cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Proses
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
Karakterisasi dan Laju Pembakaran Biobriket Campuran Sampah Organik dan Bungkil Jarak (Jatropha curcas L.) Eddy Kurniawan; Wahyudi Budi Sediawan; Muslikhin Hidayat
Jurnal Rekayasa Proses Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.876 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4697

Abstract

Potensi limbah biomassa dan bungkil jarak pagar cukup besar dan saat ini belum termanfaatkan. Kedua bahan tersebut dapat diolah menjadi bio-arang melalui proses pirolisis. Bio-arang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Tar dan tepung tapioka digunakan sebagai perekat dalam pembuatan briket arang. Pada penelitian ini digunakan briket arang dengan fraksi massa bungkil jarak pagar 0, 25, 50, 75 dan 100%. Percobaan diawali dengan pembuatan arang, penghalusan arang dan pengayakan ukuran 35 mesh, pencampuran bahan baku dengan pelbagai komposisi dengan penambahan perekat (tapioka atau tar) kemudian ditekan dengan tekanan 1 kg/cm2. Selanjutnya, briket dianalisis kuat tekan, kadar air, kadar bahan mudah menguap, kadar abu, karbon terikat dan nilai kalor. Pembakaran briket dilakukan untuk mempelajari laju pembakaran dengan model matematis. Hasil analisis model matematis menunjukkan bahwa laju pembakaran briket pada komposisi bungkil jarak 75% dengan perekat tar, lebih cepat. Briket yang menggunakan perekat tar memberikan asap pada saat dibakar, sedang penggunaan perekat tapioka tidak manghasilkan asap. Model matematis yang diajukan dapat menggambarkan laju pembakaran briket. Parameter kinetik dan laju pembakaran dapat diperoleh dari model yang diajukan. Kata kunci: briket, bahan perekat, laju pembakaran, parameter kinetik The potential of biomass municipal waste and jatropha cakes is abundant, but has not been utilized. These materials can be converted into biobriquette via pyrolisis, which can be used as alternative fuel. Tar and tapioca adhesive were applied for the binder. In this study, briquettes with the mass fraction of jatropha cakes of 0, 25, 50, 75 and 100% were used. Research was done by performing carbonization, screening (35 mesh), mixing raw materials (municipal waste, jatropha cakes, tapioca adhesive and tar adhesive) and pressing at 1 kg/cm². Briquettes were then analyzed for compressive strengh, heating value, the moisture content, volatile matter, ash and fixed carbon. The combustion of the briquette was undertaken to study the rate of combustion. Mathematical model showed that the rate of combustion of the briquette with composition of municipal waste and jatropha oil cakes (25% : 75%) with adhesive tar was faster. Briquettes with adhesive tar produce smoke when burned, while briquettes with tapioca adhesive is smoke-free. Therefore it is more preferable. The proposed mathematical model describes the rate of combustion of the briquette well. The kinetic parameter of the rate of combustion were also obtained. Keywords: Briquette, adhesive materials, rate of combustion, kinetics parameter.
Coating in Primary Reformer’s Radiant Section Baskara Aji Nugraha
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.581 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4939

Abstract

Kaltim Parna Industri (KPI) mengalami masalah pada coil heat exchanger pada bagian konveksi primary reformer yang memanfaatkan panas flue gas yaitu berupa fouling pada bagian luar tube coil exchanger (finned tube). Pada awalnya belum diketahui sumber penyebab fouling, namun dari hasil analisis laboratorium diketahui bahwa komponen penyusun fouling sama dengan komponen firebrick (batu tahan api). Oleh karena itu diambil kesimpulan bahwa penyebab fouling adalah firebrick yang tererosi lalu terbawa aliran flue gas. Salah satu cara untuk menghilangkan sumber fouling adalah dengan melakukan coating pada ruang bakar yang terdapat firebrick di dalamnya. Coating dilakukan dengan menggunakan cat khusus yang tahan suhu tinggi yang mampu menahan permukaan fire brick dari erosi. Kata kunci: seksi konveksi, fouling, pelapisan, firebrick, reformer Kaltim Parna Industri, (KPI), experienced severe fouling on the flue gas side of the coil heat exchangers. This happened on the outer tube side, which some were finned tubes. Although the cause had not clearly been identified, laboratory analysis indicated that the fouling had similar composition with the firebrick. Therefore, preliminary assumption of what causes the problem was firebrick erosion that was carried away by flue gas flow. In order to completely eliminate fouling source and hopefully to reduce cleaning frequency, we planned to coat combustion chamber with special high temperature resistance coating.The result was promising that the material was stable against high temperature and even further helped the operation. Keywords: convection section, fouling, coating, firebrick, reformer
Aplikasi Analisis Pinch untuk Menurunkan Konsumsi Steam di Bagian Process House Pabrik Gula Daniyanto
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.175 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4940

Abstract

Salah satu indikator efisiensi energi pabrik gula adalah Steam on Cane (SOC). SOC menunjukkan pemakaian steam tiap berat tebu. Semakin kecil SOC, efisiensi energi pabrik gula semakin baik. Sumber bahan bakar utama pabrik gula adalah bagasse. Bagasse merupakan ampas hasil ekstraksi tebu. Pabrik gula yang efisien akan memiliki SOC kurang dari 50%. Nilai SOC lebih dari 50% menyebabkan pabrik gula harus menggunakan tambahan bahan bakar selain bagasse. Jika SOC kurang dari 40 % berat tebu maka pabrik gula bisa melakukan kogenerasi dan menghasilkan listrik untuk dijual. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan SOC dengan cara menurunkan konsumsi steam di process house melalui inovasi konfigurasi proses dengan analisis pinch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis pinch bisa digunakan untuk menurunkan konsumsi uap di pabrik gula. Penggunaan uap evaporator dari unit multiple effect evaporator akan mampu menurunkan konsumsi uap bagian process house. Perubahan konfigurasi proses memberikan penurunan SOC sebesar 8,8% dari kondisi semula. Uap evaporator 2 bisa digunakan untuk sumber panas pemanas 1 dan pemanas 2, uap evaporator 1 untuk sumber pemanas vacuum pan dan exhaust steam hanya digunakan untuk pemanas 1 dan vacuum pan. Kata kunci: efisiensi energi, steam on cane, kogenerasi, konfigurasi proses, analisis pinch. The energy efficiency of sugar factory can be indicated by variable steam on cane (SOC). SOC is defined as weight of steam consumption per weight of crushed cane. The smaller the SOC, the energy efficiency of sugar mills is better. The main source of fuel in sugar mill is bagasse. The sugar factory will be efficient if SOC is less than 50%. If SOC value is more than 50%, it will cause additional fuel other than bagasse. If SOC is less than 40%, the cane sugar mill can do cogeneration and produce electricity for sale. This study aims to reduce SOC by reducing steam consumption in the process house through configuration process innovation with pinch analysis. The results showed that pinch analysis could be used to reduce steam consumption in sugar mill. Utilization of steam from evaporator could reduce steam consumption in the process house. The change in process configuration could provide SOC decrease by 8.8% from its former state. Steam produced by evaporator 2 could be used as heat source for heater 1 and heater 2, meanwhile steam produced by evaporator 1 as a heat source for vacuum pan. Exhaust steam could be used only for heater 3 and vacuum pan. Keywords: energy efficiency, steam on cane, cogeneration, process configuration, pinch analysis.
Modifikasi Mekanisme Koufopanos pada Kinetika Reaksi Pirolisis Ampas Tebu (Bagasse) Emi Erawati; Wahyudi Budi Sediawan; Panut Mulyono
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.757 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4941

Abstract

Ampas tebu merupakan produk samping dari ekstraksi gula. Ampas tebu yang dihasilkan di pabrik gula sekitar 13% dari tebu yang digiling. Tujuan penelitian ini adalah menentukan energi aktivasi dan pre-exponential factor pada persamaan kinetika reaksi pirolisis ampas tebu. Pirolisis dilakukan dalam reaktor yang terbuat dari pipa besi jenis 5737 dengan diameter 7,62 cm dan panjang 37 cm. Reaktor ini dimasukkan ke dalam furnace yang berdiameter 15,24 cm dan panjang 40 cm. Seratus lima puluh gram ampas tebu dimasukkan ke dalam reaktor tanpa kehadiran oksigen pada tekanan atmosferis. Pirolisis dilakukan pada berbagai ukuran bahan, yakni: (-20+25), (-25+30), (-30+35), (-35+40), -40 mesh dengan kecepatan pemanasan bervariasi 100, 105, 115, dan 120 volt. Modifikasi mekanisme Koufopanos terdiri dari 4 tahap reaksi, yaitu: bahan baku bereaksi menjadi intermediate dan intermediate bereaksi menjadi gas, cair, dan padatan. Berdasarkan data eksperimen, diperoleh data parameter kinetika reaksi overall rata-rata E1, E2, E3, dan E4 masing-masing sebesar 8.750,48; 2.350,7;11.080,97; dan 6.625,49 J/mol, dengan pre-exponential factor yang bersesuaian A1, A2, A3, dan A4 sebesar 9,20x10-3; 2,13x10-2; 1,67; dan 2,31 detik pada variasi diameter partikel dan kecepatan pemanasan. Kata kunci: energi aktivasi, ampas tebu, mekanisme Koufopanos, pirolisis, kinetik. Bagasse is a side product of sugar cane extraction. A sugar factory produces bagasse of about 13% from the total cane milled. According to the data from BPPS (1999-2007) the total bagasse produced is about two million tons. The aim of this study is to determine the value of activation energy and pre-exponential factor of pyrolysis kinetics of sugar cane bagasse. Pyrolysis had been carried out in a reactor made of steel pipe type 5737 with a dimension of 7.62 cm dia and of 37 cm long.The reactor was inserted into a furnace with a diameter of 15.24 cm and a length of 40 cm. One hundred and fifty grams of bagasse had been added into the reactor without the presence of oxygen at atmospheric pressure. Pyrolysis had been carried out at the particle size of (-20+25) mesh, (-25+30) mesh, (-30+35) mesh, (-35+40) mesh, and -40 mesh and heating rate of 100, 105, 115, and 120 volt. Modification of Koufopanos mechanism described four reaction steps, namely the reaction to produce intermediate product and further reaction in which intermediate product converted into gas, bio-oil, and char product was the most appropriate reaction model. From the modified model the activation energy E1, E2, E3, and E4 was 8,750.48; 2,350.7 ; 11,080.97 ; and 6,625.49 J/mol, respectively, while the pre-exponential factor A1, A2, A3, and A4 was 9.20x10-3 ; 2.13x10-2 ; 1.67 ; and 2.31 second, respectively for various size particles and heating rates. Keywords: activation energy, bagasse, Koufopanos mechanism, pyrolysis, kinetic.
Studi Pemanfaatan Condensate Outlet Steam Trap Sebagai Air Umpan Boiler di Pabrik Amoniak Pusri-IB Alfa Widyawan; Ferlyn Fachlevie
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.498 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4942

Abstract

Sebagai produsen amoniak dan urea, PT. Pusri memerlukan steam dalam jumlah yang relatif besar. Steam di pabrik amoniak digunakan sebagai bahan baku pabrik amoniak, sebagai pemanas dan penggerak turbin. Tekanan steam yang digunakan di pabrik Amoniak P-IB bervariasi, dari 3,5 kg/cm2gauge sampai 123 kg/cm2gauge. Distribusi steam yang dialirkan melalui pipa menuju peralatan mengakibatkan kehilangan panas ke lingkungan. Hal ini menyebabkan terbentuknya steam condensate di sepanjang aliran pipa. Selama ini steam condensate yang keluar dari pipa melalui steam trap langsung dibuang ke sewer. Studi ini dimaksudkan untuk menghitung laju kondensasi steam dan kelayakan ekonomi untuk memanfaatkan steam condensate tersebut sebagai air umpan boiler di pabrik Amoniak P-IB. Perpindahan panas di pipa dihitung menggunakan prinsip perpindahan panas konduksi, konveksi dan radiasi. Perhitungan laju kondensasi steam dilakukan dengan variasi tekanan steam 123, 42 dan 3,5 kg/cm2gauge, variasi tebal pipa 4 hingga 20 inchi serta variasi tebal isolasi 1 sampai 4 inch. Laju kondensasi steam dinyatakan dalam suatu persamaan matematis yang merupakan fungsi dari tebal isolasi dan diameter pipa. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa laju kondensasi steam membesar bila tekanan steam naik, tebal isolasi turun, dan diameter pipa membesar. Penghematan yang didapat apabila steam condensate dimanfaatkan sebagai air umpan boiler berasal dari penghematan produksi air demin dan penghematan bahan bakar akibat perbedaan suhu antara steam condensate dan air demin dengan simple payback period selama 0,9 tahun. Kata kunci: steam condensate, kehilangan panas, laju kondensasi steam, penghematan As ammonia and urea producer, PT. Pusri consumes a lot of steam, which is used as raw material in ammonia plant, as well as heating medium and turbine driving agent. Steam pressure used in the P-IB Ammonia plant varies from 3.5 to 123 kg/cm2gauge. Distribution system of steam piping to the equipments causes heat loss to the environment. This leads to the production of steam condensate flowing along the pipe. The steam condensate from the pipe (through the steam trap) is directly discharged into the sewer. The present study aimed to determine the rate of steam condensation and to elaborate an economic feasibility to utilize the condensate as boiler feed water in the Ammonia plant P-IB. Calculation of heat transfer in the pipes was based on the principles of conduction, convection and radiation. The rate of steam condensation was calculated with steam pressure variation from 3.5 to 123 kg/cm2gauge, pipe diameter from 4 to 20-inch and insulation thickness of 1 to 4 inches. The rate of condensation was expressed in a mathematical equation and was a function of insulation thickness and diameter of pipe. The results showed that the rate of steam condensation rised as steam pressure and pipe diameter increased and insulation thickness decreased. Operating cost reduced if the steam condensate was used as boiler feed water replacing demineralized water. This also caused reduction of fuel consumption and therefore resulted in simple payback period of 0.9 years. Keywords: steam condensate, heat loss, steam condensation rate,cost reduction
Pengolahan Gas CO2 Hasil Samping Industri Amoniak Melalui Gasifikasi Batubara yang Telah dipirolisis dengan Menambahkan Ca(OH)2 Saripah Sobah; Hary Sulistyo; Siti Syamsiah
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.76 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4943

Abstract

Gas CO2 merupakan salah satu gas rumah kaca yang dianggap memiliki kontribusi terhadap pemanasan global. Industri amoniak menghasilkan emisi CO2 cukup besar dengan faktor emisi 3,273 ton CO2/ton amoniak. Salah satu upaya untuk mengurangi emisi gas CO2 yang dapat dilakukan adalah mengkonversi gas CO2 menjadi gas sintesis (CO) melalui proses gasifikasi batubara. Gas CO merupakan salah satu bahan baku pembuatan metanol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar gas CO2 dapat dikurangi kadarnya melalui proses gasifikasi arang batubara. Reaksi karbon dari arang batubara dengan gas CO2 pada proses gasifikasi merupakan reaksi endotermis dan berlangsung sangat lambat pada suhu di bawah 1000oC sehingga digunakan Ca(OH)2 sebagai katalisator. Proses gasifikasi batubara dijalankan dalam reaktor fixed bed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gasifikasi arang batubara dengan penambahan Ca(OH)2 pada proses pirolisis dapat mengurangi gas CO2 sampai sebesar 63,17%, sementara untuk gasifikasi tanpa Ca(OH)2 , gas CO2 hanya berkurang sampai 35,2%. Kata kunci: karbondioksida, pemanasan global, gasifikasi, arang batubara, kalsium hidroksida CO2 is one of the greenhouse gases that is considered to cause global warming. Ammonia industry produces emission gas of CO2 in relatively great amount with an emission factor of 3.273 ton CO2/ton ammonia. One of the attempts to reduce CO2 gas emissions is by converting CO2 into syngas (CO) through gasification process. CO is one of the methanol feedstock. This research aimed to find out the amount of CO2 that can be reduced through charcoal gasification process. The reaction of carbon from coal can be reduced through the gasification process. Since the carbon reaction from coal with CO2 gas in the gasification process was an endothermic and occured very slowly at temperatures below 1000°C, Ca(OH)2 was used as a catalyst. The coal gasification process was conducted in a fixed bed reactor. The experimental results showed that coal gasification with the use of Ca(OH)2 in the pyrolysis process could reduce CO2 levels by 63.17%, meanwhile without Ca(OH)2, the CO2 could be reduced only up to 35.2%. Keywords: carbon dioxide, global warming, gasification, charcoal, calcium hydroxide.
Pelepasan Lambat (Slow Release) Diazinon dari Mikrokapsul Melamin Urea Formaldehid Retno Sulistyo Dhamar Lestari; Rochmadi; Supranto
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.052 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4949

