Articles
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN ABAD KE-21 DAN TANTANGANNYA UNTUK BERPERAN DALAM MASYARAKAT 5.0
Suwandi, Sarwiji
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG 2020: SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN 10 JANUARI 2020
Publisher : PROSIDING SEMINAR NASIONAL PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (226.442 KB)
Abstract— Society 5.0 (Society 5.0) - or what is often referred to as intelligent society - represents the future of humans who have just utilized humans in various aspects of life. Innovations in science and technology determine a prominent place with the aim of overcoming social problems. Society 5.0 is based on a variety of pillars, including Industry 4.0 and cybernics. Community Vision 5.0 requires transformation in learning. For this reason, this paper will explain Community 5.0 and also transform education; 21st century learning and its implications for educators; and competency enhancement Keywords— community 5.0, educational transformation, 21st century learning needs, literacy competency development, strengthening character education. Abstrak— Masyarakat 5.0 (Society 5.0)—atau yang sering disebut masyarakat cerdas--merupakan masa depan baru umat manusia dengan memanfaatkan teknologi dalam pelbagai aspek kehidupan. Inovasi dalam ilmu dan teknologi menempati tempat yang menonjol dengan tujuan memecahkan masalah sosial. Masyarakat 5.0 didasarkan pada berbagai pilar, termasuk Industri 4.0 dan sibernika (cybernics). Visi Masyarakat 5.0 menuntut transformasi dalam pembelajaran. Untuk itu, makalah ini akan menjelaskan Masyarakat 5.0 serta pentingnya transformasi pendidikan; pembelajaran abad ke-21 serta implikasinya bagi pendidik; dan pengembangan kompetensi literasi serta penguatan pendidikan Kata Kunci— masyarakat 5.0, transformasi pendidikan, kebutuhan pembelajaran abad ke-21, pengembangan kompetensi literasi, penguatan pendidikan karakter.
PENGENALAN BUDAYA LOKAL DALAM PENGAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) DI INDONESIA MELALUI MATERI TEKS EKSPLANASI
Arief Setyawan;
Sarwiji Suwandi;
St. Y. Slamet
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kesepakatan pemberlakuan MEA 2015 merupakan salah satu kesempatan untuk mengaktualisasikan jati diri Indonesia di mata dunia. Di samping perekonomian sebagai sektor utamanya, bahasa dan budaya merupakan ranah yang akan turut terimbas oleh adanya Era MEA. Sebagai negara dengan populasi yang cukup besar dan konsumtif, Indonesia merupakan pasar yang besar dan menjanjikan bagi produsen luar. Melihat kesempatan tersebut, negara-negara di ASEAN akan tertarik untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia agar mampu bersaing di pasar Indonesia. Sebaliknya, Indonesia sebagai tuan rumah harus memiliki persiapan yang serius untuk menghadapi persaingan tersebut. Salah satu langkah nyata yang dapat dilakukan yaitu upaya pengenalan budaya lokal melalui jalur pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa selaku pengemban tugas pemelihara bahasa Indonesia telah menyusun bahan ajar berbasis teks yang diperuntukkan bagi pelajar BIPA dari tingkat pemula hingga tingkat mahir. Salah satunya mengenai teks eksplanasi yang sangat memungkinkan untuk diintegrasikan materi ajarnya dengan kebudayaan lokal. Penggunaan budaya lokal sebagai materi ajar BIPA adalah langkah konkrit yang dapat berfungsi sebagai: (1) pengenalan budaya lokal Indonesia terhadap penutur asing, (2) pengembangan wawasan keindonesiaan bagi penutur asing, dan (3) aktualisasi jati diri dan peningkatan eksistensi Bahasa dan Bangsa Indonesia di lingkup Internasional. Kata kunci: Era MEA, BIPA, Teks Eksplanasi, Budaya Lokal, Bahasa Indonesia.
MEMBANGUN MORALITAS GENERASI MUDA DENGAN PENDIDIKAN KEARIFAN BUDAYA MADURA DALAM PAREBASAN
Hani’ah Hani’ah;
Sahid Teguh Widodo;
Sarwiji Suwandi;
Kundharu Shaddhono
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep pendidikan kearifan budaya Madura sebagai dasar pembangunan moralitas generasi muda. Penelitian ini berusaha menggali informasi tentang nilai-nilai kearifan budaya Madura yang terdapat dalam Parebasan. Nilai-nlai kearifan budaya masyarakat Madura yang terdapat dalam Parebasan menarik untuk digali, mengingat masyarakat Madura dikenal memiliki ikatan budaya yang cukup kuat. Masyarakat Madura dalam praktik-praktik kehidupan bermasyarakat dipandang masih memegang teguh nilai-nilai kearifan budaya yang diwariskan nenek moyang mereka. Penelitian ini merupakan penelitian etnolinguistik, yaitu studi bahasa kaitannya dengan budaya tempat bahasa tersebut hidup dan berkembang. Etnolinguistik digunakan sebagai pendekatan untuk mengidentifikasi hubungan antara kelompok masyarakat dan praktik-praktik komunikasi. Parebasan (proverb) merupakan salah satu bentuk praktik komunikasi masyarakat Madura yang digunakan secara turun temurun dengan maksud dan tujuan tertentu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Parebasan (proverb) merupakan salah satu kearifan budaya masyarakat Madura yang dapat dijadikan konsep baru, yaitu pendidikan kearifan budaya. Dengan konsep tersebut maka akan sangat membantu masyarakat dalam membangun moralitas generasi muda seperti yang diharapkan. Kata-kata Kunci: moralitas, generasi muda, parebasan, kearifan budaya, masyarakat
EKSKURSI SEBAGAI STRATEGI BELAJAR BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) DALAM MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)
Ria Dwi Pusita Sari;
Sarwiji Suwandi;
St. Y. Slamet
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dampak globalisasi antara lain adalah terbentuknya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Arus globalisasi ini senantiasa menuntut kesiapan dan kedinamisan dalam segala aspek kehidupan. BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) ikut andil dalam pergulatan MEA tersebut. Dibutuhkan strategi khusus untuk mengajar BIPA agar efektif dan bermakna. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah strategi ekskursi, yaitu belajar di luar kelas dengan mengunjungi beberapa objek. Jenis ekskursi terdiri dari ekskursi akademika, ekskursi budaya, ekskursi wisata dan ekskursi sosial. Metode penelitian ini adalah studi pustaka (library research) . Sumber data berupa buku dan jurnal baik nasional maupun internasional. Teknik pengumpulan data dengan cara memperdalam pengetahuan peneliti tentang masalah dan bidang strategi ekskursi. Teknik analisis data menggunakan komparasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil dari kajian pustaka dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya ekskursi sebagai strategi belajar BIPA dapat memberikan tambahan wawasan bagi pemelajar baik secara kebahasaan, budaya, wisata dan lingkungan sosial, sekaligus melihat langsung bahasa Indonesia di masyarakat Indonesia. Hal ini mendukung kesiapan bangsa dan bahasa Indonesia dalam berkiprah di MEA.Kata kunci: Ekskursi, Strategi belajar, BIPA, MEA
PEMBELAJARAN APRESIASI DONGENG SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI PENDIDIKAN KARAKTER MENUJU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Aida Azizah;
Joko Nurkamto;
Sarwiji Suwandi;
Muhammad Rohmadi
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dalam dunia pendidikan, bahasa indonesia memiliki peran dalam menjaga keutuhan serta persatuan bangsa Indonesia. Pembelajaran sastra yaitu mengapresiasi dongeng adalah salah satu kompetensi yang harus dikuasai seseorang, dengan mengapresiasi estetika puitik dan unsur pembangun lainnya dapat dijadikan sebagai upaya mengoptimalisasikan pendidikan karakter bangsa. Dalam hal ini pendidik harus memberikan penguatan supaya karakter bangsa tidak luntur, terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean yang menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi masyarakat Indonesia. Dampak penerapan Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya pada sektor perdagangan tapi juga semua sektor, maka dari itu semua sektor harus siap untuk menghadapi penerapan ini. Salah satu apek yang perlu disiapkan adalah karakter bangsa yang berkualitas sehingga memiliki karakter yang mampu menjadikannya bersaing dalam era Masyarakat Ekonomi Asean.Kata kunci: Apresiasi Dongeng, Pendidikan Karakter, Masyarakat Ekonomi Asean.
REVITALISASI PERAN BUDAYA LOKAL DALAM MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA)
Yanuar Bagas Arwansyah;
Sarwiji Suwandi;
Sahid Teguh Widodo
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) saat ini menjadi fokus dalam pengembangan dan internasionalisasi bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini merevitalisasi peran budaya lokal sebagai identitas nasional dalam pembelajaran BIPA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan pentingnya revitalisasi budaya lokal dalam pembelajaran BIPA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih kurangnya bahan ajar BIPA yang menyertakan budaya lokal Indonesia di dalamnya. Oleh karena itu, revitalisasi budaya lokal dalam pembelajaran BIPA perlu dilakukan. Revitalisasi budaya lokal dalam pembelajaran BIPA selain dapat digunakan sebagai materi ajar, juga dapat digunakan oleh pengajar BIPA sebagai sarana memperkenalkan budaya dan tradisi-tradisi lokal-nasional di mata internasional -khususnya pembelajar BIPA-, menjadikan budaya lokal lebih diperhatikan dan dapat kembali eksis di tengah masuknya budaya asing di era globalisasi, memperkuat identitas bangsa Indonesia dengan budaya lokal-nasional yang beragam. Selain itu, memperkenalkan budaya lokal Indonesia kepada pembelajar BIPA juga menjadikan mereka mudah menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.Kata Kunci: revitalisasi, budaya, identitas nasional, pembelajaran, BIPA
KEUNIKAN BUDAYA MINANGKABAU DALAM NOVEL TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK KARYA HAMKA DAN STRATEGI PEMASARANNYA DALAM KONTEKS MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Deri Rachmad Pratama;
Sarwiji Suwandi;
Nugraheni Eko Wardani
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Indonesia sudah bergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak 31 Desember 2015. Ini menjadi salah satu peluang Indonesia untuk mempromosikan budaya yang dimilikinya ke luar negeri secara lebih mudah. Salah satu budaya tersebut adalah budaya Minangkabau yang tercermin dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka. Pengenalan budaya melalui novel ke luar negeri dapat meningkatkan wisatawan ke Indonesia khususnya Sumatera Barat sebagai latar novel tersebut. Hal ini bisa memberikan kontribusi untuk ekonomi Indonesia. Tujuan penelitian mendeskripsikan dan menjelaskan budaya Minangkabau yang terdapat dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka serta pemasarannya dalam konteks MEA. Penelitian ini dikaji dengan pendekatan antropologi sastra. Datanya berupa dialog atau narasi yang mengandung budaya Minangkabau. Ada tiga wujud kebudayaan yang terdapat dalam novel ini. Ketiga wujud kebudayaan itu ialah (1) wujud kebudayaan berupa norma dan peraturan, (2) wujud kebudayaan berupa aktivitas dan tindakan masyarakat, dan (3) wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia. Strategi pemasaran budaya Minangkabau dalam novel ini dapat dilakukan dengan cara adaptasi novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka kedalam bahasa Inggris atau berbagai bahasa di negara ASEAN.Kata kunci: keunikan, budaya Minangkabau, novel tenggelamnya kapal van der wijck, MEA
PENGEMBANGAN KOMPETENSI PERCAKAPAN PEMELAJAR BAHASA INDONESIA PENUTUR ASING DENGAN STRATEGI SIMULASI PERCAKAPAN (PERMAINAN PERAN DAN SOSIO-DRAMA)
Yeyen Purwiyanti;
Sarwiji Suwandi;
Andayani Andayani
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Situasi percakapan dapat terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. Interaksi percakapan dapat dilakukan dengan teman, guru, dan orang asing. Situasi komunikasi lisan dapat dilakukan dalam berbagai lingkungan. Pemelajar bahasa kedua perlu memiliki kemahiran komunikatif untuk mengembangkan komunikasi lisan. Belajar bahasa kedua di dalam kelas memerlukan strategi komunikasi, tujuannya adalah agar maksud yang ingin disampaikan dapat dipahami dengan jelas oleh mitratuturnya. Konteks pembelajaran di kelas mendorong guru untuk menerapkan strategi di dalam pembelajaran bahasa kedua. Pemelajar Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA) diharuskan dapat menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi di dalam kelas dan berinteraksi langsung dengan penutur asli. Tingkat kemahiran