cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Editorial Address
Royal Crown Palace F1-2, Tambak Oso, Waru - Sidoarjo 61256
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
Inculco Journal of Christian Education
ISSN : 29636485     EISSN : 29636485     DOI : https://doi.org/10.59404/ijce
Core Subject : Religion, Education,
Inculco Journal of Christian Education (IJCE) adalah jurnal penelitian peer-review (proses penelusuran atas kualitas suatu karya tulis ilmiah oleh ahli lain di bidang yang bersesuaian) akses terbuka berkualitas. Jurnal ini menerbitkan artikel asli tentang isu-isu terbaru dan tren yang terjadi khususnya dalam dunia pendidikan. IJCE menyediakan platform (rencana kerja atau program) yang menyambut dan mengakui makalah penelitian asli yang berkualitas tentang pendidikan yang ditulis oleh para peneliti, akademisi, profesional, dan praktisi. Kajian Inculco Journal of Education (IJE) mencakup: Ilmu Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Biblika, Teologi Pendidikan, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Keluarga, Pendidikan Berkebutuhan Khusus, Pendidikan Orang Dewasa, Pendidikan Guru.
Articles 118 Documents
RELEVANSI PERKEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK BERDASARKAN ROMA 12:2 Hari Anti Netalia; Sedirman Lawolo; Lestari Meisara Nainggolan; Viktor Sagulu; Marta Manalu
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 1 (2026): Vol 6, No 1 (2025): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i1.296

Abstract

Perkembangan kurikulum Pendidikan Agama Kristen berperan penting dalam menjawab tantangan zaman sekaligus membentuk karakter peserta didik yang berlandaskan iman. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menyesuaikan kurikulum PAK dengan konteks kehidupan modern tanpa kehilangan spiritualitas Alkitabiah. Permasalahan yang dikaji adalah relevansi perkembangan kurikulum PAK dalam mendukung pembentukan karakter peserta didik berdasarkan prinsip transformasi hidup Roma 12:2. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keterkaitan dinamika kurikulum PAK dengan pembentukan karakter yang menekankan pembaruan budi serta sikap nonkonformis terhadap pola dunia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, analisis dokumen kurikulum, dan wawancara dengan praktisi pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan kurikulum PAK kontekstual mampu memperkuat iman, etika, dan tanggung jawab sosial peserta didik, sehingga karakter terbentuk selaras dengan ajaran Alkitab. Kesimpulannya, relevansi perkembangan kurikulum PAK terhadap pembentukan karakter peserta didik berdasarkan Roma 12:2 terletak pada integrasi nilai iman dengan praktik pendidikan transformatif The development of the Christian Religious Education curriculum plays a vital role in addressing contemporary challenges and in shaping students’ faith-based character. This study is motivated by the need to contextualize the CRE curriculum within modern life without neglecting its biblical foundation. The main issue examined is the relevance of curriculum development to supporting character formation based on the transformative principle of Romans 12:2. The purpose of this research is to analyze the relationship between curriculum dynamics and character building, emphasizing the renewal of the mind and non-conformity to worldly patterns. A qualitative approach was employed through literature review, curriculum document analysis, and interviews with Christian education practitioners. The findings reveal that a contextually developed CRE curriculum strengthens students’ faith, ethics, and social responsibility, resulting in character formation aligned with biblical teachings. In conclusion, the relevance of CRE curriculum development to character formation, as articulated in Romans 12:2, lies in integrating faith values with transformative educational practices. 
AN EXPLORATION OF CHRISTIAN SPIRITUAL EDUCATION MODELS THROUGH THEOLOGICAL AND PEDAGOGICAL LENSES Santoso Hutagalung
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 1 (2026): Vol 6, No 1 (2025): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i1.299

Abstract

Dalam era yang dimediasi secara digital saat ini, pembentukan spiritual Kristen menghadapi tantangan sekaligus peluang yang unik. Penelitian ini mengeksplorasi tiga model pedagogis—Model Ziarah (Pilgrimage Model), Model Transformasi Batin (Inner Transformation Model), dan Model Aturan Hidup (Rule of Life Model)—untuk memahami bagaimana pendidik Kristen dapat menumbuhkan pertumbuhan spiritual yang autentik dalam konteks digital. Dengan pendekatan kualitatif yang didukung analisis teologis, teori pendidikan, dan penelitian empiris, setiap model menawarkan kontribusi yang khas. Model Ziarah memandang pembentukan spiritual sebagai perjalanan seumur hidup yang dipandu anugerah ilahi, dengan penekanan pada narasi dan refleksi pengalaman iman. Model Transformasi Batin menyoroti perubahan kehidupan batin—meliputi pikiran, emosi, kehendak, hati nurani, dan kesadaran diri—yang dipimpin Roh Kudus, serta diintegrasikan dengan identitas Kristiani (Christlikeness) melalui disiplin spiritual seperti doa, meditasi firman, dan keheningan. Sementara itu, Model Aturan Hidup mengintegrasikan spiritualitas dalam rutinitas melalui ritme yang disengaja, seperti doa harian, pembacaan Alkitab, refleksi diri, praktik sabat, dan keterlibatan komunitas yang akuntabel, sehingga iman diwujudkan dalam kebiasaan hidup. Temuan menunjukkan bahwa ketiga model, jika dikontekstualisasikan secara tepat, mampu mendukung pembentukan spiritual yang mendalam dan holistik dalam lingkungan digital. Pedagogi spiritual digital dipahami sebagai desain pembelajaran berbasis teknologi yang menumbuhkan dimensi spiritual melalui refleksi daring, komunitas virtual, dan praktik kontemplatif. Penelitian ini menawarkan kerangka konseptual bagi pendidik Kristen untuk membentuk identitas iman dan pemuridan yang tangguh di tengah era distraksi.In today’s digitally mediated era, Christian spiritual formation faces both unique challenges and opportunities. This study explores three pedagogical models—the Pilgrimage Model, the Inner Transformation Model, and the Rule of Life Model—to understand how Christian educators can nurture authentic spiritual growth in digital contexts. Using a qualitative approach supported by theological analysis, educational theory, and empirical research, each model offers distinct contributions. The Pilgrimage Model views spiritual formation as a lifelong journey guided by divine grace, emphasizing narrative-based pedagogy and reflective faith experiences. The Inner Transformation Model highlights the transformation of the inner life—including thoughts, emotions, will, conscience, and self-awareness—led by the Holy Spirit and integrated with Christian identity (Christlikeness) through spiritual disciplines such as prayer, Scripture meditation, and silence. Meanwhile, the Rule of Life Model integrates spirituality into daily routines through intentional rhythms, including daily prayer, Bible reading, self-reflection, Sabbath practices, and accountable community life, enabling faith to be embodied in habitual practices. The findings indicate that, when appropriately contextualized, these three models can support deep and holistic spiritual formation even within digital learning environments. Digital spiritual pedagogy is understood as the intentional design of technology-mediated learning experiences that cultivate spiritual growth through online reflection, relational virtual communities, and contemplative practices. This study contributes a conceptual framework for Christian educators to foster resilient faith identity and discipleship amid a highly distracting digital age.
INTEGRATIVE FAITH DIGITAL PORTFOLIO ASSESSMENT (IFDPA): MODEL EVALUASI AUTENTIK PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI ERA DIGITAL Erna Setiyaningrum
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 2 (2026): Vol 6, No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i2.306

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan model Integrative Faith Digital Portfolio Assessment (IFDPA) sebagai kerangka evaluasi autentik Pendidikan Agama Kristen di era digital. Kajian ini dilatarbelakangi keterbatasan evaluasi konvensional yang cenderung menilai penguasaan kognitif, sedangkan dimensi refleksi iman, karakter, dan praktik hidup Kristen belum terukur secara sistematis. Penelitian menggunakan studi literatur konseptual dengan korpus 29 sumber terpilih, terdiri atas 24 artikel jurnal dan 5 buku atau kerangka akademik yang relevan dengan evaluasi autentik, e-portofolio, literasi digital, spiritual formation, dan Pendidikan Agama Kristen. Data dianalisis melalui analisis isi dan sintesis tematik. Hasil kajian merumuskan IFDPA sebagai model evaluasi yang memadukan empat komponen: authentic learning assessment, digital portfolio system, faith reflection component, serta character and spiritual formation. Kebaruan artikel ini terletak pada operasionalisasi model melalui bagan, alur implementasi, indikator artefak digital, dan rubrik penilaian refleksi iman serta karakter. IFDPA dapat digunakan guru PAK untuk menilai proses belajar, dokumentasi karya, refleksi teologis, dan aksi nyata peserta didik secara lebih holistik, formatif, dan kontekstual. This study aimed to develop the Integrative Faith Digital Portfolio Assessment (IFDPA) model as an authentic assessment framework for Christian Religious Education in the digital era. The study was driven by the limitation of conventional assessment, which tends to emphasize cognitive mastery while faith reflection, character development, and lived Christian practice are not assessed systematically. This conceptual literature review used a corpus of 29 selected sources, consisting of 24 journal articles and 5 academic books or frameworks related to authentic assessment, e-portfolios, digital literacy, spiritual formation, and Christian Religious Education. The data were analyzed through content analysis and thematic synthesis. The findings formulated IFDPA as an assessment model that integrates four components: authentic learning assessment, digital portfolio system, faith reflection component, and character and spiritual formation. The novelty of this article lies in the operationalization of the model through a diagram, implementation cycle, digital artifact indicators, and a rubric for assessing faith reflection and character formation. IFDPA can help Christian Religious Education teachers assess learning processes, digital evidence, theological reflection, and students’ real-life actions in a more holistic, formative, and contextual way.
PERKEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DAN RELEVANSINYA BAGI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MASA KINI Hermanus Adok
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 2 (2026): Vol 6, No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i2.297

Abstract

 Perkembangan kurikulum Pendidikan Agama Kristen merupakan respons terhadap dinamika sosial, budaya, dan pedagogis yang terus berubah dalam dunia pendidikan. Di tengah krisis moral, spiritual, dan identitas peserta didik pada era global dan digital, kurikulum PAK dituntut untuk tidak hanya menekankan penguasaan aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter dan sikap hidup berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Artikel ini bertujuan mengkaji perkembangan kurikulum Pendidikan Agama Kristen, mengidentifikasi krisis dan tantangan implementasinya dalam pendidikan kontemporer, serta menganalisis relevansinya bagi kompetensi profesional guru PAK masa kini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis literatur pendidikan dan pendidikan Kristen. Hasil kajian menunjukkan bahwa kurikulum pendidikan agama Kristen  yang relevan menuntut guru pendidikan agama Kristen   memiliki kompetensi pedagogis, profesional, dan kontekstual agar mampu merancang pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan transformatif bagi peserta didik, Kesimpulan kurikulum PAK tidak dapat dipahami sebagai dokumen yang bersifat statis, melainkan sebagai konstruksi pedagogis-teologis yang perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dengan konteks peserta didik tanpa kehilangan dasar iman Kristen. The development of the Christian Religious Education curriculum is a response to the ever-changing social, cultural, and pedagogical dynamics in the world of education. In the midst of a moral, spiritual, and identity crisis for students in the global and digital era, the PAK curriculum is required to not only emphasize mastering cognitive aspects, but also the formation of character and life attitudes based on Christian values. This article aims to examine the development of the Christian Religious Education curriculum, identify the crises and challenges of its implementation in contemporary education, and analyze its relevance to the professional competence of current teachers. The research method used is a literature study by analyzing the literature on Christian education and education. The results of the study show that the relevant Christian Religious Education curriculum requires Christian Religious Education teachers to have pedagogical, professional, and contextual competencies inorder to be able to design meaningful, reflective, and transformative learning for students, The conclusion of the PAK curriculum cannot be understood as a static document, but as a pedagogical-theological construction that needs to be continuously developed to remain relevant to the context of students without losing the basis of the Christian faith.   
ANALISI KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BERDASARKAN PRINSIP PENGAJARAN DALAM 2 TIMOTIUS 3:16 Sedirman Laowo; Sheryohza Yosua
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 2 (2026): Vol 6, No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i2.302

Abstract

Praktik kurikulum pendidikan agama Kristen yang cenderung parsial. Banyak guru dan lembaga pendidikan Kristen masih menempatkan Alkitab hanya sebagai sumber materi ajar, bukan sebagai dasar metodologis dan pedagogis. Padahal, Alkitab tidak hanya berisikan doktrin, tetapi juga prinsip pendidikan yang dapat membentuk karakter Kristiani. Penelitian ini bertujuan menelaah kurikulum Pendidikan Agama Kristen dengan dasar prinsip pengajaran dalam 2 Timotius 3:16. Masalah yang dikaji adalah kurangnya penerapan fungsi Alkitab secara menyeluruh dalam kurikulum, sehingga pembelajaran cenderung berorientasi pada aspek kognitif semata, namun bisa aspek psikomotorik dan afektif bisa dipergunakan. Metode penelitian menggunakan studi literatur dan analisis teologis terhadap teks Alkitab serta dokumen kurikulum yang relevan. Hasil menunjukkan kurikulum pendidikan agama Kristen perlu mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan menekankan pembentukan karakter Kristiani. Simpulan ini menekankan bahwa tujuan pendidikan agama Kristen adalah untuk membentuk para siswa menjadi pribadi yang serupa dengan Kristus melalui transformasi iman dan kehidupan mereka sesuai dengan kehendak Allah, bukan hanya menyampaikan informasi.The practice of Christian education curricula tends to be partial. Many teachers and Christian educational institutions still treat the Bible merely as a source of teaching material rather than as a methodological and pedagogical foundation. In reality, the Bible contains not only doctrine but also educational principles that can shape Christian character.The purpose of this research is to analyze the Christian Religious Education program through the lens of 2 Timothy 3:16. The problem that needs to be addressed is the narrow focus on cognitive elements of education caused by the incomplete integration of the Bible's functions into the curriculum. An examination of relevant educational materials and a theological examination of biblical texts constitute the study methodology However, the psychomotor and affective domains can also be utilized. Based on the findings, Christian religious education programs should prioritize character development by including cognitive, emotional, and psychomotor components into their curricula. More than just imparting knowledge, the ultimate aim of Christian religious education is to mold students into Christ-like persons by transforming their beliefs and lives in harmony with God's desire, as stressed in the conclusion.
ONTOLOGI KRISTEN SEBAGAI FONDASI STRATEGI MISI BAGI GENERASI Z DI ERA DIGITAL Sostenis Nggebu; Syaiful Hamzah; Rudy Martin Sitohang; Didik Setiyanto
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 2 (2026): Vol 6, No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i2.301

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi peran krusial ontologi Kristen sebagai fondasi strategis dalam perumusan misi gereja yang transformatif bagi Generasi Z di era digital. Di tengah arus postmodernisme yang ditandai oleh relativisme moral, sekularisme, dan krisis identitas virtual, Generasi Z sering kali terjebak dalam pencarian makna hidup yang cair dan terfragmentasi di ruang siber. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur teologis-filosofis, artikel ini menganalisis bagaimana hakikat keberadaan Allah sebagai Ultimate Reality dan manusia sebagai Imago Dei memberikan jangkar teologis yang objektif atas kehampaan eksistensial dalam budaya digital. Analisis ini menunjukkan bahwa strategi misi gereja yang efektif tidak boleh hanya berhenti pada aspek metodologis atau kemasan konten digital, melainkan harus menyentuh level ontologis guna memulihkan martabat manusia sesuai desain kekal Sang Pencipta. Hasil penelitian menegaskan bahwa pendidikan misi berbasis ontologis mampu mereposisi paradigma jemaat dari sekadar penerima dogma kognitif menjadi agen transformasi "inkarnasional" yang solider terhadap krisis kemanusiaan. Implikasinya, gereja dipanggil untuk menghadirkan kedaulatan Allah dalam setiap ruang publik digital melalui pendekatan yang holistik, autentik, dan relevan. Dengan menempatkan keutamaan Kristus sebagai pusat eksistensi, gereja dapat mewariskan pusaka iman yang kokoh bagi generasi penerus guna mewujudkan transformasi sosial-kultural yang berdampak nyata di tengah dinamika perubahan global yang kompleks.This research explores the crucial role of Christian ontology as a strategic foundation in the formulation of a transformative church mission for Generation Z in the digital age. In the midst of the currents of postmodernism marked by moral relativism, secularism, and virtual identity crises, Generation Z is often caught up in the search for the fluid, fragmented meaning of life in cyberspace. Using a qualitative method with a theological-philosophical literature study approach, this article analyzes how the essence of God's existence as the Ultimate Reality and man as Imago Dei provides an objective theological anchor to the existential void in digital culture. This analysis shows that an effective church mission strategy should not stop only at the methodological aspect or packaging of digital content, but must touch the ontological level in order to restore human dignity according to the Creator's eternal design. The results of the study confirm that ontological-based mission education is able to reposition the paradigm of the congregation from a mere recipient of cognitive dogma to an agent of "incarnational" transformation that is in solidarity with the humanitarian crisis. Implicitly, the church is called to present God's sovereignty in every digital public space through a holistic, authentic, and relevant approach. By placing the primacy of Christ at the center of existence, the church can pass on a solid legacy of faith to the next generation in order to realize a socio-cultural transformation that has a real impact in the midst of complex global change dynamics.
TRANSFORMASI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN PERSPEKTIF PERJANJIAN BARU DI ERA ARTIFICAL INTELLIGENCE DAN KRISIS INTEGRITAS AKADEMIK sonny herens umboh
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 2 (2026): Vol 6, No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i2.305

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, terutama dalam pola belajar, akses informasi, dan penyelesaian tugas akademik. Di satu sisi, AI memberikan manfaat berupa efisiensi, personalisasi pembelajaran, dan kemudahan memperoleh sumber pengetahuan. Namun, di sisi lain, penggunaan AI yang tidak disertai tanggung jawab etis berpotensi memunculkan krisis integritas akademik, seperti plagiarisme terselubung, ketergantungan intelektual, serta menurunnya kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi Pendidikan Agama Kristen berdasarkan perspektif Perjanjian Baru dalam menghadapi era Artificial Intelligence dan krisis integritas akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan. Data diperoleh melalui penelaahan Alkitab, buku, artikel jurnal, dan literatur ilmiah yang relevan dengan tema penelitian. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi tema, interpretasi teologis, dan penyusunan model konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Perjanjian Baru, seperti kejujuran, tanggung jawab, pembaruan budi, dan hikmat, memiliki relevansi kuat sebagai dasar etis dalam penggunaan AI. Penelitian ini juga menemukan bahwa pendekatan Pendidikan Agama Kristen yang masih konvensional perlu diperbarui melalui model pembelajaran berbasis karakter digital, literasi kritis, spiritualitas kerja, dan kolaborasi etis dengan teknologi. Dengan demikian, Artificial Intelligence tidak harus dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana yang dapat mendukung pembelajaran apabila diarahkan oleh nilai-nilai iman Kristen. The development of AI  has brought significant changes to the field of education, particularly in learning patterns, access to information, and the completion of academic tasks. On the one hand, AI offers benefits such as efficiency, personalized learning, and easier access to knowledge resources. On the other hand, the use of  AI  without ethical responsibility may lead to a crisis of academic integrity, including disguised plagiarism, intellectual dependency, and the decline of students’ critical thinking skills. This study aims to analyze the transformation of Christian Religious Education from the perspective of the New Testament in responding to the era of AI and the crisis of academic integrity. The research employed a qualitative approach using library research methods. Data were collected through the examination of biblical texts, books, journal articles, and other scholarly literature relevant to the topic. Data analysis was conducted through data reduction, thematic categorization, theological interpretation, and conceptual model development. The findings reveal that New Testament values such as honesty, responsibility, renewal of the mind, and wisdom provide a strong ethical foundation for the use of  AI.. The study also found that conventional approaches to Christian Religious Education need to be renewed through learning models based on digital character formation, critical literacy, work spirituality, and ethical collaboration with technology. Therefore, AI should not merely be viewed as a threat, but as a tool that can support education when guided by Christian faith values.
SIGNIFIKANSI KRITIK TEKS ALKITAB DALAM MEMBANGUN INTEGRITAS HERMENEUTIKA BAGI PENDIDIKAN KRISTEN KONTEMPORER Fredik Melkias Boiliu; Demsy Jura
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 2 (2026): Vol 6, No 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i2.307

Abstract

Kritik teks Alkitab memiliki peranan penting dalam menjaga keaslian dan validitas teks Kitab Suci sebagai dasar utama penafsiran teologis. Namun, dalam praktik pendidikan Kristen kontemporer, pemahaman terhadap kritik teks sering kali dipandang sebatas pendekatan akademik yang kurang relevan terhadap pembentukan iman dan integritas hermeneutika. Penelitian ini bertujuan menganalisis signifikansi kritik teks Alkitab dalam membangun integritas hermeneutika bagi pendidikan Kristen kontemporer. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka melalui analisis literatur teologi, hermeneutika, dan kritik teks Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kritik teks tidak hanya berfungsi untuk menelusuri keakuratan naskah Alkitab, tetapi juga memperkuat objektivitas penafsiran, mencegah penyimpangan teologis, dan membangun tanggung jawab akademik serta spiritual dalam proses pembelajaran Kristen. Selain itu, integrasi kritik teks dalam pendidikan Kristen membantu peserta didik memahami konteks historis dan teologis Alkitab secara lebih komprehensif sehingga menghasilkan hermeneutika yang bertanggung jawab dan relevan terhadap tantangan zaman. Dengan demikian, kritik teks Alkitab memiliki kontribusi signifikan dalam membangun integritas hermeneutika yang kokoh bagi pendidikan Kristen kontemporer serta menjadi fondasi penting dalam pengembangan pembelajaran teologi yang kritis, kontekstual, dan transformatif.Criticism of the biblical text has an important role in maintaining the authenticity and validity of the Biblical text as the main basis for theological interpretation. However, in contemporary Christian educational practice, the understanding of textual criticism is often seen as a less relevant academic approach to the formation of hermeneutic faith and integrity. This study aims to analyze the significance of biblical text criticism in building hermeneutic integrity for contemporary Christian education. The method used is qualitative research with a literature study approach through the analysis of theological literature, hermeneutics, and criticism of biblical texts. The results show that textual criticism not only serves to trace the accuracy of the biblical text, but also strengthens the objectivity of interpretation, prevents theological deviation, and establishes academic and spiritual responsibility in the Christian learning process. In addition, the integration of textual criticism in Christian education helps learners understand the historical and theological context of the Bible more comprehensively, resulting in hermeneutics that are responsible and relevant to the challenges of the times. Thus, biblical text criticism has a significant contribution to establishing a solid hermeneutic integrity for contemporary Christian education as well as being an important foundation in the development of critical, contextual, and transformative theological learning.

Page 12 of 12 | Total Record : 118