cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 2 (2014)" : 8 Documents clear
PEMANFAATAN KOMIK ANAK SEBAGAI MEDIA MITIGASI BENCANA Siti Anafiah
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3713.295 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.91

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) unsur-unsur dalam komik apa yang dapat dimanfaatkan sebagai media mitigasi bencana; (2) kesesuaian dan ketepatan komik anak bagi calon pembaca anak berdasarkan tahap perkembangan kognitifnya, dan (3) merumuskan pernanfaatan komik anak untuk mitigasi bencana dalam pembelajaran di SD. Objek penelitian ini adalah enam komik anak yang diterbitkan oleh yayasan IDEP untuk Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat tahun 2006. Komik anak yang dikaji tersebut diambil melalui teknik purposive sampling. Data diambil dengan menggunakan teknik baca dan catat. Data dianalisis melalui pendekatan pragmatik. Hasil penelitian ditemukan unsur-unsur intrinsik komik yang dapat dimanfaatkan sebagai media mitigasi bencana, yaitu tokoh tema, latar, alur, sudut pandang, dan amanat atau pesan. Muatan pengelolaan bencana pada komik anak terdapat dalam sebelum bencana (pencegahan dan kesiapan), selama bencana (peringatan; tanggapan darurat) dan setelah bencana (bantuan dan pemulihan bencana). Segmen pembaca komik ini adalah anak usia 9 - 12 tahun. Hal itu terlihat dari penggunaan bahasa yang digunakan lugas, jelas, dan sederhana dalam menyampaikan pesan sehingga mudah dipahami oleh anak. Perumusan pemanfaatan komik dalam pembelajaran di SD dapat diintegrasikan dengan pelajaran bahasa Indonesia. Selain itu juga dapat diintegrasikan dengan beberapa mata pelajaran tertentu, karena pembelajaran sekarang berpedoman pada kurikulum 2013 dengan pendekatan tematik integratif. This study aims to describe (t) the elements child comic book that can be used as n medium for disaster mitigation; (2) the suitability and appropriateness of the child comic book for the prospective reader of comic book based on child cognitive development stage; and (3) the formulation of child comic usability in disaster mitigation learning for elementary school. The object of this study is six child comic books published by IDEP Foundation for Community Based Disaster Mitigation in 2006. The studied child comic books are taken by purposive sampling technique. Data is taken by using rending and recording technique. Data were analyzed through a pragmatic approach. The research result shows that comic intrinsic elements that can be used as n medium for disaster mitigation, namely the character, theme, setting, plot, point of view, and the mandate or message. Disaster mitigation content in the child comic book is in the pre-disaster (prevention and preparedness), during a disaster (warning, emergency response) and after disaster (relief and disaster recovery). This comic reader segment is child aged 9-12 years. This is shown from language use, which is straight forward, clear, and simple in conveying the message; so that it is easily understood by child. The use of comics in the learning formulation in elementary school can be integrated with learning lndonesian. In addition, it can also be integrated with some specific subjects because learning is now based on the 2013 curriculum with integrated thematic approach.
ANALISIS PENGGUNAAN HURUF KANA OLEH MAHASISWA BAHASA JEPANG PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG UNIVERSITAS HASANUDDIN Imelda Imelda
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1922.677 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.96