bahasa kedua yang belum maksimal mengharuskan pemelajar untuk menggunakan strategi komunikasi dalam berbicara. Strategi yang dapat digunakan oleh pemelajar BIPA, antara lain strategi meta-kognitif, strategi kognitif, dan strategi sosial dan afektif. Sementara itu, strategi permainan peran dan sosio-drama dapat dijadikan strategi simulasi percakapan dalam pembelajaran BIPA. Permainan peran dan sosio-drama dapat dilakukan di dalam dan luar kelas. Dengan penggunaan strategi permainan peran dan sosio-drama yang diterapkan, pemelajar BIPA memiliki kepercayaan diri saat presentasi lisan di depan kelas dan berinteraksi langsung dengan penutur asli.Kata Kunci, drama, percakapan
PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL VIDEO PEMBACAAN CERPEN BERMUATAN BUDAYA NASIONAL INDONESIA UNTUK KOMPETENSI MENELAAH KARYA SASTRA BAGI PEMELAJAR BIPA
Lerry Alfayanti;
Sarwiji Suwandi;
Retno Winarni
Proceedings Education and Language International Conference Vol 1, No 1 (2017): Proceedings of Education and Language International Conference
Publisher : Proceedings Education and Language International Conference
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pembelajaran bahasa merupakan sebuah proses untuk menguasai sebuah bahasa. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran bahasa dipengaruhi oleh dua unsur penting di dalamnya, yakni pengajar dan pemelajar. Begitu pula dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang mengharuskan pemelajarnya menguasai keterampilan bahasa maupun sastra. Khususnya bagi pemelajar BIPA tingkat mahir. Proses pembelajaran akan dikatakan berhasil apabila kompetensi yang diajarkan oleh guru atau pengajar dapat dikuasai pemelajar dengan baik. Perlu adanya persiapan yang harus dilakukan oleh pengajar sebelum menyampaikan kompetensi kepada pemelajar. Apalagi bagi pemelajar BIPA, karya sastra pasti cukup asing bagi mereka meskipun tidak sedikit yang sudah mengenal tentang karya sastra di negaranya masing-masing. Untuk itu pengajar BIPA sebaiknya menggunakan berbagai trik inovatif pembelajaran yakni salah satunya dengan menerapkan media pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan diajarkan kepada pemelajar BIPA. Menelaah karya sastra cerpen sangat pas apabila diajarkan dengan menggunakan media audio visual berupa video. Media video adalah media yang menampilkan gambar, gerak, maupun suara sehingga akan lebih menarik bagi pemelajar BIPA untuk menontonnya, serta dengan memilih video pembacaan cerpen yang bermuatan budaya nasional Indonesia sekaligus memperkenalkan keragaman kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia kepada pemelajar BIPA. Kata kunci : media audio visual, video pembacaan cerpen, BIPA
Pembelajaran Menulis Teks Cerpen Melalui Teknik Parafrase Lagu Populer di Sekolah Menengah Atas
Prissilia Prahesta Waningyun;
Sarwiji Suwandi;
Budhi Setyawan
Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (361.526 KB)
|
DOI: 10.24246/j.js.2018.v8.i2.p180-188
Studi kasus ini terfokus pada pembelajaran menulis teks cerpen berdasar pada Kurikulum 2013 di SMA Negeri 5 Surakarta . Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan strategi studi kasus terpancang tunggal. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, analisis dokumen, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap perencanaan pembelajaran menulis teks cerpen, guru melakukan langkah pengkajian terhadap silabus. Berdasarkan silabus tersebut selanjutnya guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Guru bahasa Indonesia di SMA Negeri 5 Surakarta telah memiliki perangkat pembelajaran yang lengkap. Perangkat pembelajaran tersebut yaitu: (1) Silabus Revisi Kurikulum 2013 dari pemerintah; (2) RPP menulis teks cerpen yang memiliki komponen susuai dengan Permendikbud Nomor 22 tahun 2016; dan (3) Analisis SKL, KI dan KD. Pada tahap pelaksanaan proses pembelajaran, diawali dengan pembelajaran menulis cerpen melalui penerapkan teknik parafrase lagu populer serta memanfaatkan penggunaan media audio visual berupa video. Sedangkan pada tahap penilaian pembelajaran dilakukan dengan menggunakan penilaian proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar menulis teks cerpen yang mengacu pada Permendikbud Nomor 23 Tahun 2013.