cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "No 3 (1991)" : 14 Documents clear
Bangsawan Jawa dalam Struktur Birokrasi di Majapahit Akhmad Nugroho
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1726.709 KB) | DOI: 10.22146/jh.2075

Abstract

Sastra Indonesia moderen padat dengan peagemis,gelandangan, kere, orang buangan, yang tak bertanah, dan makhluk Tuhan yang papa. Dalam kumpulan Hitam atas Putih yang berisi sandiwara, cerpen, dan  puisi karya Muhammad Ali, H.B. Jassin (1967: 43 - 45) menugusulkan judulLapar karena sebagian besar isinya mengenai lapar dan penndertaan, orang-orang itu tinggal di kolong jembatan, membegal karena lapar, jual anak karena lapar, jual diri karena lapar, bunuh diri karena lapar, bunuh orang lain karena lapar, dan jadi gila karena lapar. Puisi atau karya sastra pada umumnya yang mengandung tema yang dekat dengan manusia pada umumnya misalnya cinta kasih, dengki, cemburu, ajal, Tuhan, penderitaan, dan sebagainya, banyak yang cukup bernilai dan cepat menarik perhatian (Hutagalung, 1975: 39).Dalam khazanah sastra Jawa moderen, gambaran tentang orang-orang yang tersingkir seperti itu tidak jauh berbeda dengan sastra Indonesia moderen. Sastra Jawa bahkan tampak lebih menyolok mengemukakan masalah pedesaan dengan segala keterbelakangan dan kemiskinannya. Bagian berikut dalam tulisan ini akan mengemukakan contoh-contoh karya sastra Jawa, khusus puisi, yang bernada simpati kepada orang-orang yang mengasihankan itu
KONSEP RESIPROSITAS DALAM ANTROPOLOGI EKONOMI Bambang Hudayana
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2006.591 KB) | DOI: 10.22146/jh.2076

Abstract

Antropologi ekonomi mempunyai kecenderungan yang khas dalam mengkaji masalah perekonomian yaitu banyak menaruh perhatian terhadap berbagai gejala penukaran yang tidak melibatkan penggunaan uang sebagai mekanisme pertukaran. Berbagai geiala pertukaran tersebut sering dikenal dengan nama resiprositas dan redistribusi. Kecenderungan disiplin antropologi ekonomi seperti itu bekaitan dengan orientasi studi antropologi yang banyak menaruh perhatian pada masyarakat-masyarakat di luar Eropa. Ketika awal perkembangan disiplin antropologi ekonomi, umumnya gejala-gejala penukaran yang terjadi dalam perekonomian di masyarakat-masyarakat di luar Eropa tersebur tidak menggunakan mekanisme uang sebagaimana seperti terjadi di Eropa. Kecenderungan antropologi ekonomi banyak menaruh perhatian padagejala penukaran resiprositas dan redistribusi disertai pula dengan cara kerja disiplin ini yang berbeda dengan disiplin ilmu ekonomi. Dalam melihat gejala pertukaran, antropologi ekonomi tidak hanya melihat gejala tersebut sebagai gejala ekonomi semata,  melainkan sebagai gejala kebudayaan yang keberadaannya berdimensi luas, tidak sekedar berdimensi ekonomi, tetapi juga agama, teknologi, ekologi, politik dan organisasi sosial.
KONGRES BAHASA JAWA 1991 Darusuprapta Darusuprapta
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2106.719 KB) | DOI: 10.22146/jh.2077

Abstract

Kongres Bahasa Jawa 1991, yang diselenggarakan di Semarang, pada hari Senin Wage sampai dengan Sabtu Wage, tanggal 3 sampai dengan 8 Sura Ehe 1924 AJ /Muharram 1412 AH atau 15 sampai dengan 20 Juli 1991 AD. adaJah Kongres Bahasa Jawa yang pertama kali diselenggarakan. Dalam kurun waktu hampir setengah abad yang telah berjalan pada alam kemerdekaan ini memang pernah diadakan pertemuan-pertemuan yang memperbincangkan bahasa Jawa, tetapi dalam ruang Iingkup yang terbatas dan dengan topik pembicaraan yang tertentu, sebagai bagian dari atau bersamaan dengan pertemuan bidang kebudayaan yang lain. Jadi pertemuan tidak khusus membahas masalah pokok bahasa Jawa.
BEBERAPA MASALAH IDENTIFIKASI DIRI ORANG CINA - INDONESIA DAN YINHUA DALAM KAITANNYA DENGAN ASIMILASI Hari Poerwanto
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1914.603 KB) | DOI: 10.22146/jh.2078

Abstract

Ada pendapat yang mengatakan bahwa mengklasifikasikan seseorangdi Indonesia sebegai orang Cina, merupakan sesuatu yang amat sukar(Skinner, 1963: 67; Suryadinata, 1986: 2); dan sebalik nya ada pula yang berpendapat bahwa hal itu bukan sesuatu yang sulit. Willmott (1961: 15) berpendapat bahwa tidak ada sedikit keraguanpun dalam mengklasifikasikan seseorang itu apakah termasuk sebagai orang Cina. Sebelum Perang Dunia II sebagian besar laki -laki Cina di Indonesia telah melakukan perkawinan dengan wanita bumiputera . Anak-anak dari hasil perkawinan campuran tersebut, hampir dapat dipastikan menjadi Cina. Keturunan mereka memiliki nama Cina dan lebih terasimilasi serta terakulturasi ke dalam keluarga Cina. Hadirnya dua pandangan yang berlawanan itu menunjukkan ada kompleksitas permasalahan yang dihadapkan kepada orang Cina di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan masalah identifikasi diri, terlebih dikaitkan dengan gagasan jika asimilasi dalam rangka integrasi nasional. Lebih lanjut Leo Suryadinata menilai bahwa masalah mengklasifikasikan apakah seseorang itu termasuk orang Cina atau bukan adalah lebih terkait pada identifikasi diri dan identifikasi sosial daripada didasarkan status kewaraanegaraan, latar belakang budaya maupun ras.
GEJALA SOSIO-KULTURAL BARU MENJELANG MASA MUHAMMAD DI ARABIA Hasyim Asy'ari
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.034 KB) | DOI: 10.22146/jh.2079

Abstract

Telah cukup banyak dikenal, baik dari keterangan sejarah maupunceritera, bahwa pandangan hidup masyarakat Arabia pada masa sebelum Islam pada umumnya dilukiskan sebagai pemuja kesenangan. Cinta, romansa, wiski , judi, berburu, dan berlagu selalu menguasai benak mereka. Namun demikian dalam bergelimangnya sukacita, mereka masih pula sempat memikirkan tujuan hidup, yang tentunya cita-cita dan harapan duniawi. Memang telab biasa terjadi, dimanapun, kapanpun, dan dalam masyarakat apapun, gagasan lain yang berada di luar arus. Orang dan kelompok inilah yang akan selalu bertanya-tanya dalarn hati, "Apa arti semua ini?".
PERNYATAAAN KALA ABSOLUT DAN RELATIF DALAM BAHASA INDONESIA I Dewa Putu Wijana
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2695.638 KB) | DOI: 10.22146/jh.2080

Abstract

Pernyataan kala suatu bahasa sangat menarik untuk diteliti karenadengan menyelidikinya dapatlah diketahui bagaimana bahasa bersangkutan menyatakan konsep waktu yang melatari situasi tuturan yang diungkapkan oleh pembicaranya. Pernyataan kala di dalam bahasa Indonesia telah pernah dibicarakan oleh beberapa ahli. Alisjahbana (1960 : 71) membicarakan pernyataan kala dalam hubungannya dengan pembahasannya mengenai keterangan waktu. Pembicaraannya terbatas pada penjenisan keterangan waktu yang menurutnya dapat dibeda-bedakan menjadi bermacam-macam berdasarkan kemungkinan pengujiannya dengan kala tanya. Dalam hubungan ini didapatkan keterangan waktu yang memberi jawaban atas pertanyaan pabila, bila, bilamana, manakala, dan kalamana; keterangan waktu yang memberi jawaban atas pertanyaan beberapa lama; keterangan waktu yang memberi jawaban atas pertanyaan sejak (dari) apabila atau hingga (sampai); dan keterangan waktu yang menyatakan perulangan peristiwa yang dinyatakan predikat: serta keterangan waktu yang bersifat kata bantu predikat yang biasa ditulis atau diucapkan sebelum predikat.
ASPEK INTERTEKSTUAL DALAM CERITA RAKYAT DATA: CERITA SI MISKIN DENGAN RAJA BAYAN" Imran T. Abdullah
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4481.821 KB) | DOI: 10.22146/jh.2081

Abstract

Cerita prose daJam tradisi sastra Aceh disebut haba (Arab: khabar). Haba dipandang sebagai jenis cerita yang tidak serius sebab biasanya disampaikan dalam suasana santai, sebagai cerita perintang waktu. Karena sifat penyampaiannya yang demikian, maka haba umumnya pendek-pendek dan hampir selalu merupakan cerita yang penuh dengan unsur-unsur kejenakaan. Haba selalu disampaikan secara lisan, dan diwarisi seeara turun temurun dari mulut ke mulut. Karya-karya haba dapat dikatakan tidak pernah diturunkan ke dalam bentuk tertulis. Naskah-naskah haba yang kini tersimpan di Universiteir Bibliotheek Leiden (UBL) bukanlah naskah budaya (naskah yang terpakai di dalam masyarakat), melainkan ditulis atas permintaan kolektor-kolektor Belanda pada masa itu. Naskah ditulis dalam huruf Jawoe (Melayu: Jaw ) dan Latin dengan memakai kertas folio bergaris yang bersih dari bekas-bekas keringat.
STRATEGI PEMBANGUNAN BUDAYA DAERAH DALAM MEMPERSIAPKAN MASYARAKAT TIMOR TIMIUR MENYONGSONG ERA INDUSTRIALISASI Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.153 KB) | DOI: 10.22146/jh.2082

Abstract

Pengertian strategi yang sering dikaitkan dengan kebijakan (policy) dapat mengandung arti "rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran tertentu'". Demikian informasi yang dipetik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988). Objek atau sasaran yang dimaksud, jika dihubungkan dengan pokok bahasan seperti tertera pada topik ini, mengenai masalah pembangunan budaya daerah maka sasaran yang dimaksud terarah pada upaya penyusunan kebijakan (baru) di bidangbudaya daerah. Kebijakan itu, seperti diungkapkan Van Peursen (1976: 18), berupa sikap dan alam pikiran masyarakat dalam mengadakan kebertautan baru (relasi-relasi baru) terhadap segala sesuayu di lingkungannya. Lebih lanjut, menurut Van Peursen, dalam relasinya dengan pembangunan strategi budaya daerah dalam hal ini sebenarnya mengandung jangkauan masalah yang lebih luas artinya daripada yang tersurat dalam makna kebijakan strategi) budaya itu.
BEBERAPA ASPEK KEHIDUPAN MASYARAKAT DAYAK Masri Singarimbun
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1559.197 KB) | DOI: 10.22146/jh.2083

Abstract

Dayak adalah nama kolektif untuk berbagai suku asli di Kalimantan. Secara umum dapat dikatakan babwa masyarakat-masyarakat yang tergolong ke dalam kelompok suku Dayak menghuni pedalaman Kalimantan. Daerah pantai atau daerah hilir yang mengitari mereka dihuni oleh Melayu, Banjar, Bugis, Makassar, Cina, Jawa, Madura dan suku-suku lainnya. Dapat ditambahkan pula bahwa mayoritas dan orang Melayu di Kalimantan adalah keturunan suku Dayak yang kemudian memeluk agama lslam (Ave dan King, 1986:9). Sellato 1986:58) memperkirakan kira-kira 90 persen dari orang Melayu Kalimantan adalah keturunan Dayak; orang Dayak diperkirakannya sebanyak kira-kira tiga juta (1986) dan orang Melayu lebih dari enam juta. Istilah Dayak mempunyai konotasi merendahkan sehingga ada yang lebih suka menamakannya Daya (Coomans, 1987). Terutama di masa silam, Dayak mempunyai asosiasi dengan keterbelakangan, kebiasaan mengayau, animisme, dll. Nampaknya sekarang konotasi tersebut mulai menghilang dan menurut Dr. Fridolin Ukur yang berasal dari suku Dayak Ma'anyan. Dayak tidak perlu diganti dengan Daya. Lagi pula, untuk meningkatkan harkat masyarakat Dayak, di masa lalu juga sudah didirikan perkumpulan-perkumpulan yang memakai istilah Dayak, ump. Sarekat Dayak dan Pakat Dayak pada zaman Belanda.
BENTUK SAPAAN DALAM BAHASA INGGRIS DAN BAHASA INDONESIA Ni Gusti Ayu Roselani
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.857 KB) | DOI: 10.22146/jh.2084

Abstract

Di dalam artikelnya yang berjudul "The Importance of CulturalContext I" (JELL. Agusrus 1984), Jeffrey Winters menekankan pentingnya konteks budaya dalam belajar bahasa. Menguasai dasar-dasar bahasa seperti tatabahasa, kosa kata dan ucapan belumlah cukup. Menurut pendapatnya, pemahaman terhadap konteks budaya lah yang akan memungkinkan seorang pelajar bahasa asing untuk menghasilkan tuturan-tuturan yang bukan saja benar secara gramatikal, melainkan juga tepat untuk situasi tertentu. Selanjutya ia memberikan beberapa contoh sehubungan dengan kesalahan-kesalahan umum yang dibuat oleh para pelajar bahasa Inggris di Indonesia mengenal konteks budaya. Salah satunya menyangkut kesalahan pemakaian kata sapa mister misalnya dalam tuturan Hello, mister! Kesalahan semacam itu menurut dugaannva. kemungkinan besar disebabkan oleh penerjemahan langsung dari tuturan Hallo Pak (Tuan/Om)! Sebagai alternatif ia memberikan tuturan yang tepat dan lebih enak didengar Hello, sir (Miss). Tuturan semacam ini, menurut pendapatnya tentu akan berguna khususnya bagi orang Indonesia karena kecenderungan mereka untuk memakai kata-kata yang menunjukkan rasa hormat. Kesalahan semacam itu bukan hanya dilakukan oleh para pelajar. Masih cukup banyak guru atau dosen yang tidak dapat secara tepat menggunakan kata-kata sapaan seperti tersebut di atas (Poedjosoedarmo, 1986). Dengan kata lain, kesalahan yang menyangkut konteks budaya seperti tersebut di atas disebabkan karena ketidaktahuan kita akan penggunaan bentuk-bentuk sapaan dalam bahasa Inggris atau karena perbedaan penggunaan bentuk-bentuk sapaan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

1991 1991


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue