cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 45, No 2 (2017)" : 6 Documents clear
PEREMPUAN JAWA, DAYAK, TIONGHOA, DAN JEPANG DALAM NOVEL-NOVEL LAN FANG (JAVANESE, DAYAK, CHINESE, AND JAPANESE WOMEN IN LAN FANG NOVELS) Yulitin Sungkowati
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.344 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.151

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap dan mendeskripsikan gambaran perempuan Jawa, Dayak, Tionghoa, dan Jepang dalam novel-novel Lan Fang dengan perspektif feminis. Masalah yang menjadi fokus penelitian ialah bagaimanakah perempuan Jawa, Dayak, Tionghoa, dan Jepang digambarkan oleh Lan Fang dalam novel-novelnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pengumpulan datanya dengan teknik baca (secara berulang-ulang) dan catat pada kartu data. Sumber datanya adalah novel Perempuan Kembang Jepun, Reinkarnasi, Kembang Gunung Purei, Pai Yin, Lelakon, dan Ciuman di Bawah Hujan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perempuan dalam novel-novel Lan Fang tidak digambarkan dengan citra yang sama. Perempuan Jawa digambarkan paling negatif, sedangkan perempuan Tionghoa digambarkan dengan citra yang paling positif. Di antara keduanya ada perempuan Dayak yang gambarannya cenderung negatif dan perempuan Jepang yang citranya cenderung positif. Hal itu menunjukkan keberpihakan Lan Fang yang berasal dari latar belakang Tionghoa pada perempuan kelompok etniknya.kelompok etniknya.The research aims to reveal and describe the images of Javanese, Dayak, Chinese, and Japanese in Lan Fang novels through feminism perspective. The problem formulation of this research is how Javanese, Dayak, Chinese, and Japanese women are described by Lan Fang in her novels. This research was conducted using qualitative-descritive method and the data was collected using reading (repeatedly) and recording on data card. The data are Perempuan Kembang Jepun, Reinkarnasi, Kembang Gunung Purei, Pai Yin, and Ciuman di Bawah Hujan novel. The result shows that the women in Lan Fang novels were not described in same images. Javanese woman are portrayed in the most negative images, whereas Chinese women are portrayed in most positive images. Between them there are Dayak women who tend to be portrayed more negative and Japanese women to be more positive images. It shows that Lan Fang who is originally from Tionghoa background and tends to stand with women of her ethnical group.
EKSPRESI ESTETIK POSMODERNIS DALAM MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN KARYA AFRIZAL MALNA (POSTMODERNIST AESTHETIC EXPRESSION IN AFRIZAL MALNAS MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN) Suyono Suyatno
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.068 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.152

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap jenis ekspresi estetik posmodernis dalam kumpulan sajak Afrizal Malna Museum Penghancur Dokumen. Masalah yang dibahas adalah jenis-jenis ekspresi estetik posmodernis dan jenis ekspresi estetik posmodernis yang dominan dalam Museum Penghancur Dokumen karya Afrizal Malna tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori posmodernisme. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa skizofrenia merupakan jenis ekspresi estetik posmodernis yang dominan dalam Museum Penghancur Dokumen; selain itu, juga terdapat pastiche dan parodi. Simpulan penelitian ini adalah dominannya skizofrenia secara langsung dan tidak langsung merefleksikan kondisi sosiokultural dan politis masyarakat yang secara umum tengah mengidap skizofrenia, yakni kepribadian terbelah dengan orientasi ganda.This research aims to reveal the type of postmodernist aesthetic expression in the poems anthology by Afrizal Malna, Museum Penghancur Dokumen. The problem discussed are the types of postmodernist aesthetic expression contained in Museum Penghancur Dokumen and the dominant type of posmodernist aesthetic expression in AfrizalMalna's poem. The theory used in this research is postmodernism theory. The method uses qualitative method with hermeneutic approach. The result shows that schizophrenia is a dominant type of postmodernist aesthetic expression in Museum Penghancur Dokumen; besides, there are also pastiche and parody. The conclusion shows that the dominance of schizophrenia directly and indirectly reflects socio cultural and political condition of society who commonly suffered from schizophrenia, a split personality with doubled orientation.
KAJIAN WACANA IKLAN JASA BOGA DALAM MEDIA LUAR RUANG (DISCOURSE STUDY OF FOOD SERVICE ADVERTISEMENT IN OUTDOOR MEDIA) Wening Handri Purnami
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.352 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.153

Abstract

Kajian ini membahas wacana iklan jasa boga dalam media luar ruang. Iklan merupakan sebuah sarana yang dipandang efektif dalam menyampaikan informasi. Iklan jasa boga menarik untuk dikaji karena memperlihatkan kekhasan dalam pemakaian bahasa. Kajian bertujuan mendeskripsikan slot-slot wacana jasa boga dan strategi pembentuk slot atau pengisi slot pada iklan jasa boga di media luar ruang. Kajian ini menggunakan pendekatan struktural dan bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode observasi. Peneliti mengamati secara langsung iklan-iklan media luar ruang di DIY. Observasi menerapkan teknik simak dan rekam visual. Metode dan teknik analisis yang digunakan untuk menjawab permasalahan ialah metode agih dengan teknik sisip dan balik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana iklan boga menghasilkan empat jenis slot. Slot nama dapat berbentuk (1) akronim, (2) singkatan, (2) nama diri, dan (4) nama lokasi. Slot spesifikasi dapat bersifat menyangatkan atau mengedepankan kekhasan daerah. Slot atribusi menyiratkan bentuk slogan. Slot alamat berisi keterangan alamat rumah dan nomor telepon. Aspek permainan bahasa berkenaan dengan penyimpangan ejaan, yaitu pemakaian huruf kapital dan penulisan kata.This study discusses about food service advertisement discourse on outdoor media. Advertisement is one of effective facility in delivering information. The advertisement is interesting to study for its particularity in language use. The study aims to describe discourse plots on food service and strategy to form plot or plot insert on advertisement of food service on outdoor media. This study uses structural and qualitative descriptive approach. This study uses observation mode by observing directly to outdoor advertisement media in DIY. The observation uses listening and visual recording. Method and analysis technique to answer the problem is distributional using inserting and reversing technique. The result shows that food service discourse produces four types of slots as (1) acronym, (2) abbreviation, (3) self name, and (4) location name. Specification slot emphasizes locality particularity. Atritributive slot shows slogan form. Address slot contains description of house address and telephone number. Language playing aspect is dealing with spelling split, that is alphabetical use and word writing.
TINGKAT KEAKURATAN DAN KEBERTERIMAAN TERJEMAHAN KALIMAT YANG MENGAKOMODASI TINDAK TUTUR KOMISIF PADA NOVEL INSURGENT (THE ACCURACY AND ACCEPTABILITY OF TRANSLATION ON THE SENTENCES WHICH ACCOMODATE COMMISSIVE SPEECH ACT IN THE INSURGENT NOVEL) Novita Sumarlin Putri; M.R. Nababan; Djatmika Djatmika
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.607 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.154

Abstract

Tindak tutur komisif merupakan salah satu aspek pragmatik yang harus diperhatikan oleh penerjemah ketika menerjemahkan teks. Hal itu dilakukan agar menghasilkan terjemahan yang berkualitas dari aspek keakuratan dan keberterimaan. Berdasarkan alasan tersebut, penelitian ini bertujuan mendiskripsikan tingkat keakuratan dan keberterimaan terjemahan kalimat yang mengakomodasi tindak tutur komisif dengan pendekatan pragmatik. Data yang digunakan ialah tuturan komisif dan hasil penilaian kualitas terjemahan. Data bersumber dari novel Insurgent karya Veronica Roth dan informan. Data dikumpulkan dengan cara analisis dokumen, kuesioner dan Focus Group Discussion. Selanjutnya, data dianalisis dengan cara analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjemahan dalam novel Insurgent mempunyai nilai keakuratan dan keberterimaan yang cukup tinggi. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tingkat keakuratan dan keberterimaan pada setiap jenis tindak tutur komisif memiliki dampak terhadap kualitas keseluruhan terjemahan kalimat yang mengandung tindak tutur komisif.Commissive speech act is one of the pragmatic aspects to regard by the translator in translating the text. It aims to produce a qualified translation in regarding accuracy and acceptability aspects. According to the aspects, this research aims to describe accuracy and acceptability of translation in sentences which accommodate commissive speech act using pragmatic approach. The data used is commissive speech and qualitative translation value result. The sources of the data are an Insurgent novel by Veronica Roth and informants. The data were collected through document analysis, questionnaire, and Focus Group Discussion then analyzed the domain, taxonomic, componential analysis, and cultural theme. The result shows that translation in the Insurgent novel has high accuracy and acceptability values. This research concludes that the accuracy and acceptability level in each commissive speech act has an impact on quality of whole translated sentences which contain commissive speech act.
APPENDIK admin WIDYAPARWA
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.902 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.159

Abstract

KOMPONEN MAKNA LEKSEM BERKONSEP EMPON-EMPON DALAM BAHASA JAWA (MEANING COMPONENT OF LEXEM THAT HAS EMPON-EMPON CONCEPT IN JAVANESE) Sri Nardiati
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1130.271 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.155

Abstract

Penelitian ini berjudul Komponen Makna Leksem Berkonsep Empon-Empon dalam Bahasa Jawa. Teori yang digunakan ialah analisis komponen makna, dengan pendekatan intensional. Metodenya kontras dan komparasi yang didasarkan pada konsep dimensi makna. Leksem yang terliput dalam empon-empon berjumlah empat belas, dikaji berdasarkan dimensi ANATOMI, TUMBUHAN, BATANG, BUNGA, AKAR, KHASIAT, WARNA, dan TEKSTUR. Berdasarkan komponen makna bersama yang dinyatakannya, seperangkat leksem tersebut dapat dikelompokkan menjadi tujuh submedan yang terdiri atas: 1) laos, 2) bengle, puyang; 3) jae emprit, jae gajah, jae sunthi; 4) kunir, temulawak; 5) kencur, temukunci; 6) temugiring, temumangga; dan 7) temuputih, temuireng, dengan leksem empon-empon sebagai superordinatnya.This research is entitled Meaning Component of Lexem That Has Empon-Empon Concept In the Javanese language. The theory used was an analysis of meaning components with the intentional approach. The methods were contrast and comparison based on the concept of meaning dimension. The number of lexemes was fourteen, which empon-empon as the superordinate. The lexem were approached based on ANATOMY, PLANT, STEM, FLOWER, ROOT, EFFICACY, COLOR, and TEXTURE dimensions. There were seven subfields to explain the class of lexemes. The subfields were consist of 1)laos, 2) bengle, puyang; 3) jae emprit, jae gajah, jae sunthi; 4) kunir, temulawak; 5) kencur, temukunci; 6) temugiring, temumangga; and 7) temuputih, temuireng, with the empon-empon as the superordinate.

Page 1 of 1 | Total Record : 6