cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
Ritme Sirkadian dan Kesehatan Kulit Siahaan, Ade Gustina; Jusuf, Nelva Karmila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 4 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i4.483

Abstract

   Ritme sirkadian mengacu pada ritme fisiologis, metabolisme dan perilaku 24 jam endogen tubuh. Ritme sirkadian dikendalikan oleh pengatur pusat atau jam utama yang terletak di nukleus suprakiasmatik hipotalamus anterior dan sangat dipengaruhi oleh cahaya dan lingkungan. Sinkronisasi jam biologis ritme sirkadian pada tubuh disebut sebagai osilasi. Ritme ini memperlihatkan hubungan fase tertentu dengan siklus terang-gelap atau aktivitas-istirahat melalui sinyal neurohumoral. Misalnya, melatonin yang membawa pesan waktu pada seluruh tubuh mengenai informasi tentang waktu dan musim (fotoperiode). Kulit terdiri atas tiga lapisan yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis. Ketiganya berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan atau homeostasis yang diatur oleh ritme sirkadian. Ritme sirkadian pada kulit memiliki fungsi dalam pengaturan proliferasi berbagai jenis sel, yaitu: keratinosit, fibroblas, melanosit, kelenjar sebasea, dan folikel rambut. Sinar Ultraviolet (UV) dapat menyebabkan pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) berlebihan yang secara langsung dapat menyebabkan stres oksidatif dalam sel. Penuaan dikaitkan dengan perubahan dalam ritme sirkadian dan peningkatan akumulasi ROS. Perawatan kulit (skin care) berdasarkan ritme sirkadian merupakan hal yang penting untuk diketahui. Pemahaman mengenai ritme sirkadian pada kesehatan kulit sangat bermanfaat dalam menjaga kondisi kulit agar tetap sehat. 
EKSISI KARSINOMA SEL BASAL TIPE CAMPURAN YANG DILAKUKAN PENUTUPAN DEFEK DENGAN FLAP RHOMBOID Stephanie, Aurelia; Winaya, Ketut Kwartantaya; Darmaputra, IGN; Laksmi, Hermina; Stella, Aurelia
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.248

Abstract

Pendahuluan: Karsinoma sel basal (KSB) merupakan jenis kanker kulit yang berasal dari sel yang tidak mengalami keratinisasi pada lapisan basal epidermis. Tumor ganas ini ditandai dengan pertumbuhan tumor yang lambat, jarang menimbulkan metastasis dan dapat menyebabkan destruksi jaringan sekitarnya. Dari semua jenis kanker kulit, KSB merupakan kanker kulit yang paling sering ditemukan di seluruh dunia termasuk Indonesia dengan insidensi yang bervariasi. Di RSUP Sanglah Denpasar pada bulan Januari 2018–Desember 2020 terdapat 18 kasus KSB. Kasus: Seorang perempuan berusia 51 tahun, suku Bali, Warga Negara Indonesia, muncul benjolan kehitaman di hidung sejak dua tahun yang lalu. Benjolan dirasakan membesar, terkadang berdarah jika terkena garukan atau gesekan. Riwayat sering terpajan sinar matahari selama 5 jam sehari. Diagnosis KSB ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan dermoskopi dan histopatologi dengan gambaran bervariasi sesuai subtipe KSB. Diskusi: Tujuan utama penatalaksanaan pada KSB adalah untuk mengeradikasi tumor serta tetap mempertahankan fungsi organ dan kosmetik yang baik. Tata laksana pada pasien ini berupa bedah eksisi yang ditutup dengan rhomboid flap. Bedah eksisi merupakan modalitas pengobatan terbaik untuk karsinoma dan mencegah kekambuhan. Kesimpulan: Rhomboid flap merupakan salah satu desain transposisi berbentuk belah ketupat yang memiliki kelebihan berupa penyembuhan yang efektif dan hasil kosmetik yang baik karena jaringan parut yang minimal.
Prosedur Non Invasif untuk Body Contouring Tasmil, Adina Miltania; Jusuf, Nelva Karmila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.473

Abstract

Konsep body contouring berkembang dalam mengoptimalkan definisi, estetika, kehalusan, dan bentuk tubuh manusia. Perangkat kontur noninvasif meningkatkan penampilan tubuh melalui pembuangan jaringan adiposa yang berlebihan, terutama di area di mana lemak tetap ada meskipun diet dan olahraga rutin sudah optimal. Teknologi ini juga dapat digunakan untuk mengencangkan kulit. Tindakan noninvasif body contouring ini telah muncul sebagai alternatif yang populer karenaprofil keamanan yang baik, waktu pemulihan yang minimal, dan biaya yang lebih murah. Lima modalitas body contouring noninvasif yang disetujui Food and Drug Administration (FDA) yaitu: cryolipolysis, laser, high intensity focused electromagnetic field (HIFEM), radiofrequency, dan high intensity focused ultrasound (HIFU). 
KEBERHASILAN TERAPI LUKA BAKAR SUPERFICIAL PARTIAL-THICKNESS DENGAN ASTAXANTHIN SISTEMIK DAN TOPIKAL: SEBUAH LAPORAN KASUS Sari, Ninda; Dahlan, Nelly Herfina
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.485

Abstract

Pendahuluan: Luka bakar pada kulit terjadi ketika sebagian atau seluruh lapisan kulit rusak akibat energi fisik. Setelah terjadi luka bakar, beberapa faktor seperti iskemia, stres oksidatif, peradangan, dan kematian sel (nekrosis atau apoptosis), berkontribusi terhadap proses luka bakar menjadi lebih luas atau lebih dalam dari lokasi awal. Astaxanthin (ASX) merupakan karotenoid alami yang memiliki efek antioksidan yang kuat dan antiinflamasi sehingga sangat berperan dalam penyembuhan luka, termasuk luka bakar. Kasus: Dilaporkan satu kasus luka bakar derajat dua (superficial partial-thickness) akibat terkena air panas pada seorang perempuan berusia 28 tahun dengan tipe kulit Fitzpatrick III. Pengobatan yang diberikan berupa analgetik nonsteroid, ASX sistemik, formulasi topikal gentamisin dan ASX berbasis krim gel; memberikan penyembuhan luka komplet dalam 10 hari, tidak terjadi infeksi dan tanpa gejala sisa skar hipertrofik. Diskusi: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ASX berperan dalam semua fase penyembuhan luka sehingga dapat digunakan untuk pengobatan luka bakar. Stres oksidatif sekunder terkait mitokondria dan apoptosis memiliki peran penting dalam fase awal luka bakar dan inflamasi yang berkepanjangan. Penyembuhan luka tanpa skar merupakan salah satu tujuan penatalaksanaan luka bakar, sehingga tindakan yang tepat, cepat, dan komprehensif sangat penting. Kesimpulan: Kombinasi ASX sistemik dan topikal memberikan efek penyembuhan yang lebih cepat untuk luka bakar partial-thickness. 
SATU KASUS NEKROLISIS EPIDERMAL TOKSIK PADA ANAK DIDUGA AKIBAT OBAT TRADISIONAL Putri, Devita; Adji, Aryani; Mamuaja, Enricco Hendra; Mawu, Ferra Olivia
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.502

Abstract

Pendahuluan: Nekrolisis epidermal toksik (NET) adalah reaksi mukokutan akut yang mengancam nyawa, ditandai dengan nekrosis dan pengelupasan epidermis luas. Kasus NET pada anak jarang terjadi, sekitar 0,4-1,2 juta per tahun. Sebagian besar kasus (60-90%) dipicu oleh obat, dan sebagian lainnya oleh infeksi virus atau bakteri. Tata laksana utama adalah menghentikan obat yang dicurigai sebagai penyebab dan terapi suportif. Prognosis kasus ini dinilai dengan Pediatric SCORTEN secara berkala. Kasus: Perempuan usia 13 bulan, mengalami ruam merah, lepuh, dan kulit mengelupas setelah mengonsumsi obat tradisional berbahan kulit kayu eboni, daun sirsak, dan daun mangga. Pemeriksaan fisik menunjukkan lesi makula eritematosa-hiperpigmentasi, multipel, bula multipel berdinding kendur, erosi, epidermolisis, dan tanda Nikolsky positif. Diagnosis NET ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pasien mendapatkan terapi sistemik dan topikal dengan hasil perbaikan klinis signifikan setelah 20 hari. Diskusi: Obat tradisional mengandung komponen bioaktif yang diduga memicu NET, namun infeksi virus belum dapat disingkirkan sebagai penyebab. Kesimpulan: Telah dilaporkan satu kasus pada NET pada anak diduga akibat obat tradisional yang ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Meskipun jarang, obat tradisional perlu diwaspadai sebagai pencetus NET.
DERMATOMIOSITIS ANTI-MDA5: LAPORAN DUA KASUS SUATU ENTITAS DENGAN MANIFESTASI DAN PROGNOSIS BERAGAM Halim, P. Anthony; Hamdali, Christie; Pranathania, Andravina; Fitri, Eyleny Meisyah; Budianti, Windy Keumala; Novianto, Endi; Indrawati, Luh Ari
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.505

Abstract

Pendahuluan: Dermatomiositis anti-melanoma differentiation-associated protein 5 (DM-MDA5) adalah penyakit autoimun sistemik langka yang memiliki temuan klinis bervariasi dan banyak dipelajari dalam satu dekade terakhir. Subtipe tersebut umumnya bermanifestasi sebagai DM amiopatik atau hipomiopatik, sering disertai intersitial lung disease (ILD) berpotensi fatal. Dalam makalah ini, kami melaporkan untuk pertama kalinya di Indonesia, variasi gambaran klinis, radiologis, laboratorium, dan prognosis dua kasus DM-MDA5. Kasus: Pasien pertama, seorang perempuan 25 tahun dengan ruam kemerahan khas DM, kelemahan otot ringan, artralgia, dan alopesia. Pasien kedua, seorang perempuan 43 tahun dengan ruam kemerahan khas DM, ulserasi kulit, rambut rontok, kelemahan otot, nyeri sendi, dan sesak nafas. Diagnosis DM ditegakkan sesuai kriteria Sontheimer dan American College of Rheumatologist/European League Against Rheumatism (ACR/EULAR) 2017. Pada kedua pasien terdeteksi anti-MDA5 dengan titer positif kuat. Rontgen toraks dan CT scan menunjukkan ILD pada pasien kedua. Tata laksana kombinasi menggunakan kortikosteroid dan imunosupresan sistemik, kortikosteroid topikal, penghambat kalsineurin topikal, dan fotoproteksi ketat memperbaiki gejala klinis pada kedua pasien. Diskusi: Pasien DM-MDA5 dapat digolongkan menjadi beberapa fenotipe klinis sesuai temuan klinis dan laboratorium, dengan prognosis beragam terkait insidensi ILD. Kasus pertama memiliki prognosis baik, sedangkan kasus kedua cenderung memiliki prognosis sedang. Hingga kini, belum terdapat tata laksana spesifik DM-MDA5, tetapi terapi antifibrotik dapat bermanfaat pada kasus dengan ILD. Kesimpulan: Klinisi perlu mengenali subtipe DM ini karena memiliki manifestasi yang bervariasi namun cukup khas, dengan prognosis yang beragam. Evaluasi dan tata laksana dini secara multidisiplin pada pasien DM-MDA5 dapat mencegah progresivitas penyakit dan kematian akibat komplikasi.
Nevus Melanositik Didapat yang Disertai dengan Dermatitis Kronik: Tantangan Diagnosis dan Risiko Rekurensi Reshinta, Reisa; Krisanti, Inge Ade; Sirait, Sondang P.
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.506

Abstract

Pendahuluan: Nevus melanositik didapat merupakan lesi melanositik jinak yang paling sering ditemui. Proses peradangan kronis dapat membuat gambaran klinis dan dermoskopik nevus melanositik didapat menjadi tidak khas. Rekurensi dapat terjadi terutama pascatindakan pengangkatan lesi secara parsial. Kasus: Anak perempuan, 15 tahun, mengeluhkan tahi lalat hitam di punggung tangan kanan yang sudah ada sejak 10 tahun yang lalu. Tahi lalat membesar perlahan seiring usia, namun dalam 1 tahun terakhir terasa lebih tebal, bersisik dan gatal. Pemeriksaan dermoskopi menunjukkan gambaran tidak khas. Diagnosis nevus melanositik intradermal ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi yang diambil dengan cara biopsi tangensial. Nevus rekuren muncul satu bulan pascaeksisi. Gambaran histopatologi menunjukkan adanya sarang-sarang sel nevus berinti bulat, vesikular, sitoplasma eosinofilik, sebagian dengan pigmen kecokelatan intrasitoplasmik, serta tidak ditemukan mitosis. Selain itu, juga terdapat akantosis, hipergranulosis, spongiosis ringan, dan vertical collagen streaks. Diskusi: Gambaran histopatologi berupa dermatitis kronik di bagian superfisial lesi dapat menjelaskan gambaran dermoskopi yang tidak khas pada nevus melanositik didapat. Pengangkatan lesi secara parsial dengan teknik biopsi tangensial meningkatkan risiko rekurensi, walaupun 23% kasus nevus rekuren ditemukan juga pascaeksisi nevus secara komplet. Gambaran klinis nevus rekuren dapat menyerupai melanoma, tetapi dermoskopi dapat membantu membedakan keduanya. Kesimpulan: Diagnosis dermatitis kronik perlu dipertimbangkan pada dermoskopi lesi nevus melanositik didapat yang tidak khas. Kemungkinan rekurensi pascaeksisi nevus melanositik didapat perlu diinformasikan kepada pasien dan/atau keluarga.
VITILIGO SEGMENTAL PADA ANAK YANG DITERAPI DENGAN REGIMEN MOMETASONE FUROATE 0,1%, SOLANUM LYCOPERSICUM L 3%, DAN CERAMIDE (MSC) Suhartono, Suhartono; Ridha Setiawati; Rahmat Sugianto; Radityastuti; Armita Asri Apsari; Tri Nugraha Susilawati
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.517

Abstract

Pendahuluan: Vitiligo adalah penyakit depigmentasi (hipomelanosis) didapat pada kulit, membran mukosa, dan rambut yang berbatas tegas, disebabkan oleh hilangnya melanosit secara progresif. Vitiligo biasanya muncul pertama kali saat masa anak-anak atau dewasa muda. Kasus: Seorang anak perempuan berusia 21 bulan 3 minggu timbul bercak putih di pantat sejak usia 5 bulan. Pemeriksaan fisik ditemukan makula depigmentasi, simetris, berbatas tegas, bentuk menyerupai popok ukuran ± 15 cm x 16 cm. Pemeriksaan dengan lampu Wood didapatkan makula berwarna putih seperti kapur dan berbatas tegas. Terapi yang diberikan adalah regimen MSC selama 5 bulan yang terdiri dari mometasone furoate 0,1%, Solanum lycopersicum L 3 % dan ceramide. Diskusi: Faktor- faktor yang berperan dalam proses terjadinya vitiligo antara lain genetik, autoimun, stress oksidatif dan pajanan bahan kimia. Sel T CD8+ berperan penting dalam proses terjadinya vitiligo dengan cara menyerang melanosit dan menghancurkannya. Peningkatan Reactive Oxygen Species (ROS) dapat menyebabkan kerusakan pada melanosit. Pasien ini diberikan steroid topikal mometason furoate 0,1% sebagai terapi lini pertama, dikombinasikan dengan antioksidan dari Solanum lycopersicum L 3% untuk mengurangi kerusakan melanosit akibat ROS, dan ceramide diberikan untuk memperbaiki sawar kulit sehingga progres perjalanan penyakit tidak menjadi lebih buruk. Kesimpulan: Regimen MSC efektif untuk mengobati vitiligo luas pada kasus ini dan dapat ditoleransi dengan baik tanpa menimbulkan efek samping. 
KEBERHASILAN TERAPI PEMFIGUS VULGARIS DENGAN STEROID-SPARING AGENT MIKOFENOLAT SODIUM DAN AUTOHEMOTERAPI Aldona, Wenty Septa; Nopriyati; Nugroho, Suroso Adi; Budiamal, Susanti
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.518

Abstract

Pendahuluan: Pemfigus vulgaris (PV) merupakan penyakit autoimun ditandai vesikel dan bula pada kulit dan mukosa akibat reaksi autoantibodi terhadap desmoglein (Dsg) 1 dan 3. Terapi lini pertama kortikosteroid (KS) sistemik. Terapi KS memiliki banyak efek samping sehingga diperlukan sparing agent. Pada kasus ini menggunakan sparing agent mikofenolat sodium (MPS) dan autohemoterapi (AHT). Laporan ini bertujuan mengetahui efektivitas MPS dan AHT sebagai sparing agent pada PV. Kasus: Perempuan, 37 tahun dengan lepuh kendur mudah pecah menjadi lecet disertai keropeng coklat-kehitaman pada wajah, leher, badan, kedua lengan dan tungkai. Pemeriksaan histopatologik ditemukan row of tombstones suprabasal, dan direct immunofluorescence (DIF) ditemukan chicken wire pattern interselular. Pasien didiagnosis PV dan diterapi KS sistemik dengan sparing agent MPS dan AHT. Kami melaporkan kasus jarang PV pada usia 37 tahun. Diskusi: Penggunaan sparing agent untuk mengurangi efek samping, mempercepat tapering off, perbaikan klinis dan remisi. Mikofenolat sodium digunakan karena efek samping minimal dan memberikan hasil baik. Autohemoterapi sebagai imunoterapi dengan menyuntikkan darah pasien kembali pada pasien, dapat digunakan pada penyakit vesikobulosa autoimun karena dapat menurunkan kadar autoantibodi. Kesimpulan: Kombinasi KS sistemik, MPS dan AHT memberikan hasil yang memuaskan. Pasien mengalami remisi awal pada pekan ke-2 dan remisi komplet dalam 5 bulan. 
VERUKA VULGARIS LUAS AKIBAT PENYALAHGUNAAN KORTIKOSTEROID TOPIKAL PADA IBU HAMIL: SEBUAH LAPORAN KASUS Sukmara, Isni Maulina; Wibawa, Larisa Paramitha; Rakasiwi Ningrum, Rizki Irianti; Kusumaningrat, I Gst. Ayu Mirah
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 1 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i1.521

Abstract

Pendahuluan: Veruka vulgaris merupakan lesi jinak akibat infeksi human papilloma virus (HPV) yang perjalanan klinisnya dipengaruhi oleh sistem imun. Kondisi imunosupresi dapat mencetuskan reaktivasi infeksi HPV laten dan meningkatkan derajat keparahan penyakit. Kasus: Seorang wanita hamil berusia 40 tahun mengeluhkan papul-plak hiperkeratotik eritematosa pada pipi dan hidung sejak dua bulan yang diperberat dengan penggunaan kortikosteroid topikal potensi tinggi secara oklusi selama satu bulan. Pemeriksaan dermoskopi didapatkan gambaran densely packed papillae, central red dotted vessels, whitish halo, dan dark red hemorrhagic crust. Pasien didiagnosis veruka vulgaris, disarankan untuk menghentikan penggunaan kortikosteroid topikal dan diberikan pelembap krim ambiphilic hipoalergenik. Dalam pemantauan, lesi mengalami perbaikan dan menghilang spontan dalam waktu 1,5 bulan. Diskusi: Diagnosis veruka vulgaris dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan dermoskopi. Perubahan sistem imun yang dialami oleh wanita hamil serta penggunaan kortikosteroid topikal dapat menyebabkan imunosupresi lokal pada kulit sehingga meningkatkan risiko veruka vulgaris. Veruka vulgaris dapat mengalami regresi spontan pada pasien imunokompeten. Penghentian kortikosteroid topikal dapat membantu menghentikan progresivitas penyakit. Kesimpulan: Kami melaporkan satu kasus veruka vulgaris yang diprovokasi oleh kortikosteroid topikal potensi tinggi jangka panjang. Kasus ini menekankan pentingnya penggunaan kortikosteroid topikal secara rasional disertai pemantauan ketat terutama pada ibu hamil agar efek samping terapi dapat dihindari.