Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Karakteristik Bahasa Penyiar Radio JPI FM Solo Muhammad Rohmadi
Humaniora Vol 16, No 2 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.182 KB) | DOI: 10.22146/jh.820

Abstract

Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan penyiar Radio JPI FM Solo untuk berkomunikasi dengan para pendengarnya . Bahasa penyiar radio memiliki berbagai variasi dan karakter tersendiri dibandingkan bahasa-bahasa yang digunakan dalam ranah pendidikan, pemerintahan, dan keluarga . Karakteristik ragam bahasa penyiar Radio JPI FM Solo diwarnal campur kode, alih kode, dan nuansa humor dalam siarannya . Tujuan utama penyiar Radio JPI FM Solo adalah untuk menarik simpati pendengar dan berinteraksi dengan para pendengar Radio JPI FM Solo secara kreatif . Selain itu, ragam bahasa penyiar Radio JPI FM Solo memanfatkan beberapa fungsi utama ketika berkomunikasi dengan pendengarnya . Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi puitik, fungsi direktif, fungsi fatis, fungsi ekspresif, dan fungsi referensial dalam siaran Radio JPI FM Solo .
Strategi Penciptaan Humor dengan Pemanfaatan Aspek-aspek Kebahasaan Muhammad Rohmadi
Humaniora Vol 22, No 3 (2010)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3205.279 KB) | DOI: 10.22146/jh.1339

Abstract

Humor is universal. Nobody never gets involved with humor. It's the difference lies in its frequency and its target. One person may have a high sense of humor whereas another may have a low sense of humor. In fact every person needs humor in many communication activities. Though humor is only word game, people cannot avoid it. However, humor does not always cause the people to laugh. The creation of humor discourse can make use of articles, pictures, and sounds. Humor consumers assess humor variously. Sometimes people can feel happy when they hear humor; but sometimes they can feel infuriated, hateful, insinuated, or even aggrieved. This is caused by immeasurable humor context in each communication. It depends on the target that the humor creator wants.
REPRESENTASI KARAKTER BELA NEGARA DALAM SERAT TRIPAMA SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER KEPADA SISWA Bagus Wahyu Setyawan; Rahmawati Mulyaningtyas; Muhammad Rohmadi
ESTETIKA: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 3 No 1 (2021)
Publisher : STKIP PGRI SUMENEP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36379/estetika.v3i1.147

Abstract

Javanese literature is a product from ideas of author and Javanese poet which contain a great value. Many kind of Javanese literature has created from author and being a phenomenal works because contain morality values. One of phenomenal Javanese literature is Serat Tripama from KGPAA Mangkunegara IV. Serat Tripama tell us about three characters of wayang, that are Suwanda, Kumbakarna, and Karna. When we look moredeeper into Serat Tripama, there are contain good messages about nationalism values, it can look in depiction of three characters who was talking about. Serat Tripama can use to be a means to introducting national spirit characters for young generation. That way is related with the last condition, when many young generation having less of sense of belonging with their nation. Therefore, this way can use to introduction the Javanese literature works to the young generations, because in this globalization era most of our young generation preference like to learn the other works from the other culture than knowing and learning about their own culture, in this context is Javanese literature
STUDENTS-LECTURER(S’) SPEECH ACTS IN THE ACADEMIC PRACTICAL TEACHING SITUATED-COMMUNICATION Ratna Susanti; Sumarlam Sumarlam; Djatmika Djatmika; Muhammad Rohmadi
RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/retorika.v13i1.11707

