cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 282 Documents
SCLERODERMA INDUCED BY PREGNANCY: A RARE CASE Prawitasari, Suci
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.381

Abstract

Pendahuluan: Skleroderma adalah penyakit autoimun langka yang melibatkan kulit dan organ viseral. Kehamilan merupakan salah satu hal yang diduga dapat mencetuskan munculnya penyakit autoimun karena terjadinya microchimerism. Kasus: Perempuan berusia 41 tahun datang dengan keluhan kulit terasa kaku dan gatal sejak 5 bulan yang lalu saat kehamilan usia 4 bulan. Riwayat keluhan seperti ini dirasakan pada saat kehamilan yang pertama. Dari pemeriksaan dermatologi didapatkan makula hipopigmentasi dan hiperpigmentasi membentuk gambaran salt and pepper di regio fasialis dan retroaurikular. Pada regio fasialis, antebrachii dekstra sinistra dan manus dekstra sinistra didapatkan sklerosis kutis. Skor mRSS didapatkan 21. Hasil histopatologi menunjukkan potongan jaringan kulit dengan epidermis tampak flat, jarak antar rete ridge memanjang. Dermis tampak hanya terdiri dari jaringan ikat fibrokolagen luas, terdapat beberapa pembuluh darah dan infitrat sel radang limfosit disekitarnya, tampak setempat adneksa kulit. Kesimpulan didapatkan biopsi sesuai dengan gambaran skleroderma. Pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia dan tes ANA positif. Didapatkan keterlibatan penyakit paru intersisial. Diskusi: Perlunya tata laksana yang tepat dan kewaspadaan karena pasien skleroderma dengan kehamilan memiliki risiko yang tinggi persalinan prematur, intrauterine growth restriction dan berat lahir yang sangat rendah. Kesimpulan: Kehamilan dengan skleroderma dapat memiliki prognosis yang baik bagi ibu dan janin jika ditangani dengan tepat oleh multidisiplin.
INOSINE PRANOBEX SEBAGAI TERAPI TAMBAHAN PADA KUTIL GENITAL: SEBUAH LAPORAN KASUS Adisasmito, Ayutika Saraswati; Nur Azizah, Anggita; Halim, Melissa; Irawan, Yudo; Marissa, Melani; Nilasari, Hanny; Indriatmi, Wresti
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.446

Abstract

Pendahuluan: Beberapa modalitas terapi telah tersedia untuk mengobati kondiloma akuminata. Pendekatan tata laksana multimodalitas diperlukan pada kasus yang sulit sembuh. Inosine pranobex (IP) telah dilaporkan sebagai terapi tambahan untuk kutil anogenital. Kemampuan IP memanipulasi imunitas seluler dan humoral dapat bersifat antivirus. Pada laporan kasus ini, kami melaporkan keberhasilan terapi IP pada pasien imunokompeten yang sebelumnya mengeluhkan progresivitas kutil walaupun dalam terapi konvensional. Kasus: Seorang laki-laki berusia 26 tahun datang dengan keluhan kutil pada sisi kanan orifisium uretra eksternal (OUE) sejak 2 bulan yang lalu. Setelah empat sesi terapi asam trikloroasetat (TCA) 90%, pasien mengeluhkan kutil bertambah pada sisi kiri OUE. Terapi IP 3 gram per hari ditambahkan ke dalam regimen terapi pasien. Setelah pasien mengonsumsi IP secara rutin selama 2 minggu dan menyelesaikan 6 sesi tambahan tutul TCA 90%, kutil menghilang secara klinis. Pasien menyangkal timbulnya efek samping setelah konsumsi rutin IP. Diskusi: Respons terapi yang terbatas terhadap TCA 90% pada pasien ini menunjukkan kemungkinan manfaat terapi lainnya. Penambahan IP, sebagai imunomodulator yang meningkatkan imunitas seluler dan humoral, memberikan perbaikan klinis dengan efek samping minimal hingga tidak ada. Hasil ini mendukung penerapan kombinasi TCA 90% dan IP sebagai alternatif terapi pada kutil anogenital yang memberi respons minimal terhadap monoterapi. Kesimpulan: Penambahan IP pada terapi konvensional memberikan perbaikan klinis pada pasien kutil anogenital yang tidak membaik dengan terapi TCA 90% saja.
PERKEMBANGAN GLOBAL PENELITIAN DERMATOLOGI ANAK DALAM DUA DEKADE TERAKHIR: Perkembangan Global Penelitian Dermatologi Anak Kinanti, Hapsari; Agusni, Regitta Indira; Nurasrifah, Dewi; Widia, Yuri; Reza, Novianti Rizky; Alinda, Medhi Denisa; Damayanti, Damayanti; Hidayati, Afif Nurul
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.456

Abstract

Pendahuluan: Penelitian di bidang dermatologi anak terus berkembang sejak tahun 1986. Jumlah penelitian yang terus meningkat menimbulkan tantangan bagi tenaga kesehatan dalam mengikuti dan memahami seluruh perkembangan ilmu pengetahuan. Penelitian ini bertujuan menyajikan perkembangan terkini dalam bidang dermatologi anak yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan arah penelitian lebih lanjut. Metode: Kajian bibliometrik menggunakan data dari Scopus dianalisis menggunakan Biblioshiny dan VOSviewer untuk memberikan gambaran mengenai produktivitas dan tren topik penelitian. Hasil: Dalam dua dekade terakhir, terdapat peningkatan jumlah produksi artikel mengenai dermatologi anak setiap tahunnya. Negara yang paling produktif menghasilkan artikel didominasi oleh negara maju. Dua topik yang paling banyak diteliti adalah dermatitis atopik dan psoriasis, aspek keamanan terapi biologis, dan terapi target agar dapat digunakan pada populasi anak sedini mungkin. Penanganan hemangioma infantil dan erupsi obat pada anak menggunakan agen sistemik dan biologis sedang gencar diteliti pada dekade terakhir. Teledermatologi dan artificial intelligence menjadi gambaran pelayanan dermatologi anak di masa yang akan datang. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian di bidang dermatologi anak masih terus berkembang. Kesimpulan: Diperlukan kolaborasi antara peneliti di negara berkembang dan negara maju untuk memperluas subjek penelitian dan menciptakan hasil penelitian dengan dampak yang lebih besar. 
Serial Kasus Sindroma Steven Johnson-Nekrolisis Epidermal Toksik akibat Terapi Multiobat Lepra: Tantangan dalam Diagnostik dan Tatalaksana. Stefanus, Benedictus; Kimberly, Kesya; Esti, Prima Kartika; Komarasari, Eka
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.459

Abstract

Pendahuluan: Efek samping timbulnya reaksi sindrom Stevens-Johnson akibat terapi antilepra multiobat perlu diwaspadai walaupun belum banyak dilaporkan dalam kepustakaan. Kasus: Kami melaporkan serial kasus pada dua pasien laki-laki penderita kusta tipe LL dan tipe BL dengan awitan terapi dua bulan. Manifestasi klinis diawali mual, muntah, lemas, dan demam ringan diikuti dengan timbulnya ekskoriasi, erosi kulit generalisata, dan melibatkan jaringan mukosa. Diskusi: Adapun tujuan dari penyajian serial kasus ini adalah meningkatkan kesadaran pengenalan dini gejala prodromal, pentingnya implementasi penilaian berdasarkan SCORTEN dalam pemantauan harian, dan penilaian berdasarkan skor ALDEN dalam menentukan obat penyebab untuk mencegah komplikasi. Kesimpulan: Pengenalan dini terhadap gejala prodromal, penilaian skor ALDEN, SCORTEN, tata laksana segera dan edukasi kepada pasien penting untuk dilakukan. 
PREVALENCE AND CHARACTERISTICS OF PITYRIASIS VERSICOLOR RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG, PERIOD 2018–2022 Dinantha, Ahmad Zaky; Hidayah, Risa Miliawati Nurul; Fauziah, Nisa; ., Chrysanti; Pangastuti, Miranti
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.480

Abstract

Pendahuluan: Pitiriasis versikolor (PV) merupakan infeksi jamur superfisial yang disebabkan Malassezia spp. yang mengakibatkan perubahan warna kulit, sehingga menurunkan kualitas hidup pasien. Prevalensi PV di Indonesia masih belum pasti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi dan karakteristik PV di salah satu rumah sakit rujukan tersier Jawa Barat. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif observasional retrospektif. Data berupa rekam medis pasien PV rawat jalan dan rawat inap di RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, periode 2018–2022. Hasil: Pada penelitian ini, didapatkan 47 pasien PV dari 386 pasien dermatomikosis. Pasien PV terbanyak pada kelompok usia 19–44 tahun, yaitu sebanyak 23 (48,9%); terdiri dari laki-laki 31 (66%) dan perempuan 16 (34%) orang. Lesi hipopigmentasi merupakan gejala terbanyak yang ditemukan pada 20 (42,3%) pasien. Badan dan ekstremitas merupakan lokasi terbanyak ditemukannya lesi, yaitu pada 12 (25,5%) pasien. Komorbid ditemukan pada 35 (74,5%) pasien. Tercatat 30 (63,8%) pasien tidak kontrol setelah pemeriksaan dan pemberian obat, serta ditemukan data yang tidak lengkap pada rekam medis. Kesimpulan: Kasus PV masih dapat ditemukan di fasilitas kesehatan tersier, kemungkinan karena terdiagnosis saat melakukan pemeriksaan untuk penyakit lainnya. Mayoritas pasien tidak kembali kontrol karena penyakit ini bersifat asimtomatis dan tidak dirasakan mengganggu 
- Oral Tranexamic Acid for Melasma in Asian Skin: - Arifin, Elly Dainty
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.489

Abstract

Melasma merupakan penyakit hiperpigmentasi yang sering ditemukan pada kulit orang Asia. Asam traneksamat (AT) oral merupakan terapi yang inovatif untuk melasma dengan cara kerja multimodal untuk menghambat jalur pigmentasi. AT oral efektif untuk melasma pada orang Asia, dengan dosis 500 mg per hari dalam jangka waktu 8-12 minggu. Penggunaan AT oral aman dan mudah serta memiliki efek samping yang minimal. Penelitian menunjukkan tidak terdapat risiko peningkatan tromboemboli. Sebelum penggunaan AT oral, perlu dilakukan skrining untuk mencari kontraindikasi penggunaan obat tersebut. AT oral dapat digunakan sebagai alternatif pada kasus melasma yang tidak responsif terdapat pengobatan topikal dan dapat diberikan dalam jangka waktu 12 minggu. 
VASKULITIS LEUKOSITOKLASTIK ATIPIKAL: KASUS DENGAN PRESENTASI ANULAR MENYERUPAI REAKSI ID PADA TINEA KORPORIS Halim, Melissa; Miranda, Eliza; Rihatmadja, Rahadi; Fitri, Eyleny Meisyah; Andrea, Valerie
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.491

Abstract

Pendahuluan: Dermatofitosis (tinea) biasanya ditandai lesi anular atau serpiginosa dengan skuama di tepi. Pada sebagian kasus, infeksi ini dapat memicu erupsi inflamasi sekunder di lokasi jauh dari fokus primer, disebut reaksi id. Salah satu manifestasi jarang sebagai respons imun sekunder adalah vaskulitis leukositoklastik, yaitu peradangan pembuluh darah kecil dengan ciri histopatologis deposit fibrin, kerusakan dinding vaskular, dan debris inti. Kasus: Laki-laki 47 tahun datang dengan bercak dan bintik kemerahan di kedua tungkai bawah sejak satu tahun. Pemeriksaan menunjukkan papul-plak eritematosa hingga hiperpigmentasi multipel, sebagian anular dengan tepi meninggi, dan skuama. Pemeriksaan mikroskopik jamur dari lesi representatif di pedis dekstra memperlihatkan hifa dan artrospora yang sesuai dengan tinea korporis, sedangkan hasil dari pedis sinistra negatif. Setelah empat minggu terapi antijamur, infeksi sembuh, tetapi muncul lesi anular baru pada lutut dan kaki bilateral disertai palpable purpura. Biopsi kulit menunjukkan vaskulitis leukositoklastik. Diskusi: Reaksi id awalnya dipertimbangkan karena memenuhi kriteria diagnosis untuk reaksi id, tetapi lesi tidak menghilang walaupun tinea korporis sembuh. Diagnosis vaskulitis leukositoklastik anular ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan histopatologi. Pasien mendapat kortikosteroid sistemik tapering hingga tercapai remisi. Kesimpulan: Kasus ini menyoroti presentasi jarang vaskulitis leukositoklastik anular yang menyerupai reaksi id pada tinea korporis. Studi lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas hubungan antara tinea, reaksi id, dan vaskulitis, serta menentukan terapi optimal.
KEBERHASILAN KOMBINASI TERAPI MIKOFENOLAT SODIUM DAN AZATHIOPRINE PADA KOEKSISTENSI PEMFIGOID BULOSA DAN PSORIASIS VULGARIS Fitriana, Nadia Aprilia; Yuniaswan, Anggun Putri; Widiatmoko, Arif; Prawitasari, Suci
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.504

Abstract

Pendahuluan: Koeksistensi pemfigoid bulosa dan psoriasis vulgaris merupakan kasus yang jarang dijumpai dan hingga kini patogenesis keduanya belum dapat dijelaskan, sehingga tata laksana pada kasus tersebut masih menjadi tantangan. Pemberian kortikosteroid pada pemfigoid bulosa merupakan kontraindikasi bagi psoriasis vulgaris. Kasus: Pasien laki-laki berusia 47 tahun mengeluhkan bercak merah disertai sisik putih tebal pada area punggung, bokong, kedua tangan dan kaki. Pasien dengan riwayat pemfigoid bulosa dan rutin mendapatkan terapi metilprednisolon dan azatioprin. Pemeriksaan dermatologis menunjukkan multipel plak eritematosa, tertutup skuama putih tebal, Auspitz (+), Karsvlek (+), total Body Surface Area 22% dan Psoriasis Area Severity Index 5,3, serta multipel bula dinding tegang dengan dasar eritematosa. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan Munro’s microabscess yang menunjang gambaran psoriasis vulgaris. Pasien didiagnosis dengan pemfigoid bulosa dan psoriasis vulgaris, serta diberikan terapi mikofenolat sodium dan azatioprin. Diskusi: Kortikosteroid sebagai terapi lini pertama pemfigoid bulosa merupakan kontraindikasi bagi psoriasis. Monoterapi azatioprin pada kasus ini tidak memberikan perbaikan klinis, sehingga diberikan kombinasi azatioprin dengan metotreksat. Adanya kondisi anemia menjadi dasar pertimbangan untuk mengganti metotreksat dengan mikofenolat sodium. Kombinasi azatioprin dan mikofenolat sodium belum pernah dilaporkan sebelumnya. Kesimpulan: Kombinasi azatioprin dan mikofenolat sodium terbukti efektif dalam memberikan perbaikan klinis pada kasus koeksistensi ini.
NEVUS LIPOMATOSUS SUPERFISIALIS MULTIPEL DENGAN KLINIS SERUPA FIBROMA MOLE Irianti Rakasiwi Ningrum, Rizki; Krisanti, Roro Inge Ade; Sirait, Sondang P; Sukmara, Isni Maulina; Zaneta, Nabila
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.512

Abstract

Pendahuluan: Nevus lipomatosus superfisialis merupakan lesi hamartoma kulit yang jarang ditemui, sehingga seringkali tidak terdiagnosis. Gambaran klinisnya dapat menyerupai tumor jinak lain, salah satunya adalah fibroma mole. Laporan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran klinisi terhadap variasi klinis nevus lipomatosus superfisialis. Kasus: Seorang perempuan berusia 63 tahun, datang dengan keluhan benjolan bertangkai sewarna kulit multipel di punggung atas tanpa keluhan gatal maupun nyeri. Pemeriksaan dermoskopi didapatkan gambaran irreguler epidermal projections dengan yellowish structureless area pada penekanan. Pasien dilakukan pemeriksaan histopatologi dan didapatkan gambaran sesuai dengan nevus lipomatosus superfisialis. Diskusi: Laporan kasus ini menunjukkan kasus menyerupai fibroma mole secara klinis, namun pemeriksaan dermoskopi dan histopatologi memberikan petunjuk penting. Gambaran yellowish structureless area pada dermoskopi mengarah pada keberadaan adiposit dermis yang khas pada nevus lipomatosus superfisialis. Kesimpulan: Nevus lipomatosus superfisialis merupakan lesi hamartomatosa kulit yang jarang dan sering salah didiagnosis sebagai fibroma mole. Gambaran dermoskopi berupa area kuning tanpa struktur berkorelasi dengan adanya adiposit dermis, dan bila dikombinasikan dengan pemeriksaan histopatologi menjadi sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Kasus ini menekankan pentingnya menggabungkan temuan klinis dan pemeriksaan diagnostik untuk menghindari salah diagnosis.
Diagnosis dan Tatalaksana Pioderma Gangrenosum Terkini Diba, Sarah; Yonathan, Erico Lemuel; Thaha, M. Athuf; Nopriyati, Nopriyati; Kartowigno, Soenarto; Devi, Mutia
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 3 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i3.525

Abstract

Pioderma gangrenosum (PG) adalah dermatosis neutrofilik, secara klinis ditandai dengan ulkus kulit nyeri dan berkembang cepat dengan tepi tidak rata, tidak teratur, berwarna ungu kemerahan. Diagnosis PG sulit ditegakkan karena menyerupai penyakit lain, belum ada pemeriksaan baku emas untuk penegakan diagnosis definitif, kriteria diagnosis PG banyak dan bervariasi, sehingga diagnosis perlu ditegakkan sedini mungkin untuk memungkinkan penatalaksanaan yang tepat dan mencegah progresivitas penyakit. Diagnosis PG dibuat dengan menyingkirkan diagnosis lain. PARACELCUS merupakan kriteria diagnostik PG yang dianggap terbaik dan sederhana. Tata laksana PG dipilih berdasarkan tingkat keparahan dan perkembangan penyakit. Tata laksana umum terdiri dari rawat inap, eksklusi penyebab ulkus lain, mengontrol penyakit penyerta, tata laksana komorbiditas, menghindari trauma, tata laksana nyeri, perawatan luka adekuat, pengendalian infeksi penyerta, terapi kompresi untuk mengurangi edema, menjaga kecukupan nutrisi, menghentikan rokok, dan mengontrol glukosa darah. Tata laksana khusus terdiri dari terapi topikal, sistemik, terapi target, dan intervensi. Tata laksana PG masih terus dikembangkan melalui berbagai uji klinis. Pioderma gangrenosum memiliki angka mortalitas dan morbiditas signifikan dengan tingkat rekurensi tinggi sehingga diperlukan diagnosis tepat dan tata laksana segera.