cover
Contact Name
Yasinta Maria Fono
Contact Email
jurnaljcpastkipcitrabakti@gmail.com
Phone
+6285338387959
Journal Mail Official
jurnaljcpastkipcitrabakti@gmail.com
Editorial Address
STKIP Citra Bakti Jl. Trans Bajawa-Ende Desa Malanuza Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Flores-NTT Kode Pos: 86461
Location
Kab. ngada,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Citra Pendidikan Anak
Published by STKIP Citra Bakti
ISSN : 27751589     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.38048/jcpa.v1i4
Jurnal Citra Pendidikan mengkaji tentang hasil hasil penelitian dalam bidang: 1. Pendidikan (Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Pendidikan Tinggi, Pendidikan Vokasi) 2. Pembelajaran dan Media Pembelajaran 3. Pengembangan model/program kursus
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 4 (2022)" : 17 Documents clear
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA BERBASIS KEARIFAN LOKAL NAGEKEO MATERI USAHA DAN PESAWAT SEDERHANA UNTUK SISWA SMP KELAS VIII Fransiskus Xaverius Lawi; Dek Ngurah Laba Laksana; Ni Wayan Prawita Aryani
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 4 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.391 KB) | DOI: 10.38048/jcp.v2i4.930

Abstract

Pembelajaran saat ini menitik beratkan pada kemampuan berpikir kritis dengan menmanfaatkan sumber belajar kontekstual. Untuk itu, dilakukan penelitian dengan tujuan mendeskripsikan kualitas lembar kerja siswa berbasis budaya lokal dari aspek kevalidan dan kepraktisan, serta penggunaan produk yang sesuai dengan karakteristik anak sekolah menengah pertama. Lembar kerja siswa berbasis budaya lokal dikembangkan dengan model ADDIE (Analyze, design, development, implementation, dan evaluation). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini dihasilkan lembar kerja siswa berbasis budaya lokal Nagekeo materi usaha dan pesawat sederhan untuk siswa SMP kelas VIII. Respon ahli konten terhadap LKS berbasis budaya lokal ada pada kategori sangat valid. Respon ahli bahasa terhadap LKS berbasis budaya lokal ada pada ketgori sangat valid. Presepsi ahli desain pembelajaran terhadap LKS ada pada kategori valid. Respon guru mata pelajaran dan siswa terhadap LKS berbasis budaya lokal ada pada kategori sangat praktis. Dengan demikian, LKS yang dikembangkan sudah sesuai dengan karakteristik siswa/siswi SMP.
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MULTILINGUAL BERBASIS KONTEN DAN KONTEKS BUDAYA LOKAL ETNIS NGADA PADA TEMA MENYAYANGI TUMBUHAN DAN HEWAN UNTUK SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR Renata Rita Rosana Lado; Dek Ngurah Laba Laksana; Maria Desidaria Noge
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 4 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.243 KB) | DOI: 10.38048/jcp.v2i4.932

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menghasilkan bahan ajar cetak multilingual berbasis konten dan konteks budaya lokal etnis Ngada. Subjek uji coba penelitian pengembangan ini adalah guru SD, dosen dan siswa SD kelas III. Objek yang diteliti adalah konten dan konteks budaya lokal etnis Ngada yang bisa diintegrasikan dengan materi SD. Bahan ajar multilingual berbasis konten dan konteks budaya lokal etnis Ngada ini dikembangkan menggunakan model ADDIE. Model ADDIE terdiri atas lima langkah, yakni analyze, design, development, implementation, dan evaluation. Bahan ajar multilingual yang telah dikembangkan dalam penelitian ini diuji dan dianalisis oleh beberapa ahli. Hasil uji coba oleh ahli adalah sebagai berikut: (1) Uji coba ahli materi berada pada kategori “sangat baik” dengan nilai rata-rata 4,5. (2) Uji coba untuk ahli bahasa Indonesia pada kategori “ sangat baik” dengan nilai ratarata 4,8. (3) Uji coba oleh ahli bahasa daerah berada pada kategori “baik” dengan nilai rata-rata 3,6. (4) Uji coba ahli bahasa Inggris pada kategori “sangat baik” dengan nilai rata-rata 4,5. (5) Uji coba oleh ahli desain berada pada kategori “sangat baik” dengan rata-rata 4,2. (6) Uji kelayakan penggunaan pada kategori “sangat baik” dengan nilai rata-rata 4,2. Berdasarkan hasil pengujian terhadap beberapa ahli tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa bahan ajar multilingual berbasis budaya lokal etnis Ngada untuk siswa kelas III Sekolah Dasar layak dan siap untuk digunakan.
PENERAPAN ALAT MUSIK TRADISIONAL BEPI PEPI DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR Maria R. Jein Rewang; Kristina Petra Tensa; Anastasia Z Zembang; Emiliana Wae; Yosefina Uge Lawe
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 4 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.222 KB) | DOI: 10.38048/jcp.v2i4.935

Abstract

Pendidikan musik bagi siswa Sekolah Dasar sudah sejak lama di rasakan penting, karena selain bersifat edukatif juga bersifat apesiatif. Pendidikan seni music membantu perkembangan siswa di bidang seni music, mengembangkan sikap menghargai dan mencintai karya budaya bangsa, serta memberikan kesegaran dan kegembiraan kepada siswa. Selain pencapaian prestasi, juga di harapkan peran sertanya dalam mengembangkan kepekaan artistic dan aestetik siswa. Dengan demikian Pendidikan music ikut berperan dalam pengemban kepribadian subjek-didik. Alat musik tradisional Ngada merupakan alat musik yang diciptakan oleh masyrakat Ngada dari alat-alat tradisional misalnya salah satunya B’pe Pepi yang berasal dari Etnis So’a. Alat musik tradisional diciptakan dari Nenek Moyang sejak dahulu kala yang diturunkan kepada anak cucu hingga sekarang. Harapannya untuk masyarakat Ngada khususnya Etnis Soa yang memiliki alat musik tradisional misalnya B’pe Pepi agar dapat melestarikan alat musik tradional tersebut agar tidak punah dan tetap dilanjutkan sepanjang hayat. Alat musik tradisional Ngada memiliki nama dan kegunaan yang unik dimasing daerah maupun etnis. Kabupaten Ngada memiliki tiga etnis kebudayaan yaitu Etnis Bajawa, Etnis Soa dan Etnis Riung. Dari setiap Etnis memiliki alat tradisional yang berbeda namun sebagian juga memiliki alat musik tradisional yang sama.
PENERAPAN ALAT MUSIK TRADISIONAL BOMBARDO DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR Ariance Tanggu; Yunita Rufina Ruba; Flaviana Linung; Ester Rosadalima Kae; Yosefina Uge Lawe
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 4 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.847 KB) | DOI: 10.38048/jcp.v2i4.936

Abstract

Musik tradisional merupakan warisan budaya yang tidak ternilai harganya bagi pemilik sebuah kebudayaan sebagaimana halnya ada artefak-artefak kebudayaan lain seperti monument atau situs-situs bersejarah. Musik tradisional dan juga, alat-alatnya tidak dapat dipahami secara sempit sekedar sebagai sebuah benda yang menghasilkan bunyi, melainkan sebuah entitas budaya yang mengekspresikan nilai-nilai peradaban, keyakinan atau spiritualitas dan estetika serta sebagai media pewarisan aspek-aspek tersebut dalam kehidupan para pemiliknya. Bombardom adalah salah satu alat musik tradisional di Kabupaten Ngada yang cara memainknya dengan ditiup. Alat musik Bombardom ini masih eksis hingga genarasi modern saat ini, bombardoo merupakan alat music tradisional yang berasal dari kabupaten Ngada yang bahan dasarnya terbuat dari bambbo (buluh). Bombardom menghasilkan dua jenis suara yakni bariton dan sopran. Anak SD perlu mempelajari musik tradisional yaitu: 1) Mengetahui keragaman budaya Ngada. 2) Melestarikan alat musik tradisional yang ada. 3) Mengetahui kegunaannya. 4) Agar lebih mengetahui warisan kebudayaan Ngada. 5) Menjaga kelestarian budaya Ngada Mempelajari untuk menerusi kegenerasi berikutnya agar tidak punah. Selain untuk mengasah diri pada bidang seni, bermain musik nyatanya juga memiliki dampak yang positif terutama bagi siswa. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Hilmar Farid, dalam acara presentasi pendidikan karakter berbasis musik untuk sekolah dasar yang diselenggarakan di Museum Nasional, Jakarta, belum lama ini.Tujuan dari mengajarkan anak-anak untuk bermain musik bukan mengharuskan mereka menguasai alat musik, tapi lebih pada bagaimana melalui musik ini bisa membentuk karakter mereka.
PENERAPAN ALAT MUSIK TRADISIONAL SUNDING WUNI DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR Fransiskus Xaverius Ria; Maria Kristina Selo; Maria Anjelina Dhiu; Deiflora Meo Naru; Floranida Nari Sae; Yosefina Uge Lawe
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 4 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.721 KB) | DOI: 10.38048/jcp.v2i4.937

Abstract

Alat musik Sunding Wuni merupakan alat musik musik suling ganda yang berada pada etnis Riung kabupaten Ngada sebagai alat musik yang biasa dimainkan oleh masyarakat Riung. Alat musik Sunding Wuni ini sendiri memiliki 2 makna bagi masyarakat Riung, yang mana kedua makna tersebut adalah kedukaan serta kebahagiaan. Kedukaan artinya, ketika alat musik ini dipakai saat acara kematian berarti alat musik ini sedang melangbangkan rasa duka yang mendalam. Sedangkan kebahagiaan berarti alat musik ini dimainkan pada saat upacara panen raya dan beberapa upacara lainnya yang erat kaitannya dengan kebahagiaan. Pembelajaran alat musik Sunding Wuni sangat strategis terutama bagi anak SD dalam mengenal dan memahami budaya Riung. Makna alat musik ini sendiri sangat mendalam bagi kaum muda terutama bagi para pelajar. Ditinjau dari segi konstruksi bentuk, yang mana alat musik ini bergandengan dua suling, yang mengamanatkan kehidupan yang menekankan rasa persaudaraan antara sesama manusia. Bagi siswa SD, makna dari alat musik ini adalah bagiamana siswaa mampu bekerja sama dan berkolaborasi dengan siswa lain dengan diliputi semangat persaudaraan.
PENERAPAN ALAT MUSIK TRADISIONAL GA’A LI DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR Angelina Eno Klau; Dionisia Beka; Ulrikus Nono; Yohana Pase; Maria Selviana Teku; Yosefina Uge Lawe
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 4 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.767 KB) | DOI: 10.38048/jcp.v2i4.938

Abstract

Berdasarkan hasil wawancara yang sudah dilakukan oleh kami pada Desa Kealigejo Kecamatan Aimere Kabupaten Ngada, dapat disimpulkan bahwa alat musik Ga’a Li pertama kali dibuat oleh Bapak Klemens Wewe. Pembuatan alat musik Ga’a Li ini terinspirasi dari bunyi Ga’a yang biasa digunakan oleh orang tua dahulu untuk memanggil dan memberi makan babi. Terinspirasi dengan bunyi Ga’a itulah Bapak Klemens Wewe merancang Ga’a menjadi alat musik mirip kolintang. Alat musik ini mulai dibuat pada tahun 2010 dan diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun 2012. Alat musik Ga’a Li memiliki enam bentuk fisik yang sama namun memiliki ukuran dan karakter bunyi yang berbeda ketika dimainkan. Semua nada yang dihasilkan dalam ke enam Ga’a Li dalam tonalitas do=F Yang membedakan antara Ga’a Li yang satu dengan yang lainnya adalah nada-nada pada bilah bambu setiap Ga’a Li. Perbedaan nada itu disebabkan karena perbedaan ukuran bilah bambu. Dalam memainkan alat musik Ga’a Li ini dilengkapi dengan bebrapa alat musik lain diantaranya adalah Tobho, Foi Doa, Laba (Gendang) dan Markas. Musik memiliki manfaat dalam perkembangan belajar siswa sekolah dasar. Diantaranya terhadap hasil belajar, emosional, intelejensi, daya ingat dan konsentrasi. Peserta didik yang dari kecil terbiasa mendengarkan musik terbukti kecerdasan emosionalnya akan lebih berkembang. Anak dan musik memiliki keterkaitan yang kuat, makna musik bermanfaat untuk meningkatkan kecerdasan anak dan perkembangan belajar anak. Anak usia tiga sampai 6 tahun mengembangkan kecerdasan emosinya dengan mendengarkan lagu, karena masa itu merupakan masa yang paling baik pada perkembangan pendengarannya. Oleh sebab itu penulis kami mengkaji manfaat musik pada perkembangan belajar peserta didik sekolah dasar.
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA ANAK BERBASIS BAHASA IBU DENGAN PENDEKATAN BUDAYA LOKAL KABUPATEN NAGEKEO PADA TEMA KEBUTUHANKU UNTUK PEMBELAJARAN ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TKN PEMBINA BOAWAE Erista Saputri Liu; Konstantinus Dua Dhiu; Yasinta Maria Fono
Jurnal Citra Pendidikan Vol 2 No 4 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.484 KB) | DOI: 10.38048/jcp.v2i4.939

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan lembar kerja anak mengetahui kelayakan produk hasil pengembangan. Lembar kerja anak ini dikembangkan dengan menggunakan model ­Four-D yang terdiri dari 4 tahap, yakni 1) tahap Define, 2) tahap Design, 3)tahap Development, 4) tahap Disseminate. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. (1) Kelayakan hasil uji coba ahli materi/isi berada pada kategori “sangat layak” dengan persentasi 95%, (2) Kelayakan hasil uji coba ahli desain berada pada kategori “sangat layak” dengan presentasi 89%, (3) Kelayakan hasil uji coba ahli media berada pada kategori “sangat layak” dengan presentasi 88%, (4) Kelayakan hasil uji coba ahli bahasa Indonesia berada pada kategori “ sangat layak” dengen presentasi 96%, (5) Kelayakan hasil uji coba ahli bahasa daerah berada pada kategori “sangat layak” dengan presentasi 87,5%. (6) Kelayakan hasil uji coba kelompok kecil berada pada kategori “Sangat Layak” dengan presentasi 91,7%. (7) Kelayakan hasil uji perorangan berada pada kategori “Sangat Layak” dengan presentasi 91,7%. Dengan demikian hasil uji coba lembar kerja anak berbasis bahasa ibu dengan pendekatan budaya lokal Kabupaten Nagekeo tema kebutuhanku dinyatakan layak digunakan dalam proses pembelajaran.

Page 2 of 2 | Total Record : 17