cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
Skrining pada Kanker Kulit Chairista, Inadia Putri; Paramitha, Larisa; Sampurna, Adhimukti T; Krisanti, RR Inge Ade; Wahyudi, Danang T; Hoemardani, Aida SD; Sujudi, Yufanti; Legiawati, Lili
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 3 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i3.423

Abstract

Tingginya insiden, prevalensi, morbiditas, dan mortalitas kanker kulit telah menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Skrining kanker kulit dilakukan sebagai salah satu upaya dalam mengurangi beban kanker kulit yang ditimbulkan. Skrining kanker kulit meliputi total body skin examination yang bersifat non-invasif, mudah, cepat, dan hemat biaya bila dibandingkan dengan skrining untuk kanker lainnya. Akan tetapi, efektivitas skrining kanker kulit pada tingkat populasi masih diperdebatkan. Tenaga kesehatan, khususnya dokter spesialis kulit berperan penting dalam pelayanan skrining kanker kulit. Pengetahuan lebih lanjut mengenai skrining kanker kulit, rekomendasi, dan berbagai teknik pendekatan diagnostik sangat diperlukan untuk memajukan program skrining kanker kulit. 
HUBUNGAN TRANSEPIDERMAL WATER LOSS TERHADAP DERAJAT KEPARAHAN PADA PASIEN PSORIASIS VULGARIS Oktafiani, Anindya; Irawanto, Muhammad Eko
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 3 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i3.437

Abstract

Pendahuluan: Psoriasis Vulgaris (PV) yaitu penyakit kulit yang bersifat kronis residif, ditandai adanya bercak eritema berbatas tegas disertai skuama tebal berwarna putih mengkilap dengan predileksi di daerah siku, lutut, punggung, kuku jari dan kulit kepala. Skala pengukuran yang paling umum digunakan dalam mengidentifikasi keparahan psoriasis adalah nilai Psoriasis Area Severity Index (PASI). Kerusakan barier kulit dan penyakit sistemik seperti psoriasis dapat menyebabkan gangguan transepidermal water loss (TEWL). Tujuan: mengetahui nilai TEWL terhadap derajat keparahan PV berdasarkan skor PASI di Rumah Sakit Dr. Moewardi. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan studi potong lintang dengan metode consecutive sampling yang dilakukan pada pasien dengan diagnosis PV di Poliklinik Kulit dan Kelamin RS Dr. Moewardi Surakarta. Foto klinis pasien dilakukan untuk menilai skor PASI serta pengukuran TEWL menggunakan alat tewameter setelah dilakukan aklimatisasi. Semua data dianalisis secara statistik menggunakan Statistical Package for the Social Scient (SPSS) versi 21 kemudian dilakukan uji korelasi Spearman rank dan nilai p <0,05 dianggap terdapat hubungan signifikan. Hasil: Dua puluh enam pasien memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan skor PASI didapatkan 12 pasien dengan derajat psoriasis berat, 3 derajat sedang, dan 11 derajat ringan. Nilai TEWL pada psoriasis ringan, sedang, dan berat masing-masing adalah 8,59+5,82, 9,60+5,27, dan 16,65+6,26. Analisis statistik memperoleh korelasi yang sangat kuat antara TEWL dan tingkat keparahan PV (r=0,621; p=0,001). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara TEWL dengan derajat keparahan PV yang dinilai berdasarkan skor PASI. 
AGEN BIOLOGIS UNTUK ANAK PSORIASIS SEDANG-BERAT: TINJAUAN SISTEMATIS DAN META-ANALISIS Karyadi, Erlinda; Trifitriana, Monica; Kurniawati, Yuli; Putri, Luh Putu Mahatya Valdini; Toisuta, Riany Jade Sabrina; Fitri, Risma Orchita Agwisa; Khairani, Fatima Aulia
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 3 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i3.474

Abstract

Pendahuluan: Agen biologis mulai diterapkan sebagai terapi untuk psoriasis derajat sedang-berat pada anak, namun tingkat efektivitas dan keamanannya pada populasi ini belum sepenuhnya diketahui. Tujuan: Mengevaluasi efektivitas dan keamanan agen biologis pada anak dengan psoriasis derajat sedang-berat. Metode: Penelusuran database medis secara sistematis dilakukan untuk mengumpulkan penelitian RCT yang mengevaluasi penggunaan agen biologis pada anak dengan psoriasis derajat sedang-berat. Penilaian kualitas studi dan pengumpulan data menggunakan aplikasi RevMan 5.4. Hasil: 8 RCT dari 233 studi yang memenuhi kriteria dimasukkan dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis ini. Ustekinumab, etanercept, ixekizumab, adalimumab dan secukinumab efektif dalam memperbaiki tingkat keparahan psoriasis pada anak (RR = 6,55, 95% CI [1,88, 22,78]) berdasarkan area psoriasis dan indeks keparahan 100 (PASI 100) dibandingkan dengan plasebo. Ustekinumab memiliki tingkat respons yang lebih tinggi pada semua kelompok biologis (PASI 75; RR=7.35, 95% CI [2.89, 18.68]), (PASI 90; RR=15.64, 95% CI [2.73, 41.56]). Agen biologis terbukti aman dengan risiko efek samping yang rendah. Kesimpulan: Agen biologis adalah terapi pilihan yang efektif dan aman untuk anak dengan psoriasis sedang hingga berat. Agen biologis secara signifikan meningkatkan perbaikan penyakit dan kualitas hidup anak dengan psoriasis, namun belum diterapkan secara praktik di Indonesia karena dibatasi oleh harga yang relatif tinggi.
ERITEMA MULTIFORME SEBAGAI SUATU REAKSI HIPERSENSITIVITAS TERHADAP TERAPI AUTOIMUN SISTEMIK:SEBUAH LAPORAN KASUS Yoedyanto, Hillary Fungestu
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 3 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i3.477

Abstract

Pendahuluan: Eritema multiforme (EM) merupakan penyakit inflamasi mukokutan akut bermanifestasi pada kulit, mukosa oral, dan mukosa lainnya. EM dapat disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas maupun infeksi dengan tanda khas patognomonik berupa cincin konsentris terdiri dari lapisan luar eritematosa dengan pinggiran pucat dan pusat berwarna merah hingga ungu tua yang disebut lesi target. Kasus: Pasien wanita 44 tahun, dengan keluhan bercak kemerahan terasa gatal timbul mendadak di area dada, meluas ke wajah dan kedua ekstremitas disertai mata berair. Pasien memiliki riwayat lupus eritematosus sistemik (SLE) dan mengkonsumsi Obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS). Dari pemeriksaan fisik, ditemukan lesi makula, papul, dan plak eritem dengan lesi target multipel tersebar diskret. Tata Laksana dengan pemberian kortikosteroid sistemik, emolien topikal, dan antihistamin oral menunjukkan perbaikan tanda serta gejala klinis yang signifikan dalam satu hari pengobatan. Diskusi: Kasus ini menunjukkan EM yang disebabkan oleh reaksi alergi obat. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis komprehensif, gambaran klinis, dan hasil laboratorium. Obat yang dicurigai sebagai penyebab alergi kemudian dianalisis dengan menggunakan algoritma Naranjo.  Kesimpulan: Pada kasus ini EM disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas obat. Dengan diagnosis dini, identifikasi, dan penghentian agen etiologi serta pemberian terapi yang tepat dapat meningkatkan prognosis. 
Ekstravasasi Kemoterapi Akibat Cisplatin Dan 5-Fluorourasil : Laporan Kasus Lestari, Wahyu; Hajar, Sitti; Earlia, Nanda; Fitria, Fitria
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 4 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i4.418

Abstract

   Ekstravasasi kemoterapi adalah infiltrasi terapi antikanker sistemik yang tidak disengaja ke dalam jaringan subkutan atau subdermal di sekitar lokasi injeksi. Manifestasi klinis dapat terjadi segera atau beberapa waktu setelah pemberian obat kemoterapi. Secara klinis terjadi iritasi pembuluh darah, iskemik vaskular, dan akhirnya menyebabkan nekrosis pada kulit. Dilaporkan adanya kasus ekstravasasi akibat kemoterapi dengan cisplatin dan 5-fluorourasil (5-FU). Keluhan yang dialami adalah bercak merah disertai dengan bintik merah yang nyeri pada beberapa bagian tubuh setelah mendapat kemoterapi yang diinjeksikan pada lengan bawah kanan. Lesi kulit muncul setelah beberapa hari mendapat obat kemoterapi. Secara klinis terlihat papul eritema pada pipi kanan, leher kiri dan kanan, dan plak eritema linier dengan ukuran bervariasi, dan papul eritema yang tersebar di sekitarnya. Pasien diberi terapi dengan kortikosteroid potensi sedang selama 1 minggu dan tampak lesi mengalami perbaikan. Terapi spesifik untuk kasus ekstravasasi akibat kemoterapi belum ada, yang paling utama penentuan lokasi, kanula dan prosedur penyuntikan secara tepat sehingga risiko terjadinya ekstravasasi dapat dicegah. 
Hubungan Nutrisi dan Penuaan Kulit Rosyada, Rahma; Jusuf, Nelva Karmila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 4 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i4.432

