cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Rekayasa Proses
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 234 Documents
Kinetika Reaksi Esterifikasi Palm Fatty Acid Distilate (PFAD) menjadi Biodiesel dengan Katalis Zeolit-Zirkonia Tersulfatasi Masduki; Sutijan; Arief Budiman
Jurnal Rekayasa Proses Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.038 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.4953

Abstract

Krisis energi karena menipisnya cadangan minyak bumi mendorong manusia untuk berinovasi menciptakan sumber energi alternatif. Salah satu sumber energi alternatif yang potensial untuk dikembangkan adalah biodiesel. Produksi biodiesel skala besar terkendala oleh harga bahan baku yang mahal dan cenderung bersaing dengan kebutuhan pangan. Oleh karena itu perlu dicari bahan baku yang lebih murah dan tidak bersaing dengan kebutuhan pangan. Salah satu bahan yang dapat memenuhi kepentingan tersebut adalah Palm Fatty Acid Distilate (PFAD). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinetika reaksi esterifikasi PFAD menjadi biodiesel dengan katalis zeolit zirkonia tersulfatasi. Palm fatty acid distillate (PFAD) sebagai sumber asam lemak diesterifikasi menjadi biodiesel di dalam labu leher tiga yang dilengkapi dengan pemanas, pengaduk dan sistem refluks. Untuk memperoleh data kinetika, sampel diambil pada interval waktu 10 menit untuk dianalisis konversi asam lemaknya. Model kinetika reaksi esterifikasi PFAD menjadi biodiesel didekati dengan reaksi pseudo-homogen orde satu dan reaksi heterogen katalitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model kinetika yang diusulkan cukup sesuai dengan data percobaan. Hasil perhitungan model reaksi pseudo-homogen menghasilkan energi aktivasi sebesar 11,60 kJ/mol dan faktor pre-eksponensial sebesar 5,82.1016 s-1. Sedangkan untuk model reaksi heterogen katalitik diperoleh energi aktivasi sebesar 950,46 kJ/mol dan faktor pre-eksponensial sebesar 4,11 x 1010 dm6.gkat-1.mol-1.s-1. Konversi reaksi maksimum sebesar 75,68% diperoleh pada waktu reaksi 80 menit, suhu reaksi 65°C dengan konsentrasi katalis 3% dan perbandingan mol PFAD:metanol = 1:10. Kata kunci: biodiesel, kinetika, esterifikasi, palm fatty acid distillate, zeolit zirkonia tersulfatasi. Energy crisis due to depletion of crude oil resources has been a motivation for alternative energy search. Biodiesel becomes a potential among other alternative energy sources. However, large scale biodiesel production is hampered by the raw materials which become expensive and tent to compete with the source of food needs. Therefore, a search for an alternative inexpensive raw material is necessary. Palm fatty acid distilate (PFAD) is one of alternative raw materials can be utilized. The present work objective was to investigate reaction kinetics of PFAD esterification for biodiesel with zirconium sulphated zeolite as catalyst. PFAD as a source of fatty acid underwent esterification to produce biodiesel in a three necked flask equiped with heater, stirrer and reflux condensor. In order to study the reaction kinetics, samples were collected consecutively every 10 minutes and the conversion of the fatty acid in each sample was determined. Here, two esterification reaction models were proposed i.e. pseudo-homogeneous first order reaction model and heterogeneous catalytic reaction model. The results showed that calculated conversion for both proposed models were in a good agreement with the experimental data. The pseudo homogeneous reaction model has an activation energy of 11.60 kJ/mole and a pre-exponential factor of 5.821016 s1. Whereas, the heterogeneous reaction model has an activation energy of 950.46 kJ/mole and pre-exponential factor of 4.111010 dm6.g cat1.mol1.s1. The maximum conversion of 75.68% was obtained at 80 minute reaction time, at 65C with the use of 3% catalyst and a PFAD:methanol molar ratio of 1:10. Keywords: biodiesel, kinetics, esterification, palm fatty acid distillate, zirconium sulphated zeolite.
Review Model dan Parameter Interaksi pada Korelasi Kesetimbangan Uap-Cair dan Cair-Cair Sistem Etanol (1) + Air (2) + Ionic Liquids (3) dalam Pemurnian Bioetanol Dhoni Hartanto; Bayu Triwibowo
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.484 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.5017

Abstract

Bioetanol merupakan sumber energi terbarukan yang menjanjikan sebagai pengganti sumber energi tidak terbarukan seperti minyak bumi. Pada kondisi tekanan atmosferik, etanol memiliki azeotrop dengan air sehingga pemisahan dengan menggunakan distilasi biasa tidak dapat dilakukan. Beberapa proses pemurnian etanol adalah melalui distilasi ekstraktif dan ekstraksi cair-cair dengan menggunakan entrainer berupa senyawa baru yang ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali (reuse) yaitu ionic liquids. Penelitian intensif sistem etanol (1) + air (2) + ionic liquids (3) telah dilakukan oleh beberapa peneliti mengenai kesetimbangan uap-cair (VLE), kesetimbangan cair-cair (LLE) yang menghasilkan data kesetimbangan. Penelitian tersebut juga menghasilkan parameter-parameter interaksi yang diperoleh berdasarkan hasil korelasi data kesetimbangan tersebut dengan model Nonrandom two-liquid (NRTL), Electrolyte-nonrandom two-liquid (e-NRTL), Universal quasi-chemical (UNIQUAC), dan persamaan Antoine serta hasil prediksi dengan menggunakan model UNIQUAC Functional-group activity coefficients (UNIFAQ). Model-model dan parameter-parameter interaksi biner termodinamika tersebut dapat digunakan untuk keperluan desain, optimasi, serta kontrol kolom distilasi ekstraktif dan ekstraksi cair-cair dalam proses pemurnian bioetanol. Artikel ini menyajikan review tentang model-model dan parameter-parameter interaksi biner untuk 43 sistem etanol (1) + air (2) + ionic liquids (3) sehingga dapat diketahui model dan parameter termodinamika yang sesuai untuk digunakan. NRTL merupakan model yang paling banyak digunakan untuk mengkorelasi data kesetimbangan pada 40 sistem dan dapat mengkorelasi kesetimbangan uap-cair dan cair-cair dengan baik sesuai dengan karakteristik NRTL yang sesuai untuk sistem polar tekanan rendah. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai root mean square deviation (RMSD) untuk ∆y dan ∆T dan average relative deviation (ARD) yang kecil serta dapat mem-fitting grafik data kesetimbangan tersebut dengan baik. Kata kunci: bioetanol, ionic liquids, parameter interaksi biner, NRTL Bioethanol is a promising renewable energy resource which can substitute non-renewable energy such as fossil-fuel. Ethanol and water produce azeotropic point in atmospheric pressure condition which can not be separated by ordinary distillation. New class of eco-friendly compounds to be used as entrainer are known as ionic liquids. These ionic liquids are used experimentally in extractive distillation and liquid-liquid extraction. Many researches have been conducted in ethanol (1) + water (2) + ionic liquids (3) systems including vapor-liquid equilibrium (VLE) and liquid-liquid equilibrium (LLE). These researches also produce binary interaction paramaters obtained from equilibrium data correlation using Nonrandom two-liquid (NRTL), Electrolyte-nonrandom two-liquid (e-NRTL), Universal quasi-chemical (UNIQUAC), and Antoine equation. UNIQUAC Functional-group activity coefficients (UNIFAQ) was also used to predict the equilibrium data. Models and binary interaction parameters were used for design, optimization, and control of extractive distillation column and liquid-liquid extraction in bioethanol purification. This paper provides a critical review of models and binary interaction parameters for 43 ethanol (1) + water (2) + ionic liquids (3) systems to obtain appropriate models and binary interaction parameters. Generally, NRTL is the most frequent used model, it is used in 40 systems. NRTL provides satisfactory results in vapor-liquid equilibrium and liquid-liquid equilibrium data correlation due to its characteristics which can correlate well in low pressure polar system. It is shown by small number of root mean square deviation (RMSD) for ∆y and ∆T and average relative deviation (ARD). It can also fit equilibrium data behavior with a good agreement. Keywords: bioethanol, ionic liquids, binary interaction parameters, NRTL
Kitosan dari Limbah Udang sebagai Bahan Pengawet Ayam Goreng Ratna Sri Harjanti
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.166 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.5018

