cover
Contact Name
Nohan
Contact Email
retii@itny.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
retii@itny.ac.id
Editorial Address
https://journal.itny.ac.id/index.php/ReTII/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi ReTII
ISSN : 19075995     EISSN : -     DOI : -
Sub – Tema : Manajemen EBT (Energi Baru Terbarukan) & Energy Harvesting IOT Robotika Era Industry 4.0 Green Manufacturing Sains Terapan Berbasis Kecerdasan Teknologi Transportasi Cerdas & Ramah Lingkungan Rekayasa Material Maju & Teknologi Nano Teknologi Eksplorasi Mineral, Limbah & Lingkungan Sistem Peringatan Dini & Mitigasi Bencana Alam Teknologi Penanganan Pandemi Covid-19 Teknologi Informasi & Komunikasi Berkesinambungan Berbasis Layanan Technology in Teaching Technology of Online Business Perguruan Tinggi Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia Pembangunan Masyarakat Madani Siap Era Industri 4.0 & Society 5.0 Perencanaan Wilayah Kota Berkelanjutan Peran Teknologi Digital Pasca Pandemi & Perubahan Budaya Kerja Rekayasa Infrastruktur Berbasis Manajemen Resiko Bencana Proses Peer Review Editor akan menyerahkan tulisan yang telah diterima kepada tim redaksi untuk menentukan review bagi tulisan yang telah diterima. Pada dasarnya setiap tulisan akan direview oleh seorang ahli (mitra bestari) yang berkompeten di bidang yang menjadi fokus tulisan. Berdasar hasil review pertama, Editor akan menentukan prosedur lanjutan dari sebuah tulisan, diterima dengan perbaikan minor; diterima dengan perbaikan mayor, atau ditolak. Tulisan yang telah direview dan memerlukan perbaikan, akan segera dikirim kepada penulis melalui kontak yang tertera dalam tulisan. Selain substansi tulisan yang diatur dalam proses review, Redaksi juga berhak meminta perbaikan teknis, sebelum tulisan benar-benar diterbitkan. Waktu perbaikan harus memenuhi ketentuan seperti yang diberikan. Setelah proses perbaikan selesai, dan tulisan dinyatakan siap terbit, maka penulis juga harus menyerahkan pernyataan pengalihan hak cipta bagi distribusi tulisan kepada Redaksi Jurnal ReTII atau Penerbit. Semua tulisan yang masih dalam proses review, menjadi tanggung jawab redaksi dan redaksi akan bertanggung jawab terhadap kerahasiaan isi tulisan. Semua tulisan dan dokumen lain yang telah diserahkan kepada redaksi tidak akan dikembalikan
Articles 905 Documents
Penggunaan Blok Pracetak Heksagonal dan Vegetasi Rumput untuk Mengurangi Limpasan Permukaan Pada Tebing Arsyuni Ali Mustary; Muh Saleh Pallu; Rita Tahir Lopa; Arsyad Thaha
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Curah hujan merupakan faktor penting dalam laju  limpasan permukaan (runoff) apalagi jika lahan tersebut tidak tertutupi oleh Vegetasi , berbagai  metode  untuk mengurangi limpasan permukaan yang selama ini digunakan namun metode yang ada belum mampu menjawab seluruh permasalahan dan cenderung tidak memperhatikan efek terhadap lingkungan, namun seiring dengan berkembangnya konsep restorasi sungai dan restorasi lereng,  menjadi sebuah tuntutan dalam perlindungan lereng  agar karakteristik ekologi tetap terjaga. Berbagai jenis pelindung tebing  memiliki kelebihan dan kekurangan baik itu yang murni vegetasi maupun yang murni struktur, untuk itu kami mengevaluasi dan mendesain model pelindung tebing dari kedua metode tersebut, yaitu dengan mendisain  Blok pracetak berlubang  dan memvariasikan dengan vegetasi rumput sehingga diperoleh manfaat dari kedua metode tersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui besarnya debit limpasan aliran permukaan (run off) yang terjadi pada variasi tutupan tanah dengan Blok Pracetak Berlubang dan Vegetasi rumput pada kemiringan permukaan tanah  15°, 25° dan 40°.Pengambilan sampel dilakukan  diawali dengan kalibrasi Curah hujan sehingga diperoleh 3 (tiga) jenis Curah Hujan, selanjutnya membuat skala model  dengan  kemiringan tanah  15°, 25° dan 40° pada Bak Rainfallsimulator, selanjutnya variasi model tutupan tanah termasuk juga model Blok Pracetak Berlubang di susun pada model  tebing dan dilakukan running dengan 3 Varian Curah Hujan , 4 (empat) varian  model tutupan lahan, dengan 3 (tiga) varian kemiringan , dari ketiga varian Curah Hujan jumlah limpasan rata-rata menunjukkan tutupan tanah menggunakan  Blok Pracetak Berlubang kombinasi vegetasi rumput dapat menurunkan limpasan permukaan secara signifikan yaitu sebesar 41.06 % pada kemiringan 15° , pada kemiringan 25° penurunan limpasan yang terjadi sebesar 45.41 %, sedangkan pada kemiringan 40° penurunan limpasan yang terjadi sebesar 41.77 % dari tanah tanpa tutupan , juga semakin curam kemiringan tanah maka jumlah limpasan permukaan juga semakin tinggi. Kata Kunci : limpasan, Tebing , Blok Pracetak Hexagonal, Vegetasi, Rainfallsimulator.
Implementasi Metode Analytical Hierarchy Process (Ahp) Dalam Penentuan Prioritas Penanganan Jalan Di Kota Palu Fikky Zachry
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Palu merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Tengah letaknya strategis karena merupakan penghubung pusat pertumbuhan ekonomi dari wilayah barat dan selatan pulau Sulawesi menuju kearah timur dan utara pulau Sulawesi maupun sebaliknya. Mengingat pertumbuhan penduduk dan mobilitas kegiatan yang cukup tinggi, maka diperlukan jalan dengan kondisi yang mantap untuk mendukung pergerakan kendaraan. Dalam kondisi kendala penyediaan dana yang terbatas, maka kemungkinan tidak semua kebutuhan dana penanganan terhadap semua ruas jalan dapat dipenuhi sekaligus. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan/menentukan urutan prioritas penanganan jalan nasional yang berada di wilayah Kota Palu. Metode analisis yang digunakan dalam menentukan prioritas menggunakan pendekatan analisis multi kriteria, dimana bobot kriteria dengan input penilaian pengambilan keputusan dari responden yang berasal dari instansi pemerintah terkait infrastruktur jalan. Adapun kriteria-kriteria yang digunakan dalam penentuan prioritas pada penelitian ini adalah kondisi jalan, volume lalu lintas, tata guna lahan, usulan musrembang dan integrasi antar moda. Kriteria kondisi jalan dan tata guna lahan merupakan kriteria yang paling dominan dalam pembobotan prioritas dengan nilai bobot sebesar 35.09% dan 27.59%, kemudian diikuti oleh kriteria  volume lalu lintas  10.4%, kriteria usulan musrembang 9.06%,  dan  kriteria integrasi antar moda sebesar 7.87%. Hasil akhir analisis dengan pembobotan kriteria dan skoring kriteria berdasarkan variabel operasional kriteria diperoleh  urutan prioritas penanganan pada ruas-ruas jalan adalah ruas Kebonsari (Talise) – Tawaeli, Pantoloan (bts Kab. Donggala) – Tawaeli, Jln. I Gusti Ngurah Rai (Palu), Jln. Dewi Sartika (Palu), Jln. Manonda (Palu), Jln. Munif Rahman II (Palu), Jln. Hasanuddin I (Palu), Jln. Diponegoro(Palu), Jln. Gunung Gawalise (Palu), Jl. Gajah Mada (Palu) dn seterusnya. Kata Kunci : AHP, Analisis Multi Kriteria, Prioritas Penanganan Jalan
Analisis Ketersediaan Air Embung Tambakboyo Sleman DIY Agung Purwanto; Edy Sriyono; Sardi S
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kegiatan komersial seperti pertanian, perikanan, air minum, industri dan usaha lainnya. Perkembangan suatu daerah akan menyebabkan kebutuhan air terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan taraf hidupnya. Kecenderungan yang sering terjadi adalah adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air sehingga menimbulkan terjadinya krisis air. Tujuan yang ingin dicapai dalam analisis ini adalah untuk mengetahui jumlah ketersediaan air Embung Tambakboyo sepanjang tahun.Metode analisis yang dilakukan meliputi pengumpulan data (debit, curah hujan, dan Peta Rupabuni Digital Indonesia), luas DAS, uji konsistensi, hujan wilayah, evapotranspirasi, simulasi FJ Mock, debit andalan, hujan andalan, hujan efektif, dan debit air masuk (inflow).Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ketersediaan air Embung Tambakboyo terjadi sepanjang tahun mulai dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember, dengan jumlah tertinggi terjadi pada bulan Februari sebesar 1.989,29 lt/dt dan terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 36,12 lt/dt. Kata Kunci: debit, embung, ketersediaan air.
Mitigasi Bencana Melalui Pendekatan Kultural Dan Struktural Dessy Triana
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia berada di posisi geografis yang diapit oleh dua samudera besar, samudera Hindia dan samudera Pasifik, posisi Indonesia pada pertemuan tiga lempeng utama dunia lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik,  Kondisi permukaan wilayah Indonesia (relief) yang sangat beragam, maka bencana alam sangat berisiko terjadi di Indonesia. Bencana adalah suatu malapetaka yang luar biasa yang datang bisa kapan saja tanpa diduga waktunya  dengan tepat. Berdasarkan cacatan, bencana yang diakibat oleh bahaya geologi yang terjadi diberbagai belahan dunia meningkat secara tajam, baik dalam tingkat dan frekuensi kejadiannya dan secara statistik jumlah korban jiwa dan harta benda juga meningkat. Sebagai sebuah Negara dengan beragam jenis bencana yang tak pernah putus dari waktu ke waktu, maka seharusnya di negeri ini dimulai melakukan mitigasi berdasarkan pendekatan kultural dan structural. Sebagai sebuah Negara dengan beragam jenis bencana yang tak pernah putus dari waktu ke waktu, maka seharusnya di negeri ini dimulai melakukan mitigasi berdasarkan pendekatan kultural dan structural. Mitigasi struktural merupakan upaya untuk meminimalkan bencana yang dilakukan melalui pembangunan berbagai prasarana fisik dan menggunakan pendekatan teknologi, sedangkan nonstructural adalah melalui peraturan perundang-undangan, pelatihan dan lain – lain. Mitigasi kultural adalah pengendalian dan pencegahan bencana dapat dilakukan dengan budaya dan tradisi masyarakat local serta kearifan local masyarakat.Kata Kunci: kultural, mitigasi, struktural
Kajian Perencanaan Infrastruktur Ruang Terbuka Hijau pada Perumahan Kota Terpadu Mandiri di Bungku Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah Karli na
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perencanaan infrastruktur ruang terbuka hijau perumahan dan mengetahui proses perencanaan yang belum optimal dengan infrastruktur ruang terbuka hijau di Kota Terpadu Mandiri Kabupaten Morowali. Penelitian ini akan dilakukan di Kota Terpadu Mandiri Kabupaten Morowali dan difokuskan pada kajian perencanaan infrastruktur ruang hijau kawasan  perumahan di Kabupaten Morowali. Adapun tahap - tahap perencanaan infrastruktur ruang terbuka hijau yang di ambil adalah Menentukan faktor yang mempengaruhi ruang terbuka hijau dan mengevaluasi proses perencanaan ruang terbuka hijau yang belum optimal. Data dianalisis dengan analisis AHP (analisis hierarchy process) dan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi perencanaan yang belum optimal dengan infrastruktur RTH secara teknis sudah memadai namun belum sepenuhnya memenuhi standar berkelanjutan. Hasil analisis faktor yang mempengaruhi menggunakan AHP menunjukan prioritas pertama fungsi ekologi, prioritas kedua fungsi ekonomi, prioritas ketiga fungsi sosial budaya dan prioritas keempat fungsi arsitektural.Kata Kunci: ruang terbuka hijau, infrastruktur, kota terpadu mandiri.
Perumusan Indikator Livable City Kota Sedang di Kota Magelang Hillary Kristarani
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota merupakan pusat kegiatan, pelayanan, dan pemerintahan. Jumlah penduduk di perkotaan yang terus meningkat serta tingkat urbanisasi yang tinggi di perkotaan menyebabkan berbagai masalah perkotaan. Masalah yang menciptakan ketidaknyamanan ini perlu ditanggulangi oleh konsep livable city dimana suatu kota perlu memiliki kelayakan untuk ditinggali oleh penduduknya. Terdapat berbagai indikator livable city di lingkup dunia maupun kota-kota besar dan metropolitan di Indonesia. Namun belum ada perumusan indikator livable city untuk kota sedang seperti Kota Magelang. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan indikator livable city di Kota Magelang sebagai kota sedang. Penelitian ini menggunakan proses berfikir induktif kualitatif karena perumusan indikator yang baru untuk suatu kota membutuhkan wawasan baru dari berbagai pihak. Metode yang digunakan  dalam perumusan indikator adalah delphy’s method yang didasarkan pada komunikasi yang terstruktur oleh pakar/ahli. Hasil penelitian melalui delphy’s method merumuskan 31 indikator dengan 7 kelompok indikator, yang mana 19 bersifat general dan 12 bersifat spesifik. Indikator general secara umum dapat digunakan di kota lain, sementara indikator spesifik sesuai dengan karakteristik Kota Magelang sebagai kota sedang.Kata Kunci: indikator, kota sedang, Kota Magelang, livable city.
Studi Kecukupan Ruang Terbuka Hijau Ideal Di Kampus Perguruan Tinggi Untuk Perencanaan Kampus Hijau Kasus Amatan Wilayah Aglomerasi Kota Yogyakarta Utara Deni Hermawan; Diananta Pramitasari; Slamet Sudibyo
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan Kota Hijau merupakan konsep perencanaan pembangunan Kota berkelanjutan untuk menjamin keseimbangan lingkungan perkotaan dan sebagai respon terhadap kerusakan lingkungan. Ruang terbuka Hijau merupakan salah satu atribut Kota Hijau  yang telah di atur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.5/PRT/M/2008, tentang penataan ruang. Untuk mewujudkan Kota Hijau, pemerintah telah mengatur proporsi penyediaan Ruang Terbuka Hijau yaitu sebanyak 30 %, terdiri dari paling minimal 20 % RTH publik dan paling minimal 10 % RTH privat. Total 10 % RTH privat merupakan kompilasi dari 3 kategori RTH diantaranya, (1) RTH Pekarangan/halaman, (2) RTH Taman, (3) RTH Jalur hijau jalan. Sehingga dapat di asumsikan masing-masing kategori paling minimal harus berkontribusi sekitar 3,33 % dari luas wilayah. Kampus Perguruan Tinggi merupakan fasilitas umum pendidikan sehingga masuk dalam kategori 1. Menurut Yunus, (1997) kampus merupakan salah satu faktor terjadinya urbanisasi horizontal yang memicu adanya perkembangan Kota (urban sprawl). Hal tersebut akan mengakibatkan daerah pedesaan berubah menjadi kekotaan, dengan mengalih fungsikan tata guna lahan yang mengakibatkan berkurangnya Ruang Terbuka Hijau. Oleh karena itu Kampus sebagai fasilitas umum seharusnya memiliki peran penting terhadap kontribusi Ruang Terbuka Hijau privat. Kecamatan Depok Sleman merupakan salah satu Kecamatan yang termasuk dalam kawasan Aglomerasi Kota (KPY) bagian utara, yang memiliki jumlah sebaran perguruan tinggi cukup banyak, sehingga memiliki potensi penyumbang RTH. Kampus STIE YKPN merupakan salah satu kampus, terletak di Kec Depok Sleman yang berada di kawasan padat penduduk. Oleh karena itu Kampus STIE YKPN, seharusnya memiliki peran penting terhadap kontribusi RTH yang berpengaruh pada kenyamanan lingkungan sebagai produsen Oksigen. Tujuan dari penelitian ini adalah, (1) mengetahui kontribusi Ruang Terbuka Hijau Kampus STIE YKPN terhadap Kec Depok Sleman (2) menganalisis kecukupan penyediaan Ruang Terbuka Hijau ideal Kampus berdasarkan kebutuhan O2 penghuni kampus dan kendaraan (3) memberikan rekomendasi perencanaan desain pengembangan master plan pada kampus, untuk memenuhi kebutuhan Ruang Terbuka Hijau ideal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : interprestasi citra satelit sebagai data sekunder, survey di lapangan untuk mengidentifikasi koefisien lantai bangunan (KLB), setting parkir permukaan dan Ruang Terbuka Hijau existing guna pengembangan konsep rekomendasi master plan kampus. Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN memiliki luas Ruang Terbuka Hijau existing seluas 1 Ha. Dari hasil perhitungan kebutuahan Ruang Terbuka Hijau ideal Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN perlu penambahan untuk memenuhi kebutuhan oksigen penghuni Kampus. Kampus STIE YKPN masih kekurangan Ruang Terbuka Hijau sekitar 1,5 Ha. Konsep apa yang sesuai dalam perencanaan pengembangan master plan Kampus agar dapat memenuhi kecukupan Ruang Terbuka Hijau ideal. Konsep dalam pengembangan perencanaan Ruang Terbuka Hijau kampus, yaitu dapat menerapkan konsep green campus, yaitu dengan merevitalisasi master plan, pengembangan konsep pembangunan kompak vertical, pengembangan Ruang Terbuka Hijau disekitar bangunan dan jalur-jalur jalan dan mengkonversi parkir permukaan.Kata Kunci: Kota Hijau, Kampus Hijau, Perencanaan Kampus Hijau, RTH Ideal.
Analisis Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Nilai Lahan di Kawasan Perkotaan Yogyakarta Studi Kasus Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta A. Yunastiawan Eka Pramana
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemahaman mengenai nilai lahan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya memiliki peran yang penting di dalam penyusunan kebijakan terkait penataan ruang. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nilai lahan perlu diidentifikasi sehingga arah perkembangan fisik perkotaan beserta kebijakan untuk mengendalikan perkembangan fisik perkotaan tersebut dapat dirumuskan secara efektif dan efisien. Penelitian ini mempergunakan metode Hedonic Price Model (HPM) sebagai alat analisis untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap nilai lahan di lokasi Studi Kasus di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Dari analisis yang dilakukan terlihat bahwa atribut karakteristik fisik suatu lahan beserta atribut aksesibilitas merupakan faktor yang memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai lahan di lokasi studi kasus.  Kata Kunci: nilai lahan, aksesibilitas, Hedonic Price Model, kebijakan penataan ruang
Arahan Pengembangan Kawasan LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan) Padi Berbasis D3TLH (Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup) di Kabupaten Kulon Progo Candra Ragil
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya nyata pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan tertuang dalam UU No 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. D.I. Yogyakarta telah menetapkan Perda No 10 Tahun 2011. Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Berdasarkan UU No 41 tahun 2009 Tentang tentang Kriteria Teknis Kawasan Peruntukan Pertanian, untuk keperluan Kemandirian, Keamanan dan Ketahanan Pangan maka diperlukan Penyelamatan Lahan Pertanian Pangan. Penyelamatan harus segera dilakukan karena laju konversi lahan sawah atau pertanian pangan lainnya sangat cepat. Penyelamatan lahan pertanian pangan dari lahan pertanian pangan yang sudah ada atau cadangannya yang disusun berdasarkan kriteria yang mencakup kesesuaian lahan, ketersediaan infrastruktur, penggunaan lahan, potensi lahan dan adanya luasan dalam satuan hamparan. Untuk menghambat laju konversi maka diperlukan penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LCP2B) dan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B). Upaya perlindungan LP2B dilakukan melalui pembentukan kawasan (KP2B) yang akan terdiri dari LP2B dan LCP2B dan berbagai unsur pendukungnya. Hal ini bermakna selain sawah maka berbagai unsur pendukung juga perlu diketahui untuk menentukan kebijakan atau program yang sesuai. KP2B selanjutnya perlu menjadi bagian integral Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, sedangkan LP2B dan LCP2B diintegrasikan dalam Rencana Tata Ruang rinci. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melalui data primer dan data sekunder, metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, deskriptif komparatif dan analisis spasial. Hasil dari penelitian ini adalah terkait arahan LP2B di Kabupaten Kulon Progo terdapat 8 kecamatan prioritas yaitu Galur, Girimulyo, Lendah, Nanggulan, Panjatan, Sentolo, Temon dan Wates, dengan luas total sebesar 4061,6 hektar.Kata Kunci: daya dukung lingkungan, pertanian, berkelanjutan
Efektifitas Cerobong Cyclone Sebagai Ventilasi Toilet untuk Arsitektur Hijau Guna wan
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin tingginya penggunaan energi untuk pengkondisian udara, akan senantiasa diiringi oleh  meningkatnya produktivitas Gas Rumah Kaca, yang memiliki dampak menipisnya lapisan Ozon di Atmosfir. Sungguh fenomena ini kedepan akan semakin  memprihatinkan, utamanya di kawasan perkotaan yang sarat bangunan tinggi. Untuk itu bagi para arsitek beserta steakholder-nya perlu melakukan upaya yang diiringi dengan ragam inovasi serta kreasi  yang berbasis pada tindakan hemat energi. Keberadaan shaft sebagai komponen vertikal yang menghimpun sistem perpipaan serta adanya Struktur Core pada bangunan berlapis lantai banyak ( high rise building) dimana bentuknya telah menyerupai bumbung cerobong yang menjulang mengikuti ketinggian bangunan, dapat diolah dan dimulti fungsikan sebagai komponen Sistem penghawaan alamiah dengan memberikan tambahan beberapa elemen diantaranya, kisi-kisi (grill), selumbung (duct)  vertikal – horizontal, ruang atau corong penampung udara sementara, baling-baling (cyclone). Dengan metoda penghawaan alamiah ini, diasumsi dapat melakukan pertukaran udara sedikitnya pada area lantai urutan paling atas. Fungsionalisasi shaft dan core sebagai cerobong penghawaan alamiah dimaksudkan sebagai upaya penambah perbendaharaan untuk menuju Green Architecture.Kata Kunci: Gas rumah kaca, Hemat energi, Green architecture