cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 1 (2014)" : 8 Documents clear
VITALITAS BAHASA BAHONSUAI DI DESA BAHONSUAI, PROVINSI SULAWESI TENGAH Sri Winarti
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3086.5 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.85

Abstract

Dalam tulisan ini dibahas vitalitas bahasa Bahonsuai di desa Bahonsuai, kecamatan Bumi Raya, Kabupaten Morowali, provinsi Sulawesi Tengah. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui vitalitas bahasa Bahonsuai yang menurut data SIL (2006) penuturnya tinggal 200 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif, yaitu penelitian yang dilakukan berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menghubungkan komposisi responden dengan pendapatnya terhadap sebelas kelompok pertanyaan. Kriteria vitalitas bahasa mengacu pada pendapat Grimes (2001). Temuan yang didapat dari penelitian ini ialah vitalitas bahasa dapat diketahui dari dua hal yang berkorelasi, yaitu antara indeks ranah penggunaan bahasa dengan karakteristik responden, yaitu (1) jenis kelamin (2) usia, (3) jenjang pendidikan, dan (4) jenis pekerjaan. Vitalitas bahasa Bahonsuai berdasarkan jenis kelamin, kelompok usia, jenjang pendidikan, dan jenis pekerjaan umumnya dikategorikan stabil serta mantap, tetapi berpotensi mengalami kemunduran. This paper analyses Bahonsuai vernacular vitality at Bahonsuai Village, Bumi Raya Subdistrict, Morowali Regency, Central Sulawesi Province. This writing's aim is to acknowledge vitality of Bahonsuai vernacular which is according to SlL has remained 200 speakers. The method of this research is descriptive method i.e. a research which is based on facts in the field. This writing is a quantitative research result which attach respondent composition and opinions toward eleven questions categories. The conditions of language vitality refers to Grimes (2001") concept. The result of this research is the language vitality can be detected from two correlated items, i.e. index of language using domain with respondent characteristic, such as (1) sex, (2) age, (3) education, and (4) occupation. Generally, vitality of Bahonsuai vernacular based on sext age, education, and occupation is categorized in stable, steady, but potentially experience deterioration.
DIGLOSIA DI DAERAH PERBATASAN R. Hery Budhiono
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2332.042 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.81

Abstract

Penelitian ini mengkaji diglosia yang terjadi pada pemakaian kebahasaan pada masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan Provinsi Kalimantan Tengah-Kalimantan Selatan, tepatnya di kota Kuala Kapuas, yang merupakan masyarakat multibahasa. Setidaknya ada tiga Bahasa besar di daerah tersebut, yaitu Bahasa Ngaju (BNg), Banjar (BBj), dan Indonesia (BIn). Konsekuensi menjadi anggota masyarakat multibahasa adalah adanya pilihan-pilihan bahasa. Tujuan penulisan ini ialah memerikan situasi kebahasaan dalam kerangka kediglosikan. Penelitian inimerupakan penelitian deskriptif-sinkronis dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengain menggunakan kuesioner untuk mengetahui pilihan bahasa responden. Responden berjumlah 65 orang dan terdiri atas berbagai kalangan dan rentang usia. Berdasarkan dari yang diperoleh, terdapat setidaknya dua situasi diglosik yang melibatkin tiga bahasa di daerah tersebut, yaitu BIn-BBj dan BBj-BNg. Situasi diglosik lain dan melibatkan bahasa-bahasa daerah non-Ngaju sangat mungkin terjadi. Situasi diglosik tersebut ternyata tidak stabil, bahkan dapat tiris. Bahasa Indonesia sebagai bahasa tinggi kadang-kadang dipakai dalam ranah informal yang merupakan wilayah bahasa rendah. Banjar justru dapat sesekali menerobos kemapanan bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya. Hal tersebut merupakan bukti adanya ketirisan/perembesan. Pada situasi diglosik lainnya, bahasa_Banjar yang diposisikan sebagai bahasa tinggi bagi penutur bahasa Ngaju dapat pula dipakai dalam ranah informal. The paper studied diglossia situation in Kuala Kapuas as multilingual community, area of Central Borneo and South Borneo boundary. There are at least three major languages, namely Ngaju Dayak (NgD), Banjarese Malay (BM) and Indonesia (InL). As consequence of multilingual community member is the existence of language choices. The aim of the paper is to describe language situation relating to diglossic situations. This research is synchronic descriptive with survey method. The data was collected by using questionnaires to figure out respondents' choice of language. There are 65 respondents from different range of age, backgrounds and professions. According to the findings, there are at least two diglossic situation in involving three languages, i,e. InL-BM and BM-NgD. .The other kind of diglossic situation involving other languages than NgD might exist. However, those two diglossic situations evidently are not stable and even more leak. InL as high language is often spoken in informal field that belongs to low language domain. Occasionally, BM can exactly brerak through instability and vice versa. This becomes evidence for diglossia leakage. In another diglossic situation, BM which is considered to be high language for NgD speakers can also be spoken occasionally in low language domain.
PROBLEMATIKA PELAKSANAAN KEBIJAKAN PENYIARAN PROGRAMA 4 RRI UNTUK PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH Darmanto Darmanto
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3276.868 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.86