Abstract

Kemampuan menulis merupakan kompetensi awal yang diajarkan kepada mahasiswa baru bahasa Jepang. Oleh karena itu, perlu menjadi perhatian serius dalam pembelajaran Bahasa Jepang dasar, menengah, hingga kompetensi tingkat lanjutan. Meskipun demikian, belum ada penelitian-penelitian yang berbasis language aquisation di Program Studi Sastra Jepang menjadi salah satu input untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menulis huruf Jepang. Penelitian ini berbasis kualitatif deskriptif dengan menggunakan 20 responden mahasiswa tingkat I, II, dan III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat I, dan tingkat III lebih cenderung banyak menggunakan huruf hiragana dibanding huruf katakana, sehingga tidak banyak terjadi kesalahan dalam penulisan katakann, sedangkan mahasiswa tingkat II lebih banyak mengeksplor kemampuan menggunakan katakana disusul dengan mahasiswa tingkat L Hal ini disebabkan karena mahasiswa tingkat I dan tingkat II masih menempuh perkuliahan Menulis, sedangkan mahasiswa tingkat III sudah tidak ada perkuliahan tentang menulis kana. Di samping itu, ada beberapa huruf kana yang cenderung di tulis tidak tepat dan bahkan bertukar, seperti huruf hiraganayang ditulis menjadi huruf katakanadan huruf katakana untuk huruf. Penulisan yang tidak tepat berpotensi menjadi error jika pembelajar tidak diberi input oleh pengajar. Hal itu, selain bentuknya yang berubah, juga dapat mengubah arti kata itu sendiri atau bahkan tidak berarti apa-apa. Writing competency is initial competency that is taught to new Japanese university student. Therefore, it should be given serious attention in basic Japanese, intermediate, until advanced level competency. However, there has not been a research on basis of language acquisition in Japanese literature Study program ns one of inputs to acknowledge Japanese writing student competency. This research is based on descriptive qualitative with 20 student respondents of level I, II, and III. The results shows that students of level I and level III Are more likely to use hiragana than katakana, so that there is not much mistake in writing katakana, while students of level II are more likely to explore the ability of using katakana, followed by the students of level I. This is because the students of level I and level II are still taking Writing lecture, while the students of level III have not had kana writing lecture anymore. Besides, there are some kana letters that tend to be written incorrectly and more were exchange, such ashiragana is written intoand forkatakana letter. Incorrect writing potentially becomes error if the students are not given input by the teacher. Thus, beside of the change of form, it also can change the meaning of the word itself or more over it does not mean anything.
DOMINASI BAHASA INGGRIS PADA NAMA BADAN USAHA DI YOGYAKARTA Riani Riani
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2870.9 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.92

Abstract

Tulisan ini membahas pengaruh bahasa Inggris terhadap penggunaan bahasa Indonesia dalam penamaan badan usaha di Yogyakarta. Data penelitian ini berupa frasa dan kata yang digunakan untuk menamai badan usaha di Yogyakarta. Data dikumpulkan dengan metode simak dan catat. Teori dalam tulisan ini meliputi struktur frasa nomina, relasi makna asosiatif, dan xenoglossophilia. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengaruh bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia dalam penamaan badan usaha sangat besar yang terlihat pada (1) bagaimana pengaruh struktur frasa nomina bahasa Inggris MD (menerangkan-diterangkan) terhadap struktur frasa nomina bahasa Indonesia DM (diterangkan-menerangkan) yang cukup mendominasi baik pada struktur maupun pilihan kata pada nama badan usaha; (2) pemilihan kosakata bahasa Inggris dalam penamaan nama badan usaha juga lebih diutamakan oleh pemilik badan usaha karena pengaruh kuat makna asosiasi bahasa Inggris yang dianggap lebih bergengsi dibandingkan bahasa Indonesiai; (3) dominasi pemakaian struktur dan pilihan kata bahasa Inggris terhadap penamaan badan usaha tampak tinggi terlihat dari jumlah nama badan usaha banyak menggunakan bahasa Inggris. Kecenderungan ini menunjukkan gejala xenoglossophilia atau rasa cinta berlebihan terhadap bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dibandingkan dengan bahasa Indonesia. This paper discusses the influence of English in naming of enterprise in Yogyakarta. The research data are phrase and word that are used for naming enterprise in Yogyakarta. The data is collected by observing and recording. The theory includes noun phrase structure, associative meaning relation, and xenoglossophilia. The research result shows that the influence of English on lndonesia in naming enterprise is great that can be shown on (1) haw the influence of English noun phrase structure MD (to explain-to be explained) on lndonesian noun phrase structure DM (to be explained-to explain) that is quite dominated both on structure and word choice of enterprise name; (2) The English vocabulary selection in naming enterprise is also more emphasized by the enterprise owner because the strong influence of English association meaning that is considered more prestige than lndonesian's. Domination of English structure and vocabulary in naming seems high as shown by great number of English use on enterprise name. The tendency of English domination points to xenoglossophilia or an infatuation with foreign languages, particularly English than lndonesian.
PERIAN MAKNA LEKSEM 'MENGOBATI SECARA HERBAL DENGAN BAHAN YANG TERSEBUT PADA BENTUK DASARNYA' DALAM BAHASA JAWA Sri Nardiati
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2626.53 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.97

Abstract

Di dalam makalah ini dideskripsikan hasil penelitian perian makna yang berkonsep mengobati secara herbal dengan bahan yang tersebut pada kata dasar. Leksem yang dianalisis berjumlah sembilan buah. Berdasarkan komponen makna yang dimiliki bersama, leksem nnnfunni'mengobati' berstatus sebagai superordinat. Leksem bawahannya dapat dikelompokkan menjadi tiga submedan. Berdasarkan komponen yang dimiliki bersama, pada kelompok I terdiri atas tiga leksem: mborehi, maremi, danboboki; pada kelompok II terdiri atas dua leksem: njamoni dan nyekoki; pada kelompok III terdiri atas tiga leksem: milisi, napeli, mupuki. This paper describes research result of herbal healing concept with herbal as basic material. There are nine lexemes to be analyzed. Based on shared meaning component, nambani 'to heal' lexeme has a status as superordinate. Its ordinate lexeme can be classified into three subfields. Based on shared component, group I consists of three lexemes: mborehi, maremi, and mboboki; group II consists of two lexemes: njamoni nnd nyekoki; group III consists of three lexemes: milisi, napeli, mupuki.
MITOS AIR "NYAI ANDAN SARI DAN KYAI GURU SOKA" (CERITA RAKYAT KABUPATEN GUNUNGKIDUL) Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3527.999 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.93

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka". Mitos itu berasal dari Kabupaten Gungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mitos itu mengandung makna simbol proyeksi pikiran manusia tentang air. Di dalam mitos ini ditemukan bahwa di Gunungkidul terdapat 31 sendang (mata air). Simbol air di dalam mitos memiliki makna yang tersembunyi di tengah kebudayaan masyarakat pendukungnya. Air menjadi simbol manusia (Dawung, Playen, Gunungkidul) untuk memperbaiki keadaan hidupnya supaya lepas dari himpitan kemiskinan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah strukturalisme Levi-Strauss. Teori ini didasarkan atas asumsi-asumsi bahwa mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru_Soka" mengandung makna tertentu dan sebagai fenomena bermakna. Mitos "Nyai Andan Sari dan Kyai Guru Soka" baru dapat dipahami makna dan pesannya jika di dalamnya diketahui struktur dan makna berbagai elemennya. Sesuai dengan teori yang dipakai, penetitian ini mempergunakan metode struktur. This study aims to reveal the myth of "Nyai Andan Sari and Kyai Guru Soka". The myth is from Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. In this mythical it is stated that in Gunungkidul there are 31. The myth implies projection symbol meaning of the human mind on the water springs. Water symbol in the mythical symbol has hidden meaning in cultural community of supporters. The theory used in this research is Levi-Strausss structuralism. This water has become a symbol o of human (Dawung, Playen, Gunung) to improve the state of his life in order to escape the crush of poverty. The theory is based on the assumption that the myth "Andan Nyai Sari and Kyai Guru Soka" contain certain meaning, and as a meaningful phenomenon. The meaning and the messange, Andan Nyai Sari and Kyai Guru Soka" myth can only be understood if the structure and meaning of the various elements are known. In accordance with the theory in this research, this study uses structure method.
SIKAP BAHASA MASYARAKAT PERKOTAAN DI KALIMANTAN Sugiyono Sugiyono; Wisnu Sasangka
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3501.441 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.89

Abstract

Makalah ini mendeskripsikan sikap masyarakat perkotaan di empat kota provinsi di Kalimantan terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif yang mengaitkan ciri sosial responden dengan pendapat terhadap sejumlah parameter sikap bahasa. Hasilnya diketahui bahwa indeks sikap bahasa masyarakat Kalimantan terhadap bahasa Indonesia secara umum tidak setinggi indeks sikap mereka terhadap bahasa daerah apalagi sikap terhadap bahasa asing. Berdasarkan hasil pembandingan indeks, sikap masyarakat Kilamantan terhadap bahasa asing tampaknya masih lebih positif dibandingkan dengan sikapnya terhadap bahasa Indonesia dan sikapnya terhadap bahasa daerah. Sementara itu, sikap masyarakat Kalimantan terhadap bahasa Indonesia lebih rendah daripada sikapnya terhadap bahasa daerah apalagi sikapnya terhadap bahasa asing. This paper describes urban society's attitude in four cities in Borneo on lndonesian, local language, and foreign language. The method used is quantitative method that relates respondent social characteristics to opinion on number of language attitude parameters. The result shows that Borneo society language attitude index on lndonesia generally is not as high as their attitude index on local language moreover on foreign language. Based on result of index comparison, Borneo society's attitude on foreign language seems more positive than on lndonesian and local language. Meanwhile, Borneo society's on Indonesian is lower than on local language moreover on foreign language.
ANALISIS KONTRASTIF INDONESIA-ARAB DALAM PADANAN TERJEMAH TEKS SASTRA: ANALISIS HERMENEUTIKA BUDAYA Moh. Pribadi
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4350.475 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.90

Abstract

Istilah "analisis kontrastif" dapat didefinisikan sebagai cara kerja mengkaji dua bahasa atau lebih secara sinkronis yang meliputi unsur fonetik, morfemik, sintaksis, dan budaya untuk kepentingan penerjemahan dan pengajaran. Tujuan analisis kontrastif adalah untuk mencari persamaan dan perbedaan antara dua bahasa atau lebih yang menjadi objek kajian. Adapun teori yang digunakan dalam tulisan ini ialah prinsip pengertian yang proposional (principle of proportional understanding). Metode yang digunakan ialah analisis kontrastif yang dideskripsikan melaui pola-pola sosiolinguistik. Manfaat dari temuan AK dalam dunia ilmu pengetahuan dapat memperluas pengetahuan objek bahasa yang menjadi sasaran; sedangkan manfaat AK dalam dunia terjemah (teks sastra) dapat digunakan sebagai salah satu usaha untuk mencari padanan kata terjemahan yang tepat dalam rangka mempertahankan pesan teks terjemah atas teks aslinya. Untuk itu, artikel ini difokuskan pada objek kajian teks sastra. Untuk mendukung analisis ini penulis mencoba menggunakan cara hermeneutika (takwil). Penggunaan pisau analisis ini dimaksudkan agar dapat menjadi alat yang tepat dalam kerangka mencari makna tafsir dan takwil atau teks sastra keduanya. Dari hasil interpretasi teks sastra keduanya dapat menemukan istilah-istilah bahasa yang tepat dalam teks sastra kajiannya sehingga terjadi komunikasi yang tepat antara teks sastra terjemahan. "Contrastive analysis" term can be defined as ways of working to study two languages or more synchronically covering phonetic, morphemic, syntactic, and cultural component for translation and teaching purpose. The contrastive analysis is aimed at finding similarities and differences between two languages or more ns object of study. Theory employed in this paper is Principle of proportional understanding. Method used in this paper is contrastive analysis that is described through sociolinguistic patterns. The benefit of contrastive analysis finding in socials science can extend language object knowledge that becomes the target; meanwhile, the contrastive analysis benefit in translation field (literary text) is as one of ways to find appropriate translation word parable in rendering translation text message of source text. Therefore, this article focuses on object of literature text study. To support this analysis the writer uses hermeneutic way (takwil). The use of analysis knife is aimed to have appropriate tool in frame of discovering interpretation meaning and takwil on both of literature text. The result of both of literature text interpretation can find appropriate language terms in its literature text study that occur appropriate communication between both of translation literary text.
MODAL-MODAL MAJALAH PAGAGAN: TINJAUAN SOSIOLOGI PIERRE BOURDIEU Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3330.897 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.95

Abstract

Keajegan penerbitan majalah Pagagan sejak tahun 1992 hingga 2014 memunculkan asumsi bahwa ada modal-modal tertentu yang menyebabkan majalah ini dapat bertahan. Modal-modal yang menunjang penerbitan Pagagan diasumsikan mendorong timbulnya praktik-praktik atau strategi pengelolaan penerbitan yang dilakukan oleh redaksi sehingga Pagagan mampu bertahan hingga 2014. Kajian ini bertujuan mengungkap modal-modal yang mendukung majalah Pagagan untuk dapat bertahan. Kajian ini menggunakan gagasan sosiologi Pierre Bourdieu tentang produksi karya sastra dipandang dari modal-modal yang melingkupi terbitnya karya sastra. Kajian ini bersifat deskriptif. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa modal ekonomi, simbolik, dan kultural mendorong timbulnya strategi-strategi redaksi yang menyebabkan Pagagan dapat hadir hingga tahun 2014. Dari ketiga modal tersebut, modal terkuat pendukung Pagagan adalah modal kultural. The constancy of Pagagan magazine since L992 to 20L4 emerges an assumption that there are certain capitals that make this magazine survive. The modals that support Pagagan publishing are assumed to force the emergence of practices or publishing management strategy that is carried out by editorial staff so that Pagagan has been able to survive until2014. This study is aimed at revealing supporting capitals of Pagagan magazine in order to be able to survive. This study uses Pierre Bourdieu's sociology idea on literary piece production viewed from capitals that encompass the literary piece publication. This study is descriptive. The result of analysis shows that economy, symbolic, and cultural capital drives the emergence of editorial strategy that causes Pagagan to exist until 2014. From the three capitals, the strongest supporting capital of Pagagan is cultural capital.

Page 1 of 1 | Total Record : 8