cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 40, No 1 (2012)" : 9 Documents clear
KARIER DAN KECENDERUNGAN TEMATIK KARYA-KARYA PUISI HERRY LAMONGAN DALAM KANCAH SASTRA JAWA MODERN Tirto Suwondo
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3017.768 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.50

Abstract

Penelitian ini secara khusus membahas karier dan kecenderungan tematik karya-karya puisi Herry Lamongan dalam kancah kehidupan sastra Jawa modern. Pembahasan dilakukan dengan landasan teori makro dan mikro sastra. Dari pembahasan terhadap karier dan ciri-ciri tematik karya-karya tersebut diperoleh simpulan bahwa dalam kancah sastra Jawa modern Herry Lamongan dikenal (1) sebagai penyair yang cukup produktif, (2) sebagai penyair yang serius walaupun pekerjaan itu hanya sebagai sambilan, (3) sebagai penyair yang secara dominan mengungkap masalah kehidupan manusia yang berkaitan dengan persoalan personal, sosial, dan metafisikal. The research in particular discusses the career and the thematic tendency of Herry Lamongan's works of poetry in the living world of modern Javanese literature. The analysis is carried on the ground of the micro and macro theories of literature. The analysis on the career and the thematic tendency of his poems gets on a conclusion that Herry Lamongan is, in the world of modern Javanese literature, well known (1) as relatively productive poetry writer, (2) as a serious poet in spite of his being poet was simply a so-called part-time job, (3) as a poet whose works of poetry consistently expose various human problems of life, especially those of personal, social, and metaphysical ones.
KESATUAN TOPIK WACANA PROSEDURAL RESEP MASAKAN DALAM BAHASA JAWA Titik lndiyastini
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2398.826 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.46

Abstract

Objek tulisan ini difokuskan pada masalah kesatuan topik dalam wacana prosedural resep masakan dalam bahasa Jawa. Kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk memerikan perihal kesatuan topik pada wacana resep masakan itu diciptakan. Wacana resep masakan merupakan sebuah wacana tulis yang utuh. Wacana itu merupakan salah satu jenis wacana prosedural, yakni wacana yang berisi keterangan prosedur/tahapan sesuatu dilaksanakan atau dibuat (Longacre, 1968 dalam Wedhawati dkk. 1979:2). Seperti wacana lainnya, wacana resep masakan memiliki topik. Untuk menjabarkan kesatuan topik dalam wacana resep masakan itu digunakan pendekatan struktural dengan metode agih dan teknik bagi unsur langsung serta teknik lanjutary yakni teknik ganti, lesap, dan baca markah. Pada kajian kesatuan topik wacana resep masakan ini terdeskripsikan adanya penataan topik dan strategi kesinambungan topik. Pada penataan topik tampak bahwa topik selalu ditempatkan di bagian depan dan ditonjolkan dengan penuliian secara ortografis. Pada strategi kesinambungan topik tampak bahwa topik dibentuk dengan cara dilesapkary diulang, dan ekuivalensi leksikal. This paper focuses on topic unity in procedural discourse of food recipes in Javanese language. This research was conducted to describe topic unity on making of the food recipes. The food recipes discourse is a whole written discourse. It is one of the procedural discourses, that is a discourse that contains procedural steps of information of something of being made or operated (Longacre, 1968 in Wedhauati.et.al. 1979:2). Food recipe discourse, like other discourse, has topic. Therefore, to explain topic unity in food recipe discourse, the research used structural approach with distributive method and directs element distributive technique and continual technique, that is change, deletion, and signal reading technique. This research describes topic organization and topic continual strategy. The topic organization shouts that the topic is always occupied in the initial part and is emphasized orthographically. The strategy continual topic shows that the topic is formed with deletion, repeatedly, and lexical equioalence.
CERPEN 'GENDHIS" KARYA ABIDAH EL KHALIQY DALAM PERSPEKTIF TINDAKAN KOMUNIKATIF HABERMAS Aning Ayu Kusumawati
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2820.382 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.51

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeksripsikan tindakan komunikasi yang ditampilkan oleh Abidah El Khalieqy dalam cerpen "Gendhis" dan sejauh mana tindakan komunikasi dalam cerpen "Gendhis" berdasarkan pada teori tindakan komunikasi Habermas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian menggunakan analisis teks (discourse analysis), yaitu menganalisis cerpen "Gendhis" untuk mengetahui isi dan makna yang terkandung dalam teks dengan teori komunikasi Habermas. Hasil penelitian rnenunjukan bahwa tindakan komunikasi dalam cerpen "Gendhis" memunculkan beberapa aspek, yaitu aspek dominasi, aspek emosi (kemarahan), dan aspek kekerasan. Adapun empat klaim, yaitu kejelasan (comprehensibility), kebenaran (truth), kejujuran (sincerity), dan keadilan (rightness) yang diajukan oleh Habermas ada dalam diri Gendhis, tokoh utama dalam cerpen tersebut, sedangkan tokoh Pak Lurah jauh dari harapan teori tindakan komunikasi Habermas. This research aims to describe communication act as presented bv Abidah El Khalieqy in her short story "Gendhis" and to understand how far the communication act works according to Habermas theory of communication act. This research used descriptive method that is fact searching use proper interpretation. Discourse analysis was used in analyzing "Gendhis" to reveal content and meaning of the work by Habermas' communication theory. The result shows that communication text in "Gendhis" short story contain some aspects, such as domination, emotion, and violence. Otherwise, four claims like comprehensibility, truth, sincerity, and rightness proposed by Habermas works in Gendhis herself, the main character in the short story, but do not work in character of Pak Lurah.
CERITA BERGAMBAR UNTUK PAUD ITK (KAJIAN TERHADAP TERNA, PESAN MORAL, DAN KESESUAIANNYA DENGAN USIA PERKEMBANGAN ANAK) Umar Sidik
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3998.845 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.47

Abstract

Fokus penelitian ini ialah persoalan tema dan pesan moral yang terdapat dalam cerita bergambar (cergam) untuk PAUD/TK serta kesesuaiannya dengan perkembangan anak usia dini/TK. Tujuan penelitiannya ialah untuk mediskripsikan tema-tema dan pesan moral yang terdapat dalam cegam serta kesesuaiannya dengan perkembangan anak usia dini/TK. Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik. Data ditentukan berdasarkan teknik purpossioe sarnpling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema dan pesan moral dalam cergam dapat dikelompokkan menjadi 7 macam, yaitu (1) kepercayaan dan pengamalan terhadap ajaran agama, (2) berperilaku, beretika baik, atau berakhlak baik (mulia), (3) pelestarian/pemeliharaan lingkungan hidup (flora, fauna), (4) bertanggung jawab, bekerja keras, dan kreatif, (5) kepedulian sosial, (6) menjaga kebersihary ketertiban, dan kesehatan, (7) menaati nasihat orang tua, guru, dan aturan yang berlaku. Tidak seluruh tema dan pesan moral yang terdapat dalam cergam sesuai dengan tingkatan usia perkembangan anak usia dini/TK. Pada cergam yang bertemakan keagamaan banyak tema dan pesan moral yang kurang sesuai dengan tahapan perkembangan anak usia dini/TK. Focus of this research is theme and moral value of picture story for PAUD/Kindergarten and its appropriateness with preschool children age/kindergarten. The aim of the research is to describe themes and moral teaching in pictures story and its appropriateness to the growth of preschool children/kindergarten. This research was conducted using pragmatic approach. Data was collected using purposive sampling. The result shows that themes and moral teaching could be classified into 7 kinds, (1) belief and application to the religious teaching, (2) good in attitude, ethic, or characters, (3) preservation/maintenance of natural life (flora, fauna), (4) responsible, hard worker, and creative, (5) social care, (6) keep on clean, orderly, and health, (7) obey to parents, teachers, and rules. The themes and moral teaching are not entirely suitable for children growth in preschool/kindergarten. ln pictures stories with religious theme, there appeared impropriate themes and moral teachings for children in preschool/kindergarten age.
WANI NGAIAH LUHUR WEKASANE, PESAN MORAL JAWA DALAM NOVEL BERBAHASA JAWA CANDHI KALAKAPURANTA KARYA SUGIARTA SRI WIBAWA: SEBUAH KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Yohanes Adhi Satiyoko
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3262.862 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.39

Abstract

Novel berbahasa Jawa Candhikala Kapuranta adalah sebuah novel berlatar belakang sejarath, yaitu pada masa pemerintahan Pakubuwono VI sampai dengan Pakubuwono X di Surakarta. Latar cerita diangkat menjadi dasar perumusan masalah, yaitu pengungkapan lingkungan sosial budaya (lebenswelf) masyarakat Jawa serta fenomena sosial yang muncul melalui penggambaran tokoh-tokoh cerita dalam aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Pembahasan rnenggunakan pendekatan dan teori sosiologi verstehen Janet Wolff dengan menguraikan fenomena kemasyarakatan yang terjadi pada masyarakat golongan bangsawan di Surakarta masa pemerintahan Pakubuwono VI sampai dengan Pakubuwono X serta menemukan perlambangan-perlambangan yang muncul dari interaksi sehari-hari antartokoh dalam Candhikala Kapuranta. Perlambangan-perlambangan yang diperoleh tersebut ditafsirkan untuk memahami ideologi pengarang. Latar cerita Candhikala Kapuranta menguraikan gambaran realis masyarakat golongan bangsawan dan interaksinya dengan orang kecil (wong cilik) yang dihadirkan sebagai oposisi kelas dalam latar sosial budaya. Oposisi tersebut adalah sebuah analogi dari laku spiritual manusia (wong cilik) untuk mencapat derajat kesempurnaan yang digambarkan dengan pencapaian derajat kebangsawanan. Laku spiritual tersebut menunjukkan satu pesan moral waningalah luhur wekasane dalam konteks logika orang Jawa, yaitu untuk mencapai sebuah cita-cita diperlukan perjuangan dengan sikap rendah hati, mengalah tidak untuk kalah, dan tidak meremehkan dan mengorbankan orang lain.Kata kunci: wani ngalah luhur wekasane, bangsawan, wong cilik, laku spiritualAbstractJavanese language novel Candhikala Kapuranta is a fiction historical background in the reign of Pakubuwana VI to Pakubuwana X in Surakarta. Story background of the novel was taken as problem formulation to reveal social cultural world (lebenswelt) of Javanese society and social phenomena through characters portrayal in which they interact daily. Discussion of the novel was conducted using sociological approach and verstehen sociological theory of Janet Wolff in finding social phenomena of noble society in Surakarta in the reign of Pakubuwana VI to Pakubuwana X and in interpreting typification as reflected in daily interactian among characters. Furthermore, the typifications were identified and interpreted to comprehend ideology of the author. Illustration of noble society and its interaction with lower class people (wong cilik) was portrayed as oppositional classes in social cultural background. The opposition was an analogy of spiritual exercise of people (wong cilik) to reach perfection degree as symbolized in noble degree achievement. The spiritual exercise shows moral value wani ngalah luhur wekasane in the context of Javanese people way of thinking that in reaching desirability they are required to be low profile, to be defeatist but not to be defeated, and never underestimate or sacrifice others.
DURASI VOKAL BAHASA INDONESIA: /i, e, u/ SUKU AKHIR TERTUTUP PENUTUR KELOMPOK ETNIS BETAWI Tri Saptarini
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2277.725 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.48

Abstract

Vokal /i/ dan /e/ adalah dua vokal dalam bahasa Indonesia yang terletak di bagian depan sehingga disebut vokal depan, sedangkan vokal /u/ dan /o/ adalah dua vokal bahasa Indonesia yang terletak di bagian belakang dan disebut vokal belakang. Vokal-vokal tersebut mempunyai ucapan yang bermacam-macam bergantung siapa yang mengucapkannya. Dalam penelitian ini dipilih masyarakat Betawi yang mengucapkannya dengan alasan bahwa masyarakat Betawi yang multietnis ini, akan mengucapkan kata pada suku akhir akan bervariasi. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan durasi vokal /i,e,u/ pada suku akhir tertutup. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini, yaitu metode deskriptif dengan teknik pengpmpulan data melalui perekaman. Hasil rekaman dipindahkan dalam komputer dengan menggunakan program PRAAT versi 3.9.2.2. Penerapan PRAAT dipilih untuk memastikan kecermatan segmentasi. Hasilnya berupa penghitungan durasi. Vowel /i/ and /e/ are two vowels, in Indonesian, which occurs to the initial part. Therefore they are called initial vowels, while vowels /u/ and /o/ are two vowels, in lndonesian language, which occurs to the coda. Therefore, they are called coda vowel. Those vowels have various sounds, depends on speakers. This research was conducted to understand Betawi society, in daily speaking. The society is identified as multiethnic, so that their ways of speaking, particularly in the cod syllable, are varied. The aim of the research was to describe vowel duration /i,e,u/ at the final coda syllable. Descriptive method was used as technique in collecting and recording data. The recording was transferred into computer using PRAAT version 3.9.2.2program. The program was chosen to define segmentation exactness. The result was duration extrapolation.
WACANA HORTATORI ULAR-ULAR BAHASA JAWA: KAJIAN SLOT DAN STRUKTUR SLOT Edi Setiyanto
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3354.405 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.44

Abstract

Kajian ini membahas wacana ular-ular bahasa Jawa. Kajian bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis slot pembangun dan struktur slot wacana ular-ular. Kajian bersifat struktural dengan memahami bahwa wacana merupakan bangunan yang tersusun dari slot-slot dengan fungsi dan sifat hubungan setiap slot yang juga berbeda-beda. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif. Untuk analisis digunakan metode agih teknik lesap, substitusi, dan permutasi. Data penelitian ini ialah tujuh contoh wacana ular-ular yang disusun oleh lima penulis. Berdasarkan kajian, diketahui bahwa wacana ular-ular juga tersusun dari tiga slot, yaitu pembuka, tubug dan penutup. Kekhasan slot-slot pada wacana ular-ular tercermin melalui (a) sifat keberadaan yang selalu wajib, (b) sifat distribusi yang tegar, (c) fungsi yang tidak bisa dipertukarkan dan (d) bentuk kata dan ungkapan yang digunakan. This study discussed about ular-ular discourse in Javanese language. The study aimed to describe kinds of building slot and structure of ular-ular discourse. Therefore, it was conducted in structural study to comprehend discourse as structured building of slots with function and different relationship attitude of each slot. The study was qualitative descriptive, so that the analysis used dissipation distributive technique, substitute and permutation. The data was collected from seven ular-ulardiscourses compiled by five writers. The result shows that ular-ular discourse is structured from three slots, opening, content and closing. Specification of those slots is reflected through (a) obligation of existence, (b) rigid distribution, (c) unchangeable function and (d) word and expression form.
SISTEM KONSTRUKSI KAUSATIF BAHASA BALI lda Ayu Mirah Purwiati
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2369.245 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.49

Abstract

Setiap bahasa di dunia memiliki cara untuk mengungkap kausatif. Comrie (1988) menyebutkan bahwa konstruksi kausatif selalu berisi dua komponen situasi, yaitu situasi penyebab (causer) dan akibat (effect).Situasi itu dapat diungkap dengan tiga cara, yaitu leksikal, morfologi, dan sintaksis. Dari penerapan teori itu yang dibantu dengan metode agih (Sudaryanto, 1993) didapatkan bahwa kausatif bahasa Bali terjadi secara leksikal melalui verba tertentu seperti verba nga'membuat', secara sintaksis dengan verba kompleks dan penghubung kerana 'karena', dan secara morfologi dengan afiksasi (-ang) pada verba takkausatif transitif, misalnya ngadas 'memelihara' -->ngadasang 'memeliharakan ... kepada '. Every language in the world has its way to reveal causative. Comrie (1988) mentions that causative construction always contains two situational components, that is causer and effect. Situation could be explained with lexically, morphologically, and syntactically. The research with distributive method (Sudaryanto, 1993) shows that causative in Bali language occurs lexically through particular verbs nga/strong> 'to make', syntactically through complex verbs and conjunction kerana'because', and morphologically through affixation (-ang) on transitive verbs, like ngadas 'to maintain --> ngadasang 'to maintain... to. . .'.
PRIBUMI VS ASING: KAJTAN POSKOLONIAL TERHADAP PUTRI CINA KARYA SINDHUNATA Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2243.673 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.45

Abstract

Identitas selalu menjadi persoalan bagi keturunan Cina di Nusantara. Permasalahan identitas tersebut adalah akibat politik identitas yang dilakukan oleh kaum Belanda. Politik tersebut menempatkan kaum berkulit putih, Cina, sebagai kaum Timur Asing (Vreemde Oostrelingen) di tingkat kedua dan pribumi (Inlanders) berada di tingkat ketiga. Selanjutnya, pelabelan Cina sebagai asing menimbulkan pengaruh panjang dan menjadi sebuah kesadaran bersama bagi masyarakat Indonesia modern. Pribumi versus asing (Cina) adalah efek dari kolonialisme yang terjadi di Indonesia sejak bertahun-tahun lalu. Gambaran tersebut didekonstruksi dalam Puti Cina, sebuah novel karya Sindhunata. Kajian ini menggunakan kajian poskolonial untuk mengungkap identitas pribumi dan asing (Cina), dan penindasan rasial terhadap keturunan Cina dalam novel Putri Cina. Identity problem always attaches to Chinese descendent in Nusantara. The problem is originated from identity politics treated by Dutch colonial. The politics places Chinese, the white, as the foreign East (Vreemde Oostrelingen) in second class and indigenous (Inlander) as third class society. Furthermore, Chinese labeling as foreigners has generated long impact and mass consciousness for modern Indonesian society. lndigenous versus foreigners (Chinese) is effect of long occupation of colonialism in Indonesia. Portrayal of the opposition is deconstructed in Putri Cina, a novel by Sindhunata. To reveal identity of indigenous and foreigners (Chinese) and race oppression to Chinese descendant in putri Cina, the study was conducted using postcolonial study.

Page 1 of 1 | Total Record : 9