ke-19, kelompok Indo mulai mendapatkan serangan karena dinilai kebudayaannya (yang disebut kebudayaan Indis) tidak relevan dengan etika orang Eropa. Tulisan ini menggunakan metode historis dengan melakukan pembacaan secara teliti terkait sumber-sumber berupa buku, artikel, berita online, dan literatur pendukung lainnya. Tulisan ini menunjukkan bahwa kelompok Indo di Hindia Belanda pada abad ke-19 hingga 20 mengalami dinamika panjang sebagai kelompok berdarah campuran yang terpinggirkan. Tidak hanya terpinggirkan dalam hal hak asasi, tetapi juga terpinggirkan dalam historiografi Indonesia.
DUSUN NGGANDUL: CORETAN PILU MASYARAKAT DIAKHIR 1960 DAN PERALIHAN LAHAN KELURAHAN MERJOSARI
Irma Sulistiowati
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (684.107 KB)
|
DOI: 10.17977/um081v1i22021p239-245
The administration of a country is divided into several parts to facilitate optimal regulation of a region. Kelurahan Merjosari is one of the areas given autonomous rights by the government to take care of its governmental affairs, to achieve equal welfare for the people of Merjosari. The area of Merjosari village is divided into several hamlets, each hamlet has a naming history according to the history that developed in the area. One of them is the Nggandul hamlet, whose name is related to the high mortality rate in the community in the 1970s by hanging. This behavior is based on several factors, one of which is psychological pressure due to trauma from the G30S / PKI tragedy. The research used a descriptive qualitative approach with data collection techniques, namely heurustics, interview, and literature review.Pelaksaanan administrasi suatu negara, dibagi menjadi beberapa bagian guna mempermudah pengaturan suatu wilayah secara optimal. Kelurahan Merjosari menjadi salah satu wilayah yang diberi hak otonom oleh pemerintah untuk mengurus urusan pemerintahannya sendiri, demi tercapainya kesejahteraan yangmerata bagi masyarakat Merjosari. Wilayah kelurahan Merjosari terbagi dalam beberapa dusun, setiap dusun memiliki sejarah penamaan sesuai dengan sejarah yang berkembang di wilayah tersebut. Salah satunya adalah dusun Nggandul yang sejarah penamaanya dikaitakan dengan tingginya angka kematian masyarakat pada tahun 1970-an dengan cara gantung diri. Perilaku ini didasari oleh beberapa faktor, salah satunya tekanan psikis akibat trauma dari tragedi G30S/PKI. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data adalah heurustik, wawancara, dan kajian pustaka.