Abstract

This study aims to explore the language politeness in an academic situated interaction between student-students and lecturer(s)-students the polytechnic campus environment  mediated by the Javanese cultural background, accurately to describe the reprimand speech acts used as a typical politeness expression; to explain the context following the use of speech acts as a form of politeness in classroom interaction between students and lecturers in academic activities. This study was conducted in Polytechnic Indonusa of Surakarta, Indonesia.The results show that the language used by the lecture and students in communicating are considered polite where the amount of politeness maxims application is much higher when compared to the violation of the maxims. Another result is the level of politeness of students with Javanese cultural background is covering tatakrama and andhapasor.
KAUM SUBALTERN DALAM NOVEL-NOVEL KARYA SOERATMAN SASTRADIHARDJA: SEBUAH KAJIAN SASTRA POSKOLONIAL (SUBALTERN IN NOVELS BY SOERATMAN SASTRADIHARDJA: A POST-COLONIAL LITERATURE STUDY) Winda Dwi Lestari; Sarwiji Suwandi; Muhammad Rohmadi
Widyaparwa Vol 46, No 2 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.456 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i2.175

Abstract

The research is originally inspired by the problem occurring on colonial era in Indonesia, especially Java area, which remains social strata differences problem in society i.e. native and colonial. Colonial creates hegemony which makes the native and the exile or known as subaltern. Colonizer portrays an ideology as if it takes side of the native. In contrarily it is as a mean to gain profit for the colonial. The research is based on theory developed by GayatriSpivak who proposes that the subaltern victims are mostly women. The research aims to describe how subaltern effort, especially women, in striving against colonizer oppression and also their culture i.e. Javanese culture. The method used in the research is descriptive method and content analysis technique. The result indicates that female character becomes subaltern as a result of marginalization, labeling, social status discrimination and applied customary law bond. Penelitian ini dilatar belakangi oleh permasalahan yang terjadi pada zaman penjajahan kolonial di Indonesia khususnya di daerah Jawa, yang meninggakan permasalahan adanya pembedaan strata sosial dalam masyarakat yaitu kaum pribumi dan kaum penjajah. Kaum penjajah menciptakan hegemoni yang membuat kaum pribumi seolah-olah hanya sebagai pengikut dan kaum buangan yang lebih di kena dengan kaum subaltern. Penjajah menanamkan ideologi yang seolah-olah berpihak kepada pribumi namun sebaliknya hal itu hanya sebagai sarana agar lebih menguntungkan penjajah. Penelitian ini berdasar pada teori yang dikembangkan oleh Gayatri Spivak yang menyatakan bahwa kaum subaltern yang banyak menjadi korban adalah perempuan. Penelitian ini bertujuan mendeskribsikan bagaimana upaya kaum subaltern khususnya perempuan dalam melawan ketertindasan dari penjajah dan juga  budayanya sendiri yaitu budaya Jawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik analisis isi (content analysis). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa tokoh perempuan menjadi subaltern karena temarginalisasi, mendapat pelabelan, dimiskinkan secara status sosial dan ikatan hukum adat yang berlaku. 
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM BUKU AJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNTUK SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI SURAKARTA Sarwiji Suwandi; Hermanu jubagyo; Muhammad Rohmadi
Widyaparwa Vol 41, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3103.411 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v41i1.64

Abstract

Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kualitas buku ajar Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) yang digunakan guru dari perpspektif multikultural dan (2) merumuskan kebutuhan guru dan siswa terhadap pendidikan multikultural dalam buku ajar BSI. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa buku-buku tersebut belum mengakomodasi nilai-nilai pendidikan multikultural secara lengkap. Hal tersebut tampak pada masih minimnya muatan dimensi-subdimensi pendidikan multikultural. Buku ajar BSI yang dibutuhkan guru dan siswa adalah buku yang tidak sematamata menyajikan materi kebahasaan dan sastra untuk mewujudkan kemahiran berbahasa dan apresiasi sastra, tetapi buku ajar yang memuat dan mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan multikultural. Nilai pendidikan multikultural mencakupi (1) pengintegrasian materi; (2) proses mengonstruksi pengetahuan; (3) penyesuaian metode pembelajaran; (4) pengurangan prasangka; dan (5) penguatan budaya sekolah dan struktur sosial. This research aims at (1) describing the quality of the textbook (2) formulting the need of multicultural education in the textbook for students and teachers. Based on the analysis of data, it was concluded that the books da not accommodate multicultural values thoroughly. lt was signed by the minimum contain of multicultural dimension of the text book. The teachers and students do not only need textbooks which provide them with language and literature but also textbooks which contain multicultural values. The values of multicultural education compromise five dimension, namely (1) content integration; Q) the knowledge construction process; (3) an equity pedagogy; (4) prejudice reduction; and (5) an empowering school culture and social structure.
Karakteristik Penggunaan Bahasa dalam Pembelajaran Kelas X di SMA Negeri 1 Karanggede Byuti Adi Maghfiroh; Muhammad Rohmadi; Nugraheni Eko Wardani
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 10 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v10i2.5377

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan dan menjelaskan karakteristik penggunaan bahasa Indonesia dalam pembelajaran kelas X di SMA Negeri 1 Karanggede, (2) mendeskripsikan dan menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan adanya karakteristik penggunaan bahasa Indonesia, serta (3) mengetahui dan menjelaskan fungsi bahasa Indonesia dalam pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis isi. Sumber data pada penelitian ini adalah tuturan guru dan siswa kelas X dalam pembelajaran serta informan meliputi guru dan siswa kelas X. teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, simak catat, dan wawancara. Teknik uji validitas data menggunakan teknik triangulasi data dan triangulasi teori. Teknik analisis data menggunakan teknik mengalir dengan tahapan dari awal pengumpulan data hingga kesimpulan akhir. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, terdapat enam karakteristik penggunaan bahasa dalam pembelajaran kelas X, yaitu bentuk ragam resmi, ragam usaha, ragam santai, ragam akrab, campur kode, dan alih kode. Kedua, ditemukan delapan faktor penyebab terjadinya penggunaan bahasa yang ditemukan, yaitu situasi penutur, posisi penutur, topik pembicaraan, lawan tutur, kebiasaan, refleks, kepanikan, dan keingintahuan. Ketiga, ditemukan lima belas fungsi bahasa pada pembelajaran kelas X, yaitu fungsi menyampaikan, memastikan, memusatkan perhatian, menerangkan, memerintah, menanyakan, meyakinkan, menegur, menegaskan, menyarankan, menghibur, mengeluh, menasihati, mengajak, dan mengimbangi lawan tutur. Total data yang ditemukan berjumlah 130 data.
Penguatan Wawasan Kebangsaan sebagai Upaya Mencegah Radikalisasi dan Menumbuhkan Cinta Tanah Air untuk Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Magelang Kundharu Saddhono; Budhi Setiawan; Muhammad Rohmadi; Ani Rakhmawati; Raheni Suhita; Sri Hastuti
Nusantara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 4 (2022): November : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/nusantara.v2i4.512

Abstract

Dalam rangka mewujudkan perlindungan terhadap masyarakat pedesaan terhadap paham radikalisme maka pendidikan dan penguatan wawasan kebangsaan untuk masyarakat pedesaan diperlukan sebagai bentuk kepedulian dari setiap pihak, baik pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan dan penguatan wawasan kebangsaan untuk masyarakat pedesaan akan terbentuk jika semua pihak memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan nilai kebangsaan dimulai semenjak dini. Masyarakat saat ini sangat rentan disusupi oleh paham dan gerakan radikalisme. Hal ini dikarenakan belum ada satu pun kebijakan spesifik untuk melindungi atau memproteksi masyarakat dari penetrasi paham dan gerakan radikalisme. Untuk itu, perlu adanya langkah konkret dalam hal mencegah radikalisasi dan penanaman nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan nilai kebangsaan pada masyarakat inilah yang menjadi dasar pembentukan awal karena meluruskan sebatang ranting jauh lebih mudah daripada meluruskan sebatang pohon, maka dari itu pendidikan nilai kebangsaan yang paling efektif adalah pendidikan pada masyarakat, terutama di pedesaan Pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa di masyarakat harus dilakukan dengan tepat. Pengembangan nilai moral untuk masyarakat bisa dilakukan di dalam tiga tri pusat yang ada, yaitu, keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Dalam pengembangan nilai moral untuk masyarakat perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Hal ini dikarenakan masyarakat adalah tempat berbagai macam karakter yang heterogen. Maka dari itu, tim pengabdi mengajukan kegiatan pengabdian berkaitan dengan penanaman nilai-nilai kebangsaan terhadap masyarakat pedesaan yang bertujuan untuk mengatasi perpecahbelahan masyarakat Indonesia ini dan mencegah radikalisme di masyarakat, mengingat banyaknya kelompok separatis lahir di Indonesia ini maka salah satu cara untuk memutuskan rantai gejolak yang bertujuan menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi, kegiatan pengabdian ini tidak hanya memberikan pembekalan tentang internalisasi nilai-nilai kebangsaan pada masyarakat tetapi juga akan diintegrasikan dengan aktivitas masyarakat dalam keseharian yang akan dibimbing secara komprehensif dengan mengambil tema penguatan wawasan kebangsaan Indonesia dan nasionalisme bagi masyarakat sebagai pilar bangsa.
Sosialisasi dan Pendampingan SK Nomor 0424/I/BS.00.01/2022 tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan untuk Perbaikan Tata Kelola Persuratan bagi Perangkat Desa di Kabupaten Magelang Sri Hastuti; Kundharu Saddhono; Budhi Setiawan; Muhammad Rohmadi; Raheni Suhita; Ani Rakhmawati
Karunia: Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol. 2 No. 2 (2023): juni : Jurnal Hasil Pengabdian Masyarakat Indonesia
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Maritim AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58192/karunia.v2i2.854

Abstract

The enactment of Law No. 24 of 2009 concerning Flags, Languages and State Symbols and the National Anthem which is confirmed by PP No. 57 of 2014, Minister of Education and Culture Regulation No. 42 of 2018, and SK No. 0424/I/BS.00.01/2022, of course, must be obeyed by all Indonesian citizens. Governance of correspondence in government agencies is one that is regulated in the law, in particular Article 33 paragraph 1 which reads "Indonesian must be used in official communication in government and private work environments". Meanwhile, linguistic problems, such as spelling errors, word choice errors, sentence meaning errors, sentence composition errors, are rarely considered. There are many versions of letters sent by government agencies, especially at the village/kelurahan level. There are many variations and there is no standard one related to this correspondence because government officials do not yet have standard guidelines. There are so many mistakes made by government officials in making official letters. The target group for this community service is the sub-district in Donorojo Village, Mertoyudan District, Magelang Regency, Central Java Province which consists of 12 hamlets. This community service program will be carried out in three stages, namely planning, implementation, and evaluation. The implementation of the program is planned to last 6 months starting in mid-2023. This implementation begins with planning, implementation, and ends with evaluation.
ANALISIS PRAANGGAPAN DALAM IKLAN BCA REALITA RAMADAN DARI MATA CHRISTINE HAKIM #TIBATIBATENANG DI YOUTUBE DI YOUTUBE Aisyah Salma Rasyidah; Muhammad Sulton Maulana; Muhammad Rohmadi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD) Vol. 3 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JURDIKBUD)
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurdikbud.v3i1.1285

Abstract

This study aims to describe the forms of presuppositions and to describe the types of presuppositions based on George Yule's theory in BCA advertisements on the reality of Ramadan from the eyes of Christine Hakim #tibatibatenang on YouTube. This research is a qualitative descriptive research using document analysis method. The data sources used are words, phrases, and sentences that have presupposition indicators in BCA advertisements on the reality of Ramadan from the eyes of Christine Hakim #tibatibatenang on YouTube. The data was analyzed through 5 stages, namely identifying the data, classifying the data, describing the data, concluding the data, and presenting the results of data analysis. The researcher concluded that the results of this study contained 12 research data that had been collected, there were 4 existential presuppositions, 3 inactive presuppositions, 1 lexical presupposition, 2 non-factive presuppositions, 1 counterfactual presupposition, and 1 structural presupposition.