cover
Contact Name
Muhammad Amin Sunarhadi
Contact Email
mamin.sunarhadi@staff.uns.ac.id
Phone
+6281390716299
Journal Mail Official
jurnalekosains@gmail.com
Editorial Address
Ilmu Lingkungan FMIPA Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36A, Kentingan, Jebres Surakarta 57126 INDONESIA
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ekosains
ISSN : 19797826     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ekosains mempublikasikan hasil penelitian di bidang lingkungan maupun interdisipliner terkait yang belum pernah dipublikasikan atau sedang dipertimbangkan untuk dipublikasikan di jurnal lain. Jurnal Ekosains menerima artikel baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris yang mencakup beberapa topik kajian lingkungan antara lain: Manajemen lingkungan Ekologi Lingkungan Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pembangunan dan Lingkungan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Perencanaan dan Administrasi Lingkungan Kesehatan lingkungan Teknik Lingkungan dan Pencemaran Lingkungan, dan Sistem Informasi Lingkungan Manajemen Bencana
Articles 72 Documents
KEMAMPUAN KULTIVAR Sanseviera trifasciata DALAM MENYERAP GAS KARBONMONOKSIDA (CO) ASAP ROKOK Whika Febria Dewatisari; Melly Lyndiani
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.746 KB)

Abstract

Pencemaran dalam ruangan cenderung disebabkan oleh asap rokok. Gas pencemar dari asap rokok yang paling berpengaruh bagi tubuh manusia adalah gas karbon monoksida(CO) dan gas karbon dioksida (CO2). Sansevieria trifasciata merupakan contoh tanaman hias yang sering diletakkan di perkantoran, hotel, maupun rumah sebagai penetralisisr polusi. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa Sanseveira mampu menyerap 107 jenis racun. Termasuk racun-racun yang terkandung dalam polusi udara (karbonmonoksida), racun rokok, bahkan radiasi nuklir.Riset lainnya dapat disimpulkan bahwa untuk ruangan seluas 100 m3 cukup ditempatkan Sansevieria dewasa berdaun 5 helai daun agar ruangan itu bebas polutan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan penyerapan gas CO keenam kultivar  S. trifasciata setelah pemaparan asap rokok dan mengetahui kultivar mana yang memiliki kemampuan penyerapan gas CO terbaik menyerap gas CO.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satuan percobaan homogen atau tidak ada faktor lain yang mempengaruhi respon di luar faktor yang diteliti. Rancangan ini menggunakan lima macam perlakuan.Analisa dilakukan selama penelitian dan secara menyeluruh  mulai dari tahap kalibrasi, pemaparan gas pencemar karbon monoksida (CO), menentukan tanaman yang memiliki penyisihan terbesar dalam penurunan polutan gas CO dan efek yang ditimbulkan terhadap tanaman. Data hasil pengamatan disusun dalam tabel kemudian dianalisis secara statistik dengan menggunakan Anova. Apabila terdapat pengaruh perlakuan yang berbeda nyata maka pengujian dilanjutkan dengan uji jarak Duncan/Duncan Multiple Range Test (Gaspersz, 1991).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar terbaik dalam menyerap kadar CO dari polutan asap rokok adalah S. trifasciata “Green tiger” yaitu sebesar 76%  dan kultivar terbaik dalam menyerap kadar CO2 dari polutan asap rokok adalah S. trifasciata “Green tiger” sebesar 80.07 %, serta yang mengalami kerusakan stomata paling banyak adalah S. trifasciata “Green tiger” ysitu sebesar 13.33%.
PEMANFAATAN P-ORGANIK TEPUNG CANGKANG TELUR DAN Mikoriza arbuskular (MA) UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI DI LAHAN KERING Mariani M; I Made Sudantha; Wahyu Astiko
Ekosains Vol 8, No 02 (2016)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.44 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil kedelai yang diperlakukan dengan berbagai dosis MA dan tepung cangkang telur. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Banyu Urip Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat mulai bulan Juni sampai Agustus 2015. Penelitian ini dirancang menggunakan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu dosis MA dan tepung cangkang telur. Faktor dosis MA (F) terdiri dari tiga aras yaitu f1 (dengan MA 150 kg/ ha) dan f2 (dengan MA 200 kg/ ha) dan (dengan MA 250 kg/ ha). Faktor dosis tepung cangkang telur (T), yang terdiri dari lima aras yaitu: t0 (tanpa tepung cangkang telur), t1 (dengan tepung cangkang telur 50 kg/ ha), t2 (dengan tepung cangkang telur 100 kg/ ha), t3 (dengan tepung cangkang telur 150 kg/ ha) dan t4 (dengan tepung cangkang telur 200 kg/ ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Dosis tepung cangkang telur 200 kg/ ha dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai; (2) Dosis MA tidak dapat meningkatkan pertumbuhan, namun dapat meningkatkan hasil tanaman kedelai. (3) Derajat kolonisasi akar berhubungan kuat dengan dosis tepung cangkang telur dibandingkan dengan dosis MA dan (4) ketersediaan hara N dan P juga berhubungan kuat dengan derajat kolonisasi akar.
HUBUNGAN PAJANAN KADAR DEBU KAYU LINGKUNGANDENGAN KAPASITAS FUNGSI PARU PADAKARYAWANBAGIAN PRODUKSI DI CV. VALASINDO SENTRA USAHA KABUPATEN KARANGANYAR Sadakhir Muryito; Sunarto S; Diffah Hanim
Ekosains Vol 9, No 01 (2017)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.37 KB)

Abstract

Industri mebel mampu memberikan pengaruh positif terhadap pergerakan pertumbuhan ekonomi daerah. Dampak negatip industri adanya pajanan kadar debu 80% melalui sistem pernafasan (per inhalasi) sehingga akan memberikan risiko gangguan fungsi paru dan penyakit akibat kerja seperti pneumokoniosis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Hubungan Pajanan Kadar Debu Kayu Lingkungan Dengan Kapasitas Fungsi Paru Pada Karyawan Bagian Produksi CV. Valasindo Sentra Usaha Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi adalah pekerja yang terpajan debu kayu lingkungan di bagian produksi.Jumlah subjek penelitian 32orang.Instrumen yang digunakan pada penelitian adalah kuesioner untuk karakteristik subjek.Pemeriksaan dan pengukuran fungsi paru menggunakan kuesioner dan spirometer. High volume dust sampler digunakan untuk mengambil contoh debu kayu lingkungan kerja. Analisis dengan korelasi Rank Spearman dengan korelasi tingkat kemaknaan pada tingkat 0.05.hasil Ada hubungan bermakna antarapajanan kadar debu kayu lingkungan dengan kapasitas fungsi paru pada karyawan bagian produksi,  nilai = 0,031, dan nilai korelasi Rank Spearman 0.383 yang menunjukan arah korelasi positip dengan kekuatan korelasi rendah atau lemah. Hubungan yang lemah antara kadar debu kayu lingkungan dengan kapasitas fungsi paru  tercermin dalam nilai Spearman  sebesar 38,3 %, sedangkan kapasitas fungsi paru berhubungan dengan faktor lainya terindikasi dalam penelitian ini sebesar 61,7 %.
Analisis Kondisi Sanitasi Permukiman di Kota Yogyakarta Tahun 2015 Naris Dyah Prasetyawati; Evi Gravitiani; Sunarto Sunarto; Sigid Sudaryanto
Ekosains Vol 10, No 3 (2018)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.207 KB)

Abstract

Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Parameter dalam penilaian rumah sehat meliputi: komponen rumah, sarana sanitasi dan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sanitasi permukiman di Kota Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah observasional. Sampel diambil dengan menggunakan tehnik multi-stage random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 597 kepala keluarga di Kota Yogyakarta. Data kondisi sanitasi rumah yang terdiri dari komponen rumah, sarana sanitasi, perilaku dan keberadaan vektor, diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Sementara, data lingkungan fisik rumah dikumpulkan dengan cara pengukuran, yaitu suhu dan kelembaban menggunakan thermohygrometer, pencahayaan menggunakan lux meter dan kebisingan menggunakan sound level meter). Hasil penelitian pada penilaian sanitasi rumah, prosentase rumah sehat sebesar 30,49% dan rumah kurang sehat 69,51%. Kesimpulan penelitian, yaitu kondisi sanitasi permukiman di Kota Yogyakarta termasuk kategori rendah.
KAJIAN SENSITIFITAS KAWASAN TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) K.G.P.A.A MANGKUNAGORO I KARANGANYAR Hendro Widiyanto; Slamet Minardi; Sunarto S
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.057 KB)

Abstract

Taman Hutan Raya (TAHURA) KGPAA Mangkunagoro I Karanganyar mempunyai fungsi sebagai sistem penyangga kehidupan, pelestarian keanekaragaman hayati beserta ekosistem dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan kawasan TAHURA secara efektif dan efesien untuk menjaga kelestarian fungsi TAHURA, diperlukan penataan kawasan berupa penentuan blok/zonasi ke dalam unit-unit bagian. Kajian sensitifitas ekologi digunakan sebagai kriteria dalam penentuan blok/zonasi kawasan TAHURA. Penelitian ini bertujuan 1. Mengidentifikasi kriteria Sensitifitas kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I Karanganyar 2. Menentukan blok/zonasi kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I  berdasarkan tingkat sensitifitas. Penggabungan penggunaan Sistem Informasi Geografis (GIS) dan survei digunakan untuk mengukur tingkat sensitifitas ekologi terhadap pengaruh dinamika perubahan ekologi sesuai fungsi masing-masing blok/zonasi kawasan TAHURA. Survei vegetasi dan satwa digunakan untuk mengetahui potensi biotik kawasan TAHURA. Pengambilan sampel vegetasi dan satwa dengan membuat metode transek line masing-masing jarak 400m,  jumlah sampel vegetasi sebanyak 46 petak ukur  dan jumlah sampel satwa (aves) sebanyak 25 petak ukur. Pengambilan sampel vegetasi bentuk petak ukur bujur sangkar dengan ukuran kuadrat sesuai tingkat pertumbuhan, jarak antar petak ukur 100m. Pengamatan satwa (aves) dalam radius 50m dengan jarak antar titik pengamatan 200m.Hasil survei vegetasi dan satwa diklasifikasikan dalam penilaian skoring, selanjutnya dimasukan kedalam peta vegetasi dan peta satwa. Peta kelerengan dan ketinggian tempat dibuat dengan metode Digital Elevation Model (DEM) dari peta kontur Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1:25.000 dengan interval ketinggian 12,5m dengan memanfaatkan software ArcGIS 10.0. Penentuan sensitifitas ekologi merupakan hasil overlay atau tumpang susun dari peta vegetasi, peta satwa, peta ketinggian tempat, dan peta kelerengan TAHURA.Hasil penelitian menunjukkan tingkat Sensitifitas kawasan TAHURA Mangkunagoro I dalam penentuan blok/zonasi, yaitu: blok/zona perlindungan 107,25 ha (41,0%) sangat sensitive, blok koleksi sangat sensitif dan sensitif 136,51 ha (52,2%), blok pemanfaatan 17,46 ha (6,7%) sensitif dan tidak sensitive, dan areal 0,46 ha (0,2%) tidak sensitif  berada di tengah blok perlindungan masih direncanakan sebagai blok/zona tradisional. Berdasarkan tingkat sensitifitas kawasan TAHURA Mangkunagoro I, yaitu: sangat sensitif 130,48 ha (49,9%), sensitif 122,66 ha (46,9%), dan tidak sensitif 8,55 ha (3,2%).
GREEN EARTH COMMUNITY: TRIAD PROGRAMS UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN HIDUP BERSIH DAN SEHAT Athok Shofiudin Ma’arif; Astari Febyane Putri; Azka Amana Rosyida; Eno Yuniar; Habiba Nur Laili
Ekosains Vol 8, No 02 (2016)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.414 KB)

Abstract

Kebersihan lingkungan menentukan kualitas kesehatan penduduk dalam suatu wilayah. Kampung Gulon mempunyai tingkat kesehatan lingkungan rendah yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Faktor penyebabnya adalah faktor geografis, pengolahan sampah yang buruk, dan kurangnya resapan air. Mayoritas masyarakat Kampung Gulon adalah masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah dengan pekerjaan sebagai pedagang. Rendahnya pengetahuan dan  kesadaran akan lingkungan menyebabkan banyak warga memiliki kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai. Tujuan pengabdian ini untuk meningkatkan kesadaran dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan nilai wilayah baik dari segi kebersihan, keindahan, sumber daya manusia serta gotong royong. Kesimpulannya adalah pengabdian ini dapat meningkatkan kepedulian warga Kampung Gulon terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan sehingga terbentuk lingkungan yang lebih bersih dan teratur.
UJI CAMPURAN Trichoderma spp. DENGAN EKSTRAK FUNGISIDA (KUNYIT DAN DAUN SIRIH) TERHADAP JAMUR Fusarium oxysporum f.sp. capsici PENYEBAB PENYAKIT LAYU PADA TANAMAN CABAI Uswatun Hasanah; Ni Made Laksmi Ernawati; I Made Sudantha
Ekosains Vol 8, No 03 (2016)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.207 KB)

Abstract

Penyakit layu Fusarium merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman cabai. Salah satu pengendalian ramah lingkungan yang dapat dilakukan adalah dengan penggunaan jamur Trichoderma sp. dan ekstrak Fungisida Nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh campuran jamur Trichoderma spp. dan beberapa ekstrak fungisida nabati dalam menekan Fusarium oxysporum  f.sp. capsici penyebab penyakit layu pada tanaman cabai. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Metode yang digunakan adalah metode experimen yang dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan faktorial. Faktor pertama adalah isolat Trichoderma spp. (T) yang terdiri dari 3 aras yaitu: t0 (tanpa Trichoderma, t1 (Trichoderma viride/Endo) dan t2 (Trichoderma koningii/Sapro). Faktor kedua adalah ekstrak fungisida nabati  (E) yang terdiri dari 3 aras yaitu: e0 (tanpa ekstrak), e1 (ekstrak kunyit) dan e2 (ekstrak sirih). Faktor ketiga adalah isolat Fusarium oxysforum f. sp. capsici (F) yang terdiri dari 2 aras yaitu: f0 (tanpa Fusarium) dan f1 (dengan Fusarium). Hasil menunjukkan bahwa campuran jamur Trichoderma sp. dengan ekstrak fungisida nabati (daun sirih dan umbi kunyit) bersifat antagonis terhadap jamur F.oxysporum f.sp. capsici pada tanaman cabai pada uji semi in vivo, dengan menurunkan infeksi Fusarium oxysporum f.sp. capsici sebesar 60,05%.
DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN SUNGAI BATANGHARI MENGGUNAKAN PROGRAM QUAL2KW Dian C.A.; Purwanto P; Sudarno S
Ekosains Vol 7, No 02 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.094 KB)

Abstract

Sungai Batanghari pada Kabupaten Dharmasraya berada pada penggal hulu pada kesatuan hidrologis sehingga mempengaruhi kualitas air Sungai Batanghari pada bagian hilirnya. Sungai Batanghari pada Kabupaten Dharmasraya ini mendapat beban pencemaran yang cukup tinggi juga dari aktifitas ekonomi seperti limbah industri, limbah domestik, aktifitas pertambangan galian C, aktifitas pertambangan emas rakyat. Penghitungan daya tampung beban pencemaran sungai dilakukan untuk mengetahui besaran beban pencemar yang masuk, daya tampung beban pencemar sungai dan selisih antara daya tampung dengan beban yang masuk.Menghitung daya tampung beban pencemaran pada Sungai Batanghari dapat dilakukan dengan menggunakan metode QUAL2Kw. Pada penghitungan daya tampung beban pencemaran ini dilakukan dengan membagi Sungai Batanghari cluster Kabupaten Dharmasraya menjadi 4 penggalan (reach) yang terdiri dari 5 lokasi titik sampling dan mutu air sasaran adalah baku mutu air kelas II PP 82 Tahun 2001. Adapun daya tampung beban pencemar yang dilakukan penghitungan adalah total suspended solid (TSS), biological oxygen demand (BOD), dan chemical oxygen demand (COD).Hasil penelitian pada Sungai Batanghari cluster Kabupaten Dharmasraya menunjukkan beban pencemar parameter TSS sebesar 27,02 ton/jam, daya tampung beban pencemaran sungai parameter TSS sebesar 8,80 ton/jam sehingga telah kelebihan beban pencemar TSS sebesar 18,22 ton/jam. Beban pencemar parameter BOD sebesar 4,49 ton/jam, daya tampung beban pencemaran sungai parameter BOD sebesar 13,91 ton/jam jadi masih tersedia kemampuan sungai untuk menampung beban pencemar BOD sebesar 9,41 ton/jam. Beban pencemar parameter COD sebesar 50,33 ton/jam, daya tampung beban pencemaran sungai parameter COD sebesar 29,63 ton/jam sehingga telah kelebihan beban pencemar COD sebesar 20,70 ton/jam.
IMPLEMENTASI KELEMBAGAAN FORUM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI BERBASIS MASYARAKAT AL. Sentot Sudarwanto
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.698 KB)

Abstract

Pengelolaan DAS merupakan upaya yang sangat penting sebagai akibat terjadinya penurunan kualitas lingkungan DAS yang disebabkan oleh pengelolaan Sumber Daya Alam yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu pengelolaan DAS harus diselenggarakan melalui perencanaan, pelaksanaan, peran serta, pemberdayaan masyarakat, pendanaan, monitoring dan evaluasi, pembinaan dan pengawasan serta pendayagunaan sistem informasi pengelolaan DAS. Untuk menghindari terjadinya tumpang tindih pelaksanaan program antar lembaga dan terwujudnya prinsip efisiensi dan efektivitas dalam mewujudkan pengelolaan DAS yang baik perlu adanya keterpaduan kelembagaan Pengelolaan DAS dengan peran serta dan pemberdayaan potensi masyarakat. Pengembangan kelembagaan pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang dilakukan dengan kerjasama, koordinasi, integrasi, singkronisasi dan sinergi lintas sektor dan antarwilayah di dalam DAS sangat mendesak untuk segera dilakukan karena tingkat kerusakan semakin meningkat dari tahun ke tahun.Untuk dapat terlaksananya pengelolaan DAS secara terpadu, maka rencana pengelolaan DAS harus dibuat oleh pemerintah atau pemerintah daerah di setiap tingkatan dengan memperhatikan dan melibatkan peran serta masyarakat baik perorangan/pribadi maupun forum koordinasi pengelolaan DAS dan dilaksanakan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat. Penguatan dan peningkatan kapasitas Forum Koordinasi Pengelolaan DAS  dan kelompok masyarakat peduli DAS perlu dilakukan secara periodik dan berkelanjutan untuk berperan serta dalam pengelolaan DAS secara maksimal. Selain itu perlu adanya sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 413.2/8162/PMD tertanggal 07 Oktober 2014 perihal Pedoman Umum Pengelolaan DAS Berbasis Masyarakat oleh BPDAS bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pengelolaan DAS kepada seluruh stakeholders yang terkait dengan Pengelolaan DAS.
PENERAPAN PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI TAHU DI KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR Sigit Setyawan Bomantoro
Ekosains Vol 8, No 01 (2016)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.789 KB)

Abstract

Industri pembuatan tahu merupakan salah satu industri rumah tangga yang banyak tersebar di kota besar maupun kota kecil di Indonesia, yang sebagian besar masih dilakukan secara tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan produksi bersih dan seberapa besar pengaruh penerapan produksi bersih pada proses pembuatan tahu terhadap biaya produksi, kualitas dan kuantitas tahu pada industry tahu milik Bapak Waras di Loa Janan Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.Pelaksanaan penelitian dilakukan melalui tahap inventarisasi yang meliputi pengamatan dan pengukuran baik sebelum diterapkan konsep produksi bersih maupun setelah diterapkan konsep produksi bersih.Secara detail pemakaian air bersih mengalami pengurangan sebesar 50%, limbah cair yang dihasilkan mengalami penurunan hingga 50%, pemakaian bahan bakar dapat dikurangi hingga 55,5%, tenaga kerja yang diperlukan dapat dikurangi dari 8 orang menjadi 4 orang. Produk tahu yang dihasilkan berwarna putih, lebih kenyal dan mampu bertahan hingga 48 jam. Bahan baku tahu (kedelai) pun mengalami penurunan 4,29%. Waktu produksi bisa ditekan 40% dari yang semula 10-11 jam per hari. Untuk biaya produksi juga mengalami penurunan yang signifikan dari Rp. 3.575.000,00 menjadi Rp. 1.795.000,00 per minggu.