cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Editorial Address
Royal Crown Palace F1-2, Tambak Oso, Waru - Sidoarjo 61256
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
Inculco Journal of Christian Education
ISSN : 29636485     EISSN : 29636485     DOI : https://doi.org/10.59404/ijce
Core Subject : Religion, Education,
Inculco Journal of Christian Education (IJCE) adalah jurnal penelitian peer-review (proses penelusuran atas kualitas suatu karya tulis ilmiah oleh ahli lain di bidang yang bersesuaian) akses terbuka berkualitas. Jurnal ini menerbitkan artikel asli tentang isu-isu terbaru dan tren yang terjadi khususnya dalam dunia pendidikan. IJCE menyediakan platform (rencana kerja atau program) yang menyambut dan mengakui makalah penelitian asli yang berkualitas tentang pendidikan yang ditulis oleh para peneliti, akademisi, profesional, dan praktisi. Kajian Inculco Journal of Education (IJE) mencakup: Ilmu Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Biblika, Teologi Pendidikan, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Keluarga, Pendidikan Berkebutuhan Khusus, Pendidikan Orang Dewasa, Pendidikan Guru.
Articles 105 Documents
PENERAPAN METODE QUANTUM TEACHING DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR FIRMAN TUHAN BAGI ANAK USIA DINI Farida, Muharoma Chomsatul; Hulu, Nurma Winda
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 2 (2024): Vol 4, No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i2.195

Abstract

Pendidikan anak usia dini merupakan upaya pembinaan yang ditujukan untuk anak-anak sejak lahir hingga usia enam tahun. Melalui pendidikan anak usia dini, diharapkan anak mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Quantum Teaching merupakan pendekatan pembelajaran yang dinamis yang menekankan interaksi antara guru dan siswa. Pendekatan ini mendorong guru untuk melibatkan siswa sebagai subjek yang aktif dalam proses pembelajaran Model pembelajaran Quantum Teaching memiliki ciri khas yang unik terutama dalam hal rancangan belajar yaitu “TANDUR” yang dapat dijabarkan sebagai berikut: pertama, Tumbuhkan : tumbuhkan minat siswa untuk belajar firman Tuhan. kedua, Alami. (Guru Menciptakan atau menghadirkan pengalaman umum yang dapat dipahami oleh Siswa). Ketiga, Namai Setelah siswa mengalami pengalaman belajar 'alami' mereka dapat menamai apa yang telah mereka peroleh. Keempat, Demonstrasikan. Melalui pengalaman belajar, siswa memahami dan mengetahui bahwa mereka memiliki kemampuan dan informasi yang cukup, kini sudah saatnya bagi siswa untuk  menunjukkannya di hadapan Guru, teman, dan saudara-saudaranya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan firman Tuhan.kelima, Ulangi. Dalam proses pembelajaran, Pengulangan sangat penting dalam proses belajar mengajar bagi anak usia dini. Hal ini juga relevan dengan firman Tuhan yang tertulis dalam Ulangan 6: 7. keenam, Rayakan. Guru dapat merayakan keberhasilan siswanya dengan memberikan apresiasi sehingga anak merasa dihargai. Early childhood education is an effort aimed at children from birth to six years old. Through early childhood education, it is hoped that children can develop their full potential. Quantum Teaching is a dynamic learning approach that emphasizes interaction between teachers and students. This approach encourages teachers to involve students as active subjects in the learning process. The Quantum Teaching learning model has unique characteristics, especially in terms of learning design, which can be outlined as follows: first, Cultivate: cultivate students' interest in learning the word of God. Second, Experience: (Teachers create or present common experiences that can be understood by students). Third, Name: After students experience 'natural' learning experiences, they can name what they have gained. Fourth, Demonstrate: Through learning experiences, students understand and realize that they have sufficient ability and information, now it is time for students to demonstrate it in front of the teacher, friends, and siblings. The teacher gives students the opportunity to apply the word of God. Fifth, Repeat: In the learning process, repetition is very important in the teaching and learning process for early childhood. This is also relevant to the word of God written in Deuteronomy 6:7. Sixth, Celebrate: Teachers can celebrate their students' successes by giving appreciation so that children feel valued. 
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MASYARAKAT MAJEMUK: MEMBANGUN KEPEMIMPINAN DAN NILAI-NILAI KRISTEN Waruwu, Christien Sekar Mawarni; Karokaro, Sri Ulina; Mbuha Jarang, Aris Katanga; Babawat, Herles
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 2 (2024): Vol 4, No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i2.185

