cover
Contact Name
Johny S. Tasirin
Contact Email
jtasirin@unsrat.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
silvarum@unsrat.ac.id
Editorial Address
Jalan Kampus UNSRAT, Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Silvarum
ISSN : -     EISSN : 29626390     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Silvarum adalah jurnal yang memuat artikel-artikel ilmiah tentang hasil penelitian dan tinjauan tentang ilmu kehutanan, pelestarian sumber daya hutan dan rehabilitasi hutan termasuk topik-topik lain yang terkait hutan dan kehutanan. Jurnal ini diterbitkan secara online dengan bentuk cetakan setahun sekali. Sirvarum terbit pertama kali pada tahun 2022 bulan April. Silvarum diturunkan dari istilah latin untuk hutan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum" : 9 Documents clear
Identifikasi Komunitas Tumbuhan dan Perubahan Jenis pada Tiap Tahap Suksesi di Taman Hutan Raya Gunung Tumpa H. V. Worang Sari, Putri Dian; Pollo, Hard N.; Tasirin, Johny S.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.56525

Abstract

Secara umum, hutan-hutan yang telah terfragmentasi menjadi hutan-hutan yang berukuran kecil akan terisolasi karena terciptanya barrier ekologi. Ukuran hutan yang kecil hanya dapat mendukung jumlah spesies tertentu seperti pada Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Tumpa H. V. Worang. Pada kondisi yang demikian, jumlah spesies yang ada akan rentan mengalami kepunahan secara lokal dan proses suksesinya akan dapat berjalan dengan lambat. Berdasarkan hal tersebut perlunya penelitian tentang identifikasi komunitas tumbuhan dan perubahan jenis pada tiap tahap suksesi di Tahura Gunung Tumpa H. V. Worang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan pada areal hutan yang berstrata A, B, C, D, dan E. Selain itu, untuk mengetahui perubahan jenis pada tiap tahap suksesi. Penelitian ini menggunakan metode Random Sampling dengan membuat 15 plot yang dibagi menjadi 3 plot pada setiap area yang berstratum A - E, B - E, C - E, D - E, dan E Terdapat 1038 individu dengan 70 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 36 famili. Pada stratum A - E ditemukan sebanyak 2 jenis dengan 464 individu, stratum B - E sebanyak 5 jenis dengan 193 individu, stratum C - E sebanyak 41 dengan 140 individu, stratum D - E sebanyak 28 dengan 114 dan stratum E sebanyak 26 jenis dengan 127 individu. Perubahan jenis pada tiap tahap suksesi memiliki perubahan jenis yang signifikan dimana setiap strata terdapat jenis tumbuhan yang berbeda.
Perilaku Bertelur Maleo (Macrocephalon maleo) di Bentang Alam Binerean, Bolaang Mongondow Selatan Baussa, Yustus; Pollo, Hard N.; Tasirin, Caroline N. A. C.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.56812

Abstract

Burung Maleo (Macrocephalon maleo) merupakan salah satu burung endemik Pulau Sulawesi yang sangat unik dan banyak diperhatian. Maleo Senkawor dapat ditemukan pada habitat hutan dataran rendah dan tinggi untuk aktivitas hariannya. Untuk peneluran, mereka memanfaatkan pasir atau tanah di dekat aktivitas geotermal atau pinggir pantai untuk menggali dan mengubur telurnya yang berukuran relatif besar untuk proses inkubasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku bertelur burung maleo di Bentang Alam Binerean, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November – Desember 2023 dengan melakukan pengamatan di nesting ground. Pengamatan dilakukan pada jam 05:00-10:00 WITA kemudian diamati mulai dari datang ke nesting groud sampai kembali ke hutan. Berdasarkan hasil penelitian perilaku bertelur maleo, jantan dan betina menghabiskna waktu yaitu menggali lubang dengan frekuensi relatif 2,04 dan 1,68. Burung maleo paling cepat datang ke nesting ground pada jam 05:22 dan paling lambat jam 07:50. Durasi waktu burung maleo saat berada di lokasi bertelur terdiri dari perilaku pengintaian, menggali, bertelur, menutup lubang, membuat sarang tipuan berlangsung selama 1-3 jam. Kata Kunci: Perilaku bertelur, Burung Maleo (Macrohepalon maleo), Bentang Alam Binerean.
Keanekaragaman Jenis Burung di Berbagai Tipe Habitat di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang, Sulawesi Utara Migael, Migael; Langi, Martina Agustina; Nurmawan, Wawan
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.56933

Abstract

This study examined bird species diversity in various habitat types in Likupang SEZ, North Sulawesi. Using the point count method, this study found 69 bird species from 35 families and 3 bird species from 2 families found outside the location and observation hours. Five bird species with the highest Index of Importance (INP) were Aerodramus vanikorensis, Collocalia esculenta, Corvus celebensis, Geopelia striata, and Pycnonotus aurigaster. Secondary forest had the highest bird species diversity with a diversity index of 2.99, followed by open hills H' (2.86) and coastline H' (2.48). There are 44 bird species that have the potential for birdwaching ecotourism by considering the attractiveness of morphological uniqueness (feather and beak color), sound, migratory birds, endemic and protected status. Keywords: Bird Species Diversity, Habitat Type, Birdwatching, Likupang SEZ
Pendugaan Karbon di Hutan Rakyat Kecamatan Langowan Selatan Kabupaten Minahasa Alelo, Maria Rosa Mystica Dinche; Nurmawan, Wawan; Pangemanan, Euis F.S.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.57954

Abstract

Hutan merupakan salah satu sumber daya alam yang dapat menyerap banyak karbondioksida yang ada di atmosfer merupakan hasil dari fotosintesis, dimana karbon dioksida (CO2) di atmosfer yang diikat dan diubah menjadi sebuah bentuk energi (gugus gula) yang bermanfaat bagi banyak kehidupan. Wilayah Langowan merupakan bagian dari administrasi Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, yang terdiri dari 4 Kecamatan yaitu Kecamatan Langowan Barat, Kecamatan Langowan Utara, Kecamatan Langowan Selatan dan Kecamatan Langowan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menduga jumlah karbon diatas permukaan tanah pada hutan rakyat di Kecamatan Langowan Kabupaten Minahasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Non-Destructive Sampling dengan plot petak pengamatan seluas 20 x 20 m dilokasi penelitian. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata jumlah carbon di atas permukaan tanah di hutan rakyat di Kecamatan Langowan Selatan berjumlah 8,59 ton /ha dengan nilai jasa ekosistem dari Carbon Rp. 691.664,43/ha. Jenis pohon yang paling umum ditanam adalah Cempaka (Magnolia alba), mahoni (Switenia macrophylla), jabon putih (Anthocephalus cadamba), jati (Tectona grandis) dan nantu (Palaqium obovatum). Kata kunci: Hutan Rakyat, Biomassa, Karbon, Langowan Selatan.
Identifikasi Medan Banjir di Bentang Alam Binerean, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Selatan Ragentu, Deris Wijayanti; Rombang, Johan A.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.58055

Abstract

Kejadian banjir disebabkan terutama oleh limpasan air permukaan yang jauh melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air yang datang. Kelebihan air ini diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi, berkurangnya daya serap lahan, dan kiriman banjir bandang. Wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan mempunyai beberapa sungai yang ada pada kecamatan Pinolosian Tengah yaitu sungai Mataindo dan Minangan Mopopungu. Kejadian banjir hampir setiap tahun terjadi pada sungai yang ada di Pinolosian Tengah. Kejadian banjir yang sering terjadi tentunya meresahkan masyarakat. Bentang alam Binerean memiliki kondisi tutupan lahan hutan sekunder terbesar dengan persentase 32%. Kondisi kemiringan lereng di wilayah ini memiliki persentase terbesar datar 28%. Setiap bulan berpeluang terjadi banjir di Desa Mataindo dan Mataindo Utara. Faktor-faktor penyebab banjir meliputi kondisi topografi yang miring, curah hujan tinggi, serta jenis tutupan lahan seperti sawah, semak, hutan, kebun, pertanian lahan kering, dan pemukiman. Kejadian banjir di Mataindo dan Mataindo Utara terjadi pada rata-rata curah hujan lebih dari 76 mm. Hasil pemetaan daerah rawan banjir menunjukkan bahwa setiap bulan daerah bentang alam Binerean terjadi banjir pada Desa Mataindo dan Mataindo Utara dengan curah hujan tertinggi yang terdapat pada bulan Juli dan Agustus. Penyebab banjir juga disebabkan luapan air dari Sungai Minanga Mopopungu dan Sungai Mataindo yang ada di daerah tersebut. Kata kunci: Daerah Rawan Banjir, Curah Hujan, Tutupan Lahan
Karakteristik Hutan Rakyat di Danau Tondano Temongmere, Margareta Papuani; Walangitan, Hengki D.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.58112

Abstract

Hutan rakyat merupakan salah satu strategi perhutanan sosial yang bertujuan mengatasi ketimpangan dalam pemanfaatan dan pengelolaan kawasan hutan, serta menyelesaikan masalah ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik hutan rakyat di sekitar Danau Tondano. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2023. Proses pengambilan data menggunakan metode survey dengan plot ukur tree sampling dengan 4 pohon. Hasil survei menunjukan terdapat 11 lokasi penelitian dengan 5 kebun menerapkan hutan rakyat pola monokultur, 2 kebun hutan rakyat pola campuran dan 4 kebun hutan rakyat dengan pola agroforestri. Jenis Pohon yang dominan adalah cempaka. Pengelolaan hutan rakyat pada 11 lokasi hutan rakyat ini dinilai masih rendah.
Komunitas Tumbuhan pada Beberapa Tipe Lahan Berhutan di Tanjung Pulisan, Sulawesi Utara Umboh, Belini; Pollo, Hard N.; Tasirin, Johny S.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.58116

Abstract

Hutan pantai ini memiliki banyak manfaat yaitu dapat merendam pukulan gelombang tsunami, mencegah terjadinya abrasi pantai, melindungi ekosistem darat dari terpaan angin dan badai, pengendalian erosi, tempat untuk berkembang baik jenis satwa, penghasilan bahan baku industri kosmetik, biodiesel dan obat-obatan. Tanjung Pulisan Likupang Kecamatan Likupang Timur adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah utuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan pada padang savana, areal berhutan sekunder, hutan pantai dan hutan matur di Tanjung Pulisan Likupang dan mengetahui perbedaan jenis pada tiap tutupan lahan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian ini menggunakan metode Random Sampling sebagai penentu titik pertama pada setiap jalur. Hasil penelitian menunjukan di tipe tutupan lahan Tanjung Pulisan Likupang, Sulawesi Utara terdapat 76 Jenis tumbuhan dan 610 individu. Di Noma 169 individu, Ecotrail di temukan 154 individu, Savana 119 individu, Hutan Pantai 168 individu.
Persepsi Masyarakat Terhadap Wisata Hutan Mangrove di Desa Serawet Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara Jikir, Safira; Walangitan, Hengki D.; Sumakud, Maria Y.M.A.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.58119

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi serta hubungan antara persepsi dengan usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dengan teknik wawancara langsung melalui kuesioner yang diajukan kepada 42 responden. Selanjutnya, analisis persepsi masyarakat menggunakan uji validasi dan uji reliabilitas. Analisis data dilakukan untuk mengetahui hubungan persepsi masyarakat terhadap hutan mangrove Desa Serawet dengan tingkat umur, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakanan alisis statistik non parametrik Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian persepsi masyarakat terhadap wisata hutan mangrove termasuk sedang. Persepsi masyarakat terhadap lanskap tidak memiliki hubungan dengan tingkat umur, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Persepsi masyarakat lebih dipengaruhi oleh nilai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Kata kunci: Persepsi, Hutan Mangrove, Desa Serawet
Keragaman Jenis Kupu-kupu Pada Beberapa Tipe Tutupan Lahan Sebagai Penunjang Ekowisata Di Wilayah KEK Likupang Baleya, Yerico Vanquish; Tasirin, Johny S.; Pollo, Hard N.
Silvarum Vol. 4 No. 1 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i1.58145

Abstract

Terdapat kenyataan bahwa pengembangan suatu areal wisata sangat jarang memaksimalkan potensi yang ada. Untuk wilayah WCL di KEK Likupang terdapat potensi butterfly watching yang dapat dikembangkan sehubungan dengan keanekaragaman jenis kupu-kupu yang cukup melimpah saat ini. Potensi wisata butterfly watching merupakan daya tarik tersendiri bila dikembangkan di wilayah WCL di KEK Likupang. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui keanekaragaman dan perbedaan jenis kupu-kupu pada bukit terbuka, areal hutan sekunder, dan garis pantai di areal WCL di Wilayah KEK Likupang. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni - Juli 2024. Pengambilan data dan sampel kupu-kupu dan tumbuhan pakan imago dilakukan pada pukul 08:00 - 11:00 dan 13:00-16:00 dengan 3 kali pengulangan di setiap jalur transek dengan jeda antara 9 hari pengamatan yaitu: hari pertama dengan ulangan A, hari ke 2 ulangan B, dan hari ke 3 ulangan C. Panjang transek 500 m, lebar 5 m ke kanan, 5 m ke kiri dan diambil titik koordinatnya. Pengambilan data dan sampel dicatat dengan menggunakan tally sheet. Keanekaragaman hayati kupu-kupu tertinggi ditemukan di hutan sekunder sebanyak 37 jenis (S =5.43, H'=30.4, E=0.84) diikuti oleh garis pantai 22 jenis (S=3.75, H'=2.47, E=0.89) dan bukit terbuka 20 jenis (S=3.26, H'=2.60, E=0.87). Total jenis yang ditemukan adalah 40 (S=5.41, H'=30.4, E=0.84).

Page 1 of 1 | Total Record : 9