cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2015)" : 11 Documents clear
Pengaruh Dosis Pupuk Kalium terhadap Pertumbuhan dan Hasil Wijen Hitam dan Putih Ardo Simare Mare; Dody Kastono; Sri Muhartini
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.092 KB) | DOI: 10.22146/veg.9269

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil wijen hitam dan putih. Penelitian ini dilaksanakan di Kebuh Tridharma Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta pada bulan Desember 2013 sampai dengan Maret 2014. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok lengkap dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk kalium yang terdiri dari 4 taraf, yaitu tanpa pemupukan kalium sebagai kontrol, dosis 30, 60, dan 90 kg/ha. Faktor kedua adalah dua varietas wijen yaitu SBR-1 dan lokal hitam. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam α= 5 %. Apabila terdapat beda nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kalium sampai 90 kg K2O/ha secara nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman pada variabel luas  daun,  berat  kering  tajuk,  dan  luas  akar. Analisis pertumbuhan yang dilakukan juga menunjukkan adanya peningkatan indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, dan indeks panen secara nyata. Perlakuan dosis pupuk kalium sebesar 30 kg K2O/ha meningkatkan komponen hasil dan hasil tanaman wijen yang ditunjukkan pada variabel jumlah polong, berat 1000 biji, dan berat biji per tanaman. Interaksi antara perlakuan dosis pupuk kalium dan varietas wijen berpengaruh nyata terhadap kandungan minyak wijen. Kombinasi perlakuan dosis pupuk kalium 90 kg K2O/ha pada wijen lokal hitam memberikan kandungan minyak tertinggi yaitu sebesar 49,70 %.
PENGARUH TAKARAN PUPUK KANDANG SAPI DAN MAGNESIUM SULFAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL WIJEN (Sesamum indicum L.) DI LAHAN PASIR PANTAI Danu Santoso; Taryono Taryono; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.759 KB) | DOI: 10.22146/veg.9270

Abstract

Wijen (Sesamum indicum L.) merupakan salah satu komoditas yang mempunyai nilai ekonomi sangat tinggi, namun produksi wijen dalam negeri masih rendah. Pengembangan budidaya wijen dapat dilakukan pada lahan-lahan kritis yang salah satunya adalah lahan pasir pantai. Sifat lahan pasir pantai yang miskin hara dapat diatasi dengan penambahan bahan organik dalam bentuk pupuk kandang sapi. Selain itu untuk mengawali pembentukan minyak pada biji wijen dibutuhkan kandungan sulfur yang cukup dan kebutuhan sulfur ini dapat dipenuhi dengan pemberian magnesium sulfat. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh takaran pupuk kandang sapi dan magnesium sulfat (MgSO4.7H2O) terhadap pertumbuhan dan hasil wijen dan 2) mendapatkan takaran optimal kombinasi pupuk kandang sapi dan magnesium sulfat pada penanaman wijen di lahan pasir pantai. Percobaan dilakukan dengan memberikan dua perlakuan yaitu takaran pupuk kandang sapi (0; 10; 20; dan 30 ton/ha), dan takaran magnesium sulfat (0; 70; dan 140 kg/ha) yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) faktorial dengan tiga blok sebagai ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap beberapa variabel pertumbuhan dan daya hasil wijen. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa takaran pupuk kandang sapi berinteraksi dengan magnesium sulfat dan memberikan pengaruh positif terhadap bobot kering total, jumlah polong, serta daya hasil wijen di lahan pasir pantai. Kombinasi takaran optimum untuk penanaman wijen di lahan pasir pantai adalah 54 ton pupuk kandang sapi dan 70 kg magnesium sulfat pada setiap hektar lahan dengan hasil 755 kg/ha.
PENGARUH SKARIFIKASI DAN LAMA PERENDAMAN AIR TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH DAN PERTUMBUHAN BIBIT SAWO (Manilkara zapota (L.) van Royen) Erwina Yuni Hastuti; Setyastuti Purwanti; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.858 KB) | DOI: 10.22146/veg.9271

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan cara yang efektif guna mengatasi dormansi biji keras pada benih sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen). Penelitian dilaksanakan di Monggang, Pendowoharjo, Sewon, Bantul pada bulan November 2013 sampai Mei 2014. Untuk menghilangkan dormansi bijinya,  perlakuan  yang  digunakan  adalah  dikikir  dengan  amplas,  dipotong dengan pemotong kuku, direndam dalam air selama 24 jam, direndam dalam air selama 48 jam, direndam dalam air selama 72 jam, dan tanpa diperlakukan (kontrol). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan   dengan uji jarak berganda Duncan’s (DMRT) pada level 5% apabila hasil yang diperoleh berbeda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih sawo dalam air selama 24 jam dapat mengatasi sifat kulit keras benih dengan meningkatkan gaya berkecambah benih hingga 93%. Pertumbuhan bibit sawo menunjukkan hasil yang sama antara benih yang diskarifikasi dan direndam dalam air maupun benih yang tidak diperlakukan. Benih sawo yang diskarifikasi dengan pemotong kuku menunjukkan  gaya  berkecambah  64%  dan  pertumbuhan  bibit  yang  paling rendah.
HASIL DAN KUALITAS BENIH KACANG HIJAU (Vigna radiata (L.) Wilczek) TUMPANGSARI BARISAN DENGAN JAGUNG MANIS (Zea mays kelompok Saccharata) Gunawan Koko Lingga; Setyastuti Purwanti; Toekidjo Toekidjo
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.827 KB) | DOI: 10.22146/veg.9273

Abstract

Tumpangsari dapat dijadikan solusi dalam peningkatan produksi kacang hijau di lahan sempit, baik untuk konsumsi maupun penggunaan benih secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil dan kualitas benih kacang hijau yang ditanam secara tumpangsari dengan jagung manis dibandingkan monokultur, serta mengetahui komposisi jumlah  baris  optimal  pada  tanaman  kacang hijau yang ditanam secara tumpangsari dengan jagung manis. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Banguntapan dan Laboratorium Teknologi   Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan Juni - Oktober 2014. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 6 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan ini terdiri atas kombinasi jumlah baris kacang hijau : jagung manis, yaitu 3:1, 4:1, 5:1, 6:1. Pengamatan dilakukan terhadap komponen pertumbuhan kacang hijau, komponen hasil kacang hijau, kualitas benih kacang hijau, dan Land Equivalent Ratio (LER). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari kacang hijau dengan jagung manis memberikan pertumbuhan dan kualitas benih kacang hijau yang sama baiknya dengan pertanaman monokultur. Pola pertanaman tumpangsari 4, 5, dan 6 baris diikuti dengan 1 baris jagung manis memberikan  hasil  persentase  polong  isi/tanaman  serta jumlah biji/polong kacang hijau yang sama baiknya. Pola pertanaman tumpangsari 3, 4, 5 dan 6 baris diikuti dengan 1 baris jagung manis juga memberikan hasil benih kacang hijau yang sama baiknya terhadap komponen jumlah polong/tanaman serta berat benih kering/hektare kacang hijau. Pola pertanaman tumpangsari 6 baris kacang hijau diikuti dengan 1 baris jagung manis direkomendasikan karena memiliki LER > 1.
PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN LIMBAH TAHU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAYAM (Amaranthus tricolor L.) PADA MEDIA PASIR PANTAI Kartika Kusumawati; Sri Muhartini; Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.49 KB) | DOI: 10.22146/veg.9274

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah cair industri tahu dengan konsentrasi dan frekuensi berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil bayam (Amaranthus tricolor L.) pada media pasir pantai. Penelitian   dilakukan di kebun milik petani di daerah Mbutuh, Sidorejo, Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah pada Bulan Oktober sampai November 2014. Bahan yang  digunakan  adalah  bayam  cabut,  pupuk  cair  organik  “SOLUSI“, limbah  padat  industri tahu, limbah cair industri tahu dan pupuk kandang. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari perlakuan control dan 2 faktor. Faktor pertama adalah jenis pupuk dan konsentrasi terdiri dari perlakuan pupuk cair organik “SOLUSI” pada   konsentrasi 2% sebagai pembanding dan limbah cair tahu pada konsentrasi 2%, 5%, 10%, dan 15%. Sedangkan faktor kedua adalah frekuensi penyiraman yaitu 3 dan 5 kali pemupukan. Masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan.  Data  yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian dilanjutkan dengan uji kontras orthogonal dan Duncan Multiple Range Test pada tingkat signifikansi 5%. Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah cair tahu pada konsentrasi 15% dengan frekuensi penyiraman 5 kali berpotensi untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil bayam dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Namun, peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman bayam akibat penambahan pupuk limbah  cair tahu  pada  konsentrasi 15% dengan  frekuensi penyiraman  3  kali masih kurang optimal apabila dibandingkan dengan pemberian pupuk organik cair “SOLUSI”. Berdasarkan hasil analisis kandungan unsure hara, kandungan N, P, K, dan Ca pada pupuk limbah cair tahu lebih rendah dibandingkan pupuk organik cair komersial ”SOLUSI”. Penelitian mengenai potensi limbah cair tahu sebagai alternatif pupuk organik masih perlu dilakukan lebih lanjut dengan menggunakan   konsentrasi yang lebih tinggi pada tanaman bayam untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.
TANGGAPAN TANAMAN KANGKUNG (Ipomea reptans Poir.), BAYAM (Amaranthus tricolor L.), DAN SELADA (Lactuca sativa L.) TERHADAP PENGAYAAN KALSIUM SECARA HIDROPONIK Lana Khimayatur Rohmaniyah; Didik Indradewa; Eka Tawarca Susila Putra
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.956 KB) | DOI: 10.22146/veg.9276

Abstract

Tiga percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Ca dalam larutan nutrisi terhadap pertumbuhan, hasil dan kadar kalsium serta kandungan kalsium pada tanaman kangkung (Ipomea reptans, Poir.), bayam (Amaranthus L.), dan selada (Lactuca sativa L.) yang ditanam secara hidroponik. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada mulai bulan Juni sampai Agustus 2012. Rancangan yang digunakan untuk masing-masing percobaan adalah Rancangan Acak  Lengkap  (RAL)  dengan  tiga  ulangan.  Perlakuan  pada  penelitian  ini merupakan perbedaan konsentrasi kalsium dalam larutan nutrisi yaitu 0, 100, 200, 300, dan 400 ppm. Sumber senyawa Ca yang digunakan adalah Ca(NO3)2.4H2O. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pemberian konsentrasi Ca sampai konsentrasi Ca 400 ppm dalam larutan nutrisi tidak meningkatkan proses fisiologis, pertumbuhan, dan hasil kangkung dan bayam, namun mampu meningkatkan   proses fisiologis, pertumbuhan, dan hasil pada tanaman selada. Peningkatan konsentrasi Ca sampai 400 ppm dalam larutan nutrisi selalu diikuti oleh peningkatan kadar dan kandungan kalsium dalam jaringan daun tanaman kangkung dan bayam. Kadar optimum Ca pada selada dapat dicapai pada 175 ppm, namun kandungan kalsium dalam jaringan daun masih meningkat sampai pemberian Ca 400 ppm. Kesimpulan, bila seseorang mengkonsumsi harian 250 g daun kangkung, bayam, dan selada, kangkung mampu menyumbang 16%, bayam menyumbang 12,3% dan selada hanya menyumbang 6,4% dari kebutuhan Ca manusia yaitu 800mg Ca/orang/hari.
PENGARUH PEMBERIAN KOMPOS LIMBAH MEDIA TANAM JAMUR PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir.) Muhammad Syihabul Fikri; Didik Indradewa; Eka Tawarca Susila Putra
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.901 KB) | DOI: 10.22146/veg.9277

Abstract

Kangkung darat (Ipomoea reptans Poir.) merupakan tanaman sayur bernilai ekonomi tinggi dan bersifat khas daerah tropis yang digemari oleh masyarakat.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aplikasi kompos limbah media tanam jamur tiram dan kuping terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil kangkung darat serta menentukan dosis yang optimal. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorial. Faktor pertama yaitu jenis limbah jamur dengan 2  taraf perlakuan limbah jamur tiram (P1) dan limbah jamur kuping (P2). Faktor kedua yaitu dosis pupuk limbah jamur dengan 3 taraf perlakuan, takaran 10 ton/ha (T1), takaran 20 ton/ha (T2) dan takaran 40 ton/ha (T3). Kontrol pada penelitian ini adalah tanpa pemberian pupuk kompos limbah jamur. Aplikasi kompos bersumber limbah media tanam jamur kuping dan tiram mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat. Kompos media tanam jamur kuping 29,5 ton/ha mampu memaksimalkan pertumbuhan, hasil dan kualitas hasil tanaman kangkung darat. Takaran pupuk kompos media tanam jamur tiram belum menunjukkan titik optimum.
KERAGAMAN MOLEKULER PURING (Codiaeum variegatum (L.) Rumph. ex A. Juss) DENGAN PENANDA RAPD Monika Andreastuti Kusumaningrum; Aziz Purwantoro; Rudi Hari Murti
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.545 KB) | DOI: 10.22146/veg.9279

Abstract

Tanaman puring (Codiaeum variegatum (L.) Rumph. ex A. Juss) adalah tanaman hias yang memiliki nilai jual tinggi. Tanaman puring juga memiliki manfaat sebagai tanaman berkhasiat obat dan dapat menyerap unsur timah hitam yang berasal dari sisa pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor (2,05 mg/lt). Bentuk, warna, dan corak daun tanaman puring sangat beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya keragaman genetik, menghitung jarak genetik, dan menduga adanya alel spesifik pada tanaman puring. Sampel DNA diektraksi dari daun 20 kultivar tanaman puring. Metode PCR menggunakan 10 primer yaitu OPA-02, OPA-03, OPA-14, OPA-16, OPA-18, OPA-20, OPB-08, OPB-19, OPD-05, dan OPH-18. Hasil amplifikasi menunjukkan tingkat polimorfisme yang cukup tinggi. Persentase lokus polimorfik dan nilai heterosigositas harapan (He) paling tinggi ditunjukkan oleh kultivar tanaman puring dengan daun yang berwarna kombinasi hijau-merah yaitu 56,60% dan 0,190. Kultivar yang berlabel H1 dengan HK1 memiliki hubungan kekerabatan paling dekat diantara kultivar lain, sedangkan kultivar  yang  berlabel HK3 dengan HKM5 dan kultivar berlabel HK5 dengan HKM4 memiliki hubungan kekerabatan paling jauh diantara kultivar lain. Hasil dari dendogram UPGMA dan PCoA (Principal Coordinates Analysis) menempatkan 20 kultivar kedalam 2 klaster dan salah satu klaster ditempati oleh kultivar dengan daun yang berwarna kombinasi hijau-kuning-merah. Dari seluruh kelompok warna pada sampel, alel spesifik yang dapat terdeteksi pada satu kelompok/populasi warna hanya terdapat pada kelompok HKM yaitu pada OPD 05-1400 dan OPH 18-300.
PENGARUH TAKARAN KOMPOS BLOTONG DAN UMUR SIMPAN MATA TUNAS TUNGGAL TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TEBU (Saccharum officinarum L.) Rivandi Pranandita Putra; Prapto Yudono; Endang Sulistyaningsih
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.853 KB) | DOI: 10.22146/veg.9280

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kombinasi perlakuan takaran kompos blotong dan umur simpanmatatunas tunggal (budchip) terhadap pertumbuhan bibit tebu. Penelitian ini merupakan penelitian pot, dilaksanakan di Kebun Percobaan  Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada di Banguntapan, Yogyakarta pada tanggal 6 Februari hingga 1 Mei 2014. Penelitian ini merupakan rancangan percobaan faktorial 4x4, dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) 3 ulangan. Faktor pertama adalah perlakuan umur simpan budchip, yaitu 0 (kontrol); 1; 2; dan 3 hari. Faktor kedua adalah takaran kompos blotong, yaitu 0 (kontrol); 1,67; 3,33; dan 5 kg.Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tumbuh tanaman menurun seiring dengan lamanya waktu penyimpanan budchip. Persentase daya tumbuh budchip yang disimpan 0, 1, 2, dan 3 hari berturut-turut sebesar 100%, 100%, 44,44%, dan 0%. Budchip memiliki cadangan makanan yang sedikit dan jaringan terbuka yang luas pada bekas pemotongan sehingga persentase perkecambahannya cepat menurun.  Tidak  terdapat  interaksi  antara  perlakuan umur  simpan  budchip  dengan  takaran kompos blotong pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah ruas batang, panjang ruas batang, dan jumlah anakan pada semua umur pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan tanaman korban 12 mst, terdapat interaksi antara perlakuan umur simpan budchip dengan takaran kompos blotong pada parameter berat segar tajuk dan berat kering tajuk, namun tidak terdapat interaksi pada parameter panjang akar, jumlah akar, berat segar akar, berat segar total, luas daun, berat kering akar,  berat  kering total,  klorofil a,  klorofil b,  dan  klorofil total.  Analisis regresi pada  beberapa parameter pengamatan menghasilkan persamaan linier yang berarti kenaikan takaran kompos blotong diikuti kenaikan pertumbuhan bibit tebu. Peningkatan takaran kompos blotong yang diberikan memberikan hasil yang lebih baik terhadap pertumbuhan bibit tebu. Umur simpan budchip yang menghasilkan bibit tebu dengan pertumbuhan bibit tebu terbaik adalah perlakuan penyimpanan satu hari.
HUBUNGAN ANTARA KOMPONEN HASIL DAN HASIL WIJEN (Sesamum Indicum L.) Siska Permata; Taryono Taryono; Suyadi Mitrowihardjo
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.878 KB) | DOI: 10.22146/veg.9281

Abstract

Dalam rangkaian program pemuliaan tanaman untuk meningkatkan produktivitas wijen, informasi keragaman dan hubungan antar sifat sangat penting untuk menentukan keberhasilan seleksi. Oleh karena itu, penelitian untuk mengetahui besarnya keragaman genetik pada komponen hasil dan hasil wijen, serta mengetahui komponen hasil yang berpengaruh langsung terhadap hasil wijen merupakan kajian yang sangat penting. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2012 di Padangan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan bahan tanam adalah benih tetua SBR3, SBR2, Turki DT36, F1 dan F2 hasil persilangan antara SBR3 x SBR2, SBR3 x Turki DT36, SBR2 x Turki DT36 dan resiproknya. Benih ditanam secara rapat pada petak-petak sesuai dengan galurnya. Hasil penelitian menunjukkan komponen yang memiliki keragaman besar secara berturut-turut yaitu berat biji per tanaman (68,43%), berat polong (40,532%), jumlah cabang (33,251%), jumlah polong (30,269%), tinggi tanaman (21,256%), dan jumlah ruas (15,511%). Nilai heritabilitas tinggi terdapat pada tinggi tanaman (65,52%) dan umur panen (55,00%). Nilai heritabilitas sedang terdapat pada jumlah ruas (21,91%), umur berbunga (44,68%), berat biji per tanaman (27,05%). Komponen hasil yang berkorelasi positif nyata terhadap hasil adalah tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, berat polong, jumlah ruas, dan umur berbunga. Komponen hasil yang memiliki pengaruh langsung terhadap hasil adalah tinggi tanaman, jumlah polong, berat polong, umur berbunga, dan berat 1000 biji. Kelima komponen hasil tersebut dapat dijadikan indek seleksi terhadap hasil.

Page 1 of 2 | Total Record : 11