Abstract

Konsep dasar slow release adalah pengaturan pelepasan bahan aktif dari mikrokapsul dengan pelapisan dari bahan semi permeable yang tidak larut dalam air atau bahan berpori yang permeable. Pengaturan ketebalan dinding mikrokapsul dapat digunakan untuk mengendalikan kecepatan difusi bahan aktif dari mikrokapsul. Mikrokapsul dengan bahan inti pestisida diazinon dibuat dengan metode insitu polimerisasi, menggunakan melamin, urea, dan formaldehid sebagai bahan dinding mikrokapsul. Polimerisasi dilakukan pada suhu 50˚C, pH 3, dengan waktu homogenisasi 30 menit dan waktu mikroenkapsulasi 2 jam. Pengujian kecepatan pelepasan pestisida dilakukan dengan merendam sejumlah mikrokapsul melamin urea formaldehid (MUF) dalam aquades dengan pH yang bervariasi dan ketebalan dinding mikrokapsul yang berbeda. Pada penelitian ini, diameter mikrokapsul MUF diperoleh pada kisaran 50 sampai dengan 160 μm. Tanpa penambahan surfaktan, hasil mikrokapsul memiliki ketebalan 13,8 μm. Sedangkan dengan penambahan SDS dan PVA tebal dinding mikrokapsul yang dihasilkan mengalami penurunan sebesar 45%, yaitu menjadi 7,55 μm. Pada mikrokapsul dengan ketebalan 13,8 μm, kecepatan pelepasan pestisida berada pada kisaran 0,52 x 10-6 sampai dengan 1,69 x 10-6 mg/cm2·s. Sedangkan pada mikrokapsul dengan ketebalan 7,55 μm, kecepatan pelepasan diazinon meningkat sebesar 74%, yaitu berada pada kisaran 0,66 x 10-6 sampai dengan 3,4 x 10-6 mg/cm2·s. Kata kunci : slow release, mikrokapsul melamin urea formaldehid, diazinon The basic concept of slow release is to control the active ingredient release from microcapsules by means of coating made from either water-insoluble, semi permeable or porous permeable materials. By designing microcapsules wall thickness, the diffusion rate of active ingredient can be controlled. Microcapsules containing diazinon pesticides as a core material have been prepared by in-situ polymerization using melamin urea formaldehyde prepolymer as the wall material. The polymerization had been done at 50 °C and pH 3, with homogenization time of 30 minutes, and microencapsulation time of 2 hours. To measure pesticide release rate, a number of Melamine Urea Formaldehyde (MUF) microcapsules were soaked in aquadest at various pH and microcapsules wall thicknesses. In this study, the diameter of MUF microcapsules ranged from 50 to 160 μm. Without surfactant addition, the microcapsule wall thickness was 13.8 μm, but by adding SDS and PVA the wall thickness of microcapsule decreased by 45% i.e. around 7.55 μm. For microcapsules with wall thickness of 13.8 μm, the pesticide releasing rate ranged from 0.52 x 10-6 to 1.69 x 10-6 mg/cm2·s. On the other side, the microcapsules with wall thickness of 7.55 μm the pesticide releasing rate dramatically increased by 74% ranged from 0.66 x 10-6 to 3.4 x 10-6 mg/cm2·s. Keywords: slow release, melamine urea formaldehyde microcapsules, diazinon.
Prediksi Kesetimbangan Adsorpsi Uranium pada Air dan Sedimen pada Berbagai pH Jasmi Budi Utami; Wahyudi Budi Sediawan; Bardi Murachman; Gede Sutresna Wijaya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.109 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4950

Abstract

Kegiatan yang melibatkan uranium sebagai bahan bakar nuklir berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Uranium merupakan salah satu logam berat berbahaya dan bersifat radioaktif sehingga perlu diketahui penyebarannya di alam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model kesetimbangan adsorpsi uranium pada air dan sedimen. Model yang disusun diharapkan sesuai untuk berbagai pH air. Percobaan adsorpsi uranium dijalankan dalam sistem batch. Air limbah sebanyak 100 ml yang mengandung uranium dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan pH larutan diatur menjadi 3, 5, 7, atau 9. Sebanyak 0,5 g tanah dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Erlenmeyer ditempatkan dalam shaker dengan kecepatan 100 rpm selama 6 jam dan dibiarkan selama 24 jam sampai tercapai kesetimbangan. Filtrat yang terbentuk disaring dan dianalisis menggunakan spektrofotometer. Lima model kesetimbangan isotermal diajukan untuk mendekati data kesetimbangan. Sebagai hasil, kesetimbangan Chapman cocok dalam mendekati data percobaan pada berbagai pH air. Dari hasil perhitungan diketahui ion UO22+ memiliki nilai parameter α, β, γ masing-masing sebesar 25 mg/g, 2,3 l/mg, dan 18,1 sedangkan untuk ion (UO2)3(OH)7- masing-masing sebesar 19 mg/g, 0,095 l/mg, dan 3,4. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai data pendukung bagi analisis dampak lingkungan dalam pembangunan PLTN. Kata kunci: adsorpsi, kesetimbangan, uranium, prediksi, sedimen, pH Activities involving uranium as nuclear fuel has potentially polluted the environment. Since uranium is a toxic and radioactive heavy metal, it is necessary to identify its distribution in nature. This study aims to define uranium adsorption equilibrium model in water and sediment. The model is also supposed to be appropriate for various pH of water. Experiments were performed in a batch system. One hundred mL of waste water for National Atomic Energy Agency (BATAN) containing uranium was placed in an erlenmeyer flask and the pH was varied at 3, 5, 7, or 9. Soil was used as adsorbent. The process was shaken at 100 rpm for six hours and then was left for 24 hours to reach the equilibrium. The resulting filtrate was filtered and analyzed using a spectrophotometer. Five different isotherm equilibrium models were proposed in order to fit the equilibrium experimental data. It was found that Chapman equilibrium could fit the data more thoroughly than the other models. From the calculation, it was known that UO22+ parameter values of α, β, γ were 25 mg/g-soil, 2,3 l/mg, and 18,1 respectively, while for (UO2)3(OH)7- were 19 mg/g, 0,095 l/mg, and 3,4 respectively. It is expected that this research will be useful as supporting data for environment impact analysis in nuclear power plants development. Keywords: adsorption, equilibrium, uranium, sediment, pH
Pembuatan dan Karakterisasi Sabun Susu dengan Proses Dingin Diah S. Retnowati; Andri C. Kumoro; Ratnawati; Catarina S. Budiyati
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.417 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4951

Abstract

Pada penelitian ini, sabun susu dibuat dari larutan susu-NaOH dengan campuran minyak yang terdiri dari minyak sawit, minyak kelapa, minyak jarak dan minyak canola. Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh perbandingan massa minyak kelapa terhadap minyak canola dan konsentrasi asam sitrat terhadap pH sabun, kekerasan sabun, kemampuan pembentukan busa dan derajat kebersihan. Percobaan dilakukan dengan menuangkan larutan susu-NaOH dan asam sitrat ke dalam campuran minyak dengan perbandingan berat tertentu dan diaduk dengan kecepatan 400 rpm. Setelah terjadi trace (jejak putaran pada larutan) larutan tersebut dicetak dan didiamkan selama 24 jam. Produk sabun dianalisis kekerasan, pH, kemampuan pembentukan busa dan derajat pembersihan setelah dilakukan proses pemeraman selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2% massa asam sitrat dapat menurunkan pH sabun dari 10,2 menjadi 9,8, tetapi juga menurunkan tingkat kekerasan, kemampuan pembentukan busa dan kemampuan membersihkan. Perubahan rasio massa minyak kelapa terhadap minyak canola dari 0,5-2, hanya berpengaruh terhadap kekerasan sabun. Kata Kunci: sabun susu, proses dingin, pH, kekerasan, tingkat kebersihan, pembentukan busa In this research, cold process was chosen to make soap from lye (NaOH solution) and mixture of palm, coconut, castor, and canola oils with certain ratio. This conducted research is to study the effect of palm to canola oil mass ratio and citric acid concentration on pH, hardness, foaming capacity and the cleansing power of the soap. The soap formation was first conducted by dissolving NaOH in the milk with certain concentration sufficient for the oil mixture saponification. The solution and citric acid solution were then added to the oil mixture and was stirred at 400 rpm. After trace occurred, the mixture was transferred to a mold and then was put in an open space for 24 hours. The soap was taken out from the mold and was cured for 4 weeks. The hardness, pH, the foaming capacity, and the cleansing power of the resulted soap were analyzed. The result show that the addition of 2% of citric acid reduces the pH of the soap from 10.2 to 9.8, the hardness, the foaming capacity, and the cleansing ability of the soap. The variation of the ratio of the mass of coconut to canola oil from 0.5 to 2 affects only the hardness of the soap. Keywords: milk-soap, cold process, pH, hardness, cleansing power, lathering
Pewarnaan Bahan Tekstil dengan Menggunakan Ekstrak Kayu Nangka dan Teknik Pewarnaannya untuk Mendapatkan Hasil yang Optimal Ainur Rosyida; Anik Zulfiya
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.927 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4952

