cover
Contact Name
Tri Mulyaningsih
Contact Email
trimulya@unram.ac.id
Phone
+62274-512102
Journal Mail Official
jik@ugm.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 01264451     EISSN : 24773751     DOI : https://doi.org/10.22146/jik.28284
Focusing on aspects of forestry and environments, both basic and applied. The Journal intended as a medium for communicating and motivating research activities through scientific papers, including research papers, short communications, and reviews
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2011)" : 6 Documents clear
Seleksi Pohon untuk Sarang Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) di Dusun Wisata Ketingan Kab. Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta Eko Kosasih; Sena Adi Subrata
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.396 KB) | DOI: 10.22146/jik.1851

Abstract

Penelitian seleksi pohon untuk sarang Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) di desa Ketingan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta bertujuan untuk menyediakan informasi dasar dalam manajemen populasi. Survei keberadaan sarang Kuntul kerbau dilakukan bersama dengan identifikasi ketersediaan jenis pohon. Pengukuran tingi pohon, ukuran tajuk, kerapatan tajuk dan jarak dari gangguan manusia juga dilakukan untuk masing-masing pohon. Uji Kai-kuadrat menunjukkan bahwa Kuntul kerbau memilih beberapa jenis pohon untuk bersarang seperti Gnetum gnemon L., Cassia siamea Lamk. Artocarpus heterophyllus Lamk., Callophyllum inophyllum L., Melia azedarach L., Antidesma bunius (L.) Spreng., dan Dysoxylum gaudichaudianum (Juss.) Miq. Tinggi pohon, tinggi tajuk, diameter dan jarak dari gangguan manusia menunjukkan perbedaan nyata antara pohon yang digunakan dan tidak digunakan untuk sarang tetapi diameter setinggi dada dan kerapatan tajuk pohohn tidak menunjukkan perbedaan nyata. Manajemen habitat Kuntul kerbau diperlukan dalam pengendalian populasi untuk konservasi jenis burung ini.Kata kunci : penggunaan sumberdaya, ketersediaan sumberdaya, seleksi habitat, Bubulcus ibis Tree Selection for Nest of Cattleengret (Bubulcus ibis) in Ketingan Tourisme Village, Sleman Regency, YogyakartaAbstractHabitat selection of Bubulcus ibis in Ketingan Village, Sleman Regency, Yogyakarta was investigated to provide basic information for population management. Presence of Bubulcus ibis nest was surveyed along with identification available tree species. Tree height, canopy size and openness, and distance from human disturbance were also measured for each tree. The Chi Square test showed that bubulcus ibis selected several species as nest trees such as Gnetum gnemon L., Cassia siamea Lamk., Artocarpus heterophyllus Lamk., Calophyllum inophyllum L., Melia azedarach L., Antidesma bunius (L.) Spreng., and Dysoxylum gaudichaudianum(Juss.) Miq. Tree height, canopy height, canopy diameter and the distance from human disturbance showed a significant difference between used and non-used trees for the nest, however diameter breast high (DBH) and canopy openness of trees did not show significant differences. Habitat management of Bubulcus ibis should be improved by controlling its population that needed for the conservation of this bird species.
Rekonstruksi Hutan Purba di Kawasan Karst Gunungsewu dalam Periode Sejarah Manusia Lies Rahayu Wijayanti Faida; Sutikno Sutikno; Chafid Fandeli; Sunarto Sunarto
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.6 KB) | DOI: 10.22146/jik.1852

Abstract

Penelitian ini dilakukan di kawasan karst Gunungsewu yang terletak di wilayah kabupaten Gunungkidul, ai Kanigoro hingga Wediombo. Ada dua tujuan dalam penelitian ini, yaitu (1) menemukenali sejarah flora yang menghuni karst Gunungsewu dan (2) merekonstruksi profil hutan-purba berdasarkan periode sejarah manusia. Pendekatan Paleoetnoforestri digunakan metode dasar untuk rekonstruksi hutan, yang berpijak pada hukum uniformitas dan pendekatan analogi. Analisis polen dan pentarikhan radio karbon menjadi alat untuk rekonstruksi hutan selama periode sejarah kebudayaan manusia pada kala Holosen. Perolehan data di analisis secara komparatif dan asosiatif untuk mendapatkan jawaban secara kausatif, sehingga dapat ditarik kesimpulan induktif tentang kondisi hutan purba. Umur lapisan pengendapan polen dinyatakan dengan BP (Before the Present). Pernyataan umur dengan BP ini biasa digunakan dalam mempelajari sejarah kebumian, dan secara Internasional ditetapkan tahun 1950 sebagai titik awal. Untuk mempelajari sejarah kebudayaan manusia digunakan skala Sebelum Masehi-Masehi (SM-M), yang didasarkan pada kelahiran Kristus sebagai titik awal dalam kalender Masehi. Penelititan ini menghasilkan varisai tiga tipe flora dari jaman prasejarah hingga saat ini, yaitu tipe hutan bagian bawah pada 16.894±440 hingga 9.296±140 tahun BP (18.844-11.246 SM), tipe hujan tropika pada 9.296±140 hingga 1.753±90 tahun BP (11.246-3.703 SM), dan tipe hutan monsun pada 1.753±90 tahun BP hingga tarikh modern (3.703 SM - 1950 M). Kelompok flora Euphorbiaceae merupakan kelompok flora yang masa penghuniannya paling lama, yaitu ditemukan pada 16.894±440 tahun BP hingga sekarang, sedangkan kelompok Moraceae yang saat ini dikenal sebagai flora identitas kawasan karst ditemukan pada 9.296±440 tahun BP. Rekonstruksi profil hutan purba pada jaman prasejarah manusia menunjukkan bahwa hutan pegunungan bagian bawah pernah menghuni kawasan karst sejak sebelum periode Keplek, kemudian memasuki periode Keplek hingga Ngrijangan berubah dihuni oleh hutan hujan tropis, dan pada periode Klepu berubah menjadi tipe monsun. Tipe monsun ini terus berlangsung hingga jaman sejarah, bahkan sampai dengan saat ini. Ciri kebudayaan prasejarah yang subsistem dapat menjelaskan, bahwa bukan faktor antropogenik yang menyebabkan bukan tipe flora, merupakan karena perubahan iklim yang dipicu oleh berakhirnya zaman es yang menandai berakhir kala Pleistoten.Kata kunci: Analisis polen, hutan purba pentarikhan karbon, zaman prasejarah, situs palentologiReconstruction of Paleoforest in Gunungsewu Karst Area in the Period of Human HistoryAbstractThis research was carried out in Gunungsewu Karst area, Gunungkidul District from Kanigoro to Wediombo. The main objectives of this research are (1) to identify floristic history and (2) to reconstruct the palaeoforest profiles in the area. Palaeoecobotanical approach is used as the basis for the reconstruction of palaeoforest. Descriptive-explanatory methods were used to explore, interpret, and reconstruct floristic tracks from pollen analysis, radiocarbon dating, vegetation analysis, and also human cultural history. Explanatory approach was used to describe collected data, to compare, to find association, and to explain the research finding. Hypothetical tests were done by deductive-inductive logics, using general theories for basic foundation to be verified by facts from the fields. This research resulted in three types of flora from Prehistoric times to the present, that is tropical mountainous forest of 16,894±440 - 9,296±140 years BP, tropical rainforests in 9,296±140 - 1,753±90 years BP, and monsoonal forests in 1,753±90 years BP until now. The Euphorbiaceae was the oldest flora occupied the area, existed between 16,894±440 years BP until now, while the Moraceae which is known as the karstic floral identity began to be found since 9,296±140 years BP. Reconstruction of palaeoforest in human prehistory provides information that the tropical mountain forests had inhabited the area before the era of Keplek, then entering the era of Keplek until Ngrijangan the tropical rainforest occupied this area. In the era of Klepu, the forest has been turned into the monsoon type and this type persists through history until now. Cultural traits of prehistoric subsistence can explain that change in the types of flora is not caused by anthropogenic factors, but due to climate change triggered by the ice age expiration that marked the end of the Pleistocen.
Pertumbuhan Bulbil Iles-Iles (Amorphophallus muelleri Blume) Berbagai Ukuran pada Beberapa Jenis Media Tanam Sumarwoto Sumarwoto; Maryana Maryana
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.423 KB) | DOI: 10.22146/jik.1853

Abstract

Iles-iles atau porang menghasilkan bulbil berbagai macam ukuran, dan biasanya oleh petani yang digunakan sebagai bibit hanya yang berukuran besar saja. Dalam percobaan ini semua bulbil, mulai yang berukuran kecil, sedang dan besar ditumbuhkan pada beberapa jenis media tanam dengan tujuan untuk memperoleh bulbil yang pertumbuhannya paling baik dan media paling cocok untuk pertumbuhan awal dari bahan tanam berupa bulbil. Disamping itu studi ini juga menguji adanya interaksi dari kedua faktor yang diujikan yaitu antara ukuran bulbil dan jenis media tanam yang dicobakan. Percobaan dilaksanakan di kebun Fakultas Pertanian di Kampus Condongcatur, pada ketinggian tempat 115 mdpl di mulai pada musim hujan tahun 2010/2011. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah ukuran bulbil (U) terdiri atas tiga taraf: U1 kecil (bobot ± 1,5 gram), U2 sedang (bobot ± 5 gram), U3 sedang (bobot ± 10 gram). Faktor kedua jenis media tanam terdiri atas tiga taraf: M1 (tanah + serasah), M2 (tanah + pukan sapi), dan M3 (tanah + pukan ayam). Hasil percobaan menunjukkan bahwa bulbil yang berukuran sedang dan besar sama baik jika digunakan sebagai bibit, sedangkan bulbil yang kecil dapat digunakan sebagai bibit jika telah melalui pemeliharaan khusus terlebih dahulu. Media tanam berupa tanah yang dicampur dengan pukan ayam memberikan hasil yang terbaik daripada perlakuan lainnya. Pada uji interaksi, tampak terjadi interaksi kedua factor pada beberapa parameter, di antaranya pada diameter kanopi daun, diameter batang semu, diameter umbi dan bobot basah umbi.Kata kunci: Iles-iles (Amorphophallus muelleri), bulbil (umbi daun), media tanamGrowth of Different Sizes of Bulbil Iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume) on Several Planting Media TypesAbstractIles-iles or porang produces various sizes of bulbils, and farmers usually use only large ones. In this study, all sizes of bulbil: small, medium and large were grown on several planting media types. The purpose of this experiment is to obtain the best bulbil growth and the most suitable media for the initial growth of plant material in the form of bulbil. In addition, this study aims to test the interaction of both factors, bulbil size and type of planting media on bulbils produced. The experiment was done in the Faculty of Agriculture UPN "Veteran" Yogyakarta experimental field in Condongcatur, at 115 m asl, at the beginning of rainy season of 2010/2011. The experiment was done with two-factors and three replications constructed in Randomized Block Design. The first factor was the size of the bulbil (U) consisting of three levels: U1 small (± 1.5 gram), U2 medium (± 5 gram), and U3 large (± 10 gram). The second factor is the type of planting media which consists of three levels: M1 (soil + litter), M2 (soil + cow manure), and M3 (soil + chicken manure).The results showed that medium size and large size bulbil are good to be used as seeds, while the small one can be used as seed only if it has been maintained in special treatment. M3 planting medium (soil + chicken manure) has given the best result compared to the other 2 treatments. Results of interaction test showed that there were interactions of both factors on some parameters including diameter leaf canopy, pseudo-stem diameter, root diameter and fresh weight of bulb.
Kajian Ekosistem Mangrove Hasil Rehabilitasi pada Berbagai Tahun Tanam untuk Estimasi Kandungan Ekstrak Tanin di Pantai Utara Jawa Tengah Erny Poedjirahajoe; Ragil Widyorini; Ni Putu Diana Mahayani
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.825 KB) | DOI: 10.22146/jik.1854

