cover
Contact Name
Nohan
Contact Email
retii@itny.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
retii@itny.ac.id
Editorial Address
https://journal.itny.ac.id/index.php/ReTII/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi ReTII
ISSN : 19075995     EISSN : -     DOI : -
Sub – Tema : Manajemen EBT (Energi Baru Terbarukan) & Energy Harvesting IOT Robotika Era Industry 4.0 Green Manufacturing Sains Terapan Berbasis Kecerdasan Teknologi Transportasi Cerdas & Ramah Lingkungan Rekayasa Material Maju & Teknologi Nano Teknologi Eksplorasi Mineral, Limbah & Lingkungan Sistem Peringatan Dini & Mitigasi Bencana Alam Teknologi Penanganan Pandemi Covid-19 Teknologi Informasi & Komunikasi Berkesinambungan Berbasis Layanan Technology in Teaching Technology of Online Business Perguruan Tinggi Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia Pembangunan Masyarakat Madani Siap Era Industri 4.0 & Society 5.0 Perencanaan Wilayah Kota Berkelanjutan Peran Teknologi Digital Pasca Pandemi & Perubahan Budaya Kerja Rekayasa Infrastruktur Berbasis Manajemen Resiko Bencana Proses Peer Review Editor akan menyerahkan tulisan yang telah diterima kepada tim redaksi untuk menentukan review bagi tulisan yang telah diterima. Pada dasarnya setiap tulisan akan direview oleh seorang ahli (mitra bestari) yang berkompeten di bidang yang menjadi fokus tulisan. Berdasar hasil review pertama, Editor akan menentukan prosedur lanjutan dari sebuah tulisan, diterima dengan perbaikan minor; diterima dengan perbaikan mayor, atau ditolak. Tulisan yang telah direview dan memerlukan perbaikan, akan segera dikirim kepada penulis melalui kontak yang tertera dalam tulisan. Selain substansi tulisan yang diatur dalam proses review, Redaksi juga berhak meminta perbaikan teknis, sebelum tulisan benar-benar diterbitkan. Waktu perbaikan harus memenuhi ketentuan seperti yang diberikan. Setelah proses perbaikan selesai, dan tulisan dinyatakan siap terbit, maka penulis juga harus menyerahkan pernyataan pengalihan hak cipta bagi distribusi tulisan kepada Redaksi Jurnal ReTII atau Penerbit. Semua tulisan yang masih dalam proses review, menjadi tanggung jawab redaksi dan redaksi akan bertanggung jawab terhadap kerahasiaan isi tulisan. Semua tulisan dan dokumen lain yang telah diserahkan kepada redaksi tidak akan dikembalikan
Articles 905 Documents
Studi Grafit Berdasarkan Analisis Petrografi dan Sem/Edx pada Daerah Windesi Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Ailin Anastasia Yarangga
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Grafit merupakan salah satu variasi mineral bentukan dari unsur karbon, sangat penting dalam dunia industri karena memiliki banyak penggunaan mencakup beberapa teknologi yang baru dan berkembang seperti Lithium-ion batteries, nuclear, wind and solar power, fuell cells, semi-conductors, or even graphene. Kebutuhan grafit dalam bidang industri di Indonesia masih harus didatangkan dari luar negeri. Bertitik tolak dari kepentingan tersebut dan perhitungan ekonomis lainnya, serta keigintahuan penulis akan keterdapatan grafit yang ada di daerah Windesi dan sekitarnya, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat sebagai salah satu tempat di Indonesia yang mengandung grafit. Berdasarkan pengamatan lapangan dan analisis petrografi diketahui bahwa sayatan tipis batuan metamorf  yang ada pada daerah penelitian, memiliki tekstur foliasi (stage cleavage), dengan komposisi mineral tersusun atas: mineral kuarsa, muscovit, grafit, dan mineral lempung. Untuk analisis  SEM/EDS dapat disimpulkan bahwa grafit pada daerah windesi merupakan grafit tipe flake, memiliki kandungan unsur Carbon sebesar 19,91%.Kata kunci :  kegunaan,  tipe, kadar.  
Identifikasi Hubungan Stratigrafi Old Andesite Formation (Oaf) dengan Formasi Jonggrangan Pada Lintasan Jatimulyo Galih Padma Arsyada
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Geologi Pegunungan Kulon Progo telah banyak diteliti oleh para ahli dengan parameter yang berbeda-beda, namun hubungan stratigrafi antarformasi masih menjadi perdebatan. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi litologi Old Andesite Formation, dan Formasi Jonggrangan dengan tujuan untuk menentukan hubungan stratigrafi antara Old Andesite Formation (Formasi Kaligesing) dengan Formasi Jonggrangan pada lintasan Jatimulyo. Lokasi penelitian berada di Kembang Soka 7046’5,47’’LS dan 11006’59,7’’BT, dan desa Branti 07046’32.5’’LS dan 110006’46.7’’BT, singkapan menunjukan kontak litologi yang tegas antara Old Andesite Formation (OAF) dan  Formasi Jonggrangan. Dalammenentukan hubungan stratigrafi digunakan metode, antara lain : analisis petrografi, dan analisis mikroplaeontologi. Hasil analisis petrografi menunjukan bahwa sayatan memiliki tekstur subofitik dengan mineral ortopiroksen, amfibol, hematit, dan plagioklas yang telah teralterasi menjadi serisit, yang mengindikasikan batuan terbentuk sebagai batuan subvulkanik atau intrusi dangkal, sedangankan hasil analisis mikropaleontologi menunjukan umur relatif batuan pada N4 – N9 (Miosen Awal – Miosen Tengah) yang dicirikan oleh foram bentonik yaituCibicidoides alazanensis, Cibicidoides barnetti, Cibicidoides matanzasensis, Cibicidoides mundulus. Hasil analisis menunjukan Formasi Jonggrangan diendapkan diatas intrusi dangkal, sehingga hubungan startigrafi antara Old Andesite Formation dengan Formasi Jonggrangan adalah tidakselaras nonconformity.Kata kunci : nonconformity, subofitik, subvulkanik.
Analisis Keragaman Mikrofauna Formasi Jonggrangan di Lintasan Jatimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta Purwo ko
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis mikrofauna dan umur Formasi Jonggrangan menjadi menarik untuk dikaji karena belum banyak peneliti terdahulu yang melakukan penelitian tersebut khususnya di Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo,Yogyakarta. Maksud dilakukan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis fosil yang ada di lokasi penelitian kemudian tujuan akhirnya adalah dapat menentukan keragaman mikrofauna dari Formasi Jonggrangan dan dapat menentukan umur relatif Formasi Jonggrangan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode stratigrafi terukur dengan meteran sepanjang 50m, dan menggunakan metode pengamatan mikroskopik dengan mikroskop binokuler Z8 untuk mengamati mikrofosil yang ada di dalam bubuk sampel batuan. Sampel yang diambil dari lokasi penelitian berjumlah 9 sampelmulai dari lapisan bawah, tengah dan atas, litologi yang berkembang pada lokasi penelitian berupa batugamping berukuran pasir (calcarenite), batugamping berukuran kerikil (calcirudite), dan batugamping terumbu. Setelah sampel batuan selesai dianalisis menggunakan mikroskop dapat dijumpai mikrofosil dari 3 filum yaitu Filum Protozoa, Filum Arthropoda dan Filum moluska. Dilihat dari keragamannya fosil Foraminifera yang jumlahnya paling dominan dari 9 sampel tersebut, yaitu fosil moluska dengan jumlah 17 spesies, kemudian fosil ostracoda 12 spesies dan fosil moluska mikro (mikromoluska) 6 spesies. Dari seluruh sampel tersebut dilakukan penarikan umur relatif batuan menggunakan fosil yang telah ditemukan, hasilnya umur relatif yang dapat ditemukan adalah kisaran Miosen – Pliosen, beberapa fosil indeks yang menjadi penciri umur ini adalah Cytherella ovata, Turitella Subulata Martin — Martin, 1919, dan Sulcospira testudinariaKata Kunci: Jatimulyo, Jonggrangan, Mikrofauna, Umur
Pembuatan Sabun Transparan dari Minyak Kelapa Dengan Penambahan Antiseptik Ani Purwanti; Lusi Ariani
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sabun merupakan surfaktan dengan penambahan air umumnya digunakan sebagai pembersih. Sabun dibuat berdasarkan reaksi saponifikasi lemak atau trigliserida dengan alkali. Dalam hal ini digunakan minyak kelapa yang berupa senyawa trigliserida yang 90% diantaranya asam lemak jenuh. Pada saat ini dikenal bermacam-macam sabun, salah satunya berupa  sabun padat transparan,  yaitu sabun antiseptik yang dapat membersihkan dan melindungi kulit secara efektif. Dalam pembuatan sabun perlu alternatif penambahan bahan antiseptik alami. Bahan antiseptik alami yang banyak ditemukan antara lain minyak sereh merah dan ekstrak kemangi, yang bersifat antibakteri. Bahan-bahan tersebut belum banyak dimanfaatkan dalam pembuatan sabun sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Tujuan penelitian ini untuk membuat sabun padat transparan dari minyak kelapa dan NaOH 31% dengan penambahan ekstrak kemangi atau minyak sereh merah sebagai antiseptik dengan variabel yang dievaluasi antara lain volume ekstrak kemangi, volume minyak sereh merah, volume larutan NaOH 31% untuk menentukan kualitas sabun yang baik.Penelitian dilakukan dengan cara memanaskan minyak kelapa (75 mL) sampai 600C, selanjutnya dituangkan ke dalam gelas beaker yang berisi asam stearat (12,5 gram) yang telah dipanaskan hingga leleh (600C), kemudian ditambah bahan antiseptik  berupa minyak sereh atau ekstrak kemangi dengan volume tertentu sambil diaduk menggunakan magnetic stirrer. Kemudian ditambah larutan NaOH 31 % dengan volume tertentu, sakarosa 10 gram, etanol 96 % sebanyak 30 mL, gliserin 20 mL, dan sedikit pewarna. Masing-masing bahan ditambahkan sedikit demi sedikit dengan selang waktu dan diaduk. Analisa hasil dilakukan untuk mengetahui daya hambat bakteri dan kualitas sabun (alkali bebas, kadar air, dan tes organoleptik).Hasil pengujian asam lemak bebas dalam bahan baku sebesar 0,18%. Daya hambat bakteri yang paling baik pada hasil sabun yang diperoleh dengan penambahan volume minyak sereh dan ekstrak kemangi sebanyak 4 mL. Pada variabel volume larutan NaOH 31% dengan penambahan minyak sereh (4 mL), diperoleh kadar alkali bebas dalam sabun transparan maksimal 0,024%, sedangkan pada sabun transparan dengan penambahan ekstrak kemangi memiliki kadar alkali bebas maksimal 0,028%. Kadar air pada sabun dengan penambahan antiseptik minyak sereh berkisar 3,25% – 4,65%, sedang dengan penambahan antiseptik ekstrak kemangi berkisar 1,95% – 6,14%. Berdasarkan hasil analisa tersebut produk sabun transparan memenuhi standar mutu sabun (SNI 06-3532-1994) dengan kandungan alkali bebas maksimal 0,1% dan kadar air maksimal 15%.Kata kunci: antiseptik, ekstrak kemangi, minyak sereh, sabun, saponifikasi
Analisis Densitas Kelurusan untuk Mengetahui Pola Struktur yang Berkembang di Daerah Kebutuhduwur dan Sekitanya Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah Ada ma
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara administratif daerah penelitian terletak di daerah Desa Kebutuhduwur, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada koordinat 351.700 mU – 357.700 mU dan 9.170.800 mT – 9.179.700 mT, dengan skala 1 : 25.000 yang  diterbitkan oleh Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan Analisa lineament density secara semi otomatis yang kemudian secara kualitatif diinterpretasi bahwa untuk data lapangan metode analisis lineament density menggunakan konsep Thannoun (2013) yang juga dipahami secara local oleh Verdiansyah (2014) dan Nugroho dan Tjahjaningsih (2016) analisis lineament density untuk kepentingan mineralisasi. Data kelurusan dari penyinaran  dengan sun azimuth 0° menghasilkan arah dominan kelurusan BL-T, sun azimuth 45° menghasilkan arah dominan kelurusan BL-T, sun azimuth 90° menghasilkan arah dominan kelurusan TL-BD, sun azimuth 135° menghasilkan arah dominan kelurusan BL-T, sedangkan kelurusan yang mendekati struktur geologi didaerah penelitian yaitu pada  penyinaran 900. Hasil perhitungan nilai densitas menggunakan metode LDA sehingga di interpretasikan dari gaya tekanan struktur utama pada daerah penelitian kelurusan yang dihasilkan banyak terjadi pada satuan batuan yang pejal yang menghasilkan rekahan/kekar sehingga membentuk suatu lereng, lembah dan punggungan bukit. Indikasi tersebut di mungkinkan juga penyebab terjadinya arah kelurusan yang dominan dengan arah struktur utama yang berlawanan arah merupakan kekar ataupun struktur minor akibat dari struktur utama pada daerah penelitian. Penelitan ini hanya sebatas interpretasi awal untuk mengetahu pola struktur geologi pada daerah penelitian serta pengaruh terhadap litologi, sehingga untuk mengetahui data pola sebenarnya haendaknya didukung data kekar serta dikembangkan konsep-konsep struktur geologi yang tepat.Kata kunci : Density, struktur, liniament, ASTR GDEM
Studi Karakterisasi Fisik dan Kimiawi Debu Gunung Semeru Wasis wasis
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap sifat fisik dan kimiawi dari partikel debu vulkanik Gunung Semeru. Sifat-sifat fisik yang disasar dalam penelitian ini adalah ukuran fisik partikel debu vulkanik, distribusi sebaran massa partikel debu sebagai fungsi jarak sebar, dan bangun geometrik partikel. Sedangkan sifat kimiawi yang disasar adalah struktur kimiawi molekul atau atom, yang menyusun, partikel debu vulkanik. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa, hubungan antara massa partikel, atau ukuran panjangnya, dan jarak penyebaran, pada satu daya hembusan angin yang sama, bersifat eksponensial (negatif). Sehingga semakin besar ukuran partikel, semakin dekat titik jatuhnya, dan semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh titik jatuhnya. Bangun geomterik partikel debu vulkanik bersifat tidak beraturan (irregular), dan dapat memiliki berbaga ukuran mulai beberapa mikrometer, sampai ratusan mikrometer. Unsur kimia yang menyusun partikel debu vulkanik Gunung Semeru adalah bermacam-macam, yang didominasi oleh unsur karbon (C), kemudian diikuti oleh dominansi unsur silikon (Si), aluminum (Al), aalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Dominansi unsur pada semua sampel yag diambil di lapangan adalah oleh unsur karbon dan silikon. Perbedaan yang ada dari masing-masing sampel adalah pada tingkat kandungannya, yang bervaiasi.Kata Kunci: Semeru, debu vulkanik, sebaran, ukuran partikel, unsur kimiawi, karbon, oksigen, silicon.
Bayat sebagai Kaldera purba : Sebuah gagasan konsep untuk mencari mineralisasi daerah Pegunungan Selatan Okki Verdiansyah
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian berada pada daerah Bayat, dan Gunungkidul yang merupakan pusat studi geologi yang menarik. Kehadiran batuan beku, metamorf, dan karakter dari sebaran serta bentukan morfologi yang unik menjadikan ketertarikan peneliti untuk mengkaji Bayat dengan konsep diluar pakemnya, yaitu kaldera, magmatisme dan mineralisasi secara regional.  Metode penelitian bersifat kualitatif, dengan tahapan analisis studio, analisis dan interpretasi data, observasi data lapangan, analisis laboratorium, analisis dan evaluasi data. Penelitian berfokus pada fisiografi Pegunungan Jiwo dan subzona Baturagung, untuk melihat fisiografi bentukan batuan Tersier atau yang lebih tua. Kajian Bayat sebagai Kaldera didasarkan pada konsep present is the key to the past yang mengacu pada bentukan kaldera di Indonesia seperti Gunung Batur, Gunung Brayan, dan Gunung Bromo serta pendekatan geologi Kaldera di luar Indonesia seperti Valles, Rorotua, Cheonji, dan Santorini. Mineralisasi logam umumnya berasosiasi dengan gunung api strato berdasarkan model endapan mineral sabuk pasifik. Hasil kajian berupa adanya anomali morfologi pada daerah Bayat dan pegunungan Baturagung terlihat melensa, dengan bagian sisi utara berupa gawir terjal yang relatif berarah Barat-Timur. Pola batas fisiografi selatan, memperlihatkan adanya bentukan antara dataran dan perbukitan Baturagung ditandai tebing terjal ini, ketika diikuti pola sebarannya akan membentuk beberapa segmentasi yang terlihat sebagai 3 bentukan gawir berbentuk setengah lingkaran, yang diikuti sebaran vulkanisme dan batuan beku andesitik-basaltik mengikuti koridor Timurlaut-Baratdaya. Magmatisme daerah Bayat terlihat memiliki dua pola yaitu tholeiitik dan kapur alkali, bahkan terdapat high-K Alkali dan batuan tidak jenuh silika, yang membuktikan adanya perkembangan magmatisme cukup fluktuatif.  Vulkanisme yang terbentuk akibat Kaldera Bayat, menyebar mengikuti koridor yang dibentuk oleh proses tectono-volcanic yang menyebarkan vulkanisme stratovulkanik yang lebih muda, yang memungkinkan terbentuk sebagai sistem mineralisasi berasosiasi dengan hidrotermal. Mineralisasi yang terbentuk mengikuti pola Timurlaut - Baratdaya, yang pada perbukitan Jiwo dijumpai sebagai basemetal related yang berasosiasi dengan intrusi diorit di daerah perbukitan Jiwo, pada bagian selatannya terlihat adanya mineralisasi epitermal pada daerah Watukelir, Gn. Nglanggran, Piyungan, dan Pathok. Mineralisasi pada Pengkor - Pathuk, berupa vuggy quartz, diikuti argilik lanjut dan sulfida pirit-enargit (?) dengan kadar 0.03 - 0.23 ppm Au, 10.1 - 15.7 ppm Ag, 22 - 453 ppm As, 147 ppm Cudan pada Piyungan, terdapat lapisan-lapisan tuf dengan silika amorf dominan, diikuti adanya mineral lempung sebagai endapan diantara tuf dengan anomali geokimia 0.02 ppm Au, 12.9 - 17.3 ppm Ag, 21 - 33 ppm As. Konsep kaldera, dapat kami gunakan untuk melihat sebaran gunungapi yang diharapkan dapat menjadi tempat berkembangnya mineralisasi yang berhubungan dengan sistem hidroterma. Penelitian detil pada pusat-pusat erupsi purba, diperlukan untuk memahami sebaran sistem hidrotermal yang ada, baik penelitian kegeologian, geofisika, atau kegunungapian secara khusus.Kata Kunci: Bayat, gunungapi, kaldera, magma, mineralisasi, pegunungan selatan.
Identifikasi Batuan Sumber Hidrokarbon Formasi Rambatan di Daerah Pamulihan, Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah Alhussein Flower Rizqi
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daerah penelitian terletak di Daerah Pamulihan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes,Jawa Tengah. Studi penelitian mengenai geologi dan identifikasi potensi hidrokarbon diFormasi Rambatan. Penelitian ini menggunakan metode pemetaan geologi yang didukungdengan analisis studio dan laboratorium berupa analisis petrografi, analisis paleontologi,dan analisis TOC (Total Organic Carbon) serta REP (Rock Eval Pyrolisis). Hasilpengukuran stratigrafi didapatkan fasies pengendapan Formasi Rambatan di DaerahPamulihan diawali perulangan batulanau karbonatan dengan batulempung karbonatandengan pengendapan sikuen SL (Slump) - PS (Pebbly Sandstone) – DF (Debris Flow)berada pada inner fan (kipas laut bagian atas / channel fill) pada umur N 14, dilanjutkandengan pengendapan fasies CT (Classical Turbidite) 1 dengan dominasi litologibatulempung karbonatan dan kemunculan kalkarenit pada N 16 berada pada lingkunganouter fan (kipas bawah). Ketidakmunculan umur N 15 ditengarai sebagai proses tektonikyang terjadi pada daerah penelitian sehingga tidak terjadi pengendapan sedimen pada umurini. Pada umur N 16 terjadi pengendapan kembali berupa dominasi batulempung sisipanbatupasir karbonatan dan mencapai MFS (Maximum Flooding Surface) yang merupakanfase puncak genang air laut di daerah penelitian. Keberadaan material organik berada padalingkungan yang tenang dengan tidak ada gangguan tektonik, dengan lingkungan yangreduktif dan berasosiasi dengan endapan berfraksi halus (batulempung hitam). Pada N 17terjadi sikuen pengendapan selanjutnya adalah CT 2 dengan litologi masih didominasibatulempung semakin ke atas pengendapan batulempung semakin menebal.Nilai kekayaanmaterial organik (TOC) berada dalam rentang rendah - menengah bagi sampel permukaanyang berasal dari Formasi Rambatan ditunjukkan oleh nilai TOC 0,43 – 1,2%. Tipe kerogendari semua sampel yang diujikan menunjukkan tipe kerogen III, dan mengindikasikanadanya potensi dalam mengenerasikan hidrokarbon dalam jumlah kecil berupa gas.Kata kunci : Batuan induk, Rambatan, fasies, TOC, geokimia, hidrokarbon
Identifikasi Timbulan Limbah Sludge Oil dari Kegiatan Eksploitasi Dan Produksi Minyak dan Gas Bumi PT. AMC Asti May Cahyani
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. AMC beroperasi sejak tahun 1972 yang merupakan salah satu kontraktor SKK MIGAS untuk kegiatan ekploitasi dan produksi minyak dan gas bumi di wilayah Kalimantan Timur. Salah satu limbah yang dihasilkan dari proses produksi minyak dan gas bumi adalah limbah sludge oil. Sludge oil (lumpur minyak) merupakan produk sampingan dari kegiatan eksploitasi dan produksi minyak dan gas bumi yang harus dikelola. Sumber sludge oil berasal dari aktivitas perusahaan seperti kegiatan pengeboran, kegiatan pencucian tanki API separator, tanki minyak, vessel, vacuum truck dari plant, dan kegiatan pembersihan suar bakar dalam plant. PT. AMC membangun fasilitas sludge oil recovery di Lokasi B bertujuan untuk memperoleh kembali recovery minyak yang terkandung dalam sludge oil (lumpur minyak). Proses pengolahan sludge oil dengan menggunakan unit pengoperasian alat yang terdiri dari mixing tank, centrifuge, settling tank, dan sludge pond Pit 1, Pit 2, Pit 3 untuk menampung sludge oil yang masuk. Metode yang digunakan untuk proses pengolahan sludge oil ini adalah dengan cara mengidentifikasi sludge oil yang berasal dari aktivitas perusahaan dan proses pemisahan antara padatan, minyak, air, dan emulsi. Hasil proses pengolahan limbah sludge oil dari tahun 2016 yang dimulai dari bulan Januari hingga bulan Desember menghasilkan 8% solid, 5% oil, 35% water dan 59% emulsion. Sedangkan proses pengolahan sludge oil pada tahun 2017 dimulai dari bulan Januari hingga bulan Juni 2017 menghasilkan 2% solid, 7% oil, 82% water, dan 21% emulsion. Dari persentase di atas didapatkan hasil dalam proses pengolahan sludge oil recovery minyak yang dihasilkan pada tahun 2016 hanya sekitar 5% dan pada tahun 2017 minyak yang dihasilkan hanya 7%. Volume limbah setiap bulannya berbeda-beda tergantung dari aktivitas perusahaan yang dilakukan. Aktivitas yang lebih dominan dan sering dilakukan di PT. AMC yaitu aktivitas di poluttion control. Timbulan limbah sludge oil yang lebih dominan di tahun 2016 setelah melalui proses pengolahan yaitu pada emulsion yang menghasilkan 59% emulsion. Sedangkan Timbulan limbah sludge oil yang lebih dominan pada tahun 2017 setelah melalui proses pengolahan yaitu pada air (water) yang menghasilkan 82% air (water).Kata Kunci: Eksploitasi dan Produksi, Sludge Oil
Periode Pertama Letusan Gunung Api Purba Pada Satuan Batuan Formasi Semilir Dalam Cekungan Pegunungan Selatan Jawa, Indonesia Amara Nugrahini
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Formasi Semilir di daerah Semilir Baturagung merupakanlokasitipeFormasiSemilir yangsecarafisiografiterletakpadabagiandariZonaPegunungan Selatan.Penyebarannya memanjang mulaidi bagianbarat Imogiri, DIY, di bagian tengah pada G. Baturagung, hingga ujung timur pada tinggian G. Gajahmungkur.Formasi Semilir di daerah Penelitian selaras berada di bawah Formasi Nglanggran dan di atas Formasi Kebo-Butak. Peneliti terdahulu memandang Satuan batuan Formasi Semilir secara Stratigrafi – Sedumentologi akantetapi ketika susunan batuan terdiri atas selang seling satuan batuan batupasir, batulanau, dengan satuan batuanbreksi pumice, tufflapili dan tuff dengan masa dasar gelas volkanik. Inilah permasalahan yang menarik MakaPenelitian ini dilakukan dengan di dasarkan pada pemahaman stratigrafi - Sedimentologi, melalui konsepvulkanologi.Memperhatikan latar belakang permasalahan tersebut, maksud dari penelitian untuk melakukan identifikasikarakterisasi Formasi Semilir yang bertujuan untuk mengetahuiurutan susunan batuan dalam kaitannya denganaktifitas Gunung Api Purba. Metode Penelitian denganmelakukan rekaman stratigrafi terukur secara rinci danpengambilan contobatuansepanjang jalur lintasan Penampang Tipe Formasi Semilir. Hasil penelitian inimenunjukkan adanya aktifitas Gunung Api Periode letusan pertama yang terjadi 7 unit letusan. Secara Petrografidari Tuffaceous Sandstone unit 1-6, pada unit ke 7 menjadi Fine Tuff, ini menunjukkan kekuatan letusanmelemah pada bagian atasnya.Lokasi penelitian terletak daerah Semilir, Batur Agung, kecamatan Nglipar,Gunung Kidul, lebih kurang di selatan kotaKlaten,Jawa Tengah.Kata Kunci: , batuan gunung api, Petrografi, Kolom Stratigrafi rinci,zona Pegunungan Selatan