Abstract

   Penuaan kulit adalah suatu proses biologis kompleks terdiri dari dua mekanisme utama, yaitu penuaan intrinsik dan ekstrinsik. Penuaan kulit intrinsik mengacu pada perubahan fisiologi kulit yang tidak dapat dihindari. Penuaan ekstrinsik dapat terjadi lebih cepat (penuaan dini) akibat paparan faktor eksternal, seperti paparan sinar ultraviolet (UV). Enzim matrix metalloproteinase (MMP) adalah kelompok endopeptidase yang disekresikan oleh keratinosit epidermal dan fibroblast dermal yang dipengaruhi oleh reactive oxygen species (ROS) dan paparan sinar UV. Penuaan ekstrinsik dapat dilakukan intervensi dan pencegahan melalui beberapa cara, salah satunya asupan nutrisi. Fungsi kulit dan penampilan yang sehat bergantung pada nutrisi esensial yang cukup. Peran penting nutrisi pada penuaan kulit adalah membatasi pembentukan reactive oxygen species dengan konsumsi antioksidan yang terdapat pada makanan maupun suplemen. Antioksidan, seperti vitamin E, C, dan A serta antioksidan botani dan mineral efektif memperlambat proses penuaan eksterinsik. Hal ini dibuktikan dari beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pengaruh antioksidan dapat menghambat ekspresi enzim MMP. Namun, data penelitian yang terbatas masih menjadi bahasan yang kontroversial dan saling bertentangan pada terjadinya penuaan kulit atau pencegahannya yang masih menjadi pertanyaan.
Herpes Zoster Sakral Menyerupai Herpes Simpleks Genital pada Pasien Diabetes Melitus: Sebuah Kasus Jarang: Herpes Zoster Sacral Looking Like Genital Herpes Simplex in Patients with Diabetes Mellitus: A Rare Case Tasrif, Aqil Yuniawan; Maulida, Mimi; Vella, Vella; Pradistha, Aldilla; Thahir, Tanziela
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 4 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i4.442

Abstract

   Herpes zoster (HZ) merupakan keadaan akut infeksi virus pada kulit yang disebabkan oleh adanya reaktivasi dari virus varisela zoster. Tampilan klinis HZ umumnya terbatas pada satu dermatom. Herpes zoster sakral merupakan kasus yang jarang terjadi. Diabetes melitus dapat meningkatkan risiko terjadinya herpes zoster. Dilaporkan satu kasus herpes zoster sakral pada pasien laki-laki berusia 48 tahun. Pada pemeriksaan status dermatologi dijumpai pada regio penis, skrotalis sinistra, dan gluteus maksimus sinistra, tampak vesikel berkelompok, multipel, lentikuler hingga gutata, susunan zosteriformis, dan distribusi sesuai dermatom. Pemeriksaan tes Tzank dijumpai sel datia berinti banyak. Pasien diterapi dengan valasiklovir 500 mg 3 kali 2 tablet per hari. Setelah pengobatan selama 1 minggu, herpes zoster sakral mengalami perbaikan dan keluhan penyerta seperti rasa gatal dan rasa perih mulai berkurang. 
PREVALENSI 5 KELAINAN KULIT TERBANYAK POLIKLINIK DERMATOLOGI KOSMETIK RS USU TAHUN 2020 - 2022 Danil, Rezkyana; Jusuf, Nelva Karmila; Putra, Imam Budi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 4 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i4.460

Abstract

   Pendahuluan: Dermatologi kosmetik merupakan bagian dari ilmu dermatologi yang terfokus pada permasalahan kulit dan kesehatannya. Tujuan: Mengetahui jumlah kunjungan pasien per tahun dan 5 kelainan kulit terbanyak di Poliklinik Dermatologi Kosmetik RS USU periode 2020 – 2022. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan menggunakan data rekam medis di RS USU periode 2020 – 2022. Hasil: Jumlah pasien di Poliklinik Dermatologi Kosmetik RS USU pada tahun 2020 yaitu 342 pasien (21,8%), tahun 2021 sebanyak 811 pasien (40,8%), dan tahun 2022 sebanyak 640 pasien (26,5%). Kelainan kulit terbanyak pada tahun 2020 adalah akne vulgaris berjumlah 206 pasien (60,2%). Tahun 2021 didapatkan kelainan kulit terbanyak yaitu striae distensae berjumlah 281 pasien (34,6%). Kemudian tahun 2022 didapatkan kelainan kulit terbanyak yaitu akne vulgaris berjumlah 145 pasien (22,7%). Dalam rentang waktu tahun 2020 – 2022 didapatkan 5 kelainan kulit tertinggi dari total kunjungan pasien, yaitu akne vulgaris 527 pasien (29,4%), diikuti striae distensae 453 pasien (25,3%), penuaan kulit 211 pasien (11,7%), melasma 159 pasien (8,9%), dan selulit 120 pasien (6,7%). Kesimpulan: Penelitian ini memberikan gambaran 5 kelainan kulit tertinggi dari total kunjungan pasien di Poliklinik Dermatologi Kosmetik RS USU periode 2020 – 2022, dengan kunjungan pasien tertinggi di tahun 2021 sebanyak 811 pasien (40,8%). 
PROFIL PASIEN SELULIT DI POLIKLINIK DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN PERIODE 2020–2022: PROFIL PASIEN SELULIT DI POLIKLINIK DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN PERIODE 2020–2022 Lubis, Ade Fitriyani; Jusuf, Nelva Karmila; Putra, Imam Budi
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 4 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i4.462

Abstract

   Latar belakang: Selulit adalah kondisi kulit yang mengganggu estetika yang merupakan perubahan tekstur kulit menjadi bergelombang atau menyerupai kulit jeruk (orange peel) terutama di bokong, paha, panggul, dan perut. Metode: Penelitian deskriptif yang dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien selulit. Hasil: Jumlah kasus pasien selulit periode 2020–2022 sebanyak 120 pasien (2,44%). Prevalensi selulit sebesar 0,63% (10 pasien) tahun 2020, 4,35% (40 pasien) tahun 2021, dan 2,89% (70 pasien) tahun 2022. Awitan kelompok usia terbanyak adalah 26–35 tahun sebanyak 61 orang (50,9%) dan terdapat riwayat keluarga selulit sebanyak 91orang (75%) dengan indeks massa tubuh (IMT) overweight sebanyak 51 orang (42,5%). Lokasi selulit terbanyak di regio femoralis dan glutaeus sebanyak 52 orang (43,3%), diikuti regio gluteus sebanyak 41 orang (33,3%). Derajat keparahan selulit paling dominan berupa derajat II dialami oleh 64 orang (53,3%). Kesimpulan: Prevalensi pasien dengan selulit yang berobat pada tahun 2020–2022 meningkat. 
SATU KASUS LUPUS VULGARIS DENGAN PREDILEKSI JARANG: KORELASI KLINIS, DERMOSKOPI DAN HISTOPATOLOGI Masri, Tutty Ariani; Utama, Redha Cipta
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 51 No 4 (2024): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v51i4.466

Abstract

   Lupus vulgaris (LV) adalah tuberkulosis (TB) kutis pausibasiler. Prevalensinya diperkirakan kurang dari 10% dari keseluruhan TB kutis. Penegakan diagnosis LV sering menjadi tantangan sebab basil tahan asam (BTA) sering tidak ditemukan dan gambaran histopatologinya mirip dengan TB kutis bentuk lainnya sehingga perlu korelasi pemeriksaan klinis, dermoskopi, dan histopatologi. Laki-laki 48 tahun mengeluhkan bercak merah pada punggung tangan kanan yang tidak gatal, tidak nyeri, mudah berdarah bila terbentur sejak 9 bulan. Terdapat riwayat luka tusuk batang bambu pada lokasi bercak. Riwayat TB paru, kontak dengan pasien TB disangkal. Status dermatologis pada punggung tangan kanan ditemukan lesi serpiginosa tunggal berupa plak violaceous, tepi papul-papul aktif eritema-violaceous, dan bagian tengahnya central healing. Diaskopi tampak blanching dengan tanda apple jelly colour. Laju endap darah 30 mm, HIV non reaktif dan rontgen paru suspek tuberkulosis. Pemeriksaan sputum tidak ditemukan BTA. Dermoskopi ditemukan yellowish white globules, pinkish background, dotted vessels. Gambaran histopatologi tampak granuloma lapisan dermis, sel datia Langhans, tidak ditemukan basil tahan asam (BTA). Diagnosis ditegakkan sebagai LV. Gambaran klinis plak violaceous dengan tanda apple jelly colour adalah tanda radang granulomatosa. Temuan yellowish white globules di atas pinkish background pada dermoskopi merefleksikan granuloma di lapisan dermis. Gradasi warna background pada dermoskopi dan ketebalan plak berhubungan dengan aktifitas penyakit dan proses peradangan aktif dan kronis sehingga dapat dijadikan modalitas diagnostik dan evaluasi terapeutik. Kombinasi pemeriksaan klinis, dermoskopi, dan histopatologi dapat digunakan sebagai modalitas diagnosis pada kasus LV