Abstract

Industri pengolahan udang banyak menimbulkan hasil samping berupa limbah kulit udang yang belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini menyebabkan limbah kulit udang kurang memiliki nilai ekonomis dibanding dengan mengolahnya menjadi kitin dan kitosan. Kitosan banyak digunakan di berbagai industri antara lain sebagai bahan pengawet pengganti formalin. Bahan pengawet merupakan bahan tambahan makanan yang dibutuhkan untuk mencegah aktivitas mikroorganisme agar kualitas makanan senantiasa terjaga sesuai dengan harapan konsumen. Kemampuan kitosan dalam menekan pertumbuhan bakteri disebabkan kitosan memiliki polikation bermuatan positif yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan kapang. Dalam penelitian ini akan dilakukan pembuatan kitosan dengan variasi konsentrasi NaOH, sehingga akan diperoleh variasi rendemen dan derajad deasetilasi. Kulit limbah udang mengalami proses deproteinasi dengan larutan NaOH (3,5% b/v) selama dua jam pada suhu 65°C dan proses demineralisasi dalam larutan HCl 1 N (1 gram sampel : 15 mL larutan HCl) selama satu jam pada suhu kamar. Proses deasetilasi dilakukan dengan memanaskan kitin dalam larutan NaOH (30%, 40%, 50%, dan 60% b/v) selama 4 jam pada suhu 100°C. Selanjutnya dilakukan pengamatan pengaruh derajad deasetilasi terhadap kemampuan kitosan sebagai bahan pengawet. Pengamatan ini dilakukan dengan mengaplikasikan kitosan dalam pengawetan daging ayam. Dipilih daging ayam karena sekarang ini banyak sekali dibuat ayam goreng yang dijual dalam gerobak-gerobak di pinggir jalan yang menggunakan bahan kimia berbahaya sebagai pengawetnya. Kitosan yang berasal dari limbah kulit udang dapat digunakan sebagai bahan pengawet daging ayam, tanpa mengubah rasa dan aroma khas daging ayam. Waktu perendaman terbaik adalah 45 menit pada kitosan 2%. Sedangkan aplikasi kitosan sebagai bahan pengawet diperoleh kondisi terbaik pada derajad deasetilasi 70,34%. Kata kunci: kitosan, limbah udang, pengawet makanan, ayam goreng Shrimp industries have to deal with shell solid waste. On the other hand, this shell solid waste can be utilized to produce citin and citosan. One of the beneficiations of citosan is for food preservation. This ability is based on the existence of poly cation with positive charge that is responsible for the inhibition of bacteria growth. In this study, NaOH was varied to produce citosan from shrimp shell resulting rendemen and deasetilation degree. Deproteination of the shrimp shell was done using NaOH (3,5% b/v) for 2 hours, at temperature of 65°C, while demineralization was conducted using HCl 1 N (1 gram of sample: 15 mL of HCl) for 1 hour at room temperature. Deasetilation was done by heating citin in NaOH with concentration of 30%, 40%, 50%, and 60% b/v for 4 hours at temperature of 100°C. Further, observation on the ability of resulted citosan as food preservation was conducted. Chicken meat was choosen as sample to represent the abundance restaurants selling these product. It has been found that citosan from shrimp shell solid waste can be utilized as food preservation agent for chicken meat without changing the taste and texture of the meat. The optimum condition is 45 minutes with citosan concentration of 2% with deasetilation degree of 70,34%. Keywords: citosan, shrimp shell solid waste, food preservation, fried chicken.
Enzymatic Hydrolysis of Sorghum Bagasse to Readily Fermentable Sugar for Bioethanol Soeprijanto; Katherin Indriawati; Nurlita Abdulgani
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.735 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.5019

Abstract

Produksi gula dari bagase sorghum menggunakan enzim selulase dan selobiase dilakukan dalam kultur batch. Tujuan percobaan adalah mempelajari pengaruh beban bagase sorghum dan waktu pretreatment kapur terhadap produksi gula dan yield gula. Pretreatment kapur dilakukan dalam 1000 ml labu leher tiga dengan beban kapur 0,1 g Ca(OH)2 /g sorghum bagasse dan ditambah dengan 500 ml air distilasi. Pengaruh waktu pretreatment (1, 2, 3, dan 4 jam) pada suhu 100°C dan pengaruh beban biomassa (5, 10, 15 % w/v) pada hidrolisis enzim untuk menghasilkan gula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi gula maksimum dicapai sebesar 28,04 g/l dalam waktu pretreatment 4 jam; dan yield maksimum gula diperoleh 0,4 g glukose/ g biomassa dengan beban biomassa 5% (w/v). Kata kunci: Bagase sorghum, selulase, selobiase, hidrolisis enzim, kultur batch, pretreatment kapur Production of sugar from sorghum bagasse using enzyme of cellulase and cellobiase in a batch culture was conducted. The purpose of this experiment was to study of the effect of sorghum baggase loadings and lime pretreatment time on production and yield of sugar. Lime pretreatment was carried out in a 1000 ml three-neck flask with a lime loading of 0.1 g Ca(OH)2 /g sorghum bagasse and added with 500 ml distilled water. Effects of pretreatment time course (1, 2, 3, and 4 h) at temperature of 100°C and biomass loading (5, 10, 15 % w/v) were observed to produce sugar. The results showed that maximum concentration of sugar obtained was 28.04 g/l with a pretreatment time of 4 h; and the maximum yield of sugar obtained was 0.4 g glucose/ g biomass with a biomass loading of 5% (w/v). Keywords: Batch culture, cellulose, cellobiase, Enzymatic hydrolysis, ime pretreatment, sorghum bagasse
Pemanfaatan Abu Sekam Padi pada Ozonisasi Minyak Goreng Bekas untuk Menghasilkan Biodiesel Lieke Riadi; Lanny Sapei; Yosephine Kristiani; Octovania Sugianto
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.799 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.5020

Abstract

Penggunaan abu sekam padi sebagai katalis pendukung pada ozonasi minyak goreng bekas untuk menghasilkan biodiesel dipelajari pada penelitian ini. Ozonasi minyak goreng bekas termasuk proses yang hemat energi dan ramah lingkungan karena menggunakan minyak goreng bekas sebagai bahan baku biodiesel serta suhu reaksi yang relatif rendah yaitu pada suhu kamar. Proses pembuatan biodiesel dilakukan dengan mereaksikan minyak goreng bekas dan metanol dengan bantuan katalis KOH pada sebuah reaktor. Gas ozon dialirkan secara kontinu dalam reaktor berpengaduk pada suhu 30oC dan tekanan atmosfer. Pengaruh penggunaan abu sekam padi sebagai supporting catalyst terhadap konsentrasi metil ester yang dihasilkan dikaji dalam percobaan ini. Abu yang digunakan adalah abu hitam (pemanasan pada 350oC) dan putih (pemanasan pada 750oC) dengan konsentrasi masing-masing sebesar 0,5 ; 1 ; 1,5% (b/b). Produk metil ester dikarakterisasi menggunakan Gas Chromatography untuk mengetahui jumlah metil ester rantai pendek (SCME) maupun metil ester rantai panjang (LCME). Di samping itu, dilakukan juga uji densitas dan viskositas, abu yang digunakan diuji dengan analisa XRD dan BET. Konsentrasi SCME paling tinggi dihasilkan pada variasi abu putih dengan konsentrasi 1,5%. Namun, penambahan abu tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan LCME. Dengan demikian, abu putih lebih berperan sebagai supporting catalyst dibandingkan abu hitam. Kata kunci: biodiesel, minyak goreng bekas, abu sekam padi, proses ozonasi,metil ester rantai pendek,metil ester rantai panjang Biodiesel is one of the alternatives for the shortage of fossil fuel. In this experiment biodiesel from waste cooking oil which is made using an ozonation process was studied. The process is energy extensive and environmentally friendly because of the use waste cooking oil as a raw material and the experiment was carried out at low reaction temperature which is room temperature. Waste cooking oil was reacted with methanol, KOH as the base catalyst, and ozone that was continually flowed into a stirred reactor at 30oC and atmospheric pressure. The effect of rice hulk ash addition as the supporting catalyst on methyl esters concentrations was observed in this experiment. Two different types of ashes were used, namely black (heating at 350oC) and white (heating at 750oC) with the concentrations of 0.5; 1; 1.5% (w/w). Methyl esters products were characterized using GC apparatus for Short Chain Methyl Ester (SCME) and Long Chain Methyl Ester (LCME) concentrations. They were also analyzed in terms of density and viscosity. The ashes were characterized by XRD and BET. The highest amount of SCME was achieved at the white ash concentration of 1.5%. However, the ash additions seemed not significant on the LCME production. Thus, the white ash was more useful as a supporting catalyst than the black one. Keywords: biodiesel, used cooking oil, rice hulk ash, ozonation process, short chain methyl ester, long chain methyl ester
Pemanfaatan LNG Sebagai Sumber Energi di Indonesia Nurhadi Budi Santoso
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.884 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.5021

Abstract

Kebutuhan energi di Indonesia terutama penggunaan diesel/solar setiap tahun selalu meningkat, dikarenakan jumlah kilang di Indonesia tidak bertambah dan produksi minyak mentah akhir-akhir ini terjadi penurunan. Sehingga penambahan konsumsi tersebut dipenuhi dengan penambahan impor minyak solar/diesel, hal ini semakin memberatkan keuangan negara. Kondisi tersebut diatas harus segera dicarikan jalan keluarnya. Salah satu sumber energi alternatif pengganti solar adalah LNG. Dengan dipakainya LNG sebagai salah satu sumber energi diharapkan akan mengurangi impor solar/disel, sehingga menghemat devisa negara serta meningkatkan daya saing industri domestik. Indonesia merupakan produsen utama LNG dunia, hampir semua LNG yang diproduksi diekspor ke luar negeri utamanya ke Jepang, Korea dan China. LNG sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat maupun industri domestic sebagai sumber energi, hal ini dikarenakan kurang adanya sosialisasi manfaat dari LNG. Untuk bisa memanfaatkan LNG sebagai bahan bakar pengganti solar maka perlu dibangun fasilitas dan infrastruktur yang baik meliputi moda transportasi, teknologi penyimpanan, maupun teknologi converter kit sehingga LNG bisa digunakan untuk menggantikan solar pada mesin disel yang ada. Berdasarkan cost saving analysis, penggunaan dual fuel (Diesel dan LNG) pada mesin, yaitu memanfaatkan LNG pada mesin diesel dapat menghasilkan penghematan sebesar 20-25% bila dibandingkan dengan menggunakan single fuel saja dengan solar. Kata kunci: LNG, diesel, isotank, converter kit, energi. The need of energy supplies in Indonesia, especially on diesel demand is increasing every year. However, this increase could not be fulfilled by national oil based energy supply due to the decrease of oil production and there has not been significant increase in term of oil fractionation plants. As a consequence, diesel import could not be avoided resulting an additional burden in nation budgeting. In order to solve this problem, LNG might be an alternative. Thus, diesel import can be eliminated; furthermore, domestic industries can be more competitive. Although Indonesia is one of the major LNG producers, most of the LNG production is exported to Japan, Korea, and China, but LNG has not been utilized by the society as well as domestic industries. A massive socialization of the utilization of LNG to replace diesel energy should be conducted. Moreover, facilities and infrastructures including transportation, storages, and converter kits have to be built to support this conversion process. Based on the cost saving analysis, the use of dual fuel (diesel and LNG) in a machine could possibly save 20-25% in comparison to that machine using single fuel (diesel). Keywords: LNG, diesel, isotank, converter kit, energy.
Dekolorisasi dan Deoilisasi Parafin menggunakan Adsorben Zeolit, Arang Aktif dan Produk Pirolisis Batu Bara Bardi Murachman; Eddie Sandjaya Putra; Wulandary
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.55 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.11371

Abstract

Indonesian wax production was reaching 50277 barrels in 2009. Although the wax production rate in Indonesia is quite high, it is still not enough to fulfill the demand. Therefore, Indonesia has to import wax from China. Unfortunately, Indonesian wax qualities, especially related to colour and hardness, are less compared with those from China. Local wax is more brownish yellow, soft and easily melted compared with the wax from China which is whiter, harder and difficult to melt. Many research activities have been conducted to improve quality of local wax. Among of them is with the use of adsorption method with adsorbent.Various adsorbents can be used, including activated carbon, zeolite, and coal pyrolysis product. The present work aim was to find the ability of forementioned adsorbent in purpose to improve the quality of wax, i.e. colour and texture, by decolorization dan deoilization process. Adsorbent was added to the wax at 90C and mixing was then conducted. Parameters under investigation were the influence of the ratio of wax to adsorbent and the optimum mixing time. Based on reduction of oil content and colour intensity, the best wax -adsorbent ratio was 6 : 6 with a mixing time of 50 minutes. Zeolite gives the best adsorption properties and high effectivity in deoilization and decolorization process. Keywords : adsorption, decolorization, deoilization, adsorbent, wax Produksi lilin di Indonesia mencapai 50.277 barrel pada tahun 2009. Walaupun produksi lilin di dalam negeri cukup tinggi, jumlah tersebut belum mencukupi permintaan dari masyarakat sehingga masih harus mengimport lilin dari Cina. Sayangnya, lilin dalam negeri kualitasnya lebih rendah dibandingkan lilin dari Cina. Lilin dalam negeri masih berwarna kuning kecoklatan, lunak dan mudah meleleh sedangkan lilin produksi Cina jauh lebih putih, keras dan lebih lama meleleh. Banyak penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas lilin. Proses adsorbsi menggunakan adsorben merupakan salah satunya. Berbagai jenis adsorben dapat digunakan, seperti arang aktif, zeolite, maupun produk pirolisis batu bara. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan adsorpsi dari masing-masing adsorben tersebut dalam meningkatkan kualitas, warna dan struktur lilin, dengan cara dekolorisasi dan deoilisasi. Adsorben ditambahkan ke lilin pada suhu sekitar 90C dan dilakukan pengadukan. Parameter yang dikaji dalam penelitian ini adalah pengaruh rasio lilin : adsorben dan waktu pengadukan optimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio lilin : adsorben terbaik adalah 6:6 bila dilihat dari pengurangan kadar minyak dan kadar zat warna, dengan waktu pengadukan terbaik adalah 50 menit. Zeolit memberikan sifat penjerapan terbaik dan efektivitas tinggi dalam proses deoilisasi dan dekolorisasi. Kata kunci : adsorpsi, dekolorisasi, deoilisasi, adsorben, lilin
Suhu dan Rasio Kukus Optimum pada Proses Gasifikasi Kukus Berkatalis K2CO3 terhadap Arang Batu bara Lignit Hasil Pirolisis dengan Laju Pemanasan Terkontrol Dewi Tristantini; Ricky Kristanda Suwignjo
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.496 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.11372

Abstract

In order to fulfill the raw material needs of Fischer Tropsch process for producing synthethic fuel (synfuel), high yield of synthesis gas (syngas) with H2/CO ratio ≈ 2.0 should be obtained from lignite coal gasification. Steam gasification can enhance H2 composition in syngas. Lower activation energy of gasification reaction can be obtained using K2CO3 catalyst during the process. Pyrolysis step with controlled heating rate will affect pore surface area of char which will influence the composition and yield of syngas. In this study, lignite char from pyrolysis with controlled heating rate with 172.5 m2/g surface area and K2CO3 catalyst was fed in fixed bed steam gasification reactor. Steam to char mass ratio (2.0; 3.0; 4.0) and gasification temperature (675; 750; 825C) was varied. Optimum condition for syngas production obtained in this study was steam gasification at 675C with steam/char mass ratio 2.0. This condition will produce syngas with H2/CO ratio 2.07 and gas yield 1.128 mole/mole C (45% carbon conversion). Keywords: lignite, controlled pyrolysis, catalytic steam gasification, fixed bed reactor Untuk memenuhi persyaratan bahan baku pembuatan bahan bakar cair sintetis (synfuel) melalui proses Fischer Tropsch, diperlukan proses gasifikasi batu bara lignit yang menghasilkan gas sintesis dengan rasio H2/CO ≈ 2,0 dan yield gas yang tinggi. Metode gasifikasi kukus dapat meningkatkan komposisi H2 dalam gas sintesis. Energi aktivasi reaksi gasifikasi dapat diturunkan dengan menggunakan katalis K2CO3. Laju pemanasan terkontrol pada tahap pirolisis menentukan ukuran pori arang yang berpengaruh pada komposisi dan yield gas sintesis. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpankan arang batu bara lignit hasil pirolisis dengan laju pemanasan terkontrol yang memiliki luas permukaan pori 172,5 m2/g bersama dengan katalis K2CO3 ke dalam reaktor unggun tetap. Rasio massa kukus/arang yang ditambahkan bervariasi 2,0; 3,0; 4,0 dan suhu gasifikasi 675, 750, 825C. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi reaksi gasifikasi yang sesuai untuk produksi gas sintesis bahan baku proses Fischer Tropsch adalah reaksi gasifikasi berkatalis K2CO3 pada suhu 675C dan rasio massa kukus/arang 2,0. Kondisi ini menghasilkan gas sintesis dengan rasio H2/CO 2,07 dengan yield gas 1,128 mol/mol C (45% konversi karbon). Kata kunci: lignit, pirolisis terkontrol, gasifikasi kukus berkatalis, reaktor unggun tetap
Synthesis of Oligoesters Plastic Film from Polylactic Acid with Mono Ester Plasticizer of Wood Flour and Rice Bran and its Hydro Degradation Edwin Azwar
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.203 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.11373

Abstract

Composites of polylactic acid (PLA) with mono ester plasticizer (MEP) from wood flour and rice bran were prepared to evaluate the effect of MEP filler content on the mechanical, functional, thermal, and morphological properties of the composites and its degradation. The SEM study provided evidence that there was sufficient interfacial adhesion between the PLA matrix and the MEP from wood flour and rice bran filler. This was likely a result of mechanical interlocking among them. An addition of 10 and 30% MEP from wood flour or rice bran resulted in an improvement of strain and tensile properties of the composite. The composites of PLA and MEP from wood flour and rice bran experienced degradation through hydrolysis of regions that have crystalline structure. Keywords: polylactic acid, fiber, cellulose, wood flour, rice bran Komposit dari polylactic acid (PLA) dan mono ester plasticizer (MEP) dari tepung kayu dan bekatul disiapkan untuk mengevaluasi pengaruh jenis bahan isian MEP terhadap sifat mekanis, fungsi, sifat termal, dan morfologis komposit tersebut beserta reaksi degradasinya. Hasil analisis dengan SEM menunjukkan bahwa terdapat interfacial adhesion yang cukup besar antara matriks PLA dan MEP dari tepung kayu dan bekatul, yang dapat disebabkan oleh mechanical interlocking antara keduanya. Penambahan 10 dan 30% MEP tepung kayu dan bekatul menyebabkan perbaikan regangan (strain) dan tegangan tarik (tensile). Komposit PLA dan MEP dari tepung kayu dan bekatul mengalami degradasi dengan hidrolisis pada bagian yang berstruktur kristal. Kata kunci: polylactic acid, serat, selulosa, tepung kayu, bekatul
Sintesis ZSM-5 dari Coal Fly Ash (CFA) dengan Sumber Silika Penambah yang Berasal dari Abu Sekam Padi: Pengaruh Rasio SiO2/Al2O3 Terhadap Kristalinitas Produk Azlia Metta; Simparmin Br Ginting; Hens Saputra
Jurnal Rekayasa Proses Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.648 KB) | DOI: 10.22146/jrekpros.11374

Abstract

Coal Fly Ash and rice husk ash can be utilized by converting it into ZSM-5 synthetic zeolite. One of the influencing factors of ZSM-5 synthetis is ratio of SiO2/Al2O3. Synthesis of ZSM-5 was carried out in an autoclave at a temperature of 180°C with a variation of the ratio of SiO2/Al2O3, namely 20, 30, 40, 50 and 60 mol/mol during 24 hour crystallization using TPABr template. Characterization of ZSM-5 was conducted using X-ray Diffraction, Scanning Electron Microscopy, Adsorption-Desorption Analysis of Nitrogen and Acidity. The results showed that the ZSM-5 was formed in all the variations of SiO2/Al2O3 ratios with the highest percent crystallinity of 52.83%, at the ratio of 50 mol/mol. All products are still in accompany with the formation of side products such as Analsime and Silica Oxide. The ZSM-5 crystal product was in hexagonal shape. Results from Adsorption-Desorption Analysis of Nitrogen indicated that all products were mesoporous materials. Keywords: crystallinity, mesopore, ZSM-5, silica, rice husk, SiO2/Al2O3 ratio Limbah Coal Fly Ash dan abu sekam padi dapat dimanfaatkan dengan mengkonversi limbah menjadi zeolit sintesis ZSM-5. Salah satu faktor yang mempengaruhi sintesis ZSM-5 adalah rasio SiO2/Al2O3. Sintesis ZSM-5 dilakukan di dalam autoklaf pada suhu 180C dengan variasi rasio SiO2/Al2O3 yaitu 20, 30, 40, 50 dan 60 mol/mol selama waktu kristalisasi 24 jam menggunakan template TPABr. Karakterisasi ZSM-5 menggunakan metode Difraksi Sinar X, Scanning Electron Microscopy, Adsorpsi – Desorpsi Nitrogen dan Analisis Keasaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ZSM-5 terbentuk pada semua variasi SiO2/Al2O3. Persen kristalinitas produk ZSM-5 sebesar 52,83%, ada pada rasio 50 mol/mol. Semua produk masih disertai terbentuknya produk samping seperti Analsime dan Silika Oksida. Kristal ZSM-5 yang dihasilkan berbentuk heksagonal. Hasil Analisis Adsorpsi-Desorpsi nitorgen mengindikasikan bahwa semua sampel adalah material mesopori. Kata kunci: kristalinitas, mesopori, ZSM-5, sekam, rasio SiO2/Al2O3

Page 7 of 24 | Total Record : 234