Abstract

Guna memperkuat eksistensi budaya lokal, termasuk untuk pemertahanan bahasa daerah, Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) telah merevisi kebijakan penyiaran Programa 4 sebagai saluran khusus budaya yang dikeluarkan tahun 2007. Dalam kebijakan baru tahun 2013, penggunaan bahasa daerah diperbanyak. Studi ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan berkenaan dengan macam problematika yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan penyiaran Pro 4, khususnya sebagai satu bentuk upaya pemertahanan bahasa daerah. Mengacu pada teori implementasi kebijakan dan penggunaan metode triangulasi dalam proses pengumpulan data, diperoleh simpulan bahwa pada level pelaksanaannya, kebijakan penyiaran Pro 4 menghadapi sejumlah problematik yang dapat dibedakan menjadi dua. Problematik pertama berasal dari lingkungan luar RRI yang solusinya harus datang dari kemauan politik negara. Problematik kedua berasal dari lingkungan dalam RRI, baik bersifat struktural maupun kultural. Persoalan struktural menyangkut hubungan antara Dewan Pengawas dan Dewan Direksi LPP RRI selaku pembuat kebijakan dengan pihak pelaksana. Persoalan kultural disebabkan oleh iklim kerja yang dibangun pada era Orde Baru sebagai lembaga birokrasi, bukan lembaga media massa yang harus profesional dan independen. To strengthen local culture existence, including local language maintenance, Indonesia Republic Radio Public Broadcasting Institution (LPP RRI) has reaised program 4 broadcasting policy as special channel for culture that has been released since 2007. The new policy in 2013 states that the use of local language had been added. The study is conducted to answer question regarding to various problems in implementation of Pro 4 broadcasting policy, particularly as a way to maintain local language. Referring to policy implementation theory by using triangulation method in process of data collection, it can be concluded that in the level of its implementation, Pro broadcasting policy has faced some problematic matters, which can be differentiated into two. The first problem from RRI outside environment and solution for this problem should come from state political will. The second problem is inside RRI environment structurally as well as culturally. Structural problem involves relation between Supervision Board and Director Board LPP RRI as policy maker and doer party. Meanwhile, cultural problem is caused by working climate that is built in New Era as bureaucratic institution, not as mass media institution that should be professional and independent.
KETIMPANGAN JENDER DALAM NOVEL GADIS KRETEK KARYA RATIH KOMALA Dara Windarti
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3392.578 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.82

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan ketimpangan jender dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Komala yang terbit tahun 2012. Teori yang digunakan dalam perlelitian ini adalah teori fungsional jender. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan. Metode yang digunakan untuk analisis data adalah deskriptif analisis. Pembahasan ini menghasilkan hal-hal berikut. Pertama, adanya kesempatan dan kebebasan bagi perempuan, mengantarkan perempuan memiliki peran dominan di sektor publik. Kedua, ketimpangan jender berupa perbedaan peran, perilaku, dan karakteristik emosional antara laki-laki dengan perempuan, serta paksaan kultural, menyebabkan jatuhnya dominasi peran perempuan di sektor publik. The purpose of this study was to describe the gender inequity in the novel Gadis Kretek by Ratih Komala, published in 2012. The theory used in this study was gender functional. Data collection was done by using literature technique. The method used for data analysis was descriptive analysis. This discussion was as follows. First, there were opportunity and freedom for women to deliver woman to have a dominant role in the public sector. Second, there was the inequity gender in the form of different roles, behaviors, and emotional characteristics between man and woman, as well as cultural force that caused the fall of woman dominant role in the public sector
OPOSISI BINER PADA TOKOH PERAWAN SUNTHI DALAM SASTRA LISAN KENTRUNG PERAWAN SUNTIHI TUBAN M. Oktavia Vidiyanti
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2380.832 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.87

Abstract

Tulisan ini mengungkap aspek-aspek ketertindasan perempuan atas diri laki-laki yang dialami tokoh bernama Perawan Sunthi yang terdapat dalam lakon kentrung Tuhan Jawa Timur. Dalam cerita kentrung tersebut, Perawan Sunthi sebagai tokoh utama perempuan mengalami penindasan structural yang berfokus pada struktur patriarki. Struktur itu berupa oposisi biner yang menunjukkan ketidakadilan yaitu melemahkan posisi perempuan melalui pelabelan negatif terhadap perempuan sehingga meletakkan perempuan pada posisi inferior. Dengan menggunakan konsep oposisi biner akan menunjukkan bahwa struktur laki-laki maupun perempuan yang hierarkis akan menimbulkan bentuk- bentuk oposisi biner yang akan memberikan wacana ketidakadilan gender sehingga dapat mengakibatkan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Dengan demikian tulisan ini diharapkan dapat memberikan wacana gender dalam situasi sosial yang lebih egaliter. This paper reveals woman oppression under man authority that experienced by Perawan Sunthi in kentrung character, Tuban, East Java. Ln Kentrung story, Perawan Sunthiasa main character has undergone structural oppression focusing on patriarchal structure. The injustice binary opposition structure weakens woman position by giving negative label on woman that puts the woman on inferior position. By using binary opposition concept will show that hierarchal man or woman structure makes binary opposition forms giving gender injustice discourse so that it causes discrimination and violence against woman. Therefore, this paper is expected to contribute gender discourse in more egalitarian social situation.
INTERFERENSI KOSAKATA BAHASA CINA KE DALAM BAHASA MELAYU BANGKA DALAM PERSEPSI PEMBENTUKAN KATA Rahmat Muhidin
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2825.779 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.83

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh interferensi kosakata bahasi Cina ke dalam bahasa Melayu Bangka di bidang pertambangan. Penelitian ini merupakan peneltian deskriptif. Dalam pengumpulan data digunakan teknik simak dan dalam analisis data digunakan metode deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembentukan kata dipilah ke dalam kategori (1) kata dasar yang berhubungan dengan istilah pertambangan, (2) kata majemuk (3) istilah umum dan sarana tambang; (4) peralatan tambang (5) istilah yang berhubungan dengan makanan dan minuman (6) istilah budaya dan tradisi Cina, (7) istilah perdagangan, dan (8) istilah transportasi. This paper aims to describe the influence of interference vocabulary of Chinese language into Bangka Malay language in mine workings. In this paper, the writer used descriptive method. In collecting the data, the writer used listening method and the data was analyzed by using descriptive method. From this research, the write concludes, the interference vocabulary of Chinese language into Bangka Malay language in mine workings can be categorized into (1) roots in mine workings, (2) compounds words, (3) terms and mining tools, (4) mining equipment, (5) terms of food and drink, (6) terms of culture and Chinese tradition, (7) terms of trading, and (8) terms of transportation.
BAHASA KHOTBAH JUMAT DI MASIID AGENG KABUPATEN KLATEN: UPAYA KONSERVASI BAHASA JAWA MELALUI PENANAMAN NILAI-NILAI AGAMA Prembayun Miji Lestari
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4058.204 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.84

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pola retorika khotbah Jumat dan karakteristik penggunaan bahasa Jawa yang digunakan dalam khotbah Jumat oleh khatib. Penelitian ini mengambil objek dari wacana lisan khotbah Jumat berbahasa Jawa di Masjid Ageng Jatinom, Kabupaten Klaten. Pengumpulan data dilakukan dengan cara merekam, yakni dengan teknik simak bebas, libat cakap, dan mencatat. Analisis dilakukan dengan metode padan dan metode distribusional. Hasil penelitian menunjukkan adanya pola retorika khotbah Jumat dan karakteristik penggunaan bahasa Jawa yang khas, seperti adanya pilihan ragam bahasa, campur kode, strategi komunikasi dalam bentuk persuasi, argumentasi, harapan, dan ajakan atau himbauan. The purpose of this study was to describe patterns of rhetoric Friday sermons and usage characteristics of Java language used in Friday sermon by the preacher. This study took an object of oral discourse Friday sermon at a mosque in Javanese Ageng Jatinom, Klaten. The data collected from the record that employed free listening technique, involving conversation technique, and noting technique. Analysis method used was the equivalent and distributional method. The result showed that there was a pattern of Friday sermon and rhetoric characteristic of Javanese language typical use, such as the presence of language choice variety, mixed code, the communication strategy in persuasion, argumentation, hope, and to persuasion or appeal form.
RELEVANSI PERUBAHAN SOSTAL BUDAYA POLITK (1945-1965) DAN DINAMIKA PENGARANG/PEMBACA SASTRA INDONESIA DI YOGYAKARTA Herry Mardianto
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2881.298 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.80

Abstract

Kehadiran media massa (majalah/surat kabar) tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosial budaya dan politik serta berbagai sistem yang tidak dapat dipisahkan darinya; diantaranya adalah sistem pengarang dan pembaca. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui siapa pengarang (karya sastra) dan pembaca yang terlibat dalam mempertahankan keberadaan majalah-majalah/surat kabar yang terbit di Yogyakarta pada tahun 1945-1965. Kajian berpijak pada tinjauan makro sastra Roland Tanaka. The existence of mass media (magazine/newspaper) cannot, be separated from cultural social and political problem and also various system around it; for example writer and reader system. This study is carried out to find out who is the writer (literary piece) and reader involved in maintaining magazines/newspaper published in Yogyakarta in 1945-L965 . The study based on Roland Tanaka literary macro review.

Page 1 of 1 | Total Record : 8