Abstract

Penelitian ini dilakukan di kawasan rehabilitasi mangrove Pantai Utara Pemalang dan Rembang, Dari dua lokasi tersebut masing-masing di pilih tanam mangrove yang sama. Setiap tahun tanam dibagi dalam tiga zona dari arah laut ke darat. Kondisi ekosistem mangrove dikaji melalui pendekatan terhadap pengukuran kerapatan, rata-rata tinggi dan diameter, ketebalan lumpur, salinitas dan kandungan bahan organik pada setiap zonasi dan setiap tahun tanam. Untuk memperkirakan kandungan ekstrak tanin, pada setiap tahun tanam diambil 3 sampel vegetasi (dalam satu zona diambil satu sampel), kemudian dikelupas kulitnya, ditimbang dan dilakukan analisis laboratorium. Kandungan ekstrak tanin dalam satu tahun tanam dapat diestimasi dengan cara menghubungkan dengan nilai kerapatannya. Uji varian untuk dua sifat yang berbeda, dilakukan untuk melihat signifikasi kerapatan tanaman pada setiap tahun tanam pada dua lokasi rehabillitasi mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estimasi kandungan ekstrak tanin di Pemalang dan Rembang pada tahun tanam 2002 rata-rata menunjukkan angka yang lebih tinggi daripada tahun tanam 2003 dan 2006. Pada tahun 2002 di Pemalang, estimasi ekstrak tanin sebesar 105,93 kg/ha sedangkan di Rembang mencapai 159,23 kg/ha. Pada tahun tanam 2006 mangrove di Pemalang mempunyai kandungan ekstrak tanin sekitar 80,90 kg/ha, sedangkan di Rembang sekitar 143,36 kg/ha.Kata kunci: Mangrove, ekosistem, ekstrak tanin.  A Study of Rehabillitated Mangrove Ecosystem in Different Planting Year to Estimate Tannin Extract Content in Northern Coast of Central JavaAnstractThe research was conducted in the mangrove plantation areas of Pemalang and Rembang North coasts. From those two areas, mangrove vegetations with the same three plantation ages were chosen which were then divided into three zones from the sea. Tree density, height and diameter, the depth of sediment, water salinity and the content of organic matter were measured and assessed for each mangrove zones and plantation ages. In order to estimate the content of tannin extract of a mangrove tree, three mangrove trees of each plantation age were taken as samples. The wood of the trees were then peeled off, measured the weight and taken to the laboratory to analyze their tannin extract content. The content of tannin extract of the whole mangrove areas was obtained by multiplying the average of tannin extract content per tree with the vegetation density of those two mangrove areas. Varians analysis was employed to find out the significant different of the density three plantation ages of two mangrove rehabilitation areas. The results showed that for plantation years of 2002, the tannin extract content at both mangrove plantation areas of Pemalang and Rembang in averages was estimated to have a higher amount than those of plantation year 2003 and 2006. Respectively, the tannin extract content of plantation year of 2002 in Pemalang and Rembang were estimated to have 105.93 kg/ha and 159.23 kg/ha tannin extract. Mangrove vegetation with plantation year of 2006 in Pemalang contained 80.90 kg/ha, while for Rembang is 146.36 kg/ha.
Kajian Ekonomi Biokraft Campuran Batang dan Limbah Cabang Mangium pada Berbagai Kondisi Pemasakan Pulp Devi Silsia; Ridwan Yahya; Mucharromah Mucharromah; Jerry Antonio
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.943 KB) | DOI: 10.22146/jik.1855

Abstract

Pemberian jamur P. chrysosporium pada serpih campuran batang dan cabang mangium sebelum dipulping (biopulping) mampu meningkatkan efisiensi penggunaan bahan kimia pemasak, menghemat penggunaan energi serta memperbaiki kualitas dari limbah cair pulp yang dihasilkan. Sebelum diaplikasikan dalam industri pulp maka metode ini harus dikaji secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proses biokraft yang menguntungkan untuk diaplikasikan pada industri pulp. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan terhadap seluruh biaya yang dikeluarkan (capitalized cost) per ton pulp yang dihasilkan dari metode biokraft dengan modifikasi pemasakan pengurangan bahan kimia, pengurangan energi dan kombinasi pengurangan bahan kimia dan energi. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan pada proses kraft konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode biokraft dengan modifikasi pengurangan energi layak diaplikasikan pada indusri pulp karena memiliki CC/ton pulp terkecil yaitu Rp. 50.952.915,15 /ton pulp sepanjang kenaikan biaya operasi biopulping dalam rentang 5-30%.Kata kunci: Biokraft, A. mangium, analisis ekonomi, pulp. An Economic Study of Biokraft From Mixed  of Trunk and Branch Wastes of Mangium on Several Pulping Process ConditionsAbstractAddition of P. chrysosporium fungus on chip mixture of mangium trunk and branch before pulping process could increase the efficiency of chemical used, save energy consumption and improve the quality of effluent. Before application in the pulp industry, it should be made sure that biokraft method of mangium trunk and branches mixture is economically feasible. This study aims to determine the proper biokraft process applied to the pulp industry. In this study, costs incurred from biokraft modified cooking methods (chemical reduction, energy reduction and the combination of chemicals and energy reduction) were calculated, capitalized and then compared with the cost incurred from conventional kraft process.The results showed that biokraft method with modifications on energy reduction was economically feasible to be applied in pulp industry because it has the smallest CC/ton of pulp (Rp. 50,952,915.15 /ton of pulp) on condition that an increase of biopulping operating cost is in the range of 5-30%.
Potensi Produksi Arang dari Hutan Rakyat Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Ris Hadi Purwanto; Nius Abdi Ginting
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.699 KB) | DOI: 10.22146/jik.1856