Abstract

Masyarakat majemuk dengan beragam budaya, agama, dan asal usul sosial merupakan fenomena yang semakin umum di dunia modern. Artikel ini membahas tentang pentingnya pendidikan agama Kristen dalam konteks masyarakat yang majemuk. Pendidikan agama Kristen berfungsi sebagai jembatan pemahaman antar individu yang berbeda latar belakang, memfasilitasi terciptanya toleransi, saling pengertian dan kerjasama dalam masyarakat majemuk. Nilai-nilai Kristiani seperti kasih, belas kasihan, dan keadilan berperan penting dalam melatih para pemimpin Kristiani untuk menghadapi tantangan masyarakat yang majemuk. Artikel ini menguraikan perbedaan antara pendidikan agama Kristen dan praktik keagamaan Kristen dengan tujuan menjaga keseimbangan antara hak individu untuk memegang keyakinan pribadi dan upaya untuk memahami dan menghormati budaya dan agama lain dalam masyarakat majemuk. Metode penelitian yang digunakan adalah  deskriptif dan analitis data untuk mendeskripsikan permasalahan, tujuan, nilai-nilai Kristiani dalam kepemimpinan dan solusi terhadap tantangan yang dihadapi. Artinya pendidikan agama Kristen berperan penting dalam membangun keharmonisan dan pemahaman dalam masyarakat yang majemuk dan beragam. A diverse society with various cultures, religions, and social backgrounds is becoming increasingly common in the modern world. This article discusses the importance of Christian religious education in the context of a diverse society. Christian religious education serves as a bridge for understanding among individuals with different backgrounds, facilitating the development of tolerance, mutual understanding, and cooperation in diverse communities. Christian values such as love, compassion, and justice play a crucial role in training Christian leaders to address the challenges posed by diverse societies. The article outlines the differences between Christian religious education and the practice of the Christian faith with the aim of maintaining a balance between individuals' rights to hold personal beliefs and efforts to understand and respect other cultures and religions in diverse societies. The research methodology used includes descriptive and analytical data analysis to describe the issues, objectives, Christian values in leadership, and solutions to the challenges faced. In essence, Christian religious education plays a vital role in building harmony and understanding in diverse and varied societies.
MEMAHAMI KEBERAGAMAN UNTUK MENUMBUHKAN TOLERANSI DAN SALING MENGHORMATI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Putra, Resa Junias; Radjah, Yatriani Yelni
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 3 (2024): Vol 4, No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i3.222

Abstract

Pendidikan Kristen memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan moral peserta didik, tidak hanya melalui pengajaran doktrin dan ritus, tetapi juga dengan menekankan pemahaman dan penghargaan terhadap keragaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menganalisis konsep Memahami Keberagaman dalam konteks Pendidikan Agama Kristen untuk membangun toleransi dan saling menghormati. Penelitian menggunakan pendekatan Tinjauan Sastra dengan fokus pada analisis kritis dan sintesis data dari sumber yang relevan. Memahami Keberagaman dalam konteks ini bukan hanya sekadar mengakui perbedaan antar individu atau kelompok, tetapi juga menghargai nilai-nilai yang mendasarinya. Dalam Pendidikan Agama Kristen, hal ini menyoroti pentingnya kesadaran akan pluralitas dalam keyakinan dan praktik keagamaan, serta bagaimana hal ini dapat memperkaya perspektif dan memperdalam penghayatan iman. Dengan mendalamkan pemahaman ini, diharapkan tercipta lingkungan inklusif di mana toleransi dan saling menghormati tidak hanya menjadi nilai yang diucapkan, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Memahami Keberagaman berpotensi besar untuk mempengaruhi pembentukan karakter dan moral dalam Pendidikan Agama Kristen, mempromosikan sikap terbuka terhadap perbedaan, dan memfasilitasi dialog antarumat beragama. Studi ini tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga diharapkan memberikan kontribusi praktis dalam memperkuat nilai-nilai damai dan harmonis dalam masyarakat, di mana keberagaman dihargai sebagai kekuatan yang mempersatukan. Christian education has an important role in shaping the character and morals of students, not only through the teaching of doctrine and rites, but also by emphasizing understanding and appreciation of diversity. The purpose of this research is to explore and analyze the concept of Understanding Diversity in the context of Christian Religious Education to build tolerance and mutual respect. The research uses a Literary Review approach with a focus on critical analysis and synthesis of data from relevant sources. Understanding Diversity in this context is not just about acknowledging differences between individuals or groups, but also appreciating the underlying values. In Christian Religious Education, it highlights the importance of awareness of plurality in religious beliefs and practices, as well as how this can enrich perspectives and deepen the appreciation of faith. By deepening this understanding, it is hoped that an inclusive environment will be created where tolerance and mutual respect are not only spoken values, but also implemented in daily life. The results of the study show that the concept of Understanding Diversity has great potential to influence the formation of character and morals in Christian religious education, promote an open attitude to differences, and facilitate dialogue between religious communities. This study is not only academic in nature, but is also expected to make a practical contribution in strengthening the values of peace and harmony in society, where diversity is valued as a unifying force.
DINAMIKA LINGKUNGAN SOSIAL DALAM MEMBENTUK SIKAP TOLERANSI PADA GENERASI MILENIAL Christy, Areyne; Barail, Eirene Victoria Sele; Mersiana, Untung; Saingo, Oktavianus
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 2 (2024): Vol 4, No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i2.200

Abstract

Dalam era yang semakin terkoneksi secara global, pentingnya peran lingkungan sosial dalam membentuk sikap toleransi pada generasi milenial menjadi semakin nyata. Dinamika lingkungan sosial memainkan peran penting dalam membentuk sikap toleransi pada generasi milenial. Generasi milenial, yang lahir antara tahun 1980-2000, telah tumbuh dalam era digital dan teknologi yang sangat cepat, dan telah terpapar oleh berbagai informasi dan budaya yang berbeda-beda, membuat generasi milenial memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan berbagai individu dan budaya. Melalui penelitian ini, kami menemukan bahwa lingkungan sosial, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk persepsi, sikap, dan perilaku toleransi generasi milenial. Interaksi daring, terutama melalui media sosial, memainkan peran utama dalam membentuk pandangan dan sikap toleransi. Pola interaksi online dan konten yang dikonsumsi secara langsung memengaruhi cara generasi milenial memahami dan merespons perbedaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi Pustaka. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman tentang peran interaksi sosial terhadap generasi milenial yang dapat mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku dalam sikap bertoleransi dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Peran lingkungan sosial sangat penting dalam kehidupan generasi milenial. Solusi bagi milenial untuk mengatur dirinya sendiri, agar mereka dapat tetap memiliki rasa toleransi dan tetap berperilaku positif. Milenial harus mampu mengelola diri sendiri, menggunakan teknologi untuk memilah dan memilih nilai-nilai yang bermanfaat, mengekstraksi informasi dari internet dan media sosial.In an increasingly globally connected era, the importance of the role of the social environment in shaping tolerance attitudes in the millennial generation is becoming increasingly evident. The dynamics of the social environment play an important role in shaping tolerance attitudes in the millennial generation. The millennial generation, born between 1980-2000, has grown up in a very fast digital and technological era, and has been exposed to a variety of different information and cultures, making millennials have the ability to interact with various individuals and cultures. Through this research, we found that the social environment, both in the real world and in cyberspace, has a significant influence in shaping the perceptions, attitudes, and tolerant behaviors of the millennial generation. Online interactions, especially through social media, play a major role in shaping views and attitudes of tolerance. Online interaction patterns and the content consumed directly affect how millennials understand and respond to differences. This research uses qualitative methods with a literature study approach. This study aims to provide an understanding of the role of social interaction for the millennial generation that can influence the way of thinking and behaving in a tolerant attitude in everyday community life. The role of the social environment is very important in the lives of millennials. The solution for millennials to regulate themselves, so that they can still have a sense of tolerance and keep behaving positively. Millennials must be able to manage themselves, use technology to sort and select useful values, extract information from the internet and social media. 
KREATIVITAS SEORANG GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENCIPTAKAN SUASANA BELAJAR YANG MENARIK DAN MENYENANGKAN Lunga, Korlin Tenga
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 2 (2024): Vol 4, No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i2.189

