cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "No 4 (1997)" : 14 Documents clear
Sejarah Lisan Memburu Sumber Sejarah dari Para Pelaku dan Penyaksi Sejarah A. Adaby Darban
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.363 KB) | DOI: 10.22146/jh.1908

Abstract

Sejarah lisan merupakan salah satu dari sumber sejarah, yang dapat digunakan syah sebagai penulisan sejarah. Sejarah lisan ini dibedakan dengan Tradisi lisan, yang mempunyai arti yang jauh berbeda. Bila tradisi lisan itu mempunyai arti : "Ceritera rakyat yang diungkapkan melalui lisan dan dikembangkan secera beruntun juga melalui lisan. Si pelisan(pengungkap ceritera) tidak terikat oleh peristiwanya itu sendiri. Si pelisan bukan penyaksi dan atau bukan peserta dalam peristiwa sejarah ceritera, dan tidak bertanggung jawab atas pernyataan yang diceriterakannya". Sejarah lisan memiliki arti yang khas yang bertanggung jawab, yaitu : "Sumber sejarah yang dilisankan oleh manusia pengikut atau yang menjadi saksi akan adanya peristiwa sejarah pada zamannya". Si pelisan benar-benar mengetahui, mengikuti kejadian masa lampau yang diceriterakan, dengan penuh tanggung jawab atas kebenarannya. Dengandemikian si pelisan harus diseleksi secara kritis sebagaimana menghadapi sumber sejarah.
Pendayagunaan Kosakata Bahasa Jawa: Kajian dari Segi Sosiolinguistik Ariyanto Ariyanto
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (851.6 KB) | DOI: 10.22146/jh.1909

Abstract

Dalam tulisan ini, penulis mencoba menelaah teks Sri Sumarah sebab padadasarnya sebuah teks juga merupakan media berkomunikasi. Teks Sri Sumarah yang bermediakan bahasa tulis menuntut keterlibatan pengarang (sebagai pembicara) dan masyarakat pembaca (sebagai mitra wicara). Tentu saja fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi baru dapat dicapai apabila teks tersebut dibaca oleh masyarakat pembaca. Melalui sebuah teks, pencipta (pengarang) Sri Sumarah--Umar Kayam--ingin berhubungan dengan masyarakat pembaca untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan atau ide-idenya.
Memasuki Dunia Imajiner: Soal Sastra Mutakhir dan Kritiknya Faruk Faruk
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1870.875 KB) | DOI: 10.22146/jh.1910

Abstract

Sastra Indonesia di awal perkembangannya dapat digolongkan sebagai sastra yang terus-menerus merepresentasikan hasrat-hasrat manusiaakan sebuah dunia lain, dunia yang dibayangkan sebagai sebuah situasi dan kondisi sorgawi, yang memungkinkan orang memperoleh kesenangan dan kebahagiaan yang sejati, sempurna, lengkap. Sebaliknya, dunia ini, kehidupan di sini dan kini dipahami sebagai kehidupan yang hanya berisi penderitaan meskipun mengandung harapan. Itulah sebabnya, karya-karya sastra Indonesia yang awal itu dapat pula disebut sebagai karya-karya realisme idealistis meski sering disebut hanya sebagai karya-karyaromantik (lihat Faruk 1994).
Reba, Tahun Baru Adat Orang Bajawa Hans J. Daeng
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.358 KB) | DOI: 10.22146/jh.1911

Abstract

Perayaan tahun baru tradisional pada sub-kelompok etnlk Bajawa disebut reba. Perayaan reba tentu bukan ada dengan sendirinya, me1ainkan terikat pada berbagai latar belakang peristiwa pendukung adanya perayaan reba.Reba berpangkal mula dari satu keluarga petani yang hidup dari bertanamubi, Discorea Alata. Pada suatu hari ketika menggali ubi, Discorea Alata, atau uwi ditemukan ubi ajaib. Uwi itu demikian panjangnya, sehingga harus digali sangat dalam sebelum menemukan ujung ubi. Diperkirakan telah terjadi suatu hal yang ajaib, pemberian leluhur dan dewa. Karena keanehannya, setiba di kampung ubi diarak berkeliling penuh kegembiraansebagai rasa syukur dan terima kasih.
Slogan Sebagai Wacana Persuasif: Studi Kasus Wacana Kampanye Pemilihan BEM dan SM Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 1996 I Dewa Putu Wijana
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jh.1913

Abstract

Studi ini akan mencoba mengamati wacana slogan dalam upaya menyingkapkan sejumlah aspek yang menjadikan wacana itu menarik sehingga dapat membentuk persepsi para pembacanya, mengubah sikap, dan mempengaruhi tindakan mereka. Slogan yang dijadikan objek penelitian adalah slogan kampanye pemilihan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Senat Mahasiswa (SM) Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada yang dilaksanakan pada tanggal 1 Mei 1996. Data-data yang dikumpulkan berupa slogan-slogan berwujud poster yang dipajang di seluruh kompleks kampus Fakultas Sastra beberapa minggu menjelang hari pemilihan dua badan kemahasiswaan tersebut. Data itu diklasifikasikan berdasarkan tindak tuturnya dan sarana kebahasaan yang dimanfaatkannya.
Tentang Imunisasi dan Gizi dan Hubungannya dengan Perilaku Penanganan Penyakit Campak Mulyadi Mulyadi
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.655 KB) | DOI: 10.22146/jh.1930

Abstract

Cukup banyak jenis penyakit yang mengancam Balita (bayi dan anak). Penanganan berbagai penyakit dan masalah-masalah yang terkait hendaknya dikaji satu persatu, dengan melihat faktor-taktor epidemiologinya, lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budayanya masing-masing (Walsh dan Warren, 1988). Sebagai lndikator utama keberhasilan pembangunan kesehatan adalah angka kematian Balita. Ternyata angka kematian Balita di Indonesia masih tinggi (Utomo, 1988). Penyebabnya antara lain yang penting adalah infeksi dan parasit yang saling melingkar dengan malnutrisi. Campak adalah salah satu penyebab tingginya angka kematian Balita, yang sebenarnya dapat dicegah misalnya dengan imunisasi dan peningkatan gizi pada Balita.
Ragam Bahasa Sastra Rachmat Djoko Pradopo
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.904 KB) | DOI: 10.22146/jh.1931

Abstract

Ada bermacam-macam ragam bahasa: salah satu di antaranya ialah ragam bahasa sastra. Bahasa sastra mempunyai fungsi estetik yang dominan. Dalam arti sifat estetiknya yang menguasainya. Jadi bahasa sastra itu dipergunakan dalam sastra untuk mendapatkan nilai seni karya sastra juga, terutama da1am bidang kebahasaan sendiri, yang dalam hal ini berhubungan dengan gaya bahasa sebagai sarana sastra. Di samping itu, bahasa sastra berhubungan dengan fungsi semiotik bahasa sastra.
Apology: Its Nature and Patterns Rio Rini Diah Moehkardi
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2054.743 KB) | DOI: 10.22146/jh.1932

Abstract

This paper is an outline of what apology is. Examples from English and Bahasa Indonesia -mostly taken from a study carried out among Australian and Indonesian undergraduate students in Canberra University (Moehkardi, 1993) are given in order to have a clearer picture of the realization of apologizing. It will focus on the discourse situations which usually calls for apology of which realization does not only deal with utterances but also with the notion of face. It is also necessary to bear in mind the need of understanding the semantic formulas "word, phrase or sentence which meets a particular semantic criterion or strategy, and anyone or more of these can be used to perform the act in question" (Fraser, 1980 in Wolfson and Judd, 1983:20) that would be appropriate in performing apology, especially in the setting of thetwo languages mentioned above.
The Relationship Between Islam and Adat in Indonesia a Comparison Between Java and Minangkabau Soehardi Soehardi
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1188.374 KB) | DOI: 10.22146/jh.1933

Abstract

Islam has spread throughout Indonesia. since the thirteenth century, initially in Aceh and then gradually to the rest of Indonesia. Hitherto, nominally approximately 90% of the total population of Indonesia are Muslim. Presumably, the feature of the relationship between Islam and adat in Java and west Sumatra seems to be different. Here I shall compare the ethnic Javanese and the Minangkabau. The ethnic Javanese represent the majority population In Indonesia. Most consider themselves Muslims, but only a few conduct the Islamic sharia. On the other hand, the Minangkabau people are considered to be pious Muslim.
Wiracerita Mahabhatara di Mata Penyalin Melayu: Resepsi dan Transformasi Cerita Bhartayuddha di dalam Hikayat Pandawa Lima dan Hikayat Darmawangsa Sudibyo Sudibyo
Humaniora No 4 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1462.803 KB) | DOI: 10.22146/jh.1934

Abstract

Penyebaran cerita wayang ke wilayah kebudayaan Melayu terjadi ketika orang Jawa berimigrasi ke daerah di sekitar pulau mereka. Peristiwa inl terjadi pada abad-9 (Brandon, 1970:9-10). Kebudayaan Jawa mencapai puncaknya pada abad ke-11 dan abad ke-15. Cerita wayang tentu sudah populer. Barangkali hal ini dapat ditunjukkan dengan banyaknya versi cerita wayang yang terdapat dalam khazanah kesusasteraan Melayu. Melihat kenyataan ini, menarik untuk dipertanyakan apakah pada saat wiracerita Mahabharata disalin ke dalam bahasa Melayu, wiracerita itu mempunyai fungsi yang sama dengan wiracerita Mahabharata di wilayah kebudayaan lain.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

1997 1997


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue