cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 43, No 1 (2015)" : 8 Documents clear
RELIGIUSITAS DAN KONSEP PERNIKAHAN SUKU BANGSA MANDAILING PADA UPACARA HATA PANGUPA (RELIGIOSITY AND CONCEPT OF MANDAILING ETHNIC MARRIAGE IN HATA PANGUPA CEREMONY) Eva Krisna; Fefa Srila Desti
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2404.617 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.105

Abstract

Hata Pangupa adalah pidato yang diucapkan untuk mengembalikan semangat (tondi) pada suku bangsa Batak Mandailing. Karya sastra lisan tersebut masih digunakan sampai hari ini oleh orang Mandailing dalam upacara ritual yang disebut Upa-Upa. Teks Hata Pangupa mengandung unsur-unsur yang bersifat religius. Kajian terhadap teks Hata Pangupa dilakukan dengan tujuan memperoleh makna teks sastra lisan dimaksud. Untuk mencapai tujuan kajian digunakan pendekatan antropologis. Data tulisan ini merupakan data sekunder yang diperoleh melalui metode penelitian perpustakaan. Data diolah dan ditulis dengan teknik deskriptif analisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa upacara Upa-Upa merupakan bagian dari keyakinan pada hal-hal yang bersifat keramat, misalnya percaya bahwa manusia, hewan, benda, hal, waktu, dan kesempatan memiliki nilai keramat (sacred value). Upacara Upa-Upa adalah bentuk religi yang didasarkan kepada satu Tuhan (monoteisme) yang dianggap menguasai seluruh alam semesta dan pelaksanaan upacara bertujuan mencapai kesatuan dengan Tuhan tersebut. Selain itu, upacara Upa-Upa juga mengandung konsep atau gagasan tentang pernikahan menurut masyarakat Mandailing.Hata Pangupa is speech spoken to restore the spirit (tondi) in Mandailing Batak tribes. Works of oral literature is still used to this day by the Mandailing tribes in Upa-Upa ritual. Hata Pangupa text contains religious elements. Study of Hata Pangupa text is done with the aim to achieve oral literature meaning of the text. To achieve the goal of the study, an anthropological approach is used. Data text is secondary data obtained through library research method. Data is processed and written with descriptive analysis technique. The analysis shows that the Upa-Upn ceremony is part of the belief in sacred things; for example, believe that human, animal, object, things, time, and opportunity have sacred value. Upa-Upa ceremony is a form of religion which is based on one God (monotheism) that is considered to control the entire universe and the ceremony is intended to achieve unity with God. In addition, the Upa-Upa ceremony also contains the concept or idea of marriage according to Mandailing community.
STILISTIKA KULTURAL (CULTURAL STYLISTICS) Burhan Nurgiyantoro
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3736.108 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.101

Abstract

Stilistika adalah sebuah disiplin ilmu yang mengkaji fungsi artistik penggunaan bahasa dalam berbagai konteks. Stilistika memberikan penjelasan perihal ketepatan atau ketidaktepatan penggunaan berbagai unsur bahasa dalam sebuah teks. Stilistika berada dalam titik persinggungan studi linguistik, seni, dan kultur. Stilistika kultural merupakan suatu pendekatan yang dipakai dalam kajian gaya sebuah teks yang sarat muatan makna filosofis-kultural. Pemahaman gaya teks akan tepat jilia dilakukan dengan berangkat dan atau mempertimbangkan aspek kultur yang melatarbelalangi. Teks kesastraan yang mengangkat aspek kultural masyarakat, tampaknya lebih tepat jika didekati, dianalisis, atau dipahami dengan pendekatan stilistika kultural. Ada banyak karya sastra Indonesia yang mengangkat latar belakang budaya masyarakat tertentu, misalnya latar belakang budaya Jawa lengkap dengan aspek filosofisnya. Lewat pendekatan ini, makna sebuah teks kesastraan dapat dipahami, digali, dan dijelaskan dengan baik.Stylistics is n discipline that studies artistic function of language use in different contexts, Stylistics provides an explanation regarding the accuracy or inaccuracy of various uses of language elements in t text. Stylistics is in the intersection point of linguistic studies, art, and culture. Culture Stylistics is an approach used in the style study as a text laden with philosophical-cultural significance. Understanding style of text will be appropriate if it is done by starting from and or taking into account the underlying culture. Literary text which raised the cultural aspects of society, it seems more appropriate if it is approached, analyzed, or understood by cultural stylistic approach. There are many Indonesian literatures that elavate certain cultural background, for example Javanese cultural background with its philosophical aspects. Through this approach, the meaning of literary text can be understood, explored, and explained well.
PEMATUHAN DAN PELANGGARAN PRINSIP KESOPANAN SERTA FUNGSINYA DALAM WACANA TERKAIT USULAN DANA ASPIRASI DPR DI RUBRIK POLITIK KOMPASIANA (COMPLIANCE AND VIOLATION OF POLITENESS PRINCIPLES AND ITS FUNCTION ON THE DISCOURSE OF ASPIRATION FUND PROPOSED BY REP) Ali Kusno
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3701.97 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.106

Abstract

Wacana dana aspirasi sebesar Rp1,2 triliun yang diusulkan DPR menjadi polemik dalam masyarakat. Polemik itu terjadi, salah satunya pada media sosial Kompasiana. Untuk itu, tulisan ini membahas fenomena pragmatik (pematuhan dan pelanggaran) pada rubrik Kompasiana dengan metode deskriptif kualitatif. Sementara itu, dalam pemerolehan data digunakan teknik unduh dan dalam penganalisisan digunakan metode interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para kompasianer (penulis artikel) mematuhi prinsip-prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan yang digunakan meliputi maksim kearifan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Pematuhan tersebut menunjukkan bahwa kompasianer menempatkan diri sebagai bagian masyarakat. Di sisi lain, pelanggaran prinsip kesopanan meliputi maksim pujian, yakni mengkritik langsung; bertutur kasar, sengaja ingin memojokkan mitra tutur, dan menyampaikan tuduhan atas dasar kecurigaan terhadap mitra tutur. Pelanggaran maksim kesepakatan dihrnjukkan dengan pertentangan pemahaman mengenai usulan dana aspirasi DPR. Pelanggaran-pelanggaran itu berfungsi untuk menyampaikan kritik pedas kepada anggota DPR.Discourse aspiration funds amounting to Rp11.2 trillion which is proposed by House of Representatives is being debated in society. Polemics happens, one of them on social media Kompasina. Therefore, this study discuses pragmatics phenomenon (compliance and violation) of Kompasiana rubric with descriptive qualitative method. Meanwhile, the data is obtained by using download techniques and in analyzing data employs interactive methods. The result shows that the kompasioner (writer of the article) adheres to the principles of modesty. Politeness principles used include tact maxime, approbation maxime, modesty maxime, agreement maxime, and sympathy maxime. The compliance function indicates that kompasioner get themselves as part of society. Meanwhile, violation of the modesty principle covers praise maxime, namely denounces members of Parliament in various ways, such as directly criticize with harsh words or phrases; speak with a driven sense of emotion; deliberately want to discredit hearer; convey the charges on the basis of suspicion against the hearer. Further violatioon of agreement maxime shows by the opposition understanding of the Representative aspiration fund. The intention of violation is to convey scathing criticism to members of Representative members.
PERUBAHAN FONEM DALAM DIALEK MELAYU AMBON (THE PHONEME CHANGING IN MALAY AMBON DIALECT) Suharyanto Suharyanto
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2375.309 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.102

Abstract

Variasi bentuk dalam suatu bahasa timbul karena perubahan bunyi yang terjadi dalam bahasa yang bersangkutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan internal yang telah dialami oleh dialek Melayu Ambon selama periode perjalanannya, khususnya perubahan internal yang terjadi pada aspek fonologi. Analisis data penelitian ini menggunakan teori dialektologi diakronis dengan metode kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa selama periode perjalanannya dialek Melayu Ambon telah mengalami beberapa perubahan fonem. Perubahan tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu korespondensi dan variasi. Perubahan yang berwujud korespondensi meliputi penggantian: PM*b/- VK# w, PM*k/#-V, PM*m/(K)V-#, PM*n/(K)V-#, PM*?/ -K#, PM* ? /#(K)-(K), PM*u/-(K)#, PM*u/#(K)-(K)o,PM*ay/-#, pelesapan: MP*h/#-V, MP*h/-vK#, MP*h/(K)V# , MP*k/(K)V, MP*?/KV,MP*t/KV-#, merger: MP*h,*k,*?,*t /KV-# , MP*m,*n/ (K)V-# ?, MP * ?,*a/ - (K)# a, MP * ?,*a/ - (K)# a, dan split MP *u/ - (K)# dan o. Perubahan yang berwujud variasi meliputi sinkope, apokope, epentesis, paragoge, asimilasi, desimilasi, metatesis, dan subtitusi.The form variation one language happens because of the sound changing in the language. This research is aimed to know the internal changing in Ambon Malay dialect on phonologic aspect during its existence. This paper uses diachronic dialectology theory in analyzing data and applying qualitative method. From the analysis, it is known that during the Ambon Malay existence there are some phonemes changing. The changing are classified into two categories: correspondence and variation change. The correspondence change includes substitution: PM*b/- VK# w, PM*k/#-V, PM*m/(K)V-#, PM*n/(K)V-#, PM*?/ -K#, PM* ? /#(K)-(K), PM*u/-(K)#, PM*u/#(K)-(K)o, PM*ay/-#, deletions: MP*h/#-V, MP*h/-VK#, MP*h/(K)V# , MP*k/(K)V, MP*?/KV,MP*t/KV-#, mergers: MP*h,*k,*?,*t /KV-# , MP*m,*n/ (K)V-# ?, MP * ?,*a/ - (K)# a, MP * ?,*a/ - (K)# a, and split MP *u/ - (K)# and o. The variation change includes syncope, apocope, epenthesis, paragoge, assimilation, dissimilation, metathesis, and substitution.
KOSAKATA BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN ADAT PERKAWINAN MELAYU BANGKA DI KOTA PANGKALPINANG (CULTURAL VOCABULARY ASSOCIATED WITH BANGKA MALAY MARRIAGE TRADITION IN PANGKALPINANG) Rahmat Muhidin
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2785.243 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kosakata budaya yang berhubungan dengan adat perkawinan Melayu Bangka di Kota Pangkalpinang. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan tokoh masyarakat Melayu di Kota Pangkalpinang. Kosakata yang diperoleh di lapangan dianalisis secara ensiklopedis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kosakata berkaitan adat pernikahan merupakan register pernikahan, beberapa kosakata dapat memperkaya kosakata bahasa Indonesia, dan kosakata ini memiliki makna melekat yang kaya akan nilai budaya.This research is aimed to describe cultural vocabularies related to marriage custom of Bangka Malay in Pangkalpinang Regency. Data were collected through interview to Malay society figures in Pangkalpinang Regency. The vocabularies were analyzed in an encyclopedic way. The result of this research shows that some vocabularies relate to marriage custom as register of marriage, some vocabularies can enrich lndonesian vocabularies, and these vocabularies have attached meaning which is rich of cultural value.
STRATEGI DAN LEGITIMASI KOMUNITAS SASTRA DI YOGYAKARTA: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA PIERRE BOURDIEU (STRATEGY AND LEGITIMACY OF LITERATURE COMMUNITY IN YOGYAKARTA: THE STUDY OF PIERRE BOURDIEU LITERATURE SOSIOLOGY) Aprinus Salam; Saeful Anwar
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3894.744 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.103

Abstract

Penelitian ini mengkaji kehidupan komunitas sastra yang banyak bermunculan di Yogyakarta. Komunitas-komunitas sastra ini menjadikan Yogyakarta sebagai daerah yang ideal bagi lahan penelitian komunitas sastra. Dari komunitas sastra yang ada di Yogyakarta, dipilih tiga (3) komunitas sebagai sampel penelitian, yaitu komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP), Diskusi Sastra PKKH (DSP), dan Studio Pertunjukan Sastra (SPS). Ketiga komunitas ini dipilih karena memiliki intensitas dan kontinuitas yang tinggi dalam penyelenggaraan acara sastra. Selain itu, acara-acara yang diselenggarakan oleh ketiga komunitas tersebut juga mengundang massa dari beragam kalangan masyarakat. Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah strategi dan legitimasi komunitas sastra yang ada di Yogyakarta. Untuk menguraikan persoalan-persoalan yang melatar belakangi penelitian ini, maka akan digunakan teori sosiologi sastra dari Pierre Bourdieu, terutama berkaitan dengan strategi dan legitimasi dalam peraihan modal simbolis di antara komunitas sastra. Ketiga komunitas yang diteliti memiliki strategi yang berbeda dalam menempatkan posisinya di dunia sastra. SBP mefokuskan acara pada selebrasi karya, SPS memadukan antara pertunjukan sastra dan bincang-bincang dengan titik berat pada pertunjukan, dan DSP memadukan pertunjukan dengan diskusi sastra dengan titik berat pada diskusi. Ketiga strategi komunitas ini mengakibatkan kadar legitimasi yang dimilikinya berbeda-beda. DSP memiliki kadar legitimitas yang tinggi dibandingkan dua komunitas lainnya. Meskipun SPS dan SBP memiliki kadar legitimasi yang kecil, dua komunitas ini menawarkan keuntungan lain bagi orang yang hendak berkunjung ke komunitas mereka. SPS menawarkan intimasi yang cukup luas terhadap para sastrawan sementara SBP menawarkan selebrasi karya bagi mereka yang hendak masuk ke dalam dunia sastra atau ingin meneguhkan dirinya sebagai sastrawan.This research aims to analyze the literature communities that exist in Yogyakarta. The rising number of communities makes Yogyakarta an ideal source for research in literature communities. Among the communities found in Yogyakarta, there are chosen as the samples. There are Komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP), Diskusi Sastra PKKH (DSP), and Studio Pertunjukan Sastra (SPS). They are chosen since they have entity and community in realizing their program. Besides, the community invite people from various backgrounds when they hold their programs. The focus of this research is the strategies and legitimacy of the communities. To answer the research question, Pierre Bourdieu's theory of sociology of literature especially related to the strategy and legitimacy to gain symbolical capital among the communities is applied. The three communities have different strategies to establish their position in Yogyakarta literature. SBD focuses on programs to celebrate literary works, SPS combines literature performance and discussion by focusing on the performance, and DSP combines the performance and discussion by emphasizing on the discussion. The different strategies bring about different levels of legitimacy of the three communities. DSP gains the highest level of legitimacy. Even though SPS and DSP acquire low level of legitimacy, they still offer profits to those who visit them. SPS offers intimacy to people whereas SBD gives celebration of literary works of those want to join the world of literature or to be literary writers.
CERITA RAKYAT 'SRI TANJUNG' DAN KONTRIBUSINYA BAGI TATA WILAYAH ZAMAN KERAJAAN DAN ABAD MODERN ("SRI TANJUNG" FOLKLORE AND ITS CONTRTBUTION FOR PLANOLOGY OF THE KINGDOM AGE AND THE MODERN CENTURY) Sukatman Sukatman
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3868.636 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.108