Abstract

Asam jawa (Tamarindus indica) dan mahoni (Swietenia macrophylla) yang banyak tumbuh di hutan rakyat Desa Bangunjiwo merupakan calon ideal yang patut diajukan sebagai bahan baku arang karena keduanya termasuk golongan kayu keras yang memiliki kualitas arang baik dan harga jual dari kedua jenis arang tersebut mempunyai daya tarik untuk menambah penghasilan. Informasi tentang produksi arang dari jenis-jenis tanaman berkayu yang tumbuh di hutan rakyat diestimasi melalui penyusunan persamaan allometrik yang bisa dipakai untuk tegakan pohon yang masih berdiri. Untuk menyusun persamaan allometrik, 30 sampel potongan kayu log jenis asam jawa dan 29 sampel potongan kayu log jenis mahoni dibuat arang dengan tungku pembakaran tradisional untuk menentukan hubungan antara volume log kayu perkakas (Vkp) dengan produksi arangnya (Pa). Bahan baku pembuatan arang berupa log kayu perkakas dari hutan rakyat baik dari bagian batang maupun cabang yang mempunyai batas diameter 7 cm. Hasil penelitian menunjukan bahwa volume log kayu perkakas mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan produksi arangnya (asam jawa: Pa = 185,6180 (Vkp)0,9455 , n = 30, r2 = 0,9559; mahoni: 321,2263(Vkp)1,0725 , n = 29, r2 = 0,9459; campuran = 235,0601 (Vkp)1,0008 , n = 59, r2 = 0,9465). Potensi produksi arang di hutan rakyat diestimasi berdasarkan persamaan allometrik tersebut. Potensi produksi arang di hutan rakyat Desa Bangunjiwa sebesar 12,067 ton/ha, sebanding dengan nilai uang Rp 21.117.250,00 /ha yang dikontribusikan dari hutan rakyat sebagai pendapatan daerah setempat.Kata kunci: Produksi arang, tanaman berkayu, hutan rakyat. Potentials of Charcoal Productions from Community Forest in Bangunjiwo Village, Kasihan Sub Regency, Bantul, YogyakartaAbstractAsam jawa (Tamarindus indica) and mahoni (Swietenia macrophylla) which predominantly grow on the community forests of Bangunjiwo Village are an ideal candidate as raw matterial of charchoal production because they're hard wood makes good quality charchoal and income from its charchoal are an attractive source of supplemental revenue. Information on its charchoal production are needed, but this information is currently lacking. The potential of charcoal production of woody perennial in the community forests were estimated by developing allometric equations for standing trees. To establish the equations 30 sample logs of tamarind and 29 sample logs of mahoni were made charcoal by traditional kiln to determine the relationships between the mechantable timber volume/log (Vkp) and its charcoal production (Pa). The raw material of charcoal production from the merchantable timber volume in the community forests was the ligneous material contained in the bole and branches which both with a diameter of at least 7 cm. The results showed that the merchantable timber volume was strongly related to the charcoal production (tamarind: Pa = 185.6180 (Vkp)0.9455, n = 30, r2  = 0.9559; mahoni: 321.2263 (Vkp)1.0725, n = 29, r2  = 0.9459; mixed: = 235.0601 (Vkp)1.0008, n = 59, r2  = 0.9465). The potential of charcoal production in the community forests was then estimated based on the allometric equations. The potential of charcoal production in these community forests was 12.067 ton/ha, equal to Rp  21.117.250,00 /ha which contributing the forest to the regional income.

Page 1 of 1 | Total Record : 6