cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
ijce@stakanakbangsa.ac.id
Editorial Address
Royal Crown Palace F1-2, Tambak Oso, Waru - Sidoarjo 61256
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
Inculco Journal of Christian Education
ISSN : 29636485     EISSN : 29636485     DOI : https://doi.org/10.59404/ijce
Core Subject : Religion, Education,
Inculco Journal of Christian Education (IJCE) adalah jurnal penelitian peer-review (proses penelusuran atas kualitas suatu karya tulis ilmiah oleh ahli lain di bidang yang bersesuaian) akses terbuka berkualitas. Jurnal ini menerbitkan artikel asli tentang isu-isu terbaru dan tren yang terjadi khususnya dalam dunia pendidikan. IJCE menyediakan platform (rencana kerja atau program) yang menyambut dan mengakui makalah penelitian asli yang berkualitas tentang pendidikan yang ditulis oleh para peneliti, akademisi, profesional, dan praktisi. Kajian Inculco Journal of Education (IJE) mencakup: Ilmu Pendidikan, Teknologi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Biblika, Teologi Pendidikan, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Keluarga, Pendidikan Berkebutuhan Khusus, Pendidikan Orang Dewasa, Pendidikan Guru.
Articles 110 Documents
PERAN PENDIDIKAN KRISTEN SEBAGAI SOLUSI MENGHADAPI GAYA HIDUP HEDONISME BERKEDOK SELF-REWARD DI KALANGAN ANAK MUDA Romika, Romika; Haninun, Merlin; Paly, Yunita
Inculco Journal of Christian Education Vol 5, No 3 (2025): Vol 5, No 3 (2025): September 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v5i3.272

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan Kristen sebagai solusi dalam menghadapi gaya hidup hedonisme berkedok self-reward yang semakin marak di kalangan anak muda. Gaya hidup ini sering kali dikaitkan dengan pencarian kebahagiaan melalui konsumsi material dan kepuasan diri yang berlebihan. Pendidikan Kristen yang berlandaskan Alkitab, dengan fondasi nilai-nilai spiritualitas merupakan dasar yang dapat merubah pola pikir dan perilaku yang lebih seimbang. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam kepada para pendidik Kristen, tokoh agama, serta anak muda kristen. Hasil penelitian ini adalah Pendidikan Kristen memegang peranan penting dalam menghadapi gaya hidup hedonisme berkedok self-reward di kalangan anak muda. Peran pendidikan kristen terdiri dari: 1) Menanamkan Penguasaan Diri/Self-Control, 2) Mengajarkan Tentang Prioritas Hidup, 3) Pengembangan Keterampilan Mengelola Keuangan, 4) Menanamkan Rasa Syukur, 5) Membentuk Komunitas yang Mendukung, 6) Menanamkan Kesadaran Identitas di Dalam Kristus. Kesimpulan, penerapan pendidikan Kristen secara konsisten dapat menjadi benteng yang kuat dalam menghadapi arus hedonisme. Kesimpulannya, pendidikan Kristen berperan efektif sebagai solusi dalam menghadapi gaya hidup hedonisme berkedok self-reward. Pendidikan Kristen menanamkan nilai-nilai Alkitabiah,  moral, penguasaan diri, dan kesadaran sosial yang mampu menahan arus hedonisme.This study aims to examine the role of Christian education as a solution to counter the hedonistic lifestyle disguised as self-reward, which is increasingly prevalent among young people. This lifestyle is often associated with the pursuit of happiness through material consumption and excessive self-gratification. Christian education, grounded in the Bible and spiritual values, serves as a foundation for transforming mindsets and fostering more balanced behaviors. This research employs a qualitative approach, using in-depth interviews with Christian educators, religious leaders, and Christian youth. The findings reveal that Christian education plays a pivotal role in addressing the hedonistic lifestyle disguised as self-reward among young people. Its roles include: 1) Instilling Self-Control, 2) Teaching About Life Priorities, 3) Developing Financial Management Skills, 4) Fostering Gratitude, 5) Building Supportive Communities, and 6) Instilling Identity Awareness in Christ. In conclusion, the consistent application of Christian education can serve as a strong fortress against the tide of hedonism. It effectively acts as a solution by instilling biblical values, morality, self-control, and social awareness that counteract the influence of hedonism. 
TRANSFORMASI MISI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI ERA SOCIETY 5.0 DALAM MENATA PENGABARAN INJIL UNTUK MASA DEPAN Sulistyo, Simeon; Damita, Yesi; Lingupa, Lidianingsi
Inculco Journal of Christian Education Vol 5, No 3 (2025): Vol 5, No 3 (2025): September 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v5i3.242

Abstract

Dalam artikel ini, penulis mengangkat transformasi pendidikan agama Kristen dalam misi untuk memperoleh pengetahuan teologis atau kerohanian melalui pengabaran injil di era sekarang yang mengarah kemasa depan dimana tantangan seorang penginjil di negara minoritas ditambah kabar-kabar mengenai iman yang mulai goyah karena penganiayaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui definisi pendidikan agama Kristen dan misi kristen dan pengabaran injil, kemudian dinamika-dinamika yang terjadi seputar pengabaran injil, langkah yang dialami di era society 5.0 dalam menata pengabaran injil untuk masa depan. Metode yang dipakai adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil yang diperoleh adalah Pendidikan Agma maupun misi Kristen merupakan sebuah tugas gereja/pengikut Kristus sebagai perintah langsung Yesus Kristus untuk memulihkan hubungan Allah Bapa dengan manusia, membawa orang-orang untuk mengenal satu-satunya Allah dan memuliakan-Nya, sedangkan pengabaran injil adalah perintah memuridkan. Dinamika perjalanan seorang misi kristen hampir semua mengalami tantangan, baik tantangan era kekristenan masuk ke Indonesia maupun tantangan era modern dan langkah menata pengabaran injil untuk masa depan: (1) Memahami panggilan dan tanggung jawab; (2) Misi penginjilan dapat dicapai melalui karakteristik masyarakat sekitar, menginjil secara efektif; (3) Kolaborasi dan kemitraan; (4) Misionaris modern hendaknya selain melakukan pelayanan juga dapat merangkap konseling yang komprehensif.In this article, the author raises the transformation of Christian religious education in the mission to gain theological or spiritual knowledge through evangelism in the current era that leads to the future where the challenges of an evangelist in a minority country are added to the news of faith that is starting to waver due to persecution. The purpose of this study is to determine the definition of Christian religious education and Christian mission and evangelism, then the dynamics that occur around evangelism, the steps experienced in the era of society 5.0 in organizing evangelism for the future. The method used is a qualitative method with a literature study approach. The results obtained are that Religious Education and Christian missions are a task of the church/followers of Christ as a direct command from Jesus Christ to restore the relationship between God the Father and humans, bring people to know the one and only God and glorify Him, while evangelism is a command to make disciples. The dynamics of a Christian mission's journey almost all experience challenges, both challenges of the era of Christianity entering Indonesia and challenges of the modern era and steps to organize evangelism for the future: (1) Understanding the calling and responsibility; (2) The mission of evangelism can be achieved through the characteristics of the surrounding community, evangelizing effectively; (3) Collaboration and partnership; (4) Modern missionaries should not only provide services but also provide comprehensive counseling.
TEOLOGI SABTU SUCI DAN SPIRITUALITAS MAHASISWA: PERSPEKTIF PENDIDIKAN IMAN KONTEMPORER Teddywono, Innawati
Inculco Journal of Christian Education Vol 5, No 3 (2025): Vol 5, No 3 (2025): September 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v5i3.253

Abstract

Artikel ini mengkaji teologi Sabtu Suci sebagai sumber pengembangan spiritualitas mahasiswa dalam perspektif pendidikan iman kontemporer. Dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini menganalisis publikasi yang relevan terkait Sabtu Suci, liminalitas, keheningan ilahi, ritual liturgis, dan formasi spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa narasi Sabtu Suci dapat dipahami sebagai ruang liminal yang membantu mahasiswa melihat pengalaman ketidakpastian bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai proses transformatif. Keheningan dan ketiadaan yang diasosiasikan dengan Sabtu Suci ditafsirkan sebagai bagian dari karya teologis yang membentuk spiritual resilience serta kemampuan bertahan dalam pengharapan yang belum terwujud. Praktik liturgis dan refleksi komunitas ditunjukkan mendukung integrasi aspek kognitif–afektif dalam pembelajaran iman. Kontribusi penelitian ini terletak pada reframing Sabtu Suci dari sekadar momen liturgis menuju kerangka pedagogis yang relevan bagi mahasiswa di tengah krisis eksistensial, ketidakpastian karier, dan dinamika sosial kontemporer. Artikel ini juga menawarkan implikasi praktis bagi pendidik iman serta membuka ruang penelitian lanjutan di ranah empiris, interdisipliner, dan digital.This article explores Holy Saturday theology as a source for the development of student spirituality within the framework of contemporary faith education. Employing a Systematic Literature Review (SLR) method, the study analyzes publications relevant to Holy Saturday, liminality, silence, liturgical ritual, and spiritual formation. The findings indicate that the Holy Saturday narrative can be interpreted as a liminal space that enables students to perceive experiences of uncertainty not as emptiness but as a transformative process. Silence and absence associated with Holy Saturday are understood as integral to the theological work that cultivates spiritual resilience and the capacity to endure in anticipation of hope not yet realized. Liturgical practices and collective reflection are shown to support the integration of cognitive–affective dimensions in faith learning. The article’s primary contribution lies in reframing Holy Saturday from merely a liturgical moment of silence into a pedagogical framework relevant for students amid existential crises, career uncertainties, and contemporary social dynamics. Furthermore, this study offers practical implications for faith educators while opening avenues for further research in empirical, interdisciplinary, and digital domains.
URGENSI PENYUSUNAN MODEL KURIKULUM SEKOLAH MINGGU USIA 8 TAHUN DI SINODE GEREJA BETHEL TABERNAKEL Franspebri .P, Yoel; Yulia, Tantri; Sri Wijayanto, Wahyudi; Gidion, Gidion; Hadijaya, Christanto
Inculco Journal of Christian Education Vol 5, No 3 (2025): Vol 5, No 3 (2025): September 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v5i3.271

Abstract

Sekolah Minggu adalah salah satu wadah gereja untuk membina dan mendidik para generasi muda dalam iman akan Kristus. Hasil wawancara kepada Guru Sekolah Minggu di Sinode GBT memiliki masalah yaitu belum terbentuknya kurikulum sekolah minggu yang memperlihatkan kekhasan Sinode GB. Sehingga perlu dibuat kurikulum sekolah minggu yang memiliki kekhasan dari Sinode GBT. Kurikulum Sinode Gereja Bethel Tabernakel harus segera disusun untuk nantinya digunakan di sinode Gereja Bethel Tabernakel. Tujuan dari penelitian ini adalah Menyusun rancangan kurikulum sekolah minggu untuk sinode Gereja Bethel Tabernakel usia 8 tahun. Metodologi yang dipakai adalah Studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari dokumen-dokumen, buku-buku, Alkitab. Dimana dalam penyusunannya memperhatikan masukan dari guru-guru sekolah minggu sinode Gereja Bethel Tabernakel. Hasil dari penelitian ini adalah rancangan kurikulum sekolah minggu pada usia anak 8 tahun yang diterapkan di sinode Gereja Bethel Tabernakel. Rancangan kurikulum yang dibuat adalah dua belas bulan dari januari sampai desember.
SPIRITUAL ACUITY AS A RESULT OF THE INTEGRATION OF CHRISTIAN EDUCATION AND SPIRITUALITY: A DESCRIPTIVE STUDY OF THE FORMATION OF CHRIST'S MESSENGERS IN THE POSTMODERN ERA GP, Harianto
Inculco Journal of Christian Education Vol 5, No 3 (2025): Vol 5, No 3 (2025): September 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v5i3.256

Abstract

Pendidikan Kristen di era postmodern menghadapi tantangan serius akibat globalisasi, relativisme nilai, dan digitalisasi budaya yang kerap melemahkan integritas iman generasi muda. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana ketajaman rohani, sebagai kepekaan utusan Kristus dalam membedakan kehendak Allah, dapat dibentuk melalui integrasi pendidikan Kristen dan spiritualitas. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi program, wawancara guru, dan analisis dokumen di sekolah teologi Kristen wilayah Jabodetabek. Hasil penelitian menemukan lima persoalan utama: belum adanya indikator sistematis untuk menilai spiritualitas siswa, kurikulum yang kurang mengintegrasikan iman, dominasi pembelajaran kognitif tanpa transformasi spiritual, minimnya evaluasi rohani berkelanjutan, serta terbatasnya model pembentukan rohani yang relevan di era digital. Untuk menjawab tantangan ini, penelitian menawarkan kerangka kerja terpadu yang meliputi kurikulum holistik, praktik spiritual terarah (retret, mentoring, pelayanan), dan evaluasi longitudinal. Kontribusi studi ini terletak pada pengembangan model pendidikan Kristen yang kontekstual serta penekanan pada formasi spiritual yang menyatu dalam seluruh proses belajar. Implikasi penelitian menunjukkan perlunya reformasi kurikulum dan peningkatan pelatihan guru guna memperkuat ketajaman rohani siswa, serta mendorong penelitian empiris lanjutan untuk menguji efektivitas model yang diajukan.Christian education in the postmodern era faces significant challenges from globalization, value relativism, and cultural digitalization, which often weaken the faith integrity of young generations. This study aims to explore how spiritual acuity, understood as the sensitivity of Christ's messengers to discern God's will, can be shaped through the integration of Christian education and spirituality. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through literature review, program observation, teacher interviews, and document analysis in Christian theological high schools in the Greater Jakarta area. The findings reveal five major issues: the absence of systematic indicators to assess students' spirituality, a curriculum that lacks full faith integration, the dominance of cognitive learning without spiritual transformation, limited continuous evaluation of spirituality, and the scarcity of contextual spiritual formation models relevant to the digital era. To address these challenges, the study proposes an integrated framework consisting of a holistic curriculum, directed spiritual practices (retreats, mentoring, ministry), and longitudinal evaluation. The contribution of this research lies in developing a contextual model of Christian education that emphasizes spiritual formation as an inseparable part of the learning process. The implications highlight the need for curriculum reform and systematic teacher training to strengthen students' spiritual acuity, while further empirical studies are recommended to test the effectiveness of the proposed model
PERAN PENDIDIKAN KRISTEN DALAM MEMBENTUK KESADARAN MODERASI BERAGAMA DI ERA DIGITAL INTELLIGENCE: REFLEKSI ROMA 12:18 Yustinus, Yustinus; Luis, Efry Mariana
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 1 (2026): Vol 6, No 1 (2025): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i1.286

Abstract

Perkembangan teknologi digital pada dekade terakhir telah memberikan dampak signifikan terhadap praktik keberagamaan, termasuk di dalam komunitas Kristen. Di satu sisi, digitalisasi membuka peluang besar bagi peningkatan akses informasi iman dan kesaksian gereja. Namun di sisi lain, fenomena digital intelligence seperti Artificial Intelligence, Big Data, dan algoritma media sosial juga memunculkan polarisasi, intoleransi, dan ujaran kebencian yang melemahkan kohesi sosial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran pendidikan Kristen dalam membentuk kesadaran moderasi beragama jemaat di era digital melalui refleksi Biblis Roma 12:18, dengan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dan eksegesis teks. Temuan ini menegaskan perlunya strategi pendidikan Kristen yang kontekstual agar jemaat hidup damai, tangguh, dan berkontribusi pada harmoni sosial di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama merupakan ekspresi ketaatan iman yang diwujudkan lewat literasi digital beretika, penguatan kurikulum iman, pembinaan jemaat, komunikasi pastoral moderat, kolaborasi lintas iman, dan evaluasi berkelanjutan.Penelitian menemukan bahwa pendidikan Kristen yang berlandaskan refleksi Roma 12:18 dan terintegrasi dengan literasi digital beretika, berperan penting dalam membentuk karakter damai, tanggung jawab publik, dan partisipasi lintas iman. Temuan ini menegaskan perlunya strategi pendidikan Kristen yang kontekstual agar jemaat hidup damai, tangguh, dan berkontribusi pada harmoni sosial di era digital. The development of digital technology over the past decade has significantly impacted religious practices, including within the Christian community. On one hand, digitalization has opened up great opportunities for improving access to faith-based information and church witness. On the other hand, phenomena of digital intelligence—such as Artificial Intelligence, Big Data, and social media algorithms—have also triggered polarization, intolerance, and hate speech that undermine social cohesion. This study aims to describe the role of Christian education in shaping congregational awareness of religious moderation in the digital era through a biblical reflection on Romans 12:18, using a qualitative method based on literature review and textual exegesis. The findings indicate that religious moderation is an expression of faithful obedience realized through ethical digital literacy, strengthening faith-based curricula, congregational formation, moderate pastoral communication, interfaith collaboration, and continuous evaluation. The research reveals that Christian education grounded in the reflection of Romans 12:18 and integrated with ethical digital literacy plays a crucial role in shaping character marked by peace, public responsibility, and interfaith engagement. These findings affirm the need for contextual Christian education strategies that enable congregations to live peacefully, remain resilient, and contribute to social harmony in the digital era.
PENGEMBANGAN STRATEGI PENDIDIKAN KRISTEN ABAD KE-21 DALAM KONTEKS PERUBAHAN SOSIAL DAN DIGITAL Sanjaya, Agus; Wolter, Weol
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 1 (2026): Vol 6, No 1 (2025): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i1.290

Abstract

Perubahan sosial yang cepat dan perkembangan teknologi digital membawa tantangan sekaligus peluang bagi Pendidikan Kristen abad ke-21. Pendidikan Kristen tidak lagi cukup menggunakan cara tradisional, tetapi perlu mengembangkan strategi yang relevan dengan kehidupan peserta didik di era digital, tanpa meninggalkan nilai-nilai iman Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dengan menganalisis buku, jurnal, dan dokumen terkait pendidikan, teologi, serta transformasi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa Pendidikan Kristen perlu mengintegrasikan iman dan teknologi secara bijaksana, memperkuat karakter Kristiani, serta mengembangkan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Selain itu, pendidik berperan sebagai fasilitator pembelajaran sekaligus teladan iman, termasuk dalam ruang digital. Pendidikan Kristen harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas teologisnya. Dengan demikian, strategi yang kontekstual dan transformatif diharapkan dapat membantu lembaga dan pendidik merancang pembelajaran yang relevan, bermakna, dan sesuai dengan dinamika sosial serta perkembangan teknologi digital.Rapid social change and the development of digital technology bring challenges as well as opportunities to 21st century Christian Education. Christian education is no longer enough to use traditional means, but it is necessary to develop strategies that are relevant to the lives of learners in the digital age, without abandoning the values of the Christian faith. This research uses a qualitative method through a literature study by analyzing books, journals, and documents related to education, theology, and digital transformation. The results of the study show that Christian education needs to integrate faith and technology wisely, strengthen Christian character, and develop 21st-century competencies such as critical thinking, creativity, collaboration, and communication. In addition, educators play the role of facilitators of learning as well as role models of faith, including in the digital space. Christian education must be able to adapt to the changing times without losing its theological identity. Thus, contextual and transformative strategies are expected to help institutions and educators design learning that is relevant, meaningful, and in accordance with social dynamics and digital technology developments. 
MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA/i PERGURUAN TINGGI MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM UPAYA MENCEGAH BULLYING DI STT YESTOYA MALANG Sigalingging, Togi Marnaek; Kowal, Roike Roudjer; Sirait, Mulpida; Kusuma, Ratri Wijaya; Goni, Moody Daniel
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 1 (2026): Vol 6, No 1 (2025): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i1.278

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam membentuk karakter mahasiswa/i perguruan tinggi sebagai upaya pencegahan perilaku bullying. Latar belakang penelitian ini didasari oleh meningkatnya kasus perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan tinggi, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, prestasi akademik, dan iklim kampus secara keseluruhan. Pendidikan Agama Kristen diyakini memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk karakter mahasiswa yang berlandaskan nilai-nilai Alkitab, seperti kasih, empati, penghargaan terhadap sesama, dan tanggung jawab sosial.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan dosen PAK dan mahasiswa/i, observasi langsung terhadap proses pembelajaran PAK, serta analisis dokumen kurikulum dan bahan ajar. Analisis data dilakukan secara tematik untuk menemukan pola-pola pembentukan karakter yang berhubungan dengan pencegahan perilaku bullying.Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAK berperan sebagai sarana pembentukan karakter yang efektif, terutama ketika pengajaran berfokus pada nilai-nilai kasih Kristus, empati, saling menghormati, dan pengendalian diri. Mahasiswa yang terpapar materi PAK dengan pendekatan reflektif dan partisipatif menunjukkan peningkatan kesadaran etis, sikap toleransi, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara damai. Selain itu, pembelajaran PAK yang dikolaborasikan dengan kegiatan ko-kurikuler seperti kelompok doa, pelayanan sosial, dan diskusi etika, terbukti memperkuat keterampilan sosial mahasiswa/i sehingga mampu menekan potensi terjadinya perilaku bullying di lingkungan kampus.Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya peran dosen PAK dalam merancang pembelajaran yang bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga transformasi karakter. Penelitian ini merekomendasikan agar perguruan tinggi memperkuat kurikulum PAK, mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap mata kuliah, serta menciptakan ekosistem kampus yang mendukung perilaku saling menghargai. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen dapat menjadi instrumen strategis dalam membentuk generasi mahasiswa yang berkarakter Kristiani dan bebas dari praktik bullying.
IMPLEMENTASI BAHASA KASIH GEREJA SEBAGAI STRATEGI TEOLOGI PENDIDIKAN KARAKTER DAN MORAL BANGSA Suryaningsih, Suryaningsih
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 1 (2026): Vol 6, No 1 (2025): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i1.291

Abstract

Studi ini meneliti implementasi bahasa kasih dalam gereja sebagai strategi teologis untuk pendidikan karakter dan pembentukan moral nasional. Mengambil konsep dari teori Lima Bahasa Kasih Gary Chapman dan merekonstruksinya dalam kerangka teologis Kristen, penelitian ini berpendapat bahwa kasih bukan hanya ekspresi relasional tetapi juga kekuatan pedagogis dan transformatif. Menggunakan analisis literatur kualitatif dan sumber-sumber ilmiah terkini, studi ini mengeksplorasi bagaimana gereja berfungsi sebagai komunitas pendidikan non-formal yang menginternalisasi dan mempraktikkan kasih melalui penegasan, waktu berkualitas, tindakan pelayanan, pemberian, dan perawatan relasional yang etis. Temuan menunjukkan bahwa implementasi terstruktur dari praktik berbasis kasih memperkuat kematangan spiritual, solidaritas komunal, dan pengembangan karakter prososial. Berlandaskan teologis pada agape alkitabiah, model ini mengintegrasikan doktrin, pembentukan relasional, dan transformasi sosial. Studi ini menyimpulkan bahwa gereja memiliki potensi strategis dalam berkontribusi pada rekonstruksi moral nasional melalui pendidikan karakter yang kontekstual, relasional, dan berakar secara teologis. This study examines the implementation of love languages within the church as a theological strategy for character education and national moral formation. Drawing conceptually from Gary Chapman’s theory of the Five Love Languages and reconstructing it within a Christian theological framework, this research argues that love is not merely a relational expression but a pedagogical and transformative force. Using qualitative literature analysis and recent scholarly sources, the study explores how churches function as non-formal educational communities that internalize and practice love through affirmation, quality time, acts of service, giving, and ethical relational care. The findings indicate that structured implementation of love-based practices strengthens spiritual maturity, communal solidarity, and prosocial character development. Theologically grounded in biblical agape, this model integrates doctrine, relational formation, and social transformation. The study concludes that the church holds strategic potential in contributing to national moral reconstruction through contextual, relational, and theologically rooted character education.
MAGUNATIP-BASED CHRISTIAN RELIGIOUS EDUCATION MANAGEMENT FOR STRENGTHENING TEACHER COMPETENCE AND DEVELOPING A LOVING SCHOOL CULTURE Elda, Elda; Hasyim, Budi
Inculco Journal of Christian Education Vol 6, No 1 (2026): Vol 6, No 1 (2025): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Anak Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59404/ijce.v6i1.294

Abstract

Pendidikan Agama Kristen (PAK) di Indonesia menghadapi tantangan dalam mempertahankan nilai-nilai moral dan spiritual di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Meskipun teknologi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, perkembangan tersebut juga berpotensi menggeser nilai-nilai budaya lokal yang berperan dalam pembentukan karakter peserta didik. Salah satu tradisi lokal yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran PAK adalah Magunatip, tarian tradisional masyarakat Dayak dan Murut yang mengandung nilai kerja sama, ketangkasan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam. Namun demikian, penelitian yang mengintegrasikan tradisi lokal seperti Magunatip dalam manajemen Pendidikan Agama Kristen masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi integrasi nilai Magunatip dalam manajemen dan praktik pembelajaran PAK untuk membangun budaya sekolah yang penuh kasih di era digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Magunatip dapat diintegrasikan melalui pembelajaran kontekstual, aktivitas kolaboratif, dan pendidikan karakter. Selain itu, kepemimpinan transformatif berperan penting dalam menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan pelestarian nilai spiritual dan budaya lokal.Christian Religious Education (CRE) in Indonesia faces challenges in maintaining moral and spiritual values amid rapid technological advancement. While technology offers opportunities for enhanced learning, it also risks diminishing local cultural values. One tradition that can be integrated into CRE is Magunatip, a traditional dance of the Dayak and Murut peoples that teaches cooperation, agility, gratitude, and respect for nature. Using a qualitative descriptive method through a literature study, this research explores the potential integration of Magunatip into the CRE curriculum. The findings indicate that such integration can enrich learning with local wisdom, strengthen students’ character, and foster a culture of love. However, transformative leadership is essential to balance technological adoption with the preservation of spiritual and cultural values, ensuring that Christian education remains relevant in the digital era.

Page 11 of 11 | Total Record : 110