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan secara interdisipliner, yaitu gabungan penelitian sastra lisan dan sejarah. Sasaran penelitian ini adalah cerita Sri Tanjung dan situs sejarah Kerajaan Blambangan kuno di situs Gunung Ijen. Data penelitian ini dikumpulkan dengan metode dokumentasi, observasi, data wawancara bebas-mendalam. Analisis data dilakukan dengan menggunakan gabungan antara metode heuristik dan metode historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat "Sri Tanjung" merupakan mitos ilmu pengetahuan cara membangun dan mengatur wilayah suatu negara model Syiwa-Budha. Situs Gunung Ijen merupakan bukti pengaturan tata wilayah yang terinspirasi oleh cerita "Sri Tanjung". Pengetahuan tentang membangun negara khususnya tata wilayah tersebut memiliki kontribusi untuk mengatur lingkungan pada abad modern.This study was conducted in an interdisciplinary that combine oral literature and historical research. The target of this research is the story of Sri Tanjung folklore and ancient of Blambangan Kingdom historical site in Ijen Mount. The research data was collected by documentation method, observation, and in-depth interview. Data analysis was perform by using a combination of heuristic method and historiography method. The result shows that Sri Tanjung folklore is a scientific myth on how to build and organize state territory of Shiva-Buddhist model. Ijen mount site is an evidence of territory organization inspired by the Sri Tanjung history. The knowledge on how to build a state, particularly planology of territory, gives contribution to regulate environment in the modern century.
BAHASA YAMDENA DI MALUKU: KORESPONDENSI, VARIASI DIALEKTAL, DAN SEBARAN WILAYAH PAKAINYA (YAMDENA LANGUAGE IN DIALECTAL VARIATION MOLUCCAS: THE CORRESPONTDENCE, AND ITS AREA DISTRIBUTION USE) Mukhamdanah Mukhamdanah
Widyaparwa Vol 43, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3249.798 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i1.104

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan korespondensi dan variasi dialektal dari enam dialek bahasa Yamdena yang dituturkan di wilayah Maluku. Data berupa data primer dari kuesioner kekerabatan bahasa dan pemetaan bahasa di Indonesia. Dengan menggunakan metode padan, pendekatan kuantitatif, dan alat utama daftar Swadesh, analisis dilakukan terhadap 200 kosakata dasar Swadesh untuk penelusuran perangkat kognat anggota dialek bahasa Yamdena. Leksem-leksem yang terdapat di antara daerah-daerah pengamatan atau dialek-dialek bahasa Yamdena ditentukan sebagai perbedaan fonologis apabila perbedaan yang terdapat pada leksem-leksem yang menyatakan makna yang sama itu muncul secara teratur atau merupakan korespondensi; dan dianggap sebagai variasi jika perbedaan itu hanya terjadi pada satu atau dua bunyi yang sama urutannya. Dari aspek linguistic, bahwa perubahan bunyi yang korespondensi itu terjadi dengan persyaratan lingkungan linguistik tertentu. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan adanya korespondensi dan variasi antardialek bahasa Yamdena. Korespondensi yang ditemukan berupa korespondensi konsonan dan korespondensi vokal. Terdapat 9 korespondensi konsonan, yang terdiri atas 5 korespondensi sangat sempurna, 3 korespondensi sempurna, serta 1 korespondensi tidak sempurna. Korespondensi yang ditemukan di antaranya adalah realisasi bunyi [e] pada akhir kata ditemukan pada dialek Banggoi sementara puda sebaran pakai dialek lain bunyi [e] pada akhir kata cenderung hilang. Selain korespondensi, ditemukan 82 variasi konsonan dan 13 variasi vokal.This study is aimed to describe the correspondence and dialectical variation of six Yamdena dialect spoken in the Moluccas. The data is primary data of language kinship questionnaire and language mapping in Indonesia. By using a unified method, quantitative approach, and Swadesh list as research main instrument, the analysis was conducted on 200 basic Swadesh vocabularies. The lexemes, which are among the areas of observation or Yamdena language dialects, are defined as phonological differences if the differences in the lexemes which express the same meaning appeared on a regular basis or a correspondence; and considered as a variation if the differences were only found in one or two sound of the same order. From the linguistic aspect, the occurrence correspondence sound changes requires particularly linguistic environment. Based on analysis, it is revealed there is a correspondence and variation between the dialects of Yamdena language. The correspondences found are consonant correspondence a vowel correspondence. There are 9 consonant correspondences, which consists of 5 very perfect correspondences, 3 perfect correspondences and 1 not perfect correspondence. The correspondence found among other is the realization of the sound [e] at the end of a word found in Banggoi dialect, while on other dialects' distribution the sound [e] at the end of word tends to disappear. In addition to correspondence, 52 variations of consonants and 13 variations of a vowel are found.

Page 1 of 1 | Total Record : 8