cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 950 Documents
BENTUK SAPAAN DALAM BAHASA INGGRIS DAN BAHASA INDONESIA Ni Gusti Ayu Roselani
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.857 KB) | DOI: 10.22146/jh.2084

Abstract

Di dalam artikelnya yang berjudul "The Importance of CulturalContext I" (JELL. Agusrus 1984), Jeffrey Winters menekankan pentingnya konteks budaya dalam belajar bahasa. Menguasai dasar-dasar bahasa seperti tatabahasa, kosa kata dan ucapan belumlah cukup. Menurut pendapatnya, pemahaman terhadap konteks budaya lah yang akan memungkinkan seorang pelajar bahasa asing untuk menghasilkan tuturan-tuturan yang bukan saja benar secara gramatikal, melainkan juga tepat untuk situasi tertentu. Selanjutya ia memberikan beberapa contoh sehubungan dengan kesalahan-kesalahan umum yang dibuat oleh para pelajar bahasa Inggris di Indonesia mengenal konteks budaya. Salah satunya menyangkut kesalahan pemakaian kata sapa mister misalnya dalam tuturan Hello, mister! Kesalahan semacam itu menurut dugaannva. kemungkinan besar disebabkan oleh penerjemahan langsung dari tuturan Hallo Pak (Tuan/Om)! Sebagai alternatif ia memberikan tuturan yang tepat dan lebih enak didengar Hello, sir (Miss). Tuturan semacam ini, menurut pendapatnya tentu akan berguna khususnya bagi orang Indonesia karena kecenderungan mereka untuk memakai kata-kata yang menunjukkan rasa hormat. Kesalahan semacam itu bukan hanya dilakukan oleh para pelajar. Masih cukup banyak guru atau dosen yang tidak dapat secara tepat menggunakan kata-kata sapaan seperti tersebut di atas (Poedjosoedarmo, 1986). Dengan kata lain, kesalahan yang menyangkut konteks budaya seperti tersebut di atas disebabkan karena ketidaktahuan kita akan penggunaan bentuk-bentuk sapaan dalam bahasa Inggris atau karena perbedaan penggunaan bentuk-bentuk sapaan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
PEMAHAMAN PUISI INDONESIA MODERN Rachmat Djoko Pradopo
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2210.886 KB) | DOI: 10.22146/jh.2085

Abstract

Untuk memahami puisi dapat dipergunakan bermacam-macam cara sesuai dengan sifat hakikat puisi. Dalam makalah ini dikemukakan salah satu cara pemahaman, terutama dengan pendekartan struktural dan semiotik, yaitu dengan pendekatan struktur intrinsik puisi dan melihat puisi sebagai sistem tanda.Puisi mempunyai sifat hakikat dan konvensi sendiri. Puisi adalahkarya imajinatif yang pufungsi estetiknya dominan (Wellek dan Warren, 1968 : 25). Dengan demikian, memahami puisi tidak lepas dari unsur kebahasaan dan keseniannya yang keduanya berjalinan erat. Begitu juga, pemahaman puisi Indonesia tidak lepas dari pemahaman sifat hakikat puisi itu secara umum dan tentu saja tidak lepas dari sifat khusus keindonesiaannya.
KLAUSA TERIKAT DAN KLAUSA RELATIF Sukamti Suratidjo
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1786.944 KB) | DOI: 10.22146/jh.2086

Abstract

Nichols (1985 : 17) menjelaskan bahwa masalah klausa merupakan pendapat yang berasal dari Eropa dari bahasa eksotik, yang masih merupakan keanekaragaman pendapat mengenai kehadirannya dalam tata bahasa. Sehubungan dengan pendapat Nichols tersebut maka perlu kiranya dibahas mengenai klausa terikat dan klausa relatif dalam bahasa Indonesia. Mengapa topik mengenai klausa terikat yang menjadi fokus perhatian? Uraian berikut merupakan jawabannya. Berdasar pada pendapat Kridalaksana (I985:156) mengenai pembagian klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat, klausa terbagi atas klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat, sedang klausa terikat adalah klausa yang: tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat dan hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor. Satu hal yang menarik adalah pengertian terikat pada klausa, yaitu terikat pada apa? Kiranya permasalahan ini akan terpecahkan dengan mengindenifikasi klausa terikat dan melihat kehadirannya berdasarkan ciri-cirinya. Selanjutya bagian dari klausa terikat ada yang disebu t klausa relatif, Hal ini terdapat relasi yang kuat dengan klausa terikat.
CURRENT APPROACHES TO THE DESCRIPTION OF SCIENTIFIC ENGLISH Tofan Dwi Hardjanto
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2474.277 KB) | DOI: 10.22146/jh.2087

Abstract

In recent years scientific English has received a good deal of attention from researchers working in such diverse fields as Linguistics, ie (Applied) Discourse Analysis and the Sociology of Science. This growing interest in research into scientific English is primarily due to the importance that modern scientific communities have assigned to it. Indeed, over these yearsEnglish seems to have enjoyed dominance over other languages as the language of international publication and it is now becoming more and more prominent in the pu blication of scientific research articles an d papers. Mounting evidence for this English domination has been offered by researchers such as Baldauf & Jernudd (l983a ; 1983b), Swales (1985), and Maher (1986). In 1983, fo r example, Baldauf & Jernudd (l 983a) conducted a study of the language use patterns in the Fisheries literature for 1978. Their analysis of 884 articles indicated that English is the dominant language (amounting to 75%) in the literature they examined. Having established this English domination, they proceeded to the investigation of the relationship between language use and location of writers. They concluded that "the large proportion of English language articles was due mainly to the large number of authors from English speaking countries and by the use of English as a medium of communication by international organizations " (l983a: 254).
TANGGAPAN PEMBACA TERHADAP SAJAK-SAJAK TOETI HERATY Sugihastuti Sugihastuti
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1330.866 KB) | DOI: 10.22146/jh.2088

Abstract

Sajak sebagai karya sastra baru bermakna atau dapat berarti apabila dibaca dan ditanggapi pembaca. Peranan pembaca di dalam penelitian karya sastra sangat penting. Demikian juga, peranan pembaca bagi terwujudnya makna sajak-sajak Toeti Heraty penting karena pembaca memberikan tanggapannya. Tanggapan itu bersifat teoretis dan praktis. Tanggapan teoretis berupa tanggapan yang berdasarkan pada kongkretisasi terhadap sajak yang bersangkutan; tanggapan praktis cenderung membicarakan efek sajak terhadap pembaca. Di dalam pembicaraan ini dibicarakan tanggapan teoretis saja, sebab tanggapan praktis memerlukan penelitian yangleblh mendalam, diperlukan penelitian lapangan terhadapnya. Dipilihnya sajak-sajak Toeri Heraty sebagai objek pembicaraan disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, sajak-sajak Toeti Heraty menduduki posisi penting dalam khazanah puisi Indonesia modern. Kedua, Toeti Heraty sebagai penyair wanita Indonesia pun dianggap sebagai penyair ternama. Ketiga, posisi sajak-sajak Toeti Heraty yang tidak terabaikan dalam kancah pembicaraan puisi Indonesia modern menjadi alasan dipilihnya topik pembicaraan ini.
ANTROPOLOGI EKONOMI VERSUS ILMU EKONOMI KAJIAN AWAL TENTANG MASALAH SEJARAH, OBYEK DAN METODE Bambang Hudayana
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1075.389 KB) | DOI: 10.22146/jh.2090

Abstract

Antropologi ekonomi sebagai salah satu cabang disiplin antropologi nampak paling: banyak berurusan dengan ilmu ekonomi. Ini terjadi bukan sekedar karena kedua bidang studi tersebut sama-sama mengkaji fenomena ekonomi, melainkan berhubungan dengan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ahli antropologi untuk benar tidaknya meminjam teori, konsep ataupun metodologi llmu ekonomi. Penganut pendekatan formalis menghendaki dipakainya teori-teori ekonomi yang bersifat universal dalam studi antropologi sedangkan pendekatan substantif menolak universalitas teori ekonomi dan mencobe mengembangkan teori-teori yang dipandanglebih empiris.
KEPEMIMPINAN PANGERAN D1PONEGORO DALAM PERSPEKTIF SEJARAH Djoko Surjo
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1499.097 KB) | DOI: 10.22146/jh.2091

Abstract

Tulisan ini bermaksud menyorot segi kepemimpinan Pangeran Diponegoro dan perspektif sejarah. Pembahasan tentang kepemimpinan dan kepahlawanan tokoh Pangeran Diponegoro dipusatkan pada persoalan yang menyangkut tentang kedudukanperanan Diponegoro dalam panggung sejarah masyarakat Indonesia. Dengan pertanyaan apa, siapa, bagaimana dan mengapa Diponegoro memiliki tempat penting dalam sejarah. Sejarah Indonesia akan mengantar kedudukan dan perannya dalam sejarah dan masyarakat Indonesia. Pertanyaan itu sekaligus juga akan mengarahkan penjelasan tentang masalah kepahlawanan dan kepemimpinan Diponegoro.
WANITA DAN PEMBANGUNAN Gandarsih Mulyowati Retno Santoso
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.64 KB) | DOI: 10.22146/jh.2092

Abstract

Program pembangunan di berbagai aspek kehidupan secara efektif telah dimulai oleh pemerintah orde baru sejak tahun 1969. Program tersebut banyak melibatkan wanita baik sebagai subyek maupun obyek pembangunan (Surbakti, 1987:1). Menurut Alfian (1986:11) pembangunan adalah perubahan dan pertumbuhan. Secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha-usaha yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat dengan berencana memperbaiki keadaan menjadi lebih baik. Suatu proses pembangunan yang berhasil biasanya disertai pula dengan lahirnya persoalan-persoalan baru yang memima pemecahan. Disadari bahwa jumlah wanita dalam struktur penduduk Indonesia merupakan mayoritas, merupakan potensi  pembangunan yang harus dikembangkan secara terencana dan berkesinambungan Surniyeri, 1987:2).
SEKILAS TENTANG ASAL-USUL HURUF ARAB DAN SENI KALIGRAFI DI INDONESIA Humam Abubakar
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.07 KB) | DOI: 10.22146/jh.2093

Abstract

Seni kaligrafi Arab di Indonesia akhir-akhir ini nampak semakin berkembang dengan pesat, berbeda sekali dengan perkembangan seni kaligrafi yang lain. Sebagai dampak dari adanva perbedaan tersebut ialah, jika kita mendengar istilah 'kaligrafi", maka yang terlintas dalam benak kita adalah sebentuk tulisan Arab yang ditulis dengan gaya sedemikian rupa, sehingga tulisan tersebut memiliki keindahan yang bernilai seni dan sedap dipandang mata. Nampaknya aspek 'kearaban' memang cukup dominan dalam seni kaligrafi, hingga dapat mengubah pandangan masvarakat bahwa yang disebut dengan 'kaligrafi' adalah segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan huruf Arab. Padahal, kaligrafi memiliki pengertian yang bersifat umum, bisa Arab, Cina, Latin, Ibrani, Jawa dan sebagainya. Timbulnya salah pengertian tersebut sangat mungkin disebabkan oleh karena perkembangan seni kaligrafi Arab cukup mendapatkan posisi yang sangat baik sebagaimana yang disebutkan di atas.
RESEPSI SASTRA: TEORI DAN PENERAPANNYA Imran T. Abdullah
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.25 KB) | DOI: 10.22146/jh.2094

Abstract

Sebenarnya istilah resepsi sastra atau disebut juga estetika resepsi sudah tidak asing lagi bagi telinga pengamat sastra Indonesia. Apalagi sejak tahun 80-an relah terbit dua buah buku penting yang membicarakan masalah ini terutama dari Prof. A. Teeuw (1984) dan Prof. Umar Junus (1985). Adanya tanggapan pembaca terhadap karya sastra sesungguhnya juga sudah berlangsung lama dalam kehidupan sastra baik lisan maupun tertulis. Pengamat sastra pun menyadari akan fungsi komunikasi sastra. Mukarovsky, misalnya,. sejak tahun 80-an telah membicarakan hal ini dalam sistem semiotiknya. Dikatakannya, karya sastra sebagai sistem tanda dibedakan dalam dua aspek, ialah penanda (signifiant) dan petanda (signifie ). Penanda merupakan artefak, struktur mati, petandalah yang menghubungkan artefak itu ke dalam kesadaran penyambut menjadi objek estetik (Fokkema, 1977:81). Dengan kata lain, karya sastra tidak dapat dipahami dan diteliti lepas dan konteks sosial.

Filter by Year

1989 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue