cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 14, No 1 (2002)" : 11 Documents clear
Konsep Martabat Tujuh Dalam At-Tuchfatul-Mursalah Karya Syaikh Muhammad Fadhlullah Al-Burhanpuri: Kajian Filologis Dan Analisis Resepsi Sangidu .
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.571 KB) | DOI: 10.22146/jh.739

Abstract

Naskah at-tuchfatul-mursalah ilâ rûchinnabî shallal-Lâhu ‘alaihi wa sallam (selanjutnya disebut Tuchfah) yang dijadikan objek material di dalam penelitian ini ada dua buah, yaitu naskah Tuchfah bernomor MINA 6 (Manuskrip Islam Nurdin AR, Nomor 6) dan MINA 7. Kedua naskah tersebut terdapat di perpustakaan pribadi Drs. Nurdin AR, M.Hum. di Banda Aceh dan merupakan warisan dari leluhurnya yang telah diwariskan melalui Tgk. Muhammad Arsyad bin Tgk. Ibrahim (kakak kandung ayahnya) bin Tgk. Muhammad Mas‘ud bin Tgk. Di Tunong Arsyad kepada Nurdin AR. Naskah tersebut telah menjadi koleksi pribadi Drs. Nurdin AR., M.Hum sejak tahun 1976 dan telah diinventarisasi sejak tahun 1985 setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya di Fakultas Sastra UGM, Bulaksumur, Yogyakarta. Untuk mempermudah mendeskripsikan kedua naskah tersebut, naskah bernomor MINA 6 disebut naskah Tuchfah A dan naskah bernomor MINA 7 disebut naskah Tuchfah B. Kedua naskah tersebut merupakan naskah berbahasa Arab karangan Syaikh Muhammad Fadhlullah Al-Burhanpuri (selanjutnya disebut Fadhlullah).
Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa Bani Sudardi
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.261 KB) | DOI: 10.22146/jh.740

Abstract

Sistem pengobatan dapat dimasukkan ke dalam unsur sistem pengetahuan suatu bangsa yang dalam realisasinya dapat dimasukkan ke dalam unsur teknologi. Kebudayaan Jawa mempunyai sistem pengetahuan pengobatan yang sudah ratusan tahun digunakan oleh masyarakat Jawa, yakni sebelum masuknya teknikteknik kedokteran modern. Sistem pengobatan tersebut disebut sebagai sistem pengobatan tradisional. Tulisan ini membatasi pada obat-obat tradisonal yang terdapat dalam primbon mengingat bahwa primbon sampai dewasa ini masih fungsional. Di samping itu, beberapa primbon sampai saat ini belum memasyarakat karena ditulis dalam huruf yang sudah digunakan secara luas (huruf Jawa) dalam jumlah eksemplar yang terbatas dan hanya tersimpan di museum tertentu. Di samping itu, bagi kebanyakan bangsa Indonesia, bahasa primbon sukar dipahami karena menggunakan bahasa daerah.
Kontroversi Tentang Naskah Wangsakerta Nina H Lubis
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.482 KB) | DOI: 10.22146/jh.741

Abstract

Pada awal tahun 2002, di surat kabar terbesar di Jawa Barat, muncul perdebatan tentang Naskah Wangsakerta. Perdebatan ini muncul ketika naskah ini dijadikan rujukan untuk menentukan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat oleh seorang pakar filologi, Edi S. Ekadjati (selanjutnya disingkat ESE). Penulis, sebagai seorang sejarawan, mempertanyakan keabsahan penggunaan naskah ini sebagai sumber sejarah mengingat kontroversi tentang naskah ini. Pada akhir tahun 1980-an, terjadi polemik di surat kabar, majalah, antara para sejarawan, arkeolog, dan filolog tentang naskah ini. Seminar dan diskusi juga telah mengangkat masalah naskah ini ke percaturan nasional.
The Pursuit Of Happiness In American Mind And In Javanese Thought Djuhertati Imam Muhni
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.751 KB) | DOI: 10.22146/jh.742

Abstract

society has a concept of happiness and has a way to pursue it. This essay tries to bring out some of these concepts and its pursuits as seen in two different societies, namely American and Javanese. The discussion is more of a vision on the theme rather than a comparative study. The essay falls into two sections: the first describes some important facts about American pursuits of happiness and the second discusses the pursuit of happiness in one small part of the Javanese thoughts or Kejawen, namely Soerjomentaram’s philosophy of Ngelmu Beja.
Mitos Menstruasi: Konstruksi Budaya Atas Realitas Gender Irwan Abdullah
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.771 KB) | DOI: 10.22146/jh.743

Abstract

Rahim merupakan sumber dari berbagai persoalan yang dihadapi perempuan yang memiliki implikasi yang luas dalam penataan sosial (Lupton, 1994). Karena memiliki rahim, perempuan harus menghadapi menstruasi, kehamilan, melahirkan, bahkan menopause. Fakta biologis ini secara langsung membedakan perempuan dengan laki-laki yang bersifat kodrati. Persoalan yang dihadapi perempuan dan laki-laki kemudian menjadi sangat berbeda karena alasan laki-laki tidak memiliki rahim. Adanya rahim ini menyebabkan perempuan memiliki cacat bawaan karena ia membawa serta serangkaian “penyakit” yang harus diderita kaum perempuan yang oleh Morris (1993: 104) dikatakan menyebabkan terjadinya histeria yang merupakan gangguan terhadap keseluruhan pengaturan suhu tubuh dalam proses biologisnya. Penyakit semacam ini telah membentuk dikotomi yang tegas antara “penyakit perempuan” dan “penyakit laki-laki” Tulisan ini merupakan usaha untuk mengkaji bagaimana mitos tentang menstruasi yang terkait dengan kultur suatu masyarakat memiliki implikasi yang luas dalam penataan sosial, khususnya dalam pembentukan dan pelestarian hubungan gender dalam masyarakat. Apakah, misalnya, menstruasi dapat menjadi tanda dari adanya negosiasi kekuasaan yang berlangsung dalam suatu setting sosial tertentu dan bagaimana proses dekonstruksi terhadap realitas seksual itu dapat terjadi.
Analisis Komparasi Lintas Budaya Hari Poerwanto
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.293 KB) | DOI: 10.22146/jh.744

Abstract

Disamping bersifat akademik, berbagai kajian tentang kebudayaan suku-suku bangsa di Indonesia memiliki tujuan praktis. Secara akademik dimaksudkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan salah satu manfaat praktis adalah untuk kepentingan pembangunan dalam arti luas. Pada masa penjajahan, pengetahuan mengenai suku-bangsa dan kebudayaan di Indonesia pernah diterapkan guna menguasai dan mengatur anak negeri. Karenanya, setelah kemerdekaan pengetahuan tentang keanekaragaman sukubangsa dan kebudayaan di Indonesia merupakan bahan penting untuk integrasi nasional dan pembangunan di Indonesia. Secara teoretik, Swartz (1968) berpendapatbahwa sejarah merupakan serangkaianperistiwa unik dan spesifik yang pernah terjadi, dan tidak akan pernah terulang kembali. Berbagai peristiwa unik dan spesifik harus dikaji lebih jauh secara kritis, dan bukan hanya sekedar untuk menjelaskan sesuatu yang descriptive integration. Seorang peneliti harus mengetes dan memperbarui teorinya, termasuk pula mengupayakan suatu generalisasi guna mendukung argumentasinya melalui berbagai fakta empirik dan keteraturan-keteraturan lainnya. Tanpa didukung oleh suatu referensi yang berkaitan dengan dalil-dalil umum atau general laws yang ada, maka seseorang itu hanya membuat kiasan belaka. Penelitian komparasi lintasbudaya merupakan komponen yang valid untuk melakukan generalisasi dari masyarakat dan kebudayaan manusia yang tersebar luas di muka bumi.
Grammatical And Lexical English Collocations: Some Possible Problems To Indonesian Learners Of English Rio Rini Diah Moehkardi
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.933 KB) | DOI: 10.22146/jh.745

Abstract

It seems universally acknowledged in all languages that words often co-occur with other word(s) in units. However, they are not always freely combined nor individually analyzable. Their co-occurences are adhered to some grammatical principles. The English prepositional phrase, at the moment, for example, is subject to grammatical choice of the preposition at rather than other random prepositions like on or in. Another example, verbal phrase look forward to is followed by gerund and not infinitive. Therefore, such phrases are also called lexico-grammatical units (Nattinger and DeCarrico, 1992:8). These unit are often confusing to learners not only because of their various semantic and syntactic requirements like the above examples, but also the double-function of their elements. Many words that combined with verbs can be used as either prepositions or adverbs, for example: above, across, along, before, behind, off, on, over, etc.(Thomson and Martinet, 1980:82) The examples for consideration are: (a) He got off the bus at the corner. Off in this got off verb combination is a preposition, and (b) He got off at the corner. Off that goes with the verb got in (b) is an adverb (also called adverbial particle).The co-occurence of off following got in (a) is expressing predictable direction and therefore is not as fixed as the one following got in (b) which expresses new Martinet, 1980: 83) may also function as conjunction. It is obvious that the function of grammar in conveying meaning is not only at sentence level, but also at phrase level. This confirms what has also been suggested by Kennedy (1990:216) that to some extent collocations are considered as “grammar in terms of vocabulary.” Due to the complexity of English collocation, this paper is going to discuss the types of English collocations, their possible problems to Indonesian learners of English and some solutions.
Istilah Kalimat Dan Klausa Dalam Bahasa Arab Amir Ma'ruf
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.408 KB) | DOI: 10.22146/jh.746

Abstract

Sering ada anggapan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang sulit dipelajari sehingga menjadi tidak menarik. Bahkan, ada sementara pihak yang menganggapnya sebagai momok. Banyak faktor yang menjadi penyebab terkondisinya hal itu. Sangidu (1995: 48) menandai ada dua faktor yang menjadi penyebabnya, yakni faktor tenaga pengajar bahasa (guru) dan faktor pembelajar bahasa (murid). Namun, penulis mempunyai asumsi lain bahwa kendala pembelajaran bahasa Arab itu ada kemungkinan disebabkan oleh tidak adanya râbit / link / tali penghubung antara bahan ajar dengan pengetahuan yang telah tertanam pada memori otak pembelajar bahasa. Memperhatikan hal tersebut kini sudah saatnya perlu dicarikan bahan ajar bahasa Arab yang sesuai dengan pengetahuan yang telah tertanam pada memori otak pembelajar bahasa Arab bagi pembelajar bahasa Arab berbahasa ibu bahasa Indonesia. Adapun yang menjadi perhatian penulis adalah bahan ajar sintaksis Arab (annahwu). Hal ini dipilih karena penulis sering mendapat pertanyaan dari para pembelajar bahasa Arab berbahasa ibu bahasa Indonesia yang merasa kesulitan memahami istilah sintaksis Arab.
Konstruksi Objek Ganda Dalam Bahasa Indonesia . Suhandano
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.068 KB) | DOI: 10.22146/jh.747

Abstract

Bahasa terdiri dari dua unsur utama, yaitu bentuk dan arti. Kedua unsur itu tidak selalu berkorespodensi satu satu. Beberapa bentuk dapat memiliki satu arti, dan sebaliknya, satu bentuk dapat memiliki beberapa arti. Demikianlah, pada tataran leksikon beberapa bentuk seperti mati, wafat, tewas, dan mampus, misalnya, memiliki satu arti dasar yaitu ‘hilang nyawanya’. Sebaliknya, satu bentuk bisa dapat memiliki dua arti, yaitu ‘mampu atau dapat’ dan ‘racun’. Dalam tataran leksikon, jika beberapa bentuk berkorespodensi dengan satu arti disebut sinonim, sedangkan jika satu bentuk berkorespodensi dengan beberapa arti disebut homonim. Hubungan bentuk dan arti yang tidak selalu berkorespodensi satu satu tersebut tidak hanya berlaku pada tataran leksikon, tetapi juga berlaku pada tataran yang lain. Pada tataran kalimat, misalnya, ketiga bentuk tuturan di bawah ini mengekspresikan hal yang sama. (1) Tuti mengambil air minum untuk Wati. (2) Tuti mengambilkan Wati air minum. (3) Tuti mengambilkan air minum Wati. Dalam tulisan ini dibahas perbedaan kalimat (2) dan (3). Tujuannya ialah mengidentifikasikan fungsi gramatikal kedua FN yang berada di belakang verba dan mengungkapkan beberapa aspek sintaksis dan semantik yang berkaitan dengannya.
Berbagai Ketentuan Baru dalam Ta'rib: Pembahasan Seputar Perkembangan Mutakhir Dalam Bahasa Arab Seri IV Syamsul Hadi
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.043 KB) | DOI: 10.22146/jh.748

Abstract

Tulisan ini membahas fenomena kebahasaan mutakhir dalam bahasa Arab, yakni berbagai ketentuan baru dalam ta’rib (arabization). Adapun yang dimaksud ta’rib adalah penyerapan unsurunsur asing, baik berupa kata maupun istilah. Disebut sebagai fenomena baru karena gejala ini kira-kira terjadi pada perempat terakhir abad ke-20. Akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahasa Arab selalu diperkaya dengan kosakata baru dari bahasa asing. Pembentukan kata dan istilah asing tersebut dilakukan oleh ahli-ahli bahasa, baik perorangan maupun ahli-ahli bahasa dari berbagai lembaga bahasa. Lembaga bahasa yang ada sering merupakan bagian dari sebuah institut atau universitas maupun lembaga bahasa yang tidak berafiliasi kepada keduanya. Dari penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa ta’rib kata dan istilah asing dilakukan dengan tiga cara, yakni penyerapan, penerjemahan, dan pembentukan istilah baru. Penyerapan kata dan istilah biasanya dilakukan oleh para leksikograf. Penerjemahan dan pembentukan istilah lebih banyak dilakukan oleh lembaga-lembaga bahasa. Dari proses ta’rib diketahui ada berbagai ketentuan yang selalu dilakukan. Di sini sengaja disebut sebagai “ketentuan” bukan “kaidah” karena sering merupakan pemikiran cenderung menyerap kata maupun istilah asing, sedangkan para ahli bahasa cenderung menerjemahkan dan membentuk istilah baru.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue