cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 1 (2013)" : 7 Documents clear
BENTUK TINDAK TUTUR DIREKTIF KESANTUNAN BERBAHASA MAHASISWA DI LINGKUNGAN PGSD JAWA TENGAH: TINJAUAN SOSIOPRAGMATIK St.Y. Slamet; Suwarto W.A.
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2950.066 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.65

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk tindak tutur direktif kesantunan dan ketidaksantunan; (2) prinsip tindak tutur direktif; (3) strategi tindak tutur direktif, dan (4) urutan kesantunan bentuk tutur berdasarkan persepsi mahasiswa. Penelitian ini dilaksanakan di PGSD Jawa Tengah mulai Januari-November 2012. Penelitian ini bersifat naturalistik dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ialah mahasiswa dan dosen dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan angket. Validasi memanfaatkan trianggulasi sumber dan metode. Analisis data menerapkan analisis deskriptif model interaktif. Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa bentuk santun tuturan direktif mahasiswa dapat (1) berupa penanda, kaidah bahasa, dan perilaku santun; (2) berupa maksim kearifan, maksim kemurahan hati, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati; (3) memanfaatkan strategi positif dan negatif. Urutan kesantunannya ialah (a) rumusan saran (37,5%), (b) rumusan pertanyaan (15%), (c) isyarat kuat (12,5%), (d) isyarat halus (10%), (e) pertanyaan berpagar (6%), 0 pernyataan keinginan (3,75%), (g) pernyataan eksplisit (3%), (h) pernyataan imperatif (1,25%), dan (i) modus keharusan (1%). The goals of this research are to find and to describe: (1) the form of direct speaking in the language politeness, (2) the principle of direct speaking in the language politeness, (3) the strategy of direct speaking in the language politeness, (4) the ranking of direct speaking in the language politeness based student perception. This research held in the PGSD program of Central Java from January-November 2012. This is a naturalistic research and it uses the qualitative descriptive approach. The subject are college students and lecturers with the technique is the purposive sampling. The collecting data are observation, interview and questioner. The validity is by using source triangulation and method. The data analysis is by using the interactive descriptive analysis. This research can be concluded: (1) the form of politeness speaking can be seen based on the sign, the form of polite language, and the polite behavior; (2) the ideal of speaking form which is applied such as: the act maxim, the generosity maxim, the approbation maxim, the modesty maxim, the agreement maxim, and the sympathy maxim; while there are also the principle to prevent the use of bad word by using the eufism and honorific; (3) there are two strategies of politeness language, as follows positive and negative strategy; and (4) the sequence of politeness based on the students perception: (a) the advice pattern (37,5%), (b) the question pattern (15%), (c) the strong sign (1.2,5%), (d) the soft sign (10%), (e) the limited question (6%), (f) the demand statement (3,75%), (g) the explicit statement (3%), (h) the imperative statement (1,25%), and (i) the a must question (1%)
KARAKTERISTIK FONEM BAHASA CIACIA DIALEK MBAHAE Aji Prasetyo; Firman A.D.
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3154.518 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.66

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan fonologi dalam bahasa Ciacia dialek Mbahae yang dituturkan oleh masyarakat di Kabupaten Buton yang lebih dikhususkan pada fonem segmentalnya. Aspek-aspek yang diteliti ialah karakteristik fonem vokal, konsonan, dan diftong bahasa Ciacia yang diuraikan dalam bentuk inventarisasi bunyi dan pembuktian fonem. Cabang linguistik yang mempelajari variasi-variasi bahasa dengan memperlakukannya sebagai struktur yang utuh disebut dialektologi (Kridalaksana , 2008:42). Metode dalam penelitian ini bersifat kualiiatif deskriptif yang menjelaskan karakteristik fonem bahasa Ciacia dialek Mbahae. Teknik analisis yang digunakan ialah analisis pasangan minimal untuk menentukan status fonem dan selanjutnya dapat ditentukan alofon dari fonem-fonem tersebut. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan sebanyak 48 fonem segmental. Keempat puluh delapan fonem segmental tersebut terdiri atas 12 bunyi vokal, 25 bunyi konsonan, dab 11 bunyi diftong. Fonem-fonem vokal lebih bervariasi dibandingkan dengan fonem konsonan dan diftong. This research describes phonology in dialect Mbahne of Ciacia language which used by people in Buton regency, and more specified to its segmental phoneme. There are some aspects which studied in this case thaat are characteristic of vowel, consonant, and diphthong in Ciacia language that explained in the form of speech sound inventory and phoneme authentication. Branch of linguistics that studies language variations by treating it as unified structure called dialectology (Kridnlaksana, 2008:42).This research was used descriptive qualitative method to explain characteristic phoneme in Mbahe dialect of Ciacia language. This research was done by using minimal pair analysis to determine phoneme status and further more can be determined allophones of those phonemes. Based on the result of the analysis is found 48 segmental phonemes. Forty-eight segmental phonemes consist of 12 vowels, 25 consonants and 11 diphtongs. Phonemes of vowels have more variations than consonants and diphtongs.
ISOLEK MELAYU JAMBI SEBERANG DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BATANGHARI JAMBI Diana Rozelin
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3087.337 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.62

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian dialektologi yang mengkaji perkembhngan isolek 5 desa di DAS Batanghari. Daerah pengamatan ini dipilih karena berada dipinggir sungai yang dekat dengan kota Jambi sehingga memperlihatkan perubahan relik daninovasi yang cukup kuat. Jarak tempuh yang sangat dekat ini, secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir, budaya, dan bahasa asli masyarakat Melayu Seberang. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan kosakata yang berbeda, menentukan status isolek setiap titik pengamatan, dan mendeskripsikan relik dan inovasinya. Teori dialektologi yang digunakan merujuk ke Mahsun (1995); Nadra dan Reniwati (2009). Teori fonologi menggunakan teori dari Robins (1975); teori dialektometri menggunakan teori Guiter; penetapan Proto Malayic mengikuti Adelaar (1992). Jenis penelitian yang diterapkan ada du4 yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif dengan teknik top-down reconstruction. Hasil dari penelitian ini ialah pertama, ada 53 data yang tidak sama secara antardesa (26.5%); kedua, status isoleknya berupa beda dialek dan subdialek; ketiga, relik meneakupi vokal /a/, /i/, /u/, /?/, sedangkan bentuk inovasi bervariatif. This was a dialectology research which analyzed about the development of isolect 5 villages at DAS Batanghari. These places chosen because the position of villages near Jambi city, it would show strong changes of relic and innovation. The distance between Jambi city and Jambi Seberang not so far, so it would be influenced the way of thinking, culture, and the language of Jambi Seberang people. The purpose of this research was to describe difference words; identifying isolect status of every area; describing relic and innovation. The main theory which was used in this research that related to dialectology was Mahsun (1995);Nadra snd Reniwati (2009). Phonology used theory from Robins (1975); Dialectometry formula used from Guiter; Proto Malayic Adelaar (1992). The kind of research were: qualitative and quantitative research and also used top-down reconstruction technique. The result of this research first, there were 53 data for different words (26.5%); second, isolect status of area were different dialect and subdialect; third, relic of vocal were: /a/, /i/, /r/, /?/, and mendley innovation.
KONSEP KE-PRIYAYI-AN YANG TEREFLEKSI DALAM NOVEL PARA PRIYAYI KARYA UMAR KAYAM DAN GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER David Setiadi; Yati Aksa; M. Adji
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3008.491 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.67

Abstract

Novel Para Priyayi karya Umar Kayarn dan Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer merefleksikan gejala sosial ketika kedua novel diterbitkan. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra dan konsep priyayi dalam tinjauan historis, penelitian ini mengunggkapkan cermin sosial yang muncul dalam kedua novel tersebut. Konsep ke-priyayi-an: status ke-priyayi-an, jenis priyayi, pola kepercayaan, kritik terhadap ke-priyayi-an merupakan upaya kedua pengarang untuk memberikan konsep nilai ke-priyayi-an sebagai bagian dari penuangan gagasan sosio-kultural dalam wacana sastra. Research on the novel Para Priyayi by Umar Kayam and Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer is an analysis of social phenomena are created when the second novel. By using the sociological approach and the concept of literary aristocracy in the historical review. This study reveals social mirror that appears in the second novel. Based on the results of the study, which appears aristocracy concept include; aristocracy status, type of aristocracy, the pattern of beliefs, criticism of aristocracy, a second attempt to give the concept the author aristocracy value as part of the socio-cultural casting ideas in literary discourse.
KAIIAN INTERTEKSTUAL TIGA PUISI TENTANG NABI IUTH BERSAMA KAUM SODOM DAN GOMORA Puji Santosa; Djamari Djamari
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4208.317 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.63

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara intertekstual tiga puisi modern Indonesia yang berisi kisah tentang Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora, yaitu puisi "Sodom dan Gomora" Subagio Sastrowardojo, "Balada Nabi Luth AS" Taufiq Ismail, dan "Apakah Kristus Pernah?" Darmanto Jatman. Berdasarkan prinsip intertekstual, ketiga puisi modern Indonesia tersebut dikaji dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks hasil transformasi dengan teks lain yang diacunya, yakni kisah Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora yang termuat dalam Alkitab: Kitab Kejadian dan Alquran. Hasil kajian membuktikan bahwa ketiga teks puisi modern Indonesia itu merupakan mosaik, kutipan-kutipan, penyerapan dan transformasi teks-teks kisah Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora yang terdapat dalam Alkitab, Alquran, Cerita-cerita Alkitab Perjanjian Lama, dan Qishashul Anbiya. Dengan metode membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan diperoleh makna bahwa ketiga penyair sastra modern Indonesia tersebut secara kreatif estetis mentransformasikan kisah Nabi Luth bersama Kaum Sodom dan Gomora ke dalam puisi mereka yang benilai sebagai teladan kesabaran, ketabahan, ketawakalan, dan kerelaan ketika menghadapi berbagai cobaan hidup yang dideritanya, termasuk masalah penyimpangan seksual kaum Sodom dan Gomora sehinggi mendapatkan azab dari Tuhan: hujan belerang dan api serta bumi dijungkir-balikan. This study examines the intertextual three modern Indanesian poetry which contains the story of Prophet Luth with The Sodom and Gommorah the poem "Sodom and Gommorah" Subagio Sastro Wardojo, "Ballad of Prophet Luth AS" Taufiq Ismail, and "Did Christ Ever?" Darmanto Jatman. Based on the principle of intertextual, three modern lndonesian poetry is studied by comparing, aligning, and contrast the results of the transformation of the text with other texts to which it refers, namely the story of Prophet Luth with the Sodom and Gommorah is contained in the Bible: the Book of Genesis and the Quran. Result of the study prove that the three texts of modern lndonesian poetry was a mosaic, quotations, absorption, and transformation of texts with the story of Prophet Luth's tribe contained Sodom and Gommorah in the Bible, the Quran, the Bible stories of the Old Testament, and Qishalul Anbiya. .With the method of comparing, aligning, and contrast is obtained meaaning that three poets of modern Indonesian literature is aesthetically creatively transform the story of Prophet Luth with The Sodom and Goommorah into their poetry as a valuable example of patience, fortitude, resignation, and compliance when faced with various trials of life he sufferer, including the issue of sexual deviance Sodom and Gomorrah so get Wrath of the Lord rained brimstone and fire and earth turned upside-reversal.
TIPE-TIPE REDUPLIKASI SEMANTIS BAHASA INDONESIA: KAJIAN BENTUK DAN MAKNA Nanik Sumarsih
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2600.413 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.68

Abstract

Kajian ini memfokuskan pembahasan mengenai tipe-tipe reduplikasi semantis bahasa Indonesia, yang meliputi (1) tipe-tipe berdasarkan bentuk dan (2) tipe-tipe berdasarkan makna dan fungsinya. Konsep reduplikasi semantis yang digunakan dalam kajian ini menggunakan konsep reduplikasi semantis yang dikemukakan oleh Simatupang (1983), yaitu pengulangan arti melalui penggabungan dua bentuk yang mengandung arti yang sinonim. Data penelitian berupa bentuk kebahasaan yang berupa reduplikasi semantis. Sumber data yang digunakan ialah Kamus Besar Bahasa lndonesia (Pusat Bahasa, 2008). Pemerolehan data dilakukan dengan teknik simak-ketik. Analisis data menggunakan metode padan referensial dan metode agih. Berdasarkan analisis bentuk, dinyatakan bahwa tipe-tipe reduplikasi semantis bahasa Indonesia dapat berupa (1) morfem bebas dan morfem bebas, (2) morfem bebas dan morfem terika, dan (3) morfem terikat dan morfem terikat. Menurut kategorinya bentuk tersebut dapat berupa kata benda, kata sifat, dan prakategorial. Berdasarkan makna dan fungsinya, reduplikasi semantis terdiri atas (1) berbagai (kumpulan) dari berbagai jenis dasar, yang memiliki fungsi menyatakan bermacam-macam dan (2) intensif, yang memiliki fungsi menyangatkan. The study focuses on Indonesian reduplication concept that cover their (1) form and (2) meaning and function. Semantic reduplication concept used in this study refers to semantic reduplication concept proposed by Simatupang (1983) that is reduplication meaning through the combination of two forms, which have synonym meaning. The data taken is linguistic unit inform of semantic reduplication. The data source is Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa, 2008). The collection of data is carried out by using rending-typing. The data analysis uses referential match and apportion method. Based on form analysis it is found it that lndonesia semantic reduplication types can be in form of (1) free morpheme and free morpheme (2) free morpheme and bounded morpheme, and (3) bounded morpheme and bounded morpheme. Based on the category, the form can be found, adjective, and precategorial. Based on the meaning and function semantic reduplication includes (1) various group of different base types that function to state miscellaneous meaning and (2) intensity that function to intensify meaning.
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM BUKU AJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI SURAKARTA Sarwiji Suwandi; Hermanu jubagyo; Muhammad Rohmadi
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3103.411 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.64

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kualitas buku ajar Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) yang digunakan guru dari perpspektif multikultural dan (2) merumuskan kebutuhan guru dan siswa terhadap pendidikan multikultural dalam buku ajar BSI. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa buku-buku tersebut belum mengakomodasi nilai-nilai pendidikan multikultural secara lengkap. Hal tersebut tampak pada masih minimnya muatan dimensi-subdimensi pendidikan multikultural. Buku ajar BSI yang dibutuhkan guru dan siswa adalah buku yang tidak sematamata menyajikan materi kebahasaan dan sastra untuk mewujudkan kemahiran berbahasa dan apresiasi sastra, tetapi buku ajar yang memuat dan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan multikultural. Nilai pendidikan multikultural mencakupi (1) pengintegrasian materi; (2) proses mengonstruksi pengetahuan; (3) penyesuaian metode pembelajaran; (4) pengurangan prasangka; dan (5) penguatan budaya sekolah dan struktur sosial. This research aims at (1) describing the quality of the textbook (2) formulting the need of multicultural education in the textbook for students and teachers. Based on the analysis of data, it was concluded that the books da not accommodate multicultural values thoroughly. lt was signed by the minimum contain of multicultural dimension of the text book. The teachers and students do not only need textbooks which provide them with language and literature but also textbooks which contain multicultural values. The values of multicultural education compromise five dimension, namely (1) content integration; Q) the knowledge construction process; (3) an equity pedagogy; (4) prejudice reduction; and (5) an empowering school culture and social structure.

Page 1 of 1 | Total Record : 7