cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 1 (2006): JUNI" : 18 Documents clear
nalisis Keragaman Genetik Streptococcus agalactiae Penyebab Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah Menggunakan pulsed field gel electrophoresis (PFGE) = Genetic Analysis of Streptococcus agalactiae Caused Subclinical ... Agnesia Endang Trihastuti
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2546.757 KB) | DOI: 10.22146/jsv.338

Abstract

Streptococcus agalactiae atau Streptokokus grup B (SGB) adalah salah satu bakteri utama penyebab mastitis subklinis pada sapi perch dan merupakan parasit obligat pada ambing. Karakterisasi S.agalactiae biasanya dilakukan secara konvensional menggunakan metode serotyping. Meslci metode ini sering digunakan namun masih mempunyai kelemahan apalagi masih adanya isolat S.agalactiae yang belum dapat dimasukkan ke dalam serotipe yang ada (nontypeable/NT), oleh karena itu pendekatan bare dengan metode genotyping digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat profil DNA menggunakan PFGE dan kekerabatan isolat dari masing-masing serotipe maupun masing-masing daerah. Penentuan serotipe S. agalactiae dilakukan dengan metode serotyping menggunakan antiserum spesifik terhadap 9 serotipe S. agalactiae dengan uji imunodifusi/ agar gel presipitasi (AGP). Analisa genotipe S. agalactiae dilakukan menggunakan macro restriction fragment length polymorphism (MLFP)/ metode schizotyping menggunakan Pulsed-field gel electrophoresis (PFGE). Hasil dari penelitian ini adalah genotipe dari S. agalactaie dengan enzim restriksi Smal dihasilkan potongan-potongan pita Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) yang jelas. Ada 3 isolat S. agalactiae yang tidak dapat dipotong oleh ensim restriksi Smal. Analisa DNA genom dari 21 isolat S.agalactiae dihasilakn 15 profil DNA.
ntracellular Localization of HBV Capsid in Hepatocyte Line After Transfected by The Entire HBV Genome = Lokalisasi Intraseluler Kapsid HBV Pada Sel Line Hepatosit Setelah Ditransfeksi Dengan Genom Utuh HBV. Aris Haryanto; Michael Kann
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2750.247 KB) | DOI: 10.22146/jsv.339

Abstract

HBV replicates within the nucleus of hepatocyte using cellular transport machinery for the import of their genomes into the nucleus. Genome of HBV has to transported through the cytoplasm towards the nuclear pore complex (NPC) followed by subsequent passage through the pore. HBV capsid is involved in a number of important functions in the replication cycle of HBV. It can be detected in the nucleus, cytoplasm or both within infected hepatocytes. Nuclear localization of HBV capsid protein, which is karyophilic, depends on the cell cycle. The objective of the present study was to analyzes the intracellular localization of HBV capsid protein after transfected by entire HBV genome into hepatocyte cell lines (HuH-7) and to determine the predominantly localization of the capsid into cell compartment. In this work we analysed the intracellular localization of the HBV capsid in human hepatocyte cell lines liuH-7 by transfection using entire HBV genome and transient expression. The transfected cells were fixed and an indirect immune staining against the HBV capsid was performed to detect the capsid. To verify the location within the cell, an additional co-staining against the nuclear pore complexes was performed. The Intracellular localization of the HBV capsid and NPC were analyzed by a confocal laser scan microscope. The observed of localizations into the transfected cells were classified to be predominantly as nuclear localization, cytoplasmic localization or distributed within both of these compartments. Result of this study indicated that Staining of HBV capsid found predominantly within the nucleus (71%). Less frequently, the HBV capsid localized within the cytoplasm (26%). Only in a minority of cases, the capsids were localized within cytoplasm and nucleus (3%). This low frequency indicate that the capsids were not diffusing within the cells being in accordance to the in vivo situation in which the nuclear membrane was impermeable for the capsid.
Kajian Kasus-kontrol Avian Influenza Pada Unggas di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta= A Case-control Study on Avian Influenza in Poultry in East Java, Central Java and Yogyakarta Special Province. Dyah Ayu Widiasih; Heru Susetyo; Bambang Sumiarto; Charles Rangga Tabbu; Setyawan Budiharta
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1791.726 KB) | DOI: 10.22146/jsv.341

