Humaniora
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"No 8 (1998)"
:
15 Documents
clear
Kepahlawanan Pangeran Mangkubumi
A. Sarman AM
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (761.295 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2058
Dalam Kamu Besar Bahasa Indonesia edisi kedua disebutkan bahwa pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanlan dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pejuang yang gagah berani. Kepahlawanan berarti perihal sifat pahlawan (seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, kesatriaan) (Ali, 1991:751). Oi dalam babad disebutkan bahwa Mangkubumi adalah seorang tokoh yang banyak memiliki keunggulan, misalnya wajathnya yang tampan, jiwa raganya yang sehat, gagah berani (sakti) dan sikapnyayang baik terhadap rakyat. Secara geneologis P. Mangkubumi adalah putra dari Amangkurat IV dan dilahirkan oleh Mas Ayu Tejawati, yakni salah seorang garwa paminggir dari desa Kepundhung di Surakarta. P. Mangkubumi ditinjau dari garis ibu adalah putra kedua yang ketika masa mudanya bernama AM. Sujana.
Toba Batak Progressivism and Language Maintenance
Cartalyna Napitupulu
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (877.376 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2059
Tabs Batak people originate from Tapanuli, North Sumatra around Lake Toba. This tribe has their own language which is TB language. Compared with other tribes, TB people started their contact with other cultures later. The eastern part of Indonesia, fOr example, had been having contact with the Portuguese since the sixteenth century while the TB people only started in 1861. Later, the TB also had contact with the Dutch, the British and the Germans which resulted in the spread of Christianity amongst TB people. It was the missionaries or the Batak mission who first encouraged education amongst the TB because they wanted to encourage the TB to understand the Gospel. Thus, the formal education in the T8 areas started after the arrival of Christianity. Meanwhile, education brought by the Christian mission gave rise to the TB ambition towards progress or what they called Hamajuon Salak or 'Batak Progressivism'. These missionarires not only gave education in the TB areas but also sent the TB members overseas. Some researchers like Kruger and Peeeesen believe that TB people were cannibals in the past, even after the penetration of Christianity began. They suspected that missionaries like Lyman and Munson were eaten bv the TB (Pedersen, 1970).
Ancient Greek Influence and Imagism In H.D's Early Poems
Djuhertati Imam Muhni
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1095.087 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2060
In 1912 in the Museum-Street-Tea Shop Ezra Pound edited H.D's poem "Hermes of the Ways," signing it "H.D.lmagiste," and by this gesture the Imagist movement exists in the literary world. This often quoted information indicates that there is a significant influence of ancient Greek Literature On Imagist poets, particularly on H.D.; for example, one might note that the first two poems that appeared bearing the name Imagist, namely "Hermes of The Ways" and "Priapus" were based on Greek dedicatory epigrams. The purpose of the paper is to trace the ancient Greek influence on H.D.'s works, especially her purest Imagist poems. Though the discussion focuses on H.D.'s poetry, it also touches upon them works of two other Imagists, namely Ezra Pound's and Aldington's. These poets were two of the most important people in H.D.'s life as well as in her poetry. Pound came early in her life, and sparked her interest in Greek literature, while Aldington appeared in her London period,contributing a share in her intensive study of ancient Greek works. Accordingly, the paper falls into two main parts of discussion: first, on the personal and literary relationships between Ezra Pound, Aldington, and H.D. (Hilda Doolitle); second, the influence of Greek literature especially that of Sappho on H.D. as the main focus.
TANAH: Soal Mati Hidup Petani di Mana Saja Tierra Muerte dan Tierra Y Libertad: Suatu Tinjauan Antropologi
Hans J Daeng
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (854.108 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2061
Keadaan kacau yang terjadi di kota Meksiko tahun 1996 para pemberontak Tupac Amaru menyandera para diplomat yang sedang . berpesta pora di kediaman duta besar Jepang di Meksiko. Pasukan petani pembetontak dengan pakaian seragam dan kemahiran tinggi memanuver sebagai militer profesional, menyebut diri sebagai Zapatista National Liberation Army menghubungkannya dengan gerakan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista. Agar diperoleh gambaran rinci tentang keadaan ini, baiklah diketahui terlebih dahulu latar belakang historis dan sosial-budaya Meksiko. Hal ini perlu diketahui untuk dapat mengerti apa dan siapa Zapatista itu dan mengapa namanya digunakan dalam upaya pemberontakan yang membebaskan itu.
Memahami Novel sebagai sebuah Pribadi
Heru Marwata
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1018.302 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2062
Membaca novel adalah sebuah proses melibatkan diri dalam sesuatu yang ada dalam cerita. Keterlibatan ini dapat bersifat emosional, nostalgia atau pengingatan kembali atas sesuatu yang terlupakan, dapat juga berupa paket perenungan, tetapi bisa juga berupa aktivitas yang ala kadarnya saja. Keterlibatan pembaca dalam sebuah novel tidak harus merupakan kehadiran secara fisik yang berarti ikut menjalani atau mengalami secara badaniah semua rentetan peristiwa di dalamnya, tetapi bisa merupakan keterlibatan secara psikologis atau imajinatif belaka. Jika keterlibatan pembaca itu menjadi semakin jauh, bahkan menimbulkan perenungan yang lebih mendalam, atau membangkitkan keinginan untuk melakukan perunutan dan pembuktian atas sesuatu, atau mungkin melahirkan penelitian terperinci, semua itu merupakan cerita lain yang sebenarnya bersifat manasuka dan sangat tergantung pada keinginan, niat, minat atau tujuan yang ingin dicapai.
SINESTESIA : Studi tentang Mekanisme Perpindahan, Dominasi, dan Tingkat Kekongkretan Tanggapan Indera secara Linguistis
I Dewa Putu Wijana
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (799.606 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2063
Metafora adalah ciri fundamental setiap bahasa yang masih berkembang. Di samping sebagai alat untuk mengembangkan potensi kosakata, unsur bahasa ini merupakan alat yang penting untuk mengongkretkan pengalaman manusia, baik pengalaman mental maupun kultural sehingga pengalaman-pengalaman itu lebih mudah dibayangkan. Sehubungan dengan fungsinya itu, makna metafora tidak dapat dijangkau secara langsung dari lambang kiasnya karena makna yang dimaksud terdapat pada prediksi ungkapan kebahasaan itu (Wahab, 1990:1421). Jadi, motatara adalah pengalaman akan sejenis hal yang dimaksudkan untuk perihal yang lain Verhaar (1977:129) dalam hal ini menggunakan istilah "penyimpangan" untuk istllah "untuk perihal yang lain" ini. Menurutnya metatora adalah penyimpangan penerapan makna kata untuk referen yang lain. Di dalam pemakaian yang literal makna kata dan referennya bersifat konjungtif, sedangkan di dalam metafora hubungannya bersifat disjungtif.
Akulturasi sebagai Mekanisme Perubahan Kebudayaan
Kodiran Kodiran
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (790.422 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2064
Studi dan penelitian masalah pertemuan antar kebudayaan merupakan suatu kegiatan baru di dalam kajian antropologi.Hal ini disebabkan oleh semakin bertambahnya kegiatan penyelidikan kontak kebudayaan pads beberapa abad terakhirini. Hal itu menghasilkan berbagai kenyataan bahwa semua masyarakat dan kebudayaan yang hidup di dunia ini selalubergerak, berubah dan barkembang. Demikian pula, banyak data dari kumpulan kitab etnografi sudah tidak sesusai dengankeadaan masa kini. Dengan intensifnya pangaruh penyebaran unsur-unsur kabudayaan di seluruh penjuru dunia padaabad-abad sambilan belas dan dua puluhan ini menyebabkan kian menghilangnya bentuk-bentuk masyarakat primitif dan terasing. Akulturasi akan terjadi apabila terdapat dua kebudayaan atau lebih yang berbeda sama sekali (asing dan asli) berpadu sehingga proses-proses ataupun penebaran unsur-unsur kebudayaan asing secara lambat laun diolah sedemikian rupa ke dalam kebudayaan asli dangan tidak menghilangkan identitas maupun keasliannya.
Teori Linguistik Tradisional Jawa dan Masalahnya
Marsono Marsono
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (945.672 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2065
Banyak istilah kebahasaan dalam teori linguistik tradisional behasa Jawa yang jika istilah itu diterapkan untuk menganalisa suatu objek kebahasaan akan menimbulkan banyak permasalahan. Istilah yang merupakan seperangkat teori yang semestinya dapat dipakai untuk menganalisis data bahasa atau dapat diterapkan untuk membantu dalam pengajaran babasa marah menyulitkan bagi pemakainya. lstilah-istilah itu sudah tidak sesuai dengan perkembangan linguistik dewasa ini.Kerangka teori dengan seperangkat istilah-istilahnya akan memberikan arah dalam pelaksanaan penelitian. Teori akanmenentukan suatu hasil penelitian. Dengan teori yangberbeda, hasil penelitian akan berbeda. Dalam banyak buku tata bahasa tradisional bahasa Jawa terdapat istilah morfemisyang bila diterapkan untuk menganalisis kata justru membingungkan dan banyak menimbulkan masalah.
ANTARA "BERITA" DAN "CERITA" : Beberapa Catatan Singkat tentang Kaitan Sejarah dan Sastra
Muh Arif Rokhman
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (990.02 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2066
Studi sastra modern telah melepaskan diri dari keterikatannya terhadap model yang membatasi metode studinya hanya pada ilmu sastra. Studi sastra yang dimaksud telah mengakomodasi berbagai teori dari disiplin-disiplin ilmu yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan adanya persinggungan studi tersebut dengan disiplin-disiplin lain, seperti studi budaya (cultural studies), antropologi, psikologi, filsafat, dan sejarah dalam memandang objek studinya, yakni tekS. Di Eropa dan Amerika, berbagai buku dan jurnal telah terbit sebagai hasil dari studi-studi interdisipliner semacam itu, misalnya literary into Cultural Studies (Easthope, 1991), Psychoanalytic Literary Criticism (Ellmann, 1994). Mosaic (Hinz, 1997, 30/11) New Literary History (Cohen, 1997, 28/31). Tulisan ini melihat beberapa formulasi hubungan antara sejarah dan sastra dalam perspektif sastra. Alasannya adalah karena beberapa teori sastra dipengaruhi oleh cara pandang antarruang dan waktu. Di samplng itu, terdapat karya sastra yang dianggap mengandung unsut-unsur historis karena seolah-olah karya tersebut mempunyai acuan pada peristiwa sejarah.
Ketandaan Syariat dan Hakikat dalam Ma'ul-Chayat li Ahlil-Mamat: Analisis Semiotik
Sangidu Sangidu
Humaniora No 8 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1007.013 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2069
Ma'ul-Chayat li Ahlil-Mamat selanjutnya disingkat Ma'ul-Chayat adalah salah satu karya di antara karya-karya Syeikh Nuruddin Ar-Raniri (selanjutnya disebut Nuruddin) yang kurang lebih berjumlah 33 (tiga puluh tiga) karya (Chamamah-Soeratno, dkk., 1982,30-62; Daudy, 1978,13; 1983:48). Karya ini merupakan salah satu khazanah sastra Melayu klasik yang tinggi nilainya (Djamaris, 1984:142). Di dalamnya berisi ajaran-ajaran yang dapat dijadikan pedoman bagi masyarakat maupun raja pada waktu itu dalam kehidupan bermasyarakat dan benegara (Chamamah-Soeratno, dkk., 1982:2). Hasil sastra Melayu klasik, dalam halini Ma'ul-Chayat itu tidak lain berupa naskah yang sekarang tersimpan di berbagai perpustakaan dan museum. Naskah di sini yang dimaksudkan adalah hasil sastra yang ditulis dengan tangan pada kertas dengan tulisan Jawi (Arab-Melayu).