Abstract

Guru Pendidikan Agama Kristen menghadirkan kreativitas sebagai elem kunci dalam proses pembelajaran yang diemban oleh mereka. kreativitas guru merupakan kemampuan seorang guru untuk mengembangkan ide-ide dan gagasan-gagasan yang dimilikinya, dengan tujuan menciptakan aktivitas pembelajaran yang berguna agar dapat memenuhi keberagaman tingkat kemampuan, gaya belajar, dan tipe siswa. Selain itu, kemampuan guru dalam menarik perhatian siswa juga menjadi hal yang tidak boleh diabaikan, guna menciptakan lingkungan kelas yang menarik dan penuh semangat. Dalam konteks Pendidikan Agama Kristen, kreativitas guru menjadi hal yang sangat penting dalam menyampaikan Firman Tuhan kepada siswa secara efektif. Guru harus memastikan adanya lingkungan pembelajaran yang merangsang dan memotivasi siswa, mengadopsi beragam metode seperti tanya-jawab, serta menjalankan peran sebagai penggerak dan pembimbing dalam proses belajar mengajar.Christian Religious Education Teachers present creativity as a key element in their learning process. Teacher creativity is a teacher's ability to develop the ideas and thoughts he has, with the aim of creating useful learning activities to meet the diversity of ability levels, learning styles and types of students. Apart from that, the teacher's ability to attract students' attention is also something that should not be ignored, in order to create an interesting and enthusiastic classroom environment. In the context of Christian Religious Education, teacher creativity is very important in conveying God's Word to students effectively. Teachers must ensure that there is a learning environment that stimulates and motivates students, adopt various methods such as question and answer, and carry out the role of activator and guide in the teaching and learning process.
MENILIK FUNGSI HUMOR DI DALAM KELUARGA KRISTEN SEBAGAI WADAH UNTUK MENUMBUHKAN NILAI KEAKRABAN KELUARGA KRISTEN Lawolo, Aprianus
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 3 (2024): Vol 4, No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i3.224

Abstract

Penelitian mengenai humor sudah banyak dilakukan, dan hasilnya humor menunjukkan peranan yang penting bagi kehidupan manusia khususnya di dalam membentuk hubungan yang dekat antara sesama keluarga. Akan tetapi, pemahaman yang baik tentang humor masih di salah pahami oleh sebagai orang. Salah satunya adalah teolog besar St. John Chrysostom di dalam risalahnya ia mengatakan bahwa humor tidak menunjukkan ciri khas teladan pengikut Kristus. Untuk menjawab permasalahan di atas penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Sehingga hasil penelitian ini menunjukkan bahwa humor bukan bagian yang terpisah dari aspek kehidupan manusia, humor dapat membantu seseorang khususnya sebuah keluarga Kristen di dalam menumbuhkan nilai saling menyayangi, yang pada akhirnya juga akan menciptakan sikap saling terbuka satu sama lain antara anggota keluarga.
PENTINGNYA KEMATANGAN SPIRITUALITAS BAGI KEHIDUPAN MORAL SEORANG GURU DI DALAM LINGKUP MASYARAKAT Waruwu, Christien Sekar Mawarni
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 3 (2024): Vol 4, No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i3.181

Abstract

Guru merupakan faktor kunci dalam mencapai tujuan, visi dan misi pendidikan, sehingga tanpa peran mereka maka proses pembelajaran dalam pendidikan tidak akan berlangsung dengan baik dan pendidikan tidak akan mampu melatih peserta didik, menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk dapat melatih siswa menjadi baik kecerdasan dan kepribadiannya, guru harus terlebih dahulu  memberikan keteladanan, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat tempat tinggalnya. Keteladanan guru kepada masyarakat berarti kehidupan moral guru diperhatikan oleh banyak orang, sehingga kesalahan sekecil apa pun yang dilakukan guru, terutama kesalahan yang berkaitan dengan moralitas manusia, akan cepat hilang, cepat menyebar ke seluruh lapisan masyarakat dan akan menjadi perbincangan. bahan diskusi bagi banyak orang. Kehidupan moral seseorang  erat kaitannya dengan kedewasaan rohaninya, karena keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Demikian pula guru mempunyai tanggung jawab untuk mengajarkan nilai-nilai yang baik dan benar kepada siswanya. Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk,  guru juga memegang peranan yang mencakup seluruh kelompok masyarakat tanpa terkecuali, namun guru harus mampu menyaring segala pengaruh yang ada agar kehormatan dan kewibawaan guru tetap utuh dan sempurna di mata masyarakat. Teachers are a key factor in achieving the goals, vision and mission of education, so that without their role the learning process in education will not take place well and education will not be able to train students, create quality human resources. To be able to train students to have good intelligence and personality, teachers must first set an example, both in the school environment and in the community where they live. The teacher's example to society means that many people pay attention to the teacher's moral life, so that the slightest mistakes made by teachers, especially mistakes related to human morality, will quickly disappear, quickly spread to all levels of society and will become a topic of conversation. discussion material for many people. A person's moral life is closely related to his spiritual maturity, because the two are an inseparable unity. Likewise, teachers have a responsibility to teach good and correct values to their students. In a pluralistic society, teachers also play a role that covers all groups of society without exception, but teachers must be able to filter out all existing influences so that the honor and authority of teachers remains intact and perfect in the eyes of society.
GURU SEBAGAI PEMBIMBING SISWA DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA BERLANDASKAN FILSAFAT PENDIDIKAN KRISTEN Gaol, Riris Lumban; Irawati, Wahyu; Sukri, Urbanus
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 2 (2024): Vol 4, No. 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i2.192

Abstract

Peran guru sebagai penuntun adalah menuntun siswa dalam pengetahuan kebenaran untuk melayani Tuhan dan sesama.  Kenyataannya, sekolah Kristen saat ini hanya memperlihatkan peran guru yang berfokus pada penerapan ilmu pengetahuan sehingga terjadi penurunan karakter siswa. Tujuan dari penulisan adalah menganalisis peran guru sebagai penuntun dalam pembentukan karakter siswa ditinjau dari filsafat pendidikan Kristen dengan tiga fokus kajian, yaitu filsafat pendidikan Kristen tentang peran guru sebagai penuntun, kajian teologis tentang pembentukan karakter siswa dan peran guru sebagai penuntun dalam pembentukan karakter siswa. Metode yang digunakan adalah kajian literatur. Filsafat pendidikan Kristen mendorong guru Kristen membentuk karakter siswa sesuai dengan kebenaran Alkitabiah. Pandangan aksiologi memperlihatkan Alkitab sebagai landasan pengajaran dalam  menuntun siswa untuk memiliki pengetahuan tentang kebenaran sejati. Peran guru sebagai penuntun harus memiliki karakter yang baik terlebih dulu sehingga siswa dapat meneladani dan mengerti karakter yang baik sesuai kebenaran Alkitabiah. Guru sebagai penuntun memperlihatkan karakter yang mencerminkan nilai-nilai Kristen serta menjadikan Alkitab  sebagai dasar penuntun dan menjadi pedoman dalam membentuk karakter siswa. Guru Kristen menyadari keberadaannya sebagai rekan kerja Allah untuk menuntun dan mentransformasi siswa yang mengalami kemerosotan karakter. Saran yang diberikan adalah guru Kristen dapat menanamkan nilai-nilai Alkitabiah kepada siswa pada setiap pembelajaran dalam membentuk karakter siswa. The teacher's guiding role is to guide students in the knowledge of truth to serve the Lord and others.  In fact, Christian schools today only show the role of teachers who focus on the application of science, resulting in a decline in student character. The purpose of writing is to analyze the role of the teacher as a guide in the formation of student character in terms of Christian educational philosophy with three focuses of study, namely Christian education philosophy about the role of the teacher as a guide, theological studies about the formation of student character and the role of the teacher as a guide in the formation of student character. The method used is a literature review. The philosophy of Christian education encourages Christian teachers to shape students' character according to biblical truth. The axiological view shows the Bible as a teaching foundation in leading students to a knowledge of true truth. The role of the teacher as a guide must first have good character so that students can emulate and understand good character according to biblical truth. The teacher as a guide shows character that reflects Christian values and makes the Bible as a guiding basis and guide in shaping the character of students. The Christian teacher recognizes his or her existence as God's co-worker to guide and transform students experiencing character decline. The advice given is that Christian teachers can instill biblical values in students in every lesson in shaping student character.
PLURALISME AGAMA-AGAMA DI INDONESIA: IMAN KRISTEN UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI GEREJA Widiyaningtyas, Ester; Plestari, Delsi
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 3 (2024): Vol 4, No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i3.227

Abstract

Artikel ini berisi pembahasan tentang pandangan iman Kristiani dalam menghadapi pluralisme dan apa yang menjadikan landasan pemikiran dan sikap teologis dan etis umat beriman terhadap Yesus Kristus, dalam ajaran dunia yang semakin mengancam iman dan keyakinan Kristiani. Pluralisme adalah hal yang nyata dan pasti terjadi di kalangan pluralisme agama, sebagai umat Kristiani tentunya membawa kabar keselamatan melalui Yesus Kristus. Tulisan ini mengkaji bahwa pluralisme agama berkembang sangat pesat di era pluralisme agama, dalam perkembangan pluralisme ini dimana nilai-nilai Kristiani yang menekankan Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan dan kebenaran ditolak oleh pluralisme. Iman Kristiani dalam situasi ini memberikan tanggapan dalam perspektif doktrin, yaitu Tritunggal yang memiliki hubungan dengan pluralitas. Adanya situasi seperti ini membawa umat Kristiani pada panggilan sebagai umat pilihan Tuhan dan melakukan apologetika serta memperluas karya Tuhan dan menerapkan kasih agape kepada umat lintas agama. This article discusses the views of the Christian faith in the face of pluralism and what makes the basis of the theological and ethical thinking and attitude of the faithful towards Jesus Christ, in the teachings of the world that increasingly threaten Christian faith and belief. Pluralism is a real and definite thing that happens among religious pluralism, as Christians, of course, bringing the news of salvation through Jesus Christ. This paper examines that religious pluralism developed very rapidly in the era of religious pluralism, in the development of this pluralism where Christian values that emphasize Christ as the only way of salvation and truth are rejected by pluralism. The Christian faith in this situation responds in a doctrinal perspective, namely the Trinity which has a relationship with plurality. The existence of a situation like this leads Christians to the vocation as God's chosen people and to do apologetics and expand God's work and apply agape love to people of all faiths.
PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MELALUI KREATIVITAS DAN INOVASI GURU DALAM MENCIPTAKAN KELAS YANG DINAMIS Mea, Firmina
Inculco Journal of Christian Education Vol 4, No 3 (2024): Vol 4, No. 3 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v4i3.190

Abstract

Pendidikan saat ini menghadapi tantangan signifikan, dengan kesulitan pemahaman materi oleh peserta didik yang disebabkan oleh pendekatan pengajaran tradisional dan rendahnya minat serta motivasi belajar, menekankan perlunya kreativitas dan inovasi guru untuk menciptakan kelas yang dinamis guna meningkatkan efektivitas pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah merinci praktik-praktik kreatif dan inovatif yang dapat diterapkan oleh guru, mengukur dampaknya terhadap partisipasi dan pemahaman peserta didik. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui pendekatan ini, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata pada pemahaman guru tentang bagaimana menciptakan kelas yang efektif dan memotivasi Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendidikan mengandalkan peran guru sebagai pembimbing utama yang memerlukan perencanaan yang sistematis. Kreativitas dan inovasi guru penting dalam proses pembelajaran, melibatkan penggunaan pendekatan kreatif dan respons terhadap dinamika kelas. Dalam manajemen kelas, tantangan kompleks dari dinamika sosial dan perkembangan teknologi membutuhkan inovasi terus-menerus untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan.  Education today faces significant challenges, with learners struggling to understand material due to traditional teaching approaches and low interest and motivation to learn, emphasizing the need for teacher creativity and innovation to create dynamic classrooms to improve learning effectiveness. The aim of this research is to detail creative and innovative practices that teachers can implement and measure their impact on learner participation and understanding. This research applies a descriptive qualitative method with a literature study approach. Based on the results of the study, it can be concluded that education relies on the role of the teacher as the main guide, requiring systematic planning. Teacher creativity and innovation are important in the learning process, involving the use of creative approaches and responses to classroom dynamics. In classroom management, the complex challenges of social and technological dynamics require constant innovation to improve learner motivation and learning outcomes. 

Page 8 of 11 | Total Record : 105