cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 27 Documents
Search results for , issue "Vol 49, No 2 (2021)" : 27 Documents clear
WUJUD DAN FAKTOR PENYEBAB KESALAHAN PEMAKAIAN BAHASA JAWA KRAMA DAN CARA MEMPRESERVASINYA Pranowo Pranowo; Benedictus Bherman Dwijatmoko; Danang Satria Nugraha
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.139 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.881

Abstract

This study discusses "The Form and Factors Causing Errors in Using the Javanese Language of Manners and Cras for Preserving It". This study uses the theory of language relativity to analyze errors in the use of Javanese. Sources of data are students who are in the working environment of researchers. The data is in the form of Javanese speech manners. Data collection techniques are in the form of questionnaires and structured interviews by means of fishing techniques via e-mail or WhatsApp (WA). Data analysis techniques consist of data identification, data classification, and data interpretation. The results of the study are (1) the form of errors in the use of errors in the use of Javanese manners (various types of words and affixes). The causal factor is because (a) they have not been able to distinguish the vocabulary of Javanese krama from Indonesian, (b) have not been able to distinguish the use of Javanese krama for oneself and for parents or other respected people, (c) the Javanese language mastered is limited to "krama ndesa", (d) adjectives that do not have concrete references are a problem in itself, and (e) many of the Javanese krama affixes used are incomplete, (2) the preservation of the Javanese krama language needs to be carried out so that the Javanese krama language remains sustainable. However, there are still some obstacles faced, namely (a) many parents no longer use BJ krama, (b) the younger generation speaks accustomed to using Javanese ngoko or Indonesian, (c) some Javanese language teachers are not from their fields, (e) many BJ teachers are not creative enough, and (f) the younger generation of Javanese who are not good enough get less motivation from their environment.Penelitian ini membahas “Wujud dan Faktor Penyebab Kesalahan Pemakaian Bahasa Jawa krama dan Cara Mempreservasinya”. Penelitian menggunakan teori relativitas bahasa untuk menganalisis kesalahan pemakaian bahasa Jawa. Sumber data adalah  para mahasiswa yang berada di lingkungan kerja peneliti. Data berupa tuturan bahasa Jawa krama. Teknik pengumpulan data berupa angket dan wawancara terstruktur dengan cara teknik pancing lewat e-mail atau WhatsApp (WA). Teknik analisis data terdiri atas identifikasi data, klasifikasi data, dan interpretasi data. Hasil penelitian berupa dua temuan. Pertama, wujud kesalahan pemakaian kesalahan pemakaian bahasa Jawa krama  pada berbagai jenis kata dan imbuhan). Faktor peyebabnya adalah karena (a) belum mampu membedakan kosakata bahasa Jawa krama dengan bahasa Indonesia, (b) belum dapat membedakan per-untukan bahasa Jawa krama untuk diri sendiri dan untuk orang tua atau orang lain yang dihormati, (c) bahasa Jawa yang dikuasai terbatas pada “krama ndesa”, (d) kata sifat yang tidak memiliki acuan konkret menjadi kesulitan tersendiri, dan (e) banyak imbuhan bahasa Jawa krama yang dipakai tidak lengkap. Kedua, preservasi bahasa Jawa krama yang perlu terus dilakukan agar bahasa Jawa krama tetap lestari. Namun masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi, yaitu (a) banyak orang tua tidak lagi menggunakan BJ krama, (b) generasi muda bertutur terbiasa menggunakan bahasa Jawa ngoko atau bahasa Indonesia, (c) sebagian guru bahasa Jawa bukan dari bidangnya, (e)  banyak guru BJ yang kurang kreatif, dan (f) bahasa Jawa generasi muda yang belum baik kurang mendapat motivasi dari lingkungannya.
CERITA RAKYAT “BELU MAU, SABU MAU, DAN TI’I MAU” SEBAGAI IKATAN TIGA SUKU BANGSA DAN NILAI KEARIFAN LOKAL Erwin Syahputra Kembaren; Salimulloh Tegar Sanubarianto
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.198 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.792

Abstract

Geographically, Belu, Sabu, and Rote (Ti'i) are three regencies located on three islandsfar apart in the province of East Nusa Tenggara. The three islands, regencies, and ethnic groups share folk tales that have become legends and rarely known by society and even researched. The purpose of this research is to reveal the local wisdom values contained in the folk tales of "Belu Mau, Sabu Mau, and Ti'i Mau". The method used in this research is descriptive qualitative. Moreover, this study employed transcripts of stories from informants residing in Bello Village, Kupang City as sources of data. Interviews and observations were also conducted to collect data. The data were analyzed using the theory of sociology of literature from the perspective of Goldmann's genetic structuralism. Having analyzed, we can identify the local wisdom values  encompassed in the folk tales of "Belu Mau, Sabu Mau, and Ti'i Mau", they are (1) Brotherhood value, this value is upheld by the three ethnic groups where they place bro-therhood as the most essential bond, despite differences in religion, ethnicity, and geographical location; (2) Harmony value, it is a value based on mutual respect that has been maintained from generations; (3) Historical Value, it is the history of the three ethnic groups’ journeys which became a milestone in unifying their relationship; (4) Religiosity value, it means brotherhood bonds which agreed upon in a traditional custom always deal with the religiosity understanding of other supreme being power; (5) Juridical value, the eternity of brotherhood bonds lies in their descendants who are bound by customary oaths and agreements.Secara geografis, Belu, Sabu, dan Rote (Ti’i) merupakan tiga kabupaten yang berada di tiga pulau yang berjauhan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari tiga pulau, tiga kabupaten, dan tiga suku tersebut, terdapat cerita rakyat yang menjadi legenda dan jarang diketahui oleh masyarakat bahkan diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat “Belu Mau, Sabu Mau, dan Ti’i Mau”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah transkrip cerita dari informan di Kelurahan Bello, Kota Kupang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara dan observasi. Data dianalisis dengan menggunakan teori sosiologi sastra dalam perspektif strukturalisme genetik Goldmann. Dari hasil analisis ditemukan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat “Belu Mau, Sabu Mau, dan Ti’i Mau”, yaitu  (1) nilai persaudaraan, merupakan nilai yang dijunjung tinggi oleh ketiga suku tersebut dan menempatkan persaudaraan jauh lebih penting dari perbedaan agama, suku, dan pulau tempat mereka berdomisili; (2) nilai kerukunan, nilai yang dilandasi oleh rasa saling hormat-menghormati yang dipertahankan secara turun-temurun; (3) nilai historis, merupakan sejarah perjalanan tiga suku yang menjadi tonggak dalam mempersatukan hubungan mereka; (4) nilai reli-giositas, ikatan persaudaraan yang disepakati dalam adat selalu berurusan dengan pemahaman religiositas dari kekuatan lain; (5) nilai yuridis, kelanggengan persaudaraan terletak pada keturunan yang diikat oleh perjanjian dan sumpah adat.
SAMPUL LUAR DEPAN BELAKANG NFN Mulyanto
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.856 KB)

Abstract

INNER STRUCTURE AND LOCAL WISDOM IN NYANGAHATN BABURUKNG ORAL TRADITION OF DAYAK KANAYATN Sesilia Seli
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.262 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.816

Abstract

Nyangahatn Baburukng is the mantra of the Kanayatn Dayak community that is uttered at the Baburukng ritual as the initial stage of the farming tradition (bahuma). This study was conducted to provide a deeper meaning to the inner structure and local wisdom of the Nyangahatn Baburukng and as a means of inheritance to the next generation. The objective of this study is to analyze the inner structure and forms of local wisdom in Nyangahatn Baburukng. The study is based on theories of local wisdom, mantra, and structure of mantra by using qualitative descriptive methods, objective approaches and sociology of literature. The results of this study indicate that the inner structure of the Nyangahatn Baburukng text includes (1) The theme includes belief in Jubata as a helper and giver of blessings; carefully reading the signs of nature (listening to the sound of the bird/rasi) to determine the type of land suitable for farming (bahuma); offerings as a means to communicate with Jubata, ghosts, demons/devils; and offerings as symbols of gratitude, sacrifice, restoration of relationships, purity, and sincerity.  (2) The tone includes the tone of gratitude, the tone of surrender, the tone of the sacred; pleading tone, friendly tone, and hopeful tone. (3) Feelings include feelings of joy, optimism, cooperation, togetherness, solidarity, and full of blessings. (4) Mantra's mandate includes that humans must be able to establish good communication with Jubata, the spirits of the ancestors, and the devil so that they can coexist and not be disturbed by the power of the devil; the implementation of the Baburukng ritual is a form of obedience to tradition and complete surrender to Jubata; cooperation, togetherness, and high solidarity need to be preserved. The forms of local wisdom in the Nyangahatn Baburukng text include (1) local knowledge; (2) local values; (3) local skills and technology; and (4) elements of local leadership.Nyangahatn Baburukng adalah mantra komunitas Dayak Kanayatn yang diucapkan pada ritual Baburukng sebagai tahap awal dari tradisi berladangan (bahuma). Kajian ini dilakukan untuk memberikan makna yang lebih mendalam terhadap struktur batin dan  kearifan lokal Nyangahatn Baburukng dan sebagai alat pewarisan kepada generasi penerus. Objektif kajian dalam penelitian ini adalah penganalisisan terhadap struktur batin  dan bentuk-bentuk kearifan lokal dalam Nyangahatn Baburukng. Kajian didasarkan pada teori-teori kearifan lokal, mantra, dan struktur mantra dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, pendekatan objektif dan sosiologi sastra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur batin teks Nyangahatn Baburukng meliputi (1) Tema meliputi keyakinan kepada Jubata sebagai penolong dan pemberi berkat; cermat membaca tanda-tanda alam (mendengarkan bunyi burung/rasi) untuk menentukan jenis lahan yang cocok untuk berladang (bahuma); persembahan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan Jubata, hantu, setan/iblis; dan bahan-bahan persembahan sebagai simbol dari rasa syukur, pengorbanan, pemulih hubungan, kesucian, dan keikhlasan. (2) Nada meliputi nada bersyukur, nada penyerahan diri, nada sakral; nada memohon, nada bersahabat, dan nada penuh harapan. (3) Rasa meliputi rasa gembira, optimis, kerjasama, kebersamaan, solider, dan penuh berkat.   (4) Amanat mantra meliputi manusia harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan Jubata, roh para leluhur, dan iblis agar dapat hidup  berdampingan  dan tidak terganggu oleh kuasa iblis; pelaksanaan ritual Baburukng merupakan wujud kepatuhan pada tradisi dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Jubata; kerja sama, kebersamaan,  dan solidaritas yang tinggi perlu terus dilestarikan. Bentuk-bentuk kearifan lokal dalam teks Nyangahatn Baburukng meliputi (1) pengetahuan lokal; (2) nilai-nilai lokal; (3) keterampilan dan teknologi lokal; dan (4) unsur kepemimpinan lokal.
TINDAK PERSONA TOKOH “NDARA MAT AMIT” DAN “MBAH SIDIQ” DALAM LUKISAN KALIGRAFI KARYA A. MUSTOFA BISRI (KAJIAN PSIKOANALISIS DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN MORAL ANAK) Umar Sidik
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.282 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.895

Abstract

This study aims to describe the motives of the persona of the main characters of the short stories "Ndara Mat Amit" and "Mbah Sidiq" by A. Mustofa Bisri;and what are the implications for children's moral education. The approach used in this study is the psychoanalysis of C.G. Jung, especially with regard to the act of persona. With regard to its implications in moral education, it is based on Lickona's opinion related to the importance of strategies and children's involvement in the material (reading) used. The results showed that Ndara Mat Amit acted impolite and rude persona with a motive so that his glory was not known to the public so that it could be accepted by traditional society. As a pious man who was of the Prophet Muhammad saw, he did not want to be deified, let alone cult. In addition, Ndara Mat Amit does not want to be used and co-opted by politicians who are hungry for power. Meanwhile, Mbah Sidiq acts as a pious and pious person solely to indulge worldly desires, greed. He thought that wealth would always go hand in hand with happiness and power. The implication in moral education is to discuss with children the parts where there are moral dilemmas. The teacher guides the child to be involved in the events contained in the reading. Children are asked to find answers and/or solutions to the events contained in the reading. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motif tindak persona tokoh utama cerpen “Ndara Mat Amit” dan “Mbah Sidiq” karya A. Mustofa Bisri; dan bagaimana implikasinya dalam pendidikan moral anak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah psikoanalisis C.G. Jung, khususnya yang terkait dengan tindak persona. Berkenaan dengan implikasinya dalam pendidikan moral, digunakan pendapat Lickona yang terkait dengan pentingnya strategi dan keterlibatan anak pada materi (bacaan) yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ndara Mat Amit bertindak persona tidak santun dan kasar dengan motif agar kemuliaan dirinya tidak diketahui masyarakat sehingga dapat diterima oleh masyarakat tradisional. Sebagai seorang alim yang yang bertrah Nabi Muhammad saw., dia tidak ingin didewa-dewakan apalagi dikultuskan. Selain itu, Ndara Mat Amit tidak mau dimanfaatkan dan terkooptasi oleh politikus yang haus kekuasaan. Sementara itu, Mbah Sidiq bertindak persona alim dan linuwih semata-mata untuk memperturutkan syahwat keduniawian, nafsu keserakahan. Dia berpikir bahwa kekayaan akan selalu bersanding dengan kebahagiaan dan kekuasaan. Implikasi dalam pendidikan moralnya dapat dilakukan dengan mengajak anak mendiskusikan bagian-bagian yang memuat dilema pesan moral. Pendidik memandu agar anak terlibat ke dalam peristiwa yang terdapat dalam bacaan. Anak diminta untuk menemukan jawaban dan/atau jalan keluar atas peristiwa yang terdapat dalam bacaan.
SPIRITUALITAS DAN KEKUASAAN DALAM LAKON WAYANG ARJUNAWIWAHA KARYA KI NARTOSABDO: ANALISIS WACANA KRITIS MICHEL FOUCAULT Aris Aryanto; NFN Rochimansyah; Khabib Sholeh; Herlina Setyowati
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.729 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.799

Abstract

The Arjunawiwaha puppet play does not only convey discourse on Arjuna’s attempt to meditate on Mount Indrakila, but there is an ulterior motive behind it. Therefore, the purpose of this study is to describe the hidden motives contained in the Arjunawiwaha puppet play by Ki Nartosabdo. This research includes literary research in the form of qualitative descriptive with collection techniques, namely content analysis. Michel Foucault's theory of knowledge power discourse is applied in this study to see the implicit motives in the Arjunawiwaha story. In his hermitage, Arjuna received two divine gifts, first, the Pandavas would excel in the great war of Bharatayuda and the Pandavas would become rulers in the country of Astina; second, Arjuna received the gift of Batara Guru in the form of an arrow named Kyai Pasupati. The hidden motive in the Arjunawiwaha puppet play is due to the basic human psychic impulses that the researcher identifies as the motive for power hiding in the motive of spirituality. Arjuna's naivety who only asked for victory for the Pandavas had to be paid handsomely by the death of the Pandava children on the battlefield. Arjunawiwaha puppet plays can provide moral teaching on the importance of self-control in relation to the human ego or will.Lakon wayang Arjunawiwaha tidak sekadar menyampaikan wacana tentang usaha Arjuna melakukan tapa di Gunung Indrakila, tetapi ada motif tersembunyi dibaliknya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan motif tersembunyi yang terdapat dalam lakon wayang Arjunawiwaha karya Ki Nartosabdo. Penelitian ini termasuk penelitian sastra berbentuk kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data, yaitu kajian isi. Teori wacana kuasa pengetahuan Michel Foucault diterapkan dalam penelitian ini untuk melihat motif tersirat dalam cerita Arjunawiwaha. Dalam pertapaannya, Arjuna mendapat dua anugerah dewa, pertama, Pandawa akan unggul dalam perang besar Bharatayuda dan Para Pandawa akan menjadi penguasa di negara Astina; kedua, Arjuna mendapatkan anugerah Batara Guru berupa anak panah bernama Kyai Pasupati. Motif tersembunyi dalam lakon wayang Arjunawiwaha karena adanya dorongan dasar psikis manusia yang dapat ditengarai sebagai motif kekuasaan yang bersembunyi dalam motif spiritualitas. Kenaifan Arjuna yang hanya meminta kemenangan bagi Pandawa harus dibayar mahal dengan kematian anak-anak Pandawa di medan Perang. Lakon wayang Arjunawiwaha dapat memberikan pengajaran moral tentang pentingnya pengendalian diri kaitannya dengan ego atau kehendak manusia.
MODEL KEPENGAYOMAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X SAAT PANDEMI MELALUI TUTURAN “TIDHA-TIDHA” DALAM SAPA ARUH Marcelinus Justian Priambodo
Widyaparwa Vol 49, No 2 (2021)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.146 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v49i2.847

Abstract

This research aims to describeconcept from 'tidha-tidha’ and analyze the affect of the concept of 'tidha-tidha' made by Sri Sultan Hamengku Buwono X  with the conceptual metaphor of the coronavirus in the society of Yogyakarta. Data in this research is internal because it is only based on the reading of Serat Kalatidha and the transcript of Sri Sultan Hamengku Buwono X's speech. This research method uses the theory ofconceptual errors in cognitive linguistic. Sri Sultan Hamengku Buwono X interprets ‘tidha-tidha’ as contemplation with ourselves, others, and God. This new disaster has made people aware of the importanceof health as a form of gratitude that must be attempted. The results reveal that perspective and frame affect the meaning of 'tidha-tidha’ made by Sri Sultan Hamengku Buwono X. The creation of this meaning has three functions consisting representative, directive, and declaration to change the conceptual metaphor of society. In his role as governor, Sri Hamengku Buwono X must change the way og communication as the leadership model and at the same time to respond that new disaster. The leadership model can be seen from the directions and instructions in the speech that are easy to understand through the intentional conceptual errors.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ‘tidha-tidha’ dan menganalisis pengaruh makna ‘tidha-tidha’ ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan metafora konseptual pandemi corona masyarakat DIY. Data penelitian bersifat data internal karena hanya berdasarkan pembacaan Serat Kalatidha dan hasil transkrip pidato Sri Sultan Hamengku Buwono X. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis yang menggunakan teori erata konseptual linguistik kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif dan frame dan memengaruhi pembentukan makna ‘tidha-tidha’ ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sri Sultan Hamengku Buwono X memaknai ‘tidha-tidha’ sebagai kontemplasi dengan diri sendiri, sesama, dan Sang Pencipta.Bencana baru ini menyadarkan manusia pentingnya kesehatan sebagai rasa syukur yang harus diusahakan. Penciptaan makna ini memiliki tiga fungsi yaitu representatif, direktif, dan deklarasi dalam upaya mengubah metafora konseptual masyarakat. Dalam perannya sebagai gubernur, Sri Sultan Hamengku Buwono X harus mengubah cara komunikasisebagai bentuk pengayoman sekaligus menyikapi keadaan baru tersebut. Model pengayoman terlihat dari arahan dan petunjuk dalam pidato yang mudah dipahami melalui erata konseptual kesengajaan. 

Page 3 of 3 | Total Record : 27