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis tumbuhan baru yang dapat digunakan sebagai zat pewarna tekstil beserta warna yang dihasilkan. Selain itu untuk mendapatkan teknik/cara pewarnaan bahan tekstil dari serat alam dengan zat pewarna dari ekstrak kayu nangka untuk mendapatkan hasil yang optimal. Larutan pewarna diperoleh dengan mengekstraksi kayu nangka. Sistim pewarnaan yang digunakan adalah secara perendaman, menggunakan mesin jigger, dengan tahapan proses sebagai berikut : Kain kapas (siap celup) direndam pada larutan ekstrak kayu nangka pada suhu kamar selama 30 menit, setelah itu dilakukan penambahan elektrolit dan pewarnaan diteruskan selama 45 menit. Berikutnya penambahan asam/basa diberikan untuk memperoleh pH yang sesuai dan pewarnaan dilanjutkan selama 30 menit pada suhu kamar. Selanjutnya kain diperas dan difiksasi selama 15 menit pada suhu kamar, setelah proses pewarnaan berakhir kain dilakukan pencucian. Dari hasil penelitian diketahui, ekstrak kayu nangka dapat digunakan untuk mewarnai bahan tekstil dari serat alam (kain kapas) dengan warna kuning dan coklat. Warna yang dihasilkan sangat tergantung dari jenis fiksator yang digunakan sedangkan ketuaan warna ditentukan oleh pH (suasana larutan) yang digunakan dalam pewarnaan. Cara/teknik pewarnaan yang digunakan terbukti memperoleh hasil yang optimal karena menghasilkan pewarnaan yang merata, permanen dengan warna tua. Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan diperoleh nilai yang baik, yaitu antara 4-5. Ini menunjukkan larutan ekstrak nangka dapat digunakan sebagai zat warna pada bahan tekstil. Kata kunci: Ekstrak, kayu nangka, pewarnaan, serat kapas, zat warna alam This research aims to find a new plant that can be used as textile natural dye substance and the colour it produced. It also purposes to find coloration method of natural fabric by natural dye substance from jackfruit wood exstract to gain the optimum result. Dye solvent obtained by extracting jackfruit wood. Coloration system used exhaustion by jigger machine which included some steps namely : cotton fabric was impregnated into jackfruit wood extract in room temperature during 30 minutes, then electrolyte and coloration addition during 45 minutes. The next step was acid/base addition to get appropriate pH and coloration continued about 30 minutes in room temperature. Futhermore fabric was squeezed and fixated during 15 minutes in room temperature, the last step was fabric washing. Based on the research result, jackfruit wood extract can be used for coloring natural fibers (cotton fabric) of textile material into yellow and brown. Final result of coloring depends on fixator used but the color direction depends on pH used in coloration. The coloration method used shows that it gives optimum result because it produces smooth, permanent and dark colour as well. The result of faded tenacity caused by washing and incitement shows good value, it is 4-5. It proves that jackfruit wood extract can be used as fabric dye substance. Keywords: extraction, jackfruit wood, dyeing, cotton fiber, natural dye substances

Page 6 of 24 | Total Record : 234