Abstract

Kajian kasus-kontrol yang dirancang untuk menyidik kejadian avian influenza (Al) dan mencari hubungannya dengan faktor resiko penyakit, telah dilakukan terhadap 218 dusun di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai kasus (109 dusun) adalah dusun yang pernah dilaporkan atau sedang mengalami kasus AI, dan kontrol (109 dusun), adalah dusun yang dilaporkan belum pernah mengalami, tetapi dekat dengan dusun kasus. Kuesioner digunakan untuk menjaring variabel yang diperkirakan berasosiasi dengan kejadian AI. Data yang diperoleh dianalisis dengan Chi Square (x2) dan odds ratio (OR). Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor adanya hewan pengerat (OR = 1,90), faktor adanya burung liar (OR = 24,00), faktor pekerja pulang sehabis kerja (OR = 2,65), dan faktor sektor III (OR = 1,79) mempunyai asosiasi karat dengan kejadian AI di suatu dusun, sedangkan beberapa faktor biosekuriti berasosiasi lemah (OR = 1,0 – 1,5) terhadap kejadian Al.
Efisiensi ekstraksi metabolit steroid asal feses dengan proses pengeringbekuan dan tanpa proses pengeringbekuan untuk persiapan analisis hormone= Extraction efficiency of fecal metabolite steroid using lyophilization ... Hera Maheshwari; Puji Astuti; Luthfiralda Syahfirdi; Rivany Widjajakusuma
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1369.968 KB) | DOI: 10.22146/jsv.342

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efisiensi ekstraksi steroid asal feses yang didahului dengan proses pengeringbekuan dan tanpa proses pengeringbekuan (feses basah). Sebanyak 10 contoh feses babirusa (Babyrousa babyrussa) betina dari Taman Margasatwa Surabaya yang dikoleksi setiap hari. Ekstraksi feses dalam metanol dilakukan dengan 2 metoda, yaitu ekstraksi feses yang didahului proses pengeringbekuan terlebih dahulu dan ekstraksi feses basah. Efisiensi ekstraksi dari masing-masing contoh ditentukan dengan menghitung perolehan kembali (recovery) [3H]-estron terkonjugasi ([3F1]-EIC). Dari hasil perhitungan perolehan kembali [31-1]-EIC, diperoleh rerata efisiensi ekstraksi 79.60 + 4.82 % untuk ekstraksi yang didahului proses pengeringbekuan dan 79.03 + 6.47 % untuk ekstraksi feses basah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa proses penyiapan contoh feses sebelum digunakan untuk analisis hormon dapat dilakukan balk dengan proses pengeringbekuan terlebih dahulu maupun ekstraksi langsung terhadap feses basah. Namun, berdasarkan pertimbangan kepraktisan, maka proses ekstraksi feses basah adalah yang lebih baik karena memerlukan waktu yang lebih cepat, biaya yang lebih murah dan ketrampilan yang tidak begitu tinggi dibandingkan dengan proses ekstraksi feses yang dikeringbekukan terlebih dahulu.
Kasus Ankilostomiasis Pada Pasten Anjing di Klinik Penyakit Dalam, Rumah Sakit Hewan FKH.UGM Selama Tahun 2005 = Case of Ancylostomiasis in Dog Patiens in Department of Internal Medicine, Animal Hospital, ... Ida Tjahajati; Hary Purnamaningsih; Guntari Titik Mulyani; Yuriadi .
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2225.469 KB) | DOI: 10.22146/jsv.343

Abstract

Ancylostoma caninum rnerupakan cacing tarnbang yang banyak irenyeriuig pada manusia dan hewan kesayangan seperti anjing. Meskipun kasus ankilostomiasis banyak ditemukan namun angka kejadian penyakit ankilostomiasis pada pasien anjing di Klinik Penyakit Dalam RSH FKH-UGM belurn pernah diteliti secara final dan dipublikasikan. Kajian bertujuan untuk mengungkap angka kejadian ankilostomiasis pada pasien anjing yang ada di Klinik Penyakit Dalam RSH selama tahun 2005. Kajian dilakukan dengan metode retrospektif, dengan menggunakan data dari medical record pasien yang ada di Klinik Penyakit Dalam, RSH FKH-UGM selama tahun 2005. Data ankilostomiasis pada anjing didasarkan pada adanya telur cacing Ancylostoma sp pada pemeriksaan tinja. Data yang diperoleh diolah sehingga diperoleh angka juinlah penderita ankilostomiasis per bulan, dan persentase penderita ankilostomiasis dibanding dengan penyakit lainnya tiap bulannya dalam periode sate tahun. Hasi! penelitian menunjukkan bahwa kasus ankilostomiasis pada pasien anjing di Klinik Penyakit Dalarn RSH FKH-UGM selalu ada sepanjang tahun 2005. Dibanding dengan penyakit lainnya kasus ankilostomiasis anjing merupakan penyakit yang paling dominan, dan mencapai puncaknya (23,33%) pada bulan Oktober. Berdasar pada banyaknya kasus di sepanjang tahun dan dominannya penyakit ankilostomiasis pada anjing yang punya risiko untuk menular pada manusia, maka penyuluhan kepada pemilik anjing dan kewaspadaan untuk pencegahan penularan ke manusia sangat penting untuk diupayakan.
Antibody of goat zona pellucida-3 (gzp3) protein of mice(Mus musculus) block in vitro fertilization of mice as an animal model= Antibodi protein zona pelusida-3 kambing (gZP3) asal mencit(Mus musculus) mencegah ... Imam Mustofa; Laba Mahaputra; Yoes Priyatna Dachlan; Fedik Abdul Rantam; Suwarno .; Widjiati .; Aucky Hinting
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2056.388 KB) | DOI: 10.22146/jsv.344

