cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 950 Documents
BAHASA JURNALISTIK DALAM ERA PEMBANGUNAN Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.545 KB) | DOI: 10.22146/jh.2095

Abstract

Bahasa Indonesia ragam jurnalistik atau disingkat bahasa jurnalistik, adakalanya diistilahkan dengan bahasa media massa atau disebut pula dengan bahasa surat kabar. Ragam bahasa ini merupakan salah satu variasi bahasa yang digunakan di kalangan wartawan untuk menyampaikan informasi tertulis dalam berkomunikasi. Dalam era pertumbuhan masyarakat Indonesia sebegai masyarakat informasi di satu sisi dan sebagai masyarakat edukasi di sisi lain , bahasa jurnalistik mempunyai peranan yang cukup penting baik yang berhubungan dengan berbagai upaya para wartawan untuk meliput aneka ragam informasi, maupun untuk menyajikan berbagai macam gagasan yang dapat dicerna oleh masyarakat.
KRATON, UPACARA DAN POLITIK SIMBOL: Kosmologi dan Sinkretisme di Jawa lrwan Abdullah
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1810.99 KB) | DOI: 10.22146/jh.2096

Abstract

Upacara merupakan sisi paling menonjol pada perilaku sosial dan sistem gagasan orang Jawa. Upacara muncul secera luas melingkupi siklus hidup dan berbagai kegiatan sosial di dalam kehidupan masyarakat. Upacara yang meluas semacam ini menunjukkan bahwa upacara memiliki arti penting bagi masyarakat Jawa. Mempelajari upacara berarti mempelajari nilai-nilai penting di dalam masyarakat itu. Pemahaman makna-makna upacara tersebut selaniutya akan digunakan untuk menjelaskan proses sinkretisme di Jawa dan bagaimana kedudukan proses itu di dalam pembangunan kebudayaan dan masyarakat. Upacara gerebeg yang dilakukan oleh Kraron Yogyakarta digunakan sebagai acuan untuk menemukan kosmologi masyarakat Jawa yang selanjutnya dianalisa untuk menjelaskan pola berpikir yang mempengaruhi sikap dan perilaku.
UNSUR KEPAHLAWANAN HIKAYAT INDRAPUTRA Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.524 KB) | DOI: 10.22146/jh.2097

Abstract

Bangsa Indonesia memiliki sejumlah warisan kebudayaan yang tersimpan dalam kebudayaan berbagai daerah di seluruh Nusantara yang berupa karya sastra daerah yang mampu memaparkan kembali kehidupan batiniah pendukungnya tahun-tahun silam. Di antara daerah Nusantara yang dipandang banyak memiliki perbendaharaan berupa karya sastra adalah suku bangsa Melayu. Ungkapan kebudayaan ideal atau kompleks gagasan, nilai, dan peraturan (Koentjaraningrat, 1974:15) suku Melayu masih banyak yang dipantulkan kembali dalam kesusastraan yang meliputi kurun waktu yang panjang. Salah satu ungkapan tersebut terwujud dalam Hikayat Indraputra (seterusnya disingkat HI).
BEBERAPA ASPEK KEKERABATAN PADA MASYARAKAT KARO Masri Singarimbun
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1211.422 KB) | DOI: 10.22146/jh.2098

Abstract

Suku bangsa Karo adalah satu dari 6 suku bangsa -- Pakpak,Simelungun, Toba, Mandailing, Angkola dan Karo -- yang termasuk ke dalam kelompok suku bangsa Batak. Kesamaan dari suku bangsa-suku bangsa yang tergolong ke dalam Batak adalah sistem garis keturunan patrilineal dan hubungan kesemendaan yang khas, yakni antara apa yang secara populer dinamakan "pemberi dara" (Karo:  kalimbunu, Toba: hulo-hula) dan "penerima dara" (Karo: anakberu, Toba: boru). Namun dari sudut bahasa terdapat perbedaan yang jelas antara suku bangsa-suku bangsa yang tergolong ke dalam Batak. Orang Karo dan orang Toba, umpamanya, tidak akan saling mengerti jika menggunakan bahasanya masing-masing.
PERILAKU UPAYA PENYEMBUHAN Naniek Kasniyah
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1211.422 KB) | DOI: 10.22146/jh.2099

Abstract

Setiap masyarakat secara tradisional maupun modern, memiliki dan mengembangkan usaha dan cara pencegahan diri dari sakit. Usaha ini dapat dilaksanakan secara terbatas pada, atau dalam batas kemampuan perawatan rumah tangga, dan dapat pula dengan bantuan berbagai dukun. Kenyataan lain menunjukkan pula bahwa sebagai konsekuensi dan perkembangan dan penyebaran ilmu kedokteran masyarakat menggantungkan pemenuhan kebutuhan kesehatan pada praktek-praktekbiomedikal
SEJARAH PUISI INDONESIA MODERN: SEBUAH IKHTISAR Rachmat Djoko Pradopo
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1770.876 KB) | DOI: 10.22146/jh.2158

Abstract

Sejak lahirnya (1920) sampai sekarang (1990), kesusastraan Indonesia modern selalu berkembang. Dengan demikian, hal ini membuat adanya persambungan sejarah sastra Indonesia, baik dalam ragam prosa maupun puisi. Sampai sekarang, yang merupakan sajak Indonesia modern yang pertama adalah sajak "Tanah Air" yang ditulis oleh M. Jamin (Muhammad Yamin), terdapat dalam Jong Sumatra No.4, Tahun III, April 1920. Sebuah karya sastra itu sesungguhnya merupakan response terhadap karya sebelumnya, baik berupa tanggapan atau penyambutan yang bersifat penerusan konvensi maupun penyimpangan konvensi yang telah ada. Seorang penyair menulis puisi berdasarkan konvensi-konvensi puisi sebelumnya, tetapi sekaligus juga sering menyimpangi konvensi yang telah ada ataupun norma puisi sebelumnye. Hal ini mengingat bahwa karya sastra (puisi) itu tidak lahir dalam kekosonganbudaya. Demikian juga, karya sastra itu merupakanregangan antara konvensi dan inovasi.
DEPRESI 1930-AN DAN DAMPAKNYA TERHADAP HINDIA BELANDA Soegijanto Padmo
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1236.115 KB) | DOI: 10.22146/jh.2159

Abstract

Depresi Dunia 19JQ-an menimbulkan situasi yang sulit bagi ekonomi di seluruh dunia dan Hindia Belanda dan terutama pada indusrri perdagangan ekspor. Harga komoditi perdagangan di pasar dunia merosot tajam demikian pula permintaannya. Dengan demikian, jumlah keseluruhan nilai ekspor dan Tanah Jajahan menurun, meskipun demikian bunga dan hutang luar negeri yang tetap linggi masih harus dibayar, yang menciptakan sisa pembayaran luar negeri yang sangat sedikit. Dengan demikian import barang-barang hasil industri merosot tajam dan masih retap rendah selama depresi, terutama periode 1931 - 1935. Hal itu men imbulkan kesulitan ekonomi yang berat di seluruh daerah jajahan. Hal itu juga mengakibatkan bangkrutnya banyak perusahaan perkebunan baik di Jawa maupun di Sumatra Timur. Situasi yang makin membaik terjadi pada 1936 - 1937, meskipun hanya membawa sedikit perbaikan pada kurun waktu menjelang Perang Dunia II, yang menciptakan situasi yang jauh lebih parah bagiekonomi perkebunan secara keseluruhan. Dalam makalah ini akan dibicarakan tentang interpretasi Depresi 1930-an dari berbagai dimensinya, serta dampak yang ditimbulkannya terhadap Hindia Belanda.
STRATEGI PENGANGKATAN BAHASA NASIONAL INDONESIA DAN IRLANDIA: SUATU PERBANDINGAN Sukamti Suratidjo
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1638.359 KB) | DOI: 10.22146/jh.2160

Abstract

Pengangkatan suatu bahasa menjadi Bahasa Nasional melalui suatu strategi yaitu rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus (Pusat Bahasa, 1988: 859). Strategi pengangkatan Bahasa Nasional Indonesia dilaksanakan secara terselubung lewat budaya, sedang di Irlandia strategi dilaksanakan secara terang-terangan. Keperbedaan strategi inilah yang menjadi permasalahan untuk dibahas dalam makalah ini. Di samping itu juga banyaknya hambatan dalam menuju tujuan serta situasi kebahasaan akan menjadi perhatian juga. Dengan dipaparkannya masalah strategi pengangkatan Bahasa Nasional akan dapat diketahui betapa pentingnya Bahasa Nasional suatu negara, dan perlunya perencanaan bahasa. Dengan demikian, perencanaan bahasa perlu dilakukan untuk menunjang pembangunan nasional baik fisik maupun mental.
Upaya Mencari Ciri Kata Majemuk dalam Bahasa Indonesia Ariyanto Ariyanto
Humaniora No 1 (1989)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1280.456 KB) | DOI: 10.22146/jh.2220

Abstract

Hingga saat ini telah dikenal adanya gabungan dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan atau menimbulkan arti baru dengan nama kata majemuk. Di samping itu, perlu kiranya diturunkan batasan kata majemuk sebagaimana dirumuskan dalam Kamus Linguistik. Kata majemuk ialah gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang mempunya pola fonologis, gramatikal, dan semantis yang khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan; pola khusus tersebut membedakannya dari gabungan morfem dasar yang bukan kata majemuk. Pembahasan dalam tulisan ini adalah dalam rangka upaya mencari ciri kata majemuk dalam bahasa Indonesia, penulis batasi dari segi morfologi dan semantik.
Macapat dan Santiswara Darusuprapta Darusuprapta
Humaniora No 1 (1989)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1830.67 KB) | DOI: 10.22146/jh.2221

Abstract

Dalam khazanah kebudayaan Indonesia, khusus Jawa, hidup berkembangan kesenian macapat yang disebut juga  macapatan, dan kesenian santiswara yang disebut pula santiswaran. Macapatan lebih mengutamakan pembacaan teks dengan dendangan tembang kemudian diikuti sarasehan atau diskusi yang membahas segala segi isi teks bacaannya, sedangkan santiswaran lebih mengutamakan alunan swara dengan dendangan tembang disertai iringan bunyi tabuh-tabuhan.

Filter by Year

1989 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue