cover
Contact Name
Nohan
Contact Email
retii@itny.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
retii@itny.ac.id
Editorial Address
https://journal.itny.ac.id/index.php/ReTII/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi ReTII
ISSN : 19075995     EISSN : -     DOI : -
Sub – Tema : Manajemen EBT (Energi Baru Terbarukan) & Energy Harvesting IOT Robotika Era Industry 4.0 Green Manufacturing Sains Terapan Berbasis Kecerdasan Teknologi Transportasi Cerdas & Ramah Lingkungan Rekayasa Material Maju & Teknologi Nano Teknologi Eksplorasi Mineral, Limbah & Lingkungan Sistem Peringatan Dini & Mitigasi Bencana Alam Teknologi Penanganan Pandemi Covid-19 Teknologi Informasi & Komunikasi Berkesinambungan Berbasis Layanan Technology in Teaching Technology of Online Business Perguruan Tinggi Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia Pembangunan Masyarakat Madani Siap Era Industri 4.0 & Society 5.0 Perencanaan Wilayah Kota Berkelanjutan Peran Teknologi Digital Pasca Pandemi & Perubahan Budaya Kerja Rekayasa Infrastruktur Berbasis Manajemen Resiko Bencana Proses Peer Review Editor akan menyerahkan tulisan yang telah diterima kepada tim redaksi untuk menentukan review bagi tulisan yang telah diterima. Pada dasarnya setiap tulisan akan direview oleh seorang ahli (mitra bestari) yang berkompeten di bidang yang menjadi fokus tulisan. Berdasar hasil review pertama, Editor akan menentukan prosedur lanjutan dari sebuah tulisan, diterima dengan perbaikan minor; diterima dengan perbaikan mayor, atau ditolak. Tulisan yang telah direview dan memerlukan perbaikan, akan segera dikirim kepada penulis melalui kontak yang tertera dalam tulisan. Selain substansi tulisan yang diatur dalam proses review, Redaksi juga berhak meminta perbaikan teknis, sebelum tulisan benar-benar diterbitkan. Waktu perbaikan harus memenuhi ketentuan seperti yang diberikan. Setelah proses perbaikan selesai, dan tulisan dinyatakan siap terbit, maka penulis juga harus menyerahkan pernyataan pengalihan hak cipta bagi distribusi tulisan kepada Redaksi Jurnal ReTII atau Penerbit. Semua tulisan yang masih dalam proses review, menjadi tanggung jawab redaksi dan redaksi akan bertanggung jawab terhadap kerahasiaan isi tulisan. Semua tulisan dan dokumen lain yang telah diserahkan kepada redaksi tidak akan dikembalikan
Articles 905 Documents
Pengaruh Basis Data Dalam Pengolahan Hasil Analisis Batubara Studi Kasus Pematangan Buatan Batubara Daerah Gunung Mas, Kalimantan Tengah Dan Batubara Muaro Jambi, Jambi Komang Anggayan; Harun Nuruddin Akbar
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahap pembatubaraan dikontrol oleh temperatur, tekanan, dan waktu. Tingkat kematangan batubara atau yang sering disebut dengan rank dapat ditentukan dengan melakukan analisis terhadap beberapa parameter, diantaranya adalah nilai kalori dan analisis proksimat. Analisis proksimat tersebut terdiri dari inherent moisture, fixed carbon, volatile matter dan ash content. Sampel yang dianalisis berasal dari daerah Tumbangjutuh, Rungan, Gunung Mas, Kalimantan Tengah dan daerah Muaro Jambi, Jambi. Batubara dari daerah Gunung Mas merupakan batubara dengan rank subbituminous B dengan kandungan, IM =16,18 %, Ash =12,07%, fixed carbon = 31,59%, volatile matter = 40,16 % (semuanya dalam % berat dan dalam basis adb) dan nilai kalori 4.777 kkal/kg (adb). Sedangkan batubara dari daerah Muaro Jambi  merupakan batubara dengan rank  subbituminous B dengan kandungan: IM =15,97 %, Ash = 2,84 %, fixed carbon = 37,19 %, volatile matter = 44,00% (semuanya dalam  % berat dan dalam basis adb) dan nilai kalori 5.196 kkal/kg (adb). Pada penelitian pembatubaraan buatan ini digunakan variable temperatur : 750C, 1000C, 1250C, 1500C, 1750C, 2000C, 2250C, dan 2500C, masing masing 24 jam. Sedangkan untuk variable  waktu yang digunakan adalah : 3 jam, 6 jam, 12 jam, 18 jam, 24 jam, masing masing dalam temperatur 2500C. Pemanasan dengan menggunakan variasi temperatur dan variasi waktu terhadap kedua sampel batubara tersebut menujukkan perubahan terhadap hasil analisis proksimat dan nilai kalori yang mengindikasikan terjadinya proses pematangan batubara. Hasil pengolahan data dengan basis yang berbeda menunjukkan pola grafik yang berbeda terutama sampai dengan temperature di bawah 1000C . Hal ini terjadi karena sampai dengan temperatur  1000C  terjadi dominasi pelepasan air sehingga semestinya basis data yang dipakai adalah tanpa air (db).  Kata kunci: rank,  inherent moisture, fixed carbon, volatile matter, nilai kalori
Penanganan Air Asam Tambang Pada Skala Laboratorium Dengan Menggunakan Kapur Tohor Berdasarkan Parameter Ketebalan NAF Bantar Tyas Sukmawati Rukmana
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada kegiatan pertambangan batubara baik tambang terbuka maupun tambang bawah tanah akan menghasilkan air buangan yang bersifat asam yang disebut air asam tambang. Air asam tambang terbentuk sebagai hasil oksidasi mineral sulfida tertentu yang terkandung dalam batuan oleh oksigen di udara pada lingkungan berair. Air asam tambang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yaitu menurunnya kualitas air tanah, air permukaan dan masyarakat yang sekitar tinggal di daerah aliran sungai. Oleh karena itu, perlu upaya penanganan dan pengendalian air asam tambang, salah satunya adalah percobaan simulasi penanganan air asam tambang pada skala laboratorium untuk mengetahui pengaruh ketebalan NAF terhadap air lindian yang dihasilkan dan dosis kapur tohor yang diperlukan untuk menetralkannya. Pengumpulan data berasal dari data pH yang dihasilkan oleh setiap simulasi yang dilakukan kemudian akan dianalisis dengan menggunakan statistika untuk mendapatkan hubungan antara keduanya. Hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan melapisi material PAF dengan material NAF akan menghambat pembentukan air asam tambang dimana pH air lindian yang dihasilkan cenderung naik dibandingkan perlakuan yang tidak menggunakan material NAF. Sedangkan untuk simulasi penetralan air asam tambang didapatkan dosis kapur tohor yang efektif untuk masing-masing perlakuan.Kata Kunci: AAT, Kapur tohor, Material PAF, Material NAF
Perbandingan Hasil Logam Emas Pada Pengolahan Bijih Emas Dengan Metode Sianida (Heap Leaching) Berdasarkan Perbedaan Ukuran Butir Umpan Maharani Rindu Widara
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tambang Rakyat di Desa Kertajaya Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi melakukan proses pengolahan emas dengan menggunakan metode sianidasi (heap leaching).  proses heap leaching atau penyiraman umpan dilakukan dengan ukuran butir rata ≤ 5 cm selama 16 jam. Uji coba proses pengolahan emas yang dilakukan penulis dengan membuat 5 macam perbedaan ukuran umpan (feed): Percobaan pertama dengan ukuran bijih emas (feed) ≤ 5 cm dengan total waktu heap leaching selama 16 jam, hasil logam emas yang diperoleh rata-rata 7,40 gram. Percobaan kedua yaitu dengan ukuran bijih emas (feed)  ≤ 4 cm dengan total waktu heap leaching  selama 16 jam, hasil logam emas yang diperoleh rata-rata 7,53 gram. Percobaan ketiga dengan ukuran bijih emas (feed) ≤ 3 cm dengan total waktu heap leaching  selama 16 jam, hasil logam emas yang diperoleh rata-rata 11,27 gram. Percobaan keempat yaitu dengan ukuran bijih emas (feed)  ≤ 2 cm dengan total waktu heap leaching  selama 16 jam, hasil logam emas yang diperoleh rata-rata 11,46 gram. Percobaan kelima dengan ukuran bijih emas (feed)  ≤ 5 cm dengan total waktu heap leaching  selama 16 jam, hasil logam emas yang diperoleh rata-rata 12,28 gram. Dari hasil uji coba diatas maka diketahui bahwa Ukuran bijih emas (umpan) yang diolah sebaiknya ≤ 1 cm sehingga butiran emas bisa terbebaskan atau terliberasi secara sempurna sehingga dapat memperoleh logam emas yang optimal pada saat proses pengolahan.Kata Kunci: heap leaching, sianidasi, ukuran butir.
Pemanfaatan Batubara Menjadi Karbon Aktif Dengan Proses Karbonisasi Dan Aktivasi Menggunakan Reagen Asam Fosfat (H3po4) Dan Ammonium Bikarbonat (Nh4HCO3) Desyana Ghafarunnisa
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karbon aktif dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon, baik dari tumbuh-tumbuhan, hewan, maupun barang tambang. Proses pembuatan karbon aktif pada penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu karbonisasi dan aktivasi. Karbonisasi dilakukan pada suhu 600oC selama 3 jam. Aktivasi dilakukan dua kali yaitu aktivasi kimia dan fisika. Aktivasi kimia menggunakan reagen tunggal yaitu larutan H3PO4 dan reagen kombinasi yaitu larutan H3PO4 - NH4HCO3. Variabel konsentrasi larutan adalah 1M; 1,5M; M; 2,5 M. Aktivasi kimia dilakukan pada suhu ruang selama 8 jam, sedangkan aktivasi fisika dilakukan pada suhu 600oC selama 2 jam. Kombinasi reagen dan variasi konsentrasi bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi reagen terhadap kualitas karbon aktif. Parameter yang sangat mempengaruhi kualitas karbon aktif adalah bilangan iodin. Hasil penelitian menunjukkan karbon aktif terbaik diaktivasi oleh reagen kombinasi H3PO4 2M - NH4HCO3 2M dan H3PO4 2,5M - NH4HCO3 2,5M. Karbon aktif yang diaktivasi reagen H3PO4 2M - NH4HCO3 2M mempunyai kadar air 7,5%, kadar zat menguap 43,3%, kadar abu 9%, fixed carbon 40,2%, dan bilangan iodin 1238,544 mg/g. Sedangkan karbon aktif yang diaktivasi reagen H3PO4 2,5M - NH4HCO3 2,5M mempunyai kadar air 7,4%, kadar zat menguap 39,1%, kadar abu 10%, fixed carbon 34,4% dan bilangan iodin 1238,544 mg/g. Secara umum karbon aktif belum memenuhi standard SNI 06-3730-1995. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa reagen tunggal H3PO4  maupun reagen kombinasi H3PO4 dan NH4HCO3 adalah reagen yang baik untuk aktivasi kimia. Hal ini dibuktikan dengan bilangan iodin yang memenuhi standard pada semua hasil karbon aktif, yaitu antara 1172,556 mg/g - 1238,544 mg/g.Kata Kunci: Batubara, karbon aktif, karbonisasi dan aktivasi
Kajian Usaha Pengelolaan Lingkungan dan Usaha Pemantauan Lingkungan pada Lokasi Tambang Batugamping di CV. Empat Jaya Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) Arieshendy Marita Pratami
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penambangan adalah suatu kegiatan yang memanfaatkan atau mengambil sumberdaya alam. Penggunaan sumberdaya alam secara besar-besaran tanpa mengabaikan lingkungan dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif yang terasa dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Oleh karena itu, dalam  penambangan batugamping di CV. Empat Jaya harus diikuti dengan kegiatan pengelolaan lingkungan yang diarahkan pada upaya untuk mencegah atau menanggulangi dampak negatif sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada pasal 1 ayat 12. Tujuan pada penelitian ini adalah mengidentifikasikan dampak penambangan batugamping terhadap komponen lingkungan hidup mulai dari tahap persiapan, tahap operasi dan tahap pasca operasi dan menyusun rumusan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL) kegiatan pertambangan batugamping.. Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan dokumen UKL dan UPL ini adalah metode kualitatif dengan cara naratif deskriptif. Pengolahan data dilakukan dengan melakukan beberapa perhitungan dan  analisis setiap komponen lingkungan hidup yang selanjutnya disajikan dalam bentuk matriks.  Dari hasil penelitian terdapat beberapa dampak penambangan batugamping terhadap lingkungan hidup mulai dari tahap persiapan, operasi, hingga pasca operasi. Dampak penambangan batugamping tersebut dimuat dalam Matriks Identifikasi Dampak Kegiatan Komponen Lingkungan secara terperinci dimulai dari sumber dampak, jenis dampak, sifat dampak, bentuk pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup, lokasi pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup serta periode pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.Kata Kunci : Dampak, Komponen, Matriks, UKL, UPL.
Estimasi Cadangan Batubara Pt Murung Raya Coal Dengan Metode Cross Section Di Pt Murung Raya Coal Kec. Laung Tuhup Dan Tanah Siang, Kab. Murung Raya Prov. Kalteng Anggera Bona Pangestu
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penaksiran cadangan didapatkan melalui perhitungan dan analisis terhadap data eksplorasi yang telah didapatkan yaitu berupa data pemboran, strike, dip, dan ketebalan batubara. Penaksiran cadangan dilakukan agar dapat mengetahui taksiran jumlah tonase cadangan batubara. Lokasi penelitian Blok B di daerah Laung Tuhup dan Tanah Siang seluas 1397 hektar, terletak di Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah.Tujuan dari penelitian ini adalah mengaplikasikan metode cross section dalam menentukan jumlah cadangan batubara dan menaksir jumlah cadangan batubara di daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara pengamatan di lapangan. Sedangkan metode penaksiran cadangan digunakan metode cross section dengan membandingkan antara pedoman perubahan bertahap (rule of gradual change) dengan pedoman titik terdekat (rule of nearest point). Hasil penelitian yang diharapkan adalah dapat menentukan tonase batubara pada blok B. Hasil yang didapat dengan metode cross section dengan pedoman perubahan bertahap (rule of gradual change), dilakukan dengan menghubungkan penampang satu dengan penampang lainnya, sehingga diperoleh tonase batubara sebesar 8.991.274 ton, dan metode cross section dengan pedoman titik terdekat (rule of nearest point) dilakukan dengan penarikan garis batas penampang dengan cara setengah jarak penampang, sehingga diperoleh tonase batubara sebesar 9.083.100 ton.Kata Kunci: cross section, rule of nearest point, rule of gradual change
Efektifitas Settling Pond Dalam Menurunkan Kadar Total Suspended Solid (Tss) Di Pt. X Kabupaten Kapuas Tengah Provinsi Kalimantan Tengah Asri Fridtriyanda
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pertambangan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan seperti erosi dan sedimentasi yang berasal dari aktivitas pembukaan lahan dan material buangan (waste) yang mudah tererosi sehingga mempengaruhi baku mutu air limpasan yang keluar dari area penambangan dan menuju ke badan sungai. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batubara, disebutkan bahwa air limbah yang berasal dari kegiatan penambangan harus dikelola dengan pengendapan sebelum dialirkan ke permukaan dan air yang dialirkan harus memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan. Pada PT. X, lokasi titik penaatan air disebut dengan Water Compliance Point (WCP), dimana pada WCP ini dilakukan pemantauan kualitas air. Parameter kualitas air yang dipantau yaitu pH, TSS, Fe, dan Mn. Pemantauan kualitas air dilakukan harian (pH dan TSS) dan bulanan (pH, TSS, Fe, dan Mn). Adapun permasalahan limbah cair yang terjadi pada PT. X adalah kekeruhan air akibat TSS yang tinggi. Hal tersebut yang melatar belakangi diadakannya Pengamatan Efektifitas Settling Pond Dalam Menurunkan Kadar Total Suspeded  Solid (TSS) Pada di PT. X.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui debit air yang masuk ke settling pond WCP 2, mengetahui material endapan yang terbawa air, mengetahui kualitas air di lokasi pengamatan berdasarkan parameter TSS nya dibandingkan dengan baku mutu serta mengetahui keefektifan penurunan TSS pada setiap kompartemen setlling pond dan mengetahui pengaruh perlakuan fisik dan kimia dalam menurunkan nilai TSS. Metode pada pengamatan ini adalah kuantitatif dan deskriptif. Pengambilan data pada penelitian ini adalah observasi dan kajian pustaka. Data yang diperoleh akan dianalisis. Adapun data yang akan dianalisis adalah debit air limpasan, sampel air (TSS) dan jenis material endapan. Berdasarkan hasil analisis data, debit air limpasan pada area Settling Pond WCP 2 adalah 0,58 m3/det. Nilai TSS pada WCP 2 masih berada pada nilai ambang batas baku mutu yang mengacu pada Kepmen LH No. 113 Tahun 2003, yaitu 400 mg/l. Tetapi nilai TSS pada WCP 2 dapat dikatakan cukup tinggi karena pada 3 kali pengambilan sampel nilai TSSnya hampir mencapai ambang batas baku mutu, yaitu 356 mg/l (20 April), 352 mg/l (3 Mei), dan 324 mg/l (4 Mei). Selain itu, penurunan TSS pada setiap kolam settling pond WCP 2 tidak efektif karena terjadi kenaikan TSS pada kolam 5 hingga kolam 9 (outlet). Material endapan yang terbawa air pada WCP 2 adalah campuran fines coal yang berasal dari ROM dan clay yang berasal dari air limpasan jalan. Setelah dilakukan pengamatan, permasalahan ini disebabkan oleh beberapa kondisi, yaitu kondisi fisik kolam yang tidak baik dan belum di maintenance, tidak adanya perlakuan fisik maupun kimia pada kolam, material campuran sulit mengendap, dan adanya sodetan pada kolam yang menyebabkan air limpasan dari jalan masuk ke kolam. Kata Kunci: settling pond, total suspended solid, efektifitas
Inventarisasi Sumber Emisi Gas Rumah Kaca (Greenhouse Gas) Dari Kegiatan Eksplorasi & Eksploitasi Minyak Dan Gas Bumi PT. MNO Yodi Praperta Dewi; Marista Sihombing
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. MNO merupakan perusahaan yang bergerak dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi, perusahaan ini berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berasal dari setiap proses kegiatan. Seluruh perusahaan yang bergerak di bidang Minyak dan Gas diwajibkan untuk melakukan inventarisasi sumber emisi gas rumah kaca sesuai dengan ketentuan yang tertuang didalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 13 tahun 2009. Inventarisasi sumber emisi gas rumah kaca wajib dilakukan untuk memberikan informasi seberapa besar kontribusi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Metode analisis yang digunakan menggunakan metode kuantitatif, dengan mengumpulkan data terakhir peralatan sumber emisi gas rumah kaca yang dipantau. Emisi gas rumah kaca yang dipantau berasal dari sumber emisi tidak bergerak. Kemudian dilakukan analisis berdasarkan data yang didapatkan dan dilakukan perbandingan dengan berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 12 tahun 2012. PT. MNO telah melakukan inventarisasi sumber emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari setiap proses kegiatan. Perusahaan ini mengkategorikan sumber emisi gas rumah kaca menjadi 4 bagian yaitu combusting, point source, non point source dan non routine activities. Jika inventarisasi sumber emisi gas rumah kaca dikategorikan berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 12 tahun 2012, maka kategori sumber emisi gas rumah kaca PT. MNO terbagi menjadi 5 kategori yaitu unit pembakaran dalam & luar, unit suar bakar, fugitives, unit tangki timbun dan unit proses dehidrasi. Terdapat perbedaan kategori sumber emisi gas rumah kaca yang ditetapkan oleh PT. MNO dengan yang telah ditentukan oleh pemerintah, namun tidak jauh berbeda dari segi peralatan penghasil sumber emisi gas rumah kaca tersebut.Kata Kunci: Gas Rumah Kaca, Inventarisasi, Sumber Emisi
Kajian Teknis Sistem Penyaliran Tambang Batubara Pada Pit 71n Dan Inpitdump 71 Di Pt. Perkasa Inakakerta Site Bengalon Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur Pangestu Nugeraha
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Perkasa Inakakerta terletak di Kabupaten Kutai Timur, Kecamatan Bengalon. Provinsi Kalimantan Timur. Sistem penambangan yang diterapkan untuk menambang Batubara adalah sistem tambang terbuka dengan metode Open pit Mine. Salah satu kegiatan tambahan pada usaha penambangan adalah penyaliran yang berfungsi untuk mencegah masuknya air (Mine Drainage) atau untuk mengeluarkan air yang telah masuk menggenangi daerah penambangan (Mine Dewatering).Air tambang yang tidak ditanggulangi dengan baik dapat mengganggu operasi penambangan. Kemajuan tambang menyebabkan sistem penyaliran tambang ikut berubah. Oleh karena itu perlu adanya kajian terhadap sistem penyaliran tambang yang ada.Berdasarkan analisis data curah hujan tahun 2009 -2014, diperoleh curah hujan rencana adalah 126,44 mm/hari, intensitas curah hujan sebesar 43,74 mm/jam dengan periode ulang hujan 3 tahun dan resiko hidrologi sebesar 97,3%. Daerah tangkapan hujan pada lokasi penelitian dibagi menjadi 9 daerah tangkapan hujan, yaitu DTHA= 214 Ha, DTH A.1= 48 Ha, DTH B= 111 Ha, DTH B.1 = 7 Ha, DTH C = 130 Ha, DTH D = 84 Ha dan DTH E = 72 Ha. Debit air hujan yang masuk ke inpit dump 71 adalah 21,8 m3/detik dan debit air hujan yang masuk ke pit 71N adalah 3,4 m3/detik.Perlu adanya perbaikan pada saluran terbuka 1, dan 5 yang berfungsi untuk mencegah air limpasan agar tidak meluap dan mengalir menuju bukaan tambang sedangkan saluran terbuka 6 berfungsi untuk mengalirkan seluruh air limpasan dari saluran terbuka 1, 2, 3, dan 4. Dimensi saluran terbuka 1 didasarkan atas debit air limpasan pada DTH A dan DTH A.1, sehingga saluran terbuka memiliki dimensi kedalaman = 2,11 m; lebar bagian bawah = 2,26 m; lebar bagian atas = 4,54 m, dimensi saluran terbuka 5 didasarkan atas debit air limpasan pada DTH E, sehingga saluran terbuka memiliki dimensi kedalaman = 1,6 m; lebar bagian bawah = 1,7 m; lebar bagian atas = 3,5 m, dimensi saluran terbuka 6 didasarkan atas debit air limpasan pada saluran terbuka 1, 2, 3, dan 4 sehingga saluran terbuka memiliki dimensi kedalaman = 3,4 m; lebar bagian bawah = 3,8 m; lebar bagian atas = 7,6 mDiperlukannya peningkatan kapasitas pompa Multiflo 380 sesuai kemampuan pompa dari spesifikasi yaitu dari putaran impeler 1100 rpm yang menghasilkan debit 91,15 m3/jam menjadi putaran impeler 1520 rpm yang menghasilkan debit 300 m3/jam. Menambah jumlah pompa pada sumuran inpit dump 71N yaitu sebanyak 2 buah pompa untuk dapat memindahkan air hujan menuju kolam pengendapan dalam waktu 2 hari. Perawatan kolam pengendapan dilakukan setiap 435 hari pada kompartemen 1, 2 dan 392 hari pada kompartemen 3.Kata Kunci : curah hujan rencana, daerah tangkapan hujan, debit air limpasan, kapasitas pompa, saluran terbuka, kolam pengendapan
Analisis Potensi Baji Pada Terowongan Tambang Dengan Metode Kinematika Di PT. CSD Blok Cibitung Provinsi Banten Frengky Seki Banunaek
Retii Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-12 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas sistem penambangan underground tentunya akan selalu dihadapkan dengan masalah deformasi dan stabilitas suatu terowongan, seperti pada terowongan Cibitung PT. Cibaliung Sumberdaya dapat terganggu karena adanya pengaruh bidang diskontinu, hal ini terkait dengan kekuatan dari massa batuan yang akan dibongkar, salah satu efek dari struktur yang saling berpotongan maka akan membentuk baji (3 joint berpotongan). Penelitian ini dilakukan di PT. Cibaliung Sumberdaya, Analisis kinematika dilakukan dengan bantuan perangkat lunak DIPS sedangkan untuk analisis blok baji dengan menggunakan UNWEDGE. Potensi baji pada tambang bawah tanah pada blok Cibitung terlihat pada atap kiri. Hasil modeling dengan UNWEDGE menunjukan adanya peningkatan FS yang signifikan bila pada blok ambrukan baji di support dengan  split set tipe galvanis dengan panjang 2 m dengan spacing in plane 1.5 m, spacing out of plane 2 m dan shocrete dengan tebal 3 cm diperoleh nilai FS stabil.Kata kunci :  kinematika, DIPS, ambrukan baji, UNWEDGE