Abstract

The researchs of immunocontraception have done in ZP3 of several species, but have not been done in ZP3 of goat. In preliminary study, gZP3 protein was effective prohibited of graviditation of mice. The aim of this study was to prove the potency of gZP3 protein to prohibit in vitro fertilization of mice as an animal model. Antibody of gZP3 produced on mice. Immunized mice serum was analyzed using Elisa and Dot blotting method. Antibody of gZP3 supplemented into M-16 media for oocyte incubation, continued with in vitro fertilization. The result showed that antibody titer of immunized mice serum was higher (p
Respon Neutrofil, Adesi Pada Sel Epitel, Aglutinasi Eritrosit Terhadap Staphylococcus aureus : Kajian Hidrofobisitas In Vitro = Response of neutrophils, epithelial cells adhesion, erythrocytes agglutination of Staphyloco Khusnan .; Siti Isrina Oktavia Salasia
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2690.953 KB) | DOI: 10.22146/jsv.345

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri potensial sebagai penyebab utama mastitis pada sapi perah. Mastitis dapat menyebabkan kerugian ekonomi peternak akibat turunnya produksi susu. Infeksi bakteri dapat terjadi melalui kemampuan bakteri memasuki hospes, berkembang biak, merusak jaringan inang dan mampu bertahan dalam tubuh hospes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sifat hidrofobisitas S. aureus dan kemampuannya terhadap aglutinasi eritrosit, pelekatan dengan sel epitel dan kemampuan bertahan terhadap fagositosis sel polimorfonuklear. Dari 10 isolat S. aureus yang digunakan dalam penelitian ini, terdapat 8 isolat bersifat hidrofob dan 2 isolat bersifat hidrofil. Diantara isolat yang bersifat hidrofob terdapat 2 isolat mempunyai kemampuan mengaglutinasi eritrosit sapi perah, kambing, domba. Staphylococcus aureus yang bersifat hidrofob dan hemaglutinasi positif, lebih banyak melekat pada sel-sel epitel bukalis dan lebih banyak difagosit oleh sel-sel PMN dibanding isolat yang bersifat hidrofob tetapi hemaglutinasi negatif maupun isolat yang bersifat hidrofil. Isolat yang bersifat hidrofil tidak mampu mengaglutinasi eritrosit dan lebih sedikit melekat pada sel-sel epitel dan lebih sedikit difagosit oleh sel-sel PMN.
Isolasi dan Identifiicasi Serologis Virus Avian Influenza Dari Sampel Unggas Yang Diperoleh di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah = Isolation and Serological Identification of Avian Influenza Virus From Poultry Sample ... Michael Haryadi Wibowo; Widya Asmara; Charles Rangga Tabbu
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3152.733 KB) | DOI: 10.22146/jsv.346

Abstract

Avian Influenza (AI) merupakan penyakit penting pada unggas, karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi secara signifikan, dengan tingkat morbiditas dan mortalitas penyakit sangat tinggi. L,ebih dan itu potensi penularan penyakit AI dari hewan ke manusia, memberikan dampak ekonomi tersendiri. Beberapa kasus yang diduga sebagai AI banyak mewabah di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit tersebut cukup membingungkan peternak dan sangat dikacaukan dengan penyakit Newcastle (ND) karena kedua penyakit mempunyai kemiripan karakter dan gejala klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonfirmasi apakah wabah penyakit tersebut disebabkan oleh virus AI atau virus ND. Sampel isolasi diambil dari paru atau trakhea, kemudian diproses lebih lanjut untuk diisolasi, dipropagasi secara in ovo menggunakan telur ayam berembrio umur 9 sampai 12 hari, spesific pathogen free atau telur yang setidaknya bebas antibodi terhadap virus AI. Teknik isolasi menurut standar prosedur Office International des Epizooties (01E) dan kemungkinan adanya pertumbuhan virus diuji terhadap kemampuan mengaglutinasi sel darah merah ayam atau hemaglutinasi (HA). Uji HA positif, mengindikasikan ada pertumbuhan virus ND atau virus AL Kedua jenis virus tersebut dapat dibedakan dengan uji hemaglutinasi inhibisi (HI) menggunakan serum anti dari masing-masing virus yang diuji. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa beberapa sampel unggas, yaitu: ayam petelur, ayam broiler, ayam kampung, dan burung puyuh, yang di peroleh dari beberapa daerah di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah dan secara klinis menunjukkan gejala tersifat maupun tidak tersifat AI, secara serologis dapat dikonfirmasi sebagai virus avian influenza sub-tipe 145Ni.
Fertilitas Semen Beku Hasil Ejakulasi dan Spermatozoa Beku Asal Cauda Epididimis Domba Garut= Fertility of Frozen-Thawed Semen From Ejaculation and Frozen-Thawed Spermatozoa From Cauda Epididymis of Garut Ram. Muhammad Rizal
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2975.346 KB) | DOI: 10.22146/jsv.347

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji clan membandinglcan kualitas dan fertilitas antara semen beku hasil ejakulasi (SHE) dan spermatozoa beku asal cauda epididimis (SCE) domba Garut melalui inseminasi buatan (IB). Semen diencerkan dengan modifikasi pengencer Tris yang mengandung 5% gliserol dan 20% kuning telur. Semen dikemas di dalam straw mini (0,25 ml) dengan konsentrasi 200 juta spermatozoa motif. Semen diekuilibrasi pada suhu 5°C selama tiga jam, kemudian dibekukan dan disimpan di dalam konteiner nitrogen cair selama tujuh hari. Kualitas semen meliputi persentase spermatozoa motif, spermatozoa hidup, tudung akrosom utuh (TAU), dan membran plasma utuh (MPU) dievaluasi masing-masing setelah tahap pengenceran, ekuilibrasi, dan thawing. Sebelum IB, betina-betina diserentakkan estrusnya dengan cara mengimplan CIDR-G® di dalam vagina selama 13 hari. Inseminasi secara intracervical dilakukan 53 jam setelah pencabutan implan CIDR-G® dan diulangi tujuh jam kemudian, masing-masing dengan satu dosis (satu straw). Kebuntingan didiagnosis dengan ultrasonografi (USG) 35, 83, dan 120 hari setelah IB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas spermatozoa SHE lebih balk daripada SCE. Persentase spermatozoa motif, spermatozoa hidup, TAU, dan MPU setelah thawing perlakuan SHE (52,78%, 58,78%, 54,22%, dan 56,22%) nyata (P
Kaji Banding Morfometri Spermatozoa Sapi Bali (Bos sondaicus) Menggunaican Pewarnaan Williams, Eosin, Eosin Nigrosin dan Formol-Saline= Comparative Study of Bali Bull Cattle (Bos sondaicus) Sperm Morphometry... RI Arifiantini .; T. Wresdiayati; EF. Retnani
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2089.162 KB) | DOI: 10.22146/jsv.348

Abstract

ujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji morfometri spermatozoa sapi bali dengan pewarnaan Williams (W), eosin (E), eosin nigrosin (EN) dan fiksasiformol-saline (FS) sebagai data dasar yang sampai scat ini belum dilaporkan. Semen dikoleksi dengan teknik vagina buatan dari sepuluh ekor sapi di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Baturiti, Bali. Semen yang diperoleh dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Morfometri spermatozoa dilakukan dengan menggunakan mikrometer dengan bagian yang diukur adalah panjang dan lebar kepala; panjang ekor bagian tengah dan utama; serta panjang total sperma pada 50 sel untuk setiap sampel sebanyak 3 ulangan. Morfometri spermatozoa pada bagian panjang kepala dengan pewarnaan W (10,0510,05 pm) dan FS (10,0810,04 Rm) nyata lebih panjang (P